NB:

Maaf yah buat semuanya kalo chap ini dikit banget. Soalnya aku nggak sanggup lagi nulis banyak-banyak. Apalagi aku juga harus mempersiapkan mentalku untuk mendapatkan dosen pembimbingku dan juga skripsi dan juga tugas-tugas kuliah juga. Makanya chap 4 nya dibagi jadi dua, ntar jadi chap 4a dan 4b.

Lagipula fanfic ini juga masih sedikit sekali yang review atau comment. Kalaupun ada yang comment paling yang itu-itu saja. Sekali-sekali dong buat silent reader kasih komen tentang fanfic-fanfic ku ini. Setidaknya pengin tahu tentang pendapat kalian tentang fanficku ini, apa masih bisa dilanjut atau tidak.

Buat yang ngasih komen kalau Machina nggak pantas buat Ace, maaf ya kalau saya hapus reviewnya dari ffn ku, karena sama sekali tak ada alasan kenapa Machina nggak pantas buat Ace. Ini kan cuma fanfic. Kalau nggak suka ya nggak usah dibaca meskipun saya ingin ada yang ngasih komentar di fic ku ini. Apakah yang ngasih komentar kayak gitu adalah Machina's hater? Kalau gitu saya malas menanggapi. Saya hanya ingin kalian ngereview tentang cerita buatan saya. Bukan tentang pairnya. Karena kalau boleh jujur, saya Machina's lover, dan saya akan selalu nge-defense dia. Jadi saya nggak akan ngereken (peduli). Saya eman hati saya yang lagi galau (tau sendirikan yang catatan terakhir di chap 3 kemarin.)

Yosh! Selebihnya, happy reading...

_epha_


Author POV

Tak terasa hari ini hari Sabtu. Berarti pelajaran pada hari Sabtu lebih sedikit dari hari-hari biasanya. Dan juga karena ini hari Sabtu, para murid Akademeia pun pasti lebih sibuk merencanakan malam mingguannya. Kecuali mungkin bagi beberapa murid yang sudah mendapatkan tiket nonton film gratis dari gurunya, pasti tak perlu repot-repot merencanakan apapun yang muluk-muluk. Cukup datang saja ke acara tersebut, jangan lupa bawa tiketnya, siap deh menikmati malam mingguan.

Tak terkecuali untuk Ace yang sudah mendapatkan tiket gratis. Hanya saja... sebenarnya dia tak terlalu minat untuk nonton film karena dia tak suka tempat yang terlalu ramai. Bahkan jika dia mau, dia tak mau datang ke tempat ramai tersebut, meskipun dia belum pernah ke sana sekalipun.

Suzaku Park merupakan tempat wahana bermain yang selalu menjadi incaran banyak orang untuk hang out bareng, atau sekedar malam mingguan, maupun destinasi liburan bagi turis asing. Banyak orang menganggap Suzaku Park sebagai "taman kota impian Suzaku" karena selain wahana-wahana bermain yang tersedia, ada berbagai taman bunga yang indah untuk ditelusuri, serta keberadaan outdoor cinema atau istilah kerennya "layar tancap" yang berada di wilayah Suzaku Park tersebut (menariknya film-film yang ditayangkan juga mengikuti standar bioskop indoor umumnya dan juga ada film premier), namun pembelian tiket untuk nonton film layar tancap itu terpisah dengan pembayaran untuk menikmati wahana-wahana lainnya. Mungkin konsep dari Suzaku Park tersebut lebih seperti... mall terbuka (?).

Hanya itu yang Ace tahu dari perbincangan orang-orang. Tentu saja banyak sekali para murid Agito itu ingin sekali ke sana, bahkan teman-temannya sendiri juga ingin pergi ke sana, karena Suzaku Park baru beroperasi setahun yang lalu dan juga merupakan satu-satunya taman bermain yang ada di Rubrum (Milites sudah punya banyak taman bermain seperti itu di negaranya, dan di Concordia mereka sudah lama punya taman kota tertua bertema kebudayaan mereka meskipun bukan taman bermain, namun selalu menjadi destinasi kunjungan teramai di negaranya karena spesies tumbuh-tumbuhannya yang unik dan asli dari Concordia). Selain itu, jarak antara Peristylium dan Suzaku Park yang terbilang cukup jauh dan memakan waktu 1 jam lebih untuk menuju ke sana, serta jadwal Suzaku Peristylium yang bisa dibilang lumayan padat, makanya banyak sekali yang ingin ke sana karena pergi terlalu sering juga merupakan hal yang mustahil.

