Warning: Maybe typo's, ooc (maybe?) , oc (sedikit?)

Rated: T

Disclaimer: kuroshoshitsuji by Yana Toboso-san
I just one hell of Kuroshitsuji lover

Chapter 2 saya update

Terimakasih buat yang sudah nungguin cerita saya, gomen kalo saya gak ngelanjutin –cukup- lama. Saya hanya lagi malas ngetik.

Oke, jangan cukup basa-basinya

Happy reading

Don't like don't read

Chapter 2

Keesokan harinya

Pasangan(?) Alois dan Claude sudah menunggu didepan auditorium itu. Ralat, maksud saya adalah gedung tua bekas auditorium yang menyimpan banyak misteri dan menjadi rumor disekolah Weston tersebut.

Matahari semakin menjulang tinggi, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang mereka cari. Pemuda berambut blonde tersebut tampak gusar, sementara yang berkaca mata tampak melirik jam nya untuk yang kesekian kalinya.

"Apa mereka tidak datang?" tanya pemuda berbadan tegap kepada yang –lebih- pendek.

"Aku tidak tau, tapi aku yakin mereka akan datang" jawab pemuda berambut blonde, yang tak lain dan tak bukan adalah Alois. Wajahnya tampak cemas, walaupun begitu ia berusaha berpikiran positif.

Dan tak lama setelah itu, iris gold Claude menangkap kedua sosok pemuda yang mereka cari. Dan kedua pemuda itu –pastinya- adalah Ciel dan Sebastian.

"Hey kalian lama sekali sih?!" seru Alois kesal karena kedua bersaudara Phantomhive-Michaelis(?) itu datang terlambat.

Si pemuda bertubuh pendek memutar bola matanya, merasa jengah mendapat omelan dari Alois. Sementara pemuda yang –lebih- tinggi disampingnya hanya tersenyum sembari sweatdrop ria.

"Ah Maafkan kami, Claude, Alois" ujar Sebastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kami tidak salah kok, kau saja yang datang kepagian" seru pemuda berambut kelabu yang tak lain adalah Ciel. Si kecil berwajah imut itu memang tidak pernah ingin disalahkan.

"Kau itu Ciel! Kau itu terlambat, bukannya minta maaf tapi malah menyalahkan kami!" seru Alois tidak terima.

Ciel menatap pemuda berambut blonde itu tajam, sementara Alois ikut menatap pemuda berambut kelabu itu tajam. Lama-lama kedua pemuda –imut- ini bertengkar, membuat kedua pemuda bersurai raven disamping mereka –mau tidak mau- harus melerai keduanya.

"Sudahlah Ciel" Sebastian berusaha menenangkan sang adik sepupunya.

"Kalian jangan seperti anak kecil. Yang terpenting, sekarang kita semua sudah berkumpul" ujar Claude ikut menenangkan Alois.

Alois dan Ciel mengambil nafas panjang-secara bersamaan. Memang keduanya pemuda –imut- itu sama-sama egoisnya.

"Ya sudahlah" Ciel menghela nafas.

"Kalau begitu, ayo kita masuk!" wajah kesal Alois berganti dengan wajah berseri-seri.

Mereka semua akhirnya masuk kedalam ruangan itu, walaupun beberapa dari mereka cukup tegang-Ciel dan Sebastian. Karena ini pertama kalinya bagi mereka berdua (baca: Ciel dan Sebastian) masuk kedalam tempat yang menjadi rumor disekolah mereka.

Sementara Alois dan Claude berjalan didepan mereka. Sepertinya Alois dan Claude tampak tenang-tenang saja. Apa itu karena mereka sering mendatangi tempat-tempat angker seperti ini? Apalagi dengan hobi Alois dengan sesuatu yang berbau mistis.

.

.

Saat mereka berempat masuk kedalam gedung kosong itu, pintu tiba-tiba tertutup dengan bunyi yang cukup keras. Membuat Sebastian dan Ciel berjengit karena kaget.

