Suzaku Park Foof Court...
Setelah mereka lama mengantre hanya untuk beli tiket karena saking banyaknya pengunjung di malam minggu begini (yang diwakili oleh Guren, Kurasame, dan Machina untuk masing-masing kelompok), akhirnya mereka bisa makan bersama meskipun jama makan malam mereka sudah lama lewat.
"Itadakimasu!" seru semuanya kompak
Dalam suasana yang begitu ramai ini tentu saja mereka terbawa suasana untuk makan-makan sambil bercengkrama tentang masa-masa mereka selama masih sebagai kadet sebagai acara reuni dadakan mereka, sedangkan Class Zero lebih banyak ngobrol tentang keseharian mereka dan tentang kabarnya Class Zero yang tidak ikut.
FYI, saat makan bersama Kurasame saat itu sudah melepaskan maskernya (tentu saja agar ia bisa makan. Bagaimana mungkin ia makan tapi maskernya masih menutupi mulutnya?), namun tak ada satupun yang menanyakan keadaan luka-luka di sekitar rahang dan mulutnya saat mengalami kecelakaan pada misinya saat menjadi kadet dulu, karena mereka sudah memahami keadaannya dan tidak ada yang mau menyinggungnya di depan umum.
Namun tidak semua orang tampak sangat senang dengan acara kumpul-kumpul dua generasi berbeda ini, yaitu Ace. Dia tampak tak begitu menikmati acara makan-makan seperti itu.
Sebenarnya sih bukan karena suasana ramainya yang membuatnya tak senang. Dia justru senang akhirnya bisa berkumpul bersama teman-temannya karena ini pertama kalia mereka bisa menikmati dunia luar selain medan perang. Lantas, apa yang membuat Ace tampak tak begitu menikmati acara makan-makan tersebut dengan sumringah.
Ah, rupanya kali ini tak ada lagi Machina di sisinya sekarang ini. Lantas ke mana Machina yang telah menjadi tambatan hati Ace tersebut?
Tentu saja Machina duduk di samping Rem, selalu.
Namun sebenarnya bukan karena Machina berusaha menghindari kontak kulit dengan Ace mengingat Machina sepertinya mulai sadar akan sinyal Ace tersebut tanpa sepengetahuan Ace, tapi karena Deuce yang memintanya untuk duduk bersamanya entah karena alasan apa. Tapi mau tak mau Ace menuruti keinginan Deuce karena mungkin Deuce ingin duduk di sisinya setelah ia duduk di sebelah Machina. tapi yang membuat ia semakin sewot karena pada akhirnya bukan hanya harus terpisah satu kursi, tapi dua kursi sekaligus. Karena Deuce duduk di antara dirinya dan Rem, yang berarti ia tak bisa mendekati Machina sekaligus harus melihat hubungan persahabatan tak biasa antara Machina dan Rem yang kemungkinan besar akan menuju hubungan sebagai sepasang kekasih.
Ah, bagaimana ia bisa membayangkannya? Sepertinya hal tersebut memang akan menjadi sangat mustahil bagi Ace untuk sekedar mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan dan langsung pada Machina.
_epha_
"Kalian bilang kalau kalian juga dapat 5 tiket nonton film gratis. Tapi pas kita bertemu kok cuma berempat saja? Ke mana yang satunya?" tanya Kurasame.
"Hah, ceritanya lumayan panjang lah. Yang pasti sebenarnya yang satunya itu harusnya mau aku berikan padamu jika aku bisa bertemu denganmu di Perystilium saat jam kosong. Tapi kebetulan ada satu rekan kerjaku ingin sekali dapat tiket gratis karena ingin nonton film Kingsglaive itu tapi nggak punya uang cukup. Ya sudah, karena kasihan dan juga sangat mustahil buat bertemu denganmu yang sama sekali nggak ada batang hidungnya, aku berika saja sisanya padanya." Cerita Guren.
"Ah, maaf sekali ya. Aku tidak tahu kalau kau ingin memberikan tiket itu padaku."
"Dan sayangnya, saat tadi kami berempat sudah siap untuk berangkat ke Rooftop Cinema itu, eh anak itu ditunggu-tunggu nggak datang juga. Sampai kami mulai kesal nungguin dia dan bentar lagi bakal telat nonton filmnya, tahu-tahu dia malah ngasih kabar kalau dia telat gara-gara ada urusan mendadak kayaknya. Aku tidak tahu apa urusannya karena nggak mau tahu karena udah lagi dongkol padanya. Ya udah aku tinggal aja dia dan cuma berempat saja kami nonton filmnya. Akhirnya satu tiket jadi terbuang sia-sia kan. Tahu begini harusnya aku berikan saja padamu meskipun kau susah dicari."
"Tapi toh akhirnya kita ketemuan juga kan. Ada hikmahnya malah karena aku dapat tiket gratis dan aku memberikan sisanya pada murid-muridku."
"Ah, untung saja kebetulan kita bisa ketemuan di sini. Kalau nggak pasti rasanya aku ingin menyantetmu, hahaha..." ancam Guren bergurau.
"Serius? Apa kau bisa menggunakan magic mu untuk menyantet orang? Jangankan menyantet, wong bertarung pake magic saja kau sudah kewalahan gitu. Payah kau." Olok Kurasame.
"Ah, diam kau! Bisanya yang kau ingat cuma hal-hal jelek tentang diriku saja kau." Tukas Guren tak terima yang hanya dibalas tawa dari Kurasame dan juga teman-teman lainnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Kazusa dan Emina saat ini? Kenapa kau tak mengajak mereka nonton film bareng sebagai gantinya murid-muridmu?"
"Yah, kalian tahu kan kalau tiketnya ada 5 buah sedangkan aku, Kazusa, dan Emina cuma ada tiga orang dan hanya mereka sepantaran saja yang kukenal di Perystilium. Sangat percuma jika terbuang dua tiket. lagipula Emina saat ini sedang dalam persiapan untuk pergi ke Milites Empire untuk bertugas di sana sekaligus dalam rangka pertukaran antara Rubrum dan Milites." Cerita Kurasame.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku sangat merindukannya. Apalagi aku sangat ingin mengundangnya ke pernikahanku kelak. Kira-kira memungkinkan nggak sih jika dia diundang ke pernikahanku sedangkan dia sedang dalam masa penugasan di negeri orang?" tanya Sayo.
"Aku tidak tahu pastinya dia bisa menyempatkan waktu untuk datang ke acara pernikahanmu atau tidak. Memangnya kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian?" tanya Kurasame.
