kalian bisa cek tentang Four Champions of Rubrum di komik manga seri Final Fantasy Type 0 di Internet. Ini bukan OC lho ya (ya tahu lah thor)
Author POV
Setelah tayangan film berakhir...
Kurasame dan murid-muridnya hendak beranjak dari kursi seperti para penonton lainnya dan menuju pintu keluar. Namun di saat yang bersamaan...
"Eeh! Ada taichou, Deucey, Acey, Remucchi, dan juga Machinan!"
Mereka yang dipanggil kaget ketika tak sengaja mereka bertemu seorang gadis berkepang yang merupakan teman sekelas mereka. Bahkan bukan hanya gadis yang sering dianggap super aneh dan hiperaktif tersebut tapi juga empat orang lainnya.
"Cinque, Trey, Cater, King, Nine. Sejak kapan kalian di sini? Dan, bagaimana bisa kalian diam-diam di sini tanpa sepengetahuan kami?" tanya Rem spontan begitu juga dengan yang lainnya.
"Err, yah sejak awal nonton film dari tadi." Jawab Cater sambil garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lho, kok bisa?" tanya Machina masih tak percaya.
"Ya bisa aja lah! Emangnya cuma kalian doang yang bisa nonton film di sini, hah?! Kora~" jawab Nine dengan nada sinis.
"Kalau begitu kenapa kami tidak melihat kalian dari tadi ya? Memangnya kalian duduk di mana tadi?" kali ini giliran Deuce yang bertanya.
"Di situ, kami duduk di barisan tengah-tengah sebelah kanan. Kami datang ke sini sekitar 30 menit sebelum pemutaran film dimulai." Jelas Trey.
"Berarti mereka lebih duluan daripada kita yah. Kita kalah dari mereka..." kata Deuce kecewa.
"Itu karena kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian sendiri-sendiri. Makanya kita terlambat dari mereka 15 menit. Ngomong-ngomong kalian datang ke sini naik apa? Bukankah Suzaku Park jaraknya jauh sekali dari Akademeia? Memangnya salah satu dari kalian punya mobil?" tanya Kurasame.
"Err, kami sebenarnya menyewa mobil dari tempat persewaan mobil. Dan kebetulan Nine dan King punya SIM karena bisa menyetir jadinya yah, mereka gantian menyetir, taichou." Jelas Trey, yang untungnya nggak sampai panjang lebar.
"Ah, begitu... kalau begitu kenapa cuma berlima saja? Di mana yang lainnya? Jangan jawab tentang Sice dan Eight karena mereka sedang kuhukum." Tanya Kurasame lagi.
"Queen sedang menutori kadet-kadet dari kelas lain, kalau Seven dan Jack sepertinya mereka lebih memilih menemani dua anak yang taichou hukum itu." Jawab King santai.
"Hmm...begitu..."
"Sial! Di saat-saat seperti ini yang harusnya dibuat untuk bersantai malah digunakan untuk ngajar. Diajak aja nggak mau. Dasar sok kepinteran." Umpat Nine kesal.
"Bukan Queen yang sok kepinteran karena emang dia tuh pinter banget. Kau saja yang bodoh dan malas." Sindir Cater membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya Queen juga ingin ikut hangout bersama kita, hanya saja kadet itu yang memintanya untuk tutor di hari ini karena yah bisanya yang minta ditutorin itu ya hari ini karena jadwalnya juga penuh untuk hari-hari biasa. Makanya mau tak mau ia harus mengikuti jadwal yang udah disepakati bersama." Jelas King
"Emang sesibuk apa sih tuh anak? Ganggu aja kesenangan orang aja?! Kasihan si ratu sengak itu." keluh Nine.
"Mana aku tahu." Jawab King sekenanya.
"Perhatian sekali kau pada Queen. Biasanya dikit-dikit berantem muluk. Sekarang orangnya nggak ada malah ngeluh. Kangen ya?" tukas Cater
"Cieee... Nine suka yah sama Queen? Ternyata benci-benci suka...hihihi..." goda Cinque.
"Cih...ngomong tuh yang bener dong. Siapa coba yang suka sama mak lampir macam dia? Ogah! Memangnya ngeluh gara-gara itu jadi masalah ya?" akhirnya semuanya pun ikut tertawa melihat tingkah Nine yang merancak mengelak tuduhan Cinque.
"Sayang yah, kita hampir saja mau komplit. Kan pasti seru bisa hangout bareng. Apalagi taichou juga ada di sini
"Oh ya. Dari tadi Acey diam muluk deh. Ayo dong, ngomong apa gitu yang bisa memecahkan keheninganmu sendiri." bujuk Cinque
"Iya nih, nggak di Akademeia, nggak di Suzaku Park, sama aja nggak pernah buka suara. Sampai kapan kau akan terus jaim seperti itu? Ngomong-ngomong kau menikmati filmnya nggak?" tanya Cater
"Yah...begitulah..." jawab Ace singkat.
"Begitulah? Berarti kau sebenarnya kurang menikmati filmnya dong? Tahu begini seharusnya kau berikan saja tiket itu padaku. Aku tentu saja ingin dapat tiket gratis dan nggak perlu bayar tiket lagi kayak sekarang ini." Cetus Cater mengeluh.
