The Mysterious Accident
.
.
.
(Normal POV)
.
.
Shion Kaitou(?), ayah dari salah satu detektif dengan kemampuan curi-mencuri menjemput Rin, Len, Kaito, Miku dan Gakupo di jalan yang sudah ditentukan. Seluruh anggota kepolisian tau nama asli mereka.
"baiklah, Rin, Len, Gakupo, Kai, Miku sebaiknya kalian semua berjaga-jaga mulai sekarang!" kata Kaitou-san dengan mata yang hanya terfokus pada jalanan.
"oh ya, Kaitou-san. Kenapa Kaitou-san, maksudku, kepolisian mencurigai semua anggota occult dari semua sekolah di Crypton lalu apa kesaksian dari orang tua mendiang Yuki-chan?" tanya Len.
"aku hanya menyampaikan apa yang dipikirkan oleh Mitsu bilang. Hanya dia dalam anggota kepolisian yang punya indra keenam. Dan menurut pengakuan Kaai-san, Kaai Yuki pagi ini pergi ke sekolah sendiri tanpa diantar oleh pengantarnya. Lalu mungkin saat dia hendak menyebrang, Kaai Yuki tidak melihat tanda 'tidak boleh menyebrang' dan brukk.."
"Tapi kata ayahku, 8 hari yang lalu. Ada kejadian yang sama dan korban mirip dengan Yuki-chan" kata Rin sambil menjepit poninya.
"memang ada kejadian itu 8 hari yang lalu. Tapi korbannya itu sebenrnya anak laki-laki" jawab Kaitou-san sambil memutar setir untuk memarkirkan mobilnya, "yosh, kita sudah sampai!"
Len, Rin, Kaito, Miku, Gakupo, dan Kaitou-san keluar dari mobil patroli itu dan langsung berlari menuju gedung kantor kepolisian Crypton City.
"Konbanwa, minna!" sapa Miku.
"konbanwa, Miku-san!" jawab anggota polisi itu. Anggota kepolisian di kantor ini sudah mengenal semua anggota detektive Vocasky ini.
"kyaa, Miku-chan, Rin-chan lama tak bertemu, aku kangen kalian berdua!?" seru Youte Mitsusina, polisi wanita yang berperan sebagai penyidik di bagian kasus pembunuhan berat. Kaitou-san berdeham, Mitsu-san cengengesan gak jelas.
"kita berdua juga kangen sama Mitsu-san. Oh ya, Mitsu-san sudah dapat pacar belum. Masa' dua tahun nggak ketemu, Mitsu-san belum dapat pacar?" tanya Rin. Kaitou-san berdeham lagi.
"gomen ne, Kaitou-san" Rin bungkuk-bungkuk kepada Kaitou-san karena bicara yang OOT.
"nah, ayo masuk ke ruang rapat. Semoga Dell sudah menyiapkan seluruh berkas yang ada" ajak Kaitou-san, "oh ya, Mitsu, dimana Jo dan Lui?"
"mereka lagi minum-minum di yatai depan kantor. Memang Shion-kaichou tidak lihat mereka berdua di depan kantor" jawab Mitsu-san sambil membawakan setumpuk map.
"anak-anak itu. Mitsu tolong panggil mereka berdua!" perintah Kaitou-san.
"ha'i, Kaichou!" sahut Mitsu-san sambil berlari keluar kantor menuju yatai yang ada di depan kantor.
.
.
Di dalam ruang rapat, Kaitou-san dan Len dkk. sedang menunggu 3 penyidik kebanggaan kepolisian, Youte Mitsusina, Youte Josuke, dan Hibiki Lui.
"ahh, kenapa Mitsu-san, Jo-san dan Lui-san lama sekali datangnya? Dipikir nggak ngantuk nungguin mereka?!" gerutu Gakupo.
"sabarlah, Gaku-kun. Paling-paling Lui-san dan Jo-san sedang mabuk dan Mitsu-san sedang menyeret mereka berdua kemari" jawab Miku.
"aku dengar itu -uhuk- Miku-san!" kata Lui sesekali cegukan karena mabuk. Matsu-san dan Jo-san mengekor dibelakangnya.
"hehe, gomen ne, Lui-san" jawab Miku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf 'V'.
"baiklah, ayo kita mulai rapatnya!" ucap Kaitou-san sambil merapikan berkas yang dipegangnya.
.
.
.
(Gakupo POV)
.
.
.
Aku membaca map yang diberikan Mitsu-san. Setumpuk kertas yang dijepit paper clip besar. Isinya adalah data-data orang yang dicurigai oleh kepolisian. Halaman pertama adalah data mantan pacarku, Megurine Luka. Dia memang manis tapi jutek, galak dan sadisnya hampir menyerupai Meiko-sensei #curcol.
"sudah selesai melihat-lihat datanya?" tanya Kaitou-san.
"un!" jawab kami semua kompak.
"begini menurut pengakuan Mitsu-san yang memiliki indra keenam, korban tiba-tiba muncul lalu tertabrak" Kaitou-san memulai rapat.
