Chapter 2 : Some Clue
The Mysterious Accident
.
.
.
Mysterious Accident
.
.
.
Warning : AU, Typo(s) bertebaran, GaJe, OOC, Humor jelek nyempil disana-sini, alur muter-muter, kejadian yang tidak masuk akal, bloody scene.
Disclaimer :
Vocaloid bukan punya saya melainkan punya Yamaha Corp and Crypton Future Media. Mysterious Accident, tentunya, punya saya.
Summary : Kecelakaan? Itu hal yang biasa tapi jika dihubungkan dengan sesuatu yang diluar nalar manusia.. Apa jadinya?
Don't Like Don't Read
Silahkan pencet tombol 'back' kalau tidak suka..
HAPPY READING, MINNA-SAN
.
.
.
Normal POV)
.
.
Miku mendapatkan sebuah amplop coklat besar dan bercap pos dari Osaka.
"isinya apa, Miku?" tanya Rin penasaran.
Miku membuka amplop tersebut dan mengeluarkan sebuah video tape.
"isinya cuma video tape? Pinjam, biar kuputar" Kaito merebut video tape dari tangan Miku dan langsung memasukkannya kedalam pemutar video tape.
(BGM : soundtrack pink panther yang disamarkan)
"Kagamine Len, Kiiroine Rin, Shion Kaito, Hatsune Miku dan Kamui Gakupo. Kalian berlima adalah Detective Vocasky, benar? Saya adalah pembunuh Kaai Yuki, kalian akan kesulitan menemukanku. Sebaiknya, cepat temukan aku sebelum lebih banyak lagi korban yang berjatuhan. Jika kalian menerima tantanganku tolong kirimkan balasan video ini ke stasiun TV yang menyiaran video ini. Sayonara, Tantei no Baka. MWAHAAHAAHA!" suara dari video itu disamarkan dan gambarnya di-blur semua.
"apa maksudnya ketawa jahat bin laknat itu? Sudah mengejek, orang itu juga menyebutkan nama kita berlima! Dan dia menantang kita!" racau Kaito emosi sembil memencet tombol 'pause' pada remote.
"kira-kira siapa dia? Dan apa perlu kita terima tantangannya?" tanya Rin mengabaikan racauan gak jelas Kaito.
"tentu saja" jawab Miku yang disertai anggukan Kaito, Len, dan Gakupo.
Len memerhatikan TV plasma milik keluarga Hatsune yang harganya mahal itu. Layar menampilkan sederetan kalimat dalam bahasa inggris.
'this file will be destroyed in self at 10, 9, 8,7..'
Len menerjemahkan kalimat tersebut dalam kepalanya.
"VIDEO TAPENYA BAKALAN MELEDAK!" teriak Len sukses membuat vas bunga keluarga Hatsune yang terbuat dari kristal itu retak.
Len menekan tombol 'open dan langsung berlari ke kemar mandi rumah Miku. Kaito, Rin, Miku, dan Gakupo berlari mengekor di belakang Len. Len melemparkan video tape tersebut dan sedetik kemudian video tape tersebut meledak di dalam air.
DUUUARRR! BYUUURR!
Ledakan itu membuat setengah air yang berada di dalam bak melayang(?) keluar dari bak dan sukses membuat kelima remaja ini basah kuyup, dari ujung kepala sampai ujung kaki mereka.
"HAHAHAHA!" mereka berlima tertawa karena saling melihat satu sama lain. Bagaimana tidak, wajah mereka saat kaget dan sweatdrop itu sangatlah aneh.
"untung saja dilempar ke air jadi ruang tamu nggak jadi kebakaran" kata Miku sambil melemparkan handuk ke teman-temannya.
"padahal aku ingin sekali meneleliti video tersebut. Tokoro de, arigatou Miku, untuk handuknya" kata Rin terdengar kecewa karena barang bukti tersebut meledak begitu saja di dalam air. Rin melepas seluruh ornamen yang menempel di kepalanya, maksudnya pita putih gede dan 4 jepitan rambut berwarna putih yang dipakainya untuk menahan poninya yang kepanjangan.
