Mysterious Accident

.

.

.

Warning : AU, Typo(s) bertebaran, GaJe, OOC, Humor jelek nyempil disana-sini, alur muter-muter, kejadian yang tidak masuk akal, bloody scene.

Disclaimer :

Vocaloid bukan punya saya melainkan punya Yamaha Corp and Crypton Future Media. Mysterious Accident, tentunya, punya saya.

Summary : Kecelakaan? Itu hal yang biasa tapi jika dihubungkan dengan sesuatu yang diluar nalar manusia.. Apa jadinya?

Don't Like Don't Read

..

.

(Len POV)

.

.

Aku memeriksa diary milik Gumi sambil mencoba memahami kanji-kanji tak sempurna dan beberapa anagram yang ada dalam tulisannya. Aku sadar akan sesuatu. Aku bahkan belum memberitahukannya pada Rin ataupun yang lainnya. Kuharap barang-barang itu masih ada di sakuku (untungnya, aku belum ganti baju sejak aku mulai bekerja di rumah si Luka).

Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan sebuah plastik dengan zip lock untuk pengamannya.

"Minna, aku menemukan ini saat membersihkan kamar Luka dan kertas-kertas ini saat membersihkan gudang tunanya, kalau nggak salah." ucapku pada Rin dan Kaito.

"Kenapa kau baru memberitahukannya sekarang?" tanya Kaito sambil menyambar plastik berisi diary bertuliskan DEATH pada sampulnya dari tanganku. "Ini bisa jadi pertunjuk yang penting jika kau memberitahukannya dari kemarin."

"Heh, kenapa kau jadi marah begitu? Kau pikir kau tidak tahu apa penyakitku?!" aku merampas balik plastik tersebut.

"Kenapa kau tiba-tiba nyolot begitu?! Kau mau berantem?! Ayo!" kedua tangan Kaito sudah terkepal, siap untuk meninju.

"Lo yang nyolot, BaKaito?! Ini cuma diary! Emang apa yang bisa lo lakuin dengan diary ini? Lo pikir, lo bisa paham isi diary ini? Lo tuh cuma bisa maling data lewat laptop lo dan nggak bisa melakukan apa-apa dengan mayat!" aku menarik kerah baju Kaito.

"Oh... jadi lo pikir, lo udah jago dengan ingatan lo yang mudah ilang itu?! Mentang-mentang kemampuan autopsi lo lebih jago dikit dari gue, lo merasa, lo lebih hebat dari gue?!" Kaito menghantamkan kepalanya pada kepalaku.

"Kalian apa-apaan sih? Jangan menarik perhatian, bego!" teriak Rin. "Kalian dengar, nggak?"

"URUSAI!" balasku dan Kaito kompak.

Alis Rin berkedut dan Rin langsung menarik kunciran rambutku dan syal Kaito lalu menghantamkan kepala kami ke tembok gedung.

"Kalian! Sadar dong, keberadaan kita ini terancam. Jika keberadaan kita disadari oleh masyarakat, bisa-bisa gerakan-gerakan kita untuk memecahkan kasus ini langsung di ambil oleh kepolisian pusat!" Rin memarahi kami.

Rin benar, kami sering bertingkah seperti ini sampai-sampai kasus yang tangani langsung diambil alih oleh kepolisian pusat.

Rin melepas pegangannya pada kunciranku. "Ayo, kita cari tempat persembunyian dan mulai mencari tahu tentang kedua diary, kertas dan rambut ini!" seru Rin. Aku dan Kaito langsung mengikuti Rin.

"Matte o, Ran-chan. Itu rambut siapa?" tanya Kaito. Kaito menyebut Rin dengan nama palsunya.

"Wakaranai. Aku menemukannya saat mencuci." jawab Rin sambil memasuki sebuah cafe dengan nuansa gothic.

"Hei, Rin. Kau mau menyelidiki benda itu di café ini?" bisikku. Dia mengangguk.

"Kau tidak tahu apa dan siapa yang ada di balik bar café ini," balasnya berbisik. Aku menaikkan sebelah alisku.

Kaito yang ada dibelakangku pun ikutan bingung. "Hoi.. Ren. Apa yang akan kita lakukan disini?"

"Mending tanyain Ran, deh." jawabku.

"MEIKO-SENSEI!" teriak Rin dengan suara ultrasonik.

"What the-" umpatku dan Kaito kompak karena kekuatan suara Rin.

"Rin, apa kau serius berteriak memanggil guru killer di tempat beginian?" bisikku. "Lihat saja nanti." jawab Rin.

Dari balik sebuah pintu di samping bar, keluar seorang wanita berambut coklat pendek dengan baju hitam-hitam.

"Oi, oi, Rin-chan, kalau mau panggil aku, jangan teriak-teriak dong!" tegur Meiko-sensei. "Dan kenapa kau bawa si Shota-kun dan BaKaito?"

"Sensei... teganya sensei menyebutku dengan panggilan Shota-kun." desisku.

Kaito? Dia justru mengupil seolah tak panggil. Aku memandang Kaito. "Nani? Apa aku melakukan kesalahan?"

"Bego! Harga diri lu diinjek-injek sama guru sendiri, masa' lu terima begitu aja?!" seruku.

"Hah? Memangnya apa yang dibilang sama Meiko-sensei?"

"BaKaito." jawabku dengan penuh penekanan.

"Oh, itu sih udah biasa. Kirain Meiko-sensei memanggilku dengan sebutan absurd lainnya." ucap Kaito kalem.

"Sudahlah, minna. Ayo masuk kupinjamkan laboratoriumku," ajak Meiko-sensei. "Oh ya, kalian mau minum apa?"

