The Mysterious Accident
.
.
.
Disclaimer : Yamaha Corp. dkk yang punya Vocaloid. Cerita ini seratus persen milik saya.
Warning : AU, Canon, Typo(s), misstypo(s), GaJe, Fantasy berlebihan, plot nggak jelas, kekerasan tidak jelas!
Don't Like Don't Read
Happy reading, minna-san!
.
(Normal POV)
.
.
.
Len masih berkonsentrasi pada anagram yang ditemukan Miku. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan Kaito.
'...Kecuali kita tahu apa maksud anagram tersebut...'
Apa maksud dari anagram ini? Itulah isi pikiran Len selama tiga puluh menit terakhir.
'...Riwayat kematianku... dengan anagram... di tempat tersembunyi...' Len ingat salah satu kutipan diary Gumi yang diterjemahkan Rin dari bahasa Latin itu.
Sirene mobil polisi membuyarkan pikiran Len. Sirene itu semakin lama terdengar semakin keras.
Ponsel Miku berdering. Miku yang masih mual dengan apa yang dilihatnya di televisi tadi mengangkat panggilan tersebut dengan lemas.
"KITA HARUS KABUR! BURUAN!" teriak Miku sambil berlari keluar dari kamar Gumi. Kaito dan Rin mengikutinya.
"Matte, Micchan! Doushita no?" Kaito berlari mengejar kecepatan lari Miku yang super cepat itu.
"Kita bakalan-"
"Ditangkap. Benar sekali, Nona." potong seorang pria berjas lengkap dengan warna jas yang didominasi oleh warna hitam itu.
Miku, Rin, dan Kaito berlari mundur bersamaan. Mereka mencari pintu belakang kediaman Megpoid ini.
"Kita kabur lewat taman!" teriak Rin sambil melompat turun ke halaman belakang.
"Tidak bisa! Mungkin rumah ini sudah dikepung!" Kaito balas berteriak.
"Dimana si Shota itu? Apa dia mengkhianati kita? Menyelamatkan dirinya sendiri?" Miku dengan cepat menggulung rambutnya.
"Jangan berpikiran seperti itu Micchan! Belum tentu Len mengkhianati kita! Dia pasti punya rencana!" balas Rin sedikit marah. Baru kali ini rasa kepercayaan Miku bisa menurun sedrastis ini.
"Oh ya? Kalau begitu dimana dia?!" Miku meloncati pagar dengan gaya parkour-nya. "Sembunyi disana! Daerah itu sulit dimasuki pria!"
"Terus aku kemana?" Kaito bertanya sambil mencengkram tangan Miku. Miku menepis tangan Kaito.
"Terserah yang penting jangan ikuti kami!" jawab Miku ketus-galak.
"Terlambat. Sayang sekali!" pria berjas itu menarik tangan Kaito ke belakang dan memborgolnya. Rin dan Miku juga berhasil ditangkap. Miku sempat meronta tapi berhenti ketika salah satu pria berjas itu mengeluarkan stun gun-nya. Miku menyerah dan pasrah saat dimasuki ke dalam mobil bersama Kaito dan Rin.
.
.
.
Len sudah lama berlari. Bajunya telah dibasahi oleh keringat.
Dia memalingkan kepalanya untuk melihat apa masih ada yang mengikutinya atau tidak. 'Kemana mereka? Menyerah?'
Len memberhentikan aksi maratonnya di dekat sebuah restoran. Wangi makanan menguar dari restoran tersebut. Perut Len bergelojak, dia kelaparan. Dia merogoh saku celananya lalu menepuk jidat kuat-kuat mengingat semua barang-barangnya (kecuali handphone) di tinggal di rumah Mitsu-san.
"Sejak kapan aku jadi bodoh begini?" gumam Len.
Seseorang menarik Len ke dalam restoran.
"BaKamui?!"
"Shut up! Ayo pikirkan dimana kita bisa bersembunyi dan memikirkan cara untuk membebaskan teman-teman kita!"
Len mengangguk dan..
KRUYUKKK! Perutnya berorkesta lagi.
"Tapi aku lapar.." ucap Len sambil mengelus-elus perutnya.
"Ayo beli makanan di minimarket. Aku tak punya uang untuk mentraktirmu untuk makan di restoran ini." jawab Gakupo sedikit sebal.
Len berjalan setenang mungkin dengan jaket dengan ukuran kebesaran yang diberikan Gakupo.
"Jaketmu bau banget, bau terong busuk!" keluh Len. Gakupo menendangnya.
"Seengaknya aku memberi alat bantu untuk menyamar!" jawab Gakupo. "Dan aku peringatkan jangan pernah meledek Nasu-chan!"
"Na-Nasu-chan?"
"Di dalam jaket itu ada Nasu-chan! Coba periksa saku jaket bagian dalamnya pasti ada Nasu-chan,"
Len merogoh saku jaket yang dikatakan Gakupo ada terong kesayangannya dan benar saja! Ada sebuah terong yang sudah layu dengan kulit yang sudah keriput dan bau yang 'super'.
Dengan sengaja, Len memotekkan(?) terong kesayangan Gakupo menjadi dua.
"Ng, Po," panggil Len dengan dua huruf terakhir nama Gakupo.
"Eh, gue bukan salah satu karakater T***tubies atau Kungfu P**da, ingat itu!"
"Ah, sewot amat sih! Nih liat Nasu-chan kesayanganmu sudah disetubuhi oleh belatung!" tukas Len. (author : Demi apa, Len? Disetubuhi? *horror face)
"Apa?!" Gakupo bereaksi dengan langsung mengambil kedua bagian tubuh Nasu-chan yang telah dipotek oleh Len menjadi dua dan matanya langsng berkaca-kaca.
Gakupo terjatuh bersimpuh sambil memandangi Nasu-channya sedih, tidak terima kalau akhirnya Nasu-channya kini sudah membusuk dan disetubuhi belatung.
"Na..su-chan..." pangil Gakupo pada benda yang kini sudah mati dua kali itu. "Naze? Naze, Nasu-chan? Naze?"
Gakupo menitikkan air matanya. "Naze, Nasu..-chan? Kenapa Nasu-chan meninggalkan Nii-chan?"
Dan aksi Gakupo yang super lebay itu menarik perhatian warga yang lewat.
"Kenapa tu' bocah?"
"Kaa-san? Kaa-san? Itu namanya ayan, 'ya?"
"Sayang cakep-cakep ternyata gila."