"ng, sebenarnya Shion-kaichou.. saya hanya memasang plastik warna negatif terbalik saat menyelidiki video tersebut" kata Mitsu-san tersipu malu-malu kucing.
"baiklah, begini. Aku, Lui-san dan Mitsu-san baru saja meneliti video kecelakaan Kaai Yuki. Setelah diteliti menurut kami, saat itu Kaai Yuki langsung berlari saat tulisan 'jangan menyebrang' dan langsung ditabrak truk gandeng itu" jelas Kaitou-san lalu mengambil remote proyektor, "setelah diselidiki menggunakan alat pengolah video, rupanya korban tiba-tiba muncul lalu terlindas. Gambar yang kami lingkari adalah orang-orang yang kami periksa. Gadis berbando kelinci ini bernama Utane Mayu, kudengar, 15 menit setelah kami menginterograsi dia, Rin bertanya-tanya soal kecelakaan itu padanya ya'?!"
"benar sekali, Shion-san!" jawab Rin sambil menggangguk.
"lalu menurut pengakuan saksi mata pertama, ada anak SMA Vocasora yang jatuh terduduk lalu melotot saat kecelakaan itu terjadi" lanjut Kaitou-san.
"itu saya, Shion-san. Apa boleh saya beritahu apa yang saya alami saat kecelakaan itu terjadi?" Len hendak memberitahu kejadian yang sebenarnya. Disini aku hanya menjadi pendengar yang baik sambil sesekali mencatat apa yang dibicarakan oleh teman-temanku atau Kaitou-san dan yang lainnya.
"silahkan, Len"
"jam 07.35 pagi, saat itu saya sedang naik sepeda bersama korban. 15 menit kemudian, saya dan korban berada di dekat persimpangan jalan besar Tenshi dan jalan Oni. Entah kenapa saat itu, sepeda yang kami tumpangi serasa di tabrak oleh truk. Begitu saya membuka mata saya, saya melihat korban ada ditengah jalan dan tak lama kemudian korban tertabrak dan terbagi dua"
"..." Kaitou-san, Mitsu-san, Lui-san dan Jo-san menaikkan alis mereka, tidak mengerti akan jalan cerita yang diceritakan Len.
"apa kau bercanda, Len? Kau nggak lagi mabuk jus pisang'kan?" tanya Mitsu-san.
"aku tidak bercanda, Mitsu-san!" seru Len.
"aku bukannya tidak membelamu Len, tapi aku merasa pengakuanmu itu sangat mengada-ada. CCTV membuktikan bahwa kau melintas di jalur sepeda jalan Oni, bukan di dekat jalan Tenshi" ucapku.
"oh ayolah, Gaku-kun.. apa aku pernah berbohong padamu semenjak kita jadi detektif seperti ini?" Len sedikit kesal.
"ummm, sering" jawabku datar. Len menjatuhkan jidatnya ke meja.
"aarrgghhh, menyebalkan sekali!" gerutu Len. Aku, Miku, Kaito, Rin tertawa kecil.
BRAKK!
Pintu ruang rapat dengan (tidak) elitnya oleh salah satu personil kepolisian.
"gomenasai, Kaichou! Saya mau lapor kalau salah satu dari 5 orang yang dicurigai meninggal setelah gantung diri di rumahnya" lapor salah petugas.
"NANI?" tanya kami kompak.
"siapa yang meninggal?" tanya Len.
"kapan meninggalnya?" tanya Kaito.
"apa ada bukti kematiannya?" tanyaku dan Rin kompak, sementara Miku sedang ngobrol yang (pastinya) OOT sama Mitsu-san (*dor)
"nanyanya satu-satu dong. Megpoid Gumi, orang yang kami curigai sebagai orang yang mengirim video tape berisi tantangan kepada detektif Vocasky di Shiro TV. Meninggal sekitar 20 menit lalu. Saya dapat informasi tim forensik setelah orang tua korban mendengar suara jeritan korban dan menelepon ambulance. Kami belum menemukan bukti apa-apa selain tali, bangku dan pisau silet. Kami sedang menggeledah kamar korban untuk mencari petunjuk kematian dan petunjuk tentang kecelakaan tadi pagi" jelas polisi itu panjang (sekali) dan lebar (banget).
"ya sudah, Mitsu-san, Jo-kun, Lui-kun, apa kalian mencatat laporan Dell?" tanya Kaitou-san.
Mitsu-san, Lui-san dan Jo-san menunjukkan catatan yang ditulisnya dengan ceker ayam (*dor) maksudnya bolpoin tapi tulisannya jauh lebih 'indah' daripada tulisan dokter, "sudah, Shion-kaichou!"
"kembali ke tempatmu sekarang, Dell!" perintah Kaitou-san.
"ha'i, Shion-kaichou!" jawab polisi bernama Dell itu lalu balik kanan dan keluar dari ruang rapat.
"sekarang apa usulan untuk kasus ini?" tanya Kaitou-san sambil mengurut kening.
Mitsu-san mengacungkan tangan.
