NB:

Oh ya, dulu aku sempat bilang kalo setting cerita ini sama sekali nggak ada kristalnya sama sekali. Tapi di bab dua disebutin kalo mereka masih bisa belajar menggunakan magic, padahal di game tersebut menyatakan bahwa magic yang mereka gunakan itu berasal dari kristal. Nah karena misconcept yang kubuat tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk membuat setting cerita di mana mereka belajar magic itu emang alamiah dan bakat, bukan berasal dari kristal, yah kayak sekolah Hogwartz versi Final Fantasy gitu.

Dan juga monster-monsternya itu sekali lagi bukan berasal dari Milites Empire karena Rubrum Dominion dan Milites Empire itu sama sekali nggak berperang dan tidak ada rasa permusuhan di antara mereka (karena yang bikin 4 negara berperang itu sebenarnya berasal dari kristal, masuk akal, bukan?), dan masing-masing negara berurusan dengan negara masing-masing. Jadi monster-monster macam flan, behemoth, dll itu emang berasal dari luar yang bisa mengancam keselamatan orang jika sampai masuk ke wilayah negara itu dan memakan banyak korban (modelnya kayak di Shingeki no Kyojin di mana titan-titannya berasal dari luar dinding entah darimana asalnya). Kalo tiga negara lainnya sebenarnya tidak terlalu penting banget dalam cerita ini, karena sebenarnya inti cerita tersebut lebih ke Machina dan Ace tentunya.

_epha_


Sore hari...

Setelah menangis sendirian di kamar mandi, Ace segera keluar dari kamar mandi dan menuju ke lorong dalam keadaan sedikit berantakan, muka sembab, dan mata bengkak (walaupun berkali-kali ia cuci muka tapi muka sembannya masih belum hilang. Untungnya karena hari sudah sore, lorong yang ia lewati terhitung sepi. Tak banyak manusia yang berlalu lalang melewati jalam tersebut sehingga tak akan ada yang tahu kalau Ace yang terkenal dengan image cool dan dewasa itu ditemukan habis menangis tidak jelas. Bisa hancur image yang ia jaga selama bertahun-tahun.

Ah, semua ini gara-gara Machina...

Bodoh, kenapa harus Machina yang ia pikirkan?

Semenjak ia mengenal Machina, kini segala macam emosi yang selama ini dapat ia kendalikan kini mulai tak tak terkendali lagi. Misalnya perasaan senang ketika Machina mengajaknya jalan-jalan menelusuri Akademeia sambil berbincang-bincang tentang banyak hal, perasaan senang ketika ia tahu bahwa Machina ternyata juga pecinta Chocobo seperti dirinya (bahkan berdasarkan keterangan dari Rem, Machina punya tendensi untuk memberikan nama unik dan lucu terhadap chocobo dan juga pernah menamai chocobo kakaknya dengan nama Chichiri), dan perasaan senang ketika Machina mengajaknya balap chocobo (teman-teman nya sampai menyorakinya bahwa ia sudah punya teman sesama Chocobo lovers).

Tapi perasaan senang yang itu bukanlah perasaan senang biasa dimana ia mengekspresikannya dengan tersenyum saja, perasaan senang yang ia rasakan saat itu benar-benar meluap begitu saja. Tanpa rasa jaim. Semuanya diluapkan dengan senyuman lebar.

Anehnya, hal yang ia alami hanya ketika berinteraksi dengan Machina. Ketika ia berinteraksi teman-temannya ia tetap menjadi Ace yang biasanya, Ace yang kalem dan jaim.

Bahkan ketika ia sedihpun, ini pertama kalinya ia menangis meraung-raung di kamar mandi ketika Machina menuduhnya menyukai Rem. Sebenarnya bisa saja yang dia katakan itu hanya candaan saja. Tapi dari nada bicaranya, dia tidak bercanda. Machina benar-benar menuduhnya. Dan yang membuat ia semakin sedih adalah... Ia benar-benar patah hati. Patah hati karena Machina masih straight sedangkan dirinya sudah merasa melenceng mencintai seseorang yang masih straight.

Entahlah, mengapa sampai sebegitunya Machina mendominasi seluruh perasaan dan emosi dalam dirinya.

Tak terasa ia sudah sampai di Chrystarium. Ia segera merapikan bajunya sekali lagi dan mengelap wajah serta merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sekali lagi supaya tak ada yang melihat dirinya sehabis nangis lalu segera menuju ruang diskusi Chrystarium.

Sesampainya di ruang tersebut, Ace tak menyangka ruang ini telah sepi, tak seramai tadi. Pasti semua pengunjung sudah pulang.

Tapi, apa Machina juga sudah pulang?

Ah, ternyata Machina masih ada di tempat mereka tadi, sibuk mengerjakan sebagian tugas mereka, hampir tak menyadari kedatangan Ace.

"Oh, hei Ace! Kau mengagetkanku saja! Kenapa kau lama sekali ke kamar mandinya? Kupikir kau hanya buang air kecil saja? Ini sudah aku kerjakan sebagian di sini, sisanya mungkin bisa kau kerjakan atau kita kerjakan bersama besoknya. Oh ya, soal-soal yang diberikan pada taichou ini seperti soal esai saja. Malah menurutku agak cenderung mudah kalau dikerjakan sendiri, tapi kenapa taichou meminta kita mengerjakan bareng ya? Pake presentasi pula? Ace... Ace..." namun yang dipanggil hanya diam saja.

"Ace. Kau tidak apa-apa ka- Ace! Kau kenapa?" sahut Machina kaget setelah melihat wajah Ace yang bengkak dan mata memerah meskipun ia sudah berusaha membasuh mukanya dan mengelapnya berkali-kali sampai memerah tapi tetap saja tidak menghilang.

"Aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatir, tadi aku mendadak flu berat dan... hatchi...pileknya benar-benar membuntui lubang hidungku sampai mampet. Jadinya begini. Hatchi..." jawab Ace berbohong dengan bersin palsunya. Sebenarnya berbohong seperti itu bukan kebiasaannya. Apalagi ketika ia berbohong pada teman-temannya, mereka langsung percaya begitu saja karena gaya Ace yang begitu meyakinkan sehingga tak terdeteksi suatu kebohongan dalam diri Ace. Tapi, kenapa?

"Ace... kau habis menangis ya?"

Skak mat! Machina langsung saja tahu kalau Ace sedang menangis.

"Tidak! Aku tidak menangis. Aku hanya..."

"Jangan bohong! Wajah seperti itu sudah terlihat jelas kalau kau habis menangis. Apalagi matamu yang memerah dan membengkak bukankah menandakan kau habis menangis? Orang flu berat nggak ada gejala mata memerah dan membengkak."

"Cih! Kau ini sama sok tahunya dengan Trey." Elak Ace.

"Ini bukan sok tahu. Ini memang sudah jadi hal yang sangat umum di masyarakat. Kalian Class Zero saja yang jarang berbaur dengan masyarakat umum selain hanya di Peristylium dan saat misi, itu saja. Class First sampai Class Twelfth saja sering berbaur satu sama lain. Kalian saja yang tidak pernah kelihatan berbaur dengan kelas lainnya."

"Kau ini sama saja seperti Rem. Dulu sewaktu kami masih belum masuk Class Zero aku pernah mergok dia batuk-batuk. Kutanya apa dia sakit, dia malah jawab tidak sampai berkali-kali kutanya dia selalu menjawab tidak, tapi aku bisa melihat wajahnya mulai sedikit memucat. Sampai akhirnya aku menemukan dia pingsan di saat waktunya Class Seventh latihan di arena. Setelah kami membawanya ke UKS dia ternyata menderita bronchitis dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani. Untungnya bronchitisnya bisa cepat ditangani sebelum terlambat. Tapi dari kejadian itu, aku mengerti bahwa kebohongan takkan selamanya bisa menutupi kebenaran yang ada."

'Cih, kenapa harus Rem yang ada di otakmu?' pikir Ace

Seketika mereka saling adu pandang untuk berargumen satu sama lain. Mata Ace semakin menyipit, begitu juga Machina.

"Apa gara-gara tadi aku menuduhmu menyukai Rem?" tanya Machina hati-hati.

'Ah, kenapa pertanyaan itu lagi? Persetan dengan tuduhanmu itu! Persetan dengan Rem sahabat kentalmu itu! Rem lah penghalang bagiku untuk mendapatkanmu.' Pikir Ace masih dalam api kecemburuannya yang tidak wajar.

"Hari sudah semakin sore. Ayo kita pulang." Tapi belum sempat melangkah tangannya ditahan oleh Machina.

"Kalau memang karena itu masalahnya meskipun itu hanya candaan, aku minta maaf." Ujar Machina tulus, namun Ace hanya diam saja.

"Queen pernah cerita padaku kalau kau itu biasanya kalem dan tenang saat menghadapi masalah, tapi terkadang kau itu juga bisa jadi sensitif di saat tertentu. Deuce bahkan juga memberitahukanku lebih dalam lagi bahwa kau akan benar-benar merasa sedih saat kau benar-benar kehilangan orang yang amat kau cintai."

"Mungkin di luar orang boleh melihatmu berkepribadian kuat dan dewasa. Tapi kau takkan bisa membohongi dirimu sendiri kalau kau masih punya kelemahan dalam hal tertentu baik yang aku dan teman-temanmu tahu atau tidak. Jadi jangan pernah tutupi dirimu sendiri. Toh kalau kau takut jika teman-temanmu tahu kau menangis, aku takkan memberitahukannya kepada mereka. Meskipun aku anak baru, tapi untuk urusan jaga rahasia aku akan jaga rahasia itu baik-baik."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Machina. Omonganmu itu tidak ada inti yang jelas. Kau benar-benar mirip dengan Trey. Aku mau pulang." Elak Ace tapi sekali lagi tangan Ace masih ditahan oleh Machina.