"Kenapa mukanya mirip sama detektif yang lagi dicari-cari itu, ya?"
Len mendengar salah satu dari komentar warga yang melihat aksi sarap Gakupo dan langsung menarik rambut Gakupo. Gakupo yang tak peduli dengan rambut panjang, sehat, lebat, tidak berketombe, kuat, lurus, lembut bak sutera, tidak bercabang, dan berkilau impian semua wanita di dunia ditarik oleh seorang Kagamine Len.
Len membanting Gakupo dan mengambil mayat Nasu-chan lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Lo pake shampo apa sih? Rambut lo girly banget!" komentar Len yang membuat Gakupo berhenti menangis untuk sementara.
"Gue menggabungkan shampo Deadgirl, MOONCOTTON, Knee & legs, dan lain-lain,"
Len cengo dan Gakupo kembali meratapi kekasih sayurannya yang mati dua kali dan dibuang ke dalam tempat sampah bukannya dikubur. Malang sekali nasibmu, Ga-kyun~!
"Berhentilah menangis, freak!" ucap Len marah.
"Berhentilah menangis, freak!" beo Gakupo dengan suara yang agak ditinggikan, bermaksud meledek Len. "Kau sendiri freak, BaKagamine!"
"Aku tahu aku freak dengan pisang tapi Bitch Please! Aku nggak selebay kau ketika mengetahui pisang limited editionku membusuk di dalam perut!"
"Pisangmu pasti membusuk di dalam perut karena proses pencernaan!"
"Lalu apa alasanmu mencintai terong sampai-sampai menamainya, hah?!" balas Len yang langsung membuat Gakupo mati kutu.
"Karena," Gakupo menundukkan kepalanya dan mengurai air matanya lagi. "aku mencintainya."
Len muntah seketika.
"Ampunilah dosa kawan seperjuanganku ini, Kami-sama!" ucap Len sambil menatap langit penuh pengharapan.
"Ayo, kita pecahkan kasus ini biar kau bisa pacaran dengan Nasu-chan barumu. Jangan nangis lagi, oke?" Len membujuk dan Gakupo langsung memberi bogem mentah ke kepala Len.
"Apa-apaan sih?!" Len bertanya marah sambil mengelus kepalanya yang benjol sebesar jeruk.
"Gue bukan anak kecil! Nada lo waktu ngebujuk gue itu kayak terong-terongan mau pacaran sama cabe-cabean! Hrrrr..." jawab Gakupo.
"Bukan anak kecil tapi terong dianggap pacar, ngenes amat hidup lo, Bang!" gumam Len dan nggak disahut apa-apa oleh Gakupo.
"Lo udah nggak bakal mewek lagi'kan?" Len melanjutkan pembicaraan.
"You think?"
"Kalo gitu bantuin gue buat mecahin ni anagram sebiji! Ayok!"
Len dan Gakupo keluar dari gang GaJe itu dan menyelinap masuk ke dalam sebuah gudang tua bekas di antara besarnya pencakar langit kota Crypton.
.
.
.
(Len POV)
.
.
.
Aku melepas jaket buluk, bau, jorok, milik Gakupo. Hilang sudah mau citrus banana yang terakhir kali kusemprotkan saat di mansion Luka. Baju servant-ku pun sudah terlihat lusuh belum lagi tampangku yang sama-sama kucel jorok karena sudah hampir selama 2 hari aku belum mandi. Badanku lengket-lengket, rambutku lepek, dan bau tubuhku pun sangat tak enak dicium. Aku mengendorkan lagi dasi hitam yang melingkar di kerah kemeja putih lusuhku.
"Oi, ada air disana! Mendingan bersihin dulu tuh muka kucel lo! Masa' detektif jorok begitu?!" Gakupo berkata sambil menunjuk-nunjuk pintu di seberangku. "Dan ada sesuatu yang nampaknya bisa lo selidiki."
Aku merasa tertarik dan langsung menuju ruangan yang ditunjuk Gakupo. Dan benar saja, di sebuah cermin dalam ruangan terdapat sekumpulan huruf-huruf yang ditulis berantakan. Entah apa yang digunakan oeh orang itu menulis pada cermin itu tapi warna tulisan itu sewarna dengan...
...Warna darah yang mengering...
Aku mengambil sarung tangan karetku dan menyentuh cermin itu.
Apakah akan ada gadis dari dalam cermin yang menyapaku? Apakah aku akan tertarik masuk ke dalam cermin? Apakah aku akan nyungsep kedalam salah satu negeri ajaib di belakang kaca?
Oke, jangan marah dulu, Readers ._.v
Aku tahu aku salah fokus.
Back to the story.
Aku mencoba membaca rentetan huruf nggak jelas itu. Mencoba mencari alternatif huruf yang mendekati dengan huruf-huruf nyaris tak sempurna itu.
'Ni' orang baru bisa nulis huruf katakana-hiragana sama kanji, 'ya? Belepotan banget!' pikirku.
BRUKK!
Aku mendengar suara debuman keras dari ruangan lain di sebelahku. Aku melepas cermin itu (aku takut kalau ini tulisan hilang entah kemana) dan berlari menuju sumber suara. Tanpa sadar, si maniak terong mengekor di belakangku.
"Bawa cermin ini! Jangan sampai pecah!" perintahku sambil mengoper cermin itu hati-hati.
Gakupo menangkapnya. Untungnya dia sudah pakai sarung tangan.
"Kau mencopotnya?!" Gakupo bertanya sambil mencari sisi aman untuk memegang cermin.
"Aku takut kehilangan sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk!" jawabku sambil menghentikan langkahku. Aku menunjuk sebuah kotak hitam. "Kira-kira isinya apa?"
"Oi, Len! Masa' kanji butut begini lo nggak bisa baca?" ucap Gakupo tiba-tiba sambil menutup markernya. "Tulisan ini'kan 11-12 sama tulisan si BaKaito,"
"Jangan coret-coret clue, BaKamui!" aku membentak Gakupo untuk berhenti mencoreti cermin itu sambil merebut kembali cermin itu yang langsung merobek sarung tangan karetku. Darah mengucur. Telapak tangan sobek oleh cermin itu. Tetesan darahku mengenai cermin itu, memunculkan deretan huruf lainnya.
"Len tanganmu berdarah!" seru Gakupo.
"Abaikan saja!" balasku. "Jadi, tulisan ini..."
