"STOP!"
Suara Chanyeol sedikit mengeras, sebanding dengan kejantanannya yang berada pada ketegangan tinggi karena dua kaleng yang mengapit. Desisannya berakhir dengan decak sedikit kesal. Dua matanya melihat Baekhyun yang terdiam; polos dalam sipitnya itu menanti sesuatu tapi takut akan ada kekerasan karena perbuatannya dengan dua kaleng cola.
"Berhenti bermain-main, Baekhyun." Chanyeol mendekat, mengupas habis-habis jarak di antara mereka berdua untuk menjangkau kecupan di bibir Baekhyun. Tapi Baekhyun terlalu bringas, kecupan itu ia lahap penuh dan Chanyeol segera mengontrol agar kuasa tidak banyak berpihak pada Baekhyun. "Oh, kau nakal juga rupanya."
Cara Chanyeol menatap adalah yang paling sensual. Gairah yang terpendam mendadak ingin menunjukkan diri dan menguasai segala logika untuk bertindak sedikit jual mahal. Tapi ini Chanyeol, seseorang yang selalu Baekhyun jadikan fantasi menuntaskan efek samping orientasi seksualnya yang menginginkan batang daripada lubang lembab.
"Ku beritahu satu hal." Tubuh Baekhyun dibaringkan, tertindih oleh ketelanjangan Chanyeol dengan usakan lembut pada kenikmatan di pangkal paha.
"Apa?"
"Setelah ini jangan pernah dekat dengan siapapun. Hanya denganku, tidak dengan yang lain. Kau bisa mengatakan aku posesif. Tapi itu benar untuk semua keinginanku agar tidak ada makhluk kotor yang berusaha mengambilmu dariku."
"Aku suka posesif." Satu usakan Baekhyun beri pada pipi Chanyeol. Diperhatikan lekat-lekat bagaimana lelaki itu menghujani tatapan padanya. Ini seperti mimpi, Baekhyun tidak pernah percaya bisa mendapat fakta ini dalam waktu yang singkat. "Aku juga ingin memberitahumu satu hal."
"Apa, babe? Katakan."
"Aku in—AH! Please, singkirkan tanganmu terlebih dahulu dari lubangku. Biarkan aku berbicara—OH! Fuck! Berapa jari yang kau masukkan?"
"Hanya dua. Tapi aku berpikir akan memasukkan tiga." Chanyeol menunjukkan deretan giginya, memberi kekehan kecil sebelum akhirnya menyela pada perpotongan leher Baekhyun.
Chanyeol tidak pernah tahu jika Baekhyun memiliki kulit yang menarik. Putih, halus, dan tidak ada bekas luka. Tangan Chanyeol sulit untuk di kontrol agar tidak banyak membelai dan membuat Baekhyun mengejang dalam sengatannya. Chanyeol suka melakukan itu; semua hal yang membuat Baekhyun memejamkan mata dan mendongakkan kepala. Desahan di antara kata-kata absurd yang keluar dari mulut Baekhyun seperti minuman penambah stamina. Bagaimana mungkin baru tangan yang bekerja saja Baekhyun bisa segila ini melontarkan gairah dari bibirnya? Tapi Chanyeol tak begitu memikirkannya, dia terus meraba tiap inci kulit mulus itu dan mengukir mahakarya keunguan yang indah. Hingga saat Chanyeol semakin turun dalam kecupannya, dia berjumpa pada satu kenikmatan di pangkal paha yang memberi surga.
"Adik kecil sudah bangun rupanya." Batang keras milik Baekhyun itu bagi Chanyeol menggemaskan. Mungkin tidak sebesar miliknya, tapi cukup menyenangkan untuk dimainkan spot-spot tertentu yang akan menambah desahan Baekhyun. "Omaya... lucu sekali."
Chanyeol berkelakar layaknya seorang dewasa yang menggemas anak kecil.
"Fuck! Jangan menciu—Ah.. o-oke.."
"Aku baru tahu bicaramu sedikit kotor saat dalam situasi ini. Ku pikir inilah dirimu yang sebenarnya, Baek."
"Kau tidak suka?"