"Atau berikan saja padaku. Aku suka yang gratisan." Timpal Nine.
"Aduh, udah kelewatan kali mintanya. Lagian kalau yang dapat tiket gratis selain aku, Rem, dan Deuce adalah kalian yang berisik ini, pasti bakal nggak bisa fokus nonton filmnya karena keganggu sama suara kalian saat bereaksi." Ejek Machina.
"Eh eh eh, kau ini mentang-mentang dapat tiket gratis bareng Ace aja udah sombong ya. Dasar kau ini." Kata Nine
"Iya nih, mulutmu sekarang ini mulai kayak harimau ya, di Akademeia kau sopan sekali, baru tahu kau yang sebenarnya pas di luar." Timpal Cater sebal.
"Tentu saja, lagipula aku sudah mengenal kalian, jadi ya inilah aku. Toh lagian aku benar kan tentang kalian?" elak Machina.
"Ih Machina, kau ini selalu saja bikin orang bete. Maaf ya teman-teman. Temanku yang satu ini sudah menyakiti hati kalian. Dari tadi dia juga mengejekku." kata Rem.
"Apaan sih? Kau saja yang terlalu centil. Toh lagupula bersama Ace aku merasa enjoy sekali. Dia selalu ada di pihakku kalau terjadi percekcokan macam ini. Bukankah begitu, Ace?" tanya Machina sambil menoleh pada Ace.
"Hm, iya benar." Jawab Ace tersenyum.
"Hah? Sejak kapan Ace jadi manut banget sama kau? Biasanya dia dimintain tanggapan dia malah cuek saja? Sihir apa yang kau gunakan terhadapnya, hah? Katakan padaku!" paksa Cater.
'Sihir tatapan mata hijaunya.' Jawab Ace dalam hati
"Sihir apa? Kau ini terlalu mengada-ngada. Aku menggunakan sihir cuma untuk latihan dan bertarung saja. Lagian aku bukan penyihir handal seperti Rem yang bisa menggunakan semua sihirnya untuk apa saja." Tukas Machina membela diri.
"Untuk apa saja? Memangnya kau pikir aku ini nenek sihir yah? Aku menggunakan sihirku hanya untuk latihan bertarung dan juga sebagai penyembuh, bukan untuk nyantet orang. Jangan mengada-ngada deh. Kita ini berteman lama tapi ngomong-ngomong yang nggak-nggak." Ketus Rem membela diri.
"Yee, ya aku tahu juga kali. Kan aku cuma bercanda doang meskipun kenyataannya kau memang paling lihai kalau dalam urusan segala jenis magic." Elak Machina kemudian kembali lagi pada topik semula setelah hampir saja melenceng dari topik awal.
"Toh lagipula kami ini bisa dibilang sehati karena kami punya kesamaan yang takkan lekang oleh waktu, yaitu Chocobo Lover, bukankah begitu, Ace?" tanya Machina riang sambil merangkul Ace yang tanpa disadarinya membuat Ace mulai memerah pipinya.
"I-i-iya. Begitulah..." jawab Ace mulai gugup saat Machina merangkulnya.
"Mungkin dia terlihat sangat pendiam sekali saat bersama dengan kalian. Tapi kalau bersamaku, dia pribadi yang menyenangkan. Dia bahkan udah cerita banyak mulai dari kehidupan pribadinya, hubungannya dengan kalian, sampai kebiasaan-kebiasaannya selama ini. Pokoknya banyak banget deh yang diceritakannya padaku." Beber Machina tanpa dosa sambil merangkul Ace lebih erat dari sebelumnya dan tanpa sadar menempelkan pipinya pada pipinya Ace.
"Machina, jangan diomongin sama teman-temanku. Ini cuma pembicaraan kita berdua saja. Nanti teman-temanku pada tahu semua." Tegur Ace pelan sekaligus panik dan seketika wajahnya semakin memerah.
"Oh...jadi gitu ya Ace. Nggak pernah curhat pada kita-kita ini eh malah curhatnya sama anak baru. Bagus ya, sekarang kau tidak menganggap kami teman dekat." Ketus Nine sinis.
"Mungkin karena dia satu kelompok dengan Machina dan merasa sudah klop dengannya makanya dia begitu akrab sekali dengan Machina karena selama dia satu kelompok dia banyak curhat padanya." Komentar King
"Pantas saja mereka akhirnya bisa mendapatkan nilai terbaik kedua setelah Deuce dan Rem." Giliran Trey yang berkomentar.
"Eh, bukan begitu ceritanya. Sebenarnya aku curhat padanya sebelum tugas kelompok itu. Makanya..." kata Ace tak sengaja membeberkannya sendiri.
"Ah...jadi karena itu kau lebih memilih satu tim dengan Machina dan bukannya denganku, Eight, atau Sice? Padahal kami sempat memperebutkanmu agar kau bisa satu tim denganku." Kata Nine agak kecewa.
"Habisnya kalian ribut terus sih. Aku jadi merasa tidak tenang gara-gara diapit kalian yang terlalu meributkan partner cuma untuk tugas saja. Jadi yah aku milih Machina sebagai partnerku biar kalian adil sama-sama tidak mendapatkanku. Lagipula..." Ace kemudian menatap Machina yang sadar kemudian menoleh ke arah Ace. Seketika mereka saling bertatapan penuh arti. Machina sebenarnya sudah tahu apa alasannya Ace memilihnya saat itu, tapi ia lebih memilih diam saja dan menyimpannya dalam benaknya saja.
