Baekhyun mungkin merasa ini adalah mimpi yang sangat menggairahkan. Yang mana dia harus berbahagia dengan gejolak yang menegangkan tubuhnya dan membuat peluhnya keluar tanpa sia-sia. Sisa ciuman yang Chanyeol berikan dari puncak kepala hingga pangkal paha nyatanya sumber dari segala sumber lenguhan di bibir Baekhyun.

"S-sunbae.." desahannya tertahan, mungkin karena Chanyeol masih bermain dengan kecupan kecil-kecil pada milik Baekhyun yang minta dimanjakan. "J-jangan.."

"Oh, si kecil." Kata Chanyeol sambil mengusak bagian itu dengan ibu jarinya. "Dari luar dia terlihat mungil."

"S-sunbae.." Baekhyun mengerang pelan, tidak terlalu peduli dengan kekehan Chanyeol di depan ketegangannya.

Kiranya Chanyeol akan membuka dengan menurunkan resleting terlebih dahulu, tapi lelaki itu justru kembali berdiri dan menikmati rona merah wajah Baekhyun.

Tubuh menggeliat, tangan mencengkeram sprei secara random, Chanyeol pikir Baekhyun memiliki sebuah nafsu besar hanya karena sentuhan luar. "Buka matamu."

Dua lengan Chanyeol sudah memenjara sekitar tubuh Baekhyun. Wajahnya ia dekatkan, mengabaikan jarak yang tersisa hanya untuk menyentuh kulit wajah Baekhyun. "Aku tidak ingin menjadi brengsek dengan menyetubuhimu."

"M-maksudnya?"

"Baekhyun.." tangannya melerai rambut Baekhyun yang basah karena keringat, "Jika aku boleh jujur, aku bukan penahan nafsu yang baik. Aku seorang yang sulit mengendalikan diri jika sudah tersulut nafsu."

"Aku bisa mengatasinya."

Senyum kecil itu Chanyeol berikan, "Yakin?"

"Ya!" baru saja Baekhyun akan mendorong Chanyeol untuk membalik posisi, tapi dia tak begitu kuat karena Chanyeol kini memenjara dua lengannya di atas kepala.

"Bagaimana jika berciuman dulu? Maksudku, aku suka bibirmu dan ku pikir akan menyenangkan jika aku berlama-lama di san—MMPPHH!"

Terbungkam sudah semua kata-kata Chanyeol karena Baekhyun mengedepankan tubuh dan menjangkai semua ketebalan bibir itu. Lidahnya bergerak tak aturan, seperti seorang amatir tapi ingin menjamah lebih jauh.

Chanyeol menanggapi itu dengan senyum kecil. Tangannya tak lagi memenjara lengan Baekhyun dan si mungil mulai berani melingkarkan lengan di leher Chanyeol.

"Calm down, baby."

"M-maaf.."

"It's okay. Aku tidak akan kemana-mana ketika kita berciuman."

Malu-malu Baekhyun mengangguk; kebodohannya, memang. Baekhyun tidak terlatih jatuh cinta dan itu berakibat fatal dengan dirinya yang sulit mengendalikan gairah. Terlebih dia mendapati fakta jika Chanyeol telah memiliki rasa yang sama sejak dulu.

Baekhyun yakin dia bukan anak yang baik, dan mendapat kebaikan tentang sesuatu bernama cinta bisa dia katakan terlalu berlebihan hanya karena dia tidak pernah memikirkan orang lain kecuali Chanyeol.

"S-sunbae.."

"Hm?"

"I-itu.."

"Apa, sayang?"

"Ada cabai di gigimu."

PLETAK!

Rasanya Chanyeol sedang tertampar penis kuda hanya karena cabai di gigi.

.

Sore itu Baekhyun baru saja selesai dengan kuliah terakhir di penghujung hari Jumat. Tubuhnya ia loloskan terbujur di atas sofa, mengatur ketenangan batin sejenak setelah mengalami perdebatan panjang dengan salah satu teman kuliah. Hanya masalah pembagian tugas, tapi Baekhyun dibuat kesal setengah mati. Terlebih hari ini dia tidak melihat Chanyeol dan hanya mendapat kabar lewat pesan jika sunbae kesayangannya itu sedang berada di luar kota.

Baekhyun kembali mengingat sejarahnya bisa mendapat hubungan seperti ini dengan Chanyeol. Dia terkadang tidak percaya jika Chanyeol bisa ia genggam, bahkan mereka sudah bertukar ciuman panas yang berakhir dengan kemunculan cabai di sela gigi Chanyeol.

Terkadang saat malam hari sebelum tidur, Baekhyun akan menepuk pipinya guna mengembalikan kesadaran. Siapa tahu ini bagian mimpi panjang karena Baekhyun terlalu lelah dengan perasaannya. Tapi mendapati sakit dan merah di pipinya, Baekhyun barulah sadar ini bukan mimpi. Terlebih hampir setiap malam kini Chanyeol akan menghubunginya, mengatakan 'selamat malam' yang teramat manis berimbuh dengan suara kecupan dari seberang sana.

