Green Like the Land, Blue Like the Sky Ch. 4b
Maaf baru update.
OK, capcus, happy reading...
Sesampainya di parkiran Suzaku Park...
Akhirnya rombongan di dalam mobil Kurasame telah tiba di Suzaku Park, namun sepertinya hari semakin sore. Semoga tak sampai terlambat menonton film.
"Akhirnya kita sampai juga di Suzaku Park." Seru Machina girang.
"Tak kusangka akan seramai ini ya?" timpal Rem
"Aku masih kurang pede di tempat seramai ini. Bagaimana jika aku jadi pusat perhatian banyak orang?" tukas Deuce masih dalam krisis pedenya.
"Aduh Deuce. Udah deh. Jangan kayak gitu terus. Lagipula siapa juga yang mau merhatiin kita kalau bukan orang kurang kerjaan? Di sini sangat ramai. Mana mungkin ada yang sempat merhatiin kita?" tegur Rem.
"Ah, benar juga ya. Hehehe... Maklum... masih belum tahu bagaimana rasanya pergi ke luar seperti ini?" dalih Deuce.
"Makanya anak-anak, itulah kenapa aku ingin mengajak kalian ke sini. Karena aku tahu kalian sudah terlalu capek dengan segala rutinitas di Peristylium dan kupikir kalian butuh refreshing bersamaku di sini. Ah, kurasa kita hampir terlambat menonton film. Ayo anak-anak, kita segera bergegas ke sana." Kata Kurasame kemudian langsung bergegas bersama anak-anak didiknya.
Ace yang sedari tadi hanya diam saja kini berjalan mengiringi Machina untuk mencari kesempatan mendekatinya.
"Oh, Ace. Ternyata kau di sini. Kupikir sudah mendahului kami. Kau sedari tadi hanya diam saja."
"Yah...mau gimana lagi? Aku sendiri tak punya topik yang menarik untuk dibicarakan."
"Yah kalau nggak punya topik menarik kan kau juga bisa ikut nimbrung sama yang lain, kan? Bukankah Deuce juga temanmu? Kan harusnya kau bisa ajak dia ngobrol sesuatu atau gimana gitu?"
"Yah, tapi nggak banyak orang juga lah. Kan aku kalau ngobrol sesuatu yang penting biasanya suka secara pribadi." Elak Ace
"Ah, begitu ya... Sepertinya sama dong kayak aku. Aku kalau sama Rem penginnya secara privat juga biar lebih meresapi suasana gitu."
"Benarkah? Tapi sedari tadi kau lumayan cerewet juga meskipun di depan orang banyak."
"Yah...kadang-kadang sih... memang nggak selamanya aku seperti itu juga. Yah, biasanya obrolan yang begitu penting untuk dibicarakan sama Rem gitu yang biasanya butuh waktu berdua."
"Ah, aku mengerti." Jawab Ace, kemudian tangannya menggandeng tangan Machina sambil berjalan.
"Kupikir sepertinya kau mulai senang sekali menggandeng tanganku. Tanganmu dingin sekali, Ace."
"Apa tanganku sedingin itu? Pantas saja aku ingin menggandeng tanganmu. Tanganmu hangat sekali." Dalih Ace
"Kenapa kau tidak mencoba menggandeng tangan Deuce sekalian? Mungkin dia juga butuh gandengan tanganmu."
"Rem dan Deuce sudah bergandengan tangan. Lagipula apa aku salah telah menggandeng tanganmu?" jawab Ace dan Machina akhirnya menoleh Rem dan Deuce tampak bersenda gurau sambil bergandengan tangan.
'Aku tak mengerti, kenapa akhir-akhir ini Rem dan Deuce terlihat begitu dekat sekali di setiap kesempatan? Dan sejak kapan mereka bisa jadi sedekat ini? Kupikir mereka sudah menjadi dekat sebelum mereka bersepakat untuk menjadi satu tim. Dasar kau, Rem.' Pikir Machina sambil sesekali mengumpati Rem dalam hati, walaupun bukan dalam keadaan marah sebenarnya.