"Lagipula kebetulan dia sendiri tidak mendapatkan teman partnernya saat itu karena terlalu menunggu Rem untuk menjadi teman partnernya mengerjakan tugas. Sayangnya Rem sudah sepakat sama Deuce untuk jadi partnernya. Ya sudah, kesempatan baik deh untuk menawarkannya jadi teman partnerku. Dan untungnya saat kau, Eight, dan Sice kembali mengerubungi kami untuk meminta menjadi teman partner Machina juga, Machina sudah memutuskan untuk menjadi teman partnerku. Begitu..." cerita Ace masih memerah mukanya namun sepertinya sedikit memudar walaupun masih terdengar gugup. Machina yang merasakan Ace yang setengah jujur memberikan kebenarannya namun setengah menyembunyikan kebenaran yang lainnya lebih memilih diam saja. Namun terbesit pikiran untuk sedikit menggodanya.
"Aku sudah minta maaf kan atas hal tersebut? Bahkan aku sudah berjanji bakal satu tim dengan Machina di lain waktu yang akan datang." Kata Rem.
"Aku sudah memaafkanmu, Rem. Aku cuma bercerita saja pada Ace apa nggak boleh. Toh dia juga ada di sana kan saat itu." Jawab Machina.
"Dan juga karena kami sering bertemu di setiap kesempatan, akhirnya kami mengagumi satu sama lain tapi Ace jauh lebih mengagumiku terutama mengagumi..." seketika Machina menatap Ace membuat Ace reflek menoleh balik padanya.
Ace menghela nafas menahan rasa gugupnya setiap kali Machina menatap matanya. Sepertinya Machina sudah tahu apa yang selama ini Ace sukai darinya. Bisa ia lihat bayangan dalam mata biru Ace yang merupakan obyek yang dilihatnya. Ia kemudian memainkan kerlingan matanya pada Ace. Membuat Ace semakin tak kuasa menahan debaran jantungnya setiap kali Machina 'menarikan' tariannya begitu nakal. Zamrud hijau kemilaunya terpantul diterpa kelap-kelip lampu kota dan cahaya-cahaya dari wahana-wahana di Suzaku Park, membuat kesan "Glow in the Dark" dalam iris matanya (mungkinkah ada semacam lampu LED yang terpasang di mata Machina, pikirnya). Jantung Ace semakin berdetak kencang seiring terbukanya mata Ace lebar-lebar.
'Kumohon jangan bilang kalau aku punya obsesi pada matamu, Machina. Aku tidak mau dipermalukan oleh teman-temanku.' Rintih Ace dalam hati. Seakan mampu membaca pikiran dalam mata zamrud Ace yang terlihat memukau di petang hari serta ekspresi yang tergambar jelas di sana, Machina memasang senyuman menyeringai pada Ace dan kemudian menoleh ke arah teman-temannya yang memandangnya penasaran sekaligus sedikit curiga dengan apa yang disembunyikan dua pria tersebut.
"...kemampuanku." Seketika Ace hanya menghelas nafas dengan perasaan bercampur lega, kecewa, dan juga sebal.
"Dia bilang dia sangat mengagumi kemampuan bertarungku dan juga senjataku karena bentuknya unik. Bukankah begitu, Acey?" goda Machina dengan meniru panggilan khas dari Cinque dan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Ace benar-benar memerah total karena malu tingkat dewa.
"Se-sejak kapan aku bilang begitu? Aku tidak mengagumimu seperti itu. Kau ini terlalu mengarang deh." Elak Ace
"Lho, bukankah selama kita curhat bareng kau juga sempat mengagumi kemampuan bertarungku? Aku malah sangat mengagumi dirimu yang mampu bertarung dengan kartu karena itu adalah yang pertama kali kulihat seseorang bersenjatakan kartu sepertimu." Jelas Machina sambil menyorotkan matanya hendak mengatakan 'Bukankah aku berusaha membelamu agar tak dipermalukan karena alasan sebenarnya yaitu kau sangat mengagumi mataku, ya kan?'
Ace yang seakan mampu menangkap maksud Machina dari matanya berusahan mengikuti tanggapan dari Machina.
"Ya... kalau kemampuan pertarunganmu memang benar aku kagum padamu apalagi untuk ukuran anak baru sepertimu semua stat kemampuanmu benar-benar hampir di atas kami. Tapi aku sama sekali tidak mengagumi jenis senjatamu sama sekali. Bentuk pedangmu aneh seperti alat pengebor bangunan apalagi kau bawa dua pedang aneh seperti itu aku malah melihatmu seperti Golem jadi-jadian." Tukas Ace sedikit mengejek masih dengan wajah memerahnya. Seketika mereka yang menonton dua pria yang kini ribut itu mulai tertawa mendengar ejekan Ace pada Machina.
