Beberapa kali Baekhyun katakan, dia benci terlahir sebagai si bungsu. Mungkin orang berkata menjadi bungsu itu memiliki banyak keuntungan. Seperti mendapat kasih sayang berlebih dan bisa mendapat banyak perhatian karena menjadi termuda. Bayangannya, Baekhyun tidak akan pernah repot-repot membuat langkah kakinya tergerak untuk melakukan sesuatu ketika orang dewasa memerlukan bantuan. Tapi kenyataan selalu memiliki jalannya sendiri.
Sudah semestinya Baekhyun menggerutukan banyak hal kala menjadi si bungsu memberinya banyak beban. Contoh nyatanya adalah sekarang, dia harus berdiri dengan tubuh terlilit jaket tebal di tengah kerumunan orang di sebuah pintu kedatangan Incheon Airport. Seharusnya Baekhyun sedang melingkupkan diri di bawah selimut bersama gulingnya, bukan termangu di bandara untuk menunggu kedatangan seseorang yang secara khusus meminta Baekhyun datang.
Sekian menit terlewati, kekesalan Baekhyun menunjukkan sebuah hasil ketika sosok berambut pirang panjang dengan boot kulit di kakinya berjalan layaknya selebriti. Beberapa pasang mata seketika menyapu bersih jejak tak kasat mata si sosok pirang, tapi Baekhyun lebih suka mendengus kesal dengan wajah yang tak bersahabat.
"Baekhyun!" Tubuhnya dipeluk erat, tercium sedikit aroma wine dari si wanita itu. "Long time no see, brotha! How are you?"
"Masih menjadi anak bungsu yang patuh." Jawab Baekhyun asal. "Baekhee, bisakah kita langsung pulang? Aku hampir mati kedinginan karena menunggumu."
Byun Baekhee, sulung keluarga Byun dengan sejuta pesona dan kemolekan dalam dirinya. Tersusun dari material dan gen cukup bagus hingga mampu menembus gelar magister sampai ke Jerman. Entahlah, gaya macam apa yang digunakan ayah-ibu hingga Baekhee selalu menjadi yang terdepan dalam prestasi.
Sekian tahun di Jerman membuat Baekhee banyak mengalami perubahan dalam segi penampilan. Yang paling mencolok adalah rambut dan cara berpakaian. Pirang menjadi ciri khasnya dan tubuh yang sedikit berisi tak pernah menanggalkan jenis-jenis pakaian sexy.
"Call me Nath. Natasha."
Baekhyun hanya memutar matanya kesal. Jika jiwa bule Baekhee keluar, Baekhyun ingin sekali enyah dari sini.
Baekhee dan Baekhyun terpaut usia 5 tahun, tapi dari segi fisik mereka tidak jauh berbeda. Mungkin gen tinggi badan yang diturunkan ayah-ibu tidak berkembang sempurna hingga Baekhyun dan Baekhee tidak memiliki tinggi proporsional.
"Baekhee, Baekhee noona." Baekhyun sengaja mengulangnya dan membuat Baekhee seketika menggertak kesal. "Sebaiknya kita pulang. Aku amat sangat kedinginan."
"Mau ku peluk? Aku punya payudara besar yang bisa menghangatkanmu, brotha."
"Sial! Aku tidak suka sumpalan!"
"Hey, ini asli!" Baekhee menarik tangan Baekhyun dan mengarahkan tepat pada dadanya. "Remas kalau tidak percaya."
Mereka masih berada di keramaian bandara, tapi Baekhee memiliki tingkat ke-dungu-an cukup tinggi melupakan budaya luar yang berbeda dengan Korea. Meski mereka saudara, tapi orang tidak bisa mengerti secara terperinci jika yang sekarang Baekhyun sentuh adalah milik kakaknya sendiri. Baekhyun yakin betul jika orang-orang sekarang sudah berpikiran buruk padanya.
"Akan ku remas sampai kau pingsan saat di rumah." Gumam Baekhyun asal sambil menarik tangannya. "Ayo pulang!"
.
"Ayah dan Ibu sedang ke Thailand. Mereka baru pulang dua minggu lagi." Kata Baekhyun ketika separuh jalan menuju rumah terlewati. "Jangan berbuat macam-macam saat di rumah. Kau berada di Korea, bukan di Jerman."