"Senbonzakura." jawab Gakupo singkat.
Tanpa sadar, sedari tadi membiarkan darahku terkena cermin. Sekarang setengah bagian cermin itu telah tersiram darah.
'Pecahkan dan hentikan'
"Pecahkan dan hentikan?" bacaku kebingungan.
"Wok, Len! Kotak hitam ini isinya cuma mainan anak-anak!" Gakupo berseru sambil memperlihatkan isi kotak itu.
Sebuah mainan helikopter, sehelai kelopak bunga sakura, miniatur gergaji mesin, dan ular-ularan.
Terdengar dering ringtone helikopter diterbangkan. Dering itu berasal dari ponsel Gakupo.
"Ada apa?" tanyaku sambil menuliskan kata 'Senbonzakura' pada secarik kertas menggunakan darahku.
"Pengingat. Jadwalnya gue pengen nonton air show helikopter di markas Angkatan Udara. Malahan gue dapat kursi VIP-nya soalnya abang sepupu gue yang jadi pilot," jelas Gakupo sedikit murung.
"Apa ada instansi penting disana?" tanyaku lagi. "Dan stop ngomong gue-elo-an. Masalahnya fic ini menggunakan bahasa aku-kamu dari awalnya!"
"Whatever." jawab Gakupo sambil mendelikkan matanya. "Instansi penting? Pasti ada lah, baka! Kata abangku sih waktu itu disediakan 2000 bangku. Jadi, pasti banyak orang disana. Emangnya kenapa?"
"Ayo kita kesana!"
"Woy, kita masih dalam kondisi ngejalanin misi!"
"Pikirkanlah, BaKamui!" ucapku setengah berteriak. "2000 orang! Bisa jadi kawanan 'Perserikatan Penyihir' bakal menyerang. Ingat tentang ancamannya? Semakin lama kita memecahkan kasus semakin banyak pula korban yang berjatuhan!"
KRIIIEET! BRAKKK! Suara pintu depan dibuka lalu ditutup lagi.
Aku dan Gakupo tak berani bergerak. Bahkan kami memelan napas kami supaya tak terdegar.
"Baiklah, Kami-sama, silahkan masuk. Kami telah menyiapkan tempat ritualnya!"
"Bawakan sandera masuk!"
Aku dan Gakupo saling berpandangan. Suara wanita pada percakapan terakhir itu mirip dengan suara Yowane Haku. Ternyata perkiraan Kaito tak meleset.
'Kita kabur!' bisikku.
'Tunggu dulu! Bagaimana kalau kita intip siapa sandera mereka. Kau foto sanderanya dan itu bisa menambah barang bukti!' balas Gakupo berbisik.
"Lepaskan, pria jelek! Kau tak ada pantas-pantasnya mengenakan jas ala detektif seperti itu! Kau justru terlihat seperti akuntan gagal!"
Itu suara Miku saat bad mood atau galak modenya aktif.
'BaKaito, Rin, dan Micchan menjadi tahanan mereka! Dan Micchan telah mengetahui keberadaan kita-"
"Siapa disana! Kalian periksa keadaan disana!"
Laporan berbisik Gakupo dipotong oleh suara perintah yang nampaknya berasal dari Yowane Haku.
"Kita cabut sekarang lewat jendela itu! Ayo!" Gakupo meneruskan kalimatnya dan dengan cepat menaiki dinding bak dan kabur lewat ventilasi yang untungnya lumayan besar. Aku mengikutinya dan ikutan melompat keluar. Kami buru-buru berlari dengan sisa tenaga kami keluar dari area gudang. Untuk sementara kami bisa selamat...
.
.
.
(Miku POV)
.
.
.
Aku benci keadaan seperti ini. Setiap kali aku menjalani acara detektif-detektif-an seperti ini, aku pasti selalu menjadi sandera. Kaito dan Rin sih rasa-rasanya baru kali ini menjadi sandera. Kaito biasanya bekerja di belakang layar kami dan Rin dan Len adalah pemeran utamanya. Semetara aku dan Gakupo selalu menjadi karakter sampingan. Wajar sih, kalau Rin dan Len menjadi karakter utama karena Rin dan Len adalah masternya teka-teki dan apapun yang berhunbungan dengan kemiliteran. Sementara aku dan Gakupo yang hanya pandai di bagian fisik cuma bisa jadi penyokong bagi Rin dan Len.
Setelah perjalanan -yang menurutku mengahabiskan waktu selama lebih dari 45 menit- akhirnya aku dikeluarkan (secara paksa) oleh pria-pria berjas lengkap itu.
"Lepaskan aku! Kalian bukan polisi! Kalian tak berhak menangkap kami!" aku meronta, menggerakkan tubuh bak penari ular menari goyang patah-patah sakit perut.
"Diam kau!" jawab pria itu sambil menodongkan stun gun-nya.
"Apaan sih! Beraninya sama perempuan!"
PLAAK! Aku ditampar. "Kau akan menghadap Kami-sama jadi bertingkah sopanlah sedikit!"
"Tch!" aku berdecak sebal sambil memalingkan wajahku. Aku melihat Kaito yang berjalan terseok-seok karena setelah turun dari mobil kakinya dipukul balok kayu, menatapku khawatir lalu berganti menatap pria itu sebal. Lain halnya dengan Rin-chan. Dia justru berkomat-kamit aneh sambil menggerak-gerak borgolnya.
Di dalam gedung jelek itu, aku dibanting karena terus meronta.
"Lepaskan aku, pria jelek! Kau tak ada pantas-pantasnya mengenakan jas ala detektif seperti itu! Kau justru mirip dengan akuntan gagal!" ledekku.
Bibirku berdarah karena tak sengaja tergigit. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat rambut berwarna ungu tertiup. Itu pasti Gakupo.
"Siapa disana! Kalian, periksa keadaan!" teriak suara orang dengan pakaian hitam-hitam yang membalut seluruh tubuhnya. Suara itu mirip sekali dengan Yowane Haku.
Suara debuman barang-barang dan orang jatuh pun terdengar. Nampaknya, Gakupo dan (mungkin) Len kabur.
Suruhan orang misterius pun kembali.
"Kami-sama, penyusupnya kabur! Mungkin penyusup itu cuma gelandangan!" lapor pria itu.
Orang misterius itu menjenggut rambut pria itu dan menghantamkan kepalanya ke kepala pria itu.
"Ampuni aku, Kami-sama!" kata pria itu sambil menangis.
