"Baekhyun!"
Dari kejauhan Baekhyun bisa melihat jelas sosok yang melambai padanya itu adalah Park Chanyeol. Tinggi tubuhnya yang menjulang serta up-hair yang khas menjadi sesuatu yang selalu Baekhyun rekam jelas dalam ingatan.
"Sunbae."
"Sudah makan siang?" tanya Chanyeol dengan napas masih tak teratur karena berlari menghampiri Baekhyun. "Mau makan siang denganku?"
"O-oh? B-belum."
"Makan denganku, ya? Aku lapar."
"B-baiklah."
"Baekhyun," Dagu Baekhyun di tarik, sedikit mendongak untuk dipaksa menatap kelam mata Chanyeol.
"Berhenti berbicara gugup di depanku, oke?"
Semburat itu kembali muncul; menunjukkan sebuah reaksi malu karena Chanyeol memberi kemanisan dalam perlakuannya. "Baiklah."
"Kalau begitu lihat aku lagi."
Malu-malu Baekhyun mengangkat kepala, kembali menatap Chanyeol yang kini tersenyum begitu tampan. Belum pernah Baekhyun merasa sebahagia ini ketika melihat wajah seseorang.
Cup!
"S-sunbae.. ini ketiga."
"Hm?"
"Ketiga kali kau menciumku."
"Mulai sekarang jangan dihitung. Karena kau akan lelah menghitung banyak ciumanku untukmu."
.
Chanyeol dan segala eksistensinya selalu mencuri perhatian Baekhyun. Sejak awal masuk kuliah Baekhyun sudah mengamati gerak-gerik sang kakak angkatan yang menurutnya layak diberi predikat kakak kelas favorit. Setiap hari Baekhyun akan duduk di salah satu bangku bawah pohon di kampus, mengamati seorang lelaki yang mengalungkan kamera di leher dan berinteraksi dengan sekitarnya bersama senyum yang lebar. Dalam pandangan lain itu terlihat biasa, tapi Baekhyun menilainya sesuatu yang serupa oksigen. Dia harus melihat atau dia akan sekarat jika tidak melakukannya.
Pernah Baekhyun mencoba untuk berhenti memperhatikan. Dia mengalihan fokus pada hal lain karena dia rasa tidak akan ada feedback apa-apa jika terus seperti itu. Baekhyun hanya akan menjadi pemerhati sedang yang diperhatikan terlalu sibuk menanggapi para wanita ber-rok pendek. Pikirnya, sudah sepantasnya lelaki populer seperti Park Chanyeol menikmati kelebihan dirinya untuk menggaet siapapun. Dan karena itu, Baekhyun akan mundur perlahan sebelum dia terjebak terlalu dalam.
Sayangnya Baekhyun adalah penggambaran sosok yang tidak pernah berpendirian teguh. Dia serupa ranting ringkih yang akan ikut kemana angin menerpa. Dan angin dalam situasi Baekhyun kala itu adalah dirinya yang terlalu sulit melepaskan atensi pada Chanyeol. Bahkan sesekali Baekhyun memberanikan diri mengabadikan beberapa momen dengan kamera lalu mencetak semua yang ia bidik dan tersenyum puas dengan wajah tampan dalam foto itu.
Benar, Baekhyun itu labil. Sekali waktu dia berkata akan melupakan. Tapi tak jarang dia menjerumuskan dirinya sendiri dalam kubangan perasaan yang lebih dalam.
Dari kakak angkatan favorit menjadi pacar idaman. Terlalu jauh, bukan? Tapi biarlah.
Meski bagitu Baekhyun sadar, dirinya yang berantonim dengan straight hanya akan memiliki satu sisi rasa pada Park Chanyeol yang sepertinya lebih menyukai buah dada. Dia cukup puas menyukai Chanyeol dari jarak jauh, tak mengharap satu balasan apapun meski Baekhee mengatakan selalu ada peluang untuk hal itu.
Baekhee pernah berkata 'Jangan persempit definisi rasa suka hanya sebatas gender. Karena hati tidak melihat seorang wanita memiliki payudara yang kenyal atau lelaki memiliki penis yang besar.'. Analogi Baekhee terlalu ekstrem, tapi Baekhyun bisa menangkap maksudnya. Beruntung Baekhyun memiliki kakak seperti Baekhee yang bisa mengerti bagaimana sistem rasa suka manusia zaman sekarang.
Dan seiring dengan berjalannya waktu serta restu semesta yang sudah ia dapat, kini Baekhyun bisa merasakan kebenaran dari ucapan Baekhee tentang definisi rasa suka. Dia yang tidak pernah mengharap apapun tentang balasan sebuah rasa justru mendapat sesuatu lebih besar dari itu. Park Chanyeol bersamanya, duduk dalam jarak yang dekat dan bahkan ada suatu pernyataan yang tidak Baekhyun duga.
Tapi tidakkah itu terlalu tiba-tiba?
.
"Baekhyun-aa,"
"Iya, sunbae?"
"Kau dan Baekhee sangat dekat, ya?"
"Ya, karena dia kakakku."
