The Mysterious Accident
. The Mysterious Accident
.
.
.
Mysterious Accident
.
.
.
Warning : AU, Typo(s) bertebaran, GaJe, OOC, Humor jelek nyempil disana-sini, alur muter-muter, kejadian yang tidak masuk akal, bloody scene.
Disclaimer :
Vocaloid bukan punya saya melainkan punya Yamaha Corp and Crypton Future Media. Mysterious Accident, tentunya, punya saya.
Summary : Kecelakaan? Itu hal yang biasa tapi jika dihubungkan dengan sesuatu yang diluar nalar manusia.. Apa jadinya?
Don't Like Don't Read
Silahkan pencet tombol 'back' kalau tidak suka..
HAPPY READING, MINNA-SAN
.
.
(Len POV)
.
.
Semua sedang sibuk sekarang, termasuk aku. Kaito dan Gakupo sibuk meneliti roadroller yang terguling, Miku dan Rin sibuk mengambil sample darah yang berceceran di sepanjang jalan untuk diteliti, sementara aku, Jo-san, Mitsu-san, dan Lui-san sibuk meng-autopsi kepala, kaki kiri, dan tangan kanan milik Luka.
"Entah kenapa baru kali ini aku tidak mencium bau mayat saat melakukan autopsi seperti ini." kata Mitsu-san.
"Ng, kau benar, Mit-chan." jawab Jo-san.
"Len," panggil Rin, "bukankah tadi kita pergi empat. Aku, kau, Luka, dan.."
"Tekuno-san!" jawabku.
"Diakan menyetir di samping Luka. Kalau Luka tergilas, berarti dia juga ikut tergilaskan?"
"Apa kau menemukan DNA lain selain DNA milik Luka?" tanya Miku.
"Tidak, tidak ada. Semua darah disepanjang jalan ini punya kemungkinan 90% adalah DNA milik Luka." jawab Rin.
"Matte o. Jika mayat Luka saja sampai terpisah-pisah seperti ini berarti tidak ada kemungkinan jika mayat Tekuno terlempar ke sesuatu tempat dengan kondisi mayat utuh. Jika benar Tekuno-san meninggal." sambungku.
"Ng, kau benar Len." kata Miku yang disambut anggukan Rin.
"Dan tidak mungkin juga bila Tekuno-san benar-benar rata sama tanah. Pasti ada pecahan-pecahan tulang tengkorak atau tulang paha" Rin menambah hipotesis kami.
"Ng, maaf mengangguk nona dan tuan genius," Kaito datang dengan ucapan entah memuji atau menghina kami, "aku dan Po-kun butuh bantuan untuk mengangkut mayat tersangkut di roadroller."
"Namaku Gakupo, BaKaito!" protes Gakupo sambil menampar Kaito dengan sarung tangan karetnya. Menjijikan.
"Baka! Kenapa nyebut identitas asli saat penyelidikan?! Kalau ada yang tahu gimana?!" Kaito balik menampar Gakupo dengan sarung tangan karetnya. Untuk semenit, Kaito dan Gakupo saling menampar dengan sarung tangan karet dengan brutal.
Abaikan kelakuan Kaito dan Gakupo yang berubah abnormal. Aku dan Rin saling berpandangan. Insting kompak kami muncul.
"Kau perbaiki starter-nya," kata Rin padaku.
"Kau kendalikan roadrollernya!" balasku.
Aku dan Rin berlari menuju roadroller. Aku kebagian memperbaiki mesin dan Rin langsung duduk di belakang kemudi roadroller. Aku menyambung beberapa kabel yang berfungsi menghidupkan mesin roadroller.
"Len, mesinnya sudah hidup." kata Rin.
"OK!" aku naik disebelah Rin, "minna-san untuk menghindari korban lain akibat pengendara ababil ini sebaiknya kalian semua mundur kira-kira 25 meter dari sini!"