"I know, brotha."
"Pesananku kau belikan?"
"Hm. Yang terbaik dan yang terbesar."
Senyum Baekhyun tercetak lebar. Baekhee itu sebenarnya kakak yang baik. Dia selalu menuruti apa saja permintaan Baekhyun meski itu harus membuatnya kehilangan separuh uang jajan.
"Coba lihat." Baekhee merogoh sebentar isi tasnya, mengeluarkan sebuah kotak putih dengan isi benda panjang berwarna pink. Lalu yang terjadi setelah itu adalah Baekhyun yang menginjak pedal rem kuat-kuat ketika yang tertampung dari sebelah tangannya adalah benda kenyal nan panjang. "Byun Baekhee! Aku memintamu membeli pisang, bukan alat bantu sex!" Dildo.
Emosi Baekhyun meluap-luap.
Tiga hari sebelum kepulangan Baekhee, Baekhyun meminta kakaknya itu untuk membeli pisang khas Jerman. Tujuannya untuk ia jadikan bahan melukis saat ujian bulanan di jurusannya tiba. Tapi Baekhee kembali dengan ke-dungu-annya dengan membelikan Dildo. Dan berwarna hot pink.
"Mana enak bermain dengan pisang? Aku membelikanmu ini secara khusus. Lihat, getarannya saja berbeda." Baekhee menyalakan suatu tombol dan benda itu bergetar. "Cocok untuk lelaki gay sepertimu." Lalu Baekhee mendekatkan Dildobergetat itu pada pangkal paha Baekhyun yang terbungkus celana dan tertawa puas saat Baekhyun mulai tegang.
"B-baekhee.."
"Ini akan berguna saat kau sedang ingin."
"Ingin apa?!" Nada Baekhyun naik satu tingkat.
"Ingin dimasuki, mungkin?"
"Dasar mesum! S-siapa yang ingin memasuki?"
"Entahlah. Tapi aku ingin kau belajar dulu dengan alat ini sebelum kau mendesahkan nama kekasih yang akan memasukimu."
Baekhee kembali tertawa puas kala adik semata wayangnya itu menggeram kesal dengan semburat merah di pipinya.
.
Dildo.
Bukan benda asing sebenarnya. Baekhyun pernah melihat benda ini di sebuah toko online. Hanya saja Baekhyun tak tahu cara menggunakannya bagaimana.
Cukup besar, kenyal, dan getaran yang dibuat memiliki tingkatan yang berbeda.
Di dalam karton pembungkus ada petunjuk pemakaian. Beruntung menggunakan bahasa inggris, bukan bahasa jerman. Jadi Baekhyun bisa menherti sedikit-sedikit poin dari penggunaan alat ini.
Baekhyun juga sempat melihat referensi video dari internet bagaimana menggunakan dildo untuk pria. Dari banyak video dan testimoni yang ada, kebanyakan menyimpulkan jika alat ini cukup berguna dari pada menggunakan jari.
Takut-takut Baekhyun menyalakan alat itu, mengatur pada getar sedang dan menyelipkan pada celana bagian belakang. Kepalanya sontak mendongak, merasa sengatan ini nyata terasa dan membuat darahnya berdesir. Segera ia melepas pelapis bawah tubuhnya dan melihat batang miliknya mulai bereaksi tegang.
Baekhyun memulai rasa penasarannya dengan cukup menggila. Dia tidak sabar bagaimana jika didol ini menembus lubang senggamanya dan bergetar cukup hebat di sana. Tapi sebagai pemula, Baekhyun tidak ingin terlalu terburu dan melupakan fakta jika ditusuk itu rasanya sakit. Maka dengan keadaan telanjang bagian bawah, Baekhyun menyentak kamar mandi pribadinya dan mencari sesuatu sebagai pelicin. Sayangnya botol putih yang berisi sabun itu tidak lagi berisi, oleh karena itu Baekhyun segera menuju kamar Baekhee di seberang dan menuangkan sabun cair.
