Warning: ada adegan yang nyaris menjurus ke rating M


Setelah makan malam mereka selesai, akhirnya para rombongan yang tidak sengaja dipertemukan dalam acara nonton film tersebut akhirnya berpencar ke ke berbagai wahana bermain. Namun sebelumnya Class Zero dan para alumni Suzaku Peristylium menaiki roller coaster dan itupun semua orang rombongan tersebut harus wajib ikut menaikinya untuk menguji adrenalin dan tidak boleh ada yang menolaknya kecuali jika ada yang sakit. Tentu saja berbagai reaksi bermacam-macam. Ada yang sangat excited seperti Cinque, Nine, dan Cater, namun ada yang juga merinding ketakutan seperti Trey, Deuce, dan juga Machina.

Di tempat duduk roller coaster yang terdepan mulai dari Kurasame-Miwa, Guren-Sayo, Machina-Rem, Ace-Deuce, Trey-Cinque, King-Cater, dan Nine-Kotetsu sebagai orang-orang sisa. Selama permainan Roller Coaster tersebut, berbagai reaksi di wajah mereka tentu berbeda-beda hingga ketika mereka turun. Wajah Trey memucat dan bergidik ngeri ketakutan sedangkan Cinque yang bersamanya justru melompat kegirangan dengan pengalaman barunya selama ini. Namun kini Nine berubah ekspresi dari yang awalnya begitu antusias kini wajahnya ikut memucat seperti Trey. Sepertinya dia mulai merasa ketakutan setelah menaikinya setelah apa yang ia alami tidak sesuai dengan ekspektasinya, malah lebih mengerikan daripada terjun dalam medang perang. King seperti biasa tidak bereaksi apa-apa setelah keluar dari area Roller Coaster bahkan saat ia menaiki Roller Coaster sebelumnya, bahkan Cater hanya bisa mengomentari kalau King kurang asyik diajak bersenang-senang. Sisanya, tentu saja mereka sangat senang. Tapi, di mana Machina?

Oh, rupanya Machina muntah-muntah di toilet terdekat setelah menaiki Roller Coaster tersebut. Wajahnya pucat pasi seketika. Memang sedari awal dia tidak pernah menyukai Roller Coaster. Walaupun dia menyukai taman bermain seperti ini tapi di antara segitu banyaknya wahana bermain yang jauh lebih aman namun tetap mengasyikkan, tapi kenapa harus roller coaster yang menjadi tempat rujukannya, pikirnya.

Sebenarnya Machina bukannya takut dengan wahana itu, hanya saja dia tidak bisa tahan jika tubuhnya harus berputar-putar bahkan sampai jungkir balik di tempat duduk roller coaster sampai kepalanya pusing. Apalagi dia sempat kepikiran dia bakal mati konyol di roller coaster seperti di film suspense thriller yang terakhir dia tonton saat masih Class Second. Hm... mungkin sama aja ya dengan takut? Yah, anggap saja seperti itu. Tapi yang pasti Machina sangat tidak suka wahana yang satu itu yang justru membuatnya pusing. Apalagi dulu sewaktu masih muda sekali, dia beserta keluarganya pernah berlibur di Milites Empire menuju wahana taman bermain Byakko Park saat itu. Dulu sang kakaknya, Izana, pernah mengajaknya menaiki Roller Coaster yang katanya sangat menyenangkan itu. Machina yang masih baru menginjak remaja kala itu hanya mengikuti saja ajakan kakaknya, mengingat usianya saat itu sudah diperbolehkan menaikinya apalagi tinggi badannya juga sesuai dengan aturan tersebut. Namun apa yang terjadi? Dia berteriak ketakutan saat dirinya seakan dilempar ke sana kemari tanpa henti sampai kepalanya pusing meskipun tempat duduknya telah dipasang sabuk pengaman sedangkan sang kakak tetap antusias menikmatinya sambil berteriak kegirangan. Alhasil, dia muntah-muntah sehabis turun dari roller coaster karena terasa pusing sehingga dia harus beristirahat sekitar 15 menit untuk menghilangkan rasa pusingnya itu akibat wahan laknat itu.