"Aku tidak akan membiarkanmu pulang begitu saja sebelum aku selesai menjelaskan tentang ini."

"Auw! Lepaskan aku! Tanganku sakit, bodoh!" keluh Ace sambil mengumpati Machina.

"Kalau kau mau tetap di sini dengarkan aku sampai selesai, baru kau boleh pulang!" titah Machina. Tak terasa mereka baru sadar kalau suara mereka begitu keras di ruangan. Untunglah ini di ruang diskusi, bukan di Chrystarium utamanya (dan untungnya cuma mereka berdua saja yang ada di sini), bisa-bisa diusir oleh penjaga tempat tersebut.

Akhirnya mau tak mau Ace mengangguk menurutinya. Seketika Machina melonggarkan cengkeramannya dan Ace hanya diam di tempat mendengarkan penjelasan Machina.

"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang membuatmu bersedih lebih jelasnya, tapi maaf kalau aku malah terlalu banyak membahas tentang Rem terus-menerus seakan-akan aku cemburu jika ada orang lain selain diriku yang boleh mendekati Rem. Tapi bukan itu sebenarnya alasan yang sesungguhnya." Jelas Machina.

"Lantas apa alasanmu sesungguhnya? Memangnya sebegitu pentingkah hidupmu untuk Rem sampai-sampai semua orang tidak boleh mendekatinya padahal kau sendiri sudah mengakui kalau kau bukan pacarnya?"

"Karena hanya Rem satu-satunya teman sekaligus keluarga yang kupunya." Aku Machina. Ace kemudian terdiam.

"Sejak kecil aku tidak punya teman. Sejak kecil aku sering dibully oleh teman-temanku dan mengataiku mesin, robot, dan sebagainya yang berhubungan dengan benda mati karena namaku Machina. Di antara semua itu, hanya Rem satu-satunya yang mau berteman denganku dan yang selalu membelaku."

"Orang tuaku... meninggal karena kecelakaan... sedangkan kakakku...hiks... kakakku... uh... meninggal setahun yang lalu karena... ditabrak truk...hiks... Semenjak saat itu..." Machina menjeda sebentar sambil mengusap air mata yang tak terasa jatuh di matanya. Ace yang memperhatikan matanya seketika mulai terenyuh melihat Machina menangis. Untuk pertama kalinya ia melihat Machina menangis meskipun hanya sedikit menitikkan air matanya. Ace merasa sakit melihat mata hijau yang amat ia kagumi menangis meskipun ia sendiri juga habis menangis.

"Aku ingin Rem menjadi temanku satu-satunya dan aku ingin melindunginya dari siapapun yang mencoba mendekatinya. Meskipun dia punya banyak temanpun aku tetap akan selalu bersamanya. Meskipun kami sekarang jadi bagian dari Class Zero sekalipun, aku ingin tetap bersamanya. Setidaknya aku tidak ingin dia melupakanku sebagai teman lamanya. Atau paling tidak... aku masih keluarga..." Ujarnya lirih.

Ace pun akhirnya memahami persoalan Machina, meskipun ia masih merasa sakit hati pada Rem yang menjadi concern utama Machina. Setidaknya biarkan ia menjadi concern utama Machina, yah paling tidak sebagai sahabat, meskipun cintanya harus bertepuk sebelah tangan pun setidaknya Machina masih punya waktu untuknya.

"Baiklah, aku mengerti sekarang tentang masalahmu. Tapi mulai hari ini jangan asal menuduh orang sembarangan meskipun itu hanya candaan atau karena masalah pribadimu. Kau harus bisa membaur pada orang sekitarmu selain Rem. Meskipun kami Class Zero memang jarang berbaur dengan orang umum, tapi kami berduabelas saling mengenal satu sama lain dan tidak berpihak pada satu orang pun. Jadi kau juga sama saja mengisolasikan diri meskipun kau mencoba membaur pada masyarakat umum tapi yang kau pikirkan cuma sahabatmu. Setidaknya jangan sampai kau mengekangnya terlalu lebih. Dia juga wanita yang butuh dimengerti, bukan?"

"Lagipula kami Class Zero adalah keluarga. Mulai saat ini... kau... dan Rem... juga menjadi bagian dari keluarga Class Zero."

"Yah, aku tahu itu. Terima kasih banyak."

Setelah mereka selesai berdebat penuh emosi, mereka akhirnya mulai sedikit mencairkan suasana dengan sedikit tertawa kecil.

"Tapi... kalau boleh tanya... kenapa kau menangis tadi?"

"Sudah kubilang aku tidak menangis, Machina."

"Kau menangis, Ace... wajahmu itu sudah jelas-jelas habis menangis."

"Kalau aku menangis itu juga bukan urusanmu!" jawab Ace sedikit ketus.

"Bohong! Kau menangis pasti gara-gara aku, ya kan?"

"Cih! Sok tahu kau ini!" elak Ace.

"Ace... apa kau... ada rasa terhadapku?" tanya Machina selidik

Deg!

Machina benar-benar ingin cari tahu tentang perasaannya saat ini. Gawat! Bagaimana ini? Apa ia harus menjawabnya atau tidak? Tapi jika ia jawab sesungguhnya, ia takut Machina pasti akan menjauhinya karena merasa jijik padanya.

Bisa dilihat matanya Machina yang terus menyelidik kebenaran yang ada.

'Aku harus bagaimana? Sebelumnya aku tidak pernah merasa gugup seperti ini? Santai saja, Ace! Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan!' Sugestinya dalam hati.

"Aku hanya bercanda kok! Hihihi..."

Entah mendengar jawaban Machina itu ia harus merespon dengan marah, atau justru senang. Ia hanya diam saja.

"Lagian aku tahu kok, mana mungkin cowok seperfect dirimu suka sesama jenis? Kau digilai oleh para gadis di Peristylium, pastinya kau ingin mendapatkan cewek cantik, bukan?"

"Ya, begitulah..." entah jawaban seperti apa yang dia kasih. Tapi ada sedikit perasaan lega, juga perasaan kecewa yang menghinggapi hatinya. Machina masih belum menyadari perasaannya.

"Baiklah kalau begitu. Oh ya, hari sudah semakin sore menjelang malam. Sepertinya kita harus benar-benar pulang sebelum diusir oleh penjaga. Besok kita lanjutkan lagi pekerjaan kita."

Machina dan Ace kemudian mengambil tugas mereka dan menaruh buku-buku yang mereka baca untuk ditaruh di tempatnya. Setelah itu mereka keluar dari Chrystarium bersama.

Ace POV

Aku tidak tahu harus bersikap apa pada Machina, karena setelah kejadian tadi kami jadi banyak diam. Tanpa satu katapun keluar dari mulut kami. Padahal tiap kami bersama pasti ada topik pembicaraan, baik penting maupun tidak penting sama sekali sampai yang terlalu privat bagi kami pun dibicarakan.

Tanpa sadar punggung tanganku bersentuhan punggung tangannya.

Tangannya begitu hangat meskipun hanya secara bergesekan saja.

Ada keinginan untuk menggandeng tangannya. Jari-jariku bergerak perlahan mencoba menyentuh tangannya. Tapi, aku tak punya keberanian.

Jari-jariku tetap terus bergetar mencari kehangatan tangannya, tapi yang ada hanya kepalan tanganku saja. Masih belum berani menggandeng tangannya secara langsung.

Lalu aku merasakan kehangatan yang luar biasa dari...

Tangannya Machina...

Tunggu! Machina... menggandeng tanganku?

Ini...benar-benar... seperti mimpi...

"Apa kau merasa hangat sekarang?" Aku menoleh ke Machina saat Machina menanyakannya. Seketika Machina pun membalasnya.

"Tanganmu dingin sekali. Jadi aku menggandeng tanganmu. Tidak apa-apa kan?"

"Ah, tidak apa-apa kok. Terima kasih banyak, Machina." Jawabku sedikit tersipu. Justru aku sangat senang dengan perlakuan ini.

"Apa kau merasa hangat sekarang?" ulang Machina.

"Hangat? Ya tentu saja hangat." Ya. Tanganmu benar-benar sangat hangat di telapak tanganku, Machina.

"Baguslah kalau begitu. Jangan sungkan kalau mau menggandeng tanganku kalau kau merasa kedinginan. Atau perlu kau bernaung di jubahku?"

"Ah, tidak. Terima kasih banyak. Ini sudah cukup untukku." Jawabku

Jadi selama perjalanan menuju asrama kami, kami saling bergandengan tangan berbagi kehangatan.

Dari sini mungkin Machina masih memikirkan tentang Rem dan bahkan sempat menuduhku menyukai Rem. Tapi setidaknya aku masih punya harapan untuk mendapatkan Machina selama Rem bukan pacarnya. Yah, setidaknya masih ada pendekatan untuk kami. Dan selama Machina masih belum menjauhiku karena perasaanku, aku akan bersikap sebaik-baiknya terhadapnya.

Mungkin siapa tahu... Machina mulai ada rasa terhadapku...meskipun itu mustahil bagiku untuk mendapatkan hati seseorang yang bergender sama denganku. Setidaknya...aku ingin...Machina merasakan cintaku...untuk sejenak...perlahan.

Hingga mata hijau itu...hanya tertuju padaku...

Pada mata biruku...

Hingga di dalam mataku, terpantul bayangannya,

Di matanya, terpantul pula bayanganku.

_epha_

Author POV

1 minggu kemudian...

Setelah melewati masa-masa sibuk mereka dengan tugas kelompok mereka (ada yang merasa excited, namun ada juga yang merasa dongkol karena tidak sesuai harapan), akhirnya tiba waktunya bagi ketujuh tim tersebut untuk mempresentasikan hasil tugas mereka selama satu minggu. Dan kabar gembiranya lagi, untuk membuat suasana lebih berbeda akhirnya Kurasame memutuskan untuk meminta murid-muridnya pindah tempat duduk sesuka hati mereka asalkan mereka mau berpindah tempat dari tempat duduk mereka asalnya.