Kami bertiga nyegir. Kami bahkan baru tahu kalau Meiko-sensei bisa sebaik ini. Kukira dia tak bisa baik karena dia udah nggak punya lagi sama yang namanya rasa ke-ma-nu-sia-an.

"Beneran, sensei?" tanya Rin memastikan.

"Hn." jawab Meiko-sensei.

"Aku jus jeruk, Len jus pisang, dan BaKaito ice cream. Bener nggak?" tanya Rin padaku dan Kaito. Aku dan Kaito kompak.

"Masuklah duluan. Rin sudah tahu jalan masuknya. Oh ya, dimana Micchan dan BaKamui?"

"Kita berpencar, sensei," jawab Rin. "Kami masuk ya!"

"Ha'i"

Aku dan Kaito mengikuti Rin untuk masuk ke dalam laboratorium rahasia Meiko-sensei.

Terowongan yang menghubungkan bar dengan laboratorium rahasia Meiko-sensei tingginya kurang lebih 150 cm. Aku dan Rin hanya perlu menundukkan kepala namun malang nasib si BaKaito. Dia perlu membungkukkan badan karena tingginya lebih dari 170 cm dan berjalan perlahan supaya kepalanya nggak menyundul pantatku (Ini pertama kalinya aku bersyukur memiliki badan yang nggak tinggi-tinggi amat (author : Alah, bilang aja pendek! #dihantam)).

"Chikuso, BaKaito! Ini sudah kelima kalinya kau menyundul pantatku!" ucapku kesal karena sekarang pantatku terasa nyut-nyutan(?).

"Makanya jalannya jangan kayak keongnya Putri Solo! Lemot amat!" balasnya. Jawabannya itu... super banget.

"Lu jalannya lama dikit 'napa?!"

"Kalo jalannya lama, makan waktu, baka!" Kaito menendang pantatku.

"KYYAAA!" teriak Rin dan BRUK! aku jatuh menimpa Rin (jangan mikir yang aneh-aneh!).

"Kalian ngapain sih?!" tanya Rin marah sambil bangkit berdiri. Dia tidak sadar bahwa aku ada diatas punggungnya dan..

BRUK! Kepalaku menghantam langit-langit terowongan dengan keras.

"I-ittai." aku mengelus kepalaku.

"Len, kenapa kamu bisa ngebentur langir-langit?" tanya Rin polos.

"Kamu-" ucapanku terpotong karena Kaito menyundul pantatku. "BaKaito... kau jalan di depan! Kau-"

"Si BaKaito itu jangan sampai jalan di belakang pantatku atau dia akan sengaja pura-pura terdorong dan memegang pantat seksiku!" potong Rin lebay.

"Awas, awas, orang hentai mau lewat!" cemooh Kaito pada ... dirinya sendiri?

"Silahkan, Ouji-sama." cemoohku sambil menundukkan badan dan menaruh tangan kananku di dada kiri, mirip-mirip sama Sebastian Michaelis dari fandom sebelahlah (author : author adalah korban butler fandom sebelah.)

Kaito menegakkan punggungnya dan membuat lututnya tertekuk.

"Alah, lebay amat sih!" Rin menarik tangan Kaito dan mendorongnya untuk jalan di depan.

Semenjak ada dirimu dunia terasa indahnya~ Semenjak kau..

.

.

.

Salah narasi woy! Lagian itu lagu siapa sih? (author : aku lupa siapa penyanyinya sama judul lagunya. Kalau ada readers yang tau, tolong dijawab ya! #nggakmaksa)

.

.

.

Semenjak si BaKaito berjalan di paling depan, baik aku maupun Rin aman. Pantatku nggak tiap 2 detik sekali disundul dan Rin nggak teriak-teriak lagi karena memarahi kami berdua.

"Stop, BaKaito!" kata Rin sambil membuka sebuah pintu berwarna putih.

"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Meiko-sensei menyambut kami.

"Whoaa.. Sugoii.." ucapku terkagum-kagum karena besarnya laboratorium rahasia milik Meiko-sensei sambil masuk kedalam lab bersamaan dengan Kaito.

Meiko-sensei tersenyum simpul (pertama kalinya, menn). Meiko-sensei membagikan kami sebuah jas lab berwarna putih.

"Bagaimana caranya Meiko-sensei punya lab sebesar ini?" tanya Kaito sambil memakai jas lab yang diberikan Meiko-sensei.

"Ini punya ayahku," jawab Meiko-sensei sambil memandang meja berisi tabung reaksi dan kawan-kawannya yang berjejer. "ayahku mewariskan laboratorium ini padaku dan ingin supaya banyak orang yang memakai laboratorium ini."

"Lalu, dimana ayah Meiko-sensei sekarang?" tanya Kaito lagi.

Tiba-tiba raut wajah Meiko-sensei berubah sedih. Aku menyikut Kaito.

"Ayahku sudah meninggal." jawab Meiko-sensei sedih.

"Gomenasai, Meiko-sensei. Kaito pasti cuma penasaran. Maklum dia'kan bodoh.. Ha-ha-ha.." Rin menarik poni Kaito supaya Kaito membungkukkan badannya 90 derajat, tanda permohonan maaf yang mendalam. Rin ketawa maksa.

"Minta maaf sono..." aku berbisik pada Kaito sambil membungkukkan badan.

"Gomenasai, Meiko-sensei." ujar Kaito meminta maaf.

"Daijoubu yo~" Meiko-sensei menepuk bahu kami bertiga, menyuruh kami untuk berdiri tegak kembali. "Aku senang kalau ternyata anak-anak muridku masih sopan dan pandai seperti kalian."