"Jangan hiraukan itu. Biasanya ditempat seperti ini, pintu terbanting seperti tadi memang sudah biasa" bisik Alois.

Ciel dan Sebastian hanya diam. Sungguh, sebenarnya Ciel sedang ketakutan saat ini. Sementara Sebastian merasa khawatir, bila terjadi sesuatu pada mereka berempat. Dan ia tidak mau, nasib mereka berempat akan menjadi mayat seperti anak-anak lain.

Gelap

Sangat gelap

Tidak ada cahaya satupun yang menerangi ruangan ini. Hanya ada beberapa cahaya yang berasal dari keempat senter yang mereka bawa.

Hening

Yang ada hanyalah suara langkah kaki mereka berempat. Dan entah kenapa, suasana berubah menjadi mencekam. Bahkan saat pertama kali masuk tadi, CIel dan Sebastian merasakan sesuatu yang ganjil dari tempat ini.

.

Setengah jam telah berlalu.

Mereka telah menelusuri lorong ini selama itu, tapi entah kenapa rasanya lorong ini tidak berujung. Lagipula, tidak mungkin mereka kembali. Mereka terlalu jauh untuk kembali. Lagipula sepertinya Alois masih belum mengurungkan niat mereka untuk kembali.

Lama kelamaan, Ciel merasa tidak enak dengan suasana mencengkam ini. Begitupula dengan Sebastian.

"Alois, kapan kita akan_" suara Ciel terpotong oleh suara tangisan. Seperti anak kecil yang sedang menangis.

'Tolong aku…' sebuah suara anak kecil sedang menangis dengan suara parau. Walaupun begitu, Ciel dan Sebastian masih dapat mendengarnya.

"Siapa itu?" tanya Ciel dan Sebastian bersamaan.

Entah sejak kapan, mereka sudah tidak memperhatikan Claude dan Alois lagi.

Ciel dan Sebastian sempat bertukar pandang, seakan-akan mereka memiliki pemikiran yang sama. Suara tangisan anak kecil itu berasal dari salah satu ruangan yang berada disamping mereka. Dengan sedikit penasaran, Ciel dan Sebastian berjalan menuju pintu tersebut.

"Baiklah Ciel, kita harus memeriksanya" bisik Sebastian, sementara Ciel mengangguk sebagai jawabannya.

Ciel mengeratkan cengkraman tangannya pada baju Sebastian, sementara pemuda itu melangkah menuju pintu dengan pelan. Sebastian dan Ciel berusaha melangkah sepelan mungkin, agar pemilik suara itu –yang mungkin adalah seroang anak kecil- tidak menyadari keberadaan kedua pemuda tersebut.

Perlahan-lahan, Sebastian membuka pintu tersebut. Dan mereka sedikit berjengit, karena hanya pintu itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Ruangan itu benar-benar gelap dan lebih mencekam dari lorong yang mereka lewati. Hanya ada beberapa obor yang menerangi ruangan itu dan nyala lampu dari senter milik Sebastian dan Ciel.

Saat mereka masuk kedalam ruangan itu, Ciel dan Sebastian tidak melihat apapun. Ruangan itu kosong. Hanya ada beberapa obor yang menjadi sumber satu-satunya penerangan disini.

"Jadi apa itu tadi?" tanya Ciel memandang Sebastian yang lebih tinggi darinya. Sementara itu Sebastian hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.

"Mungkin itu hanya perasaan kita, Ciel" ujar Sebastian berusaha menenangkan Ciel dan dirinya sendiri.

Jujur saja, saat ini detak jatung kedua pemuda ini berdegup dengan kencang. Jika pada fict romance, mereka bisa dibilang sedang jatuh cinta. Tapi kali ini?

Rasanya kali ini lebih buruk. Suasana mencekam disini lah, yang membuat jantung mereka berdetak dengan cepat.

Kedua iris pemuda dengan tinggi yang berbeda itu menelsuri setiap sudut ruangan ini.

Kosong…

Tunggu dulu!

