Pada chapter yang sebelumnya Hinata yang melakukan pengejaran terhadap seorang iblis terkena serangan dan terluka. Naruto yang mengetahui kabar ini jadi sangat cemas dan dia pergi bersana Winter serta Rain untuk menjenguk keadaan Hinata. Di tengah jalan ada sesosok bayangan yang mengamati Naruto dan kawan-kawan dan menyelidiki keberadaan Hinata. Siapa dia sebenarnya?
Di suatu tempat...
Muncul kerumunan gagak-gagak hitam yang berkumpul menjadi satu dan membentuk menjadi sebuah sosok pria tinggi tegap berambut coklat gelap dengan wajahnya yang ditutupi masker sambil membawa sebuah pedang besar dibalik punggungnya.
"Apa kau sudah berhasil menemukannya?" tanya sesosok wanita yang memakai tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya dan hanya terlihat wajah bagian bawahnya saja tengah berbicara pada sosok yang baru datang itu.
"Ya, aku sudah mengetahui keberadaan gadis itu," jawab sosok pria itu dengan dingin.
"Bagus. Awasi tempat itu terus dan jangan sampai pangeran berhasil menemukannya," ucap wanita itu memberi perintah.
"Baik." Sebuah jawaban singkat dari pria yang masih belum diketahui identitasnya. Setelah itu sosoknya kembali menghilang menjadi sekumpulan gagak yang pergi dari tempat itu.
xxx
Warning : OOC, Some OC, Hina-centric, typos
Genres : Romance/Fantasy/Angst/A lil bit humor
Pairing : SasuHina as main pair and other hints
Rate : T
Naruto Masashi Kishimoto
By : Winter And Rain
-Calendula Of Moonlight-
Chapter 2
(Raven Under The Moon)
xxx
.
.
Di dalam kediaman Hyuuga...
.
"Hinata-himeeeeee!" gadis yang bernama Winter itu segera berlari memeluk Hinata yang berada di atas tempat tidurnya.
"Wi-Winter-san jangan menangis. Aku tidak apa-apa kok, sungguh," ucap Hinata yang merasa tidak enak melihat reaksi Winter yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi aku sangat cemas, Hinata-himeeeee!" rengekan Winter malah semakin menjadi sambil terus memeluki Hinata.
"Winter. Kalau kau memeluk Hinata seperti itu dia tidak bisa bernapas!" kata Naruto yang berpikir kalau saat ini yang menyebabkan Hinata sakit adalah pelukan Winter yang bisa membuat siapa saja merasa sesak.
"Ah! Maafkan aku Hime-chan!" seru Winter yang dengan cepat melepaskan pelukannya dari Hinata.
"Tidak usah begitu. Aku senang kalian datang dan memperhatikanku seperti ini," ucap Hinata yang merasa terharu dengan kedatangan tiga orang temannya. Jujur saja selama berada di sekolah Hinata tak punya banyak teman karena semua murid-murid takut padanya dan hanya sedikit yang mau berteman dengannya. Winter, Rain dan Naruto adalah orang-orang yang mau dengan berbaik hati berteman dengannya dan sangat mempedulikannya.
"Tentu saja Hinata-himee! Kita semua di sini sangat menyayangi Hinata-hime, iya kan?" celetuk Winter sambil melirik kedua pemuda yang wajahnya kini berubah menjadi merah.
"E-eh? Kalian berdua kenapa? Kenapa wajah kalian menjadi merah? Apa kalian demam a-atau... Jangan-jangan sakitku menular?" tanya Hinata dengan panik saat melihat merahnya wajah Naruto dan Rain.
'Bodoh,' ucap Rain singkat dalam hati. Tentu saja dia tak berani berkata seperti itu terang-terangan. Winter pasti akan memukulnya kalau mendengar ucapannya.
'Ya, ampun Hinata. Kenapa kau polos sekali, sih!' batin Naruto hanya geleng-geleng melihat sikap Hinata yang kurang peka. 'Tapi kenapa wajah Rain ikutan merah? Jangan-jangan dia... ' Naruto hanya bisa melirik pemuda di sebelahnya sambil berteka-teki sendiri.
"Kalian berdua sakit? Ayo kuantar kedokter," ucap Hinata dengan lugunya.
"Hehehehee. Hinata-hime lucu banget sih! Aku jadi gemes!" Sementara itu Winter hanya bisa tertawa kecil melihat sikap Hinata yang membuatnya geregetan.
Akhirnya para remaja itu mengobrol sambil bersenda gurau dan Hinata juga jadi banyak tertawa dan merasa sangat senang.
ooo
Malamnya...
Hinata...
Hinata!
Hinata!
...