Tapi tidak bagi Ace. Semenarik apapun taman bermain yang katanya menjadi tempat yang ingin dikunjungi tapi Ace sekali-sekali tak akan mau ke sana. Seperti yang kujelaskan tadi, Ace sebenarnya enggan menonton film di sana karena dia tak suka tempat ramai. Bahkan sebenarnya Ace mau saja memberikan tiketnya pada temannya yang lain karena dia merasa sangat membenci tempat ramai.

Ace sendiri juga tak tahu mengapa ia sangat membenci tempat ramai. Padahal sebenarnya ia tetap akan baik-baik saja meskipun dia berada di tempat ramai. Tapi Ace tetap merasa tidak suka pada tempat ramai (Itulah mengapa Kurasame menawarkan Ace agar ia bisa memberikan tiketnya pada yang lain. Ia tahu betul sifat Ace tersebut).

Tapi apa yang membuat Ace tetap mau pergi ke sana?

Tentu saja karena Machina.

Ace mau ke taman kota multifungsi sebagai taman bermain tersebut karena Machina juga akan ikut ke sana, bersama Rem dan Deuce. Dan itu artinya Machina akan berduaan dengan Rem meskipun hanya sebatas sahabat saja.

Selain itu... Ace juga ingin bisa dekat dengan Machina ketika mereka tidak berada di Peristylium dan ingin melihat kebiasaan-kebiasaan Machina selama mereka akan ke sana.

Itulah kenapa Ace mengabaikan ketidaksukaannya tersebut. Selama ada Machina. Ia korbankan dirinya untuk bisa mengenal Machina lebih jauh.

_epha_

Ace POV

Hah...aku benar-benar tidak habis pikir dengan taichou. Bagaimana taichou bisa membuat kejutan yang tidak pernah kami pikirkan? Memberikan kami tiket nonton layar tancap? Di Suzaku Park? Ini bukan taichou yang biasanya kami kenal selama ini. Atau mungkin saja aku yang nggak tahu tentang sifat aslinya taichou?

Ah, sudahlah. Daripada aku memikirkan tentang taichou saat ini, lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi ke sana. Yah setidaknya aku punya baju untuk dipakai ke sana. Tidak harus pakai seragam Peristylium terus-menerus. Setidaknya aku pergi juga karena aku bersama Machina (suatu keuntungan akhirnya aku sekelompok dengan Machina) meskipun akhirnya Rem pun juga ikut (jangan salahkan dia, wong Rem dan Deuce justru merupakan tim dengan nilai tertinggi). Aku justru merasa lebih baik jika taichou memberikan hanya 2 tiket saja kepada Rem dan Deuce. Aku merasa lebih tenang menjalani malam mingguanku tanpa hiruk pikuk. Paling tidak aku bisa mengajak Machina malam mingguan berdua (meskipun Machina akan terus merengek karena tidak bisa barengan dengan Rem).

Tentu saja aku dalam keadaan sudah mandi jika kalian tanya. Aku juga peduli kebersihan diriku. Aku melihat beberapa setelan pakaian yang kebanyakan merupakan seragam Peristylium dan juga baju tidur, ada satu setelan pakaian yang memang saat ini kucari.

Jaket cardigan rajut berbahan katun berwarna biru cobalt dengan motif di sekitar bahu dan bawahannya yaitu celana kain warna khaki.

Kukenakan pakaian itu setelah aku memakai kemeja putih sebagai dalamannya (setidaknya aku tidak terlalu seksi amat. Maksudku, aku ingin terlihat lebih rapi.)

Akhirnya selesai juga penampilanku. Simpel dan rapi.