"Sebenarnya sih dalam waktu dekat ini, tapi tidak bulan ini. Kira-kira bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan kami. Kami sudah menyiapkan konsep pernikahan, atribut-atribut apa saja yang akan digunakan dalam pernikahan kami, dan hampir semuanya sudah berjalan sesuai rencana. Tinggal mencari baju pengantin yang pas untuk kami serta persiapan dekorasi tempat untuk pernikahan kami. Yah, lumayan banyak dan nggak bisa kami sebutin. Tapi setidaknya setengah sudah berjalan dengan baik." Jawab Guren panjang lebar.
"Dan juga undangan." Timpal Sayo
"Iya, undangan. Saat ini kami juga sedang mempersiapkan kerabat-kerabat kami yang bisa kita undang. Kalau sudah siap semua daftar orang-orang yang bisa diundang baru kami cetak nama-nama itu di kartu undangan. Makanya pastikan kau kali ini harus bisa datang ke acara pernikahan kami setelah lama kau menghilang. Awas saja kau kalau sampai nggak bisa datang lagi ke acara sakral kami." Kata Guren diselingi ancaman untuk Kurasame.
"Dan juga Emina. Tolong pastikan ya kalau dia saat di luar negeri bisa menyempatkan waktu untuk datang ke pernikahan kami. Aku benar-benar sangat merindukannya." Harap Sayo
"Aku tahu kau dan Emina ini sahabat sejati. Baiklah, akan kupastikan dia bisa menyempatkan waktu balik ke Rubrum sejenak saat pesta pernikahan kalian tiba. Tapi aku nggak bisa janji kalau dia bisa datang atau nggak, yang penting aku akan mengusahakan semampuku." Kata Kurasame.
"Dan kira-kira gimana kabarnya Kazusa sendiri?" tanya Miwa.
"Kalau Kazusa... yah tahu sendirilah..."
"Ah, pasti dalam rangka menciptakan penemuan tergilanya, bukan?" tebak Kotetsu
"Tentu saja."
"Sepertinya kebiasaan lamanya takkan bisa menghilang begitu saja. Apalagi dia sering menjadikan kita ini kelinci percobaan, terutama kau yang sering jadi kelinci percobaannya." Tukas Miwa.
"Apa sekarang dia masih menjadikanmu kelinci percobaan kayak dulu?" tanya Sayo penasaran.
"Dia sudah tidak lagi menjadikanku kelinci percobaan, tapi sekarang lebih parah lagi karena Class Zero lah yang selalu menjadi kelinci percobaan ilegal bagi si peneliti gila itu." Jawab Kurasame dengan nada kesal.
"Serius? Bahkan anak-anak didikmu semuanya jadi kelinci percobaannya Kazusa? Gila bener tuh orang. Kesurupan apa dia samapi segitunya memakai kalian semua?" tanya Guren tak percaya. Sedangkan Class Zero hanya bisa membayangkan hal itu dengan merinding.
Sudah bisa dipastikan bahwa mereka sangat ketakutan saat mengingat mereka tiba-tiba diajak oleh peneliti mesum tersebut ke laboratorium rahasianya dan tiba-tiba mereka dibius saat mereka lengah dan, BOOM! Mereka tiba-tiba sudah berada di kursi percobaan dalam keadaan diikat dan juga sering mengalami sesuatu yang tidak beres pada tubuh mereka sebelum mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi kelinci percobaan Kazusa secara diam-diam dan ilegal. Dan pada saat sebelum akhirnya mereka keterusan dijadikan kelinci percobaan sampai mereka tiba-tiba bermutasi menjadi makhluk mengerikan Kurasame sudah datang ke laboratorium tersebut untuk menegur Kazusa sekaligus menyelamatkan mereka dari ramuan-ramuan ciptaan Kazusa tersebut. Sungguh mengerikan sekali.
"Kalian, Machina, Rem, kalian juga jadi korban kelinci percobaan ya?" tanya Miwa
"Ya begitulah. Karena selama kami dari kelas yang berbeda belum pernah mengalami hal seperti itu. Saat kami sudah jadi Class Zero tiba-tiba profesor Kazusa mengajakku dan Machina ke laboratorium rahasianya dan tiba-tiba, yah kami dibius dan yah gitu deh." Cerita Rem.
"Bahkan aku pernah sakit muntaber selama sehari gara-gara dipaksa mencoba ramuannya Kazusa."
"Aku malah kena penyakit gatal-gatal karena aku punya alergi terhadap tumbuhan tertentu gitu." Timpal Rem.
"Tapi kan bisa disembuhkan dengan sihir penyembuh penyakit untuk bagian luar. Kalau aku mau nggak mau harus ke klinik untuk minum obat karena sakitku di bagian dalam pencernaan." Timpal Machina balik.
"Aduh, kasihan sekali ya kalian sampai segitunya yah." Ujar Miwa prihatin.
"Bahkan yang lebih kasihan lagi yaitu Ace karena dia yang lebih sering dijadikan kelinci percobaan secara paksa oleh peneliti gila itu. Mungkin karena si peneliti mesum mata empat merasa Ace punya wajah dan tubuh feminin tapi berkelamin laki-laki sehingga dia mudah jadi sasaran bagi peneliti gila itu." Kata Trey sambil membawa nama Ace yang menjadi kesal karena dikatain punya wajah dan tubuh feminin.
"Emang apa hubungannya Ace terlihat seperti cewek sama sering jadi kelinci percobaan?" tanya King tak percaya dengan teori asal-asalan Trey yang (tumben) terdengar bodoh.
"Ya nggak ada sih. Cuma kebetulan aja Ace itu pria tercantik di Akademeia apalagi Ace sering disangka wanita sehingga sering jadi incaran para pria juga tak peduli jenis kelaminnya. Hal itu juga yang dipertimbangkan oleh peneliti mesum mata empat itu untuk menjadikan Ace sebagai kelinci percobaan sekaligus sebagai obyek pemuasan nafsu si peneliti mesum mata empat itu." Tukas Trey yang entah kenapa terdengar seperti menghina Ace. Seketika Ace mulai merasa kesal mendengar tutur kata Trey yang semakin hari semakin menyakitkan.
"Oi, kau ini nggak usah bicara yang nggak-nggak ya. Memangnya kau pikir Ace itu macam pelacur apa katamu? Mulutmu itu ternyata berbisa juga ya." Bentak Cater tak terima jika Ace selalu dijadikan bahan olok-olokan yang kelewat batas itu.
"Tenang. Tenang, Cate. Trey, kau ada dendam ya sama Ace? Memangnya apa yang terjadi sebenarnya dengan Ace?" Tanya Machina tidak habis pikir dengan teori asal-asalan Trey. Sedangkan Ace hanya termangu diam saja.
"Hah? Tidak kok. Siapa yang dendam? Memangnya tadi aku apa yang menyinggung Ace?" tanya Trey mendadak oon.