"Aish, kenapa sih orang-orang pada mengejek senjataku? Hak asasi orang milih senjata yang memang menurutku memang bisa kugunakan biarpun bentuknya aneh tapi ampuh membasmi musuh. Lagian juga bentuk kartumu itu terlihat seperti kartu tarot yang terbuat dari kumpulan kertas. Bahkan aku juga sudah tahu kalau walaupun kau lihai bertarung pakai kartu tapi kau lumayan payah main kartu bersama teman-temanmu sampai kau kalah taruhan dan akhirnya kau harus crossdress sebagai cewek cantik." Tukas Machina skak mat. Seketika Ace terbelalak matanya kemudian melotot ke arah Nine sebagai pengadu cerita masa lalu tak menyenangkan tersebut.
"Aku tidak menceritakan apapun padanya. Sungguh! Aku tidak tahu apapun tentang Machina yang sudah tahu tentangmu. Kupikir kau sudah cerita padanya saat kalian curhat." Kata Nine membela diri. Kemudian Nine dan King menoleh ke arah Trey yang kemungkinan besar menjadi biang pembeber aib Ace karena mulut ember Trey yang terus mengalir bagaikan air terjun.
"Errr...yah... aku hanya sedikit menceritakan tentang masa-masa kami pada Machina. hehehe... Maaf kalo ternyata keceplosan..." kata Trey sambil nyengir dan garuk-garuk kepala. Semua yang menoleh pada Trey hanya bisa membatin 'Sedikit? Seriouly? Tidak mungkin!'
Ace hanya bisa mendengus kesal kemudian menyingkirkan rangkulan Machina darinya.
"Sudahlah. Aku sudah tidak tahan denganmu. Lagipula tatapanmu begitu mengerikan. Kau jadi terlihat seperti vampir ingin memakanku." Ejek Ace dengan wajah benar-benar total memerah.
"Kau benar-benar memerah seperti kepiting rebus, Acey."
Semua benar-benar tertawa tak tertahankan melihat Machina yang mendengus kesal dengan ejekan Ace sedangkan yang mengejeknya semakin memerah, kecuali Kurasame. Ia sempat mengamati perilaku Ace yang sangat berbeda setiap kali Machina di dekatnya, apalagi ketika Machina menatapnya. Tapi ia tak mau membicarakannya di depan anak didiknya karena itu bersifat pribadi dan sangat tabu bagi pemuda pirang itu.
"Sudahlah, anak-anak. Cukup saja kalian berbincang-bincangnya. Kapan kita akan keluar jika kalian masih betah kongkow di sini? Petugas di sini bisa mengusir kita karena sebentar lagi akan ada film selanjutnya yang tidak seharusnya kita tonton karena tiketnya cuma berlaku sekali pemutaran film." Tegur Kurasame dengan stoic face nya.
"Baik, taichou." Jawab Class Zero serentak menuruti perintah gurunya dan segera keluar dari gedung tersebut.
_epha_
Setelah keluar dari gedung Rooftop Cinema, mereka berencana untuk pulang dengan kendaraan yang mereka naiki sebelumnya.
"Ngomong-ngomong kalian kan tidak dapat tiket gratis dariku kan. Lalu bagaimana kalian bisa kemari dengan uang kalian sendiri? Belum lagi kalian juga menyewa mobil yang biayanya juga tidak murah. Kenapa tidak pakai angkutan umum saja, seperti taksi, bis? Bukankah ongkosnya lebih murah."
"Iya ya. Kenapa nggak kepikiran oleh kami? Kenapa kita malah nyewa mobil ya?" tanya Nine balik pada dirinya sendiri.
"Hah, tentu saja karena kau sangat idiot, Nine. Itu semua gara-gara idemu untuk menyewa mobil dan bukannya naik angkutan umum." Keluh Cater
"Kalau sudah tahu Nine itu idiot, kenapa kalian malah mengikuti sarannya?"
"Yah gimana lagi? Kami kan belum pergi keluar dari manapun selain cuma diterjunkan ke medan perang dan melawan monster-monster mengerikan." Jelas Cinque dengan innocent nya.
Kurasame hanya menggelengkan kepalanya prihatin dengan anak-anak didiknya yang sepertinya belum pernah menikmati bersantai atau pergi-pergi tempat lain selain berada di Akademeia untuk latihan dan juga terjun ke medan untuk menumpas monster-monster mengerikan dan mengganggu. Tak heran jika banyak orang, termasuk pejabat-pejabat Consortium, menganggap Class Zero sebagai "sesuatu" atau "alat perang", bukan dianggap sebagai manusia. Kasihan mereka. Mungkin Kurasame berpikir untuk sering-sering mengajak mereka melepaskan rutinitas mereka dengan berlibur bersama, kalau bisa semua Class Zero ikut, dan juga tempat berlibur paling murah kalau tak mau uang habis untuk mereka.
"Lagipula saat melihat Deuce, Rem, Ace, dan Machina bisa naik mobil bareng taichou, kami jadi ingin merasakan naik mobil bareng-bareng sambil ngobrol-ngobrol. Makanya kami memutuskan untuk menyewa mobil dengan urunan." Jelas Cater
"Maafkan kami ya, Cater-san. Kalian jadi harus bayar mahal hanya biar bisa ikut menonton ilm bersama kami." Kata Deuce merasa bersalah namun Cater berusaha mengelaknya dan mengatakan tidak apa-apa karena memang bukan salah mereka dapat tiket gratis.