Aku tersenyum di depan kaca sambil merapikan rambutku.

Tidak lupa aku menyemprotkan parfum ke bagian tubuh tertentu (parfumnya aku pinjam dari Jack, lebih tepatnya Jack yang memaksaku untuk memakai parfumnya karena katanya aku harus bisa berpenampilan layaknya pria metropolitan).

Pasti Machina akan terpesona padaku.

Tunggu! Apa yang kupikirkan?! Bodohnya aku. Terlalu banyak memikirkan Machina membuatku benar-benar hilang logika.

Yosh! Aku siap-siap meninggalkan kamarku sebelum...

Tunggu! Tiketnya...

Ah... rupanya sudah kubawa di kantong celanaku. Baiklah, akan kusimpan baik-baik tiket ini dan aku siap untuk keluar.

Lagipula Machina sms padaku bahwa dia menungguku (lebih tepatnya menungguku, Rem, dan Deuce) di depan pintu gerbang Peristylium.

Ok. Aku segera ke sana sebelum kedahuluan dua gadis tersebut (lebih tepatnya Rem saja).

_epha_

Sesampainya di pintu gerbang, aku melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu gerbang Peristylium. Dia tampak membelakangiku, mungkin tak sadar bahwa aku tiba.

Aku sempat memperhatikannya dari belakang ketika dia membelakangiku. Aku tak menyangka kalau postur tubuhnya begitu kecil dan ramping namun tinggi semampai. Punggungnya tidak terlalu lebar namun juga tidak terlalu sempit. Satu-satunya yang aku sadari bahwa itu Machina adalah rambut hitamnya yang selalu mencuat ke luar. Angin semilir pun meniup helaian rambutnya bagaikan pohon cemara. Bahkan aku bisa melihat tengkuknya yang mengintip dari persembunyiannya. Dan ini pertama kalinya aku bisa melihat tengkuknya yang jenjang setelah sekian lama dia menutupi tubuh belakangnya dengan jubah nya yang sangat panjang dan berkerah itu. Tapi benarkah pria yang kulihat saat ini adalah Machina?

"Machina..." panggilku untuk memastikan bahwa orang yang kulihat saat ini benar-benar Machina.

Pria itu seketika menoleh ke arahku dan...

Benar! Dia Machina!

Seketika waktu di sekitarku berhenti begitu saja.

Aku tak percaya ini, bagaimana dia begitu tampan sekali?

Dia mengenakan kemeja putih yang dilipat tangannya menjadi selengan dan tidak ia masukkan kemejanya di celana, dengan luaran rompi berwarna hijau zaitun muda serta memakai celana kain warna khaki seperti yang kukenakan saat ini.

Tapi yang membuatku terpesona adalah lehernya yang jenjang karena kancing kerahnya dan satu kancingnya dibiarkan terbuka sehingga aku bisa melihat sekelumit tulang selangkanya yang mencuat sempurna di perbatasan leher dan dadanya. Dan jangan lupakan dadanya yang rata dan bidang yang senantiasa mengintip keluar dari bajunya itu. Sangat seksi.

Dan yang membuatku semakin terpesona adalah apa yang kulihatnya dari depan ternyata benar-benar persis seperti apa yang kulihat dari belakang.

Tubuhnya begitu kecil dan ramping, tapi bahu dan dadanya begitu bidang. Dan dia begiru tinggi semampai.

Dan dia sama sekali tidak memakai jubah Peristylium nya yang begitu besar itu, menunjukkan tubuh aslinya.

Ah, andaikan saja di Peristylium dia tidak memakai jubah sebesar itu, aku bisa melihat tubuhnya yang seperti itu tanpa ada jubahnya yang selalu menghalangi pandanganku akan tubuhnya. Paling tidak aku bisa melihat bahunya. Kadang aku juga merasa tergelitik oleh pertanyaan di benakku, apakah Machina punya sepasang gold pad di bahunya atau tidak? Hehehe.

