Chapter sebelumnya Hinata kembali bertemu dengan sosok iblis itu lagi dan terbukti kalau iblis itu bukanlah Sai. Lalu apa maksud dari Sai yang mengatakan kalau Hinata adalah iblis?
Warning : OOC, Some OC, Hina-centric, typos, alur labil
Genres : Romance/Fantasy/Angst/A lil bit humor/Supranatural
Pairing : SasuHina as main pair and other hints
Rate : T
Naruto is belong to Mr. Masashi Kishimoto
By : Winter And Rain
-Calendula Of Moonlight-
Chapter 5
(New Student, New Problems)
.
Please enjoy it!
xxx
Di suatu tempat...
.
.
"Sai! Keluarlah! Aku tau kau ada di sini. Cepat keluar!" seorang pemuda berambut jingkrak terlihat begitu marah. Dia berteriak memanggil-manggil Sai.
"Oi, oi. Jaga sopan santunmu saat berada di rumah orang!" ucap Sai yang muncul dari balik tangga. Dia beranjak turun perlahan mendekati Sasuke.
Buagh!
"Brengsek kau!" Sasuke tanpa suatu alasan yang jelas langsung memukul pemuda yang baru turun itu.
Brukh!
Pemuda itu langsung saja terjatuh ke belakang dan terduduk di tangga.
Tes... Tes... Tes...
Dapat terlihat darah segar mengalir dari sudut bibir pemuda itu. Pukulan Sasuke pasti sangat keras sekali tadi. Tapi anehnya ekspresi pemuda itu sama sekali tidak menyiratkan kesakitan. Dia terlihat begitu tenang atau mungkin terlihat meremehkan Sasuke dengan memasang sebuah seringai yang dia tujukan pada Sasuke.
"Kurang ajar! Sepertinya kau masih belum kapok, hah!" bentak Sasuke yang semakin kalap melihat sikap Sai. Dia segera berjalan mendekati Sai dan...
Bugh!
Satu pukulan kembali mendarat.
"Sasuke apa yang kau lakukan!" terdengar suara seorang gadis yang baru saja muncul di belakang Sasuke dan gadis itu tampak marah saat melihat perbuatan Sasuke pada Sai.
"Sai apa kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu sambil berjalan mendekati Sai. "Sebenarnya apa yang terjadi? Sasuke kenapa kau memukul Sai seperti ini?" tanya gadis itu yang tak habis pikir melihat Sasuke dan Sai yang tak pernah akur dan bahkan sampai separah ini.
"Ini bukan urusanmu Sakura," balas Sasuke sambil menatap Sai penuh amarah. Gadis itu langsung terdiam dengan perasaan takut.
"Dengarkan aku." Sasuke menunjuk Sai dengan sengit, "kalau kau coba-coba mendekati Hinata apalagi menyakitinya. Aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu!" ucapnya dengan serius. Mata Sasuke yang berwarna gelap tiba-tiba saja berubah menjadi merah.
"Bagaimana kalau kita bertaruh Sasuke?" Sai bukannya takut pada ancaman Sasuke melainkan balik menantang dengan gaya yang angkuh.
Kedua pemuda itu saling berdiri berhadapan sambil melemparkan tatapan kebencian satu sama lain. Baik Sasuke atau Sai seperti tidak ada yang mau mengalah dan bersiap mati untuk mempertaruhkan apa yang mereka yakini.
"KAU atau aku yang akan mendapatkan Hinata lebih dulu," ucapnya lagi sambil menunjuk Sasuke.
"Hinata bukan barang taruhan," balas Sasuke dengan dingin.
"Itu artinya kau membiarkan Hinata jatuh ke tanganku." Sai memamerkan sebuah seringai penuh kemenangan.
"Beraninya kau!" amarah Sasuke kembali terbakar. Tangannya dengan cepat mencengkram leher baju Sai. Dia yakin Sai punya suatu rencana mengerikan yang tak akan bisa diduga oleh siapapun dan dia tak ingin Hinata menjadi korbannya.
"Kalian berdua hentikan!" mendadak muncul seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang langsung menghampiri Sasuke dan Sai.
"Sudah cukup keributan yang kalian buat, sekarang berhentilah bertengkar!" perintahnya dengan tegas. Baik Sai ataupun Sasuke tak ada yang berani melawan pemuda berambut panjang itu. Sasuke melepaskan cengkramannya dari Sai.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Hinata, aku akan mengejarmu bahkan ke neraka sekalipun. Ingat itu baik-baik."
Sasuke akhirnya memutuskan untuk pergi sebelum dia benar-benar membunuh Sai karena tak bisa menahan amarahnya dari pemuda itu.
