Green Like The Land, Blue Like The Sky
Main Character: Machina Kunagiri; Ace
Genre : Romance, Drama, Fluff
Warning :
Boys Love;
Random time (tidak sesuai dengan timeline di game aslinya, latar waktunya di alternate ending tapi juga dimodifikasi dengan timeline dari waktu selama game berlangsung, tidak ada kristal-kristal, l'cie, maupun Arecia (tapi kemungkinan ada hanya saja dalam penyebutan saja di tengah-tengah cerita entah kapan), meskipun pertempuran tetap ada namun tidak ada pertempuran dengan Milites, Lorican, maupun Concordia karena tanpa kristal Milites bukanlah musuh Suzaku tapi monster-monster macam Flan, Behemoth, Cactuar, Marlboro, dll yang bukan manusia. Intinya kehidupan mereka normal nyaris tak dipengaruhi kristal, tapi tetap akan ada dead character tapi bukan karena medan tempur tapi sebab lain yang umum di masyarakat modern. Semacam operasi bedah waktu untuk FF ini untuk akhir yang bahagia alias Happy Ending); Semacam Final Fantasy Agito (maybe yes maybe not)
Fokus pada hubungan antar-mata (?),
Pendeskripsian tentang mata, siap-siap mabuk kepayang (maybe),
Don't like don't read, but at least leave the review after read this story.
Disclaimer : Final Fantasy Type 0's characters are owned by Square Enix; this story is mine
Happy Reading
-epha-
Author POV
Di kelas 0, setelah penjelasan mengenai materi pelajaran selesai taichou Kurasame sedang memberikan tugas PR untuk mengerjakan soal-soal yang telah diberikan oleh Kurasame. Namun, tugas tersebut dikerjakan dua orang alias separtner atau setim.
Kurasame memperingatkan kepada para cadet agar tiap individu dari tiap kelompok harus mengerjakan semua dan tidak boleh ada salah satu yang mengerjakan semua soal sedangkan yang lain tidak. Akan ada sanksi bagi satu individu yang tidak membantu partnernya mengerjakan tugas tersebut, yaitu berupa tugas tambahan yang harus dikerjakan sendiri sebagaimana gantinya bagi keengganan mengerjakan tugasnya. Tentu saja itu menjadi momok bagi setiap kadet karena akan menganggu waktu istirahat untuk merelaksasi pikiran setelah berkutat dengan pelajaran, tugas, dll. Lagipula siswa mana yang mau mengerjakan tugas lagi setelah mengerjakan tugas sebelumnya? Bisa tekor tuh otak.
Caranya mengetahui apakah masing-masing tim itu bekerja semua atau tidak? Dengan cara setiap tim akan maju ke depan untuk presentasi mengenai soal-soal yang diperolehnya. Masing-masing individu dari tim tersebut akan dites untuk mengetahui seberapa paham mereka akan soal itu dan jawaban yang mereka berikan tersebut. Jika ketahuan satu individu itu tidak mengerti jawaban dari soal yang dia kerjakan sendiri, sanksi siap menantinya.
"Masing-masing soal-soal ini berbeda satu sama lain, jadi tak akan ada kerja sama antar tim lainnya. Dibutuhkan kerja sama dalam satu tim masing-masing. Tidak ada plagiarisme, copy paste, dan segala hal yang membuat jawaban itu sama. Jika ketahuan melakukan hal-hal tersebut, maka masing-masing individu dari tim yang terlibat plagiarisme akan mendapatkan tugas tambahan dan tidak boleh minta bantuan dari anak lain sebagai sanksinya. Harap kerjakan sendiri!"
"Tapi jika kebetulan ada jawaban yang sama dari masing-masing tim tapi bukan karena plagiarisme, diharapkan menggunakan penjelasan kalian sendiri disertakan dengan sumber referensi tersebut."
"Ingat! Tugas ini membutuhkan kerja sama antar partner dalam tim. Jadi semua individu harus mengerti apa yang dikerjakan, minimal individu lain bisa membantu jawaban dari individu yang kurang sempurna. Tidak boleh ada yang dominan. Semuanya harus dibagi sama rata. Untuk itu kalian bisa membagi soal-soal mana yang kalian mampu kerjakan. Terserah kalian. Tapi semuanya harus ikut mengerjakan. Apa kalian mengerti?"
"Mengerti, taichou." Jawab Class Zero serempak.
"Baik! Mengenai siapa saja anggota timnya, kalian bisa menentukannya sendiri senyaman kalian. Saya harap tidak akan ada perselisihan dalam satu tim. Soal-soal ini saya serahkan kepada ketua kelas Queen untuk dikoordinasikan kepada kalian masing-masing satu tim. Queen, kau juga perlu mencatat siapa saja timnya dan serahkan padaku setelah ini. Saya akan menunggumu di kantor. Kalau bisa harap dipercepat penentuannya timnya."
"Baik, taichou." Jawab Queen tegas.
"Tugas harus dikumpulkan dua hari sebelum pelajaran minggu depan dimulai. Tidak boleh ada yang terlambat mengumpulkan. Baiklah, saya permisi."
Setelah penjelasan mengenai tugas itu selesai dan Kurasame keluar dari kelas, ruangan kelas tersebut mulai gaduh untuk mencari kawan yang bisa diajak kerja sama untuk mengerjakan tugas yang kedengarannya sepele tapi sebenarnya sulit. Namanya saja tugas kelompok.
Queen berusaha mengingatkan teman-temannya untuk segera menentukan partnernya sebelum akhirnya dia mencatat nama-nama dalam tim. Moogle Class Zero, atau panggil saja Moglin (dari Cinque), atau disingkat Mog saja tidak apa-apa, yang berperan sebagai pemandu dan asisten bagi Class Zero, berusaha membantu Queen untuk mengumpulkan data tim tersebut. Kini semua anak-anak Class Zero tampak sibuk mencari teman partnernya.
"Deuce, kau satu tim denganku ya, pleaseeeee..." rajuk Cinque
"Aduh maaf Cinque-san, aku sudah menentukan teman partnerku."
"Hah, kok gitu? Ayolah... sama aku saja..." rengek Cinque memaksa.
"Eight, sama aku yuk." Tawar Jack dengan nada riang
"Maaf, aku tidak bisa. Aku mau sama Cater." Jawab Eight ketus kemudian menghampiri Cater.
"Ehem, Cater... ehm, mau nggak kamu jadi teman partner tugasku? Tawar Eight harap harap cemas.
"Maaf, aku sudah sama King. King juga setuju jadi partnerku." Jawab Cater
"Oh begitu, maaf..." Eight sepertinya sedikit (lebih tepatnya sangat) kecewa karena teman partner yang ia harapkan justru bersama orang lain.
"Sudahlah Eight, jangan bersedih seperti itu. Mending sama aku aja. Aku janji pasti akan bekerja sama denganmu." Tawar Jack sekali lagi.
"Err... sebentar, aku mau tanya yang lain dulu." Tolak Eight secara tidak langsung.
Sebenarnya masalah Eight terhadap Jack bukan karena Jack itu pemalas. Jack bisa dibilang rajin dan di kelasnya kepintarannya rata-rata ke atas, walaupun nilainya rata-rata selalu berada di tiga terbawah setelah Nine dan Cinque (intinya kurang begitu pintar jika dibandingkan dengan Queen, Trey, maupun Ace, tapi bukan berarti dia bodoh banget lho. Namanya juga kelas 0, kelas ekslusif gitu lho). Hanya saja... Eight sangat sensitif terhadap tinggi badan. Dia tidak suka jika dia berdiri berdampingan dengan Jack. Sudah pasti jarak tinggi badannya dengan Jack bagaikan tinggi pagar dan tiang listrik (iya nggak sih?).
"Sice, kamu jadi teman kerja kelompokku ya." Tawar Seven to-the-point sambil mencoba merangkul Sice.
"Nggak mau. Aku mau sama yang lain. Kau mengerikan." Tolak Sice lantang
"Hah? Mengerikan dari mananya? Memangnya aku terlihat seperti monster yang kita habisi terakhir itu bagimu? Kau ini lucu sekali deh." Canda Seven sekaligus terlihat genit. Ini bukan Seven yang biasanya bergaya cool, sedikit dingin dan penuh perhitungan.
"Dari caramu mendekatiku seperti tante-tante mesum. Minggirlah, jangan rangkul aku seperti itu. OI, SIAPAPUN ADA NGGAK YANG MAU JADI PARTNER KERJAKU? PLEEEAAASSSSEEEEE..." teriak Sice dengan nada merana.
Sepertinya pemilihan partner kerja tidak akan sesuai dengan harapan dari masing-masing individu karena mereka lebih memilih temannya berdasarkan ego semata.
"Yo, Ace. Kau sudah dapat teman timmu belum?" tanya Nine setelah menghampiri Ace yang masih duduk mengamati teman-temannya tersebut.
"Belum." Jawab Ace singkat.
"Kalau gitu kau jadi teman partnerku ya. Kau kan pintar. Aku mengandalkanmu." Tawar Nine sekaligus memuji Ace dengan harapan agar Ace mau bersamanya.
"Iya aku tahu. Tapi bukankah sudah dijelaskan oleh taichou bahwa kita harus bekerja sama, tidak boleh hanya mengandalkan teman saja dan tidak ikut mengerjakan. Apa kau tidak menyimaknya?" tukas Ace mengingatkan.
"Tentu saja aku menyimaknya. Untuk itu aku sedang mencari teman partner sekarang ini. Setidaknya teman partnernya bisa membantuku mengerjakan tugas-tugas itu. Ayolah Ace. Aku ingin sekelompok denganmu. Masak tidak boleh?" Rajuk Nine kali ini.
"Sebentar, akan aku pertimbangkan dulu." pikir Ace dulu
"Yo, OK. Aku tunggu ya. Thanks, Ace. Jika kau jadi teman partnerku, kutraktir deh untuk makan siangmu nanti bareng aku, kora~" tawar Nine dengan iming-iming traktiran.
"Tidak masalah."
"Ace... kau bisa kan jadi partner timku? Kumohon...aku ingin satu tim denganmu." Rayu Eight tiba-tiba setelah menghampiri Ace dan Nine.
"Eh eh eh, main serobotan aja. Aku udah duluan tahu. Kamu sama Jack aja napa sih?" elak Nine tak terima saat menghadang Eight.
"Terserah aku dong. Toh mana mungkin Ace mau sama kamu yang macam anak gadungan gitu? Lagian kamu aja gih yang sama Jack, toh sama-sama tingginya kok." Balas Eight balik tak terima sedangkan Jack hanya nyengir saja.
"Enak aja main nyuruh-nyuruh aku sama anak lain. Wong dianya pengin sama loe, bukan gue. Kalau tinggi badan itu mah derita loe. Udah, main saja sama 'mami' mu itu. Dia lagi tersenyum mengharapkan kedatanganmu." Olok Nine sambil menunjuk Jack dengan sebutan mami barusan.