Aku terkadang heran, kenapa dia suka memakai jubah seperti itu, kenapa tidak memakai jubah yang sama seperti yang lainnya atau paling tidak pake hasduk seperti para cadet umumnya? Aku masih penasaran siapa Machina sebenarnya dan motifnya memakai jubah tersebut?

Kini aku balik lagi ke realita di mana Machina tersenyum padaku

Machina tersenyum padaku...

Rasanya aku benar-benar melayang melihat senyumannya itu.

Ditambah dengan matanya yang berbinar terang seperti batu zamrud yang tertimpa cahaya mentari.

Aku tak mampu lagi menahan seringaiku. Kenapa rasanya tak terbendung lagi rasa bahagiaku ini? Aku tak mampu bernafas lancar saking bahagianya aku. Serasa dunia ini milik kami berdua.

Dia melambaikan tangannya padaku.

Aku pun membalas lambaiannya.

Setelah itu mulutnya terbuka menyebutkan nama...

"Rem!"

Seketika duniaku jatuh kembali dengan tidak elitenya, begitu pula dengan senyumku yang memudar begitu saja.

"Machina!"

Seketika aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa sumber suara yang (dengan beraninya) mengalihkan perhatian Machinaku?

Rupanya gadis yang selalu menjadi perhatian Machina yang disapa Machina tadi, melambaikan tangannya padanya. Aku terlalu ge-er sekali. Jelas-jelas Machina menyapa Rem. Bukan aku.

Tapi melihat penampilannya yang jauh berbeda dari kesehariannya, aku jadi tertegun.

Rem memakai dress berwarna violet kemerahan cerah dengan bordiran bunga dan dedaunan berwarna sama di atasannya untuk menutupi atasannya yang terkesan transparan karena lengan pendek di dressnya masih memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Bisa terlihat jelas Rem memakai tank top putih bertali tipis sebagai dalamannya.

Bagian roknya terlihat pendek di depan namun memanjang hingga sampai di belakang lutut di belakang seakan roknya berekor.

Dan yang membuatku terpana dengan Rem adalah untuk pertama kalinya aku bisa melihat kakinya Rem yang ramping dan mulus setelah sekian lama Rem selalu mengenakan kaos kaki setinggi paha. Belum lagi sepatu flat merah dengan tali di belakangnya yang terdapat hiasan bunga dan untaian mutiara yang dikenakan oleh Rem sangat pas sekali dengan kakinya.

Bahkan Rem begitu simpel tapi tetap tak mengurangi kecantikannya hanya dengan mengenakan bando warna pink muda dan rambutnya dibiarkan terurai. Semuanya yang dikenakan oleh Rem tampak begitu pas dan serasi satu sama lain.

Aku serasa melihat putri bangsawan dalam diri Rem.

Tapi... Kenapa hal itu membuatku menjadi iri yah? Padahal aku sebagai pria tentu seharusnya tergiur olehnya. Bukan sebaliknya.

Rem kemudian berlari menuju ke arah Machina dan menghampirinya.

"Machina, gimana penampilanku? Cantik kan?" tanya Rem sambil memutarkan dirinya hingga roknya tampak berputar dengan indahnya. Memperlihatkan keindahan kakinya. Benar-benar seperti seorang putri.

"Cantik sih cantik. Tapi ya nggak gitu juga kali. Emang situ mau nonton film apa kencan sih?"

"Ih, Machina nyebelin. Bukannya muji malah nyindir. Bukannya kau sendiri yang minta aku dandan cantik?" omel Rem sambil memukul dada Machina.

"Iya emang sih. Tapi ya dandannya jangan kayak orang pesta juga kali."

"Aish, kayak kamu nggak tahu tren fashion sekarang aja. Sekarang fashionnya tuh baju punya multifungsi untuk berbagai acara. Nggak cuma cocok dipake buat pesta, tapi cocok untuk bepergian santai kayak gini."

"Iya deh, kamu benar Miss Right." tukas Machina dan seketika ia langsung dicubit lengannya oleh Rem.

"Ih nyebelin deh kamu. Terus kenapa kau berpakaian kayak gini? Malah keliatan kayak om-om berandal tauk."