Ace memilih duduk tempat duduk di pojok kanan depan karena dekat dengan jendela dan dia bisa melihat pemandangan di luar dari jendela tersebut. Namun yang membuat Ace merasa senang adalah Machina memilih duduk sebangku dengannya walaupun terpisah satu kursi (NB: di game tersebut satu meja ada tiga kursi). Tapi tidak apa-apa. Yang penting Ace merasa bahagia karena akhirnya ia bisa satu bangku dengan pria yang telah mencuri hatinya.

'Itu berarti aku bisa menatap mata hijaunya yang menghadap ke depan setiap hari tanpa ia tahu.' Pikirnya.

Ya, Ace benar-benar sudah terobsesi pada mata Machina. Yang ia inginkan selama bersama Machina hanyalah ingin menatap matanya saja dan mengagumi keindahan matanya.

Namun seketika wajah Ace yang semula tersenyum mendadak berubah menjadi muram tatkala Machina justru berbincang dengan Rem, tepat di sebelahnya.

Ah, rupanya Machina duduk di sebelah Ace karena di sebelah kanannya ada Rem yang duduk satu meja dengan Deuce yang tepat di dekatnya dan Cater di sebelah kanannya Deuce. Hanya jalur jalan yang menjadi jarak buat mereka. Terlihat sekali Machina cukup akrab ketika berbincang dengan Rem. Sangat akrab. Atau mungkin...

Sangat mesra...

Ah, entah bagaimana Ace harus menanggapi ini, apakah ia harus tetap bahagia atau justru merasa sedih melihat kenyataan ini, toh ia tetap harus bersyukur karena Machina menjadi teman sebangku dengannya. Setidaknya... melihat matanya dari samping sudah cukup memuaskan untuknya, asalkan dia tidak membelakanginya.

"Baiklah anak-anak, saya pikir setelah seminggu lamanya kalian mengerjakan tugas yang saya berikan, kalian pasti sudah siap untuk maju mempresentasikan pekerjaan kalian. Di sini saya sudah membawa tugas yang kalian kumpulkan dua hari sebelumnya."

Namun respon dari berbagai tim berbeda-beda, ada yang merasa excited (sekali lagi), namun ada yang merasa enggan untuk mempresentasikan hasil pekerjaan bersama mereka, entah karena merasa kerjaan mereka masih kurang sempurna, atau karena merasa gugup, atau masalah paling klasik yang pasti menjadi momok bagi tiap siswa yang berkelompok...

...enggan untuk maju bersama anggota kelompok yang amat tidak disukainya.

"Baiklah, sesuai nomor urut yang telah ditulis sebelumnya, tim nomor 1, Rem dan Deuce, kalian maju ke depan untuk mempresentasikan hasil pekerjaan kalian." Titah Kurasame kemudian Rem dan Deuce maju ke depan untuk mempresentasikan hasil pekerjaan mereka. Ace kemudian menggenggam tangan Machina yang langsung reflek menoleh kepadanya.

"Kita tidak boleh kalah dengan mereka. Kita juga harus bisa mempresentasikan pekerjaan kita jauh lebih baik. Kita yang laki-laki tentu tak mau dikalahkan oleh wanita bukan?" ujar Ace menyemangati.

"Hm, aku tahu itu. Kita harus bisa menjadi tim terbaik." Ujar Machina balik

Tangan Machina membalas genggamannya Ace dan mereka saling tersenyum. Mata mereka pun ikut tersenyum.

_epha_

Hasil perolehan nilai mereka setelah 3 jam sudah keluar. Class zero tampak gugup melihat hasil perolehan nilai tim mereka ditulis di papan.

Tim 1 (Rem & Deuce): 98

Tim 2 (King & Cater): 89

Tim 3 (Cinque & Trey): 90

Tim 4 (Machina & Ace): 97

Tim 5 (Seven & Sice): 77

Tim 6 (Jack & Eight): 75

Tim 7 (Queen & Nine): 83

Dengan perolehan nilai kelompok tersebut, sudah pasti berbagai reaksi pun bermacam-macam. Ada yang senang, ada yang kaget, ada yang biasa-biasa saja, tapi ada pula yang tampak sangat kecewa. Sekali lagi sangat kecewa, bukan hanya kecewa saja.

Salah satunya yaitu Trey.

"Ah, kenapa nilainya cuma 90? Selisihnya jauh sekali 7 nilai sama timnya Ace? Apa akunya yang terlalu banyak bicara selama presentasi atau Cinque nya yang terlalu bodoh atau bagaimana? Padahal aku sudah susah payah ngajarin Cinque agar bisa mengerti materi dari soal-soal itu sekaligus presentasi lebih baik. Nasib... nasib..." keluh Trey merana.

Sedangkan partnernya justru happy tidak ketulungan karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan nilai lebih dari 70, bahkan mendapatkan nilai 90 merupakan suatu prestasi yang amat luar biasa baginya. Ini semua berkat Trey.

"Yippi, akhirnya kelompok kita dapat nilai 90. Makasih ya Trey udah ngajarin aku. Kita emang tim yang terbaik sekelas ini, hahaha..." yang direspon cuma tersenyum kecut tanpa diketahui oleh Cinque kalau Trey sebenarnya masih kurang puas dengan nilainya, terutama bagi murid yang merasa paling pintar sekelas. Tapi mau gimana lagi? Namanya juga tim. Semua anggota harus dinilai sama rata.

Lalu Kurasame mengumumkan bahwa akan ada yang dihukum untuk mengerjakan tugas secara individu atas kurangnya performa dalam mempresentasikan hasil tugas atau ketidakkompakan dalam mempresentasikan tugas.

"Sice, karena selama kau mempresentasikan tugasmu bersama Seven tampak tidak fokus dan hanya diam saja selama ditanya juga gugup-gugup sendiri seperti orang di dunia lain, kau harus mengerjakan tugas tambahan secara individu. Kau sudah tahu kan konsekwensinya, bukan?" tegas Kurasame sedikit olokan pedas khasnya.

Yang dihukum hanya bisa meratapi penderitaannya. Seven berusaha menghiburnya tapi ditepis oleh Sice karena merasa takut padanya.

"Eight, kau juga dihukum untuk mengerjakan tugas tambahan secara individu karena selama presentasi kau tampak jaga jarak dengan Jack. Terlihat sekali kau tampak enggan sekali berbaur dengan partnermu. Kau tahu ini presentasi bersama, bukan jadi penjaga gerbang yang berdiri menjauh sisi kanan sisi kiri. Lihatlah! Nilai timmu bahkan jauh lebih buruk daripada timnya Sice. Bahkan paling terburuk sekelas ini." Kritik Kurasame jauh lebih pedas dari biasanya.

"Err, maaf Taichou. Tapi selama presentasi tadi saya yang lebih aktif mempresentasikan bahkan menjawab pertanyaan."

"Iya memang. Tapi bukankah berarti kau tampak egois sekali dengan tidak berdiskusi dengan Jack partnermu sekalipun Jack termasuk murid dengan peringkat prestasi paling bawah ke 3, bahkan tiap kali Jack mendekatimu kau justru menjauh darinya?." Tanya Kurasame yang lebih terdengar seperti pernyataan. Yang ditanya hanya bisa minta maaf dan siap menerima konsekwensinya.

"Setidaknya aku bisa mengerjakan sendirian tanpa harus bersama Jack lagi." Gumam Eight

"Oh ya, ada pengecualian."

"Pe-pengecualian?" tanya Eight bingung. Maksudnya pengecualian apa?

"Karena dalam kasus ini kau tidak kompak dengan partnermu karena kau sengaja menjauh dari partnermu entah karena kau tidak suka atau ada masalah lain, maka sebagai hukumannya lagi Jack yang menjadi orang satu-satunya yang akan membantumu mengerjakan tugas tersebut."

"APA?!"

"Tunggu Taichou! Apa saya juga ikut dihukum gara-gara presentasi kami tadi?" tanya Jack

"Tidak! Untuk kali ini kau tidak akan dihukum karena kau sudah konsisten dalam presentasi tadi meskipun jawabanmu kurang memuaskan. Kau hanya perlu membantu Eight mengerjakan tugas tambahannya saja. Ingat! Tidak ada yang boleh membantu mereka atau sekedar memberitahu jawaban kepada mereka. Pengecualian untuk Eight, karena kesalahannya dengan sengaja melakukan jaga jarak jauh dengan Jack, maka sebagai hukuman tambahannya Jack yang akan membantumu untuk mengerjakan tugas."

"Tapi, taichou. Dia kan kurang pintar!"

"Tak peduli mau dia pintar atau bodoh tetap dia yang akan membantumu menjalani hukumanmu."

"Tapi taichou- "

"Karena masalah tinggi badanmu dengan Jack? Memangnya ngaruh ya masalah sepele itu sama harga dirimu itu sampai presentasi saja main jaga jarak partner, hah?" Jleb! Tepat pada sasaran. Apa yang dipermasalahkan oleh Eight kini langsung diketahui oleh Kurasame yang langsung ngomong to the point.

"Err, itu..."

"Ace juga murid terpendek di kelas ini setelah dirimu. Tapi toh dia santai saja dengan partnernya yang lebih tinggi darinya. Buktinya performa mereka sangat bagus saat mempresentasikan tugas mereka." Tukas Kurasame. Sedangkan yang dibicarakan hanya bergumam dalam hati saja.

'Memang bukan tinggi badan yang menjadi permasalahanku. Tapi...'

