Pada chapter sebelumnya Hinata bertemu dengan seorang iblis yang tampaknya sudah mengenalnya. Banyak pertanyaan yang ada di dlama benak Hinata belum terjawab tapi sosok iblis itu sudah menghilang. Lalu siapa kedua sosok yang sepertinya mengincar Hinata? Apakah kedua sosok itu juga iblis? Atau manusia?


Opening instrumental :

Tampak kegelapan memantulkan wajah rembulan yang tergambar di dalam air. Desiran angin menghembuskan kelopak-kelopak Sakura yang berguguran di atas air tersebut, menciptakan getaran gelombang yang memudarkan wajah sang rembulan.

Mikazuki no kimi yo kakureta mama de Itsuka koikogareta

Memunculkan sosok Sasuke, Sai, Neji, Gaara dan Naruto secara berurutan yang masing-masing dari mereka mengenakan topeng tengu.

Itoshisa yo kimi yo utsuro utsuro ni

Kelima pemuda itu muncul secara acak di sekitar Hinata dan membelakanginya yang tengah berdiri sendiri di kegelapan.

Awai yume wo misasete

Tak lama Hinata yang sedang berdiri di tengah menghilang dan berubah menjadi serpihan-serpihan buih.

Instrumental : serpihan-serpihan itu terbang melintasi gelapnya malam di bawah sinar rembulan dan berhenti di suatu tempat membentuk sosok Hinata kembali.

Mou kore ijou nani mo iwanai de

Berganti keadegan di mana Hinata tengah berdiri berhadapan dengan Sasuke yang berada di bawah pohon Sakura.

Shiroku kaoru hana no you ni...aa, yasashiku

Memperlihatkan sosok Sasuke dari dekat yang sedang duduk di bawah pohon Sakura. Sosoknya menatap Hinata dengan tatapan yang begitu dalam.

Nee tatoereba fureta yukigeshou

Memperlihatkan Hinata dari dekat yang sedang tersenyum manis pada Sasuke. Surai indigonya melambai dengan indah saat terkena desiran angin malam.

Namida harari ochita ato de subete wo sasageta

Hinata menutup kedua bola matanya. Senyum itu berganti dengan setetes air mata yang mengalir ke pipinya.

Mikazuki no kimi yo kakushite okure dare ni mo mienu you ni

Berganti menampilkan Naruto, Kiba, dan Shino tengah berlari

Kono sora ga itsuka ochite shimaeba

Sosok Hinata terlihat dari kejauhan yang perlahan menghilang

Sono kokoro wo dakeru no?

Naruto mengulurkan tangannya untuk menggapai Hinata tapi sosok gadis itu terlanjur lenyap.

Instrumental : Setelah itu muncul sosok-sosok berjubah di hadapan Naruto, Kiba dan Shino mengepung ketiganya.

Sou hitamuki na mama de ite hoshii

Adegan berganti ke sekolah Konoha di mana Naruto yang sedang duduk di kelas tengah memandangi Hinata yang sedang mengobrol dengan Winter.

Sugita hibi ga ima mo boku wo ...aa, setsunaku

Tapi sosok Hinata bersama Winter menghilang dari tempatnya. Tatapan Naruto berubah menjadi tatapan sendu dan dia segera menghela napas.

Nee tatoereba yoru no shinkirou

Berganti memperlihatkan Neji yang tengah memandangi keindahan sang rembulan. Pikirannya mengingat wajah Hinata yang sedang tersenyum pada rembulan itu.

Tsukamikaketa sode no saki wo dokoka de nakushita

Neji yang masih berdiri di sana mengeratkan kepalan tangannya dengan sangat keras.

Mikazuki no kimi yo kakushite okure dare ni mo mienu you ni

Memunculkan sosok gadis berambut merah muda panjang, sosok bertudung yang memiliki rambut biru, sosok berjubah hitam dan sosok pemuda berambut merah secara satu-persatu.

Samidare no koi yo utsuro utsuro ni

Memunculkan sosok-sosok para iblis yang seperti monster satu-persatu

Awai yume wo todokete

Dan di belakang para monster itu ada sesosok berjubah hitam dan memakai tudung kepala. Dari tudung itu ada pancaran cahaya merah.

Hisame sugite ikuyo machitsuzuketa

Kemudian gambar memperlihatkan sosok Sasuke yang sedang duduk di bawah pohon Sakura sambil tertunduk. Lalu muncul dua tangan seseorang yang terentang di depan Sasuke.