"Dasar idiot! Kenapa kau tak periksa keadaan sebelum aku tiba disini! Kau kupecat!"
JLEB! Orang misterius itu langsung menusuk pria itu tepat di jantungnya. Aku menatap kedua temanku. Rin menatap dingin dan Kaito bengong. Mereka terlalu biasa mungkin menghadapi situasi seperti ini.
Tiba-tiba orang misterius itu menarik kerah kemeja putih Kaito dan meludahi wajahnya.
"Tch!"
"Kau sebal, hah? Karena aku meludahimu? Kau mau lagi?" orang misterius itu mengerucutkan bibirnya. Nampaklah bibirnya yang dipoles dengan lipstick semerah darah.
"Tak salah! Kau memanglah Yowane Haku! Perkiraanku tak salah!" teriak Kaito.
"Hahahaha!" tawa Haku membahana.
"Lepaskan kami!" akhirnya Rin mengeluarkan suaranya. "Apa yang kau inginkan?"
'Kebebasan kami, Kami-sama..' suara-suara itu muncul lagi di kepalaku.
"Kemauanku? Hm, kematian kalian!" jawab Haku.
TRAK! Rantai penghung borgol di tangan Rin terlepas.
"Kematian 'ya?" Rin terdengar menantang. "Mau melawanku? Escaphologist terbaik di Crypton."
"Mengajakku bermain sulap, gadis manis?"
"Bagaimana kalau kau tunjukkan siapa orang di belakangmu itu?
Orang di belakang Haku membuka tudungnya. Seorang pria berambut abu-abu mirip dengan Dell-san dan berkacamata.
"Kau Tekuno!" seru Rin.
"Benar sekali, mademoiselle," jawab pria berambut abu-abu bernama Tekuno itu.
"Satu lawan satu. Aku akan melawanmu Haku!" Rin berseru kembali.
"Kalau begitu aku akan melawanmu, kembaran Dell-san!" seru Kaito yang kedua tangannya kini sudah terbebas berkat jepit rambut Rin begitu pula dengan tanganku.
"Kembaran Dell-san itu cuma Deruko-san!" ucapku.
"Mereka mirip! Perhatikan saja!"
"Ssttt!" Tekuno-san memberi tanda kami untuk diam. "Nanti lidahnya bakal kegunting lho~ Hihihi~" Tekuno mengeluarkan guntingnya.
Oke, ini mulai menyeramkan.
Kami bertiga diam. Tak berani bergerak. Tekuno masih memegang guntingnya. Wajah Rin memerah. Nampaknya kemarahannya sudah meradang sampai ke ubun-ubunnya.
Secepat kilat, Rin menendang kaki Tekuno, membuat Tekuno melemparkan guntingnya. Aku buru-buru mengambil gunting tersebut.
"Gantian 'ya pegang guntingnya~" aku meniru gaya Tekuno yang mengucapkan setiap kata dengan cara yang lebay. "Dan ayo selesaikan ini teman-teman!"
Kaito berjuang bersama dengan Rin untuk melawan Tekuno sementara aku sudah seperempat jalan untuk mengalahkan Haku.
"Masih dengan aku, Shiroi no Musume?" tanyaku sambil menggerakkan tanganku untuk mengicar leher Haku.
Haku menahan tanganku, dia masih menyeringai. "Kau gadis petarung yang nyaris membunuhku, mana mungkin aku melupakanmu," Haku menjeda kalimatnya sambil mendorong tanganku dan menyiapkan kakinya. "Justru saat ini aku sangat bernafsu untuk menghabisimu, Bocah!"
Kakinya mengarah ke daguku! Dia mau mematahkan leherku apa?!
Aku menunduk lalu menangkap kakinya. Aku mengangkat tinggi-tinggi sebelah kakinya dan berdiri di atas sebelah kakinya yang lain sampai membentuk sudut 90 derajat yang mungkin bisa dihitung dengan Phytagoras. Aku terus-menerus menarik kaki kirinya keatas sementara kedua tumitku menari-nari diatas betisnya. Aku tertawa-tawa sementara Haku menjerit kesakitan.
"Sekarang siapa yang akan membunuhku jika pemburuku sendiri sudah kewalahan dengan mangsanya?"
Aku melemparkan gunting milik Tekuno pada tangan Haku sampai menembus tangannya. Haku semakin menjerit kesakitan. Rasanya... entahlah aku tak tahu tentang perasaan yang kini kualami.
"Dimana Luka, Iroha, Miki, Sonika, Zeiko, dan Gumi-chan, hah? Kau yang menyuruh mereka bunuh diri lewat telepatimu'kan?!" aku menarik kaki kirinya lebih ke atas lagi lalu melepasnya. Aku menendangnya.
"Dimana kau bisa tahu itu?!" tanya Haku lemas.
"Arwah mereka terus berteriak padaku," jawabku sambil menjenggut kunciran rambut putih Haku, "Apa kau yang mereka sebut sebagai Kami-sama?"
Haku meneteskan air matanya. Dia menatap llangit-langit gedung. Tatapan seakan ketakutan. Seakan dia akan menghadapi kematiannya. Seakan menatap malaikat maut. "Bukan.. bukann... hentikan Kami-sama. Jangan bunuh hambamu ini.. Ampuni aku, Kami-sama. Tenang saja, Kami-sama. Aku akan menjaga rahasia ini sampai waktu menelanku... Jangan bunuh aku.. Onega..i..."
"Kau bicara sama siapa, hah? Apa kau sudah gila?"
Haku mendorongku. Dia mengesot di lantai. Tangannya menggapai-gapai, seolah dia ingin menangkap sesuatu. Tiba-tiba dia bersujud sambil menagis meraung-raung. Tangannya dibentuk melingkar seakan dia memeluk sesuatu.
"Siapa Kami-sama yang kau maksud, hah?!" aku bertanya dengan edikit paksaan.
Tiba-tiba Tekuno berlari sambil menangis lalu bersujud dan tangannya pun dibentuk seolah-olah memeluk sesuatu.
"Kau belum beres denganku, Idiot!" teriak Kaito marah. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dan tangannya yang memegang cutlass pun dilumuri darah. Aku kembali menatap Tekuno yang tangan sebelah kirinya robek, memperlihatkan dengan jelas otot-otot yang melindungi tulangnya.