"Argh! Kau ini udah banyak omong, sekarang mendadak otakmu menyusut pura-pura bego udah ngatain Ace jadi pelampiasan nafsu peneliti gila itu hanya karena dia kayak cewek? Woy, gue juga sering dijadiin kelinci percobaan, malahan gue juga sering digrepe-grepe sama si peneliti gila itu." Kata Nine diselingi curhatannya.
"Kalau itu mah bukan urusan kita. Anggap aja itu hukuman buat anak badung sepertimu." Tukas Cater ketus yang semakin bikin Nine tambah sewot.
"Heh! Gue ngomong serius tahu, gue juga sering jadi korban pelecehan seksual modus penelitian ala profesor Kazusa." Jawab Nine tak terima.
"Sudah, cukup anak-anak! ini tempat umum. Jangan bikin keributan di sini karena di sini bukan kelas kalian biasanya. Kalian benar-benar seperti anak kecil." Tegur Kurasame tenang namun tegas seketika membuat Class Zero terdiam.
"Trey, kalau ingin berbicara dan bercanda sesuka hatimu terserah kau saja. Tapi nggak usah sampai menyinggung orang lain terutama Ace." Tegur Kurasame pada Trey.
"I-iya taichou. Maaf ya Ace kalau tadi omonganku ada yang menyakiti perasaanmu." Maaf Trey.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Jawab Ace singkat karena malas ngomong.
" Toh meskipun Prof. Kazusa memang orangnya seperti itu tapi dia bukan orang jahat dan yang pasti dia tidak akan melakukan hal-hal yang sampai kelewat batas selama dalam pengawasanku. Dia juga selalu memastikan kalau bahan-bahan penemuannya selalu aman dan tidak membunuh kalian. Lagipula Rubrum masih membutuhkan Kazusa sebagai peneliti handal untuk penelitian tentang monster-monster di sana dan menciptakan vaksin penangkal racun dari monster-monster tertentu." jelas Kurasame.
"Lagipula kalau dia jahat pasti kami nggak akan berteman dengannya juga. Kazusa mah memang orangnya suka sekali iseng dengan cara yang tak terduga." Timpal Miwa
"Aduh, sepertinya masalah tentang Kazusa memang menjadi hal yang paling sensitif sekali ya bagi mereka sampai ada yang sewot seperti itu. Mungkin kita hentikan saja bahas tentang si hentai mata empat itu." Kata Kotetsu memutuskan.
"Yah, sebaiknya begitu." Kata Kurasame.
"Hah! Aku benar-benar tidak habis pikir, belum menikah saja kau sudah kerepotan mengasuh anak-anak didikmu seperti anak-anakmu saja." Tukas Guren.
"Hahh... namanya juga lagi bertugas jadi guru mereka. Lagipula jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingin kelas-kelas lainnya. Makanya kesannya aku jadi kayak ayah mereka. Boro-boro mikirin nikah, pacar aja belum punya." Kata Kurasame, menimbulkan kontak mata diam-diam antara teman-teman Kurasame itu seakan melakukan telepati. Miwa hendak ingin mengutarakan hal tersebut pada Kurasame, tapi memilih diam saja. Takut suasana malah jadi kikuk mengingat banyak orang di sini.
"Eh, Machinan!" panggil Cinque.
"Um."
"Aku baru sadar kalau Machina sekarang sedang tidak memakai jubah. Entah kenapa sekarang aku melihat Machinan tampak sangat tampan sekali." Puji Cinque.
"Eh, benarkah? Kenapa baru sekarang bilangnya? Kok nggak dari tadi mujinya? Hehehe... Makasih banget loh, Cinque. Tuh, Rem. Cinque aja bilang aku ini tampan. Kau kebanyakan protes mulu sih soal gaya pakaianku." Tukas Machina sambil mencibir Rem yang hanya memutarkan bola matanya.
"Biasa aja kok. Ganteng dari mana? Toh gaya pakaiannya kayak orang urakan gitu. Lagian ngapain coba pake buka kancing baju keliatan dadanya? Persis sekali kayak Nine." Komentar Cater pedas.
"Tuh kan, ada juga yang bilang kau itu kayak orang urakan. Nggak usah terlalu percaya diri deh." Tukas Rem mencibir balik.
"Hei, Cate. Kau ini ada dendam ya padaku sampai segitunya ngomong kayak gitu? Lagian gaya urakan dari mana sih? Wong bajuku tetap rapi kok." tanya Machina tak terima.
"Ih, siapa yang dendam? Emangnya aku punya masalah denganmu? Perasaan loe aja, keleus. Lagian Nine aja gaya bajunya juga buka kancing sampai keliatan dada bahkan kaos dalamannya setiap saat. Malah menurutku Ace jauh lebih rapi dan gentle. Suka deh ngeliat Ace kayak gitu. Terlihat kalem gimana gitu." Tukas Cater.
"Yeee, di mana-mana Ace emang dasarnya kalem kok. Mau berpenampilan kayak apapun juga dia selamanya bakal kalem terus. Lagipula aku juga suka jika Machina meniru gaya berpakaianku, berarti aku bisa jadi trendsetter, huh?" tukas Nine kegirangan sambil merangkul Machina di sebelahnya.
"Hei! Siapa yang meniru gayamu? Ini gaya pakaianku sendiri. Lagian aku kan pake vest sedangkan kau kan tidak. Toh aku cuma melepaskan satu kancing baju saja sedangkan kau melepaskan semua kancing bajumu sampai kelihatan dalamanmu." Protes Machina.
"Tapi yang penting kau melepaskan kancing bajumu sampai kelihatan tulang selangka dan sebagian dadamu. Kau jadi terlihat seksi, kawan. Daripada kau pakai jubah kebesaranmu yang terlihat seperti vampir tua mengerikan, kau hari ini terlihat seperti Edward Cullen di film Twilight." Puji Nine yang semakin membuat Machina sedikit risih karena Nine merangkulnya terlalu erat, juga pujian Nine yang terlalu berlebihan sehingga membuatnya ilfeel.
"Dan sekarang aku sudah bisa melihat perbedaan lebih jauh antara kau dan Machina, Nine." Tukas King.
"Hah?! Apa itu?!" tanya Nine tak mengerti maksud pernyataan King yang terlalu konyol baginya.
"Jika dibandingkan kau dengan Machina untuk saat ini dalam gaya pakaian, Machina jelas terlihat seperti penyanyi kafe, sedangkan kau jelas terlihat seperti pengangguran yang suka mabuk-mabukan." Komentar King tanpa disadari terdengar sangat pedas sekali. Sontak Trey yang mendengar penuturan King yang terlalu berpihak itu tersedak dengan minuman yang baru saja ia minum (untungnya tidak sampai menyembur keluar).
"WOY! KEJAM SEKALI KAU MENGATAIKU SEPERTI PENGANGGURAN! MEMANGNYA KAU INI NGGAK SEPERTI ITU JUGA, HAH?! KAU BAHKAN MALAH KAYAK ANAK PUNK, KORA!" bentak Nine kesal.