Kaito dan yang lainnya langsung mundur. Mereka tidak mau ikutan rata bersama seperti Luka.
Rin menarik salah satu tuas dan berhasil memundurkan roda roadroller.
"Berhenti, Rin. Jangan sampai roda roadrollernya mengenai tanah yang ada darahnya." perintahku.
Rin manyun, "Dasar Len cerewet, aku'kan bisa memindahkan roadroller ini satu centi lagi."
"Sudahlah turun sini dan bantu si maniak ice cream dan maniak terong ini untuk memindahkan mayat nyangkut di sini."
"Hei, Len. Kau sendiri maniak pisang." protes Kaito sambil menarik kaki mayat perlahan-lahan.
"Biar saja. Pisang itu jauh lebih sehat dibandingkan ice cream. Ice cream itu cuma nambah lemak di badan." aku tidak terima disebut maniak pisang. (author : aku setuju dengan Kai-kun. Terima diri aja deh, Len. Kau itu memang maniak pisang #digamprat pohon pisang)
"Kata siapa?" Kaito naik pitam. Muncul perempatan siku-siku di sudut jidatnya.
"Kata gue. Kenapa? Cuma disinggung gitu aja sewot!"
"Lu yang sewot BaKagome!" disela-sela perdebatan kami yang nggak penting ini, Kaito tidak mengungkapkan marga asliku yang sebenarnya. Tumben pinter. Biasanya begonya nggak ketulungan.
"Kalian berhenti nggak?" Rin sudah naik kembali di atas roadroller, siap meratakan kami.
"Sumimasen, Rin-sama." aku dan Kaito sujud-sujud.
"Hoho. Tunduklah kalian padaku!" Rin rupanya masih ingat perannya saat memainkan drama 'Aku no Musume' di sekolah.
"Rin kita nggak sedang main drama tauk!" protesku.
"Sorry deh sorry." Rin turun dari roadroller.
"Yuk lanjutkan penyelidikan!" ajak Gakupo dengan senyumnya yang mampu membunuh seekor beruang grizzly.
"Ha'i!" jawab kami kompak dan entah kenapa aku dan 3 manusia dengan rambut biru-kuning-tosca ini justru kurang peka dengan senyum Gakupo yang menggelikkan itu. Lagian sejak kapan si maniak terong hentai itu bijak? Sejak negara api belum menguasai dunia? #abaikandeskripsiidiotyangterakhir#
Kami kembali ke perkerjaan masing-masing. Jo-san, Lui-san, Mitsu-san dan Kaitou-san masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Dengan kata lain, kami bebas dari perhatian dan peraturan mereka. Seperti yang dilakukan Kaito pada mayat yang kami temui di roadroller, dia berjalan mengelilinginya dan Gakupo ikut-ikutan. Aku, Miku dan Rin cuma bisa sweatdrop dengan kelakuan bodoh duo maniak ini tapi akhirnya kami ikut-ikutan mengelilingi mayat tersebut.
"Kakome kakome.. Nigerareru you ni-" Miku mulai menyanyi salah satu lagu creepy-horor kesukaannya. Dia menghayati lagu itu sampai-sampai mata dan senyum di mulutnya mirip dengan salah satu boneka horror terkenal.
"Kakome kakome... Nani shite asobou no-" Lanjut Rin.
"Yoake no ban ni-" sambungku.
"Nakama ni nareru ne!" sambung Kaito.
"Kagome kagome-"" Gakupo mulai terbawa nyayian horor kami.
"Ushiro no shoumen daare..." kami mengakhiri nyanyian kami dengan menyanyikan lirik terakhir bersama-sama.
"Eh, sebenernya kita ngapain sih?" tanya Rin sambil menggaruk belakang telinganya.
"Kenapa ngajakin mayat main kagome kagome. Dia'kan mana bisa nebak." aku setuju.
"Kita kerasukan kali..." kata Miku dengan polosnya.