Iris sapphire Ciel menemukan sesosok yang sedang berada pada sudut dinding. Ciel mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha melihat sosok yang hanya berupa bayangan itu.

Entah mendapat keberanian dari mana, Ciel berjalan menuju sosok itu. sementara Sebastian bingung, saat Ciel berjalan menuju sesuatu yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas. Tapi Sebastian tau bahwa ada sesuatu yang sedang terduduk disana.

Sebastian pun mengikuti langkah Ciel.

Ciel terus berjalan, sampai akhirnya cahaya senter dapat memperlihatkan sosok itu dengan lebih jelas.

Sapphire Ciel terbelalak, saat ia mendapati sosok anak kecil yang sedang membenamkan wajahnya dibalik lututnya. Sementara tangan anak itu memeluk kakinya. Anak itu menangis.

"Kau kenapa?" Ciel bertanya sembari berjongkok didepan anak itu.

Anak itu masih menangis, tidak menjawab pertanyaan Ciel. Ciel hanya menghela nafas.

Sebastian berdiri disamping Ciel yang sedang jongkok. Tangan Sebastian mengusap rambut raven anak itu.

"Apa yang membuatmu menangis, gadis kecil?" tanya Sebastian berusaha selembut mungkin, agar arwah –atau apapun itu-, tidak merasa tersinggung.

Anak itu berhenti menangis.

Perlahan, anak itu mendongak.

Iris crimson dan sapphire itu membulat utuh.

Betapa terkejutnya Ciel dan Sebastian, melihat wajah anak itu…

"Aku ini cowok! Bukan seorang gadis!" anak itu tampak kesal, walaupun matanya sedikit bengkak karena sehabis menangis.

Sebastian dan Ciel mengerjapkan mata beberapa kali. Yang membuat kedua pemuda ini terkejut adalah, wajah anak itu…

Sangat mirip dengan Ciel

Hanya saja rambutnya berwarna hitam.

"Baiklah, maafkan kami telah memanggilmu gadis. Tapi… wajahmu mirip dengan Ciel?" Sebastian menoleh kearah Ciel, lalu menoleh kembali kearah anak kecil yang mungkin berusia masih 4 tahun tersebut. Sebastian tampak membandingkan wajah Ciel dan anak itu.

Benar-benar mirip, seperti orang yang sama.

Hanya saja anak itu memiliki warna mata sehitam rambutnya, berbeda dengan Ciel yang memiliki iris sapphire.

"K-kau… s-siapa kau?" tanya Ciel dengan suara parau. Perasaannya tercampur aduk, antara terkejut, ketakutan, khawaitr.

"tolong aku… kumohon… tolong aku…"

Tanpa menjawab pertanyaan Ciel, anak itu kembali menangis. Air matanya mengalir deras, sementara anak itu terus terisak.

"Apa yang membuatmu ketakutan?" tanya Sebastian dengan suara lembut.

Anak itu hanya menangis.

"Kau itu, diamlah! Jangan menangis, dan jawab pertanyaan kami!" bentak Ciel berdecak kesal. Sepertinya rasa takutnya digantikan oleh emosinya.

Memang benar-benar 'bocah' temperamental.

Berhasil

Anak itu diam seketika, lalu menatap Ciel dengan tatapan penuh arti. Mungkin ia benar-benar ketakutan saat ini, sementara tatapan Ciel melembut saat ana itu menatapnya dengan puppy eyes.

"Ceritakan pelan-pelan" Sebastian mengusap rambut anak itu untuk yang kedua kalinya.

Anak itu mengangguk pelan, lalu menceritakan semuanya.

"Aku takut… dia akan menyiksaku lagi.." ujarnya dengan suara parau. Ciel dan Sebastian menyimak cerita tersebut dengan sesakma. "Dia selalu menyiksaku, setiap malam… aku takut… aku sangat takut…" Anak itu mulai terisak kembali. Sebastian menatapnya dengan tatapan prihatin, sementara Ciel menatap dengan wajah bertanya.