Sialan! Baekhyun benar-benar jatuh cinta dalam kadar tak terduga. Senyumnya kadang berkembang mencapai telinga ketika membayangkan Chanyeol beserta seluruh antek-anteknya yang membuat Baekhyun bahagia.

"Aku mencium aroma jatuh cinta."

Baekhyun membuka matanya, melihat Baekhee sudah duduk di atas perut dengan baju super kekurangan kain. Hotpants itu bahkan menampakkan kesintalan pantat Baekhee, juga kaosnya yang terlalu berbelah dada rendah hingga ketika Baekhee menunduk akan ada dua pepaya yang menggantung.

"Turun!"

"Bagaimana? Sudah melihat penis Chanyeol?"

"Damn! What the hell are you talking about!"

"Belum, ya?" Baekhee memundurkan kembali tubuhnya, menduduki Baekhyun tepat di atas sesuatu yang menjadi kebanggaan seorang lelaki. "Ku kira kalian langsung—"

"Kau pikir aku lelaki macam apa?"

"Lelaki penuh nafsu!" Baekhee lalu terkekeh geli, menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Baekhyun dan membuat adik kesayangannya itu berdecih kesal.

"Bisa kau turun dari atas tubuhku?"

"Kenapa? Takut bernafsu denganku, ya?"

"Mulutmu, Byun Baekhee!"

"Ups, aku lupa. Kau kan hanya bernafsu dengan Chanyeol."

Ingin rasanya Baekhyun menjepit leher Baekhee dengan apapun dan membungkam mulut wanita itu dengan dildo. Benar-benar tidak berfilter.

Tapi Baekhyun tidak marah. Dia cukup tahu standar bercanda Baekhee yang memang sudah ia anggap terlalu Barat.

"Aku senang akhirnya kau tidak bertepuk sebelah tangan." Baekhee berubah manis, dia memainkan rambut kecoklatan Baekhyun dan berbicara dengan menghilangkan logat bule-nya.

"Terima kasih. Kau berperan pada semua yang terjadi padaku dengan Chanyeol."

"Tidak, tidak. Aku tidak berperan apa-apa. Kalian hanya tidak memiliki waktu yang tepat untuk saling mengetahui perasaan satu sama lain."

"Aku melihat banyak fotoku tertempel di tembok kamarnya. Kau tahu Baekhee, saat itu aku merasa sangat istimewa."

"Kau bahagia?"

"Tentu. Aku sangat bahagia."

"Terima kasih sudah berbahagia." Baekhee menarik kepala Baekhyun, membawanya dalam dekap dada yang selalu ia lakukan ketika adik kesayangannya itu merasa bahagia. "Baekhyun,"

"Ya?"

"Bagaimana rasanya?"

"Apa?"

"Payudaraku yang tidak sedang terpenjara bra? Apa kenyal? Aku berniat melakukan hal ini ketika Fred datang."

Haruskah Baekhee merusak momen ini hanya untuk sebuah bra yang tak melingkup payudaranya?

.

Mandi menjadi satu hal rutin yang harus Baekhyun lakukan sebelum tidur. Dia akan menggosok setiap sela kulit tubuhnya, membubuhkan sabun beraroma matcha hingga dia merasa segar. Selepas itu Baekhyun hanya akan keluar dengan rambut basah dan handuk melilit sekitar perut. Dia pikir akan mengeringkan rambut terlebih dahulu lalu berpakaian santai untuk menuju alam mimpi. Nyatanya Baekhyun harus menunda itu semua ketika ada eksistensi lain di dalam kamarnya yang sedang membujurkan diri di ranjang.

"Sunbae?"

"Oh? Kau sudah selesai mandi?"

Malu-malu Baekhyun mendekat, duduk di dekat lelaki yang terbujur itu. "Sejak kapan kau ada di sini?"

"Sekitar sepuluh menit lalu. Mandimu lama juga, ya?"

"Aku sedang keramas tadi. Jadi lama."

"Maaf ya aku datang malam-malam begini." Chanyeol lantas membangunkan dirinya dan duduk di samping Baekhyun. "Ini semua karena aku rindu. Bukan rindu berat, tapi rindu setengah mati."

Pipi Baekhyun merona, seperti terpanggang oleh pemanggang daging, "Bagaimana urusannya? Sudah selesai?"

"Belum. Aku masih harus kembali kesana untuk bahan skripsiku nanti. Izinnya sangat susah."

"Semangat, ya? Kau pasti bisa."

Kemudian hening. Kembali fakta berbicara sebuah cinta yang telah bersemi. Mungkin karena usianya baru sebentar. Jadinya ada sedikit kecanggungan ketika hening ini menjadi satu yang akan tertoreh sebagai kenangan.