"kita mungkin bisa mendapatkan bukti lain" hibur Len sambil mengeringkan rambutnya.
"lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Kaito melepaskan syal biru yang selalu melilit di lehernya.
"karena nama kita berlima sudah disebutkan pembunuh itu, otomatis kita akan menjadi perhatian warga sekota, atau mungkin, seluruh negara" sahut Len, "bagaimana kalau kita berkunjung ke lapas dan mewawancarai supir penabrak Yuki? Kau punya akses keluar masuk yang bebas'kan, Kaito?"
Kaito mengangguk.
"kapan kita akan melakukannya? Apa besok kita masih perlu sekolah?" tanya Miku yang sedang menggulung rambut toscanya yang panjang menggunakan handuk.
"kupikir, kita besok masih perlu sekolah. Terserah sih, kalau aku masih pingin sekolah. Kau, Rin, bagaimana menurutmu?" jawab Len yang sedang memeras ujung kemeja putihnya yang basah supaya tak ada lagi air yang menetes.
"aku pikir, besok aku aka pergi sekolah. Kai-kun dan Miku-chan, bagaimana?" Rin melempar pertanyaan pada Miku dan Kaito.
"aku besok mau sekolah. Ada kegiatan klub" jawab Kaito.
"aku juga sekolah. Habis tidak ada siapa-siapa sampai Kaa-san pulang. Gaku-kun, bagaimana?" jawab Miku.
"iya, aku juga sekolah. Tenang aja aku besok ada kencan sama Yukari-chan" jawab Gakupo.
"berarti besok, pulang sekolah, kita pergi ke lapas dan bertanya pada supir penabrak Yuki. Itupun kalau kalian udah selesai semua kegiatannya dan kita berlima diizinkan untuk masuk ke lapas" ucap Len, "nampaknya aku harus segera pulang sebelum masuk angin"
"aku bisa meminjamkan baju Mikuo-nii untuk Kai-kun dan Len-kun. Rin-chan bisa pakai bajuku" usul Miku dengan senyum di wajahnya.
"terus aku bagaimana?" tanya Gakupo merasa tersingkirkan.
"karena Gaku-kun punya badan sixpack, mungkin baju Mikuo-nii akan terlalu ketat dibadan Gaku-kun. Bagimana kalau Gaku-kun pakai baju ayahku?" Miku dengan polosnya bertanya. Len, Rin dan Kaito ketawa.
"udah nggak usah sekalian!? Aku bakal pulang dengan basah kuyup gini juga gak masalah! Orang rumahku tak jauh dari sini" Gakupo ngambek.
"hehe, gomen ne, Gaku-kun. Just kidding" Miku mengeluarkan senyum sambil mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf 'V'.
Gakupo manyun.
"ng, tidak usah repot-repot Miku-chan. Aku bisa menutupi kemejaku dengan sweater dari sekolah" kata Len.
"berhubung aku tidak bawa apa-apa untuk menutupi baju. Aku harus segera pulang" kata Rin sambil memakai jepit rambutnya.
"baiklah, sini biar kuantar kalian sampai ke gerbang. Tidak apa-apa'kan?" Miku dengan manis menawarkan dirinya untuk mengatar keempat temannya. Miku memang gadis yang baik dan murah senyum pada siapa saja.
Kaito, Len, Rin, dan Gakupo menarik tas masing-masing lalu memakai kembali sepatu mereka di depan rumah Miku. Setelah itu, mereka diantar Miku sampai ke gerbang depan rumah.
"jaa nee~" pamit Rin sambil melambaikan tangan pada Miku.
"jaa nee!?" balas Miku lalu setelah keempat temannya mula menjauh, dia baru masuk ke rumahnya.
.
.
.
(Miku POV)
.
.
Aku menutup pintu rumah dan melihat seorang wanita sedang menonton telenovela di TV. Aku berjalan mendekat dan terkejut setengah mati karena wanita tersebut adalah ibuku sendiri.
"Kaa-san?" tanyaku dengan kerutan samar di jidatku.