"Apaan sih?! Lebay amat! Minggir sana!" ketus Eight risih. Ace hanya memasang poker face, bete melihat kelakuan yang baik sebaya dengannya maupun yang setahun lebih tua darinya tapi tingkahnya seperti anak kecil ini.
"AAAACCCCCEEEEEE... PLEEEAAASEEEEE JADILAH TEMAN PARTNER TIMKU BUAT TUGAS BESOOOOK...KUMOHOOOONNNN..." rengek Sice tiba-tiba setelah menghampiri Ace dengan wajah memelas dan merana yang dibuat-buat.
"INI LAGI! NGAPAIN LOE BIKIN RUSUH DI SINI? MAIN RENGEK-RENGEKAN SEGALA?! KAYAK ANAK KECIL TAHU!" semprot Eight dan Nine bersamaan.
"PEDULI AMAT! LOE BERDUA JUGA NGGAK BERKEPENTINGAN DI SINI. UDAH, AMBIL SAJA SEVEN SEBAGAI PARTNER TIM KALIAN. TUH DIA DI SANA, LAGI DADAH DADAH. AKU MAU SAMA ACE SAJA! KENAPA KALIAN NGGAK BERPASANGAN SAJA? TOH COCOK." Ujar Sice sengak sembari menunjuk Seven yang melambaikan tangan (sebenarnya padanya), tapi Sice jijik.
"Idih, amit-amit mau sama si pirang dekil ini. Toh Sevennya dadah dadah ke kamu. Atau kalau kau mau, tuh sama Jack aja. Aku nggak pengin sama dia. Lagipula aku udah duluan minta sama Ace." Tawar Eight.
"Eh, ngomong apa? Yang duluan itu gue, bukan loe. Loe ngatain gue si pirang dekil? Loe itu malah kayak si biksu kurcaci. Ngerti loe?" ejek Nine balik.
"APA LOE BILANG?!"
OK, sepertinya pertengkaran antara Nine dan Eight (juga Sice) mulai tak terelakkan. Bukan hanya masalah perebutan Ace sebagai teman satu tim, tapi juga mengolok-olok satu sama lain. Ace yang (tentu saja) merupakan obyek dari perebutan tersebut hanya mendesah nafas kesal dan mengeluh.
"Kenapa aku dikelilingin oleh para idiot ini? Lama-lama gendang telingaku bisa pecah oleh teriakan mereka." Keluhnya sambil menutup telinga dan memejamkan mata rapat-rapat secara frustasi.
Sedangkan di bangku Queen, beberapa anak yang menonton drama seru tersebut hanya bisa berkomentar.
"Hah, tiga anak itu benar-benar tidak bisa bersikap dewasa ya. Milih partner tim saja pake acara ribut-ribut segala. Kasihan Ace. Oi, King. Menurutmu gimana?" komentar Cater.
"Peduli amat. Toh itu mah urusan mereka milihnya gimana. Lagian kita udah tercatat sebagai satu tim." jawab King masa bodoh.
"Ih, kamu ini. Nggak ada rasa simpati sama sekali." tanggap Cater.
Queen yang sedang mendatai teman-temannya yang dapat tim hanya bisa berkomentar.
"Ck, kalau terjun ke medan tempur saja kompak, tapi kalau tugas kelompok kayak gini saja malah ribut-ribut kayak kucing-anjing. Mau jadi apa kelas ini? Padahal totalnya cuma 7 tim saja."
Ace yang hanya bisa menutup telinga karena merasa dijadikan 'barang rebutan' sedangkan yang tiga lainnya masih belum mau mengalah tentang siapa yang jadi partnernya Ace. Ace membuka matanya yang terpejam kemudian dia melihat sosok berjubah merah paling panjang yang membelakanginya. Seketika Ace tersenyum dan mulai meninggalkan tempat duduknya sedari tadi, meninggalkan kerumunan orang-orang tak penting yang bisanya ribut-ribut saja.
-epha-
"AKU YANG PANTAS JADI PARTNERNYA ACE."
"AKU YANG PANTAS JADI PARTNERNYA ACE. KAMU NGGAK."
"INI BUKAN SOAL SIAPA YANG PANTAS ATAU NGGAK, TAPI SIAPA YANG DULUAN MENAWARKAN DIRI JADI PARTNERNYA ACE. AKU UDAH DULUAN DARI TADI. LAGIAN KALIAN NGGAK MENAWARKAN APAPUN AGAR ACE MAU SATU TIM DENGANMU."
"Ini aja kita lagi bikin penawaran. Ace, kalau kau mau jadi teman partnerku, nanti aku beliin kamu susu untuk pertum-" sayang Eight tak melanjutkan kata-katanya karena orang yang diajak tiba-tiba menghilang dari pandangannya (memang udah menghilang dari tadi. Kaliannya aja yang nggak nyadar. Sibuk berantem sih...).
"Ace ke mana yah?" tanya Sice bingung.
"Oalah, tuh anak ternyata di sana, kora~" tunjuk Nine ke arah Ace yang menghampiri Machina.
Ace yang sudah mendekati Machina kemudian menepuk pundak Machina sehingga menoleh ke belakang.
"Machina."
Sekali lagi kontak mata pun terjadi. Ace langsung mematung ketika menatap batu Zamrud yang telah lama mencuri hatinya setelah pertemuan dengan Machina di Crystarium. Machina juga terdiam ketika menatap batu Safir milik Ace sebelum Machina memanggil Ace.
"Iya, ada apa Ace?" tanya Machina namun yang bersangkutan masih diam pada tempatnya, tidak mau beranjak dari tempatnya, lebih tepatnya matanya tak mau lepas dari mata hijau itu.
"Ace..." Ace tetap tidak bersuara karena saking khidmatnya menatap mata itu, mengikuti setiap gerak-gerik pupil yang tersemat dalam bola hijau itu sembari mengagumi betapa indahnya warna tumbuhan hijau segar yang tersemat di mata lelaki berambut hitam itu dalam pikirannya.
'Kedipan matanya semakin membuat mata itu tampak berkilau karena basah.' Tambah Ace dalam pikirannya yang tak henti-hentinya fokus pada mata Machina.
"Aceee..." panggil Machina sembari melambaikan tangannya di depan muka Ace, sayangnya Ace tetap tak beranjak dari pandangannya meskipun berkali-kali Machina melambaikan tangannya.
Merasa dicuekin dengan sikap Ace yang aneh itu, ia meneriaki Ace.
"ACE!"
Seketika Ace tersadar dari perasaan hipnotisnya. Sejenak ia terlihat gelagapan namun kemudian melihat Machina yang justru tertawa setelah berhasil membuat Ace kaget.
"Ma-maaf...ta-tadi apa yang barusan kulakukan tadi?" tanya Ace gelagapan.
"Kau memandangiku terus. Apa karena aku ganteng ya sehingga kau terpana padaku?" tanya Machina sedikit narsis.
"Ganteng? Ih siapa bilang kau ganteng. GeeR banget sih." Sangkal Ace sedikit blushing. Tsundere sekali.
"Kalau gitu kau memanggilku karena apa dong?" tanya Machina balik.
"Oh itu... aku mau tanya...emm..."
"Tanya tentang apa?"
"Itu, err... kau...errr..." padahal Ace mau menawari Machina untuk menjadi teman partnernya, tapi karena kejadian barusan mendadak Ace jadi gagap.
"Kau mau jadi teman partnerku?" tebak Machina to-the-point.
"I-iya. Apa kau tidak keberatan?" tanya Ace
"Gitu kok aja kok kelamaan ngomongnya? Kau lucu sekali deh." Goda Machina yang langsung bikin Ace blushing, lagi.
"Ah, ada Machina juga ya. Kalau nggak Ace, Machina juga nggak papa deh. Machina, kamu bisa nggak jadi teman partnerku?" tawar Eight langsung ke Machina setelah menghampiri Ace dan Machina disusul oleh Nine dan Sice.
"E e e, kalian juga bergerombolan ke sini? Mau nawarin kelompok ke aku juga?" tanya Machina pada trio 6-8-9 itu.
"Cih, ngapain mereka datang ke sini? Ganggu aja." Gumam Ace pelan namun Machina bisa mendengar keluhan Ace. Oh, rupanya dia berusaha menghindar dari teman-temannya itu yang memaksanya untuk menjadi partner timnya tanpa perasaan. Kasihan juga Ace, dia pasti kebingungan untuk memilih salah satu dari tiga orang tersebut. Pikirnya.
"Ace, aku benar-benar janji akan mentraktirmu makan siang ini jika kau jadi teman timku. Jangan pilih yang lain." rajuk Nine
"Kalau aku terserah deh, asalkan jangan sama Seven. Aku masih normal. Siapa yang mau jadi teman partnerku nanti kalian bisa jadi pacarku."aju diri Sice dengan nada panik.
"Kalau gitu ogah deh, siapa yang mau jadi pacar cewek tomboy dan bengis macam dirimu?" cetus Eight dan Nine kompak.
"Ya udah, kalo gitu kalian diam aja. Aku cuma mau tanya ke Ace dan Machina saja." ketus Sice.
Ace merasa risih dengan keberadaan mereka yang justru amat sangat mengganggu sedangkan Machina hanya tersenyum geli melihat keributan dalam memperebutkan teman kelompok. Jadi teringat masa-masa kelas 2 nya, tapi di sini siswanya sedikit jadi gema suara dalam ruangan ini sedikit terdengar jelas
"Teman-teman, cepatlah cari teman tim kalian. Yang tercatat ini baru dua tim. Yang lainnya mana? Sebentar lagi aku harus mengumpulkannya ke kantor taichou. Cari saja sedapat kalian, jangan pada rebutan teman. Apakah kalian tidak bisa kompak dikit hah?" tegur Queen tegas dan (sedikit) dongkol.
"Machina..."
"Ah, iya."
"Jadi bagaimana? Apa kau mau jadi teman partnerku? Atau mungkin kau sudah punya?" tanya Ace sekali lagi. Trio 6-8-9 juga menanti jawaban Machina pula.
"Terima kasih atas penawarannya, Ace. Aku tentu saja mau satu tim denganmu. Hanya saja..." Machina sempat menoleh ke arah Rem yang kemudian menatapnya balik sebelumnya akhirnya melanjutkan jawabannya.
"Aku sudah janjian sama Rem sebelumnya kalau aku mau satu kelompok dengannya. Jadi maaf, mungkin lain kali kita satu tim. Lagipula kami sudah didaftarkan sebagai tim." ujar Machina
"Ung, Machina..." panggil Rem
"Iya Rem, ada apa?"
"Ung, maaf kalau aku baru bicara sekarang. Tapi aku harus minta maaf padamu sebelumnya."