"Jadi begini ya rasanya rindu." Chanyeol yang duduk lebih belakang dari Baekhyun meletakkan dagunya di pundak Baekhyun yang tak berbaju, mengendus aroma harum dari tubuh kekasih mungilnya yang sudah bersemu merah di pipi. "Dan setelah aku mencium aroma tubuhmu, aku kira aku akan sering merindukanmu. Tidak apa, kan?"

"Tidak apa. Tapi aku punya syarat."

"Katakan, sayang."

Baekhyun merasa refleknya sukup bagus untuk mengangkat kepala kala sapuan napas itu mengenai lehernya. Matanya terpejam erat, mencoba mencerna getaran yang masih Chanyeol berikan secara kecil karena tangannya bermain di lengan polos Baekhyun.

"Apa syaratnya?"

Alih-alih menjawab, Baekhyun semakin mendongakkan kepala ketika cuping telinganya dijamah oleh sesuatu yang basah. Lidahnya tak menemukan pergerakan untuk berkata lebih lanjut karena libido mulai mengacau. Reflek lain membuat tangannya bergerak ke belakang, menjamah wajah lain yang kini bermain halus dengan hisapan di perpotongan leher.

Baekhyun mungkin bisa lebih membatasi desahan jika hanya lehernya yang terjamah, tapi dia tidak bisa menahan lebih dari itu ketika ada rabaan yang menyentuh bagian dadanya yang telanjang. Sentuhan itu halus, bergerak dengan sopan meski sesekali menekan satu titik tersensitif di dada.

"S-sunbae..hhh.."

Kembali Baekhyun tergeletak karena gairah yang ia terima. Tubuhnya terbujur di atas ranjang dengan Chanyeol yang menguasai semua pergerakan. Tak ada kesempatan untuk melontarkan sebuah larangan ketika mulut Baekhyun sepenuhnya terbungkam oleh kebasahan bibir Chanyeol.

Mereka beradu mulut, berperang dengan lidah, mendecak kenikmatan dengan saling memeluk erat sehingga lupa jika malam sudah semakin larut.

Baekhyun kira Chanyeol hanya akan selesai dengan ciuman, nyatanya sunbae kesayangannya itu bergerak turun untuk mengulum sesuatu lain yang mencuat di dada.

Jangan ditanya bagaimana Baekhyun merasakan, dia berani bersumpah jilatan dan hisapan yang Chanyeol beri di dadanya adalah sesuatu yang memabukkan. Baekhyun bahkan tak malu-malu untuk menekan kepala Chanyeol, berharap lelaki itu tidak meninggalkan kenikmatan yang sudah Baekhyun kecap sebagai candu.

Lalu ketika semua menjadi semakin membara dan Chanyeol mulai merambah turun ke bawah, Baekhyun segera mengapit tangan Chanyeol yang akan membuka handuk dan menggeleng banyak-banyak.

"Jangan!"

"Kenapa?"

"Ku mohon jangan."

"Kau...belum siap?" tanya Chanyeol ragu-ragu. Tapi Baekhyun menggeleng lagi.

"Bukan begitu.."

"Lalu kenapa?"

"Aku..aku..."

"Kau percaya padaku, kan?" Baekhyun mengangguk, tapi masih ada raut ragu di wajahnya. "Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan sampai masuk."

"Bukan begitu. Aku hanya.."

"Kau malu?"

Kembali Baekhyun mengangguk, "Y-ya. Aku malu, sunbae."

"Tidak apa. Aku pernah sekali melihatmu telanjang. Jadi tidak masalah, kan, jika aku melihatmu telanjang lagi?"

Tanpa persetujuan, Chanyeol membuka lilitan handuk itu perlahan sedang Baekhyun memejamkan matanya erat-erat. Momen ini akan menjadi terburuk bagi Baekhyun, dia bersumpah tidak akan melupakannya. Terlebih ketika Chanyeol mulai berseru dengan mata berbinar.

"WOW!"

"Itulah alasan kenapa aku malu. Baekhee yang melakukan semua ini." Cicit Baekhyun.

"Kau menggunakan celana dalam bermotif Minnie Mouse?"

Anggukan Baekhyun tampak kecil.

"Kita berjodoh. Aku menggunakan yang bermotif Mickey Mouse." Chanyeol dengan semangat membuka celananya.

"Y-ya sunbae?"

.

.

TBC

Basyot : iya tau ini kriuk banget, maka dari itu maafin Ayoung ya hehehe... btw selamat tahun baru, ya? Maafkan kalo di 2017 Ayoung ada salah. Saranghaeyo...

FF ini update barengan sama Azova10, valbifeur, dobbyuudobby, nisachu, ohlan94 (wattpad). Bisa di kunjungi lapak2nya~~