"Kau menangis?" adalah apa yang Baekhee tanyakan ketika pintu utama terbuka.
Adik lelaki kesayangannya itu mengerucutkan bibir, menggeleng banyak-banyak dengan alis yang bertaut. "Lelaki mana boleh menangis."
Setelah itu Baekhyun segera berlari menyusuri tangga, masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggiran ranjangnya. Apa yang dia lakukan beberapa waktu lalu mau tidak mau mengorek rasa malu hingga ke akar. Perasaannya yang terlalu tipis membuat Baekhyun bertindak seperti anak gadis putus cinta.
Sadar tindankannya itu memalukan, lantas Baekhyun mengusak kasar rambutnya dan mengutuk segala kesensitifan dirinya.
Belum sempat dia selesai dengan rasa malu, Baekhee sudah muncul dengan gurat kekhawatiran beserta langkah lebar-lebar mendekati Baekhyun. "Siapa yang membuatmu menangis?"
"B-baekhee.."
"Katakan!" wajah Baekhee memerah karena kemarahan.
"B-baekhee.."
"Jawab, Baekhyun!"
"IYA AKU JAWAB TAPI JANGAN INJAK KAKIKU!" ringisan di wajah Baekhyun itu sontak membuat Baekhee melihat ke bawah dan betapa malang nasib kaki Baekhyun yang terinjak oleh heels yang membungkus kaki Baekhee. "Sakit tau!"
"Oh? Sorry, sorry."
"Aku tidak menangis!" sergah Baekhyun. "Matamu saja yang salah lihat."
"Baekhyun, bukan setahun-dua tahun aku menjadi kakakmu. Aku tahu betul dari hidungmu yang memerah."
"Merah sekali, ya?"
"Jadi benar kau menangis?" Baekhee mendesak. Wajahnya yang biasa ia buat terlihat seperti bule modern kini berubah menjadi serius. Layaknya seorang kakak yang turut terluka ketika adik kesayangannya disakiti. "Siapa? Chanyeol? Apa yang dia lakukan padamu?"
"Noona, apa aku salah jika meragukan Chanyeol yang tiba-tiba ingin pacaran denganku?"
"Kalian pacaran?!"
"Belum, sih. Tapi dia bilang ingin jadi pacarku, dan aku ingin pendekatan dulu. Aku merasa aneh. Dia terlalu cepat setelah kau memutuskannya. Aku hanya takut menjadi pelarian saja."
Tundukkan kepala Baekhyun kembali dilakukan, dilema dalam dirinya masih tersisa dan itu sedikit buruk untuk perangainya yang mencoba tegar. Setidaknya dilema ini ada ketika belum ada sesuatu yang menyatakan resmi dalam suatu hubungan daripada nanti Baekhyun menyesal dengan kenyataan buruk dari hati Chanyeol yang sebenarnya.
"Astaga!" Baekhee mencengkeram pundak adiknya untuk berbicara dalam kedekatan seorang saudara kandung, "kenapa tidak cerita?"
"Aku..aku takut kau akan marah."
"Me?" Baekhee menunjuk dirinya, tawa menggelegar itu lantas terdengar dan Baekhyun mengernyit heran. Baekhyun tahu jika Baekhee memang ajaib, tapi ini bisa masuk kategori gila karena tertawa lantang ketika mantan pacarnya meminta pacaran dengan adiknya sendiri. "You must be crazy, brotha!"
"Bagaimanapun Chanyeol itu mantan pacarmu dan kalian baru putus."
"I know. Tapi aku tidak sedih jika itu yang kau khawatirkan. Aku sudah pernah bilang, bukan, jika aku tidak cinta dengan Chanyeol. Dan asal kau tahu, Baekhyun, hubungan kami tidak seserius yang kau kira." Baekhee lalu menyisihkan rambut liar di depan dahi adiknya, mengusak lembut dua alis Baekhyun bersama senyum yang terukir manis. "Baekhyun, sebenarnya Chanyeol juga tidak cinta denganku."
Kenyataan macam apalagi ini? Kenapa mereka berdua mudah sekali mengatakan tidak cinta dalam hubungan yang mereka katakan pacaran?