"Soal apa, Rem? Aku tidak merasa bermasalah denganmu?"
"Bukan itu masalahnya. Mengenai teman kelompok itu...sebenarnya..." Ok, perkataan yang terlintas mulai membuat perasaan Machina tidak enak.
"Aku sudah satu tim dengan Deuce..."
"APA?!" bentak Machina tak percaya sedangkan yang lainnya hanya melihat reaksi-reaksi yang bermunculan dari dua sahabat yang baru pindahan itu.
"Tunggu, sedari tadi kau maju ke depan untuk pengajuan nama tim itu kau tidak menulis namaku sama sekali sebagai pasanganmu?"
"Maafkan aku, Machina." sesal Rem sambil mencoba tersenyum nyengir, merasa bersalah pada Machina.
"Tunggu, sejak kapan kau dan Deuce janjian jadi teman partner? Apa Deuce yang minta?" interogasi Machina.
"Umm...sejak taichou masih menjelaskan tentang tugas itu. Lagipula aku dan Deuce sudah tercatat di urutan pertama sebelum King dan Cater." jelas Rem watados.
"Haaah, padahal kita kan sudah janjian kalau kita di Class Zero bisa selalu satu kelompok, ah paling tidak sering deh. Tapi pertama kali ada tugas kelompok saja kita tidak satu kelompok. Gimana sih?" rengek Machina seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan. Tanpa sadar tingkahnya itu menjadi pusat perhatian dan bahan tertawaan Class Zero. Tak terkecuali Ace yang tertawa tertahan melihat sisi lain dari Machina.
"Ah, jangan bersikap seperti itu, Machina. Maaf, aku begini karena aku ingin mencoba berbaur dan belajar dengan anak-anak Class Zero. Jadi kau juga harus mencoba untuk berbaur dengan mereka. Kalau ada kesempatan lagi kayak begini, aku janji deh bakal satu kelompok denganmu." bujuk Rem
"Sekarang ada empat orang yang sedang menunggumu jadi pasanganmu. Semoga kau bisa bekerja sama dengan baik." Rem memberi semangat pada Machina yang masih merengut sebelum Deuce, 'biang keladi' yang membuat Rem tidak sepasang dengan Machina, datang menghampiri mereka.
"Eh, ada apa ini? Rem-san ada masalah apa dengan Machina-san?" tanya Deuce
"Ah, tidak ada masalah apa-apa kok, cuma kesalahpahaman dikit aja kok." jawab Rem sebelum mengajak Deuce meninggalkan Machina dan empat orang lainnya dan keluar dari kelas.
"Ah, jadi Deucey udah jadi pasangannya Remucchi ya? Kalau gitu aku sama siapa dong?" tanya Cinque.
"Kau bisa satu tim denganku, Cinque."
"Trey-chi..."
"Aku belum punya pasangan untuk jadi tim. Lagipula aku kan pintar. Kau bisa mengandalkanku untuk masalah mengerjakan tugas. Toh, nanti kita bisa mengerjakan bersama-sama." tukas Trey percaya diri.
"Ah iya...Trey-chi kan juga yang paling pintar di kelas selain Queen. Kalau gitu Cinque dan Trey-chi sebagai satu tim. Moglin..." umum Cinque sembari memanggil Moglin, panggilan khas dari Cinque untuk Mog si Moogle Class Zero.
"Oki doki! Tim nomor 3, Cinque dan Trey, kupo." umum Moglin.
"Oi Cinque! Serius kau ingin satu tim dengan Trey? Apa kau bisa betah mendengarkan ocehan Trey yang kayak kereta api itu?" sindir Cater
"Seharusnya Trey yang perlu waspada pada Cinque. Trey juga harus betah menghadapi tingkah Cinque yang selalu di luar dugaan. Mungkin saja nanti yang mengerjakan tugasnya cuma Trey saja, Cinque tinggal malas-malasan aja." timpal King menghakimi.
"Hei, aku tahu kalian iri padaku karena aku lebih pintar dari kalian. Tapi sungguh picik jika kalian berpikir Cinque memanfaatkanku dan aku hanya membuang waktu dengan bicara. Lagipula jika hanya aku saja yang mengerjakan tugasnya meskipun berkelompok aku juga sanggup. Toh yang penting kami sudah satu tim. Bukankah begitu, Cinque?"
"Tapi konsekuensinya Cinque yang bakal dihukum gara-gara kau. Kamu mau jadi biang keladinya?" gertak King.
"Ih, sok perhatian banget kamu, King. Jangan kuatir, Cinque. Nggak usah dengerin King. Nanti biarpun aku ngerjain sendiri tapi aku tetap ngajarin kamu kok sampe kamu bisa." janji Trey
"Ok, dayou...Trey-chi kan pintar. Jadi nanti pasti aku diajarin buat tugas itu. Pasti setelah itu nilai kami lebih bagus dari kelompok yang lain." tukas Cinque percaya diri dengan nada riang.
"Sepasang orang aneh, yang satu kebanyakan ngomong, yang lain kebanyakan tingkah. Pasangan yang 'spektakuler'." gumam Queen menyindir sembari menulis nama tim itu.
-epha-
"Jadi gimana? Apa kau sudah berubah pikiran dan mau bergabung denganku atau masih tetap kekeuh ingin bersama Rem?" sejenak Machina menoleh ke arah Ace. Jujur saja, dia masih kurang sreg dengan situasi sekarang ini. Bukannya Machina tidak mau setim dengan anak lain selain Rem, hanya saja mereka sudah bersepakat akan selalu bersama selama mereka sudah jadi satu kelas. Bukankah selama ini mereka berada di kelas yang terpisah dan mereka batu bisa bertemu satu sama lain jika ada waktu luang, jadi wajar saja jika Machina berharap bisa bersama Rem untuk saat ini. Tak disangka, rupanya Rem justru mengingkari kesepakatan yang telah mereka buat setelah mereka jadi teman sekelas. Tapi masuk akal juga sih, melihat mereka sama-sama status anak baru, jadi agar dapat berbaur dengan penghuni kelas lama maka mereka mau tak mau harus menerima teman-teman baru dengan berkelompok dengan anak Class Zero, itupun jika tidak mau dianggap kuper dan suka mengisolasikan diri.
Sekarang di depannya ada empat orang yang siap menanti jawaban darinya, lebih tepatnya merengek padanya, yah untuk masalah yang sebenarnya sepele tapi terlalu dibesar-besarkan itu. Hanya memilih teman tim, itu saja. Tapi sepertinya tak mudah untuk memilih atau menentukan mana teman tim yang bisa bekerja sama dengannya, tentunya juga pintar, kalau tidak mau menyesal di kemudian hari. Dan benar kata Ace, rasanya cukup sebal juga jika dipaksa oleh anak lain, belum lagi diiming-imingi sesuatu yang menurutnya amat sangat diragukan karena dia takut jika dia menyetujuinya ujung-ujungnya orang tersebut malah mengingkari janjinya. Dia benar-benar ingin teman partner yang tidak mengiming-imingkan sesuatu padanya, murni menawarkan diri padanya dan sungguh-sungguh ingin bekerja sama dengannya. Mungkin mengingat dia baru saja 'dikhianati' oleh sahabat masa kecilnya, hehehe.
Sekilas mata Machina bertemu pandang dengan mata Ace karena di antara mereka berempat, hanya Ace saja yang tak bergeming. Kali ini ganti mata Machina yang fokus pada batu safir yang secerah langit itu dalam mata Ace. Seketika suara gaduh di kelas tersebut mendadak tak bersuara di telinganya seakan dia tuli mendadak, namun sekarang fokus matanya tertuju pada lubang pupil hitam di tengah hamparan langit biru yang mewarnai iris mata pemuda berambut pirang itu, seakan-akan ia melayang-melayang di tengah-tengah iris langit tersebut. Entah apakah Ace menggunakan puppy eyes atau mata biru itu yang sangat cemerlang, terlalu cemerlang mungkin, Machina seperti bisa membaca apa yang ada dalam mata itu seakan-akan mata itu berbicara...
'Kumohon, katakan iya bahwa kau akan menjadi pasangan setim ku. Bukan yang lain. Kumohon. Aku ingin sekali bisa bekerja sama denganmu.'
Begitulah apa yang ditangkap Machina dalam mata Ace, kurang lebih.
Padahal raut muka Ace tampak tenang-tenang saja dibandingkan dengan ketiga orang berisik itu, tapi mata itu merajuk pada Machina agar dia mau dengannya. Ya, merajuk dalam ketenangan.
Karena merasa entah apakah itu iba, simpati, atau takjub, mungkin lebih takjub pada matanya, akhirnya Machina tersenyum simpul dan...
...menganggukkan kepalanya.
Seketika Ace mengembangkan senyum lebarnya, bahkan matanya pun ikut menyipit karena tersenyum.
"Kau menganggukkan kepala untuk siapa?" tanya Eight
"Jadi kau pilih siapa di antara kami?" tanya Sice tanpa memerhatikan Ace yang tersenyum.
"Dengan Ace. Tadi dia yang duluan minta kok." jawab Machina yang (akhirnya) menimbulkan kekecewaan di antara trio berisik itu sebelum matanya kembali beradu dengan mata Ace. Seakan-akan mereka melakukan telepati, mereka mampu berbicara dalam diam. Ya, mata mereka lah yang berbicara
'Terima kasih, Machina.'
'Sama-sama, Ace.'
Moglin, moogle Class Zero, mendekati Machina untuk menanyakan timnya.
"Machina, siapa pasangan timmu, kupo? Akan kusampaikan pada Queen untuk dicatat, kupo." tanya Moglin menghampiri Machina setelah melihat Machina menganggukkan kepalanya barusan.
Machina kembali menatap mata Ace sembari menjawab.
"Pasangan timku...Ace." jawab Machina mantap dan Ace tersenyum simpul hingga matanya sedikit menyipit karena tersenyum, begitu juga dengan Machina.
"Tim nomor 4, Machina dan Ace, kupo." pengumuman Moglin langsung dicatat oleh Queen.
"Umm, terima kasih sudah mau jadi pasanganku. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Ok, sama-sama. Terima kasih juga kau tadi mau mengajakku satu kelompok denganmu. Jika tidak mungkin aku hanya dapat yang sisa saja. Lagipula aku sudah mengenalmu banyak di Crystarium."
"Ok, jadi...kira-kira kapan kita bisa mengerjakan tugas itu?" tanya Ace
"Umm, dilihat dari waktunya sih, lebih enak sekarang ngerjainnya buat nyicil. Tapi sore aja ya, kira-kira jam tiga sore. Aku masih mau beristirahat dari beban pikiran pelajaran dan tugas lainnya dulu."
"Baiklah, nanti kita bertemu di Crystarium lagi di tempat seperti kita bertemu dulu."
