"Kyungsoo adalah teman."

Hembus napas lega Baekhyun derai ketika pernyataan itu ia dengar langsung dari Chanyeol. Bulu halus kekhawatiran yang sebelumnya terasa di sekitar hatinya perlahan sirna. Sekalipun itu hanya pernyataan belum berlabel penjelasan panjang lebar, setidaknya Baekhyun masih memiliki kesempatan untuk berharap tentang tepisan kenyataan buruk akan sosok Kyungsoo.

"Dia teman sekaligus.." Dari sini Baekhyun kembali memulai kekhawatirannya. Chanyeol terlalu pandai membalik perasaan. Klise sekali sunbae itu meluruhkan semua kepercayaan diri Baekhyun.

"Sekaligus?" menggigit sebentar bibir bawahnya, Baekhyun menyuarakan gantungan kalimat Chanyeol dengan kekhawatiran yang mulai bertambah level.

"Seorang sahabat. Aku berteman lama dengannya."

Sahabat?

"Aku mengenal Kyungsoo sejak kecil. Dia seorang dari tempat yang jauh. Dia hanya tinggal dengan ayahnya dan anak yang pendiam. Waktu memberi kami kesempatan untuk berteman cukup baik. Hingga di suatu hari, yang ku ingat saat itu aku masih kelas 3 SMP. Dia datang dengan napas memburu, membawakan aku sebuah gitar kecil yang dia beli dengan uang tabungannya. Ku pikir hubungan pertemanan ini tidak akan berlanjut pada sesuatu yang lebih. Tapi ternyata Kyungsoo menyimpan hal lain. Hari itu dia berkata jika menyukaiku adalah hal terburuk. Dia merasa telah merusak pertemanan ini dan dia berjanji tidak akan muncul lagi di hadapanku karena menganggap dia bukan teman yang baik."

Menunduk sebentar, Chanyeol lantas mengangkat kepalanya dan tersenyum masam pada bayangannya di remang kamar Baekhyun.

"Aku menganggapnya teman, jika dia memiliki perasaan lain, aku tetap menganggapnya teman. Tapi Kyungsoo bersikeras dengan keputusannya, dia tiba-tiba menghilang dan tidak pernah muncul di hadapanku. Rumahnya juga tiba-tiba kosong, dan hingga detik ini aku tidak tahu kemana dia pergi."

Baekhyun bukan seorang yang pandai menyembunyikan reaksi dirinya. Apa yang Chanyeol ceritakan tentang sosok Kyungsoo membuat Baekhyun terhenyak sebentar sebelum akhirnya merengkuh lelaki yang bertelanjang dada itu. Usakan yang ia berikan pada kepolosan punggung hanya untuk kesedihan seseorang yang kehilangan teman tanpa kejelasan.

Dalam hati Baekhyun menyadari suatu hal; Kyungsoo adalah teman berharga. Seseorang yang pernah memiliki tempat sahabat terpenting dalam hidup Chanyeol tapi perasaan lain yang Kyungsoo miliki nyatanya ia buat sendiri sebagai benteng pemisah.

"Sunbae yang malang. Jangan bersedih, ya?"

"Aku terlalu takut untuk ditinggalkan begitu saja. Aku pernah kehilangan seorang teman yang berharga, dan aku tidak mau kita memiliki waktu seperti itu, Baek."

"Sunbae," Baekhyun menjauhkan pelukannya, menangkup pipi Chanyeol dalam dia tangan dan mengusak halus dengan ibu jari. "Aku tidak akan. Kau sungguh tahu tentang perasaanku padamu. Jika di suatu hari kita harus berpisah, percayalah jika itu hanya maut yang melakukan. Aku mencintaimu, lebih banyak dari perasaan yang kau miliki."