"Yah, namanya juga cewek. Mereka bisa dekat satu sama lain dengan leluasa begitu saja. Kalau sesama cowok bergandengan tangan di tempat ramai seperti itu bisa saja ada yang memperhatikan kita dan menganggap kita yang bukan-bukan." Komentar Machina tanpa sadar malah membuat muka Ace berubah masam. Tangannya mendadak melepaskan gandengan tangan Machina begitu saja.
"Maaf kalau begitu." Ucap Ace menunduk.
Seketika terdesir rasa bersalah dalam hati Machina karena tanpa sadar dia malah terlalu blak-blakan mengungkapkan opininya sendiri tanpa memikirkan perasaan Ace yang padahal belum tentu seperti yang ia katakan tadi pikirnya. Mungkin saja memang Ace memang ingin mencari kehangatan lewat tangannya, makanya ia ingin menggandengnya. Lagipula tak mungkin kan ia harus bergandengan bertiga dengan Deuce dan Rem sedangkan dia cuma sendirian berjalan begitu saja meskipun ada Kurasame. Toh mana mungkin juga Ace harus bergandengan tangan sama orang yang jauh lebih tua seperti Kurasame? Kan dianggap tidak sopan toh.
Atas dasar merasa bersalah itulah, ia kemudian menggandeng tangan Ace sekali lagi atas inisiatifnya sendiri, kali ini lebih erat sontak membuat Ace kaget.
"Maaf. Aku ini terlalu blak-blakan bicaranya. Tidak seharusnya aku berbicara seperti itu. Mungkin pengecualian...jika kau memang ingin menggandeng tanganku karena merasa kedinginan, kurasa tidak apa-apa jika kau ingin menggandeng tanganku. Seperti yang kukatakan dulu, jika kau merasa kedinginan, tidak apa-apa kau menggandeng tanganku." Tukas Machina tanpa henti sambil mengeratkan gandengan tangannya.
"Terima kasih..." Ucap Ace sedikit lirih.
Entahlah apa yang harus dirasakan oleh Ace, namun yang pasti semuanya jadi tak pasti. Ada rasa kecewa, ada rasa senang namun sedikit, dan ada rasa marah yang mungkin lebih dominan dibandingkan yang lainnya. Marah karena merasa Machina terlalu banyak memberikan harapan palsu padanya, dan juga marah pada dirinya sendiri karena terlalu mengharapkan balasan yang sangat mustahil dari Machina. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mensyukuri yang ia alami untuk sekarang ini. Setidaknya ia bersyukur Machina masih dekat padanya meskipun dalma hubungan pertemanan biasa.
Meskipun gandengan tangan biasa saja, namun sentuhan tangan Machina begitu hangat di telapak tangannya yang begitu dingin. Sepertinya ia takkan mau melepaskan tangan itu begitu saja meskipun tangan mereka berkeringat karena terus-menerus beergandengan tangan bahkan sesampainya di antrian loket masuk dan menuju tempat bioskop outdoor di lantai atas itu sekaligus.
_epha_
Tiba di bioskop layar tancap...
Kurasame dan empat muridnya tersebut mencari tempat duduk sesuai keinginan mereka. Mereka akhirnya menemukan tempat duduk mereka hampir di barisan paling belakang. Cukup strategis untuk menjadi tempat menonton pikir Kurasame. Tak lupa popcorn yang sudah menjadi cemilan wajib untuk menonton fim. Mereka membeli dua popcorn besar untuk memakan masing-masing berdua. Kurasame lebih memilih membeli minuman saja ketimbang membeli popcorn karena ia agak malas makan cemilan di saat lagi menonton film, ia lebih memilih minuman untuk melepas dahaga saat menonton film.
Di tempat yang bernama Rooftop Cinema karena berada di loteng atas tersebut dua kelompok tempat duduk dari sisi kanan dan kiri masing-masing barisannya terdapat 10 kursi. Mereka mengambil tempat duduk di sisi kiri menghadap layar tancap yang mungkin layarnya tak terlalu besar seperti bioskop namun masih cukup untuk dilihat di tempat yang luas tersebut, Kurasame mengambil tempat duduk ke enam di samping kiri seorang pengunjung wanita, kemudian diikuti oleh Deuce, Rem, Machina, dan Ace, di mana sisi kirinya hanya tempat kosong sehingga ia lebih leluasa melihat tempat sekitar dari atas, di mana pemandangan Suzaku Park dan pepohonan tinggi sekitarnya keseluruhan begitu jelas sekali untuk dilihat. Ah, andaikan saja ia bisa mengajak foto bareng Machina seorang saja.