"E-eh? Meiko-sensei muji kami berlima nih?" tanya Rin malu-malu.

"Yah, kira-kira seperti itulah," Meiko-sensei mengambil sesuatu di lacinya. "Jadi, barang apa yang akan kalian teliti?" Meiko-sensei berubah serius. Mode normalnya di kelas sudah diaktifkan kembali secara otomatis.

Rin mengeluarkan plastik zip lock berisi barang yang mungkin berisi petunjuk. "Ini yang akan kami teliti. Tapi demi privasi-"

"Tenang saja, Rin-chan. Aku masih bagian dari kepolisian. Jadi, aku berjanji apapun hasil dari penelitian ini akan tetap aku rahasiakan."

"Baiklah, kalau begitu.." kata Rin, "Benda-benda ini kami temukan di lokasi yang berbeda-beda. Ini dirumah tersangka Gumi, ini dan rambut itu di rumah tersangka Luka."

"Chotto matte. Gumi jadi tersangka? Maksudku Megpoid Gumi kembarannya Gumiya-kun 'kan? Kenapa bisa?" tanya Meiko-sensei bertubi-tubi. "Gumi-chan 'kan anak pinter dan pandai bergaul, kenapa dia bisa jadi tersangka?"

"Begini, Meiko-sensei." kini Kaito yang angkat bicara. "Megpoid Gumi adalah salah satu anggota club occult sekolah. Klub occult Vocasora adalah markasnya hampir seluruh anggota occult di Crypton. Sekolah tidak mengetahui hal ini dan yang mengetahui hal ini hanya 'orang-orang yang kerap bolos saat jam pelajaran'. Kami disuruh tutup mulut soal hal ini."

"Sekolah benar-benar tidak mengetahui hal ini?" Meiko-sensei mengulang kembali pernyataan Kaito dengan nada bertanya.

"Semua guru tahu dan mereka juga disuruh tutup mulut." sambung Rin.

"Lalu hal apa saja yang dilakukan club occult di sekolah kita?"

"Entahlah. Waktu itu, aku ingin mencuri-maksudku-memakai wi-fi di sekolah. Lalu, OSIS menyuruhku untuk tidak naik ke atap. Dan ternyata club occult disana sedang mengadakan rapat, suasana disana... menyeramkan.." jawab Kaito.

"Ini rumit.." gumam Meiko-sensei sambil mengigit bibir bawahnya.

"Untuk itulah kami akan menyelidiki dua buku harian ini dan DNA yang ada di rambut ini." Rin membuka zip lock plastik tersebut. Rin mengeluarkan buku harian milik Luka dan mulai membacanya diary tersebut.

Aku mengambil kembali diary Gumi sambil meminum jus pisang yang disediakan Meiko-sensei. Rin tak jauh beda denganku. Sementara itu, Kaito dan Meiko-sensei sibuk meneliti rambut itu.

SRRUUTT! Rin menyemburkan jus jeruk yang baru diteguknya ke dalam tempat sampah.

"Doushita no, Rin?" tanyaku.

"Lu-Luka.. Luka mind controller! Dia dapat ilmu dari Haku saat kelas 1 SMA!" jawab Rin cepat. "Luka menulis disini. Katanya, Haku pernah ngajar di Vocasora dan dia mempengaruhi kepala sekolah dengan kemampuan mind controller-nya supaya tutup mulut mengenai klub occult."

Rin menunjukkan tulisan Luka di buku diary-nya. "Jadi, apa yang akan kita lakukan?"

"Siapa Haku yang kalian maksud?" tanya Meiko-sensei memandangku, Rin, dan Kaito bergantian.

"Yowane Haku." jawab kami bertiga kompak.

Wajah Meiko-sensei berubah kaget. "Tidak mungkin! Dia adalah pengajar terbaik yang pernah didapatkan Vocasora!". Meiko-sensei mengurut keningnya.

Aku menatap jam tanganku. Aku mengingat ucapan Mitsu-san. Aku buru-buru mencopot jam tangan tersebut dan memutar pengatur waktunya.

"Berapa akar pangkat seratus empat puluh empat ditambah seratus dibagi dua puluh?" tanyaku pada Rin.

"Eh?"

"Apa maksudnya, Len?"

"Itu soal ujian semester depan, bukan?"

Meiko-sensei, Rin, dan Len bertanya kompak.

"Buruan! Berapa hasilnya?!" tanyaku.. memaksa?

"Akar 144 'kan 12. 100 dibagi 20 sama dengan 50. Berarti-" Rin belum beres berhitung langsung berhenti karena aku memotong ucapannya.

"Jam 12 lebih 50 menit! Arigatou, Rin-chan!" aku langsung mengatur waktu jam tangan dan..

KLAK! Penutup mesin jam tangan(?) langsung terbuka. Aku mengambil memory card tersebut.

"Meiko-sensei punya kabel data atau card reader nggak?" tanyaku lagi.

"Kalau kabel data sih ada." jawab Meiko-sensei sambil membuka lacinya dan mengambil sebuah kabel data berwarna putih.

"Kupinjam dulu ya, sensei!"

"Ya! Komputernya di sebelah sana." Meiko-sensei menunjuk sebuah komputer dengan monitor LED dan wireless keyboard (wuih, canggih banget!).

"Ha'i!"

Aku mengeluarkan ponsel flip-flop kuningku dan mengeluarkan card memory berisi video-video anime beberapa musim dan memasukkan card memory dari jam tanganku. Aku mencolokkan port kecil ke ponsel dan mencolok port yang satunya lagi ke USB port yang ada di CPU kompoter.

Sambungkan mobile dengan PC lewat USB?