"saya dan Miku baru saja membuka social media melalui ponsel saya. Saya menemukan info bahwa Megurine Luka, anak perempuan pemilik perusahaan ikan tuna terbesar se-Jepang, Megurine Luki, sedang mencari pelayan wanita dan pria untuk rumah barunya di wilayah Osaka. Pelayannya hanya akan bekerja selama 3 hari dan terus berganti setiap 3 hari sekali"
Rin dan Len saling berpandangan. Mata saphire mereka saling memincing satu sama lain, kalau di anime-anime, pasti sudut mata mereka akan muncul kilatan cahaya dan SFX : Cring yang keras. Mereka berdua, dengan kompaknya, mengangkat tangan.
"MITSU-SAN, TOLONG DAFTARKAN KAMI SEBAGAI PELAYAN KELUARGA MEGURINE ITU!" seru Rin dan Len kompak.
"aku dan Kai-kun pelayan yang selanjutnya saja deh" kata Miku yang akhirnya angkat bicara.
"baiklah, dengan senang hati aku akan mendaftarkan kalian berempat sebagai pelayan keluarga Megurine!" seru Mitsu-san nggak kalah semangat. Kaitou-san geleng-geleng kepala karena kelakuan anggotanya. Sementara Lui-san dan Jo-san sedang meminum air putih (entah gelas yang keberapa) yang baru disediakan oleh OB yang baru lewat untuk mengurangi rasa mabuk mereka.
"oh ya, Gaku-kun kok tidak semangat? Daijoubu desu ka? Apa kau sakit?" tanya Mitsu-san dengan nada khawatir.
"ah, nandemonai. Aku sedang berpikir dimana aku dapat alat penyamar suara untuk menjawab video tantangan dari pembunuh itu" jawabku.
"ah, kau benar Gaku-kun. Aku lupa kalau pembunuh itu menantang kita dan mengharuskan kita menjawab video itu!" Miku menjentikkan jarinya, baru teringat tentang video itu.
"aku punya alatnya. Apa kau mau coba pakai?" tawar Jo-san.
"boleh! Boleh! Aku akan menyiapkan naskah penjawabnya dan membeli video tape baru" jawabku bersemangat.
"jadi, apa ada hal yang lain yang mau ditanyakan?" tanya Kaitou-san. Kami semua menggeleng, "karena sudah malam, bagaimana kalau kalian semua menginap disini dulu? Aku yakin, kalian semua belum izin sama orang tua kalian. Dasar, kebiasaan seperti itu kok dipelihara"
"habis kalau kita izin, orang tua kita pasti tidak akan mengizinkan. Iya'kan, Len?" Rin justru bertanya pada Len yang notabenenya sudah tak memiliki orang tua, "go-gomen ne, Len-kun. Aku keceplosan"
"daijoubu, Rin-chan. Aku sudah tak begitu memikirkan kematian orang tuaku" Len tersenyum simpul pada Rin yang merupakan sahabatnya sejak kecil.
"baiklah, untuk sementara kalian akan tidur di rumah Mitsu-san. Bagaimana, setuju?" tanya Kaitou-san.
"setuju!" jawabku, Rin, Len, Kaito dan Miku kompak.
"Baiklah, minna! Ayo naik ke mobilku" ajak Mitsu-san, "Jo-nii, tolong setir mobil ya'? Aku sudah mengantuk"
"mattaku. Ayolah.. Mitsu-chan, masa' aku terus yang menyetir. Sudah seminggu mobilku bulukan di parkiran karena terus membawa mobilmu. Lagipula, aku'kan lebih tua darimu"
"huh?! Masa' Jo-nii tega membiarkan wanita menyetir sendirian dengan 5 orang remaja di mobil?" Mitsu-san mengeluarkan senjatanya, maksudnya, mata berkaca-kaca a.k.a senjata mata puppy eyes.
"baiklah, baiklah, ayo naik ke mobil" Jo-san mengalah begitu saja. Kakak yang baik.
.
.
.
(skip time. Time : 10.25 P.M
Place : Youte's House"
.
.
.
(Normal POV)
.
.
Rin, Miku, dan Mitsu-san sudah tertidur pulas di dalam satu kamar (author : jangan mikir yang aneh-aneh). Kamar yang ukurannya cukup besar dengan dinding putih dan coklat dan tempat tidur ukuran king size milik Matsu-san, kini telah ditempati oleh 2 manusia berambut kuning dan tosca.
Sementara itu di lantai bawah, tepatnya di ruang tengah rumah Youte ini, sedang diadakan turnamen dadakan PlayStation yang diikuti oleh sang penyelidik muda, Youte Josuke, dan tiga detektif muda yang sudah lama vacuum dari dunia detektif, Kagamine Len, Shion Kaito, dan Kamui Gakupo.
BBRRUMMM! CCKKIIIITT! BRUMM! BRAKKK.
Suara-suara dari game adu mobil itu semakin lama, semakin terasa keras.
"minggir BaKaito! Jangan halangi jalanku! Jo-san juga jangan main sengol mobilku!" pekik Len.
"BaKagamine-baka! KUSOOOOO! JANGAN HALANGI BEMPER (?) MOBILKU! KAMPRET, JO-SAN JANGAN MEMANJAT MOBILKU!" pekik Kaito jauh lebih keras. Kaito lupa kalau sekarang sudah malam.