"Memangnya kenapa kalau aku kayak anak punk? Toh setidaknya aku tidak sedekil dirimu. Lihatlah. Kau dan Machina ini benar-benar terlihat seperti kue Black Forest, kulit hitammu sangat berbanding terbalik dengan kulit putih Machina. Apalagi jika kalian saling berdampingan, kalian itu seperti dua gelas susu kocok rasa coklat dan vanila." Komentar King balik bahkan menyinggungnya dengan obyek makanan dan minuman manis. Dengan tampang cuek dan datarnya malah menambah kekonyolan dalam penuturannya.
"Wow. Itu membuat nafsu makanku makin bertambah." Timpal Trey kemudian kembali menyantap makanannya dengan lahap lalu menyeruput milkshake rasa coklat seperti yang disinggung oleh King tadi.
"HEH! NGAPAIN LOE BAWA-BAWA MAKANAN SEGALA BUAT NGEJEK GUE DAN BANDINGIN WARNA KULIT GUE SAMA MACHINA, HAH?! MAKSUD LHO MIKIR RASIS DENGAN OBYEK MAKANAN ITU BUAT APA? BIAR NAFSU MAKAN MAKIN BERTAMBAH GITU? ITU MALAH MEMBUATKU MUAK DENGAN OCEHANMU YANG MULAI SANGAT TIDAK BERMUTU. TERUS EMANGNYA GUE KULIT ITEM KENAPA? MASALAH BUAT LOE? EMANG KULIT GUE UDAH ITEM SEJAK KECIL KOK! BAGI GUE WARNA KULIT ITEM GUE ITU SEKSI TAHU!" amuk Nine tak terima.
"Tapi masalahnya warna kulitmu item sejak kecil itu karena pada dasarnya sejak kecil kau memang sering main keluar terus tanpa henti sampai kulitmu gosong kayak itu padahal sebelumnya kau tidak seperti itu. Kalo kulit coklatku itu memang baru alami dan memang sejak bayi sampai sekarang ini memang kulitku seperti ini dan masih terlihat bagus daripada warna kulitmu." Komentar Cater menimpali.
"NGAPAIN LOE IKUT-IKUTAN NYINGGUNG WARNA KULIT GUE JUGA?! TERUS PEDULI AMAT MA WARNA KULIT LOE! SIAL! KENAPA ORANG-ORANG JAMAN SEKARANG BAWAANNYA SELALU RASIS SOAL WARNA KULIT DAN TERLALU PUNYA OBSESI DENGAN KULIT SEPUTIH KULIT MAYAT HIDUP?!" keluh Nine beringas sampai mencak-mencak tak karuan, menambah tawa dari semua orang di satu meja yang menontonnya, bahkan malah jadi pusat perhatian orang-orang yang berada di dekat mereka bahkan yang sempat melewati mereka.
"Oh ya, tadi Ninesy sempat bilang kalau Machinan seperti si vampir Edward Cullen, berarti Ninesy persis seperti si manusia serigala Jacob Black dong?! Secara kan kulitnya Ninesy item sama kayak nama belakangnya Jacob. Hihihi..." timpal Cinque sontak membuat semuanya tertawa terbahak-bahak karena olok-olokan yang sepertinya kena batunya sendiri pada Nine.
"Ih, terlalu cakepan amat sih bandingin orang sini sama bintang film Twilight. Trus kalo Machina itu Edward Cullen, Nine itu Jacob Black, terus siapa Isabella Swan nya?" tanya Cater menyeletuk.
"Ah, pasti Rem Tokimiya yang duduk di sebelahnya Machina kan? Secara kalian berdua terlihat dekat sekali sedari tadi." Kali ini Guren ikut nimbrung obrolan anak muda jaman sekarang ini dengan semangat.
"Ah, iya benar. Remucchi jadi Isabella Swan nya, pacarnya Machinan yang jadi Edward Cullen." Timpal Cinque tiba-tiba.
Seketika Ace yang sempat terbawa suasana canda tawa mendadak tertegun dan menatap Rem dan Machina dengan nanar, menandakan ada perasaan cemburu di dalam hatinya.
"Ih, Cinque. Kau ini bicara yang nggak-nggak deh. Aku lho nggak mirip Isabella Swan di Twilight. Lagian siapa juga yang pacaran dengan Machina?" kata Rem canggung.
"Lho, kalian emang beneran pacaran ya? Pantas saja sedari tadi kalian begitu akrab sekali. Malah terlihat mesra deh." Tanya Miwa berdecak kagum.
"Ah, nggak kok. Nggak. Kami sama sekali nggak pernah pacaran." Jawab Machina dan Rem berbarengan.
"Masak sih? Kalau nggak pernah pacaran kok kalian bisa sedekat itu?" tanya Sayo bergiliran.
"Sebenarnya kami ini kebetulan merupakan teman masa kecil dan pernah tinggal di desa yang sama saat masih kanak-kanak. Makanya kami bisa sedekat ini." Cerita Machina.
"Oh, kalau kalian ini teman masa kecil justru malah lebih bagus dong. Biasanya kan sepasang teman masa kecil memungkinkan akan terjadi kisah cinta karena sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan katanya melalui hubungan pertemanan masa kecil apalagi antara satu pria dengan satu wanita maka kalian memang ditakdirkan berjodoh bahkan sampai ke jenjang pernikahan hingga terus awet pada masa tuanya." Ujar Kotetsu, yang semakin membuat dada Ace semakin sesak, karena merasa peluang untuk menyatakan perasaan pada Machina akan semakin kecil dan sepertinya Machina memang ditakdirkan berjodoh dengan Rem.
"Ah, nggak mesti juga sih. Awet nggaknya sebuah hubungan kan tergantung pada komitmen sepasang kekasih untuk saling mencintai dan saling percaya. Bukan dari melalui hubungan pertemanan masa kecil." Sanggah Kurasame.
"Ya itu kan kata orang-orang. Aku sendiri juga belum pernah merasakannya sama sekali. Tapi mungkin Machina dan Rem sempat pernah jatuh cinta satu sama lain nggak?" tanya Kotetsu menyelidik. Dada Ace semakin sesak seiring dengan bahasan tentang hubungan Machina dan Rem yang memang terlihat ambigu antara cinta atau sahabat.
"Bagaimana bisa kami jatuh cinta, wong dia itu orangnya overprotective banget. Terlalu berlebihan dia. Apa-apa dia selalu nempel padaku dan mengikutiku ke mana saja. Sangat mengganggu sekali." Keluh Rem tentang Machina.