Rindou-iro to kogetsu sono te ni kuchizuke wo

Tak perlu hitungan waktu Sasuke segera memeluk sosok pemilih kedua tangan itu yang ternyata adalah Hinata.

Mikazuki no kimi yo kakureta mama de Itsuka koikogareta

Memperlihatkan sosok Hinata dari bawah ke atas yang tengah memakai sebuah kimono berwarna putih yang sedang berjalan seperti menelusuri sebuah lorong yang dihiasi pilar-pilar emas dengan ditemani oleh Winter dan Rain.

Itoshisa yo kimi yo utsuro utsuro ni

Hinata berjalan perlahan dan kemudian dia berhenti sambil menatap seseorang yang sedang memunggunginya.

Awai yume demo

Sosok yang membelakangi Hinata berbalik ke arah Hinata. Sosok itu adalah Sasuke yang langsung tersenyum hangat pada Hinata.

Mikazuki no kimi yo kakushite okure dare ni mo mienu you ni

Memperlihatkan wajah rembulan yang bersinar di atas langit malam yang dihiasi taburan bintang.

Kono sora ga itsuka ochite shimaeba

Di bawahnya terlihat dua orang, Hinata dan Sasuke yang sedang duduk saling memunggungi di balkon sebuah rumah.

Sono kokoro wo dakeru no?

Keduanya kemudian saling memandang ke atas langit dan tersenyum.

xxx

Warning : OOC, Some OC, Hina-centric, typos

Genres : Romance/Fantasy/Angst/A lil bit humor

Pairing : SasuHina as main pair and other hints

Rate : T

Naruto Masashi Kishimoto

By : Winter And Rain

-Calendula Of Moonlight-

Chapter 3

(Someone Similiar)

xxx

.

.

Hinata yang sudah sembuh akhirnya bisa kembali bersekolah dan bergabung bersama dengan teman-temannya lagi.

"Hinata-himeeee!" Winter yang melihat Hinata sudah datang ke sekolah segera menghambur untuk memeluk gadis indigo itu.

"Iya, keadaanku sudah sangat baik jadi mulai sekarang aku bisa bersekolah lagi seperti biasa," jawab Hinata sambil tersenyum manis membuat Naruto yang sedari tadi memperhatikan gadis itu jadi terpana dengan wajah merah.

Disaat Hinata dan Winter tengah asik berdiri di depan pintu kelas sambil mengobrol, tiba-tiba lewat dua orang gadis dari kelas lain yang lewat sambil membicarakan seseorang dengan penuh antusias.

"Apa kau melihatnya? Dia benar-benar keren!" ucap seorang gadis berambut coklat pendek pada teman di sebelahnya dengan penuh semangat.

"Iya-iya! Tubuhnya tinggi, berkulit putih dan senyumannya itu bikin gak kuat!" sambar temannya sambil mendeskripsikan sosok orang yang membuatnya tergila-gila saat ini meskipun dia baru melihatnya baru lima menit yang lalu.

"Kelihatannya bakalan ada murid baru nih," celetuk Winter setelah mendengarkan percakapan gadis-gadis tadi. Hinata hanya bisa mengangguk tidak tau harus berkomentar apa karena sebetulnya dia juga tidak terlalu peduli dengan ada atau tidak adanya murid baru di sekolah mereka.

"Ah, sudahlah. Ayo kita duduk. Sebentar lagi Kurenai-sensei datang." Winter menarik tangan Hinata ke arah tempat duduk mereka yang berada di pojok kiri dekat jendela.

Tak berapa lama bel pelajaran dimulai berbunyi dan murid-murid segera mengatur posisi duduknya dengan baik. Kurenai yang menjadi guru pada jam pertama juga sudah muncul tapi kali ini dia tidak datang sendirian. Dia masuk ke dalam kelas bersama dengan seorang anak laki-laki berambut hitam dengan kulit yang agak pucat. Sontak kedatangan pemuda itu menjadi perhatian seluruh kelas terutama murid perempuan yang langsung terpesona dengan sosok pemuda yang baru masuk itu.

"Selamat pagi anak-anak!" sapa Kurenai dengan penuh semangat. Bibir merahnya merekah membuat suasana menjadi segar.

"Selamat pagi, Kurenai-sensei!" balas semua murid tak kalah bersemangat.

"Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru," ucap Kurenai sambil melirik pemuda yang berdiri di sebelahnya, "Sai, ayo perkenalkan dirimu pada yang lain." Kurenai menyuruh pemuda yang bernama Sai itu untuk memperkenalkan diri. Pemuda itu mengangguk cepat. Kemudian dia maju satu langkah ke depan sambil menatap seisi kelas yang pandangannya kini tertuju ke arahnya.

"Perkenalkan, namaku Taro Sai. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan Sai. Mohon bantuannya semua," ucap pemuda itu dengan ramah sambil menebar senyum, membuat para murid perempuan hampir menjerit saat melihat senyumannya yang menggoda itu.

Sementara para murid perempuan seperti sedang terhipnotis oleh sosok Sai. Para murid laki-laki mulai berdecak kesal karena menganggap Sai sebagai saingan baru mereka. Beda lagi dengan Hinata yang merasakan sesuatu yang aneh. Gadis itu merasa kalau sosok Sai persis dengan sosok iblis yang mendatanginya semalam.

'Dia... Apakah dia yang menemuiku semalam? Kenapa sosoknya bisa mirip dengan iblis itu?' tanya Hinata yang merasa kurang yakin karena sosok iblis yang dia lihat semalam tidak terlalu jelas tapi Sai memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan iblis itu.

"Silahkan duduk di bangku kosong yang ada di sana, Sai," kata Kurenai mempersilahkan Sai untuk duduk di bangku kosong yang sejajar dengan tempat duduk Hinata dan Winter.

Sai berjalan sambil terus mengumbar senyum membuat murid laki-laki merasa jengkel dan menganggap Sai sedang tebar pesona dengan murid perempuan. Sementara itu murid perempuan tengah menatap Sai dengan tatapan berbinar, Winter malah menatap Sai dengan pandangan sinis. Ketika Sai berhenti di sebelah Winter, pemuda itu bergumam pelan padanya. Sesuatu yang tak bisa didengar Hinata tapi tampaknya apa yang dikatakan Sai membuat Winter gelisah bercampur kesal.

"Winter kau kenapa?" tanya Hinata yang heran melihat keanehan sikap pada Winter.

"Ah, aku tidak apa-apa kok. Aku hanya kurang menyukai anak baru itu saja, heheheh," balas Winter sambil tertawa canggung. Sebenarnya dia sedang menutupi kegelisahan yang menyeruak di dalam hatinya karena jauh sebelum ini dia sudah mengenal Sai dan kemunculan Sai sekarang pasti karena pemuda itu ada niat yang tidak baik terutama pada Hinata dan dia harus waspada.

"Kalau ada apa-apa, katakan saja padaku. Aku pasti akan membantumu," ucap Hinata yang dapat menangkap kecemasan yang disembunyikan Winter darinya.

"Tenang saja-tenang saja! Tak usah khawatir Hinata-hime!" balas Winter dengan cepat dan segera memberikan senyuman lebarnya pada Hinata.

'Sai... Mau apa dia di sini? Tak akan kubiarkan dia mencelakai Hinata-hime!' ucap Winter dalam hati dan tanpa sadar tangannya meremas kertas buku yang ada di atas mejanya, membuat kertas itu menjadi sobek.

xxx

Begitu bel istirahat berbunyi Winter segera melesat cepat keluar meinggalkan kelas. Sikap Winter kali ini benar-benar aneh, karena biasanya gadis itu akan merengek mengajak Hinata untuk pergi ke kantin atau berjalan-jalan mengelilingi sekolah atau mengajaknya untuk makan siang di halaman belakang sekolah.

"Hinata. Ada apa dengan Winter?" tanya Naruto yang juga merasakan adanya keanehan pada gadis itu.

"Entahlah, Naruto. Aku juga tidak tau," jawab Hinata yang hanya bisa menatap bengong pada Winter yang sudah pergi jauh dari kelas.

"Hinata-hime. Apa kita bisa bicara berdua?" tiba-tiba saja Sai datang menghampiri dan mengajak gadis itu untuk bicara empat mata.

'Aneh... Darimana dia tau namaku? Bukankah kami belum berkenalan?' Hinata benar-benar bingung karena dia sama sekali belum menyebutkan namanya di depan Sai. Lalu darimana pemuda itu bisa mengetahui nama Hinata.