"GOMEN NE, KAITO-KUN! WHOAAA... YOSH! AKU MENANG!" teriak Jo-san lalu melakukan tarian selebrasi, gerakan gaje benget (author : saking gaje-nya, author ini tak bisa menjelaskan gerakan selebrasinya. *dihantam readers*).
"ARRGGHHH! JO-SAN LICIK! YOU'RE CHEATING! MOT**R FU**ER!" Gakupo sok-sok'an menggunakan bahasa inggris untuk merutuki Jo-san.
TAP! TAP! TAP! SYUSSHH! PRANG!
SFX nggak jelas itu berasal dari suara dentuman(?) kaki 3 wanita yang terpaksa bangun karena ulah 3 pria yang heboh karena pertandingan PS. Lemparan panci mewarnai ke-gaje-an gerakan kaki wanita-wanita itu.
"Jo-nii/Jo-san, Kai-kun/BaKaito, Len-kun, Gaku-kun/BaKamui! Berisik tau!" teriak wanita-wanita itu, Mitsu-san, Miku dan Rin menggema di rumah itu.
"gomenasai!" jawab 4 pria itu sambil bungkuk-bungkuk karena takut melihat ekspresi 3 wanita yang mirip dengan singa PMS.
Rin melompat dari tangga dan langsung mencabut kabel stopkontak PS dari terminal dayanya dan membawanya naik ke kamar Mitsu-san. Miku dan Mitsu-san naik kembali untuk melanjutkan acara tidur mereka.
Tak lama kemudian, Len, Jo-san, Kaito dan Gakupo tidur ngampar di lantai.
PINGG!
Seluruh manusia di rumah Youte ini terbangun karena semua ponsel mereka berbunyi.
"berisik!" pekik Rin kesal kuadrat.
Mitsu-san membuka ponselnya.
"Gumi meninggal. Mana videonya? Semakin cepat kalian menemukanku, semakin sedikit korban yang meninggal" baca Mitsu-san heran.
"sepertinya dia akan membunuh semua yang kita jadikan calon tersangka" kata Rin.
Disisi lain, Len yang baru sekian menit menutup matanya untuk tidur, terbangun karena suara e-mail yang masuk. Kaito terbangun dan membaca e-mail yang masuk ke ponselnya.
"g-u-mi me-ninggal y-a? Vide-o?" Kaito tertidur kembali dengan posisi nungging.
Len membaca e-mail yang masuk ke ponselnya. Isinya sama dengan yang masuk ke handphone Jo-san, Gakupo dan Kaito -Len mengambil handphone mereka semua-
'jika kasus ini tak bisa terpecahkan maka kami akan dihancurkan' batin Len.
Len membangunkan Jo-san, Kaito dan Gakupo.
"oii, bangun!" ucap Len. Len malah kena bogem dari tangan Kaito. Len menggeram kesal dan bersiap untuk memukul si maniak ice cream itu.
"BAKAITO, BAKAMUI, JOSUKE!" Len mulai bertindak dengan menghantam 3 manusia yang sedang tertidur itu. Dan ternyata, dia atas, tepatnya di kamar Mitsu-san, Rin sedang melakukan hal yang sama dengan loncat-loncat di atas tempat tidur yang sedang ditiduri oleh Miku dan Mitsu-san.
"Mitsu-san, ada e-mail masuk ke laptop Mitsu-san. Cepat bangun!" teriak Rin.
Mitsu-san membuka matanya dan langsung berjalan menuju laptopnya. Dia membuka e-mail yang masuk.
"dari.. hoamm.. Me-gu-ri-ne. Dia bilang kalian berdua diterima. Datang ke kediaman Megurine jam 5 pagi hari ini dan siap kerja"
"ohh.." Rin masih belum sadar.
Rin loading.
.
.
.
"NANI?" pekik Rin. Dia melirik jam yang tergantung. Jam 1 pagi. Dia masih punya waktu 4 jam lagi.
Rin melesat turun ke bawah dan melihat Len yang sedang menghantam Jo-san, Kaito dan Gakupo.
"Len kita harus bergegas. Megurine menerima kita dan kita harus ada disana jam 5 pagi nanti. Tidak ada training, kita harus siap kerja. Mungkin cuma ada tour singkat mengenai kediaman Megurine" kata Rin sambil merapikan rambutnya. Mitsu-san turun ke bawah sambil menyodorkan pakaian berwarna putih dan hitam.
"Len, aku bisa meminjamkan jas, celana dan sarung tangan punya Jo-nii. Ini miliknya saat pelantikan menjadi penyidik. Aku bisa meminjamkan ini untuk Rin-chan" Mitsu-san memberikan sebuah kemeja putih dengan lengan yang menggembung, rok hitam pendek dan sepasang sarung tangan.
"ah, arigatou, Mitsu-san" jawab Rin dan Len kompak.
"cepat ganti baju, aku akan membangunkan Jo-nii, dan kebo-kebo ini" kata Mitsu-san
"OK!"
.
.
.
(Len POV)
.
.