"Kalau dia mah lebih mengganggu lagi. Dia sangat cerewet dan selalu saja menceramahiku tentang apa yang kulakukan maupun yang kugunakan saat ini, bahkan dia suka menggodaku dan menyindirku setiap hari. Bahkan dia juga suka mengingkari janji yang kami sepakati. Tidak bisa dipercaya dia." Keluh Machina tentang Rem.
"Ya ampun... kau bilang aku suka mengingkari janji? Aku melakukan itu kan cuma sekali. Lagipula saat itu kan kita masih terhitung baru dan untuk itu kita harus bisa berbaur dengan kelas yang kita tempati. Kamunya saja yang manja dan tidak mandiri." Protes Rem balik. Walhasil, semua orang yang melihat pertengkaran konyol antar sahabat masa kecil itu malah berpikir mereka itu seperti orang baru dalam tahap awal pacaran.
"Lho, bukankah kalau kalian kayak gitu berarti kalian sebenarnya ada rasa suka ya saking sebegitu perhatiannya kalian satu sama lain?" goda Miwa.
"Tidak, kami sama sekali tidak berpacaran kok. Kami hanya bersahabat saja kok." Jawab Machina dan Rem kompak, namun sayangnya tingkah mereka justru dianggap orang-orang yang melihatnya seperti mereka punya hubungan spesial namun disembunyikan.
"Hmm... sepertinya kalian ini terlalu banyak menyangkal deh. Hati-hati lho, bisa-bisa kalian malah jatuh cinta beneran lho." Goda Kotetsu yang mendadak demen menggodai Machina dan Rem.
"Cieee...ternyata diam-diam Machinan ama Remucchi saling suka ya? Pantas saja ke mana-mana selalu berduaan..." kali ini Cinque yang menggoda mereka terbawa omongan Kotetsu.
"Kalo gitu pacaran saja sekarang dan traktir kami sekarang ini biar kami bisa makan-makan gratis..." Seru Nine spontan tanpa tahu malu dan tata krama seperti biasanya.
Pada akhirnya hampir semuanya malah jadi menggoda pasangan yang (bisa dibilang) kurang jelas statusnya ini hingga membuat Machina dan Rem sendiri menjadi malu karena itu. Suasana kembali ramai sekarang, malah jauh lebih ramai daripada sebelumnya kalau sudah membahas tentang pacaran.
Namun... sekali lagi, melihat suasana seperti itu justru membuat hati Ace semakin sakit. Sudah pasti banyak orang lebih menanti hubungan asmara Machina dengan Rem melalui persahabatan masa kecil mereka daripada merestui hubungan terlarang antara dirinya dan Machina. Lagipula cinta semacam itu masih sangat tabu di sini. Pasti orang-orang akan merasa jijik jika mendengar tentang hal semacam itu.
Namun dia sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya untuk melampiaskan segala rasa sakit hati dan cemburu yang menggerogoti hatinya. Sesekali ia menghela nafas untuk mengurangi kekecewaan dan kesedihannya.
Namun sepertinya kelenjar air mata mulai berproduksi untuk menjatuhkan air mata dari kedua mata biru safir Ace. Ia berusaha keras mengedipkan kedua matanya berkali-kali agar air mata tersebut tidak terjatuh, melainkan untuk membasahi kedua bola matanya.
Sekilas iris safir mata Ace begitu berkilau seperti kalung pendant safir karena efek dari air mata yang membasahi matanya. Mata Ace tampak begitu mempesona dan bercahaya karena pantulan dari lampu-lampu, namun ada awan mendung di balik mata secerah langit milik Ace.
_epha_
Deuce yang melihat Ace terlihat murung langsung bertanya padanya namun lebih pelan agar semua orang tidak akan tahu tentang keadaan Ace sekarang ini.
"Ace-san, apa kau tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Deuce dengan hati-hati.
"Ah, tidak apa-apa kok. Mungkin aku sedang merasa ada sesuatu di mataku mungkin, jadi ya terlihat seperti ini." Sangkal Ace.
"Tapi kau terlihat benar-benar sedih. Apa karena kau tak betah berada di tempat yang terlalu ramai?" tanya Deuce
"...Mungkin saja..." jawab Ace bohong.
"Atau mungkin... kau sedang cemburu...pada...seseorang...?" tanya Deuce lebih hati-hati namun sepertinya mengena sekali. Sepertinya Deuce mulai bisa membaca situasi dalam diri Ace.
"Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Pada siapa aku harus cemburu di sini? Mereka semua orang baik, bahkan Machina dan Rem yang termasuk anggota baru Class Zero saja sangat baik dan begitu berdedikasi pada Class Zero. Apa yang harus dicemburukan? Mereka tak pernah berbuat apapun yang menyakiti kita, kok." Sangkal Ace sekali lagi.
Tetapi kemampuan berbohong Ace sepertinya mulai berkurang. Deuce sepertinya sudah mulai bisa menangkap apa yang membuat Ace galau. Sepertinya ia cemburu melihat 'kemesraan' persahabatan Machina dan Rem. Mungkinkah Ace sedang menyukai Rem dan cemburu melihat Rem begitu dekat dengan Machina yang dikenal sangat protektif pada Rem? Sepertinya begitu. Tapi selama bersama Ace, Machina, dan Rem, Deuce juga sempat menangkap wajah sumringah Ace saat berada di dekat Machina. bahkan wajah berseri itu juga terpancar saat melakukan presentasi tugas bersama Machina, hingga akhirnya tim mereka mendapatkan nilai tertinggi kedua. Bahkan tatapan Ace terhadap Machina juga begitu intens sekali. Apa jangan-jangan Ace suka...
Tidak, tidak.
Mana mungkin Ace pria yang seperti itu? Ace itu normal kok. Buktinya dia disukai banyak wanita di Akademeia. Dan sejauh ini Ace juga bersikap gentle layaknya pria sejati. Pasti Ace memang ada perasaan pada Rem Tokimiya.
Seketika hati Deuce juga ikut mencelos seperti Ace.
Deuce kemudian menggenggam tangan Ace di meja, sempat mengejutkan Ace.
"Kalau Ace-san tidak mau cerita masalah Ace-san, tidak apa-apa kok. Maaf sudah mengganggu privasimu, Ace-san. Tapi kalau mau cerita di lain waktu bahkan secara empat mata tanpa diketahui banyak orang, ceritakanlah padaku. Aku akan merahasiakan ini pada teman-teman lainnya." Kata Deuce mencoba menghiburnya.
"Bukankah selama ini kita sering curhat secara pribadi dan selama ini aku masih bisa menjaga privasi kita berdua?" tanya Deuce mencoba meyakinkan Ace.
"Iya Deuce, aku tahu kau bisa dipercaya. Terima kasih sudah perhatian padaku." Kata Ace tersenyum simpul kemudian menggenggam tangan Deuce yang menggenggam tangannya dengan tangan satunya. Setidaknya hal ini mampu membuatnya merasa lebih baik daripada sekarang, karena ia punya Deuce. Meskipun Deuce bukan orang yang ia cintai, tapi Deuce adalah orang yang sangat pengertian padanya dan bisa membuatnya nyaman saat berada di sampingnya.
