"Baekhee memaksa."

Kepala Baekhyun tertunduk, menatap handuk putih yang ia gunakan untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling sensitif di pangkal paha.

Benar dugaan Baekhyun, sutradara dibalik celana dalamnya yang satu motif dengan Chanyeol adalah Baekhee. Seharusnya Baekhyun sadar dan tidak termakan bujuk rayu itu. Hanya karena sebuah taruhan tentang 'siapa yang mendapat dada ayam' dari fasilitas pesan-antar restoran cepat saji, Baekhyun memberikan harga dirinya secara cuma-cuma.

Ingatkan Baekhyun untuk membalas Baekhee nanti.

"Aku..malu." Baekhyun mengambil bantal, menutupi sebagian pahanya dan menyembunyikan semu merah yang merambat di pipi.

"Kenapa malu? Aku saja tidak malu." Ya, Chanyeol boleh berkata seperti itu tapi tidak dengan menghentak tubuh bawahnya yang hanya terbalut celana dalam Mickey Mouse. "Ini lucu, Baekhyun. Ku rasa tidak banyak pasangan menggunakan celana dalam yang sama."

"Aku...aku ganti.."

"Jangan!" Cepat-cepat Chanyeol mencekal pergelangan tangan Baekhyun, membawa adik angkatan kesayangannya itu kembali berbarin dalam tumpukan tubuh mereka yang tak berjarak. "Aku suka."

"Tapi ini memalukan, sunbae."

Chanyeol bisa melihat rona merah itu berada di pipi Baekhyun. Dia suka warnanya, merah menggoda seakan mengajak Chanyeol untuk menggemas sepanjang hari.

"Baekhyun-ee malu?" Yang ditanya mengangguk, "Walau aku berkata suka apa Baekhyun-ee tetap malu?"

Anggukan itu kini berselimut keraguan.

"Sweetheart," Baekhyun suka panggilan itu, "Baiklah jika malu. Kau bisa melepasnya."

Chanyeol menjauhkan diri, dia tak lagi memaksa dengan caranya yang menggebu. Sebagai pihak lebih dewasa, dia menempatkan diri untuk tidak berlaku egois. Hubungannya dengan Baekhyun bak permata mahal, harus dijaga sebaik mungkin atau akan rusak karena keegoisan semata.

"Sunbae...marah?"

"Tidak, sweetheart. Aku tidak marah."

Bisa Baekhyun lihat dengan jelas bagaimana senyum itu memudar dan terlalu dipaksa. Sebenarnya dalam hal ini Baekhyun berlaku lugu karena Chanyeol adalah yang pertama melihat hal memalukan ini. Pikirnya, mereka akan saling membuka diri dalam konotasi erotis dengan keadaan yang romantis. Nyatanya Mickey-Minnie Mouse yang sengaja Baekhee siapkan merusakan apa yang selalu Baekhyun idam-idamkan.

"Sunbae..." paha polos milik Chanyeol itu Baekhyun tusuk dengan telunjuk. Caranya melakukan cukup menggemaskan, membuat Chanyeol sempat kehilangan kesadaran dalam menahan gairah hanya karena Baekhyun yang lucu. "Jangan marah.."

"Aku tidak marah, sweetheart."

"Maaf..."

"Oh, jangan meminta maaf. Tidak ada kesalahan di sini."

"Jangan..pulang..." dia merengek, menarik Chanyeol yang akan mengenakan celananya lagi. "Aku...aku..."

"Kau merindukanku?"

Chanyeol menyelidik lagi pada wajah itu, melihat ada anggukan kecil yang malu-malu tapi cukup membuat Chanyeol merasa senang.

"Jadi Baekhyun-ee merindukanku? Tapi aku harus pulang, tugasku masih banyak."

Alih-alih membalas ucapan rindu itu, Chanyeol kembali mengenakan celananya dan berlanjut mengambil ranselnya yang tergeletak di lantai. Bukan karena rasa muak atau dia tidak ingin berlama-lama dengan Baekhyun, tapi dia butuh cepat pulang untuk menuntaskan semua yang menjadi akibat seorang lelaki jatuh cinta dan sedang bergejolak oleh nafsu.