[Ya] [Tidak]

Aku menekan tombol pilihan kiri dan muncul sebuah gambar port USB di layar ponselku. Aku mencari data yang ada di ponselku. Aku menemukan icon kartu hitam dengan garis-garis kuning dan tulisan (Storage Card). Aku meng-klik icon tersebut dan menemukan sebuah folder bernama Record. Aku mengklik folder tersebut dan setelah beberapa loading (yang kira-kira membuang waktu sebanyak 6 detik), muncul ratusan, coret, mungkin ribuan video. Aku men-scroll down menggunakan mouse dengan cepat dan mengklik sebuah video dengan nama KAGAMINE-LEN-STALK_001.mkv. Aku melakukan double kick-maksudnya- double klik supaya video tersebut dapat diputar.

"Hoi, Len.. Nonton apaan?" tanya Rin sambil menarik kursi di sebelahku. Dia masih membaca diary Luka dan Gumi secara bersamaan.

"Rekaman waktu kita kerja di rumah Luka." jawabku sambil memakai headphone.

"Len..." suara Rin masih bisa terdengar olehku yang memakai headphone ini.

"Hn?"

"Mereka siapa?" Rin memencet tombol space pada keyboard lalu menunjuk sekerumunan orang dengan jubah dan tudung kepala hitam yang berdiri mengelilingi Luka.

"Nggak tahu," jawabku sambil menggaruk belakang telingaku yang tiba-tiba gatal. "Waktu itu aku lagi bersih-bersih. Aku nggak sadar kalau jam tangannya aktif. Selama bersih-bersih di perpustakaan si Luka ngomong sendiri. Kupikir dia rada-rada tapi.. kenapa aku nggak tahu kalau ada ada orang-orang ini di belakang Luka?!"

"Kau benar-benar nggak lihat?" tanya Rin memastikan.

"Serius malah duarius! Beneran aku nggak ada lihat!" aku menacungkan jari telunjuk dan jari tengahku.

"Soalnya..." Rin menyodorkan buku diary Luka dan Gumi pada sebuah halaman. "Mereka menuliskan kawanan mereka disini."

-Shiroi no Musume

-Kanojo wa Yoyo

-Nekomimi Gaaru

-Pinku Maguro

-Magenta Cherry

-Orenji Carrot

-Gure

"Mereka menginisialkan nama-nama anggota mereka?" aku menatap buku milik Luka.

"Yah.. sepertinya begitu.." jawab Rin.

"Minna, hasilnya keluar!" teriak Kaito sambil mengacungkan sebuah kertas. Aku dan Rin ikut nimbrung melihat isi kertas itu.

"Jadi, ini rambut..." Rin memberikan jeda pada kalimatnya sambil membaca ulang kertas berwarna putih dengan tabel-tabel dan grafik garis di seluruh permukaan kertas, "Gumi?"

"Yap." jawab Kaito sambil menjentikkan jarinya.

"Dan ini tulisan Gumi diakhir halaman diarynya," ucap Rin lalu berdehem. "Aku mengabdi pada Kami-sama. Semoga nyawaku bisa diterima Kami-sama. Aku telah menyerahkan potongan rambutku pada Kami-sama supaya dengan nyawaku dan rambutku aku bisa menerima pelajarannya-"

Rin tiba-tiba menghentikan bacaannya.

"Terus kelanjutannya apa?" tanyaku.

"Halaman berikutnya, Gumi menuliskan catatannya dengan bahasa Latin," jawab Rin. "Sebentar buka G**gle Translate dulu."

Rin mengetik pada ponsel touch screen-nya dengan kecepatan dewa. Seingatku, dia pernah ikut lomba 'Type 1000 Word on 2 Minute with your Touch Screen Phone!' dan dia menjadi juara 5. Dia mengalami typos dan miss typo padahal dia mengetik 1.252 kata. Entah apa saja yang diketiknya tapi saat muncul print out hasil ketikan Rin, aku terkejut. Ketikannya mirip dengan novel bersambung anak-anak ababil. Tunggu. Kenapa jadi ngomongin kecepatan jari dewanya Rin? Salahkan si BakArisa yang waktu ngetik fanfiksi ini mabok jagung bakar!

.

Back to the story.

.

.

"Ehem," Rin berdehem kembali meminta perhatianku dan Kaito lagi. "Disini Gumi menulis, Contentus ero mihi luridum commotis significans pendent valete anagramma mihi morten occulta historia mi moro. Accepta tibi ago Mrs Suspendisse meum in regnum ætérnum. Gumi. Yang artinya, Tuan Besar menyuruh saya untuk menggantung diri saya dengan tali berwarna kuning yang menandakan perpisahan dan menyuruh saya menuliskan riwayat kematian saya dengan anagram pada tembok tersembunyi. Nyonya Putih, saya ucapkan terima kasih karena telah menerima saya pada kerajaan abadimu. Gumi."

Aku kicep. Bukan, bukan dengan penjelasan sebanyak 68 kata yang dibacakan secara cepat oleh Rin tapi karena pelafalan Rin saat mengucapkan kata-kata dalam bahasa Latin itu. Pengucapan katanya tidak berantakan namun rapi dengan intonasi dan artikulasi khas orang Latin. Seolah dia sudah pernah menjadi warga negara dengan bahasa Latin. Dialek Jepangnya mendadak hilang ketika membaca kalimat Latin itu.

"Rin-chan," aku menaruh tanganku di bahu Rin. "Sejak kapan kau bisa bahasa Latin?"

"Aku belajar dengan ayahku yang fasih bahasa Latin. Jadi, detektif itu harus pandai segala bahasa Len.." Rin menasehatiku sambil menepuk bahuku dan tersenyum mengejek. Kampret!