"Udah ah, balik ke pekerjaan masing-masing." perintah Kaito.
"OK!" jawab kami kompak.
Secepat berhembusnya angin subuh, kami kembali normal lagi. Kembali waras supaya bisa meautopsi mayat.
"Hei.. Len, Rin," panggil Kaito.
"Nani o?" Rin menghampiri Kaito.
"Apa kalian kenal mayat ini?"
Aku dan Rin mengamati mayat itu.
"Ini mirip dengan Sonika." kata Rin.
"Mayat ini memang sudah mengeras. Mungkin sudah mati kemarin." sambung Kaito.
"Matte matte. Jika mayat ini sudah mengeras dan mungkin mati kemarin, berarti mayat ini dibunuh dan terlempar dari mobil sewekatu kecelakaan." tukas Rin.
"Tidak mungkin terlempar Rin. Mobil saja rata. Tidak ada kemungkinan -kalau pun memang ada kemungkinannya cuma 0,7%- bahwa mayat akan terlontar saat mobil terlindas tiba-tiba. Lagipula, dimana Luka menyimpan mayat ini? Bukankah tadi saat memasukkan gaun Luka tidak ada apa-apa'kan di bagasi belakang?" jelasku.
"Bagasi belakang itu udah basi banget. Pikirkan dimana ada ruangan dalam mobil yang cukup untuk melipat mayat ini." kata Kaito.
"Di bawah jok mobil?" usul Rin.
"Ng.. tabun." jawab Kaito.
"Dasbor mobil si Luka-sama'kan bisa dipereteli dengan mudah. Mungkin disana dia menyembunyikan mayatnya." aku ingat bagaimana Tekuno-san mempereteli mobil Luka dengan mudah di bagian dasbor.
"Mitsu-san, kemari ada mayat baru!" panggil Rin pada Mitsu-san.
Mitsu-san langsung menghampiri kami dengan tas lengkap berisi peralatan forensik. Wajahnya mendadak pucat dan senyum mengembang dipipinya. Dia itu takut atau senang sih?
"Dimana kalian temukan mayat ini?" tanya Mitsu-san tiba-tiba.
"Ng, di dekat roadroller." jawab kami bertiga kompak.
"Ini mayat yang telah kami cari selam seminggu penuh. Ini mayat..." Mitsu-san membuka note kecil dari saku jaket kulitnya, "Sonika. Tersangka kasus pembunuhan berantai di Ibaraki. Katanya dia tewas dikejar-kejar sekumpulan yakuza yang berkeliaran di Ibaraki tapi aku nggak sangka kalau misalkan yakuza-yakuza itu akan mengejar mangsa sampai jauh begini, maksudku sampai ke Osaka."
"Kata Tou-san sih, yakuza itu akan terus mengejar mangsanya sampai kemanapun. Pokoknya mereka akan berhenti saat mangsa mereka itu telah terbunuh di tangan mereka." jawab Gakupo masih memeriksa mayat Luka.
"Ja-jadi Sonika sudah meninggal?" Rin tergagap, "so-soalnya waktu itu rambutku dan Miku pernah tidak sengaja terpotong oleh Sonika. Apa mungkin rambut itu telah diserahkan ke Perserikatan Penyihir? Aku takut kalau itu terjadi."
Rin mendadak menunjukkan wajah suramnya. Dia memilin-milin rambut pirangnya. Aku tergerak untuk mengelus punggungnya. Dia merona lalu tersenyum padaku. Kaito berdehem, merusak suasana. Aku menatap Kaito kesal, dia cuma bersiul-siul sambil menatap langit santai. Kampret!
Ponsel Kaito berbunyi –aku sudah hafal ringtone ponsel Kaito— dan dia langsung menyerahkan ponselnya kepada ayahnya a.k.a Kaitou-san.
Setelah beberapa lama teleponan, aku, Kaito, Rin, Gakupo dan Miku disuruh berkumpul.