Aku merapikan dasi yang sedang kupakai sementara Rin baru selesai ganti baju dan sedang mengikat dasi. Kaito dengan mata yang merem-melek sadang membuat teks naskah jawaban untuk di kirim ke Shiro TV.
"apa penampilanku sudah rapi?" tanya Rin sambil memutar-mutar badannya di depan sebuah cermin.
"kau tampak seperti anak kuliahan yang pendek" jawabku.
"kau menghinaku?" Rin bertanya, muncul sebuah perempatan di sudut keningnya.
"memang kau merasa anak kuliahan?" aku bertanya.
"ti-tidak. Tapi itu sangat menghina!"
"ya sudah, makanya diam!"
"sudah hentikan! Ayo naik ke mobil, sebelum aku kembali mengantuk" kata Jo-san.
"bawa ini" Mitsu-san memberikan sebuah cincin pada Rin dan sebuah jam tangan berwarna hitam padaku.
"apa ini?" Rin mengamati cincinnya.
"cincin isinya wireless camera sementara punya Len-kun isinya wireless camera dan pada deteksi tanggal dan penyadap suara pada pengatur jamnya" jelas Mitsu-san, " begini cara mengaktifkannya. Rin-chan, coba tekan berlian itu"
Rin menekan berlian yang ternyata camera itu.
"lihat" Mitsu-san menunjuk layar televisi yang ada di dekatnya, "kameranya terhubung. Jarak terjauh sinyal camera itu adalah 150 km. Supaya gambar yang dihasilkan semakin bagus, aku akan mencari penginapan di dekat rumah Megurine itu. Rin hati-hati terhadap cincin itu, karena tenaga baterai di cincin itu berasal dari uranium yang mengelilingi cincin itu. Makanya, selalu pakai sarung tangan yang telah dirancang khusus itu. Mengerti?"
"ha'i, wakatteru!" jawab Rin sambil mengangguk.
"punyaku bagaimana?" tanyaku.
"mudah. Kau hanya perlu menekan tombol pengatur waktu ini, mengerti?"
"jam tangan ini tidak menggunakan baterai?" tanyaku lagi.
"kau hanya perlu mendekatkan jam tangan ini ke stopkontak listrik atau lampu untuk mengisi ulang baterainya"
"baiklah"
"udah selesai tutor singkatnya, ayo naik!" seru Jo-san.
Rin dan Len naik ke mobil sambil melihat keluar.
"Ganbatte!" teriak Miku sambil melambaikan tangannya, Rin membalas dengan ikut melambaikan tangan.
.
.
(skip time. Time : 04.25 a.m
Place : Osaka's Railway Station)
.
.
Setelah turun dari shinkansen -Jo-san dengan baik hatinya mengantarkanku dan Rin cuma sampai stasiun shinkansen di Crypton (untungnya ongkos dibayarin)- aku dan Rin keluar dari stasiun dan berjalan menuju parkiran. Aku dan Rin sedang menunggu jemputan keluarga Megurine. Katanya, karena tak ada angkutan menuju kediaman Megurine maka kami akan dijemput oleh salah satu butler Megurine. Rin sesekali menguap karena mengantuk.
"hoi, Rin kau masih bawa cincin itu?" tanyaku hanya sekedar untuk menghilangkan suasana jenuh.
Rin menunjukkan tangannya, "ada"
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan kami. Jendela mobil itu terbuka.
"Kagomei Ren dan Mikoto Ran?" tanya sang supir.
"sou" jawabku dan Rin kompak.
"aku Hirane Tekuno. Panggil saja Tekuno" kata pria bernama Tekuno itu sambil membukakan pintu mobil, "ayo naik jangan sungkan"
"arigatou, Tekuno-san" jawab Rin sambil menaiki mobil tersebut, aku ikut menaiki mobil tersebut dan duduk di samping Rin di kursi belakang.
"mari berangkat" kata Tekuno sambil memutar kunci mobil.
(Skip Time. Time : 04.50 a.m
Place : Megurine's House)
Entah kenapa, si BakAuthor ini seneng banget ngetik skip time, maka tibalah aku dan Rin di kediaman Megurine. Rumah besar bergaya eropa victorian, pelataran taman yang indah dan rapi, kolam-kolam ikan, dan lain-lain. Aku menyeprotkan parfum beraroma maskulin yang dibawa oleh Rin.
"kau siap Len?" tanya Rin.
"tentunya siap! Memeriksa salah satu terduga itu membangkitkan aura detektifku!" seruku. Rin tersenyum.
"inilah Len yang kukenal" kata Rin sambil menepuk punggungku, aku balas tersenyum.
"ayo ada tour singkat mengenai rumah ini" kata Tekuno. Aku dan Rin mengekor di belakang Tekuno sambil melihat-lihat dan mengingat-ingat semua ruangan di kediaman Megurine.
Sampailah kami pada sebuah ruangan besar, sebesar ruang kelasku di sekolah.
"ini adalah gudang penyimpanan ikan tuna Luka-sama. Hanya beberapa orang yang boleh datang ke gudang ini, salah satunya aku" jelas Tekuno. Aku mengaktifkan jam tanganku dan memotret gudang itu diam-diam. Dan Rin dengan beraninya memasukkan tangannya ke dalam gudang itu untuk merekam gudang itu.