"APA KALIAN SUDAH GILA? KALIAN HANYA BERSUJUD DAN MEMELUK ANGIN!" teriak Rin marah. Wajah Rin sekarang bak sudah dicat dengan cata merah. Rin bermaksud menarik Haku dan Tekuno dan tiba-tiba saja dia terpental jauh. Dengan cepat, Kaito berlari dan menangkap Rin sebelum dia menghantam tembok.
"Daijoubu ka?" tanya Kaito pada Rin yang masih kaget. Dengan wajah shock-nya, Rin mengangguk.
Aku mencoba mendekat pada Haku dan Tekuno. Aku merasakannya. Aliran listrik. Seperti pelindung medan gaya. Apa ini sihir?
Tiba-tiba Haku dan Tekuno terangkat secara misterius. Ekspresi mereka terlihat seperti sedang dicekik.
"Apa yang terjadi pada kalian?! Haku, Tekuno!" jeritku. Jujur sekarang aku mulai merasa takut.
"Ka..mi-sama, ja..ngann.. bu..nuh.. ak..aku.. Ja..ngan bu..nuh.. O.. ..i.." Haku berbicara dengan napas tersenggal. Sejurus kemudian, bola mata mereka berdua membulat dan lihat mereka terjulur keluar.
'Hukuman untuk mereka yang berpura-pura menjadi Kami-sama dan membunuh kami. Dia disidang oleh Kami-sama.' suara itu pun kembali.
CLAK! CLAK! CLAK! CLAK! Suara sesuatu digunting. Aku melihat kembali Haku dan Tekuno yang melayang misterius. Mulut mereka mengeluarkan darah. Gantian, kini aku melihat ke bawah dan menemuka genangan darah dan dua onggokan kecil daging. Aku mengambil daging itu dan memasukkan ke dalam kantung plastik.
Kaito dan Rin datang menghampiriku.
"Miku, berani juga kau," Kaito terdengar memujiku.
"Berani?" aku balik bertanya.
"Iya, kau berani sekali. Mengambil lidah mayat yang dipotong secara misterius." tukas Rin.
"Lidah?"
Kaito berjongkok di depanku. "Kalau tak percaya lihat saja. Ayo, kubantu kau untuk memeriksa mayat. Aku sih sedikit jijik. Naiklah cepat,"
Aku naik ke bahu Kaito. Aku terperanjat sampai-sampai aku ingin muntah. Tubuhku limbung ke depan, menabrak jenazah Haku yang terbujur kaku melayang di udara. Untungnya, Kaito buru-buru menangkapku dan memelukku.
"Lihat'kan? Lidah mereka terpotong?" bisik Kaito di telingaku. Mataku sudah setengah menutup. Nampaknya penyakitku mulai menguasai tubuhku.
"Miku?" Kaito mengguncang tubuhku. "Miku-chan? Mi-" suara Kaito teredam dan semuanya menggelap. Aku mulai tertidur. Masuk ke dalam gelapnya dunia mimpiku yang tak ada indah-indahnya. Narcolepsy-ku kambuh.
.
.
.
(Kaito POV)
.
.
.
"Miku?" aku mengguncang tubuh kurus Miku yang sudah nyaris 4 hari tak diberi asupan nutrisi. Aku mulai khawatir. "Mi-miku?"
Manik mata tosca Miku pun tak terlihat ditutup oleh kelopak matanya.
"Apa yang terjadi pada Miku?" tanya Rin sama khawatirnya.
"Mungkin dia cuma kelelahan," jawabku setenang mungkin.
'Shit! Narkolepsi-nya kambuh!'
"Sepertinya ini sudah berakhir. Semua terduga sudah.. tewas," kata Rin.
"Begitu, 'ya? Tapi menurutku ini belum selesai," balasku sambil menggendong Miku di punggungku dan keluar dari gudang. Rin mengekor di belakangku.
Suara pesawat melintas mengusik pikiran kami. Aku dan Rin melihat ke langit. Disana dua buah helikopter beradu kecepatan.
"Menurutmu berapa knot rata-rata kecepatan kedua heli itu?" tanyaku untuk membuka pembicaraan lagi.
"Entahlah, aku tak bergitu mengerti soal penerbangan. Yang ahli itu cuma Len," jawab Rin.
'Ima nado.. Pantsu eguru mon! Pantsu eguru mon! Pantsu eguru mon, ne~'
"Kira-kira dong Rin pasang ringtone-nya. Apa harus 'I Can Take Off My Panties?'" tanyaku sweatdrop. Rin nyengir dan kepala Miku merosot lagi dari bahuku. Aku menggerakkan sedikit tanganku yang menopang badan kecil Miku dan menghentaknya pelan supaya kepalanya kembali lagi ke bahuku.
"Ngh.." desahnya karena acara tidurnya terganggu. Tak sampai sedetik, kupingku memanas. Serasa nonton video hen*** dengan headphone yang menyumbat telinga. Desahan Miku...
Stop Kaito! Bisa ganti rating nanti ini fic!
"NANI?" teriak Rin setelah mendapat jawaban dari sang penelepon. "Aku akan pergi kesana! Secepat mungkin!"
Tiba-tiba Rin berlari menuju jalan raya. Mau tak mau, aku pun harus menyusulnya-walaupun ada Miku yang mengganggu kecepatan lariku.
Rin menyetop sebuah mobil saat sampai di jalan raya.
"Rin, lebih baik naik taksi saja! Daripada nebeng ke mobil orang tak dikenal." usulku sambil menggerakkan tanganku lagi, membetulkan posisi kepala Miku.
"Kita harus cepat, BaKaito! Kau ingin lebih banyak lagi korban yang berjatuhan?!" jawab Rin dengan suara yang meninggi.
Sebuah mobil dengan warna norak berhenti di depan kami. Kaca pintunya terbuka dan menampilkan wajah Gakupo yang kusut.
"Buruan naik! Kita dikejar lagi sama waktu!" suruh Gakupo. Rin naik duluan. Rin membantuku untuk memasukkan(?) Miku ke dalam mobil dan aku yang paling terakhir dan paling tersiksa.
"Jadi, kita akan pergi kemana?" tanyaku sambil mencegah Miku menjatuhkan kepalanya dan membuatnya nyungsep ke dalam saku jok depan.
"Minato, Tokyo. Kita disuruh kesana untuk mengambil helikopter. Len sedang menerbangkan helikopter siluman untuk memata-matai helikopter yang membawa ketua Perserikatan Penyihir." jelas Gakupo dengan mata yang masih terfokus pada jalanan di depan.