"Aku nggak minta nasehatmu, Rin," aku melepas headphone dari telingaku dan melihat Kaito mencoret-coret diary Luka dan Gumi (yang diambil paksa dari Rin). "BaKaito, jangan coret-coret petunjuk!"

"Aku cuma menandai beberapa clue, Len." jawab Kaito kalem.

"Clue?" ulang Rin.

"Yap. Si Tuan Besar, Nyonya Putih, Kami-sama, Kerajaan Abadi, ini merujuk pada seorang ketua dan sebuah tempat atau kegiatan," Kaito menjelaskan dengan mata masih terpaku dengan diary itu. "Di catatan terakhir yang Rin terjemahkan barusan terjadi perubahan subjek. Pertama, Gumi menuliskan kata Tuan Besar untuk orang yang dimaksud. Dua, di akhir kalimat Gumi menuliskan kata 'Nyonya Putih' untuk orang yang dimaksudnya. Yang ketiga, di catatan-catatan sebelum dua halaman terakhir, Gumi menuliskan kata 'Kami-sama' untuk orang yang dimaksud. Lalu pada diary Luka, ada istilah 'Shiroi no Musume' untuk menginisialkan nama anggota mereka. Bisa dipastikan orang yang disebut 'Tuan Besar', 'Nyonya Putih', 'Kami-sama', dan 'Shiroi no Musume' ini merupakan pemimpin dari Luka, Gumi, Iroha, Zeiko, Miki."

"Jadi, menurutmu siapa ketuanya?" Rin bertanya dengan sorot mata tajam detektifnya. Sorot mata itu mengartikan bahwa Rin setuju dengan hipotesis (dadakan) Kaito.

Kaito mengeluarkan 6 foto ukuran 15 x 10 cm dari saku celananya lalu menyebarnya. "Yowane Haku." Jari telunjuknya mengarah pada foto Haku saat ditahan.

"Satu-satunya mind controller yang berhasil mengontrol seluruh pihak kepolisian dan pengadilan untuk membebaskannya dari segala tuntutan dan merubah status dirinya dari tersangka menjadi korban." lanjut Kaito.

"Dia anggota Perserikatan Penyihir yang memiliki status sebagai Perekrut Penyihir Baru dari semua anggota occult sekolah," sambung Meiko-sensei. "Aku menjebol situs mereka." Dan ternyata Meiko-sensei adalah hacker yang selevel dengan Kaito.

"Jadi, sekarang..." Rin menjeda kalimatnya, menatapku dan Kaito bergantian.

"Ayo cari anagramnya!" tukasku.

"Jadi, kalian mau pergi?" Meiko-sensei melepas jasnya sambil memandang kami. Bola mata coklat Meiko-sensei seakan mengisyaratkan bahwa kami tak boleh pergi.

"Kami harus pergi, sensei. Kami janji, kami akan masuk sekolah minggu depan!" Kaito menjawab sambil mengumpulkan jas kami bertiga dan memberikannya pada Meiko-sensei.

"Bukan itu masalahnya.." Meiko-sensei terlihat sedih. Seakan-akan kami bertiga adalah anak kandungnya dan dia tidak rela kami masuk ke dalam api bahaya. "Demo... Ganbatte yo~!"

Meiko-sensei mengepal tangannya lalu meninju ke langit. "Kalian harus berhasil Kalian harus mengalahkan orang yang menantang kalian! Kalian harus menghentikan jatuh korban!"

"Pastinya, sensei!" jawab kami kompak. Kami keluar dari laboratorium dan berlari. Lupakan sakitnya pantatku ketika disundul kepala Kaito! Kami akan memecahkan kasus ini! Orang yang mempermainkan kami akan berakhir secepatnya.

.

.

.

(Miku POV)

.

.

Aku bingung ingin melakukan apa. Aku tak sepandai Rin-chan, Len-kun, dan Kaito-kun. Aku juga tak bisa mencari informasi banyak dengan menyamar seperti Gakupo-kun. Keahlianku hanyalah menggunakan senjata.

"Apa yang harus kulakukan ya?" aku bertanya pada diri sendiri. Semenjak aku berpisah dengan Rin, Len, Kaito, dan Gakupo, aku hanya berputar-putar di sekeliling taman.

Seorang anak laki-laki berambut mirip dengan Gumi melintas di depanku.

"Ah, aku tahu! Aku akan menyelidiki rumah Gumiya-kun!" teriakku. Anak kecil itu memandangiku dengan tatapan 'Kenapa, Nee-chan? Stress?'. Aku berlari ke pemberhentian bis dan menunggu datangnya bis yang akan melewati jalan ke rumah Gumiya.

(Skip Time. Time : 10.00

Place : Gumiya's House)

.

.

.

Sesampainya di rumah Gumiya-kun, aku memencet bel rumahnya. Sekali, tak dibuka. Dua kali, belum dibuka. Tiga kali, masih belum dibuka. Empat kali, masih belum dibuka lagi. Oke, karena memencet bel rumah orang lebih dari tiga kali dianggap tak sopan dan kalimat keempat itu sudah tak efektif lagi, maka aku mengambil tindakan untuk mengetuk pintunya.

"Gumiya-kun~" aku memanggil nama sang pemilik rumah sambil mengetuk pintu. "Gu-mi-ya-kun~"

Masih tidak dibuka. Oke, katakanlah si Wortel Ijo masih tidur seperti kebo tapi.. suara kegaduhan yang kulakukan untuk membangunkan Gumiya udah kelewat berisik.