"Doushita no, Shion-san?" tanya Miku.
"Kalian berpencarlah. Kita harus berpencar karena hampir semua terduga sudah meninggal hari ini. Nekomura Iroha dikabarkan loncat dari gedung Kawaii Neko, tempat bekerjanya sekarang. Semua penyidik berpencar ke seluruh penjuru Jepang untuk mencari dimana Kaiko, karena Kaiko sudah setahun menghilang. Sekarang bubar!" perintah Kaitou-san.
Kami semua bubar, melupakan perkerjaan kami yang sedang mengautopsi jenazah yang kami temukan.
.
.
.
(Miku POV)
.
.
Kami semua berlari rusuh ke stasiun kereta untuk mengejar waktu. Kami hanya perlu menunjukkan kartu keanggotaan kami di kepolisian dan petugas akan mengizinkan kami naik kereta.
"Kita harus mengejar waktu. Ini sudah pagi." kata Kaito saat kami sedang mencari tempat duduk di kereta.
"Sampai disana kita bisa naik pesawatkan?" usulku.
"Miku-chan benar, kita hanya perlu menunjukkan kartu ID kita dan mungkin petugas akan memberikan kursi kosong untuk kita berlima di dalam pesawat." timpal Rin.
"Kemungkinannya kecil Rin-san. Bisa jadi kita nggak kebagian kursi untuk pergi ke Tokyo." Gakupo angkat bicara.
"Pasti ada. Kenapa kita nggak ngambil kursi bisnis yang mewah dengan ancaman bahwa ini keadaan darurat? Mereka pasti akan mengizinkan kita."
"Terserah deh." Gakupo menjawab pasrah.
Sampai di stasiun Shin-Osaka kami langsung memanggil taxi yang akan mengantar kami ke bandara.
(BGM : Mr. Taxi
by : Kagamine Len) #abaikan#
.
.
.
(skip time. Place : Narita's Airport
Time : 08.00 a.m)
.
.
Kami sudah sampai di Tokyo tepatnya di depan bandara Narita. Entah kenapa, semua dari kami mendadak menjadi tidak tenang. Kami seperti akan dimasukkan ke dalam kandang singa, kami merasa takut setelah menginjak kaki di Tokyo. Rin menggigiti kuku jempolnya, Kaito –bahkan aku baru pertama kalinya melihatnya seperti ini— menatap langit nanar, Gakupo menatap terus sepatunya, dan Len mencengkram ujung kemejanya kalut.
"Kenapa kalian berekspresi seperti itu sih?" tanyaku bingung.
"Takut."
"Aku takut."
"Aku tidak mau berakhir hari ini."
"Aku merasa akan mati hari ini."
Kaito, Rin, Len dan Gakupo mengungkapkan perasaan mereka berbarengan. Aku menghela napas.
"Sebenarnya juga aku merasa takut. Tapi bukankah misi harus diselesaikan? Kita akan terus bersama sampai kasus ini selesaikan? Bukankah kasus ini tidak ada apa-apanya dengan kasus yang pertama kali kita tangani? Kau bilang begitu'kan Kai-kun? Ne?" aku mencoba untuk memotivasi mereka.
"Memang.." Kaito menghela napas.
"Kita berpencar sekarang. Kita akan bertemu kembali di depan sekolah kita saat kasus ini selesai. Janji?" aku mengeluarkan jari kelingkingku.
Rin mengeluarkan jari kelingkingnya enggan, aku langsung mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya cepat sebelum dia berubah pikiran.
"Janji 'ya, Rin-chan?" aku menatap Rin dengan puppy eyes-ku supaya dia tidak menolak. Rin menarik napas lalu tersenyum, "Janji."
Ada kelingking lain yang mengait di kelingkingku dan kelingking Rin-chan.
Kaito tersenyum, "Kami janji saat kasus ini selesai kami akan berkumpul di depan sekolah." Len dan Gakupo mengangguk. Aku tersenyum.