"Miku. Akhirnya kamu pulang!? Kenapa kamu basah kuyup? Udah gitu kenapa kamu makan pancake banyak banget sampai kulkas hampir kosong? Kamu lagi PMS ya'?" racau Kaa-san panjang lebar.
Apa? Kenapa Kaa-san sudah ada disini? Katanya Kaa-san akan pulang besok dari rumah Baa-san. Kenapa Kaa-san sudah pulang? Lalu jika Kaa-san sudah datang sebelum aku dan 4 temanku mengadakan penyelidikan, kenapa Kaa-san tidak menyadari keberadaan kami berlima?
"e-eh, ngg, ano.. aku baru dari.." jawabku tergagap gara-gara terlalu bingung.
"sudahlah, cepat mandi dan ganti bajumu. Oh ya, sekalian tolong keringkan lantai di dekat kamar mandi, sepertinya pipa air di bawah tanah sedang bocor. Besok aku akan memanggil tukang air"
"ha'i Kaa-san" jawabku sambil berjalan ke kamar mandi.
Aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai satu. Aku mengambil baju ganti dan langsung melesat pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan tentunya sudah berpakaian, aku masuk ke kamar dan menghidupkan komputerku. Aku mengetikkan kalimat ' Yowane Haku' pada mesin pencari dan tak samapai sampai satu detik muncul sebuah halaman yang berisi data Yowane Haku. Aku sangat penasaran pada wanita berambut putih yang katanya udah mati itu. Kalau dipikir-pikir cuma dia yang mengetahui nama lengkap kita berlima.
.
.
.
(Kaito POV)
.
.
.
Aku masih berpikir di atas tempat tidur dan dengan kondisi kepala yang ditimpa dengan sekantung es batu. Bukan karena memikirkan kasus Yuki-chan atau video tape yang meledak di kamar mandi rumah Miku-chan tapi karena kelakuan aneh perempuan yang melahirkanku ke dunia ajaib ini, Shion Akaiko, ibuku.
(flashback : ON)
Begitu sampai di rumah, Kaa-san langsung menyambutku dengan ramah. Uh, tidak biasanya?!, pikirku saat itu.
"cepat mandi lalu panaskan makananmu dan telepon Tou-san, katanya ada hal yang penting untuk dibicarakan denganmu" suruh Kaa-san dengan nada yang tidak biasa. Biasanya, begitu aku pulang saat malam hari seperti ini Kaa-san akan menyanyikan lagu seriosa yang berlirik penuh amarah dan nada merdu yang memekakkan telinga.
"ne, Kaa-san. Tokoro de, tidak biasanya Kaa-san baik padaku? Apa karena video yang disiarkan di TV yang menyebutkan aku, Miku, Len, Rin dan Gakupo, ne?"
"memang ada siaran yang menyebutkan namamu? Aku hanya khawatir padamu, memangnya aku tidak boleh mengkhawatirkanmu?"
"bukan begitu. Dakedo.. aku suka sifat Kaa-san yang akhirnya mengkhawatirkanku" ucapku ragu-ragu sambil menggaruk kepalaku yang kebetulan gatal (author : habis kalimat 'menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal itu sudah terlalu mainstream. *dirajam readers)
"huh? Jadi selama ini kau pikir aku tidak mengkhawatirkanmu? Aku takut kau terlibat dengan acara detektif-detektifan ayahmu lagi. Kau ini sudah kelas 2 SMA"
Apa? Darimana Kaa-san tahu kalau aku suka menjadi detektif bersama Tou-san? Setahuku, Tou-san merupakan orang yang pandai menjaga rahasia.
"ng, darimana Kaa-san tahu kalau aku jadi detektif? Kemampuan menganalisa kasus di otakku tidak parah juga" tanyaku.
"tentu saja aku tahu, karena kasus yang pertama kali kau tangani bersama 4 temanmu itu adalah kasus pencurian berlian putih milik keluarga Yowane. Biar kutanya padamu, siapa pelaku dan korban atas kasus itu?" Kaa-san mulai menjilati saus sambal cabai.