"Siapa!" Hinata yang tengah terlelap segera terbangun dari tidurnya sambil berteriak, "hanya mimpi..." ucapnya setelah menyadari kalau dia hanya sedang bermimpi. Keringat dingin jatuh dari pelipis kanannya. Hinata benar-benar merasa seperti terpanggil oleh suara yang dia dengar dari mimpinya. Apakah benar dia sedang bermimpi tadi? Hinata benar-benar bingung karena suara tadi benar-benar terdengar begitu nyata.
"Lebih baik aku ambil minum dulu... " Hinata akhirnya beranjak dari tempat tidurnya untuk pergi ke dapur. Minum segelas air putih yang segar sedikit rasanya benar-benar dia butuhkan saat ini agar perasaannya jadi lebih baik.
Gadis itu berjalan dengan pelan keluar dari dalam kamarnya, maklum saja kondisinya belum benar-benar baik dan dia masih merasa sedikit pusing. Saat pandangannya tengah tertuju menatap ke arah depan, tiba-tiba saja dia seperti melihat sekelebatan bayangan dari arah samping. Terpancing dengan rasa penasaran Hinata berbalik arah mengikuti sekelebatan bayangan itu.
.
Hinata berjalan ke arah perkarangan rumahnya yang memang kebetulan cukup (atau sangat) luas. Mata gadis itu menyelidiki sekeliling perkarangan yang ditumbuhi beberapa pohon sakura dan dari kejauhan dia dapat menangkap ada sebuah sosok diantara pepohonan itu. Hinata tidak begitu tau siapa yang sedang berdiri di sana, yang jelas sosok itu seperti sosok laki-laki. Tanpa ragu Hinata dengan cepat menghampiri sosok tersebut.
"Kamu siapa dan bagaimana kau bisa ada di sana? Apa yang sedang kamu lakukan di sana?" tanya Hinata sambil bergerak perlahan mendekati sosok tersebut.
Hinata dapat melihat semakin jelas sosok itu begitu jarak mereka cukup dekat dan tiba-tiba saja gadis itu merasakan ada sesuatu yang aneh pada sosok itu. Desiran angin malam berhembus menerpa tubuh Hinata yang menjadi menggigil seketika. Angin yang berhembus itu seperti sebuah pertanda bagi Hinata, dan benar saja ketika Hinata berjarak dua meter dari sosok itu langkahnya terhenti, karena sosok itu tiba-tiba saja melihat ke arahnya yang membuat jantung Hinata berdegup sangat kencang dan tak beraturan.
'Di-dia iblis... ' batin Hinata terperanjat saat menangkap dua bola mata merah pemuda itu tengah menatapnya. Hinata sudah sering berhadapan dengan iblis dan dia yakin sekali pemuda di hadapannya adalah seorang iblis.
'Apa yang dia lakukan di sini? Ah! Apa dia sedang mengincar keluargaku?' kepala Hinata dipenuhi tanda tanya juga ketakutan. Hinata dapat merasakan kekuatan pemuda itu jauh lebih besar dari pada dirinya, dan bila mereka harus dihadapkan satu lawan satu, Hinata merasa dia tak akan punya kesempatan untuk menang.
'Aku tidak bisa membiarkan dia melukai siapapun di sini! A-aku harus segera memanggil Neji dan yang lainnya sekarang!' Hinata secara reflek segera bergerak mundur. Tapi langkahnya terhenti ketika sosok itu memanggilnya.
"Tunggu dulu, kumohon jangan pergi!" kata sosok itu yang meminta Hinata untuk tidak pergi, "tolong jangan beritahu pada siapapun mengenai keberadaanku di sini... " ucapnya lagi yang entah mengapa membuat Hinata jadi terdiam dan mengurungkan niatnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Hinata yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "jangan-jangan kau berniat untuk mengincar keluargku?" belum sempat iblis itu menjawab, Hinata sudah membuat kesimpulan sendiri karena dia tau kalau keluarganya pasti menjadi musuh utama para iblis dan kedatangan para iblis ke tempatnya pasti untuk niat yang buruk.
"Bukan, kau salah paham!" dengan cepat iblis itu segera menjawab, "aku kemari bukan untuk niat yang jahat. Aku kemari hanya untuk... " perkataan iblis itu terhenti tiba-tiba membuat Hinata semakin curiga sekaligus penasaran.
"Lalu kamu kemari untuk apa?" tanya Hinata dengan sedikit memaksa.
"Aku kemari hanya untuk menemuimu," jawab iblis itu secara lepas dan terlihat sekali kalau kata yang dia ucapkan meluncur mulus begitu saja tanpa dia sadari. Sesaat setelah sang iblis mengucapkan kata-kata itu, dia terdiam.
"Menemuiku? Memangnya ada urusan apa kau denganku?" tanya Hinata yang menjadi semakin bingung apa yang iblis itu inginkan darinya.