"Sankyu, minna," entah kenapa disaat seperti ini aku justru ingin menangis, "Ayo kita berpencar."
"Ha'i!" jawab mereka kompak. Kami melepaskan saling melepaskan kaitan jari kami lalu saling menatap dengan tatapan tegas.
"Jangan mati ya'." kata Rin lalu membalikkan badannya dan berlari pergi.
"Kau jangan mati ya', Miku-chan." Kaito berlari.
"Selamat tinggal. Jaga diri kalian baik-baik." kata Len lalu berlari keluar dari bandara.
"Mata ashita, Gaku-kun."
"Mata ashita, Micchan."
Kami saling memunggungi lalu berlari keluar dari pintu yang berbeda. Kami akan menyelesaikan kasus ini dan bertemu kembali dengan selamat. Semoga saja..
.
.
.
(Len POV)
.
.
.
Di dalam taksi, aku berpikir untuk pergi ke Crypton dan menyelidiki kasus Gumi. Karena saat membantu Kaito meng-autopsi mayat Luka, aku menemukan cacatan kecil dengan tulisan berantakan yang sudah kuyakini sepenuh hati (*ceilah bahasanya) bahwa itu tulisan si maniak ice cream. Aku sudah hapal betul tulisannya. Berantakan dengan bolpoin bertinta biru dan suka menambahkan simbol-simbol aneh untuk menyingkat catatan. Tak heran, jika ini pekerjaan non-lapangan -sebagai contoh saat menyadap dan menstalk seseorang- Kaito adalah orang yang paling cocok untuk pekerjaan ini karena kemampuannya untuk mendengar sambil menulis sangat cepat diantara kami berlima. Saat telinganya mendengarkan pembicaraan, matanya terfokus pada layar monitor, dan tangannya yang sesekali menulis dengan gambar-gambar aneh dia masih bisa melontar guyonan-guyonan untuk membuat Miku tertawa. Oke, selesai untuk Kaito. Aku akan memilirkan rencanaku lagi.
Saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, aku memerhatikan gedung yang berada di sampingku. Disana, tepat pada jendela lantai 15, seorang wanita berambut magenta hendak melompat. Aku keluar dari taxi dan berlari masuk kedalam gedung secepat mungkin (supir taxi : "Hei, bayar. Sudah sejauh ini! *menyumpah serapahiku dengan absurd-nya.)
Tak sampai 5 menit, aku sudah sampai di lantai lima belas dengan napas terengah dan kaki gemetar.
"Hosh.. Hosh.. Hosh.. Stop!" ucapku terengah.
"Jangan mendekat atau aku sihir kamu!" ancam wanita itu, rambut magentanya berkibar kemana-mana.
"Si-sihir?"
'apa mungkin dia salah satu anggota Perserikatan Sihir?' pikirku.
"Aku akan mengabdi pada Kami-sama! Aku ingin hidup selamanya! Aku ingin Kami-sama melihat tindakanu dan mengangkatku sebagai abdi-nya!" teriak wanita itu seperti orang kesurupan. Orang-orang telah berkemurun di bawah dan menunjuk wanita itu. Wanita itu merentangkan tangannya dan menjatuhkan dirinya (Author : Bayangkan adegan film Titanic waktu Rose merentangkan tangan di haluan(?) –atau apapun itu namanya— dan di sana nggak ada Jack).
GREP! Aku mencengkram pergelangan kakinya, menghentikan supaya dia jatuh ke bawah. Aku mencengkram pergelangan kakinya sampai kukuku menusuk kulitnya. Darah mengalir keluar.
"Jangan bodoh! Bukan begini caranya mengabdi." teriakku. Wanita itu meronta-ronta.