Terkadang Ace sempat berpikir apakah Deuce punya perasaan terhadapnya mengingat mereka selalu dekat satu sama lain tanpa terpikir apakah ada bibit cinta di antara mereka sebagai pria dan wanita? Kalau memang Deuce juga ada perasaan terhadapnya, itu akan menjadi dosa terbesar bagi Ace karena ia secara tak sadar sudah mencampakkan perasaan Deuce seperti Machina yang tak sadar juga mencampakkan perasaan Ace. Mungkinkah ini karma baginya?
'Ah, andaikan saja aku juga punya perasaan terhadapmu bukan terhadap Machina, pasti tidak akan begini jadinya. Setidaknya mencintaimu bisa membuatku merasa seperti pria normal yang mencintai wanita sepertimu.' Kata Ace pada Deuce namun hanya dalam hati, sambil mengusap punggung tangan Deuce untuk mendapatkan kehangatan di tangannya. Yah, walaupun tidak sehangat tangan Machina tapi setidaknya ada kehangatan pada tangan Deuce yang piawai bermain seruling itu. Sehangat iringan seruling yang pernah dialunkan saat mengiringi nyanyian Ace di taman.
"Oh ya, Ace dan Deuce juga pacaran ya?" tanya Miwa setelah tak sengaja melihat interaksi Ace dan Deuce barusan.
"Hah, Acey dan Deuce juga pacaran? Wah, akhirnya dua teman kita sudah berpacaran! Status Acey dan Deucey sudah nggak single lagi, deh!" Seru Cinque heboh sendiri. sontak semua orang menoleh ke arah Deuce dan Ace, tidak terkecuali Machina yang ikut menoleh ke arah Ace.
"Hah, Ace dan Deuce juga pacaran? Kalau gitu traktirin ya, Ace. Sebagai perayaan hari jadinya-..." seru Nine dengan permintaan yang menyebalkan itu tapi akhirnya langsung dipotong oleh Deuce.
"Maaf, semuanya. Tapi kami ini bkan sedang berpacaran."
"Aku lebih menganggap Deuce sebagai adikku sendiri. semua Class Zero adalah saudaraku." Tambah Ace.
"Mereka semua ini para saudara kandung?" tanya Miwa pada Kurasame setelah mendengar kata ambigu pada kalimat "Semua Class Zero adalah saudaraku" meskipun ia cukup mengerti bahwa hubungan Ace dan Deuce lebih terlihat seperti kakak beradik.
"Bukan. Mereka semua berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka semua anak adopsi. Itulah sebabnya Class Zero begitu eksklusif sekali karena mereka sudah seperti keluarga sejak kecil." Jelas Kurasame.
"Oh...begitu?" jawab Miwa mengerti.
"Lagipula..." jeda Ace sejenak ia menoleh ke arah Machina jadi mereka akhirnya saling berpandangan tanpa disadari banyak orang.
"Kalaupun aku punya perasaaan terhadap seseorang untuk apa aku harus memberitahu orang lain terutama teman-temanku supaya mereka tahu. Itu semua hanya urusan pribadiku dan tak semuanya harus tahu urusanku. Tapi setidaknya...aku tak harus munafik terhadap perasaanku sendiri bukan?" Ace terus memandang Machina.
"Tapi meskipun begitu bukan berarti kita harus mencoba melampiaskan perasaan kita pada orang lain yang sebenarnya tidak kita cintai, bukan? Bukankah itu akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri?" tukas Ace yang secara diam-diam menyindir Machina. Machina hanya terdiam saja, namun ia bisa menangkap maksud Ace. Mungkinkah Ace mengetahui perasaannya saat ini?
"Wow...kata-katamu itu sungguh dalam sekali Ace. Aku akan ambil kutipanmu itu untuk diriku sendiri suatu saat nanti. Aku akan catat sekarang." Oceh Trey yang langsung disenggol oleh Cinque atas tindakan antik Trey.
"Aku gagal paham maksudmu, Ace. Memangnya kau ini bicara tentang apa? Memangnya apa hubungannya dengan kau dan Deuce itu cuma seperti saudara? Aku gagal paham." Tanya Nine.
"Kalau gagal paham mending nggak usah ngomong, Nine. Kau pasang saja tampang bodohmu sampai keluar air liurmu." Ejek King yang kembali jadi bahan tertawaan, Nine hanya bisa menggerutu saja.
Sayo sejenak mengamati Class Zero. Tampak kelihatannya hampir semua laki-laki dan perempuan berpasangan, kecuali pria berkulit tan yang bernama Nine itu.
"Kulihat semuanya tampak berpasangan kecuali Nine. Memangnya tak ada satupun yang berpacaran yah?" tanya Sayo pada Kurasame.
"Mereka sama sekali tidak berpacaran, Sayo. Tapi memang kebetulan jumlah laki-laki dan perempuannya sama. 7 laki-laki dan 7 perempuan. Tapi yang nggak ikut ini ada 5 lima orang, 3 perempuan dan 2 laki-laki." Jelas Kurasame yang kemudian dianggukkan oleh Sayo tanda mengerti. Tiba-tiba saja, ia menjentikkan jarinya sendiri.
"Aha, aku punya ide." Seru Sayo sambil menjentikkan jarinya.
"Gimana kalau kita menjadikan Class Zero sebagai bridesmaid dan groomsmen untuk pernikahan kita?" usul Sayo yang sontak membuat Class Zero kaget karena tiba-tiba Sayo meminta mereka untuk menjadi Bridesman dan Groomsmen. Memangnya apa itu bridesman dan groomsmen?
"Hah, serius kau ingin meminta mereka menjadi bridesman dan groomsmen kita? Bukankah yang menjadi bridesman dan groomsmen itu haruslah orang terdekat kita?" tanya Guren yang masih tak percaya dengan ide gila calon istrinya itu.
"Iya serius. Coba lihat, jumlah mereka laki-laki dan perempuan sama. Kurasa mereka akan sangat cocok menjadi para pendamping pernikahan kita. Apalagi melihat mereka tampak masih sangat muda dan segar. Sangat pas dengan konsep kita. Kurasa akan sangat pas untuk momen pernikahan kita. Kurasame. Apa nggak apa-apa aku boleh pinjam mereka sebagai bridesman dan groomsmen kami?"
"Lho, bukannya yang jadi bridesman dan groomsmen itu haruslah orang-orang terdekat kalian? Sedangkan kalian baru saja mengenal Class Zero dan mereka bukan keluarga terdekat kalian. aku tidak yakin hal ini akan membantu." Kata Kurasame agak pesimis dengan ide Sayo tersebut.