"Aku pulang."

Lalu ketika dia membuat langkah pergi pertama setelah mencium kening Baekhyun, tubuhnya tertarik kebelakang dengan rahang terkunci kuat oleh sebuah tangkupan. Bisa dirasa ada kebasahan lain menyambangi bibirnya, deru napas yang hangat itu bahkan secara nyata mengusap sekitar wajah Chanyeol selama beberapa detik.

"Hati-hati, sunbae."

Napas Baekhyun memburu, dia bersiap mengutuk diri untuk tindakan kurang sopan yang ia lakukan pada Chanyeol. Kebodohannya memang, tapi tidak ada penyesalan setelah dia berhasil menggapai Chanyeol untuk pertama kali.

"Kau benar menguji kesabaranku."

Semua berantakan, Chanyeol menyingkirkan beberapa miniatur Iron Man di meja Baekhyun dan meletakkan tubuh yang lebih kecil di sana. Bibirnya secara jantan mengunci tiap gerak bibir Baekhyun, menyelam tiap kecupan dan sapuan lidah yang menggetarkan hati.

Tidak ada lagi rasa malu, Baekhyun membalas semua itu semampunya dan mencoba mengimbangi Chanyeol yang selalu memburu dalam tiap hisapan. Tangannya bahkan sudah melingkar di sekitar leher Chanyeol, menghapus sisa jarak yang masih tersisa untuk melengkapi lekatnya tubuh yang haus gairan itu.

Puas mengacap bibir Baekhyun hingga bengkak, Chanyeol turun pada perpotongan leher dan melakukan hal yang sama. Dia mencium dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun lalu mencetak beberapa maha karya keunguan di leher Baekhyun.

Bukan hanya bibir yang bekerja, tangannya juga turut sibuk di bawah untuk mengusak kelembutan pada paha tak berkain. Chanyeol menyukai tekstur kulit Baekhyun, seperti milik bayi yang belum terkontaminasi oleh hal apapun.

"S-sunbae.." Baekhyun merasa sesak, tapi dia tidak ingin mengakhiri ini semua. Terlebih Chanyeol menjadi semakin liar dengan menggariskan lidahnya menuju dada.

Ujung kecoklatan itu mulai basah, Baekhyun tidak tau apa yang sedang terjadi tapi dia terlampau suka dengan cara Chanyeol menyentuh bagian itu dengan lidah. Hisapan-hisapan yang terjadi membuat Baekhyun mengangkat tubuh dan reflek tangannya mulai sulit dikondisikan karena terus menekan kepala Chanyeol.

Prinsip dalam sentuhan ini adalah adil. Setelah satu bagian dirasa cukup membengkak, maka Chanyeol akan berpindah pada bagian lain dan melakukan hal yang sama. Tangan yang semula sibuk di bawah kini Chanyeol bawa naik untuk mengganggu bekas hisapan pada salah satu puting Baekhyun yang baru selesai ia kerjakan. Kuku jari yang tak terlalu panjang itu untuk menggaruk halus pada bagian yang mencuat. Terkadang menariknya tapi lebih sering melakukan tindakan memilin.

"A-ah... jangan menendang milikku, Baek." Chanyeol mengerang kala hisapan kuat yang ia lakukan itu membuat Baekhyun mengejang dan menendang, "Ini sudah cukup sakit."

Belum sempat Chanyeol selesai dengan urusan pada pangkal pahanya yang ditendang, Baekhyun lebih dulu mendorong Chanyeol untuk berpindah pada ranjang. Baekhyun mulai berani menarik turun celana Chanyeol, menampakkan keperkasaan yang terbungkus celana dalam Mickey Mouse lalu mendudukinya tepat pada belah pantat.

"O-hhh.. B-bae.."

Mereka kembali beradu lidah, Baekhyun yang pertama melakukan dan berkuasa untuk setiap lumatan.