"A-aku tau! Kau kemari mau mengincar nyawaku karena aku yang paling lemah, kan?" lagi-lagi Hinata asal ambil kesimpulan sendiri.
"Tidak! Kau salah besar kalau berpikir seperti itu!" dengan panik iblis itu berusaha menepis pikiran buruk yang ada di dalam otak Hinata.
"Jangan banyak alasan! Aku akan melenyapkanmu di sini, dasar kau iblis!" bentak Hinata dengan galak yang langsung memasang kuda-kuda dan mengeluarkan sebuah kertas mantra dari balik jubah kimononya yang berwara biru gelap.
'Hinata... Apa kau sudah tidak mengenaliku lagi?' ucap iblis itu dengan sedih di dalam hatinya.
'Aku rasa aku bisa mengatasinya... ' Hinata masih bersiaga sambil mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi iblis yang berdiri di depannya saat ini, 'dia terluka... Pasti karena dia menerobos lingkaran segel yang telah dibuat ayah disekitar rumah ini dan aku rasa aku bisa melawannya.' Hinata dengan mantap berniat untuk menghabisi sang iblis seorang diri.
Zinnnggg!
Baru saja Hinata mengalihkan fokusnya tiba-tiba saja sosok sang iblis sudah menghilang dari hadapannya dan berpindah tempat persis di depannya.
"A-aah!" Hinata memekik karena kaget dan tidak menyangka kalau iblis itu dapat bergerak begitu cepat bahkan dalam keadaan yang terluka sekalipun.
"Sudah kubilang aku kemari bukan untuk mencari masalah!" ucap iblis itu yang menatap Hinata dengan mata merahnya sambil mencengkram tangan Hinata yang masih memegang kertas penyegel.
Hinata hanya bisa terkejut dalam diam dengan bibir yang sedikit terbuka. Kalau bibir itu bisa mengeluarkan suara pasti saat ini akan terdengar suara jeritan yang begitu hebat dari Hinata. Tapi Hinata hanya bisa diam sambil menatap sang iblis dan tanpa sadar dia menjatuhkan kertas penyegel yang dia pegang. Dia menatap dalam mata merah itu dan Hinata dapat menangkap adanya suatu kerinduan yang begitu dalam tersimpan di dalam kedua bola mata yang memancarkan cahaya api tersebut.
Kiss...
Tanpa terduga iblis berambut gelap itu mendekati Hinata, memperkecil jarak mereka tanpa Hinata sadari dan langsung mencium bibir mungil Hinata yang masih terbuka sedikit.
"Ah! Lepaskan aku!" Menyadari apa yang barusan saja terjadi Hinata langsung memekik dan Lekas-lekas gadis itu berteriak sambil meronta, berusaha untuk melepaskan diri.
"Hinata, dengarkan aku! Aku tidak ingin menyakiti siapapun, percayalah padaku!" kata iblis itu setengah berteriak sambil berusaha menarik Hinata ke arah dirinya.
Saat mendengar namanya disebut oleh sang iblis, Hinata segera terdiam sambil menatap heran padanya, begitu juga sang iblis yang tiba-tiba saja terdiam. Tampak kecemasan muncul dalam guratan wajah rupawan namun pucat itu pada sang iblis. Untuk sesaat keduanya hanya saling terdiam dan saling menatap, seolah keduanya tengah berbicara lewat sorotan mata.
'Darimana dia tau namaku? Ada apa ini? Kenapa dada ini terasa aneh... Dan kenapa dia menciumku?' batin Hinata bertanya-tanya dengan perasaan aneh dan ganjil yang muncul dalam hatinya.
"Hinata, apa kau lakukan di sana?" tiba-tiba saja muncul Neji dari arah belakang mereka dan suara pemuda itu menyadarkan Hinata yang sedang terpaku.
"Neji-nii! Cepat kemari, di sini ada iblis! Tolong aku!" teriak Hinata secara reflek berbalik dan meminta bantuan kepada Neji.
"A-apa katamu?" Neji kaget setelah mendengar ucapan Hinata. Dengan cepat pemuda itu bergegas berlari menghampiri Hinata. Dia sangat cemas kalau sampai iblis itu menyakiti Hinata.
.
"Hinata, kau tidak apa-apa? Di mana iblisnya?" tanya Neji setelah berhasil mendekati Hinata. Dia mengecek keadaan gadis itu sekaligus memeriksa keadaan sekitar dan mencoba merasakan adanya kekuatan iblis disekitar mereka, tapi tampaknya keadaan tampak aman-aman saja. Bahkan Neji tak merasakan adanya kekuatan iblis ataupun aura jahat.