"Ah, untunglah kita bisa di sini tepat waktu. Hampir saja kita kehabisan tempat untuk menonton." Kata Deuce lega.
"Untungnya kita dapat tempat duduk kosong di sini, lumayan banyak yang kosong sih. Kursinya benar-benar kursi santai. Enak sekali buat nonton". Tukas Rem
"Makanya lain kali kita harus bisa mengefisiensi waktu sebaik mungkin, jangan molor terus hanya karena mengurus penampilan kalian saat bepergian. Lagipula di tempat ini siapa yang mau menonton penampilan kalian selain filmnya?" sindir Kurasame tenang.
"Maaf taichou. Lain kali kami akan berusaha mengatur waktu sebaik mungkin." Balas Rem dan Deuce.
"Haduh taichou, tak terlalu mikirin tentang kejadian tadi. Namanya juga wanita. Mereka pasti ingin tampil secantik mungkin tak peduli di manapun dan kapanpun. Makanya butuh waktu lama untuk tampil secantik mungkin. Ya nggak, Ace?" ujar Machina dengan nada menyindir.
"Iya...begitulah..." tandas Ace sedikit ragu.
"Ih, apaan sih, Machina? Kau ini sedari tadi mengejekku saja."
"Lho, gimana sih? Aku kan membelamu, bagian mana yang terkesan mengejek padamu?" bela Machina.
"Aduh, sudah anak-anak. Kalian ini sedari tadi ribut saja di mobil. Masih belum cukup mau bikin keributan di sini padahal sebentar lagi filmnya mau main." Kata Kurasame.
"Maaf taichou... Gimana lagi? Kita terlalu terbawa suasana, hehehe..." jawab Rem dan Machina serempak.
"Oh ya, Ace-san sedari tadi diam saja. Kenapa? Ada apa denganmu, Ace-san?" tanya Deuce
"Kau sepertinya tak begitu menikmati acara ini. Kalau begitu kenapa kau ikut saja ke sini dan tidak memberikan tiket tersebut pada temanmu yang lain? Aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali, kalau tidak suka tempat ramai tidak usah ikut." tukas Kurasame dengan nada bosan.
"Errr...bukan begitu..." elak Ace
"Lalu kenapa? Karena sedari tadi kau hanya diam saja baik di perjalanan ataupun di sini?" tanya Kurasame sekali lagi.
"Aku tidak tahu..." jawab Ace
"Mungkin saja ia merasa kurang karena ia datang ke sini hanya berempat dan juga taichou sedangkan yang lainnya tak bisa ikut ke sini. Makanya ia merasa kurang bersemangat hari ini." Tebak Machina di samping Ace karena sedari tadi Ace terus menggandeng tangannya.
"Setahuku Ace-san memang orangnya pendiam meskipun banyak sekali teman-teman kami di Class Zero berkumpul, dia hanya mau berbicara banyak kalau secara empat mata, tapi yang menjadi pertanyaanku, kenapa diamnya Ace-san tampak seperti orang murung?"
"Benarkah? Aku tidak murung sebenarnya. Hanya saja aku memang tidak tahu aku harus berbicara tentang apa? Aku memang kurang nyaman kalau terlalu banyak orang tapi bukan berarti aku pergi begitu saja. Aku juga ingin menikmati kesempatan langka ini." Dalih Ace menyangkal
"Lho, bukannya tadi kita sudah berbicara banyak barusan ya? Bahkan sampai kau menggandeng tanganku karena tanganmu dingin sekali. Tapi sampai sekarang kau tidak melepaskan tanganmu dariku sama sekali. Tangan kita sudah basah karena berkeringat. Tapi aku nggak enak ngomonginnya ke kamu untuk minta dilepasin." Protes Machina sambil menunjuk gandengan tangannya dan tangan Ace.
"Akh, Maaf Machina. Aku tidak tahu kalau kita terlalu asyik bergandengan tangan sampai berkeringat." Kata Ace kemudian melepaskan tangannya yang berkeringat juga bercampur keringat Machina.