Oh, jangan lupakan Rem yang mengejeknya tidak jantan karena hal tersebut. Machina benar-benar tidak habis mengerti teman gadisnya yang kelihatannya manis tapi sebenarnya 'berbisa' ini.

Saat dia baru menyelesaikan muntahannya yang (sialnya) berasal dari makan malam bersama di food court tersebut yang akhirnya terbuang sia-sia di wastafel dan bukan di tempat pencernaannya, tiba-tiba sapu tangan tersodor di hadapannya. Saat dia menoleh...

Ternyata Ace lah pemberi sapu tangan itu. Dengan senang hati ia menerima sapu tangan tersebut di sekitar mulutnya yang tentu sudah dicuci dengan air untuk membuang sisa muntahan di mulutnya.

"Terima kasih, Ace."

"Sama-sama." Jawab Ace singkat tapi dengan senyum simpul.

"Kupikir kau sudah terbiasa dengan semua wahana permainan mengingat kau bilang kau sudah pernah ke sana sebelumnya saat kau masih kelas 2."

"Iya, memang ini kedua kalinya aku ke sini, Ace. Tapi aku sama sekali tidak pernah suka naik roller coaster. Kau sudah merasakannya sendiri kan bagaimana tubuh kita diputer-puter tidak jelas sampai kepala pusing?"

"Iya, aku sudah merasakannya. Baru pertama kalinya aku dan teman-temanku bisa merasakan hal yang luar biasa ini."

"Hah?! Kau menikmatinya?"

"Hm... aku cukup menikmatinya."

"Hah, sial! Hanya aku saja yang tidak menikmati wahana yang satu itu sampai muntah-muntah."

"Tapi jika disuruh menaiki wahana itu lagi, aku tentu saja tidak akan menerimanya lagi, karena wahana itu kurasa tidak akan membuat diriku bisa beristirahat dengan tenang."

"Hm?

"Teman-temanku Trey dan Nine sudah dalam keadaan teler setelah turun dari roller coaster. Yang paling menikmati permainan roller coaster itu cuma Cinque saja yang memang dasarnya sedikit gila. Apalagi tujuan kami sebenarnya adalah agar kami bisa melepas penat kami selama berada di Peristylium. Tapi roller coaster tidak membuat kami bisa santai malah membuat kami semakin tegang. Tidak ada bedanya dengan perang membasmi monster-monster di luar sana yang membuat kami selalu panas dingin walaupun hanya sementara saja. Kecuali kalau permainan itu lebih cocok bagi orang-orang kurang kerjaan dan gampang bosan, apalagi orang macam Cinque yang suka hal-hal aneh. Bahkan Cinque bilang ingin naik dua kali lagi sebelum dilarang teman-teman. Hehe..." cerita Ace.

"Ah, kau benar. Memang roller coaster diciptakan untuk memacu adrenalin. Tapi bagi kita para kadet yang sering berurusan dengan kemiliteran dan sering bersentuhan dengan kekerasan dan ketegangan rasa-rasanya roller coaster dan juga wahana-wahana semacamnya bukan permainan yang cocok. Kita butuh tempat yang santai dan bisa menenangkan diri sejenak. Makanya tak heran jika lokasi tempat ini terletak sangat jauh dari Suzaku Peristylium, pusat pemerintahan, dan luar perbatasan Rubrum agar tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan baik dari tempat bermain itu sendiri maupun peristylium."

"Hm. Kau benar." Tanggap Ace meniru tanggapan Machina sebelumnya.

"Lagipula... wahana itu hanya membuatku teringat pada seseorang yang kusayangi." Seketika Machina menunduk menghadap wastafel yang menjadi tempat ia memuntahkan makanannya.

"Kakakmu?"

"Hm... benar... Dialah orang yang pertama kali mengajakku naik roller coaster saat aku berumur 14 tahun dalam liburan keluarga di Milites. Walaupun dia cukup kurang ajar telah mempermainkanku saat itu, tapi dia sudah menciptakan kenanganku bersamanya saat di roller coaster." Jawab Machina datar namun Ace bisa merasakan ada nada kesedihan yang keluar dari mulutnya. Bahkan Ace bisa melihat dari samping ada pancaran kesedihan dalam mata Machina, apalagi jika Ace melihat mata Machina dari cermin toilet tampak jelas sekali ada rasa kesedihan serta trauma yang ada pada zamrud Machina yang sangat dikaguminya. Ace pun jadi ikut sedih.