"Janji tidak akan meninggalkanku?" kelingkingnya Chanyeol acungkan, Baekhyun menautnya dengan kelingking miliknya pula lalu kembali menangkup pipi sang sunbae untuk mendekatkan wajahnya. Hidung mereka saling bersentuhan, hingga hembus napas yang ada saling menyapu kedekatan tanpa syarat itu.

Tidak banyak kata yang mereka miliki untuk menceritakan banyak rasa yang ada. Nyatanya 'aku mencintaimu' menjadi dua kata paling sederhana tapi berpengaruh besar untuk keduanya kembali menepis ego diri. Katakan saja mereka memang tidak peduli bagaimana rentetan pernyataan cinta bisa terucap dengan mudah dari mulut. Karena pada dasarnya, baik Baekhyun maupun Chanyeol hanya peduli tentang tepisan jarak untuk suatu sentuhan yang berefek dari banyak ungkapan cinta mereka.

Baekhyun baru selesai dengan erangan gairah beberapa jam lalu. Tapi dia tak pernah menepis jika candu seperti sudah merajalela hingga membuat dirinya cukup berani mendorong kecil tubuh Chanyeol dan duduk tepat di atas perut lelaki itu.

Lidahnya bermain liar, menggaris kebasahan dari dahi Chanyeol melewati hidung dan bibir untuk berhenti pada tonjolan jakun di leher. Bibirnya terbuka penuh, meraup jakun itu dengan caranya yang sensual dan hisapan nyata untuk membuat Chanyeol mendesis nikmat.

Jari Baekhyun bahkan tak tinggal diam. Lentik yang berhias kuku terpotong rapi itu merambat turun ke bawah untuk bertemu satu batang keras yang tertutup oleh lilitan handuk.

Tubuh Chanyeol beraroma sabun, Baekhyun yakin betul lelaki itu baru saja menuntaskan lembab keringat di tubuhnya setelah percintaan mereka beberapa jam yang lalu. Dan mungkin Chanyeol harus mandi lagi setelah ini, karena Baekhyun memiliki kedutan tak terkendali pada lubang kesayangannya yang meronta pada satu kepadatan suatu penis.

"On top, huh?"

Baekhyun mengerang sebentar, merasakan lubangnya sudah penuh oleh suatu batang keras yang menutup semua ruang kosong. Sekali lagi, candu kembali merajalela dalam gairah yang tersimpan hingga Baekhyun tak lagi peduli bagaimana lubangnya itu terasa sakit untuk penis Chanyeol yang menggembung.

Dia suka dimasuki. Dia suka bagaimana Chanyeol cepat mengeras untuk percintaan mereka. Dia suka dengan semua napas pendek-pendek yang tercipta kala pergerakan mulai tercipta.

Pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol mendapati sebuah kepuasan rasa cinta dari seseorang yang mendebarkan perasaannya. Baekhyun seperti paket lengkap. Terlepas bagaimana gairah mereka yang beriringan untuk menuju puncak, Chanyeol mendamba si mungil itu benar dalam semua yang ia miliki. Seratus persen Baekhyun, tidak ada bilangan desimal lainnya yang mendekati seratus untuk penilaian Chanyeol terhadap Baekhyun.

Kepuasan mereka di adu dalam satu cinta yang bersatu dalam decit ranjang. Chanyeol mengambil alih tautan lentik jari Baekhyun, menggenggamnya penuh gairah dengan iringan hentakan pinggul yang cukup keras. Desahan yang terlontar dari bibir Baekhyun seperti pemicu gairah paling bagus. Karena ketika Chanyeol sesekali menghentak lebih keras, dia merasa ujung tumpul di dalam sana benar menubruk gairah Baekhyun yang paling dalam.

Baekhyun akan terengah, dia tak lagi peduli dengan cara tubuhnya meliar dalam menanggapi gemelitik napsu yang membungkus. Tak sungkan-sungkan Baekhyun akan menundukkan dirinya, beradu langsung dengan kuluman bibir Chanyeol pada bibirnya dan membiarkan Chanyeol mendominasi hentakan pada posisinya yang di bawah.