Sesaat matanya tertuju pada Machina yang menolehnya karena apa yang dibicarakan oleh commander tersebut. Ia hanya tersenyum. Begitu pula dengan Machina. Sekali lagi mereka saling menatap mata sambil tersenyum.

'Mata itu yang menjadi masalah untukku. Karena pesona matanya telah mencuri hatiku.'

"Tapi dia kan..." protes Eight tapi sekali lagi dipotong oleh Kurasame.

"Tidak ada tapi-tapian. Keputusanku sudah mutlak. Atau kau mau kutambah hukumannya jika kau protes sekali lagi?" ancam Kurasame.

"Ma-maaf, taichou." Jawab Eight lemas.

"Syukurin loe biksu kurcaci, emang enak di skak-mat in sama taichou?! Salahnya sendiri cuma mikirin tinggi badan orang doang." Gumam Nine menyukurinya.

"Jack, kau kutugaskan untuk mengawasi Eight dalam mengerjakan tugasnya. Laporkan ke saya tiap harinya sebelum pengumpulan tugasnya."

Cih, segitunya? TERLALU!

"Youkai, taichou!" jawab Jack penuh semangat.

"Nine, saya berpikir kau pasti bakal masuk dalam daftar orang yang kena hukuman ini karena kau sering langganan hukuman dariku. Tapi tak kusangka ternyata timmu lumayan kompak juga meskipun kulihat kalian berdua sering bercekcokan selama presentasi, tapi setidaknya kalian berdua cukup kompak dalam presentasinya." Puji Kurasame dengan sedikit olokan yang ditujukan kepada Nine.

"Yah gimana lagi taichou? Wong saya aja sering diancam sama si ketua kelas ini kalau nggak tampil baik, apalagi kalau udah ngeluarin jurus Janus Queen mode on nya." Aku Nine sedangkan yang dibicarakan justru mendesis.

"Jangan bawa-bawa namaku, idiot." Desis Queen yang berada di barisan depan.

"Oh begitu rupanya? Kalau begitu kalian sering-seringlah berkelompok. Kurasa kalian cocok. Memang nggak salah jika nilai tim kalian lebih bagus dibandingkan dua kelompok barusan. Queen! Kerja bagus untuk menjadi pawangnya Nine. Kalau perlu keluarkan jurus andalanmu sampai dia berubah jadi anak baik dan penurut." Titah Kurasame sedangkan yang disuruh cuma bisa ngedumel sendiri.

"Oh ya, pengumpulannya paling lambat 3 hari setelahnya di ruang saya. Mengerti?" yang terkena hukuman hanya menjawab dengan lesu.

"Saya rasa untuk yang lainnya tidak ada masalah yang berarti mengenai hasil tugas kalian. Kerja kalian cukup bagus. Oh ya, ada dua tim yang menurut saya paling mengesankan. Tim nomor 1 dan 4. Kalian sungguh luar biasa, meskipun selisih poin kalian hanya 1 tapi nilai kalian untuk tim ini hampir mencapai sempurna. Apalagi untuk Rem dan Machina, kalian benar-benar mampu membaur diri dengan masing-masing partner senior kalian lebih kompak. Jawaban kalian sungguh mengesankan. Kalian hebat sekali untuk ukuran siswa baru kelas ini." Puji Kurasame. Rem dan Machina tersenyum menyambut pujian dari Kurasame.

"Deuce dan Ace. Kerja kalian dalam belajar bersama murid-murid baru sangat bagus. Bahkan kalian tidak sungkan sharing dengan mereka. Saya apresiasi dengan sikap suportif kalian." Deuce dan Ace juga ikut tersenyum. Masing-masing kemudian menoleh dan tersenyum kepada masing-masing partnernya.

"Ah, hampir lupa. Sebagai timbal baliknya, saya punya hadiah menarik untuk dua tim tersebut."

Hadiah?

Kurasame memberikan mereka hadiah?

Sangat jarang sekali bagi guru yang dikenal sebagai "ice reaper" ini mau memberikan hadiah (lebih seringnya memberikan hukuman).

Kira-kira apa yah hadiah yang diberikan pada dua nilai terbaik itu?

"Ah, paling-paling hadiahnya cuma bolpoin doang. Taichou kan pelit." Tukas Nine spontan.

"Diam kau, Nine. Kau ini cerewet sekali. Bukan kau yang dikasih hadiah." Protes Seven yang berada di depannya Nine merasa berisik dengan ocehannya Nine.

"Apa mereka akan dikasih boneka moogle dan chocobo?" tebak Cinque

"Tidak mungkin Kurasame mau ngasih hadiah murahan dan kekanakan seperti itu. Jangan berharap banyak, Cinque." Celetuk Queen dengan nada yang amat menyakitkan. Cinque hanya merunduk sesaat tanpa berani protes ke Queen kalau tak mau jadi sasaran amukan dari Queen yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi Janus Queen.

"Apa jangan-jangan mereka bakal dikasih uang pesangon? Itu benar-benar menggiurkan." Celetuk Cater dengan mata berbinar. Sedangkan yang di seberang malah mengagumi pesona Cater dari dalam hatinya. Siapa lagi kalau bukan si "material art" nya Class Zero.

"Bisa jadi sih. Tapi uangnya berapa banyak dulu? Kalau sampai satu juta gil mah mana mau taichou ngasih?" tanggap King

"Tebakan-tebakan kalian memang hampir semuanya memang memungkinkan. Tapi bukan itu yang akan kuberikan pada mereka." Interupsi Kurasame.

"Tim 1 dan tim 2. Majulah ke depan." Keempat orang yang disebutkan tadi lalu maju ke depan untuk menghadap ke Kurasame.

"Sebenarnya mengenai pemberian hadiah yang barusan kusebutkan tadi itu sama sekali bukan niat awalku. Tapi kemarin kebetulan aku terpilih menjadi satu dari dua orang pemenang undian sebuah acara. Dan ini hadiah untuk kalian." Kurasame memberikan empat lembar kertas kecil panjang kuning dan bermotif pada keempat murid tersebut.

"Ini kan..." Deuce

"Tiket nonton layar tancap..." Rem

"Film Final Fantasy XV: Kingsglaive?" Machina

"APA? NONTON FILM GRATIS?" seru Class Zero minus 4 orang tersebut, hampir menggema di satu ruangan.

"Taichou! Kau tidak bercanda kan tentang ini? Bukankah ini penipuan?" tanya Ace menyelidik. Tentu dengan gaya cool dan jaimnya.

"Awalnya aku pikir ini penipuan karena aku ikut undian ini hanya karena iseng semata. Tak ada niat untuk benar-benar mendapatkan tiket-tiket itu. Lagipula aku pikir nonton layar tancap itu lebih murah daripada nonton di bioskop, jadi aku tetap sanggup membeli tiket itu. Tapi kemudian tanpa sengaja kudengar pengumuman lewat TV kalau aku terpilih menjadi pemenang yang memang hanya diperuntukkan untuk 2 orang saja. Kemudian aku tanya pada pihak acara tersebut secara langsung tentang kebenaran hadiah 5 tiket itu dan memang benar adanya. Kemudian aku mendapatkan 5 tiket nonton film ini. Dan jika kalian tanya apakah ini asli atau tidak, ini memang asli dan sudah kuambil langsung di Suzaku Park, tempat layar tancap yang akan menayangkan film itu. Dan itu premier." cerita Kurasame.

"Tapi tetap saja ini aneh. Bagaimana bisa anda memberikan tiket-tiket ini pada kami? Kenapa bukan kepada rekan sebaya anda seperti Emina-sensei dan Dr. Kazusa?"

"Ace! Jangan tanya terus seperti itu! Setidaknya kita bisa bersyukur Kurasame mau mengajak kita nonton film bareng. Itu akan menyakiti perasaannya." Tegur Machina

"Ace. Kalau boleh jujur saja, aku lebih suka nonton film sendirian daripada nonton bareng teman karena jauh lebih fokus memahami ceritanya daripada ada teman tapi hanya diajak ngobrol saja. Tapi karena dari pihak sana memberikannya 5 tiket, maka mau tak mau aku harus memberikan 4 lainnya pada orang lain sebagai bukti bahwa aku mengajak relasiku nonton bareng dan tiket-tiketnya tidak terbuang sia-sia."

"Jika kau tanya kenapa aku tidak mengajak Emina dan Kazusa, maka jawabanku adalah aku sudah menawari mereka nonton film bareng. Tapi keduanya sama-sama tidak bisa karena Emina sedang mempersiapkan diri untuk penugasannya ke Milites Empire besoknya dan Kazusa sedang sibuk dengan penemuan gilanya. Dan aku sama sekali tak ada relasi cukup dekat lagi yang sebaya denganku selain mereka. Maka aku pikir kenapa tidak kuberikan saja pada dua tim terbaik untuk tugas tersebut. Kalau kau tidak suka, kau bisa berikan itu pada temanmu yang lain. Toh banyak yang mau dapat tiket dariku." Tukas Kurasame.

"Acey~ kau bisa berikan tiket itu padaku. Aku pingin~~~ " rajuk Cinque sambil beranjak dari kursinya dan mengangkat tangannya.

"Aku juga Ace! Kau bisa berikan tiket itu padaku!" seru Sice juga ikut angkat tangan.

"Kecuali yang dihukum mengerjakan tugas tambahan!" tegas Kurasame dan seketika Sice langsung menunduk murung. Yah, dia takkan bisa nonton film bareng guru idamannya. Hiks~

"Machina! Apa kau akan nonton film ini?" tanya Ace

"Tentu saja aku akan menontonnya. Bukankah ini gratis? Toh Rem juga dapat tiket gratis." Jawab Machina spontan.

Oh tidak! Machina akan berduaan terus dengan gadis itu selama ia tak ada. Tak ada kesempatan baginya jika gadis itu benar-benar mengambil hati Machina seutuhnya. Ia tetap harus ada di samping Machina sebisa mungkin.