"Kalau aku boleh jujur, ya. Aku takut. Aku takut naik roller coaster. Selain membuat kepalaku pening, naik roller coaster membuatku kepikiran dan dibayangi ketakutan akan kematian. Takut jika diriku, bahkan teman-teman, terlempar dari tempatnya dan jatuh ke tanah sampai mati. Aku takut sekali." Tak terasa air mata mulai berlinang dalam mata hijau itu, hendak jatuh dari pelupuk matanya.

Seketika Ace memegang pipi Machina kemudian menolehkan kepala Machina ke arahnya dan menatapnya intens.

Machina reflek menatap mata biru Ace. Seketika hatinya jauh lebih tenang setelah melihat langit biru cerah di mata Ace. Mata secerah langit itu seakan memberinya pesan kepada Machina untuk terus kuat dan menghadapi permasalahannya, seperti nasihatnya saat mereka pertama kali bertemu di chrystarium.

Ace bisa melihat, di mata hijau tajam Machina, ada kerapuhan yang dialami olehnya. Seperti daun-daun yang berguguran di tengah-tengah lebatnya hutan. Rasanya Ace ingin sekali berada di sisi Machina untuk terus menguatkannya 'pepohonan' yang berguguran itu.

Tanpa sadar, perlahan Ace mendekatkan wajahnya pada wajah Machina. Machina tidak bergerak sama sekali meskipun Ace terus mendekati wajahnya sambil terus menatapnya. Seakan terhipnotis, Machina tanpa sadar juga mulai mendekati wajahnya ke arah yang berlawanan. Tak terasa, wajah mereka semakin dekat, semakin dekat, hingga dahi dan hidung mereka saling menempel.

Kini masing-masing mereka bisa merasakan kehangatan nafas satu sama lain dari masing-masing hidung dan mulut mereka. Mereka sama-sama terbuai akan kehangatan nafas lawan mereka. Mata mereka juga tak luput saling memandangi satu sama lain. Machina bisa melihat pantulan dirinya dalam pupil mata Ace, begitu pula dengan Ace yang juga melihat pantulan dirinya dalam pupil mata Machina. Bayangan mereka sama-sama terperangkap dalam lubang hitam di tengah iris mata mereka satu sama lain.

Entah hanya perasaannya saja atau ada sesuatu yang ajaib, Machina sekilas melihat perubahan warna mata Ace dari yang biru cerah murni menjadi sedikit menghijau sebagian. Warna mata Ace kini terlihat seperti warna teal, campuran dari warna biru dan hijau. Hal yang sama juga dirasakan Ace saat ia sendiri juga melihat warna mata Machina yang hijau alami kini mulai sedikit berubah warna sebagian menjadi hijau kebiruan. Jika dilihat dari sudut pandang mereka masing-masing, bola mata mereka tampak menyerupai bumi, perpaduan corak warna biru dan hijau yang menyatu menjadi satu. Mungkinkah perubahan warna mata mereka merupakan pantulan dari warna mata mereka sendiri? Apakah seglowing itu mata mereka hingga mata mereka masing-masing bisa memantulkan warna satu sama lain?

Tanpa mereka sadari lagi, kali ini posisi mereka sudah seperti sepasang kekasih hendak berciuman karena jarak bibir mereka semakin dekat, bahkan selaput bibir mereka mulai hampir terasa. Tapi perasaan ini masih belum ingin hilang. Mereka sudah terbuai oleh sepasang mata yang mereka lihat. Entah setan apa yang merasuki mereka, wajah mereka semakin mendekat dan terus mendekat, tak peduli apakah bibir mereka sebentar lagi akan menempel. Yang mereka inginkan adalah ingin terus melihat apa yang ada dalam pupil mata lawannya. Tak terasa, pupil mata mereka mulai terus membesar seiring berkurangnya intesitas cahaya yang masuk ke bola mata mereka karena tertutup oleh bayangan mereka sendiri.