"Dan juga kalau kami naik angkutan umum dan kami ramai sendiri bisa-bisa penumpang lainnya terganggu dan marah pada kami, jadi kami nggak bebas seru-seruan bareng. Kalau naik mobil kan enak. Lebih terjaga privasinya, bisa ramai bareng tanpa harus mengganggu penumpang yang lain. " jelas Trey.
"Setahuku meskipun naik mobil tetap saja kita terganggu karena cuma kau saja yang ngomong tanpa henti di mobil sedangkan kita hanya sebagai penonton televisi saja." Ejek Cater sewot.
"Ah, ternyata Trey-san biarpun pergi keluar tetap saja ya kebiasaan banyak bicaranya nggak bisa dikendalikan." Sindir Deuce. Sontak mereka pun tertawa melihat Trey yang merengut karena ejekan-ejekan tersebut.
Saat mereka berjalan hendak pulang, tiba-tiba seseorang memanggil salah satu dari rombongan itu.
"Woi, Kurasame!"
Sontak yang dipanggil tersentak dan menoleh ke arah sumber panggilan tersebut. Sejenak ia kaget melihat seseorang, bukan hanya seseorang, tetapi juga tiga orang lainnya yang sedang bersamanya.
"Gu-Guren?" Kurasame menyapa salah satu orang yang memanggilnya yang tak lain adalah teman semasa sekolahnya.
"Woi, Kurasame! Lama kita tak berjumpa! Kupikir kau sudah tak mengingat kami." Kata Guren.
"Bagaimana bisa aku melupakan kalian? Kita ini kan Four Champions of Rubrum. Kita ini kan selalu dikenang hampir sepanjang masa bukan?" kata Kurasame
"Habis, kau ini yang paling sulit ditemui. Kita sudah berkumpul bersama. Tinggal kau saja yang belum ditemui. Eh tahu-tahunya kau malah ada di sini. Memangnya kau sama siapa di sini?" tanya Guren penasaran.
"Oh, aku bersama murid-muridku menonton film Kingsglaive tadi. Kau sendiri?"
"Tentu saja aku juga habis nonton di situ tadi. Nggak keliatan ya? Memangnya kau dan murid-muridmu duduk di mana? Soalnya kami duduknya agak di depan." Jelas Guren.
"Maaf, kalo kami duduknya agak belakangan. Soalnya... yah kau pasti tahu sendiri lah." Jawab Kurasame sambil angkat bahu.
"Kau ini memang nggak pernah berubah ya kalo soal tempat duduk di tempat umum." Goda Guren.
"Eh, bukankah kalian ini Class Zero ya? Yang terkenal se-Rubrum karena selalu berduabelas?" tanya seorang gadis berambut pirang panjang di samping Guren.
"Ah, iya benar. Mereka adalah Class Zero. Dan kebetulan aku sebagai commanding officer bagi mereka sekaligus berperan sebagai guru untuk mereka."
"Wah, kau beruntung sekali bisa menjadi commander buat kelas legenda seperti itu." Puji seorang pria berambut plontos berkacamata di belakang Guren dan di samping gadis lainnya yang berambut sebahu.
"Ah biasa saja sih. Mereka tetaplah anak-anak pada akhirnya. Itulah sebabnya aku mengajak mereka jalan-jalan."
"Hei, taichou. Kami ini bukan anak-anak lagi. Kami udah dewasa. Bahkan kami punya kemampuan dan bisa bertarung melawan monster-monster jahat di luar sana dengan gagah berani, kora~" protes Nine
"Iya, memang. Tapi tingkah lakumu itu udah keliatan kayak anak kecil bandel yang selalu diomelin ibunya." Ejek Cater mengundang tawa sekali lagi dan sukses membuat Nine mendumel tidak karuan.
"Memangnya kau sendiri tidak, hah?" ejek Nine balik.
"Oh ya, aku lupa memperkenalkan Class Zero pada kalian. Kenalkan, ini Ace, yang selalu menggunakan kartu untuk pertarungannya. Dia biasanya menjadi leader untuk berbagai misi. Dan ini Deuce, seorang petarung seruling yang handal. Dan ini..." jelas Kurasame memperkenalkan murid-muridnya satu persatu dan berurutan mulai dari Ace hingga Machina dan Rem sebagai murid baru Class Zero. Well, minus Sice, Seven, Eight, Jack, dan Queen tentunya.
"Mereka tidak bisa ikut karena mereka harus mengerjakan sesuatu sebagai hukumannya karena tidak fokus pada tugas kelompok mereka."
"Hah?! Kau menghukumnya? Kau ini sama sekali tidak berubah ya. Keras sekali kau sampai pada anak-anak didikmu kau perlakukan seperti itu." Komentar Guren.
"Yah, namanya juga mendisiplinkan mereka supaya mereka bisa lebih serius dalam bertugas suatu kelak. Tapi semua anak-anak itu kuhukum, hanya beberapa saja. Sisanya yah karena memang mereka punya kepentingan sendiri sehingga tidak bisa ikut ke sini." Jelas Kurasame.