"Ok, jam 3 di Crystarium. Akan kuingat baik-baik."
Kembali mata mereka beradu. Entah perasaan apa yang menjalar dalam dada mereka, tapi setiap kali mata mereka bertemu, mereka selalu tersenyum satu sama lain. Ada kenyamanan yang menjalar dalam tubuh mereka.
"Aahh, baiklah kalau begitu. Umm...kalau begitu aku bisa keluar kelas. Tidak apa-apa kan jika aku tinggal?"
"Ah, tentu saja tidak masalah. Kupikir tidak ada masalah lagi setelah ini."
"Ok, jam 3 di Crystarium." ingat Ace
"Ok, jam 3 di Crystarium." ulang Machina
"Jam 3 di Crystarium." ulang Ace setelah dia tiba di pintu keluar.
"Iya, iya. Aku tahu. Nanti aku catat pertemuan kita di agendaku."
"Ok kalau begitu. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama, Ace."
Ace hendak mau mau menutup pintu keluar itu sebelum akhirnya ia kembali menatap mata Machina untuk yang terakhir kalinya. Ace mengedipkan kedua matanya malu-malu dan secara reflek Machina ikut mengedipkan matanya. Pintu yang tertutup menjadi pemisah pandangan antara mata Safir dan mata Zamrud itu.
Ace yang masih di depan pintu kelas memegang dadanya. Ada ledakan halus yang tersembunyi dalam hatinya. Entah perasaan apa ini, tapi yang pasti Ace senang bukan main.
"Akhirnya Machina satu kelompok denganku. Aku bisa bersamanya dan menatap mata hijaunya itu terus-menerus. Beruntungnya aku." gumamnya entah memang sadar atau tidak sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya.
Sedangkan di dalam sana, Machina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Ace tersebut sambil bergumam. Tanpa mereka sadari, baik Machina dan Ace, di ruang kelas bukan hanya mereka sendiri tetapi juga semua anak Class Zero (minus Deuce dan Rem) sehingga tanpa mereka sadari pula mereka sedari tadi menjadi bahan tontonan. Kelas itu mendadak sunyi seketika.
Tapi yang membuat mereka heran bukan karena perbincangan mereka, tapi lebih pada perubahan sikap Ace. Mereka mengenal Ace sebagai sosok yang cool, jaim, terkadang juga dingin, serta sedikit introvert. Tapi entah kenapa di depan Machina Ace justru bertingkah layaknya shota boy, persis seperti penampilannya yang cenderung imut. Ditambah wajah bayinya semakin terlihat bahwa Ace cocok jadi anak kecil yang lugu.
"Aneh..." komentar Queen sambil memegang gagang kacamatanya.
"Ini bukan Ace yang biasanya kita temui. Apa dia tidak apa-apa?" komentar Cater
"Aku tidak tahu, tapi kali ini aku peduli. Dia sangat berbeda sekali dari Ace biasanya." tanggap King
"Apalagi ketika dia berbincang-bincang dengan Machina, dia bisa bersikap ramah dan terkadang sedikit childish. Hm, menarik juga untuk mengorek sisi lain dari Ace." kata Trey
"Acey benar-benar kawaii..." komentar Cinque dengan mata berbinar sambil mengepalkan tangan dan menempelkannya di pipinya.
"Apa kita tidak salah lihat?" gumam Nine
"Untuk pertama kalinya aku melihat Ace tersenyum lebar seperti itu..." gumam Eight
"Sepertinya aku mulai mempertimbangkan Ace sebagai kriteria pacarku. Ace benar-benar manis..." gumam Sice sambil memuji Ace dengan memegang pipi meronanya secara mengepal. Lebih kawaii dari Sice biasanya.
"Semua ini karena Machina semenjak pertemuannya dengan Ace. Sihir apa yang mampu membuat Ace mendadak bersikap manis seperti itu?" tanya Nine
"Kalau begitu Machina benar-benar hebat ya bisa mengubah seseorang jadi bukan seseorang yang sebenarnya. Atau mungkin ini sikap Ace yang sebenarnya yah?" gumam Eight pada dirinya sendiri.
Machina kemudian tersadar dan langsung menoleh ke Sice, Eight, dan Nine yang masih memperhatikannya, tanpa menyadari bahwa mereka sedang memperbincangkan tentangnya dan Ace.
"Ah, soal pasangan kelompok itu barusan aku minta maaf ya. Aku tidak bisa memilih kalian, tapi aku sangat berterima kasih atas penawaran kalian sebagai teman kelompok. Kalau begitu, semoga sukses mencari teman kelompok yang lebih baik ya." ujar Machina sebelum ia mengambil kertas soal di meja Queen dan langsung keluar kelas.
Setelah keluarnya Machina dari kelas, kegaduhan kembali menggema di kelas itu.
"Jadi...bagaimana ini? Aku harus berpasangan dengan siapa?" tanya Nine
Sejenak Eight dan Sice saling berpandangan satu sama lain.
"Ung...Sice...kurasa kita bisa satu tim jika kau mau..." tawar Eight sedikit ragu.
"Ung...aku..."
"Maafkan aku, Eight. Tapi kurasa Sice lebih tepat jika satu kelompok denganku. Lagipula Ace kan sudah dengan Machina. Jadi tak ada alasan lain bagi Sice untuk mencari pasangan lain selain aku." cetus Seven tiba-tiba setelah merangkul pundak Sice.
"Apaan sih? Sudah kubilang kalau aku..."
"Tim nomor 5, Seven dan Sice." umum Seven seenaknya sendiri tapi kemudian Moglin mengulanginya kembali hingga nama mereka tercatat di kertas sebagai satu tim.
"Ah...Tidaaaaaakkkkkk." Sice meratapi nasibnya yang harus satu tim dengan Seven secara paksa.
"Baiklah kalau begitu aku dan Sice akan langsung mengerjakan tugasnya langsung sambil berkencan. Aku sudah ambil soalnya. Aku duluan ya guys...dada..." sapa Seven riang keluar kelas sambil menggeret Sice yang masih meronta-ronta dilepaskan.
"AKU TIDAK MAUUUUUUUUU..." teriakan Sice menjadi backsound akhir sebelum akhirnya menghilang dari luar kelas.
"Sepertinya ada satu orang lagi yang berbeda dari biasanya. Tadi Ace sekarang Seven." tanggap King dengan nada datar.
"Insiden salah kirim surat cinta membuat Seven tergila-gila pada Sice. Padahal surat cintanya harusnya untuk taichou." jelas Queen
"Kasihan Sice...semoga dia tak dinodai oleh Seven secepat itu." komentar Cater simpatik.
Kini tersisa Nine dan Eight yang masih berdiri di tempat mereka. Sejenak mereka bertukar pandang, hanya saja tidak seintens tukar pandang yang dilakukan oleh Ace dan Machina dan itupun secara enggan. Nine mencoba mengerlingkan matanya ke Eight, hendak mencoba berbicara lewat kontak mata.
'Oi, loe mau nggak jadi teman kelompokku? Kayaknya cuma kita berdua aja nih. Itung-itung bantu loe menghindar dari si sungut kecoak nyengir itu?'
Namun Eight menanggapi tatapannya dingin setelah mengamati Nine sejenak dan...
"Jack, kau satu tim denganku!" cetus Eight spontan.
"Yippie! Akhirnya aku bisa berpasangan dengamu..." seru Jack sambil memeluk Eight dari samping.
"Diamlah, Jack! Bukan berarti aku emang ingin satu kelompok denganmu. Itu karena aku udah nggak ada pilihan lain lagi. Nggak usah Ge-Er." tukas Eight.
'Cih, bilang aja loe nggak mau gara-gara liat tinggi badan gue. Dasar biksu kurcaci!' omel Nine dalam hati.
"Oke kalo gitu. Kita tinggal catat nama kita ya. Oi, aku udah nemu pasanganku, Eight. Berarti sekarang aku di tim 6 ya." seru Jack girang sedangkan Eight hanya merengut saja.
"OK, tim nomor 6, Jack dan Eight, kupo." ulang Moglin.
"Ah, akhirnya semuanya sudah beres. Makasih ya, Eight, sudah mau menerimaku. Habis gini aku akan mentraktirmu makan-makan. Tenang aja, makanmu biar aku yang bayar. Kau bebas bisa mesan apa aja, berapa aja. Hehehehe..." kata Jack sambil merangkul Eight.
"Hah, diamlah. Aku nggak butuh traktiran gratis. Aku maunya cuma satu."
"Apa itu?"
"Jangan pernah merangkulku seperti yang kau lakukan saat ini. Lepaskan lenganmu dari bahuku SEKARANG JUGA!" titah Eight
"Lho? Kok gitu? Padahal aku ingin sekali merangkulmu."
"SUDAH KUBILANG LEPASKAN YA LEPASKAN!" paksa Eight bengis
"I-iya deeehhh..." Akhirnya Jack melepaskan rangkulannya secara terpaksa.
"Dan satu lagi, selama kita belajar kelompok, jangan sekali-sekali kau mencoba bersandar di bahuku, bahkan berada di dekatku sambil cengengesan!"
"Lho, kok gitu?"
"Iya, soalnya jika kau berada di dekatku, tinggi badan kita akan sangat kontras. Orang-orang di sekitar akan menganggap kita seperti Hobbit dan Gandalf, tiang pagar dan tiang listrik dan sebagainya. Dan itu membuatku semakin merasa lebih kerdil darimu."
"Lha terus kalo belajarnya entar gimana kalo nggak dekat-dekat sama kamu? Nanti kalo kita diskusi atau mau tanya-tanya gimana?"
"Ya bisa aja, tapi kita duduknya berjauhan saja. INGAT! Jangan sekali-sekali mencoba memelukku, merangkulku, bersandar maupun berdiri di sampingku! Ngerti itu?!"
"Yah, padahal kau ini sungguh menggemaskan buat dipeluk. Dan ngomong-ngomong tadi maumu cuma satu, tapi sedari tadi banyak sekali maumu."
"AARRGGGHHH, POKOKNYA JAGA JARAK DENGANKU SELAMA KITA NGERJAIN TUGAS, ATAU AKU NGGAK AKAN IKUT NGERJAIN TUGAS! BIARKAN SAJA AKU DIKASIH SANKSI OLEH TAICHOU. LEBIH BAIK AKU DAPAT TUGAS TAMBAHAN SENDIRIAN DARIPADA BARENG KAU!"
"Eh eh, jangan gitu... Akunya yang nggak tega lihat kamu dihukum kayak gitu. Lagipula aku juga nggak bisa ngerjain sendiri apalagi kita nggak boleh tanya ato kerja sama tim lain."
"Ya udah, makanya jangan dekati aku!" seru Eight ketus sebelum dia meninggalkan kelas.