"Baiklah! Aku akan ikut." Jawab Ace

"Bagus! Besok kalian kumpul di depan Suzaku Park Gate jam 5 sore. Jangan sampai terlambat karena pemutaran fimnya dimulai jam setengah 6 sore." Ingat Kurasame

"Baik, taichou!"

"Dan jangan lupa! Pakailah baju kasual kalian. Tidak mungkin kan kalian nobar pakai seragam Peristylium setiap hari? Setidaknya berpenampilanlah layaknya masyarakat sipil." Ingat Kurasame sekali lagi.

"Baik, taichou!" Well, hanya Machina dan Rem saja yang menjawab. Sisanya hanya diam saja, entah mungkin karena enggan melepaskan seragam kebanggaan Class Zero atau mungkin karena memang mereka tidak punya baju lain selain seragam Peristylium.

"Anak-anak, mengenai tugas yang saya berikan pada kalian seminggu yang lain mungkin kalian merasa bahwa tugas ini lebih terlihat seperti esai yang pantas dikerjakan secara individu. Tapi saya membuat tugas ini menjadi tugas bersama dua orang dan kemudian mempresentasikan jawaban kalian di kelas sehingga ini menjadi rumit bagi kalian. Itu karena saya menilai kalian bukan dari seberapa pintarnya kalian mengerjakan tugas, tapi kerja sama kalian dalam mmenemukan solusi secara bersama." Seketika kelas pun sunyi.

"Dan tentang pembagian kelompok tersebut, saya serahkan kalian untuk memilih sendiri partner kalian dan bukan saya yang menentukan itu karena saya sudah memperkirakan akan ada kemungkinan kecil bagi kalian untuk mendapatkan partner yang kalian inginkan dan pasti akan ada rebutan partner."

"Tugas tersebut juga bertujuan untuk menekan rasa ego kalian akan sesuatu yang terlihat enak menurut kalian serta menyatukan pikiran kalian satu sama lain dalam tugas tersebut dan saling percaya pada masing-masing individu. Dan juga tentang pencantuman sumber tersebut sebenarnya tidak perlu kalian cari melalui buku saja, tapi bisa juga melalui berbagai sumber lain bahkan melalui pengalaman pribadi kalian sendiri. Tapi mengenai ketepatan jawaban itu semua hanya porsi kecil untuk penilaian tersebut karena penilaian sesungguhnya adalah seberapa cepat kalian mampu menyatukan pikiran kalian dalam mengatasi suatu masalah serta membuang ego pribadi masing-masing dan bekerja sama, jadi jawaban kalian tadi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, bahkan sumber jawabanpun juga tidak ada yang benar maupun salah karena itu hanya digunakan sebagai pendukung jawaban kalian saja. Hal tersebut juga berguna untuk misi kalian suatu saat nanti jika tim kalian akan terbagi satu sama lain dan juga saling membantu membuat strategi dalam menghadapi para monster di luar bahkan musuh tak terduga." Semua murid pun mengangguk mengerti.

"Itulah kenapa saya memberikan nilai tertinggi untuk tim Rem dan Deuce karena alasan tersebut. Bahkan sebenarnya tim Machina dan Ace masih dibilang kurang dalam memberikan jawaban yang memuaskan dan logis, tapi karena keduanya saling membantu satu sama lain dalam menutupi kekurangan masing-masing dan keduanya begitu kompak sekali dalam menyatukan pikiran mereka, maka saya memberikan nilai tertinggi untuk performance dan kerja sama untuk menambah nilai kalian. Kuharap kalian paham tentang itu."

"Paham, taichou." Jawab Class Zero

"Baik, kalau begitu saya permisi." Kurasame kemudian beranjak dari tempatnya. Beberapa murid Class Zero kemudian berkumpul bersama di satu tempat untuk berbincang-bincang.

_epha_

"Akhirnya kita dapat tiket nonton layar tancap gratis dari taichou. Tak kusangka taichou benar-benar baik hati meskipun terkadang di luar begitu dingin." puji Deuce

"Uhm, rasanya tak sia-sia ya kita mengerjakan tugas ini bersama dan mendapatkan hasil terbaik sekelas. Bahkan Machina dan Ace juga dapat tiket gratis. Berarti kita bisa nonton film rame-rame ya." seru Rem.

"Sayang. Kita cuma berempat saja. Yang lainnya gimana kalau nggak dapat tiket gratis? Jadi nggak seru kalo nggak nonton film bareng satu kelas ini meskipun ada Ace-san juga." ujar Deuce sedikit kecewa. Rem begitu paham dengan maksud Deuce. Deuce pernah bercerita padanya kalau Class Zero selalu bersama-sama dalam melakukan apapun. Baik itu latihan bersama, bertarung melawan para monster bersama, belajar bersama, berlibur bersama, apa-apa selalu bersama. Apalagi dengan jumlah awal yaitu 12 orang, semua aktivitas nya jadi terasa ramai dan seru.

Ah, teringat masa kanak-kanaknya bersama Machina. Tidak beda jauh dengan keduabelas orang itu. Apapun yang mereka lakukan selalu dilakukan bersama, bahkan Rem juga sering main ke rumah Machina dan juga bertemu dengan kakaknya Machina yang bernama Izana. Hanya saja mereka hanya berdua. Bahkan saking seringnya mereka berdua ada yang mengatakan kalau mereka itu pacaran sejak kecil (karena kedua gender mereka yang berbeda) padahal tidak sama sekali.

Rem jadi ingin ketawa saja mengingat kenangan masa lalunya dengan Machina. Mungkin setelah bergabung bersama Class Zero, kehidupannya akan menjadi semakin ramai dan berwarna (meskipun di Class Seventh dia cukup punya banyak teman, dan jangan lupakan keberadaan Machina yang ikut bergabung bersama Class Zero.

"Tapi setidaknya Kurasame taichou sudah baik hati mau memberikan tiket gratis. Itupun beliau dapatkan ini juga butuh perjuangan meskipun hanya lewat undian. Toh mana mungkin pihak pengundi itu mau memberikan tiket gratis sebanyak 15 lembar? Bisa rugi yang jual." jelas Rem secara logis.

"Iya juga sih... Tapi tetap saja agak kurang adil bagi yang tidak dapat tiket gratis. Toh banyak juga yang dari dulu kepingin nonton film ini kalau saja mereka punya cukup uang hanya buat beli tiket." tukas Deuce kekeuh. Sepertinya dia benar-benar terlalu banyak mementingkan temannya ketimbang dirinya sendiri. Tapi tetap saja realita tetap memakai logika bukan?

"Yah, mungkin saja suatu saat taichou pasti mengajak kita semua nonton bareng entah di rumahnya atau di tempat lain. Tapi sepertinya bukan di sana deh mengingat butuh uang yang banyak untuk mendapatkan banyak tiket meskipun tidak semahal di bioskop. Kalaupun mau kita harus bayar sendiri-sendiri. Bagaimana dengan yang lainnya yang ogah mau ngeluarin duit? Pasti nggak mungkin lengkap kan yang ikut?" jelas Rem sekali lagi yang kali ini hanya bisa direspon oleh anggukan saja dari Deuce.

"Hah? Wah... Deucey... Aku lihat dong tiket gratisnya. Wah... Aku pengin sekali nonton film itu. Ah, tahu begini seharusnya aku bisa mengerjakan tugasnya lebih baik dan tampil lebih baik sehingga bisa diajak nonton film bareng taichou. Trey-chi~ kita nggak dapat tiket nonton gratis... Gimana ini? Padahal nilai kita bisa dibilang bagus lho~" rengek Cinque.

"Hah, gimana bisa dapat tiket gratis? Wong kitanya aja dapat nilai 90. Sedangkan yang di atas kita dapat nilai 97 dan 98. Kita mah udah kalah jauh selisihnya. Harusnya kita bisa dapat nilai lebih bagus dari mereka. Kalau bisa dapat 100 karena aku murid terpintar di kelas ini." keluh Trey secara tak sadar mengeluarkan segala unek-uneknya sedari tadi.

"Heh, sekarang kau baru mengeluh, Mr. Trey? Bukankah seminggu yang lalu kau yang menawarkan dirimu untuk menjadi partner timnya Cinque? Memangnya bagaimana sistem cara mengajarmu pada murid terbodoh kedua di kelas ini?" sindir King pedas.

"Argh, diam kau, King!" elak Trey semakin kesal, karena sekarang ada sedikit perasaan menyesal telah menawarkan diri menjadi partner Cinque yang notabene sangat kontras soal intelijensinya darinya. Tapi di sisi lain ia tak mau kalau hal tersebut sampai menyakiti hati Cinque.

Butuh perjuangan keras buatnya untuk mengajari Cinque yang terkadang sangat sulit dalam menjaga fokusnya, ditambah dengan tingkah nya yang kekanakan membuatnya semakin ekstra sabar dan usaha keras dalam menjadi tutor bagi Cinque (setidaknya dia tak sampai menjadi seperti Queen yang sangat galak dalam mengajari temannya, kalau perlu dia bisa bergaya seperti Janus Queen yang amat ditakuti semua orang).

Toh dia juga nggak tega kalau Cinque sampai kena hukuman mengerjakan tugas tambahan jika dia tak bisa mengerjakan tugasnya dan mempresentasikan tugas bersamanya. Pernah ia ingat insiden Cinque yang ditemukan jatuh pingsan dan tepar di lantai kelas dalam keadaan telungkup dan mukanya yang menghadap ke lantai (itupun keras sekali jatuhnya). Usut punya usut ternyata bukan hukuman fisik melelahkan yang dikira Trey menjadi penyebabnya, melainkan hukuman mengerjakan tugas tambahan dari Kurasame karena lupa mengerjakan PR yang menjadi penyebabnya. Fisik boleh kuat dalam mengangkat barang berat macam gada, tapi otaknya begitu lemah (mungkin kebalikan dari Trey).