"Hinata-hime?" panggil pemuda itu lagi membuat Hinata sedikit tersentak dari lamunannya.

"Baiklah," jawab Hinata sambil mengangguk.

Akhirnya Hinata pergi keluar mengikuti Sai. Entah apa yang mau dibicarakan Sai tapi yang jelas Hinata juga merasa perlu membicarakan sesuatu dengan pemuda itu. Dia ingin tau apakah Sai adalah iblis yang menemuinya semalam karena sosok Sai benar-benar mirip dengan iblis. Kalau itu memang benar tentu saja Hinata ingin menanyakan apa alasannya datang saat itu dan kenapa Sai menciumnya.

xxx

Sementara itu di kelas 2-A...

Winter yang tadi pergi keluar dari kelas ternyata mendatangi kelas di mana Rain berada. Sepertinya gadis itu ingin mengabarkan tentang keberadaan Sai di kelasnya kepada Rain.

"Rain!" Winter datang-datang langsung menggebrak meja pemuda itu dan memasang wajah panik membuat Rain yang tadi sedang asik mencatat pelajaran terpaksa sibuk mencari-cari pulpennya yang sukses lompat dari mejanya dan berguling ke lantai.

"Apaan, sih Winter?" tanya Rain sambil tetap sibuk mencari-cari sang pulpen yang gelinding entah kemana.

"Kalau bicara liat ke sini dong! Aku bukan di bawah, Rain!" ucap Winter agak kesal karena merasa dicuekin.

"Sudah bicara saja. Aku sedang sibuk mencari pulpenku tersayang!" balas Rain sambil celingak-celinguk di bawah kolong meja.

"Apa kau tau kalau Sai datang kemari? Sekarang dia menjadi teman sekelasku dan Hinata," kata gadis itu sambil membungkukkan tubuhnya ke bawah dan melongok ke arah Rain yang berada di bawah meja.

"APA?" Rain langsung kaget dan dengan reflek dia bergerak untuk berdiri.

Jdugh!

Karena posisinya masih di bawah meja, otomatis kepalanya terbentur kayu meja tersebut.

"A-aduh... " rintih pemuda itu sambil memegangi kepalanya yang sekarang terasa nyut-nyutan sementara Winter hanya bisa memutar kedua bola matanya sambil berpikir kalau Rain kadang-kadang bisa juga bersikap ajaib.

"Kau tidak sedang berbohong atau sedang mengerjaiku, kan?" tanya Rain untuk mendapat kepastian sekali lagi dari Winter.

"Aku serius Rain!" dengus Winter sambil melipat kedua tangannya di dada," dan aku rasa dia kemari untuk mengincar Hinata-hime... " sambung Winter yang sudah tak bisa membendung rasa cemasnya.

xxx

Di tempat yang berbeda...

Di sebuah ruangan kelas kosong dapat terlihat Hinata tengah berdiri berhadap-hadapan dengan Sai. Keduanya hanya saling terdiam untuk beberapa saat setelah akhirnya Hinata memutuskan untuk berbicara duluan.

"Sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Hinata yang sudah tak bisa memendam rasa penasarannya kepada Sai. Dia sungguh-sungguh perlu tau siapa Sai yang sebenarnya.

"Oh, baiklah. Silahkan Hime bicara duluan," ucap Sai sambil tersenyum.

"A-apa... Apa kau yang menemuiku semalam? Apa kau iblis yang mendatangiku semalam dan berkata kau pergi untuk menemuiku?" pertanyaan Hinata sempat membuat Sai terdiam dan pemuda itu tampak bingung. Keyakinan Hinata kalau iblis itu adalah Sai menjadi pudar saat melihat ekspresi Sai.

'Rupanya dia telah mendahului aku. Tapi tidak apa-apa. Aku bisa memanfaatkan situasi ini,' ucap Sai yang merencanakan sesuatu untuk mengambil keuntungan dengan keadaan ini.

.

.

"Kalau begitu sekarang Hinata di mana?" tanya Rain yang juga jadi ikutan mengkhawatirkan Hinata, hanya saja dia tetap bisa mengendalikan perasaannya agar terlihat tenang.

"Ya, ampun! Aku lupa! Hinata-hime di kelas dan di sana ada Sai!" teriak Winter dengan heboh dan sukses membuat seisi kelas memperhatikannya.