"Tapi'kan, Minato itu lumayan jauh!" ucap Rin yang kayaknya frustasi entah mengapa. Mungkin dia mengkhawatirkan Len.
"Tidak jika aku melakukan ini!" jawab Gakupo sambil memincingkan matanya. "Kita tukeran posisi. Rin gantian dengan BaKaito untuk menjaga Miku-chan. BaKaito lo nyetir dan gue duduk di sebelah lo!"
Mobil pun berhenti dan kami langsung berganti posisi dengan cepat. Aku duduk di jok pengemudi lalu memakai sabuk pengaman. "Kalian udah pake sabuk pengaman belum?" tanyaku sambil menengok ke belakang.
"Beres!" jawab Rin setelah memasang sabuk pengaman pada badan Miku.
"Jalan BaKaito! Kendarai tepat di tengah jalan!" perintah Gakupo.
"Gila! Kita bakal dipluit-in, baru tahu rasa! Ini mobil ayahmu, 'kan!?" jawabku menolak perintah Gakupo.
"Pokoknya jalan di tengah!" perintahnya dengan suara yang lebih tegas lagi.
Aku menghela napas sambil menekan rem tangan dan memutar perseneling. "Terserah!" Aku menginjak pedal gas dan memutar setir menuju tengah jalan.
Entah apa yang terjadi semua mobil menepi dan berhenti, memberikan jalan bebas hambatan untuk kami.
"Maju dengan kecepatan 240 km/jam!" seru Gakupo kesetanan.
"Nggak mungkin!" balasku setengah berteriak. Aku melihat Rin yang ternganga lewat spion dalam mobil.
"Jalan aja, kampret! Buruan!"
"Kita nggak lagi mempraktikkan aksi Paul Walker di Fast and Forious, tolol!"
"Jalan!" Gakupo menepuk tengkukku dan secara aneh bin ajaib, kaki kananku menginjak pedal gas sampai rata dengan permukaan bawah mobil.
"GYAAAAA!" teriak ketakutan saat mobil tersentak maju dengan kecepatan gila itu.
"MWAHAHAHAHHAAHAH!" tawa Gakupo pun menyaingi teriakan ketakutan Rin. Desibel teriakan di belakang pun terdengar bertambah. Mungkin Miku bangun.
"AKU PENGEN MUNTAH! SELAMATKAN AKU DARI DUA IBLIS INI, KAA-SAN!" teriak Rin.
"MWAHAHAHA! KAU SEHARUSNYA SENANG, RIN-CHAN! LEN BELUM PERNAH NGAJAK KAMU KEBUT-KEBUTAN PAKE HELIKOPTER!" balas Gakupo kesetanan. Kesurupan apa sih dia?
"MANA MUNGKIN HELIKOPTER DIBAWA NGEBUT DI JALAN RAYA!"
"MWAHAHAHAHAHAAAHAHAHAAH!"
"NGGGAK!"
Tak tahu apa yang terjadi, pokoknya semua jalan raya yang kami lalui, semua kendaraan menepi dibahu jalan dan pengemudi bagai sedang dihipnotis. Kepalaku pun mulai pusing dengan semua kecepatan ini. Perasaanku cukup banyak juga menambah rasa pusingku. Antara takut, senang, takjub dan bingung. Belum lagi suara-suara dengan desibel tinggi di samping dan belakangku. Rasanya telingaku cukup kuat untuk menahan serangan suara yang nyaris mendekati suara ultrasonik itu. Aku melirik spion dalam mobil yang sudah menunjukkan penolakan atas suara yang dipantulkannya. Spionnya sudah retak empat.
"KALIAN BISA TIDAK MENJERIT SEPERTI ITU?!" kataku marah. "DAN KAU JUGA BAKAMUI! HENTIKAN TAWA BAJAK LAUTMU ITU!"
Semuanya tak acuh pada ucapan marahku.
"PERANG! PERANG! PERANG!" teriak Gakupo lebih girang lagi.
Aku udah nggak kuat lagi dengan semua suara dan kecepatan yang kini mendekati 250 km/jam yang membuat isi perutku bergejolak, maka dengan gila aku melepas injakan kakiku pada pedal gas dan menginjak pedal rem dalam-dalam.
"KYYYAAAA!" kami berteriak karena mobil mengikuti Hukum II Newton yang rumusnya ΣF=m.a (readers : salah fokus woy! *lempar buku fisika masing-masing).
Fine, one more time! (lalu terdengar suara Adam Levin)
"KYAAAA!" kami berteriak karena mobil kami tersentak lalu berputar-putar dan berakhir dengan parkir paralel di sebuah jalan yang lengang.
"Bego, ngapain berhenti?!" bentak Gakupo sambil membenamkan kepalaku ke air bag yang baru saja mengembang.
"Biar." jawabku lemes.
"Eh, asal kau tahu ini mobil super..."
Ucapan Gakupo terhenti karena aku membenamkan pewangi mobil berbentuk tabung ke dalam mulutnya.
"wkwwkbabalakshdhryubdg!" omelnya dalam bahasa planet 'Keselek Pewangi Mobil'.
"Kalian yang di belakang, gimana keadaan kalian?" tanyaku setelah mengempeskan air bag dan menengok ke belakang.
Rin mengacungkan jempolnya norak dan gemetaran, kepala Miku nyungsep ke saku jok.
"Lakukan sekali lagi! Lakukan! Yeayyy!" Miku mengeluarkan kepalanya lalu berseru sambil melompat-lompat dalam posisi duduk yang membuat goyang serong kanan-kiri.
"Miku, Miku, hentikan! Nanti mobil kita disangka Fantasy Car!"
"Fantasy Car? Apaan tuh? Mobil yang berisi peri-peri unyu bersayap yang akan membawa kita terbang sambil nyanyi 'I Believe I Can Fly'?" tanya Miku dengan topik yang melantur kemana-mana. Sepertinya sifatnya kembali lagi.
"Ahh, sebaiknya nggak usah dijelaskan. Nanti saja deh, habis misi selesai." jawabku sambil geleng-geleng kepala.
"Eh, kita masih jadi'kan ngambil helikopter di Minato? Jangan lupa!" ucap Rin yang baru masuk mobil. Oh ya, tadi dia sempat turun dari mobil dan muntah di tempat sampah.