"Dan ngomong-ngomong anak-anak, kenalkan ini Kotetsu, temanku dalam Four Champions of Rubrum." Kata Kurasame sambil memperkenalkan temannya yang plontos berkacamata tersebut yang disambut olehnya.
"Dan ini moodmaker di Four Champions of Rubrum. Guren." Kata Kurasame pada temannya yang sedari tadi ia ajak ngomong. Kemudian Guren menyambutnya.
"Kurasa dia benar-benar hampir mirip denganmu, Nine." Komen Kurasame dengan membandingkan Nine dan temannya.
"Hei, memangnya sebadung anak didikmu?"
"Tidak, tapi sikap urakanmu mirip dengannya."
"Hei, taichou. Biar aku urakan gini tapi aku masih punya hati yang baik. Kora~"
"Heh, kalau ngomong sama orang tua yang sopan dikit dong!" tegur Trey yang (tumben) sangat informal. Nine jadi sewot mendengar teguran Trey.
"Kalau yang ini namanya Sayo." Ujar Kurasame memperkenalkan gadis berambut pirang di samping Guren itu yang disambut olehnya.
"Sebenarnya bukan bagian dari Four Champions of Rubrum, tapi dia pernah ikut berkontribusi untuk membantu Four Champions of Rubrum mencapai tujuan. Dan dia juga pacarnya Guren."
"Bukan pacar lagi." Potong Guren.
"Apa? Kalian berdua sudah putus sejak lama?" tanya Kurasame tak percaya.
"Bukan. Kami sudah bertunangan." Jawab Guren sumringah sambil menunjukkan cincin pertunangannya dan Sayo di masing-masing jari manis mereka.
"Benarkah? Aku tak percaya ini. Sejak kapan kalian bertunangan? Kok aku nggak tahu?" tanya Kurasame.
"Kami sudah bertunangan sejak setahun yang lalu." Jawab Sayo ikut sumringah.
"Salahmu sendiri sih kenapa kau tidak bisa dihubungi sama sekali. Padahal kami juga ingin mengundangmu ke acara pertunangan kami. Tapi nomormu sama sekali sudah tidak aktif lagi." Protes Guren kesal.
"Lagipula saat kami mencoba kePerystilium untuk mengabarimu kata penjaganya kau ternyata memang sedang tidak ada di tempat karena saat itu kau sedang dalam misi pembasmian monster-monster di sana." Jelas Kotetsu menambahkan.
"Maafkan aku teman-teman. Aku lupa mengabari kalian kalau nomor teleponku sudah kuganti sehingga kalian mengira aku tiba-tiba menghilang dan melupakan kalian. Tapi saat itu aku benar-benar sangat sibuk sekali, teman-teman." Jelas Kurasame menyesal.
"Kau ini benar-benar sibuk sekali sih." Ujar Guren.
"Maaf. Maaf."
"Hei, Kurasame." Sapa seorang gadis berambut hitam sebahu.
"Eh?"
"Apa kau sudah lupa padaku gara-gara keasyikan ngobrol dengan Guren?" tanya gadis itu sarkastik.
"Ah, kau ini gimana sih? Sampai lupa sama pemimpin cantik kita ini?" tanya Guren.
"Ah, maafkan aku. Anak-anak, kenalkan. Ini namanya Miwa. Walaupun perempuan tapi dia adalah pemimpin Four Champions of Rubrum. Dan walaupun dia berbadan kecil tapi fisiknya cukup kuat, seperti Eight." Kata Kurasame.
"Hai, semuanya. Namaku Miwa. Senang bisa berkenalan dengan kalian!" sambut Miwa dengan ceria.
"Senang juga bisa berkenalan dengan Miwa-san." Balas Class Zero.
"Wah, Miwa-san ternyata cantik sekali ya. Aku tidak menyangka. Aku jadi ingin seperti Miwa-san." Puji Deuce.
"Kau ini juga cantik kok, Deuce. Jangan terlalu minder deh. Maaf ya Miwa-san, temanku memang kadang mengalami krisis kepercayaan diri" kata Rem.
"Ah, tidak apa-apa kok. Tidak usah terlalu minder begitu. Kalian berdua juga cantik kok. Maksudku semua gadis di Class Zero memang cantik-cantik kok." Puji Miwa balik.
"Oh ya. Bagaimana kalau kita makan-makan sebagai reuni awal kita? Sekalian juga kita ajak Class Zero?" ajak Guren.
"Boleh saja. Kita makan di mana?" tanya Kurasame
"Tentu saja di Suzaku Park. Kapan lagi bisa main di sana setelah dapat tiket gratis nonton film bareng? Biasanya kalau mau nonton layar tancap sekaligus ke Suzaku Park kan harus dobel bayarnya. Oh, maaf. Kau mendapatkan undian tiket nonton film gratis tidak?"
"Tunggu! Kau juga dapat tiket gratis dari undian?" tanya Kurasame tak percaya sekali lagi.
"Iya. Kau juga dapat ya? Berarti suatu takdir ya bisa dapat tiket-tiket gratis yah."
"Tapi jika kau dapat undian tiket-tiket gratis yang cuma ada 5 lembar, kenapa kau mengajak murid-muridmu sebanyak itu?" tanya Kotetsu.