"Tidak, tidak." Chanyeol menggeleng penuh. Dia tidak lagi mendongak untuk meladeni pembicaraan, melainkan kembali pada kelucuan si adik kecil yang sudah mengeras. "Kau bisa berkata apa saja saat aku menyentuhmu. Aku suka mendengarnya."
Sedikit jilatan Chanyeol beri pada ujung kejantanan Baekhyun sebelum dia mundur untuk merebahkan diri. Baekhyun yang di ambang gairah sebenarnya merasa kesal. Dia sudah di ujung tanduk tapi Chanyeol menghentikan itu.
"Sini," Chanyeol melambai, "Di atasku."
Kerutan itu Baekhyun berikan sebagai tanda kebingungan, tapi dia menurut meski ada kerucutan kecil di bibirnya.
"Bukan duduk di atas adikku, sayang."
Mulanya Baekhyun memposisikan diri untuk duduk di atas kejantanan karena dia pikir Chanyeol meminta bukaan lubang dari atas. Tapi ternyata tidak. Chanyeol membuat Baekhyun tengkurap di atas tubuhnya dan membuat posisi melintang berlawanan dari posisi Chanyeol. Semua itu otomatis membuat dua bongkahan kenyal milik Baekhyun tepat berada di depan Chanyeol.
"Ini kenyal sekali." Remasan itu nyata terjadi. Satu tangan Chanyeol sibuk pada kekenyalan yang merusak kewarasannya sedang yang lain merambah pada dada Baekhyun untuk sesuatu serupa biji kacang. Tak berhenti di situ, Baekhyun kini merasa ada yang mengapit bongkahan pantatnya dengan sesuatu kenyal lalu terasa sedikit perih untuk satu gigitan cukup keras.
"A—ah! S-sakit..hhh.."
Ya, itu memang sakit. Tapi Baekhyun menikmati dengan setulus hati ketika Chanyeol melakukan satu pukulan dari telapak tangannya. "Oh, oh, aku seperti melihat puding. Aku gigit lagi, ya?"
Tidak perlu sebuah jawaban, Chanyeol kembali melakukan gigitan yang kini semakin membuat Baekhyun mengejang nikmat. Dia bahkan menggunakan lidah untuk memberi kebasahan lainnya. Tidak usah ditanya bagaimana keadaan Baekhyun sekarang, dia menggeliat penuh desahan karena seluruh poin gairah di tubuhnya terkunci oleh sentuhan Chanyeol.
"Aigoo, rasanya manis." Chanyeol mengusak sisa kebasahan itu, membelai lembut sebelum akhirnya memberi pukulan gemas dan membalik Baekhyun untuk telentang. "Katakan bagian mana yang harus ku sentuh."
"Mana saja..hh.."
"Pilih salah satu, babe."
"Tidak boleh pilih banyak, ya?" Kerucutan bibir itu sungguh lucu, membuat Chanyeol mendadak melabuhkan lumatan dan hisapan sebelum menarik diri untuk kegiatan yang lebih berkeringat.
"Satu dulu. Lainnya bisa menyusul." Kemudian Chanyeol menyeka keringat di sekitar dahi kekasihnya itu, "Katakan bagian mana yang harus ku sentuh hingga kau akan puas."
"S-semua..ahh.."
"Satu, babe."
"Aku mau semua!" sedikit meninggi nada Baekhyun karena Chanyeol terlalu lama mengulur waktu.
"O-oke. Kendalikan emosimu, babe. Aku akan sentuh semua. Tapi berjanji, jangan mengeluh jika ak—"
"Banyak omong!" Tubuh Chanyeol sepenuh berbalik telentang dan Baekhyun sudah duduk di atas selangkangannya. Sebelah tangannya menuntun kejantanan Chanyeol, memasukkan pada lubang yang sudah berkedut lalu mengerang kecil untuk kesesakkan di dalam sana.
Baekhyun butuh waktu untuk beradaptasi pada batang keras yang memenuhi lubangnya. Beberapa kali dia mendesis, tapi tak lama setelah itu Baekhyun mulai bergerak dengan caranya yang erotis. Pinggulnya naik-turun, tangannya sibuk bertopang pada sebelah kaki Chanyeol sedang tangannya yang lain membuat kesibukan pada miliknya yang mengeras.