"Ano, Hatsune-san?" suara Gumiya terdengar di belakangku. Gumiya membawa kantung belanjaan di tangan kirinya dan kantong plastik bening yang isi wortel. "Doushita no?"

"Eh, Gumiya-kun.." aku salah tingkah. "Gomen ne, karena tidak sopan."

"Daijoubu yo, Hatsune-san," Gumiya-kun tersenyum padaku. "Jadi, ada apa, Hatsune-san?"

"Panggil aku Miku saja, Gumiya-kun," aku meminta Gumiya-kun untuk memanggil nama kecilku. "Ini mengenai Gumi-chan. Aku turut berduka cita atas perginya Gumi-chan. Pasti ini berat untukmu, Gumiya-kun."

"Aku telah merelakannya pergi. Meskipun aku masih bingung kenapa dia bisa bunuh diri. Aku tak pernah menekannya," jelas Gumiya-kun sambil membuka pintu dan mengisyaratkanku untuk masuk. "Aku akan bercerita di dalam. Kau mau minum apa?"

"Terserah Gumiya-kun aja deh.."

"Ya sudah. Tunggu aku di ruang tamu."

"Ha'i, ha'i."

Aku duduk diatas sofa empuk berwarna hijau cerah di rumah Gumiya-kun. Beberapa lama kemudian, Gumiya-kun kembali dengan baki berisi dua cangkir teh.

"Silahkan, Hat-maksudku-Miku-san." Gumiya-kun meletakkan dua cangkir teh itu diatas meja.

Setelah hening beberapa lama dan Gumiya-kun sudah menyesap setengah cangkir tehnya, akhirnya dia menatapku, serius.

"Aku akan mulai bercerita." Gumiya-kun mengambil sesuatu di bawah meja.

Itu sebuah album foto. Gumiya-kun membuka halaman dimana foto tersebut adalah foto sekumpulan orang dengan jubah hitam.

"Siapa mereka?" tanyaku sambil menyingkarkan cangkir teh.

"Mereka adalah teman-teman Gumi-chan. Mereka..." Gumiya-kun menjeda kalimatnya. "Perserikatan Penyihir."

Aku terperanjat sedikit. "Me-me-mereka Perserikatan Penyihir? Darimana kau mendapatkan foto mereka?"

"Ini album foto yang disembunyikan Gumi-chan di kolong kasurnya. Aku menemukannya sebelum polisi menggeledah kamar Gumi-chan," Gumiya-kun menutup album foto itu sambil mendengus pelan. "Aku akan menyerahkan kasus ini pada kalian, Vocasky."

Aku nyaris menyemburkan teh yang baru kuteguk. "Darimana kau tahu?"

"Kalian ditantang oleh orang misterius'kan? Rekaman orang misterius dan jawaban kalian disiarkan sama Shiro TV," Gumiya-kun tersenyum padaku. "Mau'kan? Aku tidak tahu alasan Gumi-chan bunuh diri dan aku ingin mengetahui hal itu."

"Baiklah, akan kulakukan. Tapi ada syaratnya..." aku meletakkan cangkir tehku pada tatakannya. "Izinkan aku menggeledah kamar Gumi."

"Tentunya, detektif."

.

.

.

Aku diantar ke kamar Gumi oleh Gumiya-kun.

"Ini kamarnya. Silahkan, detektif." Gumiya-kun membuka pintu dengan hiasan wortel sambil menaikkan sebelah alisnya.

Aku masuk ke dalam kamar Gumi. Kamarnya (mungkin) masih belum dibereskan karena masih berantakan. Di dinding sebelah kiriku ada sebuah cermin raksasa. Aku menyentuhnya.

'Ini asli tapi untuk apa Gumi memasangkan kaca segede gini? Senarsis apa sih dia?' pikirku.

Aku bergerak menuju meja belajar. Aku membongkar laci-laci dan menemukan sebuah plastik zip lock dengan rambut berwarna hijau dan dua buah diary dengan sampul berbeda. Aku memakai sarung tanganku dan membuka plastik zip lock-nya.

"Eits, apa ini?" aku mengangkat tinggi-tinggi plastik itu dan melihat tulisan kanji-hiragana acak-acakan. "Kiiroine Rin, Kagamine Len, Si Ganteng Shion Kaito? Eh, kenapa ini ada disini?"

Aku ingat satu-satunya manusia dengan tulisan butut dan selalu menambahkan klausa 'Si Ganteng' atau 'Kakkoi' pada namanya adalah si Kaito, maniak es yang entah bagaimana caranya bisa bodoh dan pintar di saat yang bersamaan. Aku mengeluarkan diary-diary itu dan rambutnya. Ditengah-tengah diary dengan sampul DEATH itu ada selembar kertas putih. Aku membuka lipatan kertas itu yang ternyata isinya adalah hasil tes rambut hijau itu.

'Tolong bantu aku...' aku mendengar sebuah suara. Suara itu terdengar menyakitkan dan menyeramkan. 'Tolong selesaikan permasalahan ini, Hatsune-san.'

"Dare ga?" aku memandang sekeliling, Gumiya-kun menatapku heran.

'Tolong bantu aku. Pecahkan anagramnya. Cari di antara titik fokus dan bayangan. Tolong temukan aku. Tolong keluarkan aku dari kerajaan Kami-sama. Aku menderita disini, Hatsune-san.' suara itu terdengar kembali. Apa maksudnya ini? Aku sadar, suara ini berasal dari dalam kepalaku. Apa sekarang aku punya indera keenam seperti Mitsu-san dan siapa yang mengaudiokan suara dari dalam kepalaku. Aku tahu itu bukanlah suaraku (author : Ya iyalah!)

Apa mungkin sambungan telepati?