"Om-om berandal katamu? Justru kayak gini nih baju santai. Apa-apa yang penting pokoknya nggak terlalu formal bisa dipakai untuk bepergian santai." bela Machina pada gaya pakaiannya.

"Santai sih santai. Tapi tetap aja kesannya urakan banget. Tuh kancing dibetulin dong. Terlalu terbuka ini dadamu. Ini bajumu nggak kamu masukin. Nggak rapi banget sih kamu." kritik Rem sambil membetulkan bajunya Machina.

Gigiku menggertak. Tanganku mengepal keras. Aku tak rela jika Rem sampai menyentuh kulit tubuhnya Machina meskipun hanya sekedar membetulkan bajunya.

"Ya! Apa-apaan kau ini? Aku merasa nyaman kayak gini tahu. Udah ah! Jangan ngurusin bajuku terus. Taichou udah nunggu kita di parkiran nih. Ngomong-ngomong Deuce mana yah? Kok nggak keliatan?"

"Entahlah, dia kayaknya masih kurang pede pake baju yang kupinjamkan. Padahal aku sudah memakaikan baju sesuai kepribadiannya."

"Berarti dia masih di asrama dong?"

"Ya nggak lah. Tadi kami keluar bareng. Cuma agak susah kali ngajak Deuce bergegas. Dia benar-benar krisis pede banget. Dia dari tadi berhenti muluk pas kita mau cepet-cepetan. Ya udah aku tinggalkan sejenak untuk menenangkan dirinya yang super panik. Toh dia nggak jauh dati sini kok."

"Kau ini tegaan sekali. Ah, ya udah kalo gitu. Ace, kau bisa kan menemani Deuce? Biar aku dan Rem ke tempat taichou dulu untuk memastikan bahwa beliau masih bisa menunggu kita." Akhirnya... Machina berbicara denganku setelah sekian lama aku menjadi 'lalat' bagi mereka untuk kedua kalinya, meskipun dia hanya menyuruhku menunggu Deuce.

"Baiklah. Aku akan menunggunya. Kalian jalan saja." ucapku dengan sedikit tidak rela.

"OK kalo gitu. Ayo Rem." kemudian mereka pergi meninggalkanku sendirian (meskipun tidak sendiri) dengan Rem menggandeng lengan Machina dan bergelayut manja seperti kekasihnya.

Ah, melihat mereka berjalan berdampingan dari belakang, mereka tampak seperti setangkai bunga violet dimana Rem menjadi bagian dari bunganya dan Machina bagian dari daunnya.

Mereka benar-benar pasangan yang serasi.

Sangat serasi.

Dan aku...tak akan pernah bisa mendapatkannya meskipun hanya seujung kukubya saja.

Mukaku muram seketika.

"Ace-san." seketika lamunanku pecah oleh suara lembut seorang gadis lain. Dan aku begitu mengenal suaranya. Aku menoleh melihatnya.

"Ace-san...gimana penampilanku?" tanyanya pelan.

Aku memperhatikan penampilannya dari atas hingga ke bawah. Sempat Deuce berputar secara ragu-ragu sambil mengukur kukunya.

Tak ada yang berbeda dari gaya rambutnya yang selalu diikat sebagian dengan bagian rambut depan kanan kirinya memanjang yang dibiarkan begitu saja. Tapi kini rambutnya diikat kepang dan diberi hiasan jepit bunga motif sakura kecil.

Dress yang dikenakannya meskipun hanya pinjaman saja tapi sangat cocok untuknya. Warna dress yang dikenakannya berwarna pink pucat, berbeda dengan warna dressnya Rem yang begitu cerah. Tapi aku lebih suka yang dikenakan oleh Deuce. Begitu kalem dan anggun.

Dan untuk pertama kalinya juga aku bisa melihat kakinya Deuce yang mengenakan sepatu flat warna peach pucat dengan pita di depannya. Meskipun kakinya tak terlalu indah seperti kakinya Rem, tapi setidaknya kakinya putih bersih dan sepatu yang dikenakannya sangat serasi di kakinya.