Sebelumnya Baekhyun sempat menarik napas panjang, meyakinkan diri jika ini tidak akan lama karena Baekhyun hanya ingin mencoba. Diliriknya sebentar Baekhee yang sedang terkapar di ranjang, kemudian melumuri didol itu dengan sabun di telapak tangan.
Sentuhan pertama membuat Baekhyun cukup melayang. Ujung dildo itu berada pada pintu masuk, yang mana sudah bisa terasa kenikmatannya dari sekali sentuh. Perlahan tapi pasti, Baekhyun mulai menungging di dekat pintu kamar Baekhee. Matanya terpejam jarang-jarang, menikmati tiap inci daging dalam lubangnya yang mendapat getar dari didol.
"Ah..." desahan kecil lolos. Baekhyun merasa benar-benar dibuat melayang meski hanya bermain dengan benda yang sengaja Baekhee beli dari Jerman.
Keadaan seperti ini membuat Baekhyun mulai meliarkan fantasinya.
Bagaimana jika dildo ini adalah batang berurat milik seorang sunbae yang sudah lama merebut perhatiannya?
Sial! Membayangkan saja Baekhyun jadi semakin bernafsu.
Namanya Park Chanyeol, salah seorang mahasiswa akhir di jurusan Baekhyun dengan segala jenis ketampanan di wajahnya. Tubuh tinggi nan proporsional yang dimiliki Park Chanyeol selalu membuat Baekhyun lepas fantasi. Otaknya yang penuh sampah kemesuman memiliki respon bagus dan menjadikan imajinasinya berkembang bebas tentang kenikmatan bercinta.
Chanyeol yang mulai menusuk, menggerakkan pinggulnya dengan kencang, dan Baekhyun yang terkapar lemah dengan desahan beruntun karena kenikmatan yang diperoleh. Semua itu dalam imajinasi Baekhyun dan dia cukup puas memiliki hal itu sebagai referensi mengoyak penisnya sendiri.
Gila! Ini gila!
Getaran pada dildo itu Baekhyun naikkan, membuat tubuhnya meliuk-liuk dengan kecepatan tangan yang sebanding. Baekhyun rasa dia mencapai puncak. Sebentar lagi dia akan berterima kasih pada Baekhee yang sudah memberinya alat emas ini. Tapi sebelum Baekhyun memperoleh kebasahan seutuhnya, dia terpaksa mendongakkan kepala lebih tinggi untuk seseorang ber-coat coklat yang menjulang di hadapannya.
"C-chanyeol sunbae?"
Semuanya terhenti. Hanya getar pada didol yang terus bergerak.
"Oh?"
"C-chanyeol sunbae..."
Baekhyun harap semua hanya sambungan konyol dari imajinasinya saja. Bukan sosok nyata Park Chanyeol yang muncul dan menelusuri ketelanjangan Baekhyun yang menungging di lantai.
Sontak Baekhyun menegakkan tubuhnya, terlihat linglung dengan keadaan yang terlalu tiba-tiba ini.
"A-aku.." Baekhyun menjangkau penisnya yang masih menegang, menutup semampunya agar Chanyeol tidak melihat. Tapi sebenarnya percuma, Chanyeol sudah melihat dan mengetahui segalanya. "S-sunbae..."
"Kau Byun Baekhyun, kan?"
"I-iya.."
Chanyeol tersenyum kecil, seakan tidak melihat jika didepannya ada adik kelas setengah telanjang. "Baekhee tadi mengatakan untuk langsung masuk saja. Jadi..aku masuk."
"O-oh.."
Sial! Sial! Keadaan canggung ini!
"Baekhee, ada?"
"A-ada. B-biar ku bangunkan."
Pertanyaan seputar mengapa Chanyeol sunbae bisa berada dirumah? sejenak tertutup oleh rasa canggung yang melingkup. Baekhyun tak peduli apapun kecuali harga dirinya yang sudah setengah telanjang dengan penis menegang.
"Baekhyun?"
Baekhyun sontak berbalik setelah beberapa langkah menuju ranjang Baekhee. "I-iya, sunbae."
"Dildo-nya masih tertancap."
"Oh?"
Shit!
"Mau ku bantu melepasnya?"
Double shit!
.
.
.
TBC
Basyot : behahahahahaahahahahahahahaahah