"apa yang kau lakukan?" tanya Tekuno.
"sumimasen, Tekuno-san. Aku cuma mau merasakan sedingin apakah ruangan ini" jawab Rin bohong.
"ini perhentian kalian yang terakhir, sekarang aku akan memberikan tugas kalian. Ran-san akan menjadi house maid dalam tiga hari, apa kau sanggup menerima semua pekerjaan yang akan kuberikan?"
"saya pasti akan melakukannya dengan baik dan saya akan bertanggung jawab apabila saya melakukan kesalahan!" jawab Rin dengan semangat.
"Dan Ren-san akan menjadi asistenku. Apa kau sanggup?" tanya Tekuno lagi.
"saya siap dan bersedia menjadi asisten Tekuno-san untuk menghadapi Luka! -maksud saya- Ohime-sama" jawabku.
"apa kalian berdua pernah mengenal Luka-sama?" tanya Tekuno lagi dan lagi.
"eh, tidak! Belum pernah" jawabku dan Rin kompak.
"saya akan membangunkan Luka-sama terlebih dahulu. Kalian persiapkan diri kalian dan beristirahatlah sebentar. Pasti melelahkan perjalanan dari Crypton sampai kemari. Kutunggu kalian berdua, satu jam lagi di ruang utama"
"ha'i, Tekuno-san! Arigatou gozaimasu!" aku dan Rin membungkukkan badan.
.
.
.
(Normal POV)
.
.
.
Tekuno pergi, meninggalkan Len dan Rin di depan gudang tuna.
"ayo Rin, kita periksa gudang ini siapa tahu kita menemukan petunjuk" ajak Len berbisik pada Rin.
Rin mengangguk dan mengikuti Len.
NYAM.. NYAMM.. NYAMM..
Rin dan Len saling bertatapan.
Rin mencari suara mulut yang sedang mengunyah itu dan menemukan seorang wanita berambut soft pink, dengan mulut belepotan, sedang memakan tuna bakar dan sushimi (author : eh, bener nggak sih penulisannya?).
"dare ga omae?" wanita bertanya dengan kasar.
"wa-watashi.. Mikoto Ran desu. House maid baru, gomen" kata Rin berpura-pura takut.
"Doushita no, Ran?" tanya Len menghampiri Rin.
"di-dia temanku juga. Namanya Kagomei Ren, asisten sementara Tekuno-san" sambung Rin.
"oh jadi kalian berdua itu orang yang mengirim biodata ke e-mail keluarga" kata wanita berdiri, membersihkan mulutnya yang belepotan, "Hajimemashite, watashi wa Megurine Luka desu"
"e-eh, jadi Megurine-sama.." Len pura-pura canggung
"panggil aku Luka saja" potong Luka.
"wakatta, Luka-sama" balas Rin dan Len.
"aku seperti pernah melihat kalian" selidik Luka.
"ng, mungkin saja kita pernah bertemu di jalan, mungkin" jawab Rin.
"bukan, aku pernah melihat kalian ada di bekas sekolahku, Vocasora Gakuen. Kalian Kagamine Len dan Kiiroine Rin, ne?"
"huh? Kami sudah lama tidak bersekolah dan bekerja. Kami tidak kenal siapa Kagamine Len dan Kii-roine Rin. Mungkin Luka-sama pernah melihat orang dengan wajah kami. Lagipula kami berasal dari Koto-ku, Tokyo. Bukan dari Crypton, Tokyo. Crypon merupakan tempat tinggal sementara kami"
"kalian berdua kenapa ada disini? Bukankah sudah kubilang tak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan ini?!" Tekuno marah, "dan Luka-sama kenapa Anda sembunyi lagi makan ikan tunanya?"
"kau kelamaan membangunkanku aku sudah lapar" Luka melengos pergi, gaun tidurnya berkibar-kibar, diterbangkan hawa kulkas raksasa. Tekuno mengikuti Luka.
"chotto matte, Luka-sama!" panggil Tekuno dan Luka mengabaikannya.
Rin dan Len masih berdiri disana. Len membungkuk dan menemukan sebuah kertas dengan bercak darah dan bau amis.
"apa ini?" Len mengangkat kertas itu dengan cara menjepit kertas itu menggunakan kukunya (maksudnya supaya sidik jari Len tidak berbekas pada kertas itu)
"ada tulisannya!" seru Rin.
Len membaca tulisan pada kertas tersebut.
"Megpoid Gu-mi" baca Len, "bukankah dia yang disebutkan Dell-san di kepolisian kemarin?"
"iya! Kau benar!" balas Rin berbisik.
"kalian kenapa masih disitu?! Ayo mulai bekerja!" teriak Tekuno.
"ha'i, Tekuno-san" jawab Rin dan Len kompak lalu berlari ke tempat kerja masing-masing. Len menyimpan kertas aneh tersebut pada saku celananya.
.
.
.
Len sedang membersihkan meja makan bekas sarapan sang majikan (*dirajam Len FC dan dilempar pisang beku)
.