"Haaah... aku juga ingin sekali menonton film Final Fantasy XV: Kingsglaive. Apalagi aku udah lama ingin sekali nonton film itu gara-gara nunggu lama launching gamenya itu. Gratis lagi. Kok ya cuma ada empat doang?" rengek Cater.

"Hah, ngapain kita ngandalin barang gratis dari orang lain? Beli aja napa? Toh cuma nonton layar tancap. Apalagi apa bagusnya nonton Final Fantasy kayak gitu? Membosankan." tukas King cuek.

"Ih, kamu nggak asik deh kalau diajak ngomong. Sedikit sensitif nanggepin orang napa?" keluh Cater dengab attitudenya King. Tapi Cater tak tahu kalau sebenarnya King juga ingin sekali nonton film itu banget and banget. Hanya saja... Jaim, men...

"Cih...kenapa nonton Kingsglaive nya di tempat layar tancap? Kenapa nggak di bioskop yang udah jelas-jelas fasilitasnya super WOW? Ada kursi empuknya yang bertingkat-tingkat, toilet pun ada. Kenapa harus layar tancap yang amat sangat kuno dan bikin sumpek itu, koraa~?" kritik Nine mengeluh dengan gaya khasnya.

"Karena undiannya emang cuma diadain di Suzaku Park, bodoh. Kan taichou juga udah ngomong. Kalau mau ke bioskop mah ke bioskop aja sendiri." tanggap Queen pedas.

"Tapi ya nggak enak kan jika kita duduk lesehan nontonnya? Apalagi entar kalau ada hujan pas lagi asyik nonton film? Belum lagi suaranya nggak bakal terdengar jelas? Terus-"

"ARRRGGHHH... DIAM LOE! BANYAK BACOT LOE YA! LOE NGGAK DIAJAK NONTON UDAH RESE NYA MINTA AMPUN! GUE STRES TAUK!" seru Sice marah.

"HEH! LOE NGAPAIN IKUT-IKUTAN PROTES?! LOE JUGA NGGAK DIAJAK, KORAAA!"

"JUSTRU KARENA GUE NGGAK DIAJAK MAKANYA GUE STRES BERAT. GUE GALAAUUUU... HUWEEEEEE~~~~" sahut Sice tiba-tiba menangis kejer.

"Lho, Sice-san, kok nangis? Tidak apa-apa, tenanglah sedikit." hibur Deuce.

"Gimana bisa tenang? Wong gue aja dihukum ngerjain tugas, nggak bisa nikmatin malam mingguan, belum lagi nggak boleh dapat tiket nonton film gratis, padahal gue pingin bisa deketan ma taichou~~~ huweeee~~~" curhat Sice sambil menangis sejadi-jadinya.

"Aahh, kasihan... Cup cup cup... Jangan nangis... Cinque juga nggak dapat tiket kok." hibur Cinque sambil menepuk-nepuk Sice seperti anak kecil.

"Iya...tapi kamu kan nggak dihukum... Hiks~"

"Ya itu kan derita loe." celetuk Nine tanpa perasaan,semakin membuat Sice menangis keras. Tiba-tiba...

PLAK!

"WADAUW! SIAPA YANG MUKUL KEPALA GUE?!"

"Berani-beraninya kamu bikin Sice ku menangis."

"Seven?"

"Apa?! Mau kupukul lagi? Atau perlu kucambuk sekalian kepalamu biar botak sekalian?"

"Ya ya ya! Hei, nyante dong! Gue tahu loe suka sama Sice, tapi ya please dong gak usah pake mukul segala! Wong Sice belum tentu bakal berterima kasih padamu tapi malah jijik ma- WADAUW!" sekali lagi pukulan telak di kepalanya hingga benjol, sedangkan beberapa anak lainnya mengatainya 'sukurin!' dalam hati.

"Tidak apa-apa, Sice. Jangan nangis. Kalau bener-bener mau nonton film itu kita bisa nonton film bareng, ntar aku sewa kacet DVD nya. Kalau mau berdua juga boleh, malah lebih bagus." hibur Seven dengan tawaran manismya.

"INI LAGI! SEMUA INI GARA LOE! LOE ITU EMANG PERUSAK MOMEN GUE! Pertama loe tiba-tiba nongol nggak jelas saat gue ngasih surat cinta ke taichou padahal gue pas di jalan dah meriksa kalau cuma ada taichou yang lagi jalan ke depan. Terus pas gue salah ngasih surat cinta ke loe, tiba-tiba loe nyatain ke gue kalo lie juga suka sama gue padahal tujuan gue sebenernya cuma ke taichou. Taichou jadi nganggap gue ini lesbi. Dan sekarang gara-gara loe nyenggol-nyenggol genit ke gue, gue jadi ngeblank ngomong apa tentang presentasinya, taichou jadi nganggap gue nggak fokus gara-gara keasyikan disenggol sama loe padahal sebenarnya gue lagi JIJIIIIIIKKKK!" komplain Sice panjang lebar.

"Yah, mau gimana lagi? Aku emangsuka sama kamu kok sejak awal, bahkan sebelum kamu salah ngasih surat cinta ke kamu." aku Seven jujur.

"TAPI GUE NORMAL! GUE MASIH SUKA SAMA COWOK, TAUK!"

"Makanya aku berusaha supaya kamu suka sama aku meskipun kita sama-sama cewek." jawab Seven polos dengan senyum mengembang.

"Auuwww, so sweeeeettttt..."

"DIAM LOE, CINQUE! NTAR GUE SUMPAL MULUT LOE PAKE KOTORAN CHOCOBO!" ancam Sice bengis.

Di sudut depan, seseorang yang sedang duduk di bangkunya tampak memperhatikan interaksi antara Sice dan Seven. Benaknya berkata dalam rasa galau.

'Mungkinkah Machina juga akan berakhir menjauhiku seperti Sice saat aku menyatakan cinta kepadanya? Padahal hubungan Seven dan Sice sudah seperti kakak beradik sebelum akhirnya Seven mengakui perasaannya sendiri. Aku takut jika hubungan pertemananku dengan Machina akan semakin renggang jika dia tahu perasaanku padanya. Dia sepertinya suka pada Rem.'

_epha_

"Eight, aku tahu kau lelah sehabis pelajaran tadi. Ayo kita pergi ke taman sambil menjernihkan pikiran kita. Habis gitu baru kita ngerjain tugasnya bareng-bareng."

"Nggak, aku nggak butuh ditemani. Aku mau sendirian saja."

"Tapi taichou bilang..."

"Please Jack. Aku mau sendirian. Aku lagi sumpek. Nggak mau ngerjain sekarang ini." potong Eight ketus kemudian bangkit dari kursi dan langsung melangkahkan kaki dari kelas sebelum ia berhenti sejenak untuk memandang Ace. Ace pun membalas pandangannya. Seketika Eight langsung buang muka dan melangkah ke pintu keluar. Anehnya, Ace hanya menanggapinya biasa saja. Tak ada rasa bersalah sama sekali atau sedih seakan ia sudah memakluminya. Namun Machina yang berada di samping Ace tak sengaja melihat kejadian tersebut dan menjadi heran akan sikap dingin Eight padanya dan sikap acuh tak acuh nya Ace yang menjadi balasannya.

"Ace, kau dan Eight nggak sedang bertengkar kan? Bukankah kau bilang kalau kau dan Eight berteman baik?"

"Iya, kami tetap berteman baik, kok."

"Tapi kok dia bersikap gitu padamu? Terus kau malau cuek saja?"

"Ah, hal itu mah dah biasa. Dia kayak gitu mah gara-gara dia iri padaku saat taichou menyinggung namaku saat menegur Eight. Kau tahu sendiri kan kalau kami sangat sensitif sama tinggi badan. Tapi Eight lah yang paling sering disinggung tinggi badan sama anak-anak laki-laki sedangkan aku mulai jarang disinggung lagi tentang tinggi badanku yang di bawah rata-rata pria gara-gara aku yang cukup terkenal di kalangan para gadis sehingga mereka tak mempermasalahkan tinggi badanku yang sedikit pendek dibandingkan beberapa gadis yang di atasku. Kemudian persinggungan tentang tinggi badan dialihkan semuanya ke Eight sehingga terkadang dia jadi sedikit dengki padaku gara-gara keberuntunganku." jelas Ace yang terkesan seperti memuji dirinya sendiri meskipun dengan ekspresi datarnya. Machina hanya bisa menjawab "ooo" saja tanpa komentar lagi. Tapi melihat ekspresi Machina yang seperti itu, Ace jadi khawatir kalau Machina akan berubah pikiran tentangnya dan kurang respek lagi padanya.

"Maaf, apa aku terkesan menyombongkan diri?"

"Apa? Ah tidak kok. Tidak masalah. Aku mengerti kok tentang situasi tersebut. Aku bahkan juga sering mengalami yang kau alami tadi. Teman-temanku di Class Second bahkan sering mengkambinghitamkan aku gara-gara mereka gagal menunjukkan kemampuan bertarung dengan baik. Padahal aku tidak melakukan apapun terhadap mereka. Itu usahaku sendiri berlatih keras, sedangkan mereka sendiri yang salah karena mereka kurang berlatih giat." cerita Machina mengundang tawa kecil Ace.

"Hei! Apa yang lucu?"

'Tidak. Aku juga setuju dengan perkataanmu. Mereka selalu saja menyalahkan keberhasilan kita dan mencari-cari kesalahan kita tanpa melihat dirinya sendiri." Ucap Ace.