"Hinata? Apa maksud Sasuke adalah benar-benar Hinata kita? Apa artinya Hinata sudah ditemukan?" tanya pemuda berambut panjang itu pada Sai untuk meminta kebenaran.
"Entahlah. Tapi dilihat dari sikap Sasuke barusan, gadis itu pasti benar-benar Hinata," balas Sai dengan cuek.
'Hinata? Apa benar Hinata telah ditemukan? Kalau dia kembali, itu artinya posisiku sedang terancam. Gawat, aku harus melakukan sesuatu!' batin gadis yang bernama Sakura itu mulai cemas. Dia khawatir kehadiran Hinata akan menggeser kedudukannya.
"Aku rasa aku harus pergi dulu karena ada urusan yang terlupakan," ucap gadis itu secara mendadak berpamitan pada kedua pemuda di hadapannya itu.
"Kau tidak lupa apa yang dikatakan Sasuke barusan, kan Sakura?" kata Sai dengan nada suara yang mengintimidasi.
"Eh? Apa maksudmu?" tanya Sakura yang terpaksa harus menoleh ke belakang lagi karena ucapan Sai barusan.
"Siapapun yang berani menyakiti Hinata akan berurusan dengan Sasuke," ucapnya sambil tersenyum aneh ke arah Sakura.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Maaf, tapi aku harus buru-buru. Sampaikan salamku pada Nyonya Mikoto," kata Sakura sambil mendengus.
'Sepertinya aku harus berhati-hati pada Sai,' ucapnya setelah berada di luar.
Esoknya...
.
.
Hinata yang keadaannya sudah kembali sehat kembali bersekolah. Kali ini dia diantar oleh Neji ke kelas membuat semua gadis di sekolahnya iri. Maklum saja karena Neji termasuk populer di kalangan gadis-gadis yang sayangnya dia sudah bertunangan dengan Hinata.
"Sudah sampai sini saja, Neji-san," ucap Hinata dengan sopan sambil membungkuk sedikit.
"Baiklah. Tapi ingat kau harus hati-hati dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Kelasku ada di atas," balas Neji dengan penuh perhatian pada Hinata.
"Iya aku mengerti. Kau sudah mengucapkan hal itu lebih dari sepuluh kali hari ini." Hinata mengulum senyum dengan nakal dan saat melihat Hinata yang seperti itu membuat Neji mau tak mau merasakan panas menjalar pada wajahnya.
"Jangan bercanda Hinata! Aku benar-benar khawatir!" Neji meremas kedua tangan Hinata.
"Tenang saja. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri," ucap gadis itu untuk menenangkan Neji yang terlalu overprotective kepadanya.
Cup...
Suatu tindakan yang tak terduga dilakukan oleh Hinata. Gadis itu mengecup pipi kiri Neji.
"Kyaaaaaaaa! So sweeeeeet~~ " jerit beberapa anak yang menyaksikan kemesraan Neji dan Hinata, bahkan sampai ada pingsan saking gak kuatnya melihat adegan mesra tersebut.
"Aku masuk kelas dulu, ya. Sekali lagi terima kasih." Gadis itu sempat tersenyum simpul pada Neji dan setelah itu dia masuk ke dalam kelas meninggalkan Neji yang masih mematung.
ooo
Sementara itu kehebohan juga terjadi di lorong kelas di mana ada tiga orang pemuda yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian para gadis di sekolah. Ketiga pemuda itu berjalan dengan gaya mereka masing-masing yang mampu menarik hati para gadis yang melihatnya.
Pemuda yang berjalan paling depan memiliki perawakan yang tidak terlalu besar. Bisa dikatakan dia adalah bishounen sejati. Pemuda berambut merah itu memiliki iris hazel yang terlihat teduh serta wajah yang terlihat baby face membuat dia begitu memikat bagi kaum hawa (juga kaum adam sepertinya). Tepat di belakangnya berjalan seorang pemuda berambut gelap dengan tatanan rambut jingkrak pada bagian belakangnya. Wajah angkuh yang dia pasang justru membuat daya pikat tersendiri di mata gadis-gadis. Kemudian di sebelahnya berjalan seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Pemuda itu memiliki rambut putih yang pada ujung rambutnya dia ikat sedikit. Gayanya yang casual namun elegan juga membuat pesonanya sendiri. Ketiga pemuda itu kini tengah berjalan menuju kelas Hinata!
Di dalam kelas 2-A...
.
.
Semua murid perempuan di kelas itu lagi heboh membicarakan tiga pemuda yang baru mereka lihat barusan dan banyak dari mereka yang berharap ketiga pemuda itu akan masuk ke kelas mereka.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Shizune yang masuk dengan muka yang cerah dan bersemangat.