"Oi, Eight! Tunggu aku! Jangan judes-judes amat dong! Kira-kira kita ngerjainnya kapan?" tanya Jack memelas mencoba mengikuti Eight.
"JANGAN IKUTI AKU, IDIOT!" umpat Eight.
Setelah mereka keluar dari kelas yang sempat diiringi oleh adu mulut antara Eight dan Jack, anak-anak Class Zero yang tersisa mulai komen tentang kejadian barusan.
"Ah, kenapa akhir-akhir ini banyak yang berubah ya? Tadi Acey, terus Seveny (dibaca 'Sebuni' ya guys), sekarang Eightsy (baca: Eggsy). Sepertinya kita bakal ada revolusi mental dan kepribadian ya teman-teman, hahaha..." tukas Cinque dengan tawa khasnya.
"Sebenarnya Eight dari dulu udah kayak gitu sejak awal, tapi cuma di antara kita para lelaki aja, terutama pada Jack. Kalau di hadapan kita semua terutama jika ada kalian para gadis mah sikapnya biasa-biasa aja selama nggak ada yang cari gara-gara padanya." jelas King
"Lho, kok bisa gitu?" tanya Cinque
"Yah, masalah klasik di kalangan lelaki. Masalah tinggi badan." timpal Trey santai.
"Bukannya di antara kami, cuma dia yang terpendek di antara anak laki-laki sekelas? Bahkan tinggi badannya setara denganmu lho, Queen." kata King
"Cih, kalo masalah begitu aku nggak mau ikut-ikutan bahas." elak Queen sambil memeriksa kembali catatan tim yang masuk.
"Tapi Ace juga termasuk orang pendek lho, ya walaupun cuma beberapa senti sih dari Eight. Tapi dia mah biasa-biasa aja deh. Eight saja yang terlalu lebay."
"Yah mungkin bagi kalian itu tidak penting. Tapi bagi kami masalah tersebut sangat penting, karena berhubungan dengan fisik dan harga diri lelaki. Karena cowok berbadan tinggi itu idaman setiap wanita. Kalau cowoknya pendek mah dianggap nggak keren menurut mereka." tanggap Trey
"Iya juga sih. Jujur aku lebuh suka cowok berbadan tinggi dibandingkan yang setara tingginya denganku. Rasanya kayak kurang gagah gitu." timpal Cater.
"Betul itu. Bahkan Ace sebenarnya juga sangat sensitif terhadap tinggi badannya apalagi jika dijejerkan dengan Seven yang 2 cm lebih tinggi dari Ace. Hanya saja Ace lebih mudah menyembunyikan perasaannya, tapi kalau udah kelewat batas dia bisa jadi 'pembunuh' sadis secara langsung tanpa ampun hingga tak ada yang berani menyindirnya." lanjut King.
"Menurutku seharusnya Eight jauh lebih beruntung daripada Ace karena meskipun dia pendek tapi rambutnya juga pendek dan dia jauh lebih kuat secara fisik daripada Ace sehingga dia masih terlihat lebih lelaki daripada Ace." komentar Trey
"Aku malah jadi keinget kejadian lucu di mana Ace banyak dikira sebagai wanita. Udah pendek, perawakannya malah kayak gadis, wajahnya itu lho...sangat diragukan jenis kelaminnya. Kita pernah kan ngerjain dia buat pake seragam sekolah wanita gara-gara dia kalah taruhan?!" cerita Nine
"Ah iya. Bahkan gara-gara itu, banyak anak laki-laki yang ngerayu dia dan sampai ada yang ngelamar ingin jadi pacarnya kan tanpa tahu gender Ace aslinya. Sampai akhirnya Ace jadi gondok seminggu seperti orang kena PMS." lanjut Trey
"Ah, benar sekali. Aku jadi ingin ketawa mengingatnya." komentar King yang disambut tawa dari kubu pria. Cinque mendadak ikut tertawa tanpa alasan yang jelas (ya pokoknya ikut tertawa aja, namanya juga Cinque), sedangkan Cater dan Queen hanya memasang poker face saja.
"Guys, itu nggak lucu. Aku tahu Ace itu terlihat cantik bahkan jauh lebih cantik daripada kami para cewek ini. Tapi soalnya kepribadiannya, Ace jauh lebih dewasa dan lebih kuat mental, bahkan jauh lebih gentle dibandingkan kalian yang sangat kekanak-kanakan itu." omel Queen sebal.
"Ya udah. Terus masalah buat loe?" sindir Nine yang ditanggapi dengusan Queen, tetap fokus pada catatan datanya dan juga soal-soal tugas yang ada.
"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Jack selalu mengejar-ngejar Eight terus ya? Dia kayaknya kekeuh pengin nempel terus meskipun Eight sensitif padanya?" selidik Cater
"Mana aku tahu? Tanya saja pada anaknya langsung. Jack mah juga sering melakukan hal-hal yang tak terduga kayak Cinque." jawab King, sedangkan yang dibicarakan barusan cuma cengengesan saja.
"OK, sekarang 6 tim sudah terisi, tinggal 1 lagi. Kira-kira siapa ya yang belum?" tanya Queen
"Ya kamu, Queen. Memangnya siapa lagi? Kamu belum nulis namamu sendiri." jawab King mengingatkan.
"Oh iya. Aku hampir saja lupa. Hehehe... Berarti pasanganku..." saat Queen melihat daftar nama tim yang ia tulis tersebut, mukanya mendadak pucat pasi saat tahu bahwa yang tersisa hanyalah dirinya dan...
Sejenak ia menolehkan kepalanya pelan-pelan ke arah orang yang ia pikirkan sekarang ini. Sejenak mereka saling beradu pandang, dengan disaksikan oleh anak-anak lain yang tersisa.
'Nine...kau...belum...punya...tim...? tanya Queen terbata-bata
"Iya, memangnya kenapa? Apa kau juga belum..."
"AAAARRRRGGGGHHHHH...TIDAAAAAAKKKKKK..." teriak Queen tiba-tiba dengan gaya paling lebay (satu daftar orang yang berbeda dari biasanya).
"Kenapa harus kau yang tersisa? Kenapa harus kau yang jadi pasanganku?" rengek Queen
"Cih, siapa juga yang mau satu tim denganmu? Ogah deh. Mending tahu begini aku ngerjain sendiri daripada kerja sama dengan ratu sengak macam dirimu, kora~"
"Iiihh, teman-teman, adakah yang mau tukeran teman kelompok sebelum aku mengumpulkannya di kantor taichou?"
"Queen, mana bisa begitu? Kalau sudah ditetapkan mana bisa diubah lagi? Sebentar lagi kau juga harus cepat-cepat mengumpulkan itu." tegur Cater
"Kalau mau ganti teman kau bisa minta Eight atau Sice tadi, tapi mereka semua sudah keluar barusan. Mau mencari mereka juga tidak cukup waktunya. Lagian sedari tadi kenapa kau tidak cari teman sembari mencatat nama-nama tim?" kritik King.
"Bagaimana bisa mau cari teman kelompok kalau dari tadi mereka pada ribut sana ribut sini? Aku tidak bisa memaksa mereka untuk berkelompok denganku dengan iming-iming yang belum tentu mereka penuhi. Mau jadi apa anak macam begitu?"
Kalau begitu itu resikomu kedapatan anak sisa yang tidak kau sukai, Queen." kritik King sekali lagi yang sukses membuat Queen makin down.
"Yang sabar ya, Queenie..." hibur Cinque sambil mengelus kepala Queen yang menaruh wajahnya di meja.
"Oh ya, nomor-nomor urut tim tadi itu memang urutan maju kita ya?" tanya Trey mencoba mengalihkan perhatian.
"Aku tidak tahu. Soal itu taichou sendiri yang menentukan." jawab Queen lemas
"Queen, kenapa kau tidak menulis namamu dan Nine sekarang?" ingat Cater yang ditanggapi malas oleh Queen. Dengan terpaksa Queen menulis namanya dan tim secara enggan.
"Baiklah, tim nomor 7, Queen dan..." sekali lagi Queen merasa enggan menulis nama orang yang sangat menyebalkan di matanya.
"Oh ayolah Queen, dalam menjalankan misi saja kalian kompak, tapi kenapa pas satu tim begini kalian malah ogah-ogahan gitu?" tegur Cater
"Itu karena ada Ace saat menjalankan misi saat itu. Lagian aku sendiri heran kenapa Consortium Akademia selalu saja memasukkanku dan Nine dalam satu kelompok?"
"Cih, aku juga ogah mau satu kelompok denganmu. Kalau bukan karena perintah dan juga keberadaan Ace pasti aku tolak secara paksa." balas Nine balik.
"Tenanglah semuanya. Ini bukan waktunya perang. Queen, tidak usah begitu dengan Nine. Dia timmu sekarang. Dia bukan makhluk beracun macam Marlboro atau makhluk menjijikkan macam Flan. Kau juga harus mengumpulkan data itu sekarang juga sebelum taichou lelah menunggumu gara-gara ini." lerai Trey.
"Ini kan cuma sementara saja, Queenie. Kalau tidak berkelompok nanti kau bisa dihukum mengerjakan tugas tambahan dari taichou. Hiiii...syereeeeemmm..." tukas Cinque dengan gaya bicara khasnya.
Queen akhirnya menulis kembali tapi secara pelan-pelan.
N...
...I...
...N
"Oi, nulis namaku aja lama banget kayak habis ngeja huruf aja!? Padahal namaku cuma 4 huruf doang."
"Diam kau..." bentak Queen sengit sebelum kembali menulis satu huruf saja dengan perasaan kesal.
...E...
Tiba-tiba pom-pom di kepalanya Moglin berkedip-kedip merah, menandakan ada sinyal panggilan. Sejenak Moglin menjawab 'teleponnya' sesaat sebelum akhirnya memberitahu Queen.
"Queen. Taichou memanggilmu untuk segera mengumpulkan data kelompoknya, kupo. Taichou sudah menunggumu sedari tadi, kupo. Bahkan beliau sempat menggerutu karena kau terlalu lama mendatai tim yang jumlahnya hanya bisa dihitung jari, kupo."
"Argh, sebenarnya maunya taichou apa sih main acara buru-buru segala?! Emang ada acara apa tuh si wajah setengah? Aku Bikin orang sebal saja." omel Nine.
"I-iya...sampaikan pada taichou kalau aku akan segera ke sana sekarang." jawab Queen sebelum cepat-cepat keluar dari kelas sambil membawa kertas tersebut.
"Ganbatte, Queenie." seru Cinque girang.
OK, meski Kurasame-taichou meminta mereka untuk mencari pasangan kelompok senyaman mereka, kenyataannya tidak semua dari mereka mendapatkan kawan yang mereka harapkan atau menurut mereka paling nyaman, malah sebaliknya. Sepertinya hari ini hingga pada hari H nya nanti akan menjadi hari-hari yang berat untuk mereka.