Namun Kurasame sempat menangkap tingkah laku Ace yang memerah pipinya namun juga ada sedikit kekecewaan di situ mungkin karena ia sebenarnya tak rela gandengan tangannya lepas begitu saja. Apa jangan-jangan...
"Ah, sudahlah anak-anak. Tak usah terlalu serius untuk membahas masalah sepele itu. Sekarang pasang headphone kalian karena audio filmnya ada di situ. Film sudah mulai sekarang." Kemudian mereka memasang headphone mereka masing-masing dan mulai menikmati filmnya.
_epha_
Selama menonton film, mereka benar-benar terbawa suasana dengan film tersebut. Namun mereka juga tak mau melewatkan waktu untuk mengobrol tentang adegan tersebut meskipun ada headphone di telinga mereka, karena volume suaranya bisa diatur sesuai keinginan jadi mereka bisa mengobrol tanpa harus melepaskan headset dari kepala mereka. Kalaupun headphone dilepaspun audionya masih terdengar di speaker meskipun tak terdengar jelas.
Deuce dan Rem sempat mencoba mengajak mengobrol dengan hati-hati dengan Kurasame karena takut mereka malah mengganggu kekhidmatan Kurasame, untunglah Kurasame menanggapi mereka dengan santai. Bahkan Kurasame juga membandingkan film yang mereka tonton dengan film Final Fantasy VII Advent Children yang merupakan film favoritnya sampai sekarang ini, apalagi membahas film favoritnya tersebut ketimbang film yang ditontonnya sehingga ia hampir saja tidak fokus pada jalan cerita film yang mereka tonton. Mungkin hanya Machina saja yang lebih serius menonton filmnya karena sedari tadi ia tidak banyak bergerak maupun berbicara karena lebih fokus pada film tersebut. Ace?
Ace juga fokus, namun lebih fokus memandang Machina dari samping. Tanpa memperhatikan film yang ditonton maupun audio film di headphonenya, Ace terus memandang wajah Machina di tempat sambil mengagumi ketampanan Machina dalam hati, yang untungnya si 'obyek' yang dijadikan tontonan bagi pemuda berambut pirang itu tidak menyadarinya sama sekali karena terlalu khidmat menonton film.
Ace POV
Wajah Machina bagaikan patung yang dipahat oleh pemahat profesional. Lihatlah dia.
Wajahnya terlihat bening ketika diterpa pantulan cahaya dari layar tancap tersebut.
Hidungnya begitu mancung ketika kulihat dari samping.
Bibirnya berwarna peach ranum.
Bahkan mata hijau...begitu indah bagaikan hutan yang diterpa cahaya matahari.
Bahkan bisa kulihat bagaimana dia mengedipkan matanya sesekali saat sedang menonton film, begitu mengagumkan.
Bahkan bisa kulihat bulu matanya mengayun dengan indahnya seiring dengan kedipan tersebut. Meskipun tidak begitu panjang tapi bulu matanya yang lentik tidak terlalu menurun sehingga tetap terlihat indah dilihat.
Aku ingin sekali melihat mata itu dari dekat, untuk melihat cahaya di dalam matanya, detail dari iris mata hijau yang telah lama menarik perhatianku.
Perlahan namun pasti, tanpa kusadari aku mendekatkan diriku ke arah Machina. Bisa kulihat mata hijaunya memantulkan cahaya dari layar tancap jika kulihat dari samping. Ada sedikit gerakan kecil pada bola matanya mengikuti setiap adegan dalam film tersebut.
Aku mencoba mendekatinya lagi, lebih dekat lagi. Mata hijau itu masih memantulkan cahaya layar tersebut, namun kali ini lebih jelas karena aku bisa melihat ada gerakan-gerakan dari dari setiap adegan tersebut. Bahkan aku bisa melihat betapa kecilnya pupil matanya karena terkena cahaya tersebut, bahkan dari samping.
Tapi aku masih belum puas. Aku ingin melihat matanya lebih dekat lagi. Aku mendekatkan wajahku lebih dekat untuk bisa melihat matanya lebih dekat dari sebelumnya.