"Pagi, sensei!" balas semua murid dengan kompak.
"Hari ini kalian akan kedatangan tiga orang teman baru di sini!" ucapnya sambil pasang muka sok misterius.
"Jangan-jangan cowok-cowok yang baru dateng tadi!" pekik Tayuya heboh sendiri.
"Wah, baru dateng? Masih anget dong!" samber cewek lainnya sambil senyum-senyum sendiri. Akhirnya suasana kelas menjadi gaduh seketika.
"AHEM!" Shizune terpaksa berdeham keras untuk menghentikan keributan di dalam kelas. Terbukti cara itu efektif karena semua murid langsung terdiam.
"Nah, sudah bisa tenang kan? Sekarang biar sensei perkenalkan teman baru kalian," ucapnya sambil senyum-senyum mengerikan yang bikin seisi kelas keringat dingin semua.
Shizune kemudian memanggil masuk ketiga murid baru yang dia maksud. Begitu ketiga murid tersebut masuk kegaduhan kembali terjadi.
"OMG! Itu beneran mereka!".
"Kyaaa keren-keren!".
"Rambut merah unyu deh!".
"Rambut putih mau dong jadi ceweknya!".
"Yang rambut hitam keren banget deh!".
Begitulah para cewek-cewek di kelas Hinata jadi berisik (lagi) seketika pas ketiga cowok itu datang.
"KAU... !" Hinata tanpa sengaja ikut berteriak karena dia sangat terkejut kalau salah satu dari pemuda itu adalah iblis yang pernah mendatanginya beberapa kali.
"Ya, ampun... Bahkan Hinata juga ikut-ikutan kayak mereka," ucap Naruto yang langsung down seketika.
"Sepertinya mereka bukan manusia... Bagaimana menurutmu Kiba?" ucap seorang pemuda berkacamata yang duduk paling belakang kepada teman sebangkunya.
"Aku juga merasa demikian Shino... Mereka bertiga... Bau darah... " timpal Kiba yang dapat merasakan perbedaan antara manusia dan iblis dari indera penciumannya.
"Kita harus menyelidiki mereka dengan hati-hati," balas Shino yang dibalas dengan anggukan kepala dari Kiba.
Istirahat...
.
.
Pada jam istirahat semua murid berdesakan di dalam kantin terutama murid perempuan yang bela-belain mampir ke kantin hanya untuk melihat empat cowok baru yang menjadi idola di sekolah mereka. Siapa lagi kalau bukan Sai (yang baru masuk beberapa hari lalu), Sasuke, Sasori dan Hidan yang resmi hari ini menjadi murid di Konoha. Ke empat pemuda itu kini tengah duduk di sebuah meja kantin secara bersamaan. Dilihat dari auranya kelihatannya mereka berempat sedang melakukan perang dingin.
"Sasori, katakan terus terang kalau Sakura yang menyuruhmu kemari, kan? Apa tujuanmu? Hinatakah?" tanya Sasuke dengan serius. Dia yakin sekali kalau kehadiran Sasori atas suruhan Sakura dan dia cemas kalau incaran pemuda itu adalah Hinata.
"Sayang sekali tapi kau salah. Tujuanku adalah untuk mengawasimu," jawab Sasori dengan datar. Tidak mempedulikan deathglare dari Sasuke.
"Kau Hidan? Kau adalah pembunuh bayaran. Apa tujuanmu untuk membunuh Hinata? Siapa yang menyuruhmu, cepat katakan!" nada Sasuke agak meninggi saat bertanya pada Hidan.
"Tujuanku kemari adalah untuk makan dengan tenang," jawabnya yang langsung menyeruput ramen kuah pesanannya.
Brakh!
Sasuke menggebrak meja dengan kesal setelah mendengar jawaban Hidan yang seperti main-main padanya.
"Jangan bermain-main denganku Hidan! Aku serius!" amuknya setengah berteriak dan membuat para penghuni kantin sukses menoleh ke arahnya.
"Kau ini berisik sekali Sasuke. Lihat semua orang jadi melihat ke arah kita," celetuk Sai dengan santai.
Brakh!
Sasuke kembali menggebrak meja dengan kesal dan kali ini sukses membuat mangkuk ramen milik Hidan lompat sedikit dan memuntahkan kuah ramen itu ke wajah Hidan.
"Aku tidak minta pendapatmu Sai! Lebih baik kau yang diam!" kali ini Sasuke berteriak pada Sai yang langsung membalasnya dengan seringai santai.