"Mi-Miku-san?" Gumiya-kun bertanya sambil menepuk pundakku. "Daijoubu ka?"

"Ha-Hai," jawabku kaget. "Etto.. Gumiya-kun, boleh kutanyakan sesuatu? Tentang kaca ini?"

Gumiya-kun memandang kaca cermin di hadapan kami lalu dia menggeleng.

"Kau tak mengetahui apapun tentang kaca ini?" tanyaku memastikan. Dia menggeleng. "Waktu itu Gumi-chan meminta orang tua kami untuk membelikannya cermin sebesar tembok kamarnya. Kejadian itu sekitar seminggu yang lalu dan orang-orang yang dipekerjakan Tou-san untuk memasang cermin itu mendadak pucat sesaat setelah memasang cermin di kamar Gumi-chan."

BIIIP...BIIP.. BIP...

Ponsel berbunyi, menandakan sebuah panggilan darurat. Oh ya, ini adalah setting khusus yang ditanamkan pada ponselku. Dan yang membuat ini adalah Kaito, Rin, dan Len.

Aku mengangkat panggilan darurat tersebut. "Moshimoshi?"

"MIKU, RIN, LEN, BAKAITO, KALIAN DENGAR AKU?" teriak Gakupo dari seberang sana.

"Berisik, BaKamui! Jangan tereak-tereak 'napa? Lu sukses bikin telinga kanan gue tuli mendadak!" protes Kaito.

"Terserah, BaKaito! Tapi yang jelas aku ingin menginformasikan sesuatu. Penting. Untuk itu tolong beritahu aku dimana lokasi kalian!" jawab Gakupo.

"Aku, Rin, BaKaito ada di dalam taxi di perempatan sebelum Crypton City. Kammi mau kerumah Gumiya." kini Len yang menjawab.

"Aku ada di rumah Gumiya-kun, tepatnya di kamar mendiang Gumi." aku menjawab sambil berbisik, takut jawabanku terdengar oleh Gumiya-kun yang mungkin ada di sebelah kamar ini.

"Kau ada dirumah Gumi-" ucapan Kaito terpotong oleh suara teriakan menggeleggar ala artis sinden yang ada di Indonesia. "JANGAN MENGGANGGU LAPORAN!" Dan teriakan Gakupo sukses membuat speakerphone pecah-bercanda.

"Jadi, ada apaan? Buruan! Mumpun kami lagi di lampu merah." suara Rin akhirnya terdenga juga.

"Miku coba kau nyalakan televisi yang ada di rumah Gumiya! Hayaku!" perintah Gakupo.

"Ha'i!" aku berlari keluar dari kamar dan tak sengaja menabrak Gumiya-kun yang mau masuk ke dalam kamar Gumi.

"Gumiya-kun, boleh kupinjam televisi di kamar ini?!" ucapku terburu-buru.

"Tentu. Silahkan." jawab Gumiya-kun sambil menggaruk kepala belakangnya. Aku menyalakan televisi yang ada di kamar Gumi dan suara bising langsung terdengar.

"Aku harus pilih channel yang mana?!" tanyaku pada Gakupo lewat sambungan telepon rahasia ini.

"Jangan pilih channel manapun! Kau takkan menemukan siaran apapun!"

Dan benar saja, tak siaran acara di channel manapun. "Jadi, apa yang harus kulakukan, BaKamui? Menonton channel semutan ini sampai berubah menjadi Ant Titan?"

"Tunggu..." Gakupo memberi jeda pada kalimatnya. "Sekarang!"

Channel tersebut menampilkan sebuah layar hitam dengan cahaya infrared dan neon dimana-mana.

'Aku telah menantang kalian Vocasky. Kenapa tak menjawab tantanganku? Bukankah waktu itu aku telah memberi peringatan pada kalian? Aku akan membunuh banyak nyawa jika kalian tak menerima tantangan kami. Sudah 3 hari sejak rekaman pertama. Jadi..." rekaman itu mendadak berhenti dan layar televisi semutan itu mencul kembali. Tubuhku melemas. Kami terlalu lambat untuk menemukan penjahat dalam kasus ini. Mereka akan membunuh orang kembali.

"KYYAAAA!" aku berteriak saat ada noise yang tiba-tiba terdengar dengan foto seorang wanita dengan isi perut yang telah keluar dan kepala yang terbelah. Mata mayat wanita itu melotot, yang-sumpah demi apapun- membuatku ketakutan setengah mampus.

"Kami akan membuat semua gadis di kota ini mati dengan kondisi seperti ini!" suara wanita dalam rekaman sebelumnya terdengar kembali.

"Miku, Rin, Len, BaKaito... kalian sudah lihat-maksudku- lihat,'kan?" suara Gakupo menyadarkanku.

"Jadi, bagaimana?! Sekarang, mungkin, kepolisian akan menyalahkan kita atas kasus ini!" teriak Rin, suara terdengar bergetar. "Kita bukannya terlalu lama menyelesaikan kasusnya melainkan kita terlalu lama untuk mencari petunjuk dari kasus yang sama sekali tak memiliki petunjuk dari awal!"

"Rin benar. Kita dari awal memang tidak memiliki petunjuk tapi kita justru menerima tantangan itu," Len angkat bicara. "Ini salahku."

"Tapi coba kita tarik lagi kasus ini dari awal. Apa tujuan pelaku membunuh Yuki? Supir truk itu pun mengaku bahwa dia sama sekali tak menyadari bahwa dia menabrak Yuki. Len yang mengaku bahwa dia tak mengerti kenapa Yuki bisa tertabrak. Orang tua Yuki yang mengaku bahwa Yuki pergi sendirian saat ke sekolah. Kenapa itu semua tak bisa berhubungan dan terkesan... tak masuk akal?" jelas Gakupo. "Dan menurut Miki, terduga dalam kasus ini, Kami-sama mereka mempunyai motif sendiri untuk membunuh kita. Walaupun saat kutanyai, Miki masih memiliki masalah dengan kejiwaannya tapi kurasa dia tak berbohong, karena Lie Dectector terpasang di kepalanya."