Sekejap mata hijau itu berkedip, kali ini pupilnya mulai membesar, tapi pantulan cahaya dari layar itu menghilang dan kini berganti gambar di dalam matanya menjadi...bayanganku.
Tunggu! Aku bisa melihat pantulan diriku sendiri yang sedang terbelalak melihat diriku sendiri. tapi sekitar pantulan diriku berwarna hijau zamrud, seperti aku dikelilingi dedaunan rimbun.
Jika memang benar begitu, berarti Machina...
Oh tidak! Dia ternyata memandangiku balik. Bahkan aku tersentak sadar bahwa jarak wajah kami sangat dekat, kira-kira sekitar 2 cm, jarak yang pas untuk memulai ciuman.
Kau harus tenang, Ace. Kau harus tenang.
"Ace. Apa yang, kau lakukan?" tanya Machina tak percaya. Lama kami bertatap satu sama lain. Aku harus cari cara agar dia tak curiga padaku.
"Aku lihat ada debu di bulu matamu." Kataku bohong namun tetap tenang. Benar-benar tak terlihat seperti orang bohong.
"Benarkah?" kata Machina namun tak kalah tenangnya denganku. Sudah pasti dia tahu kalau aku bohong.
"Aku tidak merasakan apapun di mataku. Mataku baik-baik saja." Katanya lebih tenang. Saat itu kami sudah mengecilkan volume audio di headphone kami masing-masing sehingga suara kami bisa terdengar satu sama lain.
"Mungkin kau tidak merasakan apapun karena matamu hanya fokus nonton film saja. Makanya tidak terasa sama sekali." Ejekku tenang padahal hatiku sedikit panik.
"Benarkah?" tanya Machina. Kali ini lebih mengintimidasi. Entah kenapa aku tak bisa membalas perkataannya. Aku hanya bisa beradu pandang padanya.
Kuakui, Mata Machina adalah mata yang terindah yang kulihat karena berwarna hijau daun. Tapi di satu sisi, mata Machina adalah mata yang paling mengerikan yang pernah kulihat.
Bagaikan hutan yang menampakkan dua sisi yang berlawanan, begitu juga dengan mata sehijau hutan belantara.
Terkadang ada rasa takut menghinggapi diriku ketika aku menatap matanya, tapi hal itu justru membuatku semakin nekad untuk terus menelusuri misteri dalam mata hijau Machina.
Entah kenapa aku merasa warna hijau dalam matanya itu benar-benar tidak seperti warna mata hijau pada umumnya yang sering kulihat. Benar-benar hijau yang langka, hijau yang murni, bukan hijau kebiruan atau keabuan. Sangat tajam, terang, dan penuh misteri. Hingga terkadang aku sempat meleset saat mencoba membaca pikirannya.
Lama kami saling memandang tanpa mengalihkan ke arah lain selain mata kami, akhirnya Machina memutuskan untuk mengakhiri adu pandang kami.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih karena sudah membersihkan bulu mataku." Kata Machina tersenyum. Tak lupa kerlingan mata yang dia tunjukkan padaku.
"Uhm, sama-sama." Balasku tersenyum simpul walaupun aku tahu bahwa dia tahu aku berbohong. Tapi ya sudah lah. Semoga saja perilakuku bukan menandakan bahwa aku mencintainya.
Akhirnya kami memperbesar volume audio kembali untuk menikmati film. Setelah itu kami lebih fokus menonton film ketimbang membahas tentang tadi. Tapi aku merasa takut jika Machina meninggalkan diriku.
Kucoba memegang tangan kirinya dengan tangan kananku untuk mendapatkan kehangatan darinya, sekali lagi. Aku benar-benar tak ingin kehilangan dirinya. Aku ingin terus bersamanya.
Dia mengeratkan dan mengaitkan tanganku. Dia tahu kalau tanganku begitu dingin. Kuharap setelah kejadian tersebut tidak terjadi apa-apa yang menyakiti hatiku.
_epha_
Machina POV
Setelah Ace duduk di tempatnya semula, aku mulai meliriknya diam-diam.
Aku tahu dia berbohong. Tak mungkin dia mendekatiku hanya untuk mengambil kotoran di mataku.