"korbannya orang tua Yowane Haku-san sendiri dan pelakunya.. Aku tidak tahu siapa pelakunya karena pemecahan kasus kami hanya terpusat pada korban, lagipula saat itu aku tidak bisa ingat apa-apa karena bom yang meledak saat itu melemparkan kami berlima sampai pingsan. Kata Tou-san sih pelakunya Yowane Haku-san sendiri" jawabku sepanjang dan selebar mungkin.
"kau benar, korban dan pelaku berada dalam satu keluarga. Lalu apa kau tahu kau kalau Haku akan balas dendam?" tanya Kaa-san kalem banget sambil nyedot saus sambal dari dalam botol yang mulai habis.
"huh?"
"ah, apa yang aku bicarakan? Mungkin aku kebanyakan makan saus. Ah, cepat mandi sana!?"
"ha-ha'i, Kaa-san"
Dan setelah percakapan mencurigakan yang membuat aku bingung karena takut orang yang bernama Haku itu benar-benar akan balas dendam pada kami berlima.
.
.
(flashback : OFF)
.
.
'yogasareta shihou hikoku no hinpu de kimaru zaijou.. houtei no nushi naru..'
Ponselku berdering. Panggilan dari Miku-chan.
"ha'i, Miku-chan?!" sapaku setelah panggilan tersebut diangkat.
"ADA YANG ANEH PADA IBUKU, KAI-KUN!" teriaknya, sukses membuat tuli sesaat.
"memangnya ada apa?"
"ingatkan kalau tadi tak ada ibuku di rumah"
"huh? Terus?"
"tadi begitu aku masuk ke dalam rumah ada Kaa-san yang lagi nonton Baka-Baka Koi no Hentai!"
"nani?! Ibumu suka nonton yang begituan?"
"bukan begitu maksudku, tapi kenapa ibuku bisa pulang sekarang? Jika dia pulang sebelum kita berlima menyelidiki kasus, seharusnya dia bisa menyadari keberadaan kita. Bahkan dia menganggap ledakan video tape yang mengakibatkan banjir di rumah, dia anggap pipa air sedang bocor!" racaunya.
"sebenarnya ada yang aneh pada ibuku juga"
"ng... apa ibumu juga nonton Baka-Baka Koi no Hentai?" tanya Miku. Jika aku bisa melihat wajahnya dia pasti sedang berwajah polos.
"rrr.. tentu saja tidak!" seruku setengah kesal, "tapi dia bilang pelaku kasus yang pertama kali kita pecahkan akan balas dendam dengan kita berlima. Sebaiknya, kita harus buru-buru mengirimkan video bahwa kita juga menerima tantangan orang misterius itu!"
"matte, orang yang menjadi pelaku kasus yang pertama kali kita pecahkan adalah Yowane Haku, benar?"
"ya, kau benar!"
Ponselku bergetar.
"chotto matte, Miku-chan. Ada panggilan lain"
Tou-san meneleponku, tidak biasanya.
"moshimoshi. Ha'i Tou-san?!" sapaku.
"Kaito, Rin, Len, Miku, Gakupo bisa dengar aku?" sahut Tou-san di sebrang sana.
"Ha'i Tou-san!" jawabku.
"Ha'i Shion-san!" suara Miku, Rin, Len dan Gakupo terdengar jelas dan kompak.
"Aku menelepon kalian dengan multiple connection supaya susah disadap" kata Tou-san, "kuharap saat ini kalian semua sedang memegang bolpoin dan berlembar-lembar kertas kosong"
Aku menyambar bolpoin yang tergeletak di lantai kamarku dan buku kosong yang bertebaran di sekitar tempat tidur. (author : Kaito jarang beres-beres kamar jadi jangan heran jika saya menulis seperti tadi. *dilempar kulkas sama Kaito*)
"untuk sementara pelaku yang kami, pihak kepolisian curigai adalah Yowane Haku, Megpoid Gumi, Megurine Luka, Sonika, Nekomura Iroha, Miki, dan sepupumu Kaito, Zeiko.
"huh? Bukannya mereka semua yang dijadikan tersangka oleh Shion-san, itu adalah anggota grup occult semua sekolah di Crypton City?" tanya Gakupo.
"ya. Menurut Mitsu-san yang memiliki kemampuan, sekarang kasus ini sangat berkaitan dengan makhluk halus, bukan, maksudku sangat berkaitan dengan kemampuan di luar nalar manusia biasa" jawab Tou-san.
"seperti apa?" tanya Rin.
"kupikir kalian bisa cari tau sendiri, apa yang berhubungan dengan club occult dan kemampuan diluar nalar manusia" balas Tou-san dengan nada santai, "sekarang jam berapa?"
"8 malam" jawab Len.
"sekitar 30 menit lagi aku akan menjemput kalian semua. Sayonara, minna" dan sambungan pun terputus.
Aku langsung mengambil jaket hitam di lemari baju dan meloncat dari jendela kamar dengan ponsel dan PSP di tangan.
"KAITOOO!" teriak Kaa-san sampai terdengar di luar rumah. Aku berlari keluar sampai ke persimpangan jalan dekat rumah Len.
15 menit berdiri bersandar pada tembok sambil main PSP, akhirnya salah satu anggota Vocasky datang.
"Otone Kai" sapa seseorang.
Aku memalingkan mataku dari layar PSP dan melihat seseorang dengan name tag, Kagomei Ren, matanya ditutup eye patch dan topi bertuliskan kanji nama palsunya. Ohh, aku tahu siapa dia.
"lama sekali datangnya, Kagomei Ren atau harus kusebut kau.. Ka-pfftt-" benar sekali orang yang kusebut Kagomei Ren itu sebenarnya Kagamine Len.
"berisik! Nanti ketahuan BaKaito bodoh" ucap Len dengan suara rendah, "aku telah menyuruh Komi, Ran dan Pokii datang kemari"
(author note : jika dalam fic ini atau fic selanjutnya ada nama aneh-aneh, saya akan beritahu sekarang.
-Kagomei Ren = Kagamine Len
-Mikoto Ran = Kiiroine Rin
-Otone Kai = Shion Kaito
-Futane Komi = Hatsune Miku
-Kimio Pokii = Kamui Gakupo)
"ossu!" sapa gadis yang matanya hanya kelihatan sebelah dengan kemeja merah dan celana jeans yang membungkus kakinya. Dibelakangnya ada laki-laki berambut ungu dan cewek berambu tosca yang nampaknya tak perlu diberitahukan siapa dia. Yap benar, Mikoto Ran (Kiiroine Rin), Futane Komi (Hatsune Miku), dan Kimio Pokii (Kamui Gakupo).
"ossu!" jawabku dan Len bersamaan.
"kita tinggal tunggu disini dan menunggu Shion-san datang" kata Miku.
.
.
.
-TBC-
Author line:
Rin : fic pertama sama fic kedua sama-sama ancur. ckckcck...
Len : kemarin tuh bloody scene kurang, kenapa Yuki-chan gak ketabrak helicopter sekalian *digentayangin arwah Yuki*
Kaito : tau si BakAuthor ini malah nyita my lovely ice cream dari kantin.
Gakupo : mana peran saya sangat sedikit!
Miku : *stay cool karena makan negi*
author : huu, gomenasai. Sepertinya chapter ini superdupermegafantasticultra sangat-sangat tidak memuaskan. Udah panjang, update lama, nggak to the point lagi. Yah, apa boleh buat.. habis ngerjain waktu pelajaran agama, jam istirahat, keadaan setengah ngantuk dan kegiatan-kegiatan gak wajr lainnya.
Review Line :
Kuro Rei-chan : arigatou buat fav, follow, dan reviewnya. Yak, saya akan berjuang jauh lebih keras lagi. Udah dipublish.
Guest : iya, Len dkk. itu detective. Mereka organisasi ilegal yang dibentuk ayah Kaito dan beberapa OC author lainnya yang akan dibahas chapter depan (bocoran dikit). Udah dipublish. Arigatou..
Guest : arigatou buat reviewnya.
Ren Nishikawa : ya mungkin aja bakal banyak kasusnya (*dddor). Arigatou buat reviewnya.
Jaa dewa mata nee minna-san di chapter selanjutnya!