"Lepaskan!" ronta wanita itu. "kamu nggak tahu rasanya diabaikan majikan sendiri! Kamu nggak tahu lelahnya mengurusi ini itu sementara tuanmu menganggapmu nggak ada! Aku benci dunia ini! Jadi biarkan aku mengabdi pada Kami-sama! Mwahahahaha~"
Peganganku pada tralis jendela merenggang, tanganku sudah kebas.
BRETT! Aku menyobek kulit wanita itu menggunakan kelima jariku. Aku tidak sengaja melakukannya, dia terus meronta dan semakin merosot dari peganganku.
"Jangan meronta lagi! Jangan meronta, kumohon!" teriakku. Peganganku pada teralis semakin merenggang.
"Kalau begitu ikutlah bersamaku dan hadapi Kami-sama supaya kau puas melihat dunia yang kejam ini!" teriak wanita itu sambil menyeringai.
"Kalau kau terjun, kau hanya akan menghadapi kuburan dan kesedihan dari keluargamu. Tolong pikirkan sekali lagi hal itu, IDIOT!"
Wanita itu mengabaikanku. Dia menghentakkan dirinya ke bawah yang sukses membuat dirinya terjun ke bawah... bersamaku dengan teralis di tangan kananku. Aku melepaskan teralis itu.
"HUWAAA!" pekikku. Aku memutar badanku, membuat aku mendahului wanita itu. Aku melingkarkan tangan kiriku yang dilumuri darah ke leher wanita itu dan menarik tali yang dijadikan pelatuk parasut. Parasutku mengembang dan membuat kami berdua turun perlahan.
"Dasar idiot! Kenapa kau menyelamatkanku! Kau menggagguku! Hn.." racauan berhenti ketika aku memukul tengkuknya.
Polisi berdatangan termasuk Rin dan Kaito. Polisi langsung memborgol tangan dan kaki Miki plus merantai leher dan menghubungkannya ke borgol tangan dan kaki. Dia mirip buaya magenta(?) yang berhasil ditangkap pawangnya.
"Kudengar kau menangkap Miki, kau hebat Len! Insting detektifmu berkembang pesat!" Rin langsung memelukku sambil melompat-lompat senang.
"Hehe.. aku kebetulan lewat dan melihat dia," aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal saking salting-nya, "Oh, jadi dia yang namanya Miki."
"Yap. Dia itu Miki. Kalau tak salah nama panjangnya Safurani* Miki. Dia salah satu terduga kuat yang dianggap salah satu anggota dari Perserikatan Penyihir." jelas Kaito.
"Pantas saja dia tadi mengancamku dengan kata 'Diam atau aku akan menyihirmu!'" aku meniru suara Miki ketika dia mengancamku.
Rin tertawa, "Suaramu malah mirip dengan tikus terinjak, Len."
"Jangan meledekku, dong." balasku dingin.
"Gomen ne." Rin masih cengengesan.
"Nah, sekarang bagaimana kalau Tuan dan Nona Genius membantuku memecahkan kode kanji tak sempurna ini supaya kita dapat petunjuk baru." Kaito memperlihatkan sebuah diary berwarna hijau, tangan Kaito kini telah memakai sarung tangan.
Aku memakai sarung tangan, "Biar aku yang melakukannya. Aku lulus pelajaran Mizki-sensei dengan point tertinggi di seluruh kelas sebelas." Mizki-sensei adalah guru Bahasa Jepang kami di sekolah.
"Terserah." jawab Rin dan Kaito cuek dan mulai mengeluarkan barang temuan mereka yang lain. Kami baru berpisah selama satu jam dan masing-masing dari kami telah mendapatkan petunjuk.
"Aku tak yakin kalau Zeiko masih hidup. Dia telah setahun menghilang di gunung sana." Kaito memandangi foto sepupunya yang berambut hitam dan bermata merah darah.
"Memang Zeiko itu suka mendaki ya'?" tanya Rin penasaran sambil memeriksa sebuah laptop berwana pink dengan gambar H***o K***y dimana-mana.