Secara keseluruhan, jika aku melihat Rem bagaikan putri bangsawan, aku melihat Deuce bagaikan...bidadari.

Ya, aku mengagumi penampilan Deuce saat ini. Tapi bukan karena aku juga mencintai Deuce atau aku nggak suka dengan Rem seakan-akan aku berpikir subyektif. Aku memang mengaguminya karena Deuce terlihat berbeda sekarang ini. Tapi cintaku hanya untuk Machina seorang.

Tapi... Ada yang membuatku sedikit mengernyitkan dahiku.

Kenapa ia selalu memakai syal ke manapun ia berada? Meskipun syal pendek dan tipis tetap menarik melingkar di lehernya seperti kalung, dan warnanya selaras dengan pakaian yang dikenakan, tapi tetap saja sedikit mengganggu pemandangan. Maksudku, oh ayolah... Ini musim panas. Untuk apa mengenakan syal yang lebih cocok untuk musim gugur atau musim dingin? Meskipun udara sore hari terkadang sedikit dingin, tapi tak sampai sedingin itu juga.

Kembali lagi ke realita. Aku melihat Deuce masih menunduk malu sambil mengukur kukunya.

Ah, kebiasaannya saat merasa gugup.

Aku mencoba menenangkannya dengan menggenggam jari-jarinya untuk menghentikan kegiatannya itu dan mencoba tersenyum padanya.

"Kau cantik, Deuce. Penampilanmu terlihat lebih dewasa dari biasanya." pujiku tulus dan tidak melebih-lebihkan.

"Ah, terima kasih. Aku takut kalau kau tak akan menyukai penampilanku." jawab Deuce sedikit lega.

"Tidak. Aku suka dengan penampilanmu. Sangat pas dengan kepribadianmu. Hanya saja... Kenapa harus pakai syal? Tanpa syal pun, kau sudah terlihat cantik, Deuce." aku mencoba sedikit mengkritiknya dengan alasan yang masih bisa diterima olehnya dan juga senyuman tulus.

"Uhm...maaf. Aku kurang pede kalau bagian leherku terlihat begitu saja. Sebenarnya aku kurang suka syal tipis ini dan aku inginnya syal yang bisa menutupi leher dan dadaku. Tapi Rem memaksaku untuk mengenakan syal ini." Ok, aku tak berkomentar lagi tentang syalnya. Mungkin sudah jadi ciri khasnya dia memakaikan jubahnya seperti syal. Setidaknya dia masih terlihat seperti bidadari untukku.

"Pantas saja kalian lumayan lama sekali. Rupanya kalian berdebat pada penampilanmu sendiri. Pantas saja Rem meninggalkanmu sendirian."

"Ah, bukan Rem-san yang berinisiatif. Aku yang memintanya meninggalkanku sejenak. Aku benar-benar gugup dan nggak pede. Meskipun Rem-san mencoba menyemangatiku, tapi aku tetap saja nggak pede dan terus panik. Makanya aku memintanya meninggalkanku sejenak untuk menenangkan diriku." jelasnya dan kutanggapi dengan "ooo" saja tanpa berkomentar lagi.

"Aku tahu ini pertama kalinya untukmu keluar untuk bersantai seperti ini. Tidak apa-apa. Sebentar lagi kau juga akan terbiasa. Ayo kita pergi. Taichou sudah menunggu kita di parkiran."

"Taichou...di parkiran? Kupikir beliau sudah berangkat duluan."

"Tidak. Machina bilang beliau masih di parkiran menunggu kita. Machina dan Rem juga sudah di sana kok. Tinggal kita di sini. Hari sudah semakin sore, kasihan mereka menunggu kita."

"Kalau gitu, ayo!" aku menawarkan gandengan tangan untuknya dan dia menerimanya.

Mungkin kalian berpikir aku selalu bersikap cuek dan jaim pada semua orang. Tapi tidak semua orang sebenarnya. Selain Machina yang membuatku jatuh cinta padanya, aku juga bersikap ramah pada Deuce dan memperlakukannya seperti adik kandungku sendiri, karena selain Deuce yang termuda di kelas kami, Deuce lah yang paling mengerti tentang diriku.