"Err, sebenarnya aku memang cuma mengajak empat muridku saja sebagai hadiah mereka telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tapi yang sisanya pergi ke sini atas inisiatif mereka sendiri."
"Oh, begitu."
"Wah...kita akan main ke Suzaku Park sekaligus? Menyenangkan sekali. Ayo kita ke situ juga yuk. Aku ingin sekali main di situ. Kumohon taichou. Kita main ke Suzaku Park yuk." Rajuk Cinque.
"Jangan malu-maluin, Cinque! Mana mungkin kita pergi ke layar tancap sekaligus pergi ke Suzaku Park? Uang dari mana coba?" peringat Trey
"Dan jangan lupa kita bayar sewa mobil." tambah King
"Oh iya ya. Kita kan pergi pake uang sendiri ya. Gimana nih? Padahal keliatannya asyik sekali di dalam sana." kata Cinque mulai lesu.
"Bukankah katanya nanti jam 11 ada parade fireworks magic ya yang cuma diadain 4 musim sekali ya?" tanya Cater.
"Tapi kalau nggak ada Sice-san, Seven-san, dan lain-lainnya di sini, bagaimana? Kasihan mereka kalau mereka tidak ikut menikmati acara ini sedangkan kita sendiri malah menikmati bepergian ini. Bukankah itu terkesan egois ya?" tanya Deuce mulai galau.
"Ah, iya ya. Sayang sekali... Maaf ya taichou. Mungkin kami akan pulang sendiri. Tidak apa-apa kok kalau kita nggak masuk kr Suzaku Park. Lain kali kita pergi-pergi kalau sudah lengkap."
"Hmm, sepertinya anak-anak didikmu memang sedang tidak bisa ikut ke dalam. Ya sudahlah, tidak apa-apa, kok. Lain kali kita ketemuan lagi kalau ada kesempatan. Tapi kau harus memberikan kami nomor teleponmu." kata Guren yang memahami situasi tersebut yang juga dibarengi anggukan dari teman-teman lainnya.
"Sudahlah, tidak perlu kalian khawatirkan tentang itu. Kalian tetap boleh masuk ke Suzaku Park. Biar aku yang bayar tiket kalian ke sana." tukas Kurasame.
"Be-benarkah?" tanya Class Zero tak percaya kalau guru mereka akan sebaik itu, tidak seperti biasanya yang selalu tampak dingin.
"Benar. Lagipula sangat disayangkan jika kalian tidak dapat menikmati waktu luang kalian seperti. Karena besok-besoknya kalian pasti akan sibuk kembali. Lagipula acara parade Fireworks Magic kan nggak setiap hari diadakan bukan?" jawab Kurasame
"Aku tahu, kalian belum pernah merasakan bagaimana bepergian menikmati tempat lain selain di Peristylium dan juga di tempat-tempat berbahaya tanpa sempat memiliki waktu kalian untuk berlibur. Maka ini saatnya kalian gunakan kesempatan ini untuk menikmati kesempatan langka ini. Mumpung kalian masih muda, gunakan waktu sebebas mungkin tapi bertanggung jawab." nasihatnya.
"Terus bagaimana dengan yang lainnya yang nggak ikut bersama kami? Mereka pasti akan kesal jika tahu-tahu kita malah ke Suzaku Park sekaligus." Tanya Cater.
"Soal mereka biarkan saja. Itu sudah resiko mereka bagi yang nggak ikut. Lagipula kalian tidak bisa selamanya terus bersama kan? Tentu saja kalian memang harus kompak baik dalam suka maupun duka apalagi dalam misi. Tapi bukan berarti ke mana-mana kalian harus berbarengan saat bepergian, bukan? Jika memang salah satu tidak bisa ikut ya sudah, tinggalkan saja dia atas kemauannya. Tidak bisa kalian paksakan dia atas solidaritas. Toh saat kalian lulus tujuan hidup dan karir kalian juga akan berbeda-berbeda kan. Tidak mesti kalian punya tujuan yang sama lalu kalian terus-menerus bersama tanpa mempedulikan impian kalian sendiri. Intinya solidaritas ada tempatnya sendiri." nasihat Kurasame.
"Kami mengerti, taichou."
"Tapi, bagaimana dengan taichou sendiri? Uang taichou bisa habis kalau cuma untuk bayar tiket kami." Tanya Trey.
"Soal tiket masuk kalian tidak usah khawatir. Biar aku yang akan membayar tiket kalian. tapi cuma tiket masuk saja. Sisanya termasuk makan di sana kalian tetap harus bayar sendiri."
"Wah...taichou benar-benar baik sekali deh. Terima kasih, taichou." Seru Cinque riang sontak reflek memeluk Kurasame kegirangan.
"Yes! Akhirnya kita bisa masuk ke Suzaku Park gratis deh. Hehehe..." seru Nine girang.
"Hei, tetap jaga tata kramamu. Meskipun dibayarin sama taichou tetap saja harus tahu terima kasih. Dan jangan bikin ulah selama di sana!" tegur Trey tegas.
"Hei! Kenapa sekarang mendadak kau berubah menjadi Queen? Kesurupan arwahnya Queen ya?" protes Nine.
"Hush! Hati-hati! Nanti malah kena karma lho gara-gara ngejelek-jelekin Queen lho. Dia kan lumayan peka meskipun dari jarak yang sangat jauh." Peringat Cinque.