.
Fine, ulangi!
.
.
Len sedang membersihkan meja bekas sarapan Luka. Umurnya mungkin sudah diatas 17 tahun tapi kelakuannya itu.. kelewat kayak anak kecil! Perhatikan bekas makanannya, belepotan sana-sini. Gayanya bagaikan hantu noni-noni Belanda(*dipukul Luka pake tuna), gaun hitam berkibar-kibar, eye shadow gelap pada matanya, wajah stoic-antisosial-super angkuh.
"gayanya doang kayak putri kerajaan, kelakuan kayak doggy kelaparan!" keluh Len sambil memunguti tulang-tulang ikan tuna. Bau amis dari ikan itu berteberan dimana-mana. Maka setelah ini, Len (sangat) harus menyeprotkan pewangi ruangan sebanyak mungkin.
Rin melakukan pekerjaan berbeda. Rin sedang menyeret sebuah keranjang pakaian kotor dengan susah payah. Bagaimana tidak, ada 20 gaun yang menurut Rin masih bersih dan wangi, sekarang harus dicucinya. Rin masuk ke ruang cuci dan mulai membentang-bentangkan gaun-gaun itu, dan mula mencucinya sampai bersih dan wangi, secepat mungkin..
Untungnya cincin Rin itu anti air dan anti musim(?), jadi Rin tak perlu tak perlu takut akan merusak cincinnya. Rin mengusap peluh yang membanjiri keningnya, meregangkan pinggangnya yang pegal. Sudah setengah jam Rin mencuci sebuah gaun. Rin harus hati-hati karena gaun ini sangat mahal. Rin mengambil salah satu gaun yang sudah disabuninya dan mulai membilasnya dengan menyemprotnya dengan air hangat.
2 jam kemudian, Rin selesai membilas semua gaun tersebut dan memasukkannya ke dalam pengering. Rin tidak memasukkan sekaigus tapi satu per satu.
Menunggu Rin sedang mengeringkan gaun Luka, Len sedang membereskan kamar Luka. Len merapikan kasur dan isi lemari Luka dan membereskan semua yang berserakan. Len mengambil vacuum cleaner dan mulai membersihkan lantai kamar Luka. Luas kamar Luka sama dengan luas ruang kelas Len di sekolah.
"baru begini saja sudah capek" pikir Len.
Disaat yang bersamaan Len dan Rin mengucapkan kalimat yang sama walaupun tempat yang berbeda, "masih ada dua hari lagi, 'ya? haaaah..."
.
.
Jam 3 sore, Len dan Rin masih bekerja. Yah.. mereka belum makan siang. Di sebuah lorong Len dan Rin bertemu. Rin membawa keranjang yang penuh dengan gaun yang baru kering dan Len membawa gaun hitam besar ditangannya.
"Rin!" sapa Len tersenyum.
"Len!" balas Rin ikut tersenyum. Mereka tidak merasa lelah karena mereka bekerja dengan senang hati. Walaupun mereka bekerja pekerjaan rumah, tapi Len dan Rin teleh menemukan banyak petunjuk. Contohnya, Len menemukan sebuah buku usang berisi mantra di kamar Luka, diary dengan judul 'DEATH' pada sampulnya, sekotak pisau dengan banyak darah, dan beberapa bukti rekaman suara pada jam tangan Len mengenai siapa orang yang katanya akan 'dikendalikan' olehnya.
Rin menemukan ; potongan rambut berwarna hijau pada salah satu gaun Luka, dan sebuah video tape pada saat mencari gaun kotor Luka di kamarnya.
Ponsel Rin bergetar. Sebuah panggilan telepon.
"moshimoshi?" Rin berbisik. Rin mengangkat panggilan tersebut di toilet.
"Rin-chan, ada petunjuk baru?" suara Gakupo.
"ada. Aku menemukan sehelai rambut berwarna hijau muda di gaun Luka. Aku menyimpan benda itu sekarang"
"baiklah, aku akan kesana. Aku akan menyamar sebagai tukang pengantar gaun. Kita transaksi di sana, OK?" ucap Gakupo.
"memang kau tahu dimana Megurine Mansion?"
"oh tentunya. Mitsu-san memasang pelacak pada cincin dan jam tangan Len"
"oh.. Aku harus bekerja kembali. Jaa nee"
"jaa nee"
Sambungan terputus dan Rin kembali bekerja. Rin memasukkan ponselnya ke dalam saku rok. Rin merapikan seragamnya sambil menatap pintu toilet itu. Rin curiga pada sebuah lakban yang menempel pada pintu tersebut. Rin melepas lakban tersebut dan menemukan sejumput rambut berwarna putih.
"rambut?" benak Rin. Rin memotret rambut tersebut dengan jam tangannya lalu menempelkan kembali lakban tersebut.
"sebenarnya apa yang dilakukan Luka di sini?" pikir Rin. Rin keluar dari toilet dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
.
.
.
(Kaito POV)
.
.