Ganbatte, Class Zero!
-epha-
Ace dan Machina mengerjakan tugas mereka di ruang diskusi, bagian ruangan dari Crystarium. Di situ, dibandingkan dengan Crystarium itu sendiri, siswa-siswi boleh berdiskusi atau berbincang-bincang sesuka hati mereka tanpa perlu ada teguran, karena ruangan itu sudah diberi pengedap suara sehingga tidak mengganggu kegiatan di Crystarium. Namun di situ mereka tetap harus menjaga ketenangan. Lagipula siapa sih yang mau waktu diskusi mereka terganggu oleh keberisikan yang lain di ruangan yang sama?
Namun sepertinya hanya Ace yang sibuk mengerjakan karena Machina lebih sibuk dalam dunianya sendiri alias termenung.
"Machina, kau tidak apa-apa kan?" namun yang ditanya masih melamun.
"Machina!" panggil Ace lagi sambil menepuk pundak Machina hingga tersadar dari lamunannya.
"Maaf mengganggumu, tapi kau dari tadi tampak termenung begitu. Apa kau tidak suka satu kelompok denganku? Maksudku, apa kau benar-benar ingin dengan Rem?"
"Ahahaha...bukan begitu. Tapi masalahnya..."
"Iya..."
"Aku sudah melakukan kesepakatan dengan Rem kalau kami sekelas kami bisa satu kelompok belajar kalau milih sendiri. Eh, tak disangka dia malah ngajaknya sama Deuce untuk hari pertama kami dapat tugas kelompok. Bukankah itu namanya PHP? Pemberi Harapan Palsu?"
"Ya kalau kau yang bikin kesepakatan itu. Tapi bagaimana dengan Rem sendiri? Apa dia sudah menyetujuinya?"
"Tentu saja dia menyetujuinya, tapi dia sepertinya mengingkari kesepakatan itu. Pasti sakit hati kan jika kau berada di posisiku yang mengharapkan seseorang satu tim dengan kita sesuai janji tapi malah satu tim dengan orang lain." keluh Machina
"Hahaha...ya namanya juga cewek. Kalau dalam soal ini tentu mereka bakal memilih partner dengan sesama ceweknya. Selain karena merasa nyaman bisa kerja sama dengan sesama jenis tentu mereka juga bisa menyambi waktu belajar mereka dengan ngobrol, entah curhat atau gosip. Jadi santai saja. Toh Rem juga nggak bakal diambil Deuce selamanya kok."
"Tapi kan kami juga sering curhat satu sama lain kalau kami ada waktu. Lagipula kami juga sempat belajar bareng meskipun bukan teman sekelas." elak Machina.
"Yah, mungkin saja dia ingin mencoba suasana baru dengan tidak terus bersamamu?" komentar Ace justru mendapat tatapan tajam dari Machina. Tahu bahwa sinyalir bahaya bahwa Machina tersinggung dengan perkataannya, Ace cepat-cepat memberi penjelasan kata-katanya
"Ahahaha...yang tadi itu hanya pendapat personalku saja, belum tentu Rem mu seperti itu. Mungkin sebenarnya dia ingin bisa berkenalan dengan anak-anak Class Zero lainnya. Bukankah Rem juga bilang begitu padamu? Aku mendengarnya lho. Bahkan Rem menyarankanmu berbaur dengan kami Class Zero. Kau masih harus mencoba berbaur lagi dengan kami."
"Tapi kan kita sudah berkenalan sebelumnya di Crystarium kemarin?"
"Bukankah bagus jika kau satu kelompok denganku? Kalau kita sudah kenal satu sama lain kan belajar kelompoknya jadi mudah bukan?"
"Hmm...Ok kalau begitu, tapi..."
"Tapi apa lagi?"
Sejenak Machina berpikir sebelum dia mengajukan pertanyaan.
"Kenapa kau ingin sekali satu kelompok denganku? Padahal tiga orang temanmu tadi begitu ngebetnya menjadikanmu partner kelompok bahkan sampai mereka memperebutkanmu." tanya Machina penasaran.
Sejenak Ace terdiam. Matanya tertuju pada mata Zamrud Machina dengan pandangan penuh arti.
"Karena ingin saja." jawab Ace singkat
"Ingin saja atau ingin karena ada maksud lain?" goda Machina sambil memangku pipinya dengan satu tangan.
Sekali lagi Ace menatap Machina tepat pada matanya secara intens. Begitu juga sebaliknya.
Sejenak mereka berkedip hampir bersamaan.
.
.
.
"Agar aku bisa menatap matamu. Indah sekali."
.
.
.
"Hah?"
.
.
.
"Ah...eh... Maksudku...agar aku bisa mengenalmu lebih dekat dan juga aku ingin tahu seperti apa kalau kau belajar, dengan begitu kan aku bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan cara belajarmu." bohong Ace
"Ingin tahu caraku belajar? Cukup aneh juga dengan kebiasaanmu mengamati orang lain." komentar Machina
"Apa terhadap teman-temanmu kau juga begitu?" tanya Machina
"Kalau mereka aku sudah mengenal mereka sejak kecil. Jadi aku tahu semua kebiasaan dari semua temanku. Bukankah aku sudah menceritakannya padamu ya?" jawabku.
"Berarti kau juga ingin tahu dong bagaimana cara belajarnya Rem? Jujur saja, di antara kami berdua, Rem yang paling pintar daripada aku dalam berbagai hal terutama pengetahuan tentang magic dan selalu mendapatkan peringkat paling tinggi dalam bidang magic, bahkan dia juga mampu menjadi summoner tanpa harus mengorbankan nyawanya. Aku sih hanya rata-rata saja dalam mempelajari magic meskipun aku lebih kuat dalam bertarung. Kenapa kau tidak berpikir untuk mencoba mendekati Rem? Lagipula Rem kan cewek. Sangat natural kan kalo cowok ingin mendekati cewek?" pertanyaan Machina sontak membuat Ace harus mencari jawaban yang tepat agar Machina tidak curiga tentang maksudnya.
"Yah...bukannya Rem sudah berpasangan dengan Deuce ya? Makanya aku memintamu untuk menjadi partner kelompok belajarku."
"Tapi bukankah sebelumnya kau terlebih dahulu menawarkanku menjadi partnermu tapi aku menolakmu duluan karena aku bersepakat ingin menjadi partnernya Rem tapi Rem sudah punya partnernya sendiri tanpa memberitahuku sebelumnya. Kau sudah menyaksikan sebelumnya kan?" Skak Mat. Ace bingung harus menjawab apa. Meskipun wajahnya tenang namun pikirannya mulai panik.
"Dan hal itu terjadi ketika kau berusaha kabur dari 'serbuan' teman-temanmu yang memaksamu untuk menjadi partner belajarnya. Dan sebelumnya lagi kau hanya diam di tempatmu saja tanpa bergerak sama sekali atau sekedar mengamati teman-temanmu." Double skak mat. Sepertinya Machina memang cerdas. Bahkan dengan memasang ekspresi tenang tanpa panik masih saja tidak mudah membohongi Machina. Seperti mata memang tak mudah dibohongi.
Apa Ace harus mengatakan yang sebenarnya dan mengungkapkan perasaannya terhadap Machina? Padahal mereka baru saja mengenal satu sama lain. Haruskah ia mengakui perasaannya? Tapi itu akan membuat Machina menjauh darinya, bahkan memandang jijik terhadapnya dan kemudian menjauh darinya. Tidak. Ace harus cari jawaban lagi agar Machina tidak menyerangnya terus dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin ia sanggup jawab lagi.
"Karena Rem itu perempuan." Jawabnya singkat. Jawaban macam apa itu, Ace?
"Memangnya kenapa kalau Rem itu perempuan? Bukannya karena dia perempuan maka seharusnya kau mencoba mendekatinya? Kau kan laki-laki?" tanya Machina menyelidik.
Sebenarnya Machina sendiri tidak rela jika teman wanitanya didekati oleh pria lain meskipun bukan karena konteks romansa. Pertanyaan tadi itu hanya untuk memancing Ace saja.
Yah walaupun Machina sendiri masih belum mengakuinya sebagai pacarnya, tapi rasanya agak tidak rela saja jika Rem berteman dengan pria lain atau didekati pria lain karena dia merasa dirinya satu-satunya pria yang paling pantas di dekatnya Rem karena sejak kecil mereka selalu bersama, bukan? Bahkan Machina sendiri mengingat betapa sebalnya ia dengan salah satu anak dari kelas 1 bernama Enra yang terang-terangan naksir pada Rem dan justru melabrak dirinya karena status hubungannya dengan Rem yang hanya teman masa kecil tapi Machina selalu memperlakukan Rem lebih dari sekedar teman biasa. Heck! Masalah buatnya?! Toh Rem itu temannya. Sudah sewajarnya dia memperlakukannya istimewa bahkan overprotektif padanya.
Ace kembali mencari-cari jawaban lagi yang setidaknya dapat membungkam mulut Machina yang makin hari makin menyebalkan di telinganya melebihi Trey. Tapi sebenarnya itu juga salahnya sih, kenapa dia malah bergumam sendiri di depan Machina tentang alasannya mau berkelompok dengannya. Toh sudah pasti Machina akan bertanya terus tentang motifnya. Jujur, ini bukan diri Ace yang sesungguhnya yang berpendirian tenang dan susah ditebak pikirannya. Hanya di depan Machina saja.
"Yah justru karena dia perempuan maka aku sungkan berduaan dengannya walaupun dalam kontek kelompok belajar." Dalih Ace
"Maksudmu?" tanya Machina pura-pura bodoh.
"Yah, aku ini bukan tipe orang yang bisa dekat dengan sembarangan orang kecuali teman-temanku. Rem kan juga termasuk baru seperti dirimu, tapi dia wanita. Rasanya agak kurang sopan saja jika menawarkannya sebagai teman timku berdua. Nanti sekelas malah ngira aku mencoba pedekate dengan temanmu walaupun dia gadis yang manis seperti Deuce. Kalau Rem satu kelompok denganku tapi ada orang lain lagi selain dia sih tidak masalah. Tapi kalau sama Rem sendirian, gimana? Lagipula... aku juga sungkan sama kamunya kalau aku mendahuluimu. Dia teman akrabmu kan?" jelas Ace, setengah bohong, setengah jujur.
"Ahahaha... kau benar juga. Jujur saja, aku memang nggak rela kalau Rem itu didekati lelaki lain selain diriku. Yah, walaupun sebenarnya kami masih belum pacaran tapi rasanya nggak rela aja kalo didekati lelaki lain meskipun bukan untuk ngerayu Rem. Untunglah kau tidak berniat memilih Rem sebagai partner timmu. Kalau iya pasti sudah kuhajar dirimu. Hahaha..." Kata Machina spontan, tapi dalam konteks bercanda sebenarnya.