Aku sudah tahu sejak awal kalau Ace suka sekali melihat mataku. Dan karena itu dia juga menyukaiku. Mata memang tidak bisa berbohong meskipun mulut berkata tidak sesuai faktanya.
Meskipun aku tahu dia berbohong dan dia juga tahu kalau aku tak bisa dibohongi, namun aku benar-benar sangat takjub. Aku takjub ketika Ace menatapku lurus pada pandanganku, tidak melirik ke kanan dan ke kiri meskipun dia berbohong. Dia seakan-akan ingin aku tahu bahwa dia tidak takut terhadap intimidasiku sama sekali.
Pancaran mata biru langitnya mengalahkan gelapnya langit di petang hari. Bahkan warna yang terpancar di matanya saat itu benar-benar terlihat jernih seperti air.
Ketika dia menatapku, terlihat jelas sekali bayanganku yang terpantul dalam matanya, seakan-akan mata itu terbuat dari kaca tembus pandang. Seakan-akan dia ingin menyeretku masuk dalam perangkapnya. Bukan dia yang masuk perangkapku.
Dia benar-benar teguh dan keras kepala sekali.
Cih, aku jadi iri sekali. Karena itulah hal yang sama sekali tak aku punyai darinya.
Tapi aku tidak mengerti. Kenapa kau menyukai mataku, Ace? Menyukaiku?
Apa yang istimewa dari mataku? Bahkan keseluruhan yang ada dalam diriku?
Ace, sebegitu besarkah perasaanmu terhadapku?
Bukan semata-mata hanya karena kau melihatku seakan-akan aku mengingatkanmu pada orang lain yang pernah kau cintai? Atau hanya main-main saja?
Lagipula... kita berdua sama-sama pria. Ya kan?
Apa kau tidak takut, jika orang-orang menganggapmu hina gara-gara itu, Ace?
Tapi aku juga suka matamu. Matamu yang memancarkan keteguhan, pantang menyerah, dan pembawa harapan dalam hidupku.
Jujur saja, menurutku tidak ada yang istimewa pada mata biru mengingat banyak sekali orang-orang di Orience ini yang mayoritas berwarna biru. Tak ada yang istimewa sama sekali. Amat membosankan. Bahkan melihat matanya Ace saja juga tak ada yang istimewa karena ya warna mata itu sudah terlalu umum bagiku. Mungkin yang menarik perhatianku darinya karena wajah baby face nya dan senjatanya adalah kartu.
Tapi saat dia menatap mataku begitu intens tanpa kedip, bahkan aku sempat memperhatikan dia mengikuti pandanganku seakan-akan aku tak sengaja menghipnotis, saat itulah aku merasakan ada yang berbeda dari matanya.
Dari sekian banyaknya warna biru baik di langit maupun di laut, baru kali ini kutemui warna biru yang amat berbeda di mata seseorang. Yaitu mata biru Ace.
Ah, perasaan macam apa ini? Jangan bilang ini perasaan terlarang. Aku masih normal.
Sejenak aku merasakan tanganku begitu dingin. Tapi itu bukan karena dinginnya angin malam, tapi karena tangan dinginnya Ace.
Aku tidak mengerti, mengapa tanganmu selalu sedingin es, seperti warna elemen es di matamu?
Kucoba menghempaskan tangannya agar dia menganggapku memberinya harapan palsu. Tapi tubuhku bertolak belakang dengan perintahku. Yang kulakukan justru mengeratkan genggamanku pada tangannya untuk menghangatkannya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya menolaknya jika suatu saat dia mengungkapkan perasaannya padaku. Aku sudah terlalu banyak memberi harapan untuknya. Karena aku sendiri masih ingin berada di sampingnya juga.
.
.
.
.
TBC
Untuk model tempat nonton film layar tancap atau bahasa inggris nya outdoor cinema yang diadain di Suzaku Park, konsepnya mirip tempat nonton layar tancap yang ada di Amerika yang namanya rooftop cinema club (hilangkan tanda kurungnya):
http(:)(/) (-) (/)wp(-)content(/)uploads(/)2015(/)07(/)rsz(_)rtfc(_)rooftop(_)east(_)stratford(-)
Atau googling aja namanya rooftop cinema club