"Tentu saja aku ingat soal itu!" jawabku lalu membenamkan kepala pada tanganku. "Tapi bagaimana kita akan pergi dengan mobil sedan 90-an yang anehnya bisa diajak ngebut seperti mobil sport sementara kita cuma tenggang waktu 10 menit! Yang benar saja! Minato-Crypton itu jauh! Bukan kayak dari sekolah ke game center!"
TOK! TOK! TOK! Kaca pintu mobil disamping Miku diketok. Kami mengalihkan pandangan kami dan melihat seseorang dengan topeng ala pencuri (itu lho, topeng kain yang bolongnya di mata sama dimulut doang). Tapi satu hal yang membuat kami heran adalah ... orang itu posisi terbalik!
"KYAAAA! Gravitasi di bumi sudah hilang! Tidak! Bagaimana aku bisa bernapas!" teriak Rin GaJe. Dia megap-megap nggak jelas sambil memegangi lehernya. Miku menjitaknya dan Rin kembali waras.
Orang itu pun bersalto dan menapak tanah. Dia berdiri memunggungi kami dan melepas topengnya. Terlihatlah rambut berwarna pirangmadu yang dikuncir...
Kami berempat turun dari mobil.
"Len..." panggil Rin. Orang itu berbalik dan menodongkan senjatanya di depan Miku.
"Koefisien Kriminalnya 998. Pembunuh bayaran. Pengaman dilepas. Mode : Destroy Decomposer." Len berbicara dengan suara robot android yang sudah dilatihnya semenjak anime bergenre Sci-fi-Suspense itu muncul.
Aku menyumbat lubang peluru senapan Len dengan batu kerikil kecil.
"Len, aku tahu kau sangat terobsesi dengan anime itu tapi ketahuilah beberapa hal," ucapku lalu menarik napas untuk mengadakan kuliah singkat. "Satu, mereka menggunakan senjata bernama Dominator bukan senjata api laras panjang. Dua, suara dari Dominator itu cuma kedengeran di kepala si pengguna. Yang terakhir, Miku nggak bakalan punya Koefisien Kriminal segede gitu dan Miku bukan pembunuh bayaran! Dia cuma sniper andalan kota ini!"
Aku menjitak kepala Len. Len cuma cengengesan.
"Jadi, ceritanya kau membela Miku, hm?" tanya Len yang kena sasaran.
Miku terkejut dan pipinya merona. Mungkin aku juga mengalami hal yang sama.
"Cie, cie, dua-duanya jadi merah tuh!" goda Rin. Miku semakin merona.
"Ah, kalian ini! Sekarang kau mau kemana dengan senapan dan pesawat itu?" tukasku sebelum percakapan mengalir ke arah romance.
"Aku mau membawa Miku dan Gakupo untuk misi. Di grup kita yang bisa menerbangkan helikopter cuma aku dan Gakupo. Sementara yang pintar pakai senjata cuma Miku. Nah, kau dan Rin cari informasi bareng Dell-san dan Deruko-san. Personil kita sudah ditambah. Ada opsir baru namanya Utane Uta dan Yuzuki Yukari."
"Yuzuki Yukari? Yukari-chan?!" tanya Gakupo.
"Hm, Yukari-chan pacarmu itu anak perempuan dari Kepala Bagian Kasus Kriminal."
"Aaa, rasanya bangga punya pacar kayak dia!" puja Gakupo sambil tersenyum bangga.
"Ayo, Miku, Gakupo, kita naik ke pesawat. Disana senior-senior kita sudah menunggu." ajak Len sambil menaiki tangga tali.
Miku dan Gakupo mengangguk.
"BaKaito, titip Rin. Awas kalau dia kenapa-napa!" lanjut Len sambil menatap tajam ke arahku. Rin pun sedikit merona. Entah sebal atau malu.
"Kau juga, aku titipkan Miku. Awasi dia supaya nggak menyabotase railgun disana!"
"Kaito!" Miku ngambek sambil menggembungkan pipinya. "Aku nggak segila itu!"
"Miku, jangan dandani Len tanpa pengawasanku, 'ya!" pesanku kali ini benar-benar candaan.
"Dandani dengkulmu!" sewot Miku. Dia sampai di pesawat dan menjulurkan lidahnya namun kemudian tersenyum.
"Titip Yukari, BaKaito!" Gakupo menitipkan amanat paling terakhir.
"Sip! Semoga sukses perang di udaranya! Kami akan mengorek sebanyak mungkin informasi!"
Pesawat itu pun terbang kembali dengan kecepatan entah berapa knot. Membawa ketiga temanku.
"Ayo, Rin! Kita pergi ke lapas dan mengorek informasi dari tahanan lain!"
Rin mengangguk dan kami masuk ke dalam mobil kami lagi. Aku memutar kunci dan mesin mobil langsung menderu. Aku menginjak pedal gas perlahan dan memutar mobil menuju lapas.
.
.
.
(Miku POV)
.
.
.
Sesampainya di pesawat, aku disuruh buru-buru ganti pakaian dan menyiapkan seluruh senjata yang kubutuhkan. Di salah satu kabin pesawat disediakan belasan-ralat- puluhan senjata laras panjang dan firearm.
Selama mengisi peluru pun pikiranku tak luput dari Kaito. Entah kenapa, kali ini wajah si maniak ice cream itu memenuhi kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha mengusir sosok Kaito dari kepalaku. Aku menghela napas dan ingat dengan wangi parfum di tubuh Kaito. Aku menggelengkan kepalaku lagi.
Aku memukul sisi kabin.
'Kenapa aku jadi kayak gini sih?! Mentang-mentang baru pertama kali digendong sama cowok, masa' aku langsung kayak begini?!' jeritku dalam hati. 'Lihatlah Miku! Disini banyak senjata!'
"Miku, isi peluru seluruh pistol semi-otomatis yang kau butuhkan." suruh Len sambil mengambil salah satu revolver di kotak sebelahku. "Jangan menggelengkan kepala terus seperti itu!"
Aku memasang magazine terakhir pada pistol semi-otomatisku dan menyelipkan pada gun custom di pinggangku. "Tanpa disuruh pun aku akan melakukannya, Len."
Gakupo tiba-tiba datang dan merampok salah satu pistol semi-otomatis dan sebuah magazen.
"Kau mau ngapain?"
Klik! Magazennya terpasang dan Gakupo menyeringai. "Latihanlah! Kita 'kan akan membajak helikopter yang sedang dibajak."
"Jadi, ini pembajakan diatas pembajakan? Ironis sekali..." komentarku.