Sret!
Sedikit goresan luka di hati Ace. Alisnya mulai sedikit berkerut tanpa disadari oleh Machina.
"Yosh... baiklah. Kali ini akan kumaafkan Rem untuk ini. Toh aku cukup lega jika dia mendapat partner perempuan. Tapi jika dia tidak satu tim lagi denganku untuk besok harinya bahkan sampai dia dapat partner tim laki-laki aku tidak akan memaafkannya dan akan mendiaminya selama seminggu. Bahkan aku pasti akan memberi pelajaran pada pria yang berani-beraninya menjadi partnernya dan macam-macam dengannya." tutur Machina lebih pada dirinya sendiri, namun tutur katanya tersebut justru berhasil membuat hati Ace makin terluka.
Ace tidak tahu perasaan macam apa ini? Tapi... dia merasa...cemburu.
Cemburu mendengar hati Machina lebih condong ke Rem darinya.
Tapi bukankah wajar, bahkan sudah seharusnya jika Machina lebih menyukai Rem, mengingat Rem itu seorang wanita. Sudah cantik, manis, berkepribadian baik pula. Sangat jauh berbeda dengan teman-teman perempuannya di Class Zero. Bahkan meskipun sering disamakan dengan Deuce tapi rasanya Deuce juga tidak akan mampu mengalahkan pesona feminitas Rem Tokimiya. Bahkan meskipun Rem berpenampilan feminin, namun dalam latihan di arena dia mampu bertarung dengan senjatanya dengan sangat agresif tapi mampu menciptakan gerakan bertarung yang sangat indah bagaikan tarian burung merak. Jangan lupakan tentang kemampuannya menggunakan magic yang sangat luar biasa. Tipe gadis impian yang sempurna.
Tak heran jika banyak para pria yang menaruh mata dan hati padanya, termasuk juga teman-temannya Class Zero yang laki-laki (Contoh kasusnya yaitu Trey. Dia tidak sengaja menguping bahwa Trey menyatakan bahwa Rem tipe wanita idamannya dan dia berimpian ingin menikahinya suatu hari nanti. Untungnya saat itu tidak ada Machina maupun Rem di situ.). Dan tentu saja Machina merasa insecure dengan hal ini dan berusaha menghalangi para 'lebah' yang berusaha mendekati 'bunga'nya dan mengklaim bahwa 'bunga'nya itu miliknya.
Sayangnya, Ace tidak menginginkan 'bunga' itu. Dia lebih menginginkan si 'lebah' pemilik 'bunga' itu sendiri. Sayangnya lagi, dia juga seekor 'lebah'.
Lantas bagaimana caranya dia bisa menghasilkan madunya kalau bukan dari 'bunga' itu, justru dari 'lebah' pemilik absolut 'bunga' itu? Apakah dia harus mencuri 'nektar' dari 'lebah' tersebut? Tapi 'nektar' itu berasal dari 'bunga' tersebut, sedangkan dia tidak menginginkan 'nektar' dari 'bunga' itu, dia ingin 'nektar' yang dihasilkan sendiri oleh 'lebah' itu. Sayangnya sungguh bodoh sekali jika ada lebah bisa menghasilkan nektar sendiri di dunia nyata karena penghasil nektar tersebut berasal dari bunga dan lebah tinggal mengambilnya.
Kiasan yang terdengar indah namun sebenarnya menyakitkan dan sangat bodoh tersebut cocok itu menggambarkan dirinya saat ini. Di saat banyak lelaki jatuh hati pada Rem, dia justru jatuh hati pada Machina, yang notabene bergender sama dengannya.
Bahkan Ace sebenarnya merupakan pria idaman setiap wanita seantero Akademeia, bisa dibilang dia seperti Rem versi pria. Dengan wajahnya yang androgini, tampan dan cantik secara bersamaan, penampilan yang cool, berkepribadian kalem dan dewasa, sehingga dia termasuk kategori pria idaman wanita. Sama seperti Rem, tipe lelaki impian yang sempurna (nyaris sempurna sebenarnya, karena tinggi badannya masih di bawah rata-rata tinggi badan pria pada umumnya). Bahkan karena saking menariknya pesona Ace, tinggi badannya bukan menjadi masalah bagi para wanita yang naksir padanya karena setidaknya tingginya masih di atas rata-rata tinggi badan normal wanita (setidaknya hal tersebut berhasil membuat Eight sempat tidak menyukainya sekaligus iri padanya karena Eight sering menjadi sasaran olokan tentang tinggi badan dibandingkan dirinya yang hampir semampai dengan Eight). Bahkan para wanita yang menggilainya juga sangat mengagumi pertarungannya selama latihan karena (sekali lagi seperti Rem) dia bertarung dengan kartu dan mampu menghasilkan gerakan yang agresif dan indah di saat yang bersamaan.
Sekali lagi kembali ke kiasan lebah dan bunga, para 'bunga' tersebut berusaha menarik perhatiannya dengan menampilkan warna-warni yang indah di setiap 'kelopak bunga' mereka, berharap agar 'lebah' versi dirinya mau mengambil nektar dari para 'bunga' tersebut. Sayangnya, 'lebah' Ace sudah buta warna terhadap kelopak-kelopak dari para 'bunga' tersebut karena matanya hanya melihat keindahan warna daun segar yang justru berasal dari kedua batu zamrud milik 'lebah' yang bernama Machina Kunagiri tersebut, yang mengaku sebagai pemilik absolut dari 'bunga' Rem Tokimiya.
Ah, mata hijau itu... benar-benar membutakan dirinya, pikirnya.
"Ace..."
Sejenak ia tersentak dari lamunannya. Penglihatannya kembali tertuju pada... sepasang manik hijau yang selalu membutakannya.
"Kau tidak apa-apa kan? Tampaknya kau sangat murung." Tanya Machina to-the-point.
"Ah, benarkah? Aku tidak apa-apa kok." Sangkal Ace
"Err... apa kata-kataku barusan menyinggungmu? Ah, pasti gara-gara ancamanku padamu barusan. Yang tadi itu aku cuma bercanda. Ayolah...aku tidak segitunya ingin menghajar orang lain. Aku juga nggak mau kena hukuman gara-gara itu. Lagipula aku masih ingin berteman baik denganmu, kok. Hehehe..." hibur Machina yang sebenarnya tidak terlalu tepat pada sasarannya.
"Ah...aku juga nggak terlalu mempermasalahkannya kok. Tenang aja..." jawabnya menyangkal, lagi.
"Ah, syukurlah kalau gitu." Sejenak mereka terdiam, melupakan tugas mereka yang sudah terbengkalai sejak perbincangan mereka barusan.
"Machina, aku mau ke kamar kecil dulu ya. Aku permisi dulu." Pamit Ace sebelum keluar dari ruang diskusi Chrystarium.
"Ace?" panggil Machina sesaat menghentikan langkah Ace.
"I-iya."
"Kau...benar-benar...tidak menyukai Rem sama sekali kan?" tanya Machina to-the-point. Kill sight tepat mengenai hati Ace.
"Ah, pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja tidak. Please deh, aku saja baru sekedar mengenalnya dari pengenalan baru kalian. Itupun aku tahu tentangnya darimu. Dekat dengannya saja masih belum pernah. Bagaimana bisa aku menyukainya? Kau ini ada-ada saja deh nuduh orang." Omel Ace diselingi tawanya, yang sebenarnya di dalamnya terdapat amarah, kepedihan, dan patah hati.
"Ah, syukurlah kalau begitu." DAR! HP point nya seketika mencapai 0, mati.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Jawabnya seketika langsung keluar dari ruangan saat itu juga, tanpa dicegat lagi oleh Machina, bahkan sekedar mengatakan bahwa 'tadi apa yang kubicarakan jangan dimasukkan ke hati, ya?' pun tidak keluar dari mulut Machina. Sepertinya Machina sengaja ingin 'membunuh'nya.
-epha-
Ace POV
Di toilet pria...
Sakit...
Sakit...
Sakit sekali...
Begini ya rasanya sakit hati...
Padahal selama latihan di arena, bahkan berada di medan tempur pun aku sering mengalami banyak luka akibat serangan balik dari para monster yang menyeramkan dan menjijikan dsb. Tapi rasanya tidak sesakit yang kurasakan sekarang ini.
Dan entah kenapa, tiba-tiba langit biru cerah dalam kedua mataku berubah mendung seketika, bahkan hujan lebatpun sudah turun dari mataku.
Padahal berkali-kali aku membasuh mukaku di wastafel, tapi berkali-kali air mata ini tak kunjung berhenti mengalir. Sial, bahkan rasanya saluran pernafasanku juga mampet gara-gara ini. Untunglah di tempat ini tidak ada siapa-siapa selain hanya aku seorang diri. Bahkan tak ada orang yang masuk hanya untuk kencing. Sangat sepi dibandingkan dengan toilet wanita yang dalam setiap detik sudah pasti ada para wanita masuk keluar.
Sesaat aku bercermin di kaca atas wastafel tersebut. Langit dalam bola mataku berubah warna menjadi merah dan basah oleh karena air mata. Persis seperti cerita dongeng klasik tentang "Tempus Finis" di mana langit saat dunia akan kiamat berubah warna menjadi merah darah.
Kondisi langit Tempus Finis yang memerah itu sangat persis dengan kondisi warna sklera putih mataku yang memerah. Tapi kenapa warna mataku masih tetap biru? Andaikan saja mataku berubah warna total menjadi merah, aku bisa menjadi Vermilion Bird L'cie, seorang pelayan kristal Vermilion Bird dalam dongeng "Tempus Finis" yang memiliki kekuatan super untuk mengikuti setiap perintah dari kristal tersebut (cukup aneh juga mendengar cerita dongeng tersebut. Sebuah benda dapat membudakkan manusia? Lucu juga, tapi miris). Setelah manusia tersebut berubah menjadi l'cie, warna matanya menyala berubah warna menjadi warna tiap kristal yang dilayaninya, seperti contohnya merah untuk Vermilion Bird. Bahkan seiring waktu dia menjadi l'cie, kekuatannya akan menjadi semakin kuat, namun seiring itu juga emosinya yang dimilikinya semasa manusianya tersebut akan menghilang menjadi seperti robot.
Andaikan saja aku menjadi l'cie, jika kristal tersebut berkenan, aku pasti akan...membunuh Machina.
"Machina bodoh..." kataku di depan cermin, nyaris tanpa emosi.
"...Machina bodoh..." kataku lagi tapi sedikit lebih keras.
"...Machina bodoh..." kataku semakin keras, nyaris ingin berteriak
"...MACHINA BODOH!" teriakku final, diiringi air mata yang menurun ke pipi.
Aku merosot ke dinding toilet tanpa peduli apakah lantai dan dinding kotor atau tidak, karena saat ini aku hanya ingin menumpahkan segala emosiku, menumpahkan air mata yang terus ingin keluar dari mataku.