Semakin mendekat, semakin mendekat, semakin mendekat, semakin mendekat, semakin mendekat... *)

Mereka telah terjebak dalam lubang hitam kosong yang semakin luas itu di tengah cincin berwarna masing-masing hijau dan biru. Ya, bayangan mereka telah terhisap dalam lubang hitam tak berujung milik satu sama lain. Mereka telah saling memerangkap satu sama lain hingga...

Bibir mereka telah bersentuhan. Mereka akhirnya berciuman untuk pertama kalinya. Ya, inilah ciuman pertama mereka, di toilet wahana bermain.

Kini perlahan namun pasti, kelopak mata mereka mulai menutup, menandakan 'mereka' sudah terperangkap dalam mata mereka dan siap dikunci dengan kelopak mata mereka. Kini yang terlihat hanya kegelapan yang dinaungi oleh kenikmatan untuk pertama kalinya. Bulu-bulu mata lentik kini menjadi penghias mata mereka yang tertutup.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai menikmati sentuhan lembut di bibir mereka masing-masing. Tak lupa kini Ace mulai menelungkup wajah Machina. Begitu pula dengan Machina dengan satu tangan yang kini mulai memeluk tubuh Ace, sedangkan tangan Machina satu lagi menelungkup pipi Ace dan membelainya. Untunglah saat itu tak ada satupun pengunjung pria yang memasuki toilet tersebut mengingat pria jarang berurusan di toilet ketimbang wanita yang doyan ke toilet hanya sekedar untuk mempercantik diri.

Perlahan namun pasti, kecupan mulai mereka berikan terhadap bibir mereka satu sama lain. Mereka sangat menikmatinya. Untuk pertama kalinya mereka bisa leluasa mengungkapkan isi hati mereka yang terpendam. Mungkin Machina bisa terus-menerus menyangkali perasaannya terhadap Ace mengingat hubungan ini sangat tidak normal. Tapi, persetan dengan itu semua. Machina kini sudah tidak peduli dengan itu semua. Tidak peduli apakah itu cinta terlarang atau bukan. Kini yang Machina tahu hanya satu, Machina mencintai Ace sejak pandangan pertama, di chrystarium.

Begitu pula dengan Ace. Kini perasaannya terbalas sudah. Tak ada lagi kekhawatiran yang selama ini menyelimuti hatinya. Ternyata memang benar, Ace dan Machina saling mencintai. Apalagi ketika mereka saling menatap mata mereka satu sama lain. Cinta Ace tidak bertepuk sebelah tangan.

Namun tiba-tiba Machina melepaskan ciumannya. Ace sedikit tidak rela ketika Machina menjauhkan ciumannya setelah ia mulai nyaman dengan ciuman tersebut. Namun saat itu pula, Machina mulai mendorong Ace masuk ke bilik toilet dan menahannya di dinding bilik. Tak lupa pula kerlingan nakal dan seringaian Machina menghiasi wajahnya. Ace hanya terkejut dengna perlakuan seperti itu.

"Apa kamu mau kita berciuman di tempat umum, Ace?" tanya Machina pelan .

"Ah, itu... hehehe... Kupikir kau sudah selesai ciumannya." Jawab Ace malu-malu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Untuk itulah aku ingin meluangkan waktu bersamamu, di sini. Di sini setidaknya lebih aman untuk kita."

"Ya, aku tahu itu..."

"Dan untuk itu juga, aku ingin berdua denganmu. Hanya kau seorang saja. Aku ingin kau tahu perasaanku sekarang ini." seketika juga Machina mencium bibir Ace yang diterima baik oleh lawannya.

Ciuman mereka kali ini lebih intens karena disertai kuluman dan lumatan bibir. Ace refrek menarik rambut Machina karena tak kuat menahan kenikmatan ini. Machina memeluk punggung Ace dan tangan satunya mengelus kulit punggung halus namun lembab oleh keringat milik Ace di balik bajunya, semakin membuat Ace mendesah nikmat. Kini tangan Machina semakin nakal dengan mengelus perut rata namun berotot milik Ace, semakin menambah desahan Ace.