"Hei, tidak bisakah kau tenang sedikit?" lirik Hidan yang urat kesabarannya mulai berkedut.
"Cih... " Sasuke hanya berdecih dan kembali duduk tenang walaupun jujur dia masih sangat kesal pada tiga mahkluk yang duduk bersamanya.
"Hidan. Sebenarnya kau kemari untuk membawa Hinata, kan?" sambar Sai secara tiba-tiba.
"Tepat. Aku diperintahkan untuk membawa Hinata." Hidan langsung mengiyakan perkataan Sai.
Brakh!
Sasuke kembali menggebrak meja dan kali ini mangkuk ramen milik Hidan benar-benar lompat tinggi dan menumpahkan sebagian isinya ke atas meja.
"Sialan kau Hidan! Siapa yang memerintahkanmu, cepat katakan!" Sasuke benar-benar emosi. Seenaknya saja mau membawa Hinata dan parahnya lelaki itu mengatakannya di depan hidung Sasuke sendiri.
Brakh!
Kali ini meja kantin digebrak oleh Hidan.
"Brengsek! Aku jadi tidak bisa makan gara-gara kau!" teriaknya sambil berdiri kesal.
Brakh!
"Aku tidak peduli!" tantang Sasuke sambil menatap tajam pada Hidan.
Brakh!
Brakh!
Brakh!
Brakh!
Sasuke balas menggebrak meja sementara Sai hanya duduk santai melihat keduanya saling adu gebrakan (?) meja.
Brakh!
Gebrakan terakhir sukses menerbangkan mangkuk mie ramen yang tak bersalah itu melayang tinggi ke udara. Untuk sejenak Hidan, Sasuke dan Sai memperhatikan mangkuk mie yang terbang itu. Tak lama sang mangkuk yang terbang melakukan aksi (?) akbrobatik di udara yaitu jungkir balik.
Tuiiiing...
Mangkuk yang jungkir balik itu kini mengarah tepat ke kepala Sasori dan...
Pluk!
Sang mangkuk sukses mendarat dengan selamat di atas kepala pemuda berambut merah itu.
Prok... Prok... Prok!
"HOREEEE!" semua murid-murid yang berada di kantin langsung memberikan tepuk tangan yang sangat keras untuk sang mangkuk dan membuat suasana kantin menjadi riuh.
BRAAAAKH!
"DIAAAAM!" Sasori yang sedari tadi diam saja akhirnya mengamuk. Dia menggebrak meja kantin sampai-sampai meja itu hancur terbelah dua. Baik Hidan, Sasuke dan Sai ataupun murid-murid lain langsung diam seketika.
Suasana menjadi hening sesaat...
'Kurang ajar... Aku harus mengawasi mereka semua dan tak akan kubiarkan satu pun dari mereka menyakiti Hinata'.
'Ah, mangkuk ramenku! Aku harus balas dendam pada Sasuke karena dia telah menghancurkan ramenku dengan benar-benar menjalankan misi ini untuk membawa Hinata'.
'Kelihatannya ini akan menjadi menarik. Aku penasaran apa alasan Sasori di sini dan untuk siapa Hidan bekerja'.
Untuk sesaat keempat pemuda yang tengah menjadi perhatian itu hanya saling berdiri sambil saling menatap.
"Tak akan kubiarkan kalian merebut Hinata!" kata Sasuke yang langsung berlari keluar dari kantin.
"Aku pasti bisa mendapatkannya lebih dulu Sasuke!" balas Sai yang langsung ikutan berlari menyusul Sasuke dari belakang.
"HEI KALIAN BERDUA TUNGGU! GADIS ITU HARUS AKU YANG BAWA!" Hidan meneriaki kedua pemuda itu sambil mengekor dari belakang.
"Aku tak peduli... " ucap Sasori datar sambil berjalan santai dan menyeruput teh.
"A-apa yang terjadi barusan?" celetuk salah satu murid dengan heran melihat tingkah keempat pemuda itu.
"Entahlah... " balas yang lainnya sambil sweatdrop.
Apa yang terjadi selanjutnya? Kekacauan apalagi yang akan ditimbulkan dengan kehadiran para iblis yang sepertinya bernapsu sekali pada Hinata?
TBC
Rain : Akhirnya sempet juga ngetik chapter ini dan publish. Maaf buat keterlambatannya karena gw lagi sakit. Thanks buat sarannya mungkin alurnya kurang jelas dan berhubung ini ditulis sama dua author jadi kami butuh penyatuan alur juga, tapis emoga ke depannya jadi lebih baik.
BRAKH! -gebrak meja saking senengnya bisa update-
Thanks for reading! hehehehe.