Tapi kupikir-pikir...
"...semua ini karena akulah yang bodoh..." gumamku lirih.
Tentu saja, akulah yang paling bodoh, karena memandang matanya begitu saja. Bahkan aku sangat bodoh karena hanya memandang matanya saja aku langsung jatuh cinta padanya. Bodohnya lagi, pemilik mata orang yang aku cintai berjenis kelamin sama denganku.
Tapi jika dipikir-pikir, kurasa bukan salah Machina bila menyukai Rem walaupun status mereka masih berteman. Kemungkinan peluang mereka menjadi sepasang kekasih sangat besar. Mereka sudah lama berteman sejak kecil dan juga mereka juga sering bersama. Hal itu sudah jelas menumbuhkan perasaan Machina terhadap teman wanitanya, meskipun belum tentu Rem menyadari perasaan Machina.
Tapi kalau dipikir-pikir Machina dan Rem sangat serasi untuk menjadi sepasang kekasih. Baik di sekolah maupun di medan tempur.
Machina memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa, bahkan peringkat HP (Health Point) nya tertinggi kedua setelah Nine (berarti dia sangat kuat), belum lagi peringkat-peringkat kemampuan berbagai elemen magic, attack, dan defensenya yang selalu berada di atas 7 besar. Belum pernah ada Class Zero, termasuk diriku sendiri, yang mampu menyeimbangkan berbagai peringkat stat-stat kemampuannya menjadi hampir sama tingginya dan belum pernah ada di antara kami yang mampu menaikkan semua stat kemampuan kami sampai masuk 7 besar ke atas (bahkan Nine yang mengklaim dirinya sebagai dewa perang hanya karena memiliki peringkat pertama di HP dan defensenya saja, tapi kemampuan sihirnya sangat payah).
Sedangkan Rem memiliki kemampuan sihir yang sangat luar biasa. Seperti cerita Machina, Rem memiliki kemampuan sihir yang sangat luar biasa, bahkan tak tanggung-tanggung poin yang dimiliki dalam MP nya mencapai lebih dari 1.000, tak heran jika dia selalu mendapatkan peringkat 1 dalam menguasai berbagai elemen magic (sekali lagi, belum pernah ada di antara kami Class Zero yang mendapatkan lebih dari 1.000 poin untuk peringkat stat MP meskipun selama ini kami bertarung lebih sering menggunakan magic daripada senjata kami).
Ah, aku jadi iri sama mereka.
Belum banyak sekali di kalangan para siswa yang mengatakan bahwa Machina dan Rem itu bagaikan burung lovebird yang tak bisa dipisahkan karena sering mereka bersama, bahkan sangat serasi. Tak jarang ada yang bertanya pada mereka tentang kapan mereka akan berpacaran.
Ugh!
Hatiku jadi semakin sakit rasanya mengingat itu.
Meskipun baik aku dan Rem bagi mereka sama-sama makhluk Tuhan paling diidamkan oleh setiap lawan jenis (lucunya ada juga yang mengatakan bahwa Rem lebih cocok berpasangan denganku daripada Machina yang egois dan overprotektif kata mereka), tapi aku merasa cemburu padanya, karena mampu mendapatkan hati Machina.
Mungkinkah mata Rem yang berwarna merah rubi juga seindah mata zamrud Machina? Mungkinkah Machina lebih mengagumi mata cantiknya Rem daripada aku? Apakah mungkin dulu Machina menyukai Rem karena kontak mata?
Ah, pertanyaan bodoh macam apa itu? Memangnya setiap orang harus suka seseorang karena matanya? Toh belum tentu juga seperti itu.
Hanya saja...
"Andaikan saja aku jadi wanita..." gumamku pelan
Yah, selama ini aku tak suka jika ada yang mengatakan aku ini seperti seorang gadis (bahkan aku masih ingat betul insiden menyakitkan di mana aku harus berdandan seperti siswi gara-gara kalah taruhan dalam main kartu. Rasanya aku ingin menghajar teman-temanku yang sudah mengerjaiku terutama Nine), tapi sekarang...
...aku justru berkeinginan untuk berganti kelamin menjadi wanita hanya karena seorang Machina?
Sebenarnya mudah saja aku menjadi seorang gadis. Yah seperti hukuman kalah taruhanku dulu, tinggal pake seragam perempuan, sedikit polesan bedak tipis, polesan lipstik berwarna senada di bibirku dan polesan maskara untuk menambah kelentikan bulu mataku. Tak lupa dengan jepit rambut untuk menambah kesan cewek (karena rambutku sudah sehalus sutra seperti rambutnya cewek).
VOILA!
Jadilah aku gadis paling cantik di dunia.
Bahkan kecantikanku mengalahkan kecantikan teman-teman perempuanku sendiri. Banyak pria merayuku (yang satu ini aku sedikit jijik dengan kenangan menjijikkan seperti itu).
Aku yakin sebentar lagi aku akan mengalahkan Rem dalam kontes kecantikan ratu sejagad dunia, bila perlu kontes mendapatkan hati Machina Kunagiri.
Tapi...
Ugh...imajinasi liar bodohku sama sekali tak akan membantu.
Aku sendiri juga tidak yakin apa Machina akan menyukaiku sebagai seorang gadis dan bukan Rem? Bahkan agar Machina menyukaiku, aku harus melakukan operasi kelamin untuk menjadi seorang gadis?
Heck! Terlalu riskan untuk melakukan operasi kelamin yang butuh biaya yang sangat mahal. Bahkan belum tentu juga jika aku jadi wanita maka Machina otomatis akan menyukaiku.
Sepertinya akan menjadi sangat sulit untuk mendapatkan hati Machina yang jelas-jelas orientasinya lurus.
Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa semudah itu jatuh cinta pada seorang yang bergender sama denganku? Segitu miringkah orientasiku?
Tapi mata itu...
Mata itu memberikan cahaya yang sangat memikat hatiku.
Warna hijau itu...
Aku tidak mengerti, bagaimana bisa hanya karena warna mata hijau bisa mencuri hatiku? Padahal aku yakin masih banyak orang yang bermata hijau selain dirinya. Tapi kenapa hanya dia? Mungkinkan Class Zero tidak punya stok orang bermata hijau sehingga melihat orang bermata hijau saja aku sudah tergila-gila saja? Tapi, teman-temanku lainnya tidak segila itu. Apa cuma aku saja yang terlalu gila? Mungkinkan kebiasaanku mengamati orang-orang membuatku terkena getahnya sendiri?
Aku tidak mengerti.
Aku benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana bisa aku menyukai mata hijaunya?
Tapi...
Mata hijau itu sendiri yang memikat hatiku... memberikan harapan untukku... mata itulah yang menjeratku dalam cinta.
Tapi mulut kasarnyalah yang justru menghancurkan harapan itu. Seakan tak merestuiku untuk mengungkapkan perasaanku terhadap Machina.
Kata-kata tentang tuduhan bahwa aku menyukai Rem serta sikap kecemburuannya terhadapku membuatku benar-benar sakit hati.
Heck! Asal kau tahu saja Mr. Kunagiri, aku tidak menyukai Rem Tokimiya dan sama sekali tidak akan menyukai teman wanitamu itu! Aku hanya mencintaimu, Machina Kunagiri! Hanya kau seorang!
Yah, setidaknya sudah kuungkapkan perasaannya. Hanya di dalam hatiku saja.
Sekali lagi, air mata sialan itu kembali keluar tanpa ijin.
-epha-
Author POV
Di ruang diskusi Chrytarium...
Di waktu yang sama, Machina mulai sibuk mengerjakan tugas bagiannya sambil menunggu Ace yang tak kunjung balik dari toilet.
'Tumben lama sekali dia di sana.' Pikirnya.
Namun sesaat dia kembali teringat kata-kata yang barusan Ace ucapkan sebelumnya. Sebenarnya dia sempat menangkap kata-kata Ace yang pertama barusan mengenai alasan Ace memilih Machina sebagai partner belajarnya.
"Agar aku bisa menatap matamu. Indah sekali."
Sejenak dia berhenti dari kerjaannya dan merenung sesaat...
Dia juga sempat memandang mata Ace.
'Mata biru itu... benar-benar indah...' ucapnya dalam hati.
Machina mulai membayangkan bagaimana mata Ace memancarkan sinar langit biru yang cerah seperti langit biru di musim semi. Sejenak ia tersenyum membayangkan pesona mata Ace yang bahkan mengalahkan mata para gadis. Bahkan Machina masih belum bisa membandingkan mata Ace dengan Rem. Mungkin baginya, mata Ace sama indahnya dengan mata Rem, hanya saja warna matanya biru, dan juga bulu mata Ace tidak sepanjang bulu mata Rem. Tapi bentuk mata bulatnya begitu menawan dan cantik seperti mata seorang gadis.
Namun seketika senyumannya memudar dan berganti menjadi alis yang mengerut. Ia juga sempat memperhatikan ekspresi matanya yang tiba-tiba menunjukkan sedikit kesedihan, entah apa penyebabnya. Tak ada angin, tak ada hujan.
Namun sejenak dia bergumam.
"sebegitu besarkah perasaanmu terhadapku, Ace?"
.
.
.
TBC
Hi readers, maaf banget ya kalo vakum sangat lama sekali karena berbagai hal (yang sebenarnya lebih dominan pada rasa malas, menulis itu tidak semudah yang dibayangkan).
Sebenarnya aku malas ngelanjutin gara-gara nggak ada feedback dari para reader makanya aku nggak ada semangat untuk ngelanjutin. bahkan aku sempat lupa jalan cerita selanjutnya. tapi karena ada yang 'memaksa' untuk dilanjutin, akhirnya semangat 45 ku mulai muncul.
sebenarnya yang kutulis ini bukan chap 2 yang sesungguhnya, tapi karena chap 2 yang kutulis sebenarnya itu adalah POV nya Machina, maka rasanya bakal kurang ada feelnya. malah terkesan bocor (spoiler). Bahkan chap 2 yang asli itu lebih ke flashback bagaimana dia jadi Class Zero dan pertemuannya dengan Ace dan bagaimana dia mendeskripsikan tentang mata Ace menurut sudut pandangnya dan perasaannya ketika memandang mata Ace. Makanya chap ini yang seharusnya merupakan chap 3 ini aku jadikan sebagai chap 2, itupun kutulis secara mengalir saja, berlawanan dengan alur cerita yang sudah kubayang sebelumnya. tapi setidaknya masih nyambung lah daripada nggak sama sekali. Chap 2 yang asli aku upload jauh-jauh hari saja deh seiring jalan ceritanya.
Dan maaf jika chap untuk saat ini merupakan chap yang paling panjang dan bertele-tele. But at least, hope you like it, and enjoy it.