"Lalu, menurutmu siapa pelakunya?" tanya Kaito. "Len, Rin, petunjuk kita hilang!"

Ditengah-tengah kerekcokan yang dibuat oleh Rin, Len, dan Kaito, aku berhasil mendengar jawaban Gakupo atas pertanyaan Kaito. "Yowane Haku, dia pelakunya." "Eh, monyet! Kalo mau berantem matiin dulu teleponnya sakit telinga tahu!" Dan kalimat terakhir merupakan keluhan yang disampaikan Gakupo karena keributan Rin dan si BaKagamine dan BaKaito.

TUT.. TUUT... TUUT... Sambungan pun diputus sepihak.

"Miku-san, apa yang terjadi sekarang?" tanya Gumiya-kun.

"Kapan kau menonton rekaman yang menyebutkanku sebagai detektif dari Vocasky?" aku balik bertanya.

"Tadi pagi, sekitar jam 04.30 pagi," jawab Gumiya-kun sambil memperhatikan jam tangannya. "Memangnya kenapa?"

'Mind Controller. Selain Haku, siapa lagi yang mempunyai kekuatan mind control?' gumamku.

'...cari diantara titik fokus dan bayangan..." aku ingat ucapan misterius yang selalu terngiang di kepalaku. Titik fokus dan bayangan? Aku menatap cermin di depanku. Aku tahu jawabannya...

"Mi-Miku-san, apa yang akan kau lakukan?! Miku-san!" Gumiya-kun menarik kursi belajar yang kupegang.

"Awas, Gumiya-kun! Jangan halangi aku!" aku menendang Gumiya-kun. "Ini akan membuka segalanya! HYYAAA!"

Aku melempar kursi tersebut ke arah cermin di depanku.

"Awas, Gumiya-kun!" aku mendorong Gumiya-kun untuk keluar dari kamar disaat yang bersamaan..

PRANGGG! Cermin tersebut pecah menjadi ratusan kepingan yang langsung berserakan ke seluruh lantai kamar.

"Gomenasai, Gumiya-kun." aku membungkukkan badanku dan membantunya berdiri.

"Daijoubu yo, Miku-san. Tapi kenapa?"

Aku melongok kembali ke dalam kamar. Ternyata di balik cermin yang kini yang sudah pecah itu ada serangkaian tulisan dengan cat merah.

"Inikah anagramnya?" aku menyentuh tembok tersebut, tak peduli bahwa banyak cermin tajam di bawah kakiku.

TING..TONG...TING.. TONG..TING.. TONG...

Suara bel yang dipencet rusuh itu menganggu konsentrasiku untuk mencoba memecah anagram yang tertulis pada tembok itu..

"Ano, Miku-san. Aku tinggal sebentar 'ya. Sepertinya ada tamu." kata Gumiya-kun. Aku hanya mengangguk. "Matte, matte!"

"Dimana Miku?!"

"Dimana si shooter itu?"

Aku kenal suara ini. Aku belari ke bawah dan melihat Kaito, Rin, dan Len mengerubungi Gumiya-kun dan melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi.

"Minna!" aku melambaikan tanganku. "Ada petunjuk diatas!"

Tanpa acara peluk-pelukan khas remaja ababil, tanpa izin dari sang pemilik rumah, kami berempat langsung naik dan berlari menuju kamar Gumi.

Len yang pertama kali masuk ke kamar Gumi langsung melihat tepat ke arah anagram yang tertulis di tembok.

"Tulisannya dibalik. Tulisannya seperti harus dibaca lewat cermin," Len mengambil potongan cermin terbesar dan langsung berdiri membelakangi anagram tersebut. "Trik bodoh!"

Len memotret anagram tersebut dan langsung mengeditnya. "Bingo!" serunya.

Len si Angramatis mulai menunjukkan aksinya!

.

.

.

(Len POV)

.

.

.

Aku membaca anagram yang sudah kuedit fotonya. Aku mengerti mungkin Gumi bukanlah seorang angramatis profesional makanya dia membuat anagram aneh dan sengaja menulisnya terbalik.

"Len kita mengejar waktu! Kau harus bisa memecahkan anagram tersebut secepat mungkin!" seru Rin.

"Rin.. memecahkan anagram bukan seperti memecahkan kaca yang seperti Miku lakukan. Kita perlu proses." jawabku sekalem mungkin.

"Benar sekali, dia perlu proses," Kaito menyeringai. "kecuali dia tahu apa maksud dari anagram tersebut..."

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Author Line :

Gomenasai ;(

Gomen, update-nya lamaaaaaa bangeeettt. Berapa hari ya? UDAH SEBULAN LEBIH 2 MINGGU! Ya author tahu, author udah kelewatan tapi mau gimana lagi. Semua waktu sekarang dipake buat ngerjain soal UN. Maklum deh, author udah kelas 9. Tapi author akan berusaha untuk menyenggangkan waktu untuk meneruskan fic ini. Semoga Minna-san semua suka dengan fic ini.

Yah, nggak bisa bales review sekarang. Tapi tetap tinggalkan jejak! Masih terima flame yang bermanfaat untuk kemajuan penulisan fic ini!

Akhir kata...

R

E

V

I

E

W

Please!

-Shintaro Arisa-chan-