Lalu ketika Baekhyun cukup puas dengan apa yang menjadi ujung penumpu kejantanan Chanyeol di dalam sana, dia menggigit keras bibir Chanyeol dengan apitan oleh lubangnya pada kejantanan Chanyeol. Tubuhnya ambruk seketika, mendasah putus-putus untuk menerima desakan gairah Chanyeol yang belum mencapai puncaknya.

"Bibirmu.." Baekhyun menyadari ada noda darah di bibir bawah Chanyeol ketika lelaki itu selesai menumpahkan semua cairan cinta dalam lubang lembab Baekhyun. "Maaf, sunbae. Aku...aku menggigitnya terlalu..keras."

"Tidak apa, sayang."

"Akan ku ambilkan ob—"

"Tidak usah." Chanyeol mencegah lebih dahulu, dia mendakap tubuh Baekhyun yang ada di atasnya dengan tautan di bawah sana yang masih saling terhubung. "Nanti akan sembuh sendiri."

"Sunbae.."

"Baekhyun, sewaktu aku mandi tadi aku melihat dildo di kamar mandimu."

Baekhyun terkesiap, dia mengingat kembali bagaimana dildo itu bisa berada di sana untuk dirinya yang terkadang tiba-tiba terbayang Chanyeol menggagahinya habis-habisan.

"I-ituu.."

"Sepertinya kau sangat suka bermain dildo."

"Ti-tidak. Bu—bukan begitu."

"Milikku atau dildo?"

"Hm?"

"Mana yang lebih kau sukai?"

"Y-ya?"

"Jawab jujur." Malu-malu Baekhyun menyembunyikan wajah di dada Chanyeol yang basah. Mengukir sesuatu yang abstrak dengan telunjuknya di atas dada bidang kekasihnya itu. "Mana yang lebih kau suka, Baek?"

"Em..m-milik s-sunbae.."

Suaranya cukup kecil, tapi Chanyeol mendengar semua itu cukup jelas. "Kenapa lebih menyukai milikku?"

"Karena.." Baekhyun mengangkat tubuhnya, menumpu dagu dengan dua tangan di atas dada Chanyeol dan membuang malu yang sempat ia miliki. Pikirnya, tak perlu lagi ada rasa malu seperti itu jika Baekhyun memiliki alasan lebih masuk akal untuk pilihan yang ia miliki. "..milikmu lebih besar. Aku suka yang besar."

"Hanya besar saja."

"Dan lebih menggemaskan."

"Jadi, besar atau menggemaskan?"

"Besar. Karena jika menggemaskan saja aku tidak akan pernah sampai pada pelepasanku."

"Nakal." Chanyeol menyentil gemas ujung hidung Baekhyun, membalik ke adaan dengan dirinya yang kini berada di atas dan Baekhyun berpasrah pada rebahan dirinya. "Tapi aku suka mendengar alasanmu. Untuk itu aku akan memberimu sebuah hadiah."

"Hadiah? Apa?"

"Kita bercinta lagi..."

"YES!"

"...di depan kamar?"

"A-apa?"

"Biar Baekhee bisa lebih leluasa merekam."

Baekhyun lantas membuang atensinya pada pintu kamar yang sedikit terbuka. Satu cengiran dari bibir Baekhee seperti seorang penguntit yang tertangkap basah. Di tangan Baekhee ada sebuah kamera yang penyalakan lampu merah kecil.

"Apa yang kau lakukan, noona?!"

Baekhee mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V. "Sorry. Aku hanya tidak ingin melewatkan apa yang kalian lakukan."

"What the fuck!"

"Kalian sangat," Baekhee menunjukkan kedua ibu jarinya, membuat Baekhyun terpaksa mengerang kesal untuk tindakan kakaknya yang benar-benar tidak bisa dinalar.

.

.

Bacut : Baekhee! Mintaaaaaaaaaaaaaaaaa