"Hei, hei, hei. Kecilkan volume suaramu. Di sini bukan di pasar!" omel seorang pemuda yang rambutnya dikuncir ke belakang. Dia merasa terusik dengan suara Winter yang mampu membuat telinganya budek seketika.

"Kalau begitu kita harus ke sana sekarang sebelum terjadi apa-apa!" sambar Rain dengan cepat tidak mempedulikan protesan dari teman sekelasnya yang bernama Idate itu.

"Ayo cepat!" Winter juga ikut-ikutan cuek.

Kedua remaja itu bergegas pergi meninggalkan ruangan kelas dan tinggal Idate yang pundung sekaligus merasa keki karena omongannya tadi tidak didengar.


Di ruangan lain tampak Hinata sedang bersitegang dengan Sai. Gadis itu tampak marah kepada pemuda itu.

"A-aku tidak percaya! Aku tidak bisa mempercayai apa yang kau katakan barusan!" ucap gadis itu dengan keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh dia tak dapat percaya dengan perkataan Sai yang menyatakan kalau Hinata juga adalah seorang iblis.

"Aku mengatakan yang sebenarnya. Hinata-hime, ikutlah denganku karena tempatmu bukan di sini tapi bersama kami." Pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Hinata dan mengajak gadis itu untuk pergi bersamanya.

"Tidak! Aku tidak mau pergi denganmu! Kau pasti berbohong!" Hinata menepis tangan Sai dan bergerak mundur dengan perlahan.

"Apa yang mau dia lakukan pada Hinata?" rupanya dari kejauhan ada Naruto yang tengah mengawasi gerak-gerik Sai. Sejak awal Naruto memang mencurigai pemuda aneh itu. Dengan hati-hati Naruto mengamati Hinata dan Sai. Kalau sampai terjadi hal di luar dugaan dia akan bergerak maju untuk melindungi Hinata.

"Kau akan ikut denganku suka ataupun tidak suka," ucap Sai dan secara tiba-tiba mata pemuda itu berubah menjadi merah membuat Hinata terperanjat karena mata merah itu benar-benar mata yang sama persis dengan mata iblis yang menemuinya semalam.

Hinata semakin bergerak mundur. Entah kenapa mata itu seperti menghipnotis dirinya. Hinata yang tak kuasa menahan kekuatan mata itu akhirnya pingsan. Gadis itu hilang kesadaran membuat tubuhnya lemas seketika. Sai segera menangkap tubuh Hinata sebelum jatuh.

xxx

Di ruangan lain...

Winter dan Rain yang bergegas untuk menemui Hinata akhirnya tiba di kelas.

"Hinata-hime!" seru Winter begitu masuk ke dalam kelas. Tapi begitu ada di dalam matanya tak dapat menangkap sosok gadis indigo yang biasa duduk manis di bangkunya.

"Tidak ada... Ke mana dia?" Winter jadi semakin panik dan pikirannya sudah melayang entah kemana. Firasat buruk mulai menggelayuti hatinya.

"Hei, Tayuya. Apa kau melihat Hinata-hime?" tanyanya pada seorang gadis berambut merah muda panjang yang sedang menyeruput milkshake vanilla.

"Gadis aneh itu, ya? Dia tadi pergi bersama Sai," jawab gadis itu dengan ketus. Tampaknya gadis itu sedang cemburu karena melihat kedekatan Hinata bersama Sai.

"Eh? Pergi dengan Sai? Mereka pergi ke mana?" ternyata hal yang ditakutkan Winter benar-benar terjadi. Sai mulai melakukan aksinya kepada Hinata.

"Mana aku tau! Cari saja sendiri!" dengus Tayuya dengan acuh tak acuh. Perasaannya hari ini memang sedang kesal.

"Bagaimana?" tanya Rain yang jadi ikutan bingung.

"Lebih baik kita segera mencari mereka. Ayo pergi!" tanpa menunda waktu lagi Winter segera menarik Rain dan keduanya berlari keluar kelas.

.

"Kita harus mencari Hinata-hime di mana?" gumam Winter kelimpungan sendiri. Sekolah Konoha cukup luas dan Hinata bisa berada di mana saja dengan Sai.

"Kita berpencar saja. Kau ke kiri dan aku ke kanan. Berharap saja Hinata berada di salah satu ruangan dekat sini," ucap Rain memberikan usul agar mereka berpencar mencari Hinata.