"Begini, aku sudah banyak berbicara pada Chanyeol. Aku mengatakan semuanya tanpa pernah ada bagian yang ku kurangi."
"Termasuk ukuran penis?"
"Y-ya. Itu juga ku katakan. Aku menceritakan semuanya, kejujuran yang seharusnya tidak ku permainkan dalam hal ini. Dan Chanyeol menerima semua itu."
"D-dia tidak marah? Maksudku—"
"Sama sekali tidak. Dia bahkan senang hubungan ini diakhiri karena Chanyeol.."
"Chanyeol?"
"Kau tanya dia sendiri saja."
Lalu rengekan Baekhyun mengacau keseriusan yang terbangun. Dalam hal ini sifatnya sebagai anak bungsu mulai keluar, terlebih pada Baekhee yang sejak kecil tidak pernah protes pada sifatnya yang manja. "Baekhee, noona, katakan ada apa?"
"Tanya sama Chanyeol sendiri. Biar kau tahu kenyataan yang sebenarnya."
Baekhee kemudian pergi dengan siulan-siulan tidak merdunya, meninggalkan Baekhyun dengan tumpukan penasaran dalam hatinya. Sedikit banyak Baekhyun berbaik sangka dengan gantungan kalimat Baekhee, ada peluang tentang keseriusan Chanyeol menjalin hubungan dengannya. Tapi Baekhyun tak mau terlalu terjerat kemanisan itu, dia memilih bertahan meski rasanya gatal untuk mengetahuinya sekarang juga.
"Baekhyun!" teriak Baekhee dari lantai bawah, "Ada tamu! Buka pintunya. Aku sedang repot."
Baekhyun lalu turun dan melempar bantal sofa pada Baekhee yang tengah memperbaiki make-up nya di ruang tamu.
"Kau lebih dekat dengan pintu kenapa menyuruhku!" protes Baekhyun.
"Kau tidak lihat aku sedang apa?"
"Dasar bule gila!"
"Hai, Baekhyun." adalah sapaan yang membuat Baekhyun mematung kala pintu itu ia buka. Sipit matanya bertahan dalam keterpakuan kala senyum manis di hadapannya itu suatu eksistensi yang nyata.
"S-sunbae?"
.
Mereka kembali diam ketika mobil itu melaju membelah keramaian jalan. Mereka, Baekhyun dan Chanyeol, tidak memiliki pembicaraan yang pasti karena belum ada sepakat untuk mengakhiri kekecewaan yang terlanjur menggerogoti Baekhyun.
Kemunculan Chanyeol dan ajakannya ke suatu tempat nyatanya tidak bisa Baekhyun tolak. Dia berpasrah pada apapun ketika Chanyeol menuntunnya masuk ke dalam mobil dan mereka pergi entah kemana.
"Kita akan kemana?" Baekhyun membuka suara terlebih dahulu, tapi Chanyeol tidak memberi jawaban yang pasti hingga akhirnya mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah pelataran rumah.
"Ini rumahku, nantinya juga bisa kau anggap sebagai rumah."
Masih dalam kepasrahannya, Baekhyun hanya diam ketika Chanyeol membawanya masuk dan bertemu pintu jati tinggi di dalam rumah. Kesimpulan yang bisa Baekhyun tangkap dari rumah Chanyeol adalah kesederhanaan yang terlihat anggun. Dalam hal ini Baekhyun bisa berpendapat jika Chanyeol berasal dari keluarga berada yang tidak menunjukkan kekayaan dalam bentuk fisik.
"Masuklah, ini kamarku."
"S-sunbae mau kemana?"
"Aku ambil minum dulu."
Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun mulai memberanikan diri membuka pintu jati bercat putih itu.
Tidak ada yang istimewa dari pandangan pertama Baekhyun tentang isi kamar seorang laki-laki. Tak jauh berbeda dengan kamar Baekhyun di rumah, hanya ada beberapa barang inti di dalam sebuah kamar. Tempat tidur, lemari, meja, lampu, semuanya sama. Yang membedakan hanya ada satu set drum di sudut kamar dengan inisial YEOL pada salah satu bagiannya.