"Sebenarnya aku juga agak khawatir dengan ide ini. Aku merasa sungkan kalau harus mengganggu jadwal sekolah kalian di Perystilium. Tapi kira-kira apa nggak apa-apa kami pinjam murid-muridmu seperti itu?" tanya Guren
"Entahlah. Aku masih belum bisa memastikan kapan jadwal mereka bakal kosong, apalagi kalian meminjam mereka satu kelas? Tapi kira-kira kapan pesta pernikahan dimulai? Kuharap kalian tidak mengadakannya pada pagi atau siang hari dalam waktu terlalu singkat. Apalagi di tempat yang jauh dari sini." Kata Kurasame.
"Jangan kuatir, kami sudah menyewa tempat kami di Ballroom Suzaku Perystilium. Acaranya dimulai sebulan lagi pada malam hari. Bukankah Ballroom di sekolah kita dulu merupakan tempat yang paling sempurna untuk berbagai acara bukan?" kata Guren semangat.
"Ah, jadi keingat kita pesta dansa untuk acara prom night saat kau mengajakku berdansa." sela Sayo ceria. (NB: ini ada di manga type 0 pas bagian alternate ending buat jaman mudanya Kurasame dimana semua karakter nggak ada yang mati. Tapi nggak tahu detailnya persis nggak sama cerita aslinya saat mereka ikut pesta dansa.)
"Ah, baiklah kalau begitu. Kalau memang kalian ingin meminjam Class Zero aku tidak masalah. Biar aku bertanya dulu dan bernegosiasi dengan Mr. Khalia soal jadwal mereka serta memastikan bahwa tak ada misi dadakan dari Perystilium untuk Class Zero sehingga mereka bisa mendampingi acara pernikahan kalian. tapi bagaimana dengan kalian sendiri, Class Zero?" tanya Kurasame pada Class Zero untuk mendapatkan persetujuan untuk dipinjamkan pada orang lain.
"Wow... sepertinya itu bakal sangat seru bisa menghadiri pernikahan seseorang. Apalagi menjadi bridesmaid. Itu sangat menyenangkan sekali. Tapi bagaimana dengan Sice-san, Seven-san, dan yang lain yang nggak ikut? Mereka setuju tidak ya?" tanya Deuce bingung.
"Kurasa tak akan menjadi masalah untuk mereka karena mereka juga belum tahu dan belum pernah menjadi bridesmaid dan groomsmen. Mungkin mereka pasti senang karena mereka bisa berdandan cantik dan tampan. Seperti aku yang paling tampan ini." Tukas Trey.
"Cih, pede sekali." cibir Cater
"Kalau Ace sendiri, Ace masih sanggup nggak bakal menghadapi keramaian lagi buat acara pernikahan temannya taichou? Apalagi menjadi groomsmen?" tanya King karena memang sedari tadi Ace hanya bisa bicara saat ada yang mengajaknya bicara. Sisanya ia hanya lebih memilih diam saja. (Sebenarnya King juga termasuk orang yang pendiam dan baru mau ngomong saat ada yang bertanya padanya. Tapi mungkin sekarang situasinya lain yah sekarang karena terasa lebih free dan jauh dari rutinitas mereka sehari-hari.)
"Kalian ini terlalu berlebihan deh. Aku membenci tempat ramai bukan berarti aku fobia tempat ramai sampai panas dingin seperti itu. Aku tidak masalah ikut ke pernikahan mereka sebagai groomsmen atau apa gitu, asalkan ada kalian aku cukup menikmatinya." Kata Ace.
'...dan juga Machina...' kata Ace dalam hati sambil melihat Machina.
"Berarti kita bisa makan-makan gratis ya, Sayo-chi?" tanya Cinque memberikan embel-embel panggilan pada orang yang lebih tua darinya.
"Tentu saja kalian bisa makan-makan gratis di sana, selama kalian bisa menjaga sopan santun dan tata krama kalian, tentu kalian bisa menikmati makanan pernikahannya. Anggap saja kita ini keluarga besar, karena kalian murid-muridnya Kurasame yang merupakan teman lama kami." Ujar Sayo, sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan panggilan baru dari Cinque, malah ia menyukai panggilan baru dari Class Zero. Seperti kakaknya saja.
"Ehem...maaf kalau interupsi. Tapi kurasa mereka agak kurang bisa menjaga tata krama dan sopan santun mereka, maksudku hanya beberapa saja yang seperti itu. Karena mereka selama ini hanya dilatih untuk bertarung saja tanpa menjalani kehidupan luar mereka selama menjadi kadet. Lagipula mereka dilatih secara eksklusif jadi mereka agak kagok kalau harus menjadi para pendamping kalian dan butuh waktu bagi mereka untuk beradaptasi." Kata Kurasame khawatir.
"Jangan khawatir, Kura-chan. Aku bisa melatih mereka untuk menjadi pendamping pengantin yang baik. Serahkan saja padaku." Kata Miwa antusias.
"Aku tak percaya ini. Untuk pertama kalinya kita diminta untuk menghadiri acara pernikahan menjadi bridesmaid dan groomsmen. Bukankah itu menyenangkan, memakai baju bagus secara serentak dengan Class Zero bagaikan putri dan pangeran." kata Rem sumringah.
"Hm. Sekalian Rem. Kita juga perlu berandai jika suatu saat kita akan memakai baju pengantin yang paling indah untuk acara pernikahan kita." kata Machina sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ih, ngarep sekali kau ini. Tapi sayang, aku nggak terlalu terbuai oleh pemberian harapan palsu darimu." jawab Rem ketus.
"Ih, kejam amat kau ini. Kalau misalnya aku beneran mau melamarmu sungguh-sungguh gimana?"
"Nggak mungkin kau mau melamarku sungguh-sungguh. Wong kau sendiri pernah bilang kalau janjimu mau menikahiku saat masih kecil itu sebenarnya bukan hal yanh serius karena kita masih kecil. Dasar Machina si pemberi harapan palsu." olok Rem.
"Oh...jadi kamu masih dendam gitu padaku gara-gara itu? Kalau misalnya aku mulai beneran mau melamarmu menjadi calon istriku gimana?" tanya Machina menggodanya namun ia sempat melirik Ace yang hanya menatap mereka enek sehingga Ace hanya bisa memutarkan bola matanya.
"Tetap aja nggak percaya." jawab Rem singkat.
"Oh ya? Ngomong-ngomong apa itu bridesmaid dan groomsmen?" tanya Nine.
"Kira-kira kamu tahu nggak artinya dari bahasa Inggris bride, maid sama groom dan men?" tanya Machina balik untuk mengetes Nine.