"Memangnya siapa yang telah menyiksamu?" tanya Ciel.

Anak itu mendongak dengan wajah yang sudah ternoda oleh air mata, "Dia adalah dalang dibalik semua ini" jawab anak itu. "Dia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya…" anak itu kembali terisak.

"Kau tidak tau bagaimana ciri-cirinya?" tanya Sebastian, sementara anak itu hanya menggeleng.

"Aku tidak tau… sudah lama sekali aku terkurung disini… Aku mohon… tolong aku…" Anak itu memandang Sebastian dan Ciel dengan wajah memelas(?)

Ciel dan Sebastian saling bertukar pandang, "Baiklah, tapi sebelum itu kami harus mencari kedua teman kami" ujar Ciel bangkit berdiri.

Sebastian mengangguk, lalu menambahkan "sepertinya mereka berjalan meninggalkan kami" sambung Sebastian.

Anak itu mengangguk, lalu berjalan mengikuti Sebastian dan Ciel yang berjalan didepannya.

.

.

Saat ingin membuka pintu ruangan itu, tampak Alois dan Claude membuka pintu itu dengan kasar. Wajah keduanya tampak panik, mungkin mencari kedua sosok pemuda ini. Beberapa saat kemudian, keduanya menghela nafas lega karena Sebastian dan Ciel ternyata masih baik-baik saja.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Claude yang sudah tampak normal, dengan wajah datarnya.

Ciel dan Sebastian mengangguk serempak.

"Dari mana saja kalian?! Kami khawatir kalian akan bernasib seperti… murid lain yang tidak bernyawa itu!" Alois berteriak dengan nafas tersenggal-senggal karena terlalu paniknya.

"Kami hanya masuk keruangan ini, saat anak ini menangis" jelas Sebastian sembari menunjuk tempat anak itu berdiri.

Alois dan Claude menatap Sebastian dengan alis terangkat, "Apa maksudmu Sebastian?" tanya Claude dan Alois serempak.

"Dia adalah anak yang kami temui, katanya dia ingin kami menolongnya" jelas Ciel, sementara wajah Claude dan Alois masih bingung.

"Kau yakin Ciel? Dimana anak itu?" tanya Alois dengan wajah bertanya-tanya.

Mendengar hal itu, Ciel dan Sebastian serentak menoleh kearah tempat anak itu beridri tadi.

Anak itu tidak ada

Mendapati hal itu, Sebastian dan Ciel mencari-cari sosok itu kesekeliling ruangan itu. Tapi hasilnya nihil. Ruangan itu benar-benar kosong, tidak ada apapun disini selain obor yang menerangi ruangan ini.

"A-aku yakin dia tadi berdiri disini" Ciel mulai berkeringat dingin. Begitu pula dengan Sebastian.

"Tadi kami baru saja bertemu dengannya. Dan anak itu tadi mengikuti kami, tapi kami tidak tau dimana dia sekarang?" Sebastian tidak kalah bingungnya dengan Ciel.

Alois dan Claude memandang –masih- dengan wajah bertanya-tanya

Kemanakah anak itu?

Apa barusan Sebastian dan Ciel hanya halusinasi?

Tapi rasanya benar-benar nyata!

.

.

TBC

Chapter 2 udah update

Gimana ceritanya?
Terimakasih buat yang udah review.

Ichiro69: Arigato sudah review. Kaya nya Ichiro-kun suka cerita romance? Gomen, saya gak ada niatan bikin fict ini jadi romance. Dan saya akan berusaha sekuat tenaga, menjadikan fict ini menjadi menarik, walaupun bukan romance. Saya udah tepatin janji saya buat chapter selanjutnya, dan gomen kalo emang tbc nya gantung lagi. -_-

: Wah arigato natsume-san sudah nungguin chapter selanjutnya. Nih, saya udah nepatin janji saya. Oke, tetep baca fict saya ya~ :D

Oke, silahkan review untuk yang lain

Sampai jumpa di chapter selanjutnya