Kamar Chanyeol ber-cat abu-abu, beberapa poster musisi legendaris dunia terpasang, dan..
"Oh?"
Ada satu bagian tembok yang tidak ber-cat abu-abu. Bukan terbalut warna lain, tapi potret seseorang dalam berbagai posisi yang terjajar rapi hingga memenuhi hampir satu bagian tembok itu.
Baekhyun kembali terpaku, merasa semesta terlalu mudah mempermainkan perasannya dari kecewa menjadi terkesan. Apa yang kini ia lihat bukan penggambaran orang lain, melainkan dirinya sendiri dari berbagai sudut.
"Kapan dia mengambil semua ini?"
Baekhyun meneliti satu persatu. Semua yang tertempel di sana seperti di ambil dari sudut yang tak Baekhyun sadari. Di dalam kelas, di foodcourt, perpustakaan, dan banyak tempat lain yang biasa Baekhyun kunjungi sewaktu di kampus.
Semua ini membuatnya kebingungan. Sosok Chanyeol terlalu misterius untuk ditentukan bagaimana karakter sesungguhnya. Kisah cintanya dengan Baekhee, lalu foto-foto yang memenuhi tembok ini, Baekhyun butuh penjelasan agar tidak dirinya sendiri yang merasa kosong.
"Kau suka?" Lalu dua lengan itu tiba-tiba melingkar di sekitar perut Baekhyun. Tidak perlu berbalik Baekhyun sudah tahu milik siapa. "Targetku memenuhi semua tembok kamar dengan fotomu. Tapi ku rasa akan butuh waktu lebih lama. Jadi aku memutuskan untuk satu bagian saja yang ku penuhi."
"S-sunbae.. kau mengambil semua ini?"
"Ya. Kau bisa mengatakan aku seorang maniak atau apapun. Setiap hari aku mengikutimu, mengambil setiap gerak yang kau lakukan dan menempelnya di sini."
"Kau membingungkan, sunbae."
"Aku sendiri juga bingung dengan diriku." Chanyeol menarik diri, menegakkan tubuhnya lalu memutar tubuh Baekhyun untuk berhadapan langsung dengannya. "Awalnya ku kira aku..straight."
"Kelihatannya memang seperti itu. Teman wanitamu banyak dan kau bahkan mengirimkan foto penismu pada Baekhee."
"Baekhee menunjukkannya?!" Baekhyun mengangguk, "Dasar bule bocor!"
"Sunbae, aku serius dengan keraguanku." Baekhyun membawa topik itu lagi. Matanya sudah menunjukkan ketegaran, bagaimanapun dia memiliki hak untuk menuntut kejelasan supaya Baekhyun tahu selanjutnya apa yang akan dia lakukan. Baekhyun butuh Chanyeol mengatakan dengan mulutnya sendiri karena jika mengandalkan simpulan sepihak dari deretan foto ini saja tidak akan cukup meyakinkan.
"Aku menyukaimu." Singkat, tapi Baekhyun serasa tertusuk hingga batas logikanya. "Aku menyukaimu, Baekhyun. Bukan karena kau seperti Baekhee, tapi karena kau Byun Baekhyun." Dua tangan Baekhyun diraih, ciuman pada punggung tangan itu terjadi cukup lama oleh bibir Chanyeol. "Kenapa aku membawamu kemari karena aku ingin menunjukkan padamu kegilaanku. Sekali lagi kau bisa mengatakan aku seorang maniak, karena memang begitulah. Awalnya ku kira aku hanya menyukai senyummu, tapi ternyata aku menyukai segalanya tentangmu. Aku bukan lelaki yang tahu bagaimana berkata jujur tentang perasaanku, aku terlalu takut dengan diriku yang bukan seorang straight."
"Kenapa takut? Kau bisa berkata jujur, Sunbae." Belaian itu Baekhyun berikan pada pipi Chanyeol, "Tidak ada yang salah sekalipun kau akan mengalami penolakan."
"Ku kira Baekhee bisa menjadi titik balik, tapi ternyata justru membawaku semakin menyukaimu."
"Sunbae.."