"Ehem, taichou." Panggil Machina.
"Iya, ada apa, Machina?"
"Ehm, gini. Tadi anda bilang bahwa anda akan membayar tiket Suzaku Park untuk kami. Sungguh, kami merasa berterima kasih pada taichou. Hanya saja..."
"Hanya saja kenapa? Apa kau merasa keberatan?"
"Mungkin akan lebih adil jika anda membayar tiket tersebut pada teman-teman kami yang tidak mendapatkan tiket nonton film tersebut. Toh mereka bisa mendapatkan tiket gratis atas pemberian taichou juga setelah kami mendapatkan tiket gratis nonton film. Kami tidak apa-apa kok jika membayar tiket ke Suzaku Park." Jawab Machina sedikit hati-hati.
"Memangnya kenapa kalau harus membayari tiket ke mereka yang tidak mendapatkan tiket nonton film gratis saja? Toh aku juga mendapatkan tiket-tiket itu melalui undian secara gratis kok. Jadi kenapa harus panik dengan keuanganku saat ini?"
"Bukannya kami tidak tahu berterima kasih, Taichou. Justru kami sangat berterima kasih pada anda karena telah memberikan kami hadiah paling berharga ini. Tapi kami juga tak ingin membebani taichou dengan morotin taichou seenak kami sendiri. jadi kami tetap akan membayar tiket Suzaku Park sendiri-sendiri bagi yang sudah nonton film gratis. Toh kalau membayar tiket untuk kami sebanyak ini pasti sangat mahal." Jawab Rem membantu Machina. Machina berbisik terima kasih pada Rem.
"Betul. Kami tidak apa-apa kok jika tidak dibayar. Biar impas sekalian kami membayar tiket bergantian." Tambah Deuce.
"Baiklah kalau itu mau kalian. tapi makanannya kalian tetap bayar sendiri lho. Aku tak ada niatan mau mentraktir kalian." kata Kurasame.
"Tentu saja, terima kasih taichou." Jawab mereka serempak.
"Oh ya. Kau sendiri bagaimana, Ace? Kau masih bisa tahan di sini sekali lagi?" tanya Machina
"Oh ya, Acey kan kurang begitu suka tempat yang sangat ramai ya." Kata Cinque.
"Bahkan sangat benci tempat terlalu ramai." Timpal Cater.
"Berarti kau tidak akan ikut dong? Mau langsung pulang? Padahal kan kita perginya barengan. Terus kau pulang naik apa kalau bukan numpang mobilnya taichou." tanya Rem
"Entahlah. Kalau boleh jujur aku memang tidak suka berada di sini apalagi di malam minggu begini pasti sangat ramai. Bisa jadi aku memang ingin cepat pulang dari sini. Tapi..."
"Kau takut pulang sendirian? Kora~" goda Nine
"Bukan!" tukas Ace kemudian menggandeng tangan Machina sekali lagi. Sontak Machina menoleh ke arahnya tak percaya dengan aksi Ace dan penasaran dengan apa yang akan dilontarkan oleh Ace. Apakah ia benar-benar akan mengutarakan perasaannya kepadanya?
"Kalau ada Machina..." kata Ace menggantung lalu menoleh ke arah Machina. Mata Machina melebar kaget dengan jawaban Ace sekaligus deg-degan. Apakah Ace benar-benar akan 'bunuh diri' sekaligus 'membunuhnya' dengan ingin menjadi kekasih dirinya dan menjadi sepasang gay?
"...Deuce, Rem, dan teman-temanku yang lainnya, aku akan sangat bersemangat sekali menikmati acara malam minggu ini. Ke Suzaku Park." Lanjut Ace seketika mengerlingkan matanya ke Machina dan memasang senyum menyeringai. Machina pun hanya bisa menghela nafas lega sekaligus was-was dengan aksi tak terduga Ace.
"Yeay, akhirnya kita Acey ikut. Aku sudah tidak sabar lagi ingin menaiki semua wahana di sini. Pasti sangat menyenangkan sekali." Seru Cinque.
"Kita tidak akan main wahana apapun tanpa makan-makan terlebih dahulu bukan? Lagian ini sudah hampir melewati jam makan malam, apalagi teman-teman lamaku juga masih menanti kita ini untuk makan bersama mereka." Kata Kurasame.
"Oh iya. Maaf ya kalau kalian harus menunggu kami membahas tentang tiket masuk kami." kata Rem membungkukkan badannya ke arah kawan lama Kurasame.
"Ah, tidak apa-apa kok. Sudah menjadi kewajiban bagi Kurasame untuk mengurus kalian bukan? Kurasa taichou kalian sangat bertanggung jawab pada kalian." balas Miwa pengertian.
"Yosh. Baiklah. Ayo kita beli tiketnya dan kemudian makan-makan." Seru Guren.
"Okay!" balas semuanya lalu mereka mengantre untuk membeli tiket ke Suzaku Park.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf kalo semakin geje. Chap ini belum ada nuansa romance sama sekali dan terkesan banyak basa-basi di sini.
Btw, jangan lupa ya kasih review habis membaca ya biar tahu gimana feedback nya...
Arigatou gozaimasu...