"Hinata? Di mana iblis yang kau katakan tadi?" tanya Neji sekali lagi yang mulai merasa kalau Hinata sedang melantur.
"Dia ada di sini... Eh... Ti-tidak ada... " Hinata yang tadinya sangat bersemangat untuk menunjukkan keberadaan iblis itu berubah jadi bingung ketika dia menyadari kalau sosok iblis yang tadi berada di depannya sudah menghilang.
'Aneh... Kenapa sudah tidak ada? Apa tadi aku hanya bermimpi? Tapi tidak mungkin... Cengkraman tangannya masih terasa... Begitu dingin... Dan ciuman itu... ' batin Hinata sambil memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa dingin dan saat mengingat apa yang terjadi diantara mereka wajahnya menjadi merona. Itu adalah ciuman pertama Hinata!
"Mungkin tadi kau salah lihat Hinata. Sudahlah, ayo kembali ke dalam," bujuk Neji mengira Hinata mungkin kelelahan sehingga dia jadi berhalusinasi melihat iblis. Lagipula dia yakin kalau segel pertahanan yang dibuat ayahnya tak akan bisa ditembus oleh iblis manapun, kecuali iblis itu adalah iblis tingkat S yang akhir-akhir ini sangat jarang atau bisa dikatakan tidak pernah dia temui sejauh hidupnya ini.
"Ta-tapi tadi aku sungguh-sungguh melihatnya," ucap Hinata yang masih kukuh dengan apa yang dia lihat barusan dan berusaha meyakinkan Neji.
"Hinata kau itu sedang sakit. Mungkin kau kelelahan jadi salah lihat. Sudah, lebih baik kita masuk, di luar sangat dingin dan aku tidak mau sakitmu jadi semakin parah." Neji menghela napas berusaha menahan kesabarannya melihat kekerasan kepala yang dimiliki Hinata. Gadis itu memang terlihat rapuh tapi sekali dia meyakini sesuatu akan sangat sulit dirubah. Pemuda itu mencoba mengajak Hinata masuk karena dia mencemaskan keadaan Hinata yang belum pulih benar.
"Baiklah, Neji-nii... Maafkan aku telah membuatmu kesal." Hinata hanya bisa mendesah pelan meskipun sebenarnya dia masih sangat penasaran kemana perginya iblis itu. Kenapa dia bisa tau nama Hinata dan apa alasan iblis itu mencarinya. Semuanya masih tersimpan dalam benaknya.
"Hinata... " tiba-tiba saja Neji berhenti dan kini dia menatap Hinata dengan dalam.
"A-ada apa, nii-san?" tanya Hinata dengan gugup saat melihat pandangan Neji kepadanya sangat serius.
"Mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan 'nii'. Karena kelak kau akan menjadi istriku, jadi biasakanlah untuk menghilangkan panggilan itu dan kau cukup memanggil namaku saja. Apa kau mengerti Hinata?" jelas Neji yang meminta Hinata untuk tidak canggung kepadanya. Keduanya memang sudah dijodohkan sejak kecil dan rencananya setelah lulus SMA dia dan Hinata akan menikah dan meneruskan jejak leluhur mereka.
"Ba-baik Neji-nii, eh... Ma-maksudku... Neji," balas Hinata dengan semburat merah yang muncul di kedua pipinya.
"Itu baru bagus. Ayo kita masuk." Neji tersenyum senang karena Hinata mau membiasakan diri. Dia segera meraih tangan Hinata dan keduanya berjalan masuk ke dalam dengan beriringan.
Sementara itu tak jauh dari Hinata dan Neji, di balik rindangnya salah satu pohon Sakura yang berada di sana, tampak seorang pemuda berwajah pucat menatap Hinata dengan mata kelamnya.
"Hinata... Jadi kau akan menikah dengan orang itu dan benar-benar menjadi pembasmi iblis?" gumam pemuda itu dengan tatapan sendu yang terpancar dari mata onyx-nya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sebenarnya siapakah para iblis itu? Lalu siapakah pemuda bermata onyx itu? Ada hubungan apa dia dengan Hinata?
TBC
Rain : Akhirnya gw menyelesaikan chapter dua ini. Tadinya mau janjian sama Winter tapi dia sepertinya sedang sibuk jadi gw yang kelarin tuisan ini karena ide di otak udah gak bisa ditahan hehehehe.
Sebagai author baru kami masih butuh banyak saran dan kritik tapi kami tidak menerima flame yang tak berdasar. Satu hal yang kami ingin tekankan Pair itu adalah kekuasaan mutlak milik author jadi kalau bagi pembaca yang kurang berkenan dengan pair yang kami tulis kalian bisa mennggalkan cerita kami.
Selamat membaca dengan semoga kalian menyukainya -Lari ngubek-ngubek keberadaan winter-