Baekhyun bukan orang yang sabar menahan gairah. Dia memiliki jiwa menggebu jika sudah berhubungan dengan napsu. Terlalu bertele-tele bukan style Baekhyun dan menurutnya Chanyeol sangat hobi melakukan itu untuk menguji batas gairah Baekhyun.
"K-kau..sempithh.." Chanyeol mulai merasakan bagaimana bermanja pada lubang sempit. Tak dia hiraukan decit ranjang yang bertubrukan dengan dinding karena yang menjadi poin utamanya sekarang adalah kenikmatan. Mereka seperti memiliki ikatan batin kuat dalam keadaan basah ini, tahu mana saja yang harus di tubruk dengan pas hingga akhirnya Baekhyun menemui pelepasannya yang pertama.
Tautan di pangkal paha Chanyeol itu terlepas. Baekhyun tumbang seketika di atas tubuh Chanyeol dengan napas memburu.
"Curang." Gumam Chanyeol, "Aku belum selesai kau sudah tumbang."
"Gimme time, darl. Biarkan aku bernapas sebentar."
"Aku tidak suka menunggu."
Sepenuhnya Chanyeol merubah posisi dan membuat Baekhyun menungging, belah pada pantatnya masih berkedut dan Chanyeol suka keadaan seperti ini. Baekhyun memang tak mengeluarkan banyak sperma, tapi Chanyeol cukup puas dengan ronde pertama yang berhasil Baekhyun kuasai di atas tubuhnya.
"Kita bermain sebentar, babe. Giliranku sekarang."
Baekhyun hanya pasrah, bahkan terlalu pasrah saat belah pantatnya di buka dan terselip sesuatu yang gemuk di sana. Tidak sampai masuk, hanya sebatas terapit pada belah pantat yang memerah. Chanyeol butuh sesuatu yang bisa mencengkeram keperkasaannya sebelum dia benar-benar masuk pada lubang kenikmatan. Oleh karena itu, dia menangkup dua daging sintal di pantat Baekhyun dan menekannya untuk mengapit si kejantanan yang dia banggakan pada belah pantat Baekhyun.
Rasanya sungguh nikmat. Desahan bahkan tidak cukup untuk mengartikan kenikmatan yang menarik libido sampai pada akarnya. Chanyeol mulai menetapkan hak paten, belah pantat dan segala kesintalan ini hanya boleh ia sentuh dan ia rasakan. Bahkan dildo tidak akan pernah ia biarkan memasuki Baekhyun, hanya miliknya saja yang boleh. Terdengar egois tapi begitulah.
Lalu ketika Chanyeol tiba pada titik teratas suatu kenikmatan, dia melepas remasan itu dan membuka belah pantat lebih lebar.
Chanyeol masuk, menikmati kesempitan yang menampar akal sehal demi mencari kepuasan bersama Baekhyun. Hujaman itu Chanyeol lakukan secara brutal, dia bermain dalam tempo mendekati kasar hingga Baekhyun kelabakan menentukan nada desahan seperti apa yang harus ia gunakan.
Chanyeol terlalu bringas, terlalu mengejar cepat, tapi Baekhyun menyukainya. Dia lupa bagaimana rasanya sebuah kesakitan ketika terbelah oleh sesuatu yang gemuk, karena apa yang Chanyeol lakukan sekarang nyatanya pemuncak gairah yang paling mereka nanti.
Rintihan Baekhyun menjadi penanda terakhirnya dalam menerima kebrutalan Chanyeol. Tubuhnya tertindih oleh tubuh basah lainnya yang baru saja mengisi sisa ruang di lubang dengan cairan yang super hangat. Baekhyun belum berani merasakan dengan lidah bagaimana cairan yang Chanyeol keluarkan, untuk saat ini dia cukup puas merasakan kehangatan yang mengalir dan membuat mereka lupa dunia.
Kejaran napas keduanya memburu satu kepuasan. Beberapa kali Chanyeol mengecup cuping telinga Baekhyun di sisa tenaganya, lalu membisikkan sesuatu pada si kekasih mungil yang mendapat pencapaian keduanya malam ini,
"Lagi, ya?"
.
.
TBC
Bacud : hahahah udah nana ninanya sampe segini aja. Kalo kurang bisa req ke real_pcy atau baekhyunee_exo. Wkwkwk