"Ah, gampang itu. Gue bisa kok bahasa Inggris. Kalau bride itu pengantin ya kan?" jawab Nine yang langsung dianggukkan oleh semua orang. Tapi dalam hati Nine masih kurang menyebut kata "wanita" untuk arti kata "bride" yaitu pengantin wanita. Tapi mereka tak mau menyela Nine karena tujuannya mau mengetes kepintaran Nine.
"Kalau maid itu, kalau nggak salah itu artinya pembantu ya?" anggukan dan denguan dari semua orang.
"Kalau groom itu artinya sapu." Tukas Nine lantang, semburan dari Trey karena keselek minumannya sendiri saat ia mendengar kata groom yang diartikan Nine sebagai sapu. Sontak tawa mengejek dan juga facepalm datang dari semua orang yang mendengarnya.
"Hah?! Apa lagi yang kalian tertawakan dariku, hah? Kenapa kalian hobi sekali menertawakanku?" tanya Nine tak habis mengerti.
"Nine. Groom itu artinya pengantin pria. Kalau sapu itu bahasa inggrisnya broom. Beda satu huruf saja udah beda arti." Ralat Machina
"Lha, kan cuma beda satu huruf doang yang meleset." tawar (?) Nine.
"Beda satu huruf udah beda arti, Ninesy." kata Cinque mengulang kutipannya Machina.
"Terus, bedanya apa sama bride?" tanya Nine masih bingung.
"Kalo bride itu sebutan untuk pengantin wanita, Nine. Makanya ada perbedaan pengertian untuk pengantin pria dan wanita. Semacam arti kata siswa dan siswi untuk membedakan gender." Jelas Rem.
"Lha, terus kenapa untuk arti pengantin wanita ada kata maid untuk bridesmaid tapi kok untuk pengantin pria kenapa nggak ada istilah groomsmaid, kok malah groomsmen?" tanya Nine.
"Istilah maid itu biasanya untuk pelayan wanita, Nine. Kalau laki-laki itu istilahnya men untuk kumpulan laki-laki walaupun bukan sebagai pelayan." Jelas Trey menimpali.
"Berarti kita bakal jadi pembantunya mereka ya? Bukannya kita bakal jadi maid mereka gitu?"
"Haduh, Nine. kau ini kebanyakan tanya muluk deh. Lama-kelamaan kau malah kayak Trey yang banyak ngomong, tapi versimu banyak tanya aja." Keluh King.
"Woi, ngapain bawa-bawa namaku?" protes Trey.
"WOY, DARITADI LOE JUGA BAWAANNYA NGEJEK GUE MULUK. LOE JUGA SAMA CEREWETNYA KAYAK TREY, NGERTI LOE?!"
"Kenapa sih dari tadi bawa-bawa namaku terus? Nggak lucu ah!" protes Trey semakin muak dengan kedua 'twin tower' itu.
"Emang nggak lucu. Wong karena kamu terkenal karena banyak omongnya!" Ketus King dan Nine berbarengan (tumben sekali). Sontak semuanya kembali tertawa namun kali ini Trey yang menggerutu.
"Tenang semuanya. Tugas bridesman dan groomsmen itu bukan sebagai pembantu beneran atau apapun yang hanya disuruh-suruh saja. Hanya istilah saja begitu. Tapi inti dari kedua tugas itu sebagai pendamping bagi kedua pengantin tersebut. Kalian hanya perlu membantu apa yang dibutuhkan oleh pengantin hanya selama acara pernikahan tersebut berlangsung. Tenang saja, kalian nggak harus disuruh yang aneh-aneh kok, apalagi sampai harus bawa senjata karena ini adalah acara pernikahan. Pesta pembawa kebahagiaan. Bukan pembawa malapetaka seperti yang kalian sering hadapi saat kalian dalam misi." Jelas Miwa panjang lebar layaknya seorang guru beneran.
"Ah, terima kasih banyak sudah mau menjelaskannya pada mereka. Dan maafkan aku dan mereka jika mereka...yah seperti inilah...kadang begitu memalukan sekali." Kata Kurasame sungkan.
"Ah, tidak apa-apa kok. Namanya juga anak muda, pastilah mereka sering berbuat konyol seperti itu selama mereka tidak dihadapkan pada jadwal ketat pelatihan. Kita aja sewaktu muda sering seperti itu. Apalagi Guren yang selalu bertingkah memalukan setiap harinya saat itu."
"Heh, ngapain bawa-bawa namaku segala, hah? Mentang-mentang mantan leader bisanya cuma ngomongin kejelekan para anggotanya sendiri." kali ini giliran Guren yang protes.
"Apaan sih kau?" ketus Miwa tak terima.
"Baiklah Miwa. Karena kurasa Class Zero sangat menyetujui menjadi bridesman dan groomsmen untuk acara pernikahan Guren dan Sayo, aku akan meminta ijin pada Mr. Khalia untuk mengijinkan mereka untuk dibebastugaskan dari misi rutin untuk sementara serta mengatur jadwal mereka kapan waktunya untuk belajar seperti biasanya dan kapan waktunya mereka berlatih menjadi para pendamping pengantin yang baik. Untuk pelatihan mereka dalam waktu singkat kuserahkan semuanya padamu." Serah Kurasame.
"Baik, Kura-chan. Serahkan semuanya padaku." Kata Miwa.
"Dan dalam urusan menghadapi anak-anak bandel dan pembangkang, kupikir kau yang terbaik dalam urusan itu. Aku mengandalkanmu, Miwa si Barbarian." Kata Kurasame namun dengan tatapan penuh arti pada Miwa.
"Jangan khawatir, soal itu biar aku yang bereskan. Kau hanya perlu bersantai saja, Kurasame si Ice Reaper." Balas Miwa dengan suara tak kalah pelannya juga dengan tatapan penuh arti. Mereka saling menganggukkan kepala mereka antusias.
Nine yang melihat pandangan mereka satu sama lain mulai merasa sedikit gusar.
"Oi Machina. Sepertinya aku punya firasat nggak enak nih nanti pas pelatihan menjadi pengantin pengantin dadakan itu. Sepertinya aku mencium bau tanda bahaya yang lebih mengerikan nantinya daripada saat kita diajari taichou." Bisik Nine.
"Ah, itu hanya perasaanmu saja, Nine. Kalau memang nggak mau terjadi hal yang lebih buruk dari itu ya bersikaplah lebih baik mulai dari sekarang." Saran Machina seadanya.
Yah, seperti itulah percakapan mereka saat makan-makan. Tak terasa mereka sudah kenyang. Para rombongan itu sudah tak sabar ingin mencoba seluruh wahana yang ada di Suzaku Park.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf, cuma obrolan-obrolan basi yang ada di chapter ini. Maaf kalau ceritanya masih monoton. Tapi kupastikan chap selanjutnya Ace akan mencoba menyatakan perasaannya pada Machina. bagaimana hasilnya? Tunggu saja selanjutnya.