Tapi...mungkinkah Deuce akan tahu tentang perasaanku pada seseorang yang sama sepertiku?"

Jika dia tahu tentang itu... Dia pasti akan jijik padaku dan menjauhiku. Aku tak ada lagi seseorang yang begitu memahamiku.

Ah, tapi nggak segitunya juga sih. Masak Deuce akan bersikap seperti itu?

Ah, entahlah. Aku bingung.

_epha_

Author POV

Ace dan Deuce berjalan berdampingan sampai mereka melihat tiga orang sedang berdiri di dekat mobil. Sudah pasti itu Kurasame taichou, Machina, dan Rem. Machina memberi aba-aba Ace dan Deuce untuk menghampiri mereka.

"Kalian ini lama sekali. Apa saja yang kalian lakukan? Ngomong-ngomong apa penyakit gugupmu sudah hilang, Deuce?" tanya Kurasame to the point.

"Ah, lumayan kok, taichou. Aku sudah agak mendingan." Jawab Deuce pelan.

"Maaf kalau kalian menunggu kami. Tadi aku benar-benar berusaha menenangkannya tadi." Kata Ace menimpali.

"Ah, tidak apa-apa kok. Syukurlah kau tadi ada bersamanya. Kalau boleh jujur, aku kurang suka dengan pemakaian syal tersebut. Auranya jadi kurang keluar gara-gara syalnya. Tapi yah terpaksa kucarikan syal yang kurang lebih cocok untuknya. Tapi tetap saja aku kurang suka dia pakai syal."

"Rem-san... kumohon jangan mulai lagi. Aku kurang pede kalau nggak pake syal."

"Iya nih. Dari tadi kau ini pekerjaanmu tukang kritik baju aja muluk. Udah Deuce, jangan ngeladenin dia. Dia mah terlalu banyak gaya. Ketularan siapa dia? AUW!" timpal Machina yang sontak mendapat cubitan di pinggang dari Rem.

"Kau ini menyebalkan sekali. Gaya pakaianmu lho kurang rapi. Kayak Nine aja kau pake buka kancing baju segala. Lihat dong Ace. Gaya pakaiannya rapi banget. Nggak kayak kamu."

"Tapi setidaknya aku udah pake rompi buat luarannya. Yang penting penampilanku nggak jelek-jelek amat lah buat pergi keluar."

"Dan aku suka itu."

Seketika Machina dan Rem menoleh ke arah Ace. Deuce dan Kurasame pun juga ikut menoleh ke arahnya.

"Err... maksudku... untuk Machina, dia cocok banget bergaya seperti itu. Keren sekali. Kalau Nine dia memang kelihatan kayak berandalan karena kulitnya coklat dekil. Kalau Machina, justru dia seperti artis idola karena dia punya kulit putih bersih." Tambah Ace, dia benar-benar memuji penampilannya Machina.

"Iya. Aku juga suka penampilannya Machina-san. Dia mirip sekali dengan tokoh favoritku di anime mana gitu. Tapi yang pasti Machina-san terlihat ganteng banget hari ini." Puji Deuce sebagai penguat pujiannya Ace.

"Tuh dengerin. Ace dan Deuce saja suka dengan penampilanku. Masak kau yang notabene sahabat masa kecilku sendiri nggak suka dengan gayaku? Kau kalah 3-1. Weeeekkk..." ejek Machina sambil menjulurkan lidah yang dibalas dengan buang muka dan dengusan oleh Rem. Machina diam-diam mengacungkan jempol ke Ace dan mengedipkan matanya ke Ace. Ace pun membalasnya tersenyum.

"Ah, sudah cukup bicara tentang fashion kalian, anak-anak. Sekarang kita harus segera bergegas ke Suzaku Park sebelum kita mengalami kemacetan, atau kita akan ketinggalan filmnya." Ingat Kurasame seketika menyadarkan keempat anak muda tersebut.

"Baik, taichou!"

"Sebelumnya, kalian sudah bawa benda penting kalian?" mereka menunjukkan tiket mereka di tempat mereka menaruh masing-masing.