"Lagipula salahnya Eight juga kenapa dia pake acara jaga jarak dengan Jack selama presentasi. Toh, mana ada yang mau mengolok-olok tentang perbedaan tinggi badan selama presentasi kecuali kalau ada yang mengolok-oloknya dalam hati. Benar bukan?" kata Ace

"Yah...begitu lah. Hidup itu memang serba rumit ya untuk urusan fisik." komentar Machina sontak keduanya tertawa kecil. Entah kenapa tapi suasana yang hangat mendesir hati keduanya seakan mereka telah terkoneksi satu sama lain. Sebelum ada seseorang yang merusak momen mereka, bagi Ace sebenarnya.

"Machina..." seru Rem sambil merangkul Machina dari samping tiba-tiba hingga Machina hampir saja terjungkal ke samping kalau dia tidak segera menahan tubuhnya.

'Cih, dia lagi.' ketus Ace dalam hati, walaupun sebenarnya dia tak punya hak untuk cemburu padanya.

"Akhirnya kita berdua dapat tiket nonton film gratis dari taichou. Aku tak menyangka kau bisa presentasi bersama Ace dengan baik bahkan taichou bahkan memberi kalian nilai tinggi untuk performance dan kerja sama. Padahal sebelumnya aku sempat khawatir kau tak siap presentasi dengan orang lain selain aku. Tapi sungguh. Yang tadi itu benar-benar luar biasa. Kalian benar-benar kompak tadi." puji Rem heboh.

"Hei! Kau meremehkan ku ya? Mentang-mentang udah milih partner sendiri, ngelanggar janji kita, sekarang udah ngerasa dapat nilai tim paling bagus, sekarang udah bisa underestimate padaku, gitu?" sindir Machina.

"Ya! Kau marah ya padaku? Seriously? Ini bukan Machina Kunagiri yang biasanya sangat ramah dan memahami sekali terhadap Rem Tokimiya."

"Bodoh! Kita kan sekarang udah di Class Zero. Jadi kayaknya kamu nggak perlu meduliin aku deh." Ketus Machina. Tapi Ace tahu kalau sikap Machina itu tadi hanya candaan saja. Tapi entah kenapa hati Ace merasa senang jika Machina bersikap dingin pada Rem meskipun itu hanya candaan saja. Jahat sekali aku, pikirnya

"Kau benar-benar marah ya sama aku gara-gara seminggu yang lalu aku tidak bilang padamu kalau aku sudah satu tim dengan Deuce? Aku benar-benar minta maaf deh... jangan marah gitu dong." Mohon Rem terus mempererat rangkulannya pada leher Machina dan menggosok pipinya ke pipi Machina sedangkan Machina hanya berpura-pura marah padanya.

"Ya udah gini aja deh. Ntar pas kita selesai nonton film bareng terus kita makan bareng aku yang nraktir kau deh." Tawar Rem.

"Ngapain make nraktir aku segala? Bikin malu aku saja."

"Ih, aku nraktir kan tujuannya sebagai tanda permintaan maaf doang. Lihat nih, Ace. Kalau Machina marah kayak gini lho dia kayak nggak nganggap teman lamanya kayak teman lagi. Makanya dia jarang punya teman." Kata Rem kemudian berbicara pada Ace setelah sadar ada Ace di samping Machina.

"REM! NGGAK USAH NGEBEBERIN KEKURANGANKU KE ORANG LAIN DEH!"

"Machina tuh kalau di kelasnya pas tugas kelompok tuh suka pemilih, bahkan jauh lebih individualis banget. Kadang nggak jarang dia lebih milih ngerjain tugasnya secara individual meskipun tugasnya disuruh berkelompok. Justru dia pingin ngerjainnya bareng aku. Padahal kita dulu kan beda kelas. Gimana sih Machina?" beber Rem.

"REEEEEEEEEEEEM!"

"Selain itu, dia itu kayak anak 'mami', tapi 'mami' yang dimaksud sini adalah aku. Apa-apa dia selalu saja bergantung padaku. Ke mana-mana aku selalu diikuti oleh Machina. Kadang-kadang dia juga suka merengek padaku. Ih, Machina emang nggak punya malu ya. Padahal dia kan laki-laki."

"CUKUP REM! KAU SUDAH TERLALU BANYAK NGEBEBERIN KEBURUKANKU! TEMAN MACAM APA KAU YANG BISA-BISANYA MEMPERMALUKANKU SEGITUNYA?!" elak Machina sambil membekap mulut Rem yang terlalu banyak omong.

Ace hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabat masa kecil itu. Walaupun sebenarnya bukan keduanya, melainkan melihat tingkah Machina yang harus menahan malu mendengar ocehan Rem.

"ACE! JANGAN TERTAWAI AKU SEPERTI ITU! REM! BERHENTI NGEBEBERIN TENTANGKU ATAU ACE AKAN TERUS MENTERTAWAIKU!"

"Aku akan diam jika kau mau memaafkanku. Kalau tidak, aku akan ngebeberin lagi keburukanmu. Kalau perlu satu kelas sekalipun."

"OK OK! Aku maafin dirimu yang sudah melanggar janji kita! PUAS?!"

"Yang tulus dong..." rajuk Rem

"Aku maafin kamu, Rem yang cantik, manis, imut sedunia." Jawab Machina lengkap dengan pujiannya yang terlalu berlebihan baginya.

"Nah, gitu dong. Itu baru Machinaku..." setelah itu Rem berhenti membeberkan banyak hal sebelum Machina benar-benar malas berteman dengannya. Dan selanjutnya yang terjadi adalah obrolan biasa antara sahabat. Ace tak terlalu ingin menyimak obrolan mereka yang terkesan terlalu privat untuk didengarkan. Jadi dia hanya jadi penunggu saja. Atau lebih tepatnya sebagai 'lalat' yang beterbangan menguping pembicaraan saja.

"Jadi, ntar pas besok nonton film, kau dandan yang cantik ya."

"Oh, pasti dong! Kau juga dandan yang tampan. Biar enak dilihat. Kalau bisa nggak usah pake jubahmu yang panjangnya nggak ketulungan itu. Nggak enak dilihat tahu, apalagi ntar bisa kena risiko kecantol tanaman terus kalo dipake di Suzaku Park."

"Hei, kau menghinaku ya?! Ini jubah kebanggaanku. Nggak ada yang bisa nyaingin jubahku yang maha karya ini." Puji Machina terhadap jubahnya sendiri.

"Maha karya apanya? Yang ada malah kau terlihat seperti vampir yang lagi nyari mangsa cadet Agito."

"Bodo amat. Yang penting badanku terlihat lebih gede kalo pake ini."

"Meskipun kau pake itu tetap nggak ngubah pandanganku kalau kau masih lebih pendek daripada cowok-cowok Class Zero macam Trey, King, dll. Paling kau terlihat lebih besar ketika kau bersama Ace. Tapi bukan terlihat tinggi, tapi terlihat gemuk, iya."

"REM! MULAI LAGI KAU!" bentak Machina

"Ace! Kau juga harus berdandan yang tampan ya. Aku juga ingin lihat kau memakai baju bebas seperti masyarakat sipil."

"Iya, aku akan berpenampilan seperti yang lainnya."

"Lagipula ntar besok aku juga harus meminjamkan baju untuk Deuce dan mendandaninya. Kasihan dia. Ternyata dia nggak punya banyak stok setelan baju untuk bepergian santai. Apa kau juga tidak punya baju selain seragam Peristylium? Kalau tidak punya kau bisa pinjam ke Machina kalau dia mau."

"Err, sepertinya aku punya satu setelan baju selain itu. Kuharap pakaian itu bisa digunakan untuk nonton film. Kalau aku pinjam ke Machina aku khawatirnya akan kebesaran. Machina lebih tinggi dariku."

"Baiklah kalau begitu. Besok kalian berdua jangan telat ya! Sayang banget kan kalau kalian kelewatan filmnya." Ingat Rem.

"Hei, yang harusnya nggak boleh telat kan kalian para wanita. Kalian kan lama di milih-milih bajunya. Belum lagi waktunya dandan. Gimana sih?" protes Machina.

"Ish, Machina banyak protes muluk. Contohin dong Ace. Diam dan penurut, nggak kayak kamu."

"Ya iyalah Ace diam dan penurut. Karena dia nggak terlalu banyak mengenalmu. Atau mungkin Ace agak bosan karena tak terbiasa mendengar ocehanmu daripada aku yang sudah terbiasa denganmu." Sindir Machina dan Ace diam-diam juga menyetujui sindiran Machina, meskipun tidak ia ungkapkan secara langsung.

"Ck, ya udah kalo gitu. Sampai ketemu lagi di hari sabtu ya. Sekalian kita double date. Toh cewek dan cowoknya masing-masing ada dua kan?! Ntar aku duduk sebelah Machina, dan kau duduk sebelahnya Deuce. Serasa kencan yah?"

"Terus bagaimana dengan taichou? Taichou kan laki-laki. Jadi jumlah laki-lakinya ada 3. Terus taichou bakal berpasangan sama siapa kalau ini disebut double date? Lagipula ntar film yang kita tonton kan film action, bukan drama romantis lho ya?"

"Iya aku tahu itu. Lagian siapa sih yang mau kencan sama si vampir galak kayak kamu?" olok Rem

"Cih, siapa juga yang mau pacaran sama si mulut ember kayak kamu?" olok Machina balik.

"Ya udah deh kalo gitu. Aku dan Deuce mau keluar dari sini. Kalau gitu sampai ketemu lagi ya di Sabtu besok. Sampai ketemu lagi juga Machinaku sayang, muach." Salam Rem sebelum akhirnya mencium pipi Machina.

Tunggu! Rem mencium pipi Machina?

DEG!

Ace POV

Kenapa hatiku tiba-tiba terasa ada yang menusuknya lagi? Apa aku tidak salah lihat?

Rem... mencium... pipi... Machina?