"Kai, Ran, kalau mau memecahkan petunjuk jangan di tengah jalan dong." ucapku sambil menepuk bahu Kaito dan Rin.
Kaito dan Rin berbalik dan melihat pejalan kaki yang perjalannya terhambat karena ulah mereka, "Sumimasen." Kaito dan Rin membungkukkan badan dan menyingkir dari jalan.
"Kenapa kau baru bilang waktu jalannya sudah tersendat sih?" tanya Rin, kedua pipinya menggembung.
"Kalian yang keasyikan ngobrol." jawabku polos. Aku membaca diary aneh milik Gumi. Kaito dan Rin asyik ngobrolin Zeiko lagi.
"Minna, sepertinya Gumi menuliskan sesuatu tentang warna." ucapku sambil melingkari beberapa kanji dan katakana yang disengaja di bentuk bersatu.
"Apa menurutmu dia ingin merasakan kembali rasanya menjadi anak TK lalu dia menuliskan huruf-huruf kanji dan katakana dengan berantakan seperti anak TK?" tanya Kaito.
"Jelas bukanlah bodoh. Gumi itu kakak kelas kita di sekolah, dia kakaknya Gumiya." jawabku sambil menjitak kepala belakang Kaito, "Dia menuliskan kode."
.
.
.
-To Be Continued-
.
.
.
Author Line :
Rin : Akhirnya si BakArisa ini update juga. Setelah 3 kali coretpuasacoret maksudnya satu bulan nggak update kira-kira kita apain si BakArisa ini?! #senyumyanderealafeargarden#
Len : Kita suruh dia jongkok di tengah dan kita main Kagome-Kagome sampe dia mati!
Author : Gue nggak bakal hidup lagi dong. Ampun deh ampun. Hape Valen kesayangan aku sempet digadaikan -maksednya disita sepanjang ujian semester 5 ini berlangsung. Dan untungnya nilai mata pelajaran yang di-UN'kan bagus-bagus semua dan Valen-kun dikembalikan *curcol*. Yah, mungkin kalau nanti fic ini rada lama update mungkin Valen-kun disita lagi. Pokoknya project sampai Tahun Baru ini, The Mysterious Accident kudu + wajib selesai. Doa'in gue ya, minna!
.
.
.
Review Line :
For ;
Michi nichi-chi : Ano... perasaan yang dagang mayat Len sama Rin deh atau mungkin saya salah ketik?
Arigatou, buat semangatnya.
Yokatta, nilai saya udah bagus semua.
Gomen lama update. Udah update lagi. Arigatou...
Lacie Helra-chan :
Serem bangetkah? *mewek* Saya pikir kurang serem. Len POV-nya udah diperbanyak. Semoga memuaskan! Beberapa slide Len sama Rin udah ditambahin.
Gomen update lama. Udah diupdate lagi. Arigatou.
Yami no Ryou :
Iya, Luka dilindes RR sableng.
Gomen update lama. Arigatou. Udah diupdate lagi nih! :)
AliyaPutrialliya :
Arigatou. Gomen updatenya kelamaan -secara sebulan gitu-
Yami Nova :
Ano, bagian mana Rin jadi hentai seperti saya. Mungkin karena lama update sampe lupa.
Gomen update lama. Arigatou. Udah update ;)
Shiroi no Hikari :
Hehe, mungkin karena pengalaman sendiri yang bisa melawak -dan berakhir dijitak oleh tomodachi author- disaat ngerjain tugas yang serius.
Arigatou. Gomen lama update.
And for all :
Arigatou.
.
.
.
A/N : Saya mengharapkan lebih banyak lagi review/fav/follownya. Saya menerima flame yang bermakna, tentunya. Akhir kata...
Mind to Review?
Don't be silent readers. Semakin banyak review semakin semangat saya melanjutkan fic ini.
-Shintaro Arisa-chan-