"Kita lomba!" usul Len. "Yang pelurunya nggak tepat sasaran harus traktir!"
"Eh, itu sih nggak adil namanya! Kalian'kan masternya!" protes Gakupo.
GRU.. GRUKK! Pesawat berguncang.
"KAITOOO!" teriakku tanpa sadar karena kaget akan guncangan pesawat. Guncangan pun terhenti.
"Hehehe, Miku-chan kangen Kaito, 'ya? Padahal baru ditinggal lima menit." goda Len. Pipiku terasa panas. Mungkin sudah semerah tomat masak kali ya? Uhh, malu banget.
"Haha, Miku merona lagi tuh!" goda Gakupo.
"Urusai!" bentakku sambil meninggalkan kabin.
"Miku, jangan pergi! Bentar lagi kita sampai lho!" ucap Len sambil memegang lenganku.
"Tch!" aku mendecih sebal. Sebal karena tanpa sengaja meneriakkan nama Kaito.
"Hihihihi," kekeh Gakupo.
"Apa yang lucu?!" tanyaku sebal.
"Nggak." Gakupo menutup mulutnya.
NGINNGGGG...
Pesawatnya akan mendarat. Aku memegang tiang dan menelan ludah sambil membuka mulut untuk mengeluarkan dengungan di telingaku. Maklum, pengaruh tekanan udara.
"Yosh, kita sudah mendarat." seorang pria berambut cokelat muncul sambil melepas headphone-nya.
"Jo-san? Jadi, selama ini yang menerbangkan pesawat itu Jo-san?" tanyaku kaget.
"Tentunya. Kau pikir pesawat ini akan terbang dengan sendirinya?" jawab Jo-san datar.
"Maklumin dia, Jo-san. Dia lagi dibuat mabuk sama kecengannya." ucap Gakupo berniat menggodaku lebih lanjut lagi.
Aku menonjok lengannya. "Urusai!"
Aku turun dari pesawat sambil membawa senapan riffle di bahu. Aku menuruni tangga sambil mengangkat dagu dan berjalan seelite mungkin.
"Belaga juga si Miku-chan," ejek Jo-san di pintu pesawat. Jo-san menyikut dada Gakupo. "Kecengannya siapa?"
"Itu lho.. Yang doyan makan ice cream dan suka pakai syal kemana-mana..." jawab Gakupo sambil menaik-turunkan alisnya dengan cepat ke arahku.
"Oh, anaknya kaichou 'ya? Ka-"
Ucapan Jo-san terpotong ketika aku menodongkan revolverku.
"Teruskan maka kau akan kehilangan nyawamu! Kalian berdua juga!" ancamku.
"Ups, sepertinya kita menyulut sumbu yang salah." kata Len dengan suara horror. Keringat dingin mengucur di dahi mereka. Gakupo dan Jo-san mengangguk, menyetujui perkataan Len.
Aku masuk ke dalam camp, menunggu yang lainnya beres menurunkan bawaan. Tiba-tiba terdengar suara peluit ditiup, tanda kalau kita disuruh untuk berkumpul.
Aku berlari menuju lapang dan berdiri tegap di salah satu barisan. Di depan sana, seorang perwira dengan tampang sangar berdiri.
"Kita tak perlu berbasa-basi lagi. Seorang buronan sedang mengapung di angkasa dengan helikopter militer yang berhasil di bajak olehnya. Oleh karena itu, saya memanggil kalian, anak-anak muda berbakat, untuk membatu saya menangkapa cecunguk itu!" pidato si Oom-Oom sangar.
Aku menyodok perut Len dengan ujung riffle-ku dan yang disodok meringis.
"Apaan sih, Miku?" tanya Len berbisik.
"Kau yakin dia kapten kita?" balasku berbisik juga.
"Ya tentu saja, meskipun agak tulalit."
"Oh..."
"Maka susunan rencana kita seperti ini..."
Penjelasan si Oom-Oom sangar itu mesti dirahasiakan untuk membuat readers sekalian penasaran level siaga satu.
"Mengerti, semuanya?!" Oom-Oom sangar itu menyudahi pidato singkat (baca : panjangnya).
"Ha'i!" jawab kami kompak dan lantang.
"Masuk ke dalam ordinat masing-masing!"
Kami berpencar. Len dan Gakupo cabut ke helipad dan masuk ke dalam helikopter masing-masing. Sementara aku naik salah satu mobil dan menyiapkan riffleku. Tak perlu waktu lama, mobil yang kutumpangi langsung pergi menuju tempat sasaran.
.
.
.
(Len POV)
.
.
.
Begitu masuk ke dalam helikopter, aku langsung memakai headphone-ku dan menyalakan mesin. Aku mengaktifkan rotor baling-baling atas dan baling-baling belakang. Landing skits helikopterku mulai meninggalkan permukaan tanah. Aku masih mencoba menstabilkan baling-baling atas. Bisa bahaya kalau baling-baling miring berapa derajat saja, maka helikopter ini entah akan menukik ke tanah, bermanuver, atau bahkan melambung ke atas dan bermanuver sebelum meledak. Tak lupa, aku pun mengontrol balung-baling yang menancap pada ekor helikopter agar badan helikopter tak ikut berputar melawan baling-baling atas.
Helikopterku sudah sampai pada batas penerbangan. Aku mendorong tuas cyclic control yang berada di antara kakiku dan helikopter melesat maju. Dibelakangku Gakupo menyusul.
Radarku menujukkan bahwa helikopter yang dibajak oleh ketua Perserikatan Penyihir berjarak 100 kilometer. Aku sudah dalam batas kecepatan maksimal.
"Check, check, tower memanggil pilot MA-V2712A. Sebutkan identitas. Roger?" terdengar suara dari dalam headphoneku.
Aku mengarahkan microphone ke dekat mulutku dan berdehem pelan.
"Pilot MA-V2712A, V27122-KL. Roger!" jawabku sambil menggeser sedikit headphone untuk menutupi seluruh telingaku.
"Turunkan kecepatan dan terbang lebih rendah." perintah officer di seberang sana.
"Lho kenapa?! Jika saya menurunkan kecepatan dan terbang rendah maka saya akan melnggar rencana, 'kan?!"
"Perubahan rencana. Kau sudah terbang melenceng dan menjauhi target."
"Apa?!"
Menjauhi target? Apa maksudnya?
"Periksa radarmu, kadet!" suruh officer