"Baekhyun, aku tidak tahu bagaimana menghilangkan keraguanmu. Tapi perlu kau tahu jika aku sudah terlalu lama berdiam diri untukmu. Sulit, Baekhyun. Aku takut pada kenyataan jika orang lain yang akan kau pilih. Maka dari itu, ketika aku melihat kesempatan, aku langsung mengikatmu."
Kelegaan itu muncul pada diri Baekhyun. Senyumnya terukir kecil ketika Chanyeol mengatakan lebih dari apa yang dia harapkan. Selama ini mereka saling berdiam diri, bersembunyi pada ketakutan yang tidak berdasar, dan memunculkan keraguan ketika waktu memberi kesempatan untuk mendekat. Seharusnya ada yang lebih terbuka, tapi tidak apa. Begini saja Baekhyun sudah merasa cukup. Chanyeol dan segala rahasianya menjadi keberanian tersendiri untuk Baekhyun melingkarkan tangan di leher lelaki itu.
Baekhyun tak lagi mengurusi kikisan keraguan itu. Dia terlalu bahagia untuk Chanyeol yang mengakui semua tanpa ada cacat. Entahlah, perasaan mudah sekali terkoyak oleh hal-hal sepele seperti hati.
Lalu ketika kebahagiaan itu membuncah dalam satu debaran yang asik, Baekhyun meminta kakinya sedikit berjinjit untuk meraih satu kebasahan dalam bibirnya.
Baekhyun bukan orang yang paham bagaimana seharusnya bibir itu ia kecap. Yang Baekhyun tahu adalah keintiman ini menjadi bentuk nyata tentang bahagia dalam hatinya. Gelenyar itu menyenangkan, menangkap banyak kebahagiaan hingga Baekhyun tak ragu memulai dari bibir bawah Chanyeol untuk ia gigit.
"Sebentar," Chanyeol menjauhkan diri, melihat wajah Baekhyun yang sudah bersemu dengan bibir basah. "Kenapa kau menciumku?"
"Oh? M-maaf,"
"Lihat aku,"
Dagu Baekhyun di tarik, dalam waktu singkat dia merasa penuh pada bibinya karena Chanyeol melesakkan kekenyalan di sana.
Baekhyun tak perlu repot menjinjitkan kaki. Karena Chanyeol kini berbaik hati untuk sedikit membungkuk dan mendominasi ciuman itu. Bibirnya bekerja sedikit terburu, menyesap Baekhyun di bagian atas dan bawah secara bergantian tanpa membiarkan Baekhyun membalas.
Mereka terlalu menggebu, perasaan yang berbalas itu menjadi dasar mengapa cepat sekali perdamaian ini terjadi dan keintiman menjadi satu bentu perayaan. Seujurnya Baekhyun bukan orang yang mudah menahan gairah, pada kenyataannya dia lelaki biasa yang juga memiliki sisi nafsu. Dan Chanyeol menyulut semua itu dalam takaran yang pas lalu membakarnya dalam api yang menggebu hingga tidak begitu menyadari kini Baekhyun terbaring di ranjang dengan Chanyeol di atasnya.
"S-sunbae," Baekhyun menyela dengan keadaan bibir yang membengkak.
"Aku pernah melihatmu bermain dildo." Baekhyun memukul kecil pundak Chanyeol. Kenangan buruk itu kenapa harus terbawa dalam keadaan seperti ini? "Dan Baekhee bilang kau ingin tahu milikku."
"Dasar bule gila!"
"Baekhyun,"
"I-iya?"
Chanyeol menurunkan dirinya dengan memberi garis ciuman dari puncak kepala Baekhyun melewati hidung, bibir, dagu, dada, perut, dan tiba pada bagian bawah yang menjadi hal paling sensitif. Baekhyun tidak berani melihat, dia hanya memejamkan mata dan mencengkeram apapun yang bisa ia jangkau kala bisa ia rasakan bagian tersensitif itu menjadi giliran terakhir untuk ciuman dari Chanyeol.
"Ahh..."
.
.
TBC
Basyot : semoga kalian gak bosen karena Ayoung update lagi kurang dari 24 jam. Hahahaha... see you next year, everybody!