"Bagus! Ayo! Sekarang kalian masuk ke mobilku." Titah Kurasame. Tapi sepertinya mereka berempat justru berebut kursi belakang yang hanya muat untuk tiga orang.

"Kalian ini seperti anak kecil main rebutan kursi belakang segala. Memangnya nggak ada yang mau duduk di depan ya?" mereka yang ditanya hanya diam saja. Tentu saja, karena mereka nggak bakal bisa seru-seruan secara berdampingan jika salah satu dari mereka harus duduk di depan. Ace sebenarnya nggak masalah jika dia duduk di depan menemani Kurasame (tapi dia ingin duduk di dekatnya Machina).

"Kalau gitu, biar yang laki-laki saja yang duduk di sebelahku. Siapa yang mau?" dua pemuda tersebut hanya diam saja. Sedangkan dua pemudinya hanya sweatdrop melihat mereka.

"Ck... kalian ini. Baiklah kalau gitu. Machina. Kau duduk di depan sebelahku sekarang. Setelah itu, gantian Ace yang duduk di sebelahku. Ini perintah." Tegas Kurasame mulai kesal dengan kelakuan mereka.

"Lho, kok saya yang duluan, taichou?" protes Machina

"Jangan terlalu sering menempel pada Rem terus. Kau hanya duduk di mobil untuk sementara saja. Nanti pas di tempat filmnya kau boleh duduk semaumu. Ayo cepetan daripada kita nggak jadi nonton film ini." Jelas Kurasame mulai gemas.

"I-iya, taichou." Jawab Machina tanpa berani protes lagi. Menurut untuk duduk di depan mobil. Ia menoleh ke belakang memandang Rem sambil memasang muka cemberut. Seakan-akan mengatakan bahwa aku-nggak-bisa-duduk-di-dekat-mu-gimana-ini, sedangkan yang dipandang hanya bisa angkat bahu.

"Pasang sabuk pengamanmu. Tenanglah dikit, Machina. Ini bukan hukuman. Cuma duduk di depan sebentar saja. Yang penting kau tidak disuruh mengerjakan tugas tambahan." Tukas Kurasame. Mendengar kata-kata hukuman tugas tambahan yang selalu menjadi momok bagi Class Zero, Machina menanggapi Kurasame canggung.

"I-iya taichou. Aku mengerti." Machina memasang sabuk pengamannya.

Sedangkan Ace yang duduk di belakang sedikit tak rela jika Machina duduk terpisah dengannya. Ugh, kenapa taichou mencoba memisahkan mereka sekarang ini? Walaupun ia tahu rasanya nggak lazim jika cewek duduk di dekat supir (kecuali itu pacarnya), tapi tetap saja ia nggak rela. Setidaknya, biarkan ia duduk dekat Machina sehingga ia bisa menempelkan tubuhnya di samping Machina untuk merasakan kehangatan tubuhnya. Untuk sekali ini saja ia bisa bergelayut manja padanya (meskipun dalam motif tidak sengaja).

"Baiklah anak-anak. Sekarang waktunya kita berangkat. Nikmati saja perjalanan ini sesantai mungkin." Kata Kurasame setelah menyalakan mobilnya, mengatur kopling dan gas, setelah itu langsung tancap gas keluar dari parkiran dan Peristylium menuju ke Suzaku Park.

.

.

.

.

TBC


Maaf ya jika aku kurang bisa membayangkan baju khasnya Rubrum itu seperti apa selain seragam Peristylium itu. Btw aku kasih gambaran tentang pakaian yang dipakai oleh kelima tokoh tersebut untuk pergi ke Suzaku Park.

Maaf, karena di sini ngga bisa dikasih link, jadi mau nggak mau kalian bisa baca link gambarnya di fic judul sama di AO3 (akun saya tetap sama namanya). Di sana sudah kasih link nya. Di sini susah banget. Apalagi banyak banget link-link nya. susah deh jadinya.

Btw jangan lupa buka akun deviantart ku dengan nama "evangelinengelo" dan juga "machiaceloveydovey"