"Wajah kalian juga mirip. Aku seperti melihat Baekhee versi rambut pendek. Tapi kau lebih cantik."
"Aku lelaki, sunbae."
"Ya, aku tahu. Hanya saja kau berbeda."
Setelah makan siang, Baekhyun dan Chanyeol memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang yang ada di salah satu sudut Baekhyun mengajak Chanyeol untuk duduk di perpustakaan. Dia butuh membaca beberapa buku untuk ujian minggu depan. Tapi melalui rengekan yang Baekhyun katakan itu sangat lucu sekali, Baekhyun pasrah dengan ajakan hanya meminjam buku di perpustakaan dan membacanya di bawah pohon.
"Kau tidak sedang berpikir jika aku ini Baekhee, kan?"
Kenyataannya, Baekhyun terlalu takut dengan kedekatan yang tiba-tiba ini ada maksud tertentu.
Tidakkah ini terlalu cepat mengatakan perasaan suka setelah sebelumnya Baekhyun sangat tahu hubungan apa yang terjalin antara Chanyeol dan Baekhee? Baekhyun saja butuh waktu menerjemahan perasaannya pada Chanyeol dahulu, tapi Chanyeol seperti kilat yang langsung menyambar dengan umbaran kata suka dari bibirnya kepada Baekhyun.
Ketakutan ini selalu Baekhyun tepis, dia terlalu berbahagia dengan pernyataan Chanyeol sehingga melupakan fakta jika hati juga butuh logika untuk bekerja sama.
"Aku dan Baekhee dua orang yang berbeda, sunbae." Pelupuk mata Baekhyun mendadak panas, hatinya sedikit ngilu. "Aku bukan Baekhee. Jangan samakan kami."
"Aku tidak pernah mengatakan kalian sama, Baekhyun. Kalian berbeda, sangat berbeda."
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Baekhyun menutup bukunya, menatap Chanyeol langsung dengan matanya yang sayu. "Apa..apa...aku hanya pelarian?"
"Maksudmu?"
"Sunbae, aku tahu popularitasmu seperti apa. Aku juga tahu hubunganmu dengan Baekhee seperti apa. Aku tahu semuanya."
Chanyeol berdecih, "Kau tidak tahu semuanya, Baekhyun sayang."
"Sunbae, jika memang aku adalah pelarian karena Baekhee memutuskanmu, itu sungguh kenyataan yang buruk. Aku akan sangat membencimu."
"Kenapa berkata seperti itu? Hm?"
"Aku..aku.."
"Kau meraguanku?"
Baekhyun tak menjawab, dia justru menunduk untuk menyembunyikan pelupuk matanya yang mulai berlinang. Sebenarnya Baekhyun adalah anak yang ringkih hati, dia mudah menangis untuk sesuatu yang berkaitan dengan hatinya. Terlebih menyangkut seseorang yang selalu ia simpan sebagai pemicu detak jantuk yang memburu, Baekhyun terlalu tipis kekuatan jika berhubungan tentang perasaannya pada Chanyeol.
"Baekhyun, jawab aku."
"Aku..aku.."
"Kau meragukanku? Hm?"
Dagunya ditarik, tapi Baekhyun tak leluasa menatap Chanyeol dan memilih memejamkan mata bersama airmata yang berusaha ia tahan. "Wajar jika aku memilikinya,sunbae."
"Jangan memiliki pikiran seperti itu, kumohon," air matanya di usap oleh Chanyeol, "Berhenti menitihkan air mata karena aku lemah untuk itu." lalu sisa kebasahan di pipi Baekhyun itu mendapat kecup panjang oleh Chanyeol. Bibirnya berasa di sana, merasakan bagaimana air mata itu mengucur karena keraguan yang disimpan oleh Baekhyun.
"Sunbae, kita bisa hentikan sampai sini. Aku bukan orang yang tegar jika nanti pada akhirnya aku menemui kenyataan tentang perasaanmu yang sebenarnya. Dan kenyataan itu adalah pikiran terburukku."
"Baekhyun,"
"Pikirkan kembali tentang pernyataanmu waktu itu. Jika sudah, kau bisa datang padaku dan katakan yang sebenarnya. Jangan berbohong."
Baekhyun lalu pergi dengan cara yang dramatis. Air matanya masih belum menginginkan berhenti dan dia butuh berlari karena pikirannya yang buruk. Ketakutannya tentang kebenaran dari perasaan Chanyeol berperan besar mengoyak pertahanan. Tentu yang terburuk lebih berkuasa, mengatakan pada seluruh sukma diri Baekhyun jika Chanyeol hanya bermain ketika Baekhyun menganggap serius.
.
.
TBC
Basyot : Halooooooo balik lagi setelah sekian lama mengurung diri di botol. Chap ini ngetiknya sambil baper, gak tahu apa yang dibaperin tapi bawaannya melow melulu dari pagi T.T
Tapi kalian jangan baper ya? Kan lagi malam minggu hehe...
Btw, Ayoung gak akan berhenti bilang terima kasih buat yang baca, review, fav, dan follow. Terima kasiiiihhh sekali. Review kalian bener2 moodboster hehe..