Apakah itu yang disebut sahabat? Di mana sahabat wanita bisa mencium sahabat prianya?

Itu terlihat... seperti... sepasang kekasih..., bukan?

Tanpa sadar aku reflek memegang dadaku yang terasa sakit kembali.

"Ya ya ya! Apa-apaan kau ini? Sejak kapan kau mendadak jadi genit gitu main cium-cium segala?"

"Dada Machina... dada Ace... ayo Deuce. Kita ke kantin yuk!" pamit Rem kemudian mengajak Deuce keluar dari kelas.

Tak terasa, ternyata kelas sudah jauh lebih sepi dibandingkan sebelumnya. Kini hanya Ace dan Machina berdua saja.

"Hah... dasar Rem. Aku tidak mengerti sejak kapan Rem mendadak hiperaktif kayak gitu? Udah banyak ngomong, mulut ember lagi. Yang terakhir main cium pipiku segala. Dasar! Pasti gara-gara ketularan bengalnya Nine dan ocehannya Trey deh." Keluh Machina sedangkan aku hanya memperhatikannya saja, dengan sedikit kecewa yang tidak bisa aku ungkapkan padanya saat ini.

"Hah... untung saja Rem itu cewek. Kalau sampai dia cowok, pasti aku akan mencekiknya habis-habisan dan memberi dia pelajaran hingga dia tak berani macam-macam padaku lagi, heh."

Dan andaikan saja aku perempuan, aku pasti bisa menyatakan perasaanku padamu bahwa aku mencintaimu, Machina.

"Ace... kau melamun ya?"

"Hah? Ah tidak kok. Ngomong-ngomong..."

"Ya..."

"Kau dan Rem sebenarnya pacaran nggak sih? Kok dia bisa mencium pipimu?" Cih! Pertanyaan bodoh macam apa ini? Ini tidak seharusnya meluncur di mulutku.

"Hah! Tentu saja bukan. Aku dan Rem jelas-jelas cuma teman biasa. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dengan tanpa malunya dia menciumku? Tenanglah. Aku juga tidak akan menuduhmu suka sama Rem kok."

"Ih, siapa juga yang mikirin tentang masalah seminggu yang lalu?!" tukasku pura-pura ketus. Sejenak kami kembali diam.

"Oh ya, kau benar-benar punya pakaian untuk kita nonton film? Kalau kau sebenarnya tidak punya kau bisa pinjam punyaku saja? Mungkin aku punya baju-baju yang sudah tak terpakai lagi karena sudah mulai kekecilan. Siapa tahu cocok untukmu."

"Tidak. Tidak perlu. Aku sudah punya kok. Seseorang pernah memberikanku setelan baju. Aku lupa kapan, tapi yang pasti dia memberikannya untukku untuk dibuat bepergian bersamanya." Jelasku.

"Umm... kalau boleh tahu... siapa sih orang yang baik hati memberikanmu baju? Apakah temanmu yang dari Class Zero?"

"Bukan. Yang pasti dari seseorang yang aku lupa siapa tapi dia sangat baik padaku."

"Aku tak menyangka kau masih bisa berinteraksi dengan orang luar. Apalagi orang yang kau ceritakan itu kelihatannya begitu peduli padamu. Kalau boleh tahu, ke mana dia, maksudku dia berprofesi sebagai apa? Seperti apa orangnya? Dan bisakah aku menemuinya? Siapa tahu aku bisa berkenalan dengannya."

"Entahlah. Aku sudah tidak mengingatnya lagi dia bekerja sebagai apa. Aku juga tidak ingat seperti apa dia, karena..."

"Hah?! Kok gitu? Masak sama orang yang baik padamu sudah kau lupakan begitu saja?"

"Karena dia sudah meninggal." Jawabku spontan. Entah kenapa rasanya agak berat untuk menceritakan tentang ini, tapi aku memang sudah tidak mengingatnya, dan aku tak mau mengingatnya lagi. Tapi yang jelas seseorang itu telah memberikanku setelan pakaian.

"Ah, aku minta maaf kalau begitu. Aku juga turut berduka cita atas kepergian temanmu itu."

"Yah... tidak apa-apa. Lagipula aku memang sudah tidak mengingatnya lagi. Dan aku juga tak mau ingat tentang itu. Untuk apa mengenang orang yang sudah mati kalau itu hanya membuatku sedih?"

"Hm... kau ternyata begitu kuat yah daripada aku. Aku saja masih belum bisa melupakan kematian kakakku meskipun sudah satu tahun lewat."

"Tidak apa-apa, Machina. Itu wajar, karena dia kakakmu. Keluargamu. Orang yang paling dekat denganmu." Kataku yang dibalas dengan anggukan darinya.

"Ya udah kalau gitu. Daripada kita mengenang kematian orang terdekat kita, lebih baik kita jalan-jalan ke taman yuk. Atau mungkin lebih baik kita ke Chocobo Ranch buat balap Chocobo, sekalian menyegarkan pikiran kita sehabis presentasi tadi."

"Uhm, aku setuju! Ayo!" Akhirnya aku dan Machina berjalan keluar meninggalkan kelas.

Entah bagaimana aku harus menjelaskannya. Terkadang ada rasa senang, tapi terkadang ada rasa kecewa. Tapi selama Machina masih belum menjadi milik siapapun, termasuk juga Rem, aku masih punya kesempatan untuk mengenal Machina lebih dekat. Menelusuri dirinya lebih jauh, dan membuat Machina sedikit punya simpati dan empati padaku, sampai...

Sampai akhirnya mata hijau zamrud itu hanya memandangku...

Hingga mata biruku bisa leluasa memandangnya...

Dan... cintaku bisa terbalas olehnya...

... perlahan... namun pasti...

Machina akan jadi milikku...

...bergantung padaku... bukan lagi bergantung pada Rem...

...Rem yang jelas-jelas tak mencintainya.

Baiklah, Machina. Sampai ketemu lagi di hari Sabtu.

Aku mencintaimu.

.

.

.

TBC


WAH... fic macam apa ini? Jujur ini di luar dugaanku dan di luar otakku membuat alur seperti ini, terus saja mengalir.

Tapi setidaknya aku lega bisa ngelanjutin ini meskipun aku sempat nyendat-nyendat karena sibuk sama kuliah dan juga malas nulis karena bingung mikirin dialognya.

Buat aoi_96, ini lanjutannya. Semoga kau suka.

Btw mau sedikit curhat. Aku benar-benar kecewa sama Square Enix. Benar-benar sangat kecewa. Karena apa?

Karena Machina tidak masuk dalam daftar pemain Dissidia Final Fantasy. Ace masuk, itu sudah pasti. Tapi... kenapa harus ada Rem saja yang masuk Dissidia, meskipun dia masuk yang Dissidia Opera Omnia, bukan yang arcade? Terus kenapa King juga yang dimasuki, tapi nggak ada Machinanya? Kenapa Machina tidak masuk? Padahal selama lihat gameplaynya di Youtube, pertarungannya juga hebat kok. Apa jangan-jangan Square Enix juga sudah mempertimbangkan keinginan fandom yang amat sangat membenci Machina gara-gara spoiler-spoilernya dan juga kepribadiannya (aku nggak peduli tentang itu, toh yang penting Machina tetap aku cintai kok) di game tersebut? Berarti Square Enix hanya mementingkan duit dan fandom saja daripada kualitas karakter-karakter bikinan mereka sendiri.

Terus yang Vaan dan Hope Estheim yang katanya dibenci fandom kok bisa masuk Dissidia, tapi Machina kok nggak? Padahal pengin lihat model 3D nya doi ala Dissidia, apa lebih ganteng ato masih gantengan dia di cutscenenya.

Jujur, aku merasa lebih suka Machina dan Ace yang versi PSP nya (apalagi cutscenenya ekspresi mereka benar-benar terlihat ganteng banget) daripada yang HD (kalau perlu semua pemain aku suka figur render mereka yang PSP). PSP muka-mukanya natural banget meskipun badan mereka low quality, apalagi warna mata mereka... Wow... tapi yang di HD, badan boleh terlihat bagus, tapi wajah mereka? Cukup mengecewakan. Lebih terlihat kayak manekin jika dibandingkan dengan yang versi PSP. Belum lagi rambut2 mereka tampak jarang-jarang banget. Dan jangan lupakan warna mata mereka yang sudah lebih menggelap daripada warna mata aslinya alias tak jelas warna mata mereka. Machina tampak kayak koko Cina di HD, apalagi Ace... tak sebaby face di PSP. Mukanya rada tua dikit (rambutnya tidak se-shiny di PSP). Pokoknya semua figur wajah mereka baik Machina, Ace, dan semuanya (well, hampir semuanya, ada beberapa yang lebih bagus daripada PSP, tapi tetap saja.) sangat sangat mengecewakan di versi HD nya. Aku nggak bahas tentang kecepatan gerakan gamenya lho ya, karena aku nggak pernah main gamenya (karena emang nggak punya dan juga nggak begitu suka main yang battle2an). Tapi nonton di Youtube sudah cukup bagiku, serasa kayak main game beneran (emang situ cuma bisa nonton doang, dasar pemalas.).

Tapi jujur saja, itu nggak adil. Machina juga pemeran utama kayak Ace dan Rem. Malah menurutku Rem saja yang selalu ikut-ikutan di sebelahnya Machina yang lebih banyak ambil peran dalam cerita game tersebut sedangkan Rem menurutku hanya main aman saja. Kasihan Machina.

Kalau boleh jujur aku jadi nggak rela kalau ada momen Ace/Rem di Dissidia, ntar kasihan Machina jadi cemburu sama keduanya gara-gara dirinya dikhianati oleh dua orang yang ia cintai (OK, ini terlalu fiksi abis.)

But btw happy reading people, and don't forget to comment below after reading story.