Sesampainya di Osaka, kami bertujuh -aku, Tou-san, Miku-chan, Gakupo, Mitsu-san, Jo-san, Lui-san- mencari penginapan yang dekat dengan Megurine Mansion. Setelah menemukan penginapan yang cocok, kami mengeluarkan semua perabotan kami, mulai dari LCD TV, alat penyadap suara, kamera dan beberapa properti lainnya.
"Kaito, tolong pasang LCD TV-nya disana dan sambungkan dengan komputer ini" perintah Lui-san.
"ha'i, Lui-san!" jawabku nurut sambil mengangkat salah satu LCD TV.
"Rin-chan memotret benda baru!" seru Mitsu-san.
"benda apa?" perhatian kami teralih oleh berita yang disampaikan Mitsu-san.
"rambut. Sejumput rambut berwarna putih. Sepertinya dugaan kita tidak salah, karena lokasi Megurine Mansion sangat terpencil dan dekorasi ruangannya juga sangat seram"
"dugaan?" tanya Miku.
"dugaan bahwa Megurine Luka membawahi 5 terduga, Shion Zeito, Megpoid Gumi, Nekomura Iroha, Sonika dan Miki. Kita harus mulai menyelidiki keenam terduga ini" jelas Lui.
"menurut data yang kuterima, Sonika, Miku dan Nekomura berada di satu sekolah, Crypton high school" sambung Gakupo sambil membaca lembaran kertas di tangannya.
"Nekomura Iroha, sepertinya aku pernah mendengar namanya.." ucapku.
"dia teman kita waktu TK, Kai-kun. Ingat tidak, cewek yang suka pake bando kucing kayak SeeU dan tatapan bengis nan jahat ala psikopath. Dia itu cewek yang nggak punya teman di kelasnya"
Aku ingat, cewek yang selalu mengancam-ancam anak-anak di kelasku waktu TK pake kalung bergambar mata yang dibelakangnya ada hexagram itu sama persis dengan kelakuan Nekomura Iroha yang dijelaskan Miku.
"tapi bukankah dia dikabarkan telah meninggal?" sambungku.
"dan kalian percaya atau tidak 2 dari 7 orang yang kami curigai memang telah mati" Tou-san angkat bicara sambil memasang kabel penghubung dari komputer menuju LCD TV.
"Jadi, untuk apa kita menyelidiki orang yang telah mati?! Dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia ini, maksudku, di kota ini, kenapa kalian memilih orang yang telah mati?!" tanyaku keheranan karena keputusan kepolisian.
"karena.." Tou-san memberi jeda pada kaliamatnya. Tou-san menyalakan TV yang sudah tersambung dengan komputer.
"pada kenyataannya mereka masih hidup dengan nama palsu" lanjut Tou-san.
Aku, Miku dan Gakupo memerhatikan layar TV. Nekomura Iroha, merubah namanya. Sonika, merubah penampilannya. Yowane Haku, yang seharusnya tinggal dalam lapas, merubah namanya dan bekerja sebagai pekerja salah satu perusahaan asuransi. Shion Zeiko, sepupuku, yang katanya menghilang pada saat pendakian di gunung dan dinyatakan mati. Megurine Luka, kepala produksi perusahaan Megurine Corp., menggantikan ayahnya yang sudah mati.
"mattaku.." gumam Miku, "Aku pernah melihat Sonika di mall. Saat itu dia tanpa sengaja menggunting rambutku dan Rin"
"nani?!" aku megguncang bahu Miku.
"a-aku lupa. Dia menggunting rambutku saat kami sedang membeli cat kuku di salon langganan Tou-san. Dia menggunting rambutku dan Rin, katanya rambut kami berdua bagus dan bisa dijadikan sebagai sample rambut yang pernah perawatan disana. Aku lupa menanyakan namanya. Tapi saat itu aku dan Rin memberikan nama palsu kami"
"gawat.." Mitsu-san menggigit kuku jarinya.
"nande?" tanyaku dan Miku berbarengan.
"mereka adalah 2 dari 10 orang yang dianggap sebagai penyihir di Crypton"
"..." Miku terdiam, ketakutan hebat. 10 penyihir Crypton, orang-orang yang konon punya kemampuan yang berhubungan dengan kekuatan gaib.
-TBC-
Author line :
Len : chapter ini nggak ada apa-apanya
Rin : mata kerjaan kita di rumah si Tuna-san itu jadi pembokat, pesuruh, babu, pembantu!
Miku : entah kenapa disini saya terlalu p-o-l-o-s, walaupun itu bisa membuat Kai-kun klepek-klepek kayak minyak goreng kecipratan air.
Kaito dan Gakupo : *cengo karena kelakuan Miku.
Author : gomen ne, jika fic ini terasa berbelit-belit. Sebenernya saya lagi keterbatasan ide dan sedang mengerjakan fic baru #promosi. Baiklah..
R
E
V
I
E
W
PLEASE.. *_*
REVIEW :
KURO REI-CHAN : gomen ne, jika nama chara-nya berubah dengan gaje-nya. Saya lagi keterbatasan ide.
A/N :
Tolong jika baca fic ini, harap tinggalkan jejak, saya juga terima flame. Jangan jadi silent readers, ne?
-Shintaro Arisa-chan-