"Aku setuju!" Winter mengangguk cepat dan tanpa mengulur waktu lagi dia bergegas berlari menelusuri lorong bagian kiri.

xxx

Di sisi lain...

"Apa yang kau lakukan pada Hinata?" tanya Naruto sambil memasang wajah garang. Dia curiga kalau Sai melakukan sesuatu pada Hinata sehingga gadis itu jatuh pingsan.

"Naruto, untung kau datang. Cepat bantu aku membawa Hinata. Dia pingsan!" Sai dengan cepat berkelit. Pemuda itu memang licik dan sangat pandai bersandiwara membuat Naruto yang awalnya curiga menjadi percaya padanya.

"Hinata! Hinata ada apa denganmu?" Naruto segera menghambur ke arah Hinata dan menggantikan Sai memegangi tubuh Hinata.

Tanpa pikir panjang lagi Naruto segera menggotong tubuh gadis itu seorang diri untuk membawanya ke ruangan kesehatan. Disaat Naruto berbalik dan lengah tiba-tiba saja Sai menyerangnya dari belakang.

Duagh!

Sai memukulkan tangannya ke arah tengkuk Naruto dengan cukup keras. Pukulan itu membuat Naruto akhirnya tak sadarkan diri.

Brukh!

Akhirnya Naruto ikutan pingsan bersama Hinata. Dia dan Hinata sama-sama terjatuh dan tak sadarkan diri.

"Itulah akibatnya kalau kau terlalu ikut campur dengan urusanku!" ucap Sai dengan angkuh.

Setelah yakin Naruto benar-benar pingsan, pemuda itu lekas berjalan melewati tubuh Naruto. Dia berniat untuk membawa pergi Hinata yang masih pingsan. Tapi baru saja Sai membungkuk tiba-tiba saja aksinya dihentikan oleh Winter.

"Singkirkan tanganmu dari Hinata-hime!" di ujung pintu sudah terlihat Winter berdiri dengan wajah yang terlihat sangat marah. Di tangannya sudah bersiap sebilah pedang berwarna putih bening yang memancarkan aura kebiruan.

"Ceh, dasar budak Uchiha! Jangan ganggu urusanku di sini!" terlihat sekali Sai sangat tidak menyukai Winter dan mengatakan kalau Winter adalah 'budak' Uchiha.

"Sai. Apa tujuanmu sebenarnya kemari? Kenapa kau mengincar Hinata-hime? Cepat katakan atau kau kuadukan pada Tuan Fugaku!" ancam Winter dengan serius.

'Rencanaku bisa berantakan kalau dia sampai mengadukan ini pada Fugaku. Sepertinya aku harus mengalah untuk saat ini,' ucap batin Sai yang memutuskan untuk tidak melanjutkan niatnya. Dia tidak ingin apa yang sudah dia rencanakan gagal di tengah jalan hanya karena dia terlalu bernapsu.

"Baiklah. Untuk saat ini kalian akan kubiarkan," kata Sai sambil bergerak mundur menjauhi Hinata yang masih tergolek lemas di lantai. "Aku akan pergi tapi suatu saat nanti aku akan kembali untuk menjemput Hinata. Katakan pada Sasuke kalau dia tak bisa menjaga Hinata, dia akan segera kehilangan gadisnya, hahahahahaha." Akhirnya sosok Sai menghilang dari hadapan Winter.

Tak lama Rain datang ke ruangan itu. Pemuda itu langsung mengepalkan tangannya dengan kesal setelah melihat Sai yang pergi sambil mengancam mereka. Kemudian dia dan Winter segera membawa Naruto dan Hinata ke ruangan kesehatan.

Apa yang akan terjadi lagi selanjutnya? Kenapa Sai tampaknya sangat tidak menyukai Sasuke? Siapakah Sasuke dan ada hubungan apa dia dengan Hinata?

TBC


Rain : Gak bisa banyak komentar. Semoga alurnya di sini gak kecepetan (meski gak yakin). By the way lagu di atas dinyanyikan oleh Root5 dengan judul Mikazuki Hime (yang tertarik silahkan di search). Apakah konfliknya mulai terasa? Apakah alurnya mulaimembentuk suatu plot yang udah tergambar di otak kalian? hehehe jadi banyak tanya. Satu kalimat untuk kalian, Selamat menikmati! -lari ngejar-ngejar Winter nagih dokumen-