Tanpa seijin dari pemiliknya, Machina melepaskan baju Ace dari tubuhnya. Ace sontak bingung dengan tindakan Machina yang terlalu tiba-tiba.

"Ka-kau mau apa, Machina?" tanya Ace panik, namun Machina tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum saja. Setelah puas membuka bajunya yang ia taruh di gantungan toilet dan melihat tubuh telanjang Ace sejenak, Machina kemudian membuka kancing bajunya dan melepaskan kancing rompi dan bajunya satu per satu, dengan gerakan yang menggoda yang membuat Ace menelan ludahnya menahan nafsunya. Setelah semua kancing pakaiannya terlepas, Machina kemudian melepaskan bajunya dan menaruhnya di gantungan.

Ace merasa tak sanggup melihat tubuh atletis milik Machina. Meskipun tubuhnya tidak segagah bahkan absnya tidak semenonjol milik Nine dan King (dua pria tinggi menjulang itu diklaim Ace sebagai pemilik tubuh atletis karena memiliki otot tubuh yang menonjol serta abs six packs dibandingkan dirinya dan teman-temannya yang lain setelah mereka pernah berganti baju di ruang ganti. Meskipun Eight juga memiliki otot tubuh menonjol dan sedikit memiliki abs six packs karena ia memang seorang martial artist yang lebih mengandalkan kekuatan tangannya, namun karena badannya kecil membuat dia menurut Ace tidak terlihat gagah dan seksi seperti dua orang tersebut), tapi Machina memiliki dada dan bahu bidang serta memiliki otot perut rata namun absnya terbentuk sempurna. Tubuh Machina tidak kalah atletisnya dengan teman-teman jangkung lainnya. Untuk pertama kalinya Ace bisa melihat lekuk tubuh Machina yang sebenarnya setelah sekian lama Machina terus menggunakan jubah kebesarannya yang membuat Ace tidak mengerti sebesar apakah tubuh asli Machina.

Wajah Ace seketika memerah melihat ini semua. Mereka berdua sama-sama topless, apalagi tubuh mereka saling menempel.

"Machina, apa ini tidak terlalu awal untuk memulai ini semua?" tanya Ace masih memerah mukanya. Bukannya ace tidak mau melakukannya dengan Machina, hanya saja... dia tidak mau semuanya terlalu cepat. Apalagi jika mereka sudha melakukan hubungan semacam ini, Machina akan meninggalkannya begitu saja. Tidak. Ace tidak mau kehilangan Machina dan dipermainkan seperti ini.

"Bukankah kau juga menginginkan ini?" tanya Machina balik dengan senyuman nakal nan menggoda.

Ace menatap mata Machina untuk memastikan kebenaran di balik tatapan nakal itu. Sesaat Ace telah menemukan kata hati Machina.

'Percayalah padaku, Ace. aku tidak akan main-main. Aku bersungguh-sungguh akan selalu di sisimu. Aku tidak akan menyakitimu.'

Mata memang tidak bisa berbohong, ada kesungguhan di hati Machina untuk meminta Ace mempercayainya. Sepertinya Machina bisa membaca pikiran Ace akan kekhawatirannya

Seketika Ace menyunggingkan senyumannya.

"Aku tidak keberatan kalau begitu." kata Ace di mulutnya.

'Aku percaya padamu, Machina.' kata Ace di dalam pikirannya.

Ace dan Machina kembali berciuman sambil memeluk tubuh telanjang mereka.

Dan kegiatan intim mereka terus berlanjut hingga pada titik puncak mereka melakukan 'penyatuan' untuk pertama kalinya. Bisa terdengar suara desahan di dalam bilik toilet tersebut. Mungkin para pembaca bisa menebak sendiri apa yang dilakukan oleh kedua pemuda tersebut.

Setelah menyelesaikan 'kegiatan rahasia' tersebut, Ace dan Machina saling menatap mata mereka. Sekali lagi bayangan wajah mereka terpantul dalam mata masing-masing lawannya. Keduanya menyunggingkan senyum kebahagiaan.