Chanyeol tak berharap banyak pada ciuman itu, dia membiarkan Baekhyun memimpin karena Chanyeol sedang sibuk meraba bongkahan menggemaskan yang menduduki keperkasaannya. Setiap remasan itu Chanyeol hayati, dia resapi dalam-dalam bagaimana teksturnya yang kenyal bisa membangkitkan libido berlipat-lipat.

"Ahh.." desahan Baekhyun menggila, matanya sesekali terpejam kala Chanyeol meremas kuat bagian itu. "A-astaga..ahh..hh.."

Tak sampai satu menit keadaan sudah berbalik. Chanyeol mengenyahkan celana dalam Baekhyun dan dia melihat sesuatu menggemaskan di sana.

Ukurannya tak begitu panjang dan besar, tapi ketika Chanyeol menangkup sepenuhnya dengan tangan, genggaman itu menguasai seluruh kenikmatan yang membuat desahan Baekhyun menggila. Naik-turun sudah pasti Chanyeol lakukan, tapi sesekali dia menggunakan ujung kuku di telunjuknya untuk mengorek bagian paling tumpul dari milik Baekhyun.

Baekhyun mendapat pelesapan pertamanya di tangan Chanyeol. Peluh di sekitar dahi seolah bercerita ini adalah sebuah perjuangan yang memuaskan.

"Sekarang giliranmu."

Tubuh Chanyeol di putar untuk telentang di atas ranjang. Baekhyun tidak mau telanjang sendiri, dia melepas semua kain yang melingkup tubuh Chanyeol dan terdiam untuk sesuatu yang culup berurat.

"Wow!" Dia berseru tanpa sadar. "Besar sekali, sunbae."

"Aku menyebutnya anugerah Tuhan, Bae-oh..jangan diremas..ahh.."

Remasan itu Baekhyun lakukan perlahan oleh sebelah tangannya, sebelahnya yang lain dia gunakan untuk memain dua bola yang menggantung. Dalam remas-remasan itu terkadang Baekhyun menunduk, sekedar mencium atau menggunakan lidah untuk menggoda ujung berurat milik Chanyeol.

Jangan ditanya bagaimana keadaan Chanyeol sekarang, dia mengumpat dalam desahannya yang keras untuk setiap perlakuan yang Baekhyun lakukan di pangkal pahanya.

Lalu ketika pergerakan tangan Baekhyun semakin liar dan Chanyeol memutuskan akan mengakhiri ini dengan sebuah pelepasan, Baekhyun tiba-tiba bangkit dan meninggalkan ini begitu saja.

Chanyeol tentu bingung, terlebih Baekhyun kini berjongkok di lemari es kecil yang tersedia di kamar. Semakin bertambah kebingungan Chanyeol ketika Baekhyun selesai dengan urusan lemari es dan membawa dua kaleng soda yang nampak sedikit membeku.

"K-kau mau apa, sweetheart?"

Alih-alih menjawab, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol untuk kembali berbaring sepenuhnya. Dia juga mengambil dasi yang ada di laci nakas dan mengikat tangan Chanyeol di kepala ranjang.

"S-sunbae,"

"Y-yes, Sweetheart.."

"Fighting!"

Chanyeol tak begitu paham untuk apa kata fighting itu pada awalnya. Tapi setelah dua kaleng soda yang hampir membeku itu Baekhyun apit pada kejantanan Chanyeol yang masih menanti pelepasan, kini dia tahu mengapa Baekhyun memintanya berjuang.

Ketahuilah ini lebih dari siksaan nikmat. Chanyeol merasa semakin tegang dengan apitan dua kaleng soda yang membeku beserta liarnya Baekhyun menggunakan lidah untuk ujung tumpul yang sudah keras sempurna.

"AHHHH B-baek!"

.

.

Tbc.

Basyot : dehehehe... sesuai voting di snapgram, chap ini isi grepe2 engas. Semoga engas sih. Hehe... makasih sudah bacaaaaaaaaaaaa