"Terima kasih, Machina. Terima kasih karena kau telah membalas cintaku. Terima kasih." Ucap Ace menangis terharu.

"Aku juga berterima kasih padamu, karena kau telah meyakinkanku selama ini, untuk terus kuat menghadapi ketakutanku sendiri. bahkan Rem yang merupakan teman wanitaku saja belum tentu bisa melakukannya padaku seperti yang kau lakukan padaku. Kini aku yakin, bahwa kau cinta sejatiku, Ace. Aku tidak akan takut lagi pada perasaan ini. Aku tidak akan takut lagi pada anggapan negatif dari orang-orang yang tidak mengerti apa yang kita alami. Aku, aku benar-benar membutuhkanmu di sisiku, Ace. Maukah kau terus berada di sisiku, selamanya?" kata Machina juga larut dalam keharuannya.

"Aku mencintaimu, Machina..."

"Aku juga mencintaimu, Ace..."

Mereka kembali berciuman entah untuk keberapa kalinya. Ciuman ini penuh dengan kelegaan. Di tengah-tengah ciuman, mereka membuka mata mereka sejenak untuk melihat pantulan wajah mereka di bola mata bening mereka. Mereka saling menyunggingkan senyuman di bibir mereka yang menempel. Dilingkupi kepuasan, mereka menutup mata, meresapi kebahagiaan yang mereka rasakan. Setelah hampir satu menit berlalu, mereka membuka mata mereka perlahan dan mereka sekali lagi melihat masing-masing pantulan wajah mereka.

Namun tak terjadi apapun setelah hubungan intim mereka. Mata mereka terbelalak. Pakaian mereka mash utuh, tak ada satu helaipun yang terlepaskan. Mereka tidak dalam keadaan berpelukan saat ini. Mereka baru sadar bahwa apa yang mereka alami tadi itu...

.

.

.

Hanyalah fantasi liar mereka...

.

.

.

Seketika wajah mereka memerah padam karena malu telah membayangkan hal kotor tersebut dan akhirnya menghindari diri.

'Sial! Apa yang telah kulakukan? Bagaimana bisa aku membayangkan hal yang tidak patut ini tentang Ace? Bodoh bodoh bodoh!' gumam Machina dalam hati sambil memukul kepalanya.

'Ya Tuhan. Setan apa yang telah merasuki pikiranku hingga aku membayangkan diriku berhubungan intim dengan Machina? Wah gawat. Kalau kayak begini jadinya, Machina bisa ilfeel padaku. Sialan kau, Ace!' gumam Ace dalam hati sambil menutup muka merahnya.

Mereka kemudian mencuci muka mereka dengan air di wastafel masing-masing untuk memadamkan kemerahan di wajah mereka. Wajah dan sebagian rambut mereka basah oleh karena air. Mereka saling menoleh lagi, tapi sedetik kemudian mereka menghindar. Untunglah sekali lagi tak ada satupun pengunjung di sini. Benar-benar sepi.

Di depan cermin, mereka menunduk menghadap wastafel.

"Oh ya, ngomong-ngomong, Rem masih menungguku di luar?" tanya Machina memulai pembicaraan setelah mereka berdiam diri.

"Tidak, dia sudah pergi duluan bersama Deuce."

"Sial! Dia main ninggalin orang aja saat aku muntah. Benar-benar teman yang tidak setia kawan." Umpat Machina.

"Kalau teman-temanmu, maksudku teman-teman kita yang lainnya di mana?" tanya Machina sekali lagi.

"Mereka juga sudah pergi duluan ke wahana lainnya. Mereka masing-masing berpencar gitu menikmati wahana permainan lainnya. Nanti kata taichou jika sudah selesai bermain kita akan berkumpul di Sparkle Light Garden untuk menghabiskan waktu menunggu hingga kita bisa melihat Fireworks Parade itu." Jawab Ace sejujurnya.

"Ah, berarti kita sendirian dong!"

"Hm..."

Suasana kembali sunyi dalam sekejap. Bahkan sampai sekarang ini masih belum ada pengunjung lainnya yang masuk ke toilet hanya sekedar untuk buang hajat saja. Mungkin ada semacam kekuatan supranatural yang menahan mereka untuk tidak memasuki toilet tersebut mengingat masih ada dua pria yang nyaris menjadi sepasang kekasih dalam fantasi mereka.

"Ah, kenapa kita terus di dalam toilet ini, lama-kelamaan toiletnya jadi bau deh. Kita keluar aja yuk." Kata Machina.

"Ayo!"

Setelah keluar dari toilet tersebut, mereka mulai mencari tempat rujukan pertama kali. Namun sebelumnya mereka harus bersikap biasa saja seakan tak terjadi sesuatu di antara mereka agar tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka.

"Ngomong-ngomong kita mau ke mana, Machina?"

"Entahlah, tapi yang pasti aku ingin mengganjal perutku dengan jajanan yang ada setelah makanan di food court barusan kumuntahkan. Ah, sial. Gara-gara roller coaster, semua makanan yang ada di perutku malah berakhir di wastafel, bukan tercerna di perutku."

"Ahaha... kau mau kembali ke food court itu tadi buat makan lagi ya?"

"Ya nggak mungkin lah Ace. Masak makan lagi di situ? Makanan di sana lumayan mahal tauk. Lagian ntar aku muntah lagi nanti pas naik wahana lainnya. Aku mau beli jajanan ringan di sekitar sini yang enak-enak buat mengganjal perut."

"Aku boleh ikut nggak?"

"Hah?! Kau tidak akan bersama teman-temanmu?"

"Mereka sudah berpencar duluan kok. Aku kan tidak tahu mereka di mana aja. Lagian aku malu ketemu mereka yang pasti bakal bersikap norak selama di sini apalagi ini pertama kali kami ke sini."

"Emang kamu sendiri nggak norak?" tanya Machina mengintimidasi yang hanya dibalas dengan senyuman malu Ace.

"Jadi gimana? Boleh nggak aku ikut? Itung-itung aku ingin tahu jajanan apa yang kelihatannya enak?" kata Ace.

Namun Machina tahu, bukan itu alasan Ace yang sesungguhnya. Ace ingin mengikutinya karena ia hanya sekedar ingin bersamanya.

'Kau ini begitu teguh sekali dengan perasaanmu. Bahkan ketika kita berfantasi di toilet.' Ujarnya dalam hati.

Sebenarnya bisa saja ia menolaknya mentah-mentah dan lebih memilih mencari makanan sendirian. Tapi apa daya, bagaimana mungkin ia harus meninggalkan Ace sendirian di tempat ramai ini. Iya bisa memungkinkan jika Ace menemukan teman-teman lainnya di tempat lainnya. Tapi jika Ace sendiri belum menemukan mereka sama sekali bagaimana? Bisa-bisa Ace dibawa ke tempat informasi dan petugas di sana mengumumkan tentang rombongan yang kehilangan Ace atau sebaliknya, seluruh teman-temannya panik dan mencari keberadaan Ace melalui tempat pusat informasi. Dan yang pasti akhirnya dia yang bakal disalahkan oleh Class Zero karena telah meninggalkan teman paling berharga mereka. Bahkan tidak mungkin Machina membeberkan kejelekan Ace sesungguhnya yang membuat Machina semakin galau terhadap Class Zero. Toh yang rugi bukan hanya Ace saja, tapi juga dirinya. Karena dirinya sendiri juga ada perasaan terhadap Ace. dia tidak mau mempermalukan Ace maupun dirinya sendiri.

Ah, pikiran ini terus-menerus menyerang otaknya. Dia terlalu lama berpikir rupanya.

Ace sudah menunggu sedari tadi. Menunggu respon dari Machina. Machina tahu Ace mengetahui dirinya sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Baiklah. Kau boleh menemaniku ke mana saja aku pergi." Seketika bibir Ace menyunggingkan senyum senang.

"Tapi kumohon padamu, selama kita bersama jangan menggodaku ya." Saat itu juga senyum Ace memudar dan kini terpasang senyum getir.

"Ah, iya. Aku tahu itu. Maaf." Tergambar jelas kekecewaan Ace, mengingat Machina mulai merasa risih dengan dirinya. Tapi Machina tahu kalau Ace bakal sedih karena ucapannya. Entah dirinya merasa kasihan dengan Ace atau dirinya yang dasarnya plin-plan, Machina mencoba meralat maksud perkataannya walaupun sebenarnya yang ia katakan sebelumnya benar.

"Maksudku jangan menggodaku seperti yang sering Rem lakukan terhadapku. Kau tahu kan maksudku?"

"Ah, itu... ya ya ya. Aku mengerti. Tenang saja, aku tidak senakal itu kok, hehehe..." tanggap Ace namun tetap saja semangatnya masih belum muncul karena masih ada sedikit kekecewaan di hati Ace karena ia sendiri juga tahu kalau Machina hanya ngeles saja hanya untuk menghibur dirinya, apalagi kejadian di toilet itu sungguh memalukan bagi mereka.

"Hei, kenapa sedih gitu? Jangan lesu dong. Kita kan masih belum mencoba permainan lainnya." Kata Machina sambil mengacak-acak rambut pirang Ace.

"Hei, jangan acak-acak rambutku. Itu tidak sopan. Teman-temanku saja tidak berani jika sekedar menyentuh rambutku."

"Kalau aku sendiri, gimana?"

"Tetap saja tidak boleh."

"Ah, baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong jadi nggak kamu menemaniku beli jajan? Atau kau ingin berpencar sendiri?"

"Tentu saja aku mau ikut. Lagian aku masih baru dengan tempat seramai ini."

"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau kita habis beli jajan, kita pergi main Chocobo Racing ya."

"Hah?! Chocobo Racing? Apakah di sana kita akan bertemu sekawanan chocobo yang sedang balapan?" tanya Ace mendadak sumringah saat mendengar kata keramat tentang burung besar berbulu kuning itu.

"Hahaha... maafkan aku, Ace. Di sana sama sekali tak ada chocobo sungguhan. Namanya saja yang Chocobo Racing, tapi yang kau temukan di sana hanyalah sekumpulan mobil dan motor berbentuk chocobo saja."

"Ooo... gitu..."

"Lagipula sebenarnya wahana itu lebih dikhususkan untuk anak-anak, maksudku aslinya Chocobo Racing itu wahana anak-anak karena pada dasarnya anak-anak kecil suka dengan chocobo. Tapi buat orang dewasa seperti kita juga diperbolehkan kok. Ntar ada wahana Chocobo Racing yang khusus untuk orang dewasa penyuka chocobo macam kita."

"Tidak masalah! Mau wahana anak-anak kek, bukan kek, yang penting ada chocobo di sana. Bahkan tak peduli itu chocobo asli atau palsu, yang penting ada unsur chocobonya." Ujar Ace dengan mata berbinar-binar.

"Hahaha... kau ini benar-benar gila chocobo ya. Yosh! Baiklah! Nanti kita bakal main di tempat-tempat yang ada chocobonya. Asalkan bukan wahana yang bikin kepala pusing ya."

"Tidak masalah! Aku ngikut kamu aja deh. Kan kamu yang tahu ada apa aja di sini karena kau sebelumnya sudah pernah pergi ke sini."

"OK kalo gitu! Ayo kita berangkat dan cari jajanan enak-enak!" seru Machina kemudian merangkul Ace menuju tempat yang akan mereka tuju. Hubungan mereka saat ini masih terlihat sah-sah saja. Tak ada yang aneh dengan ini semua. Mereka sepertinya sudah melupakan kejadian di kamar mandi barusan.

.

.

.

.

.

TBC


NB

Sori ya buat para pembaca yang merasa di PHP in dengan adegan mesra MachiAce. Soalnya mau melakukan sedikit pemanasan terlebih dahulu sebelum akhirnya fanfic ini benar-benar ditingkatkan ratingnya menjadi M. dan itu masih butuh proses yang sangat panjang. Jadi harap bersabar dan slow down dulu ya.

*) Bayangkan jika bola mata mereka di zoom in hingga masuk ke pupil yang hitam gelap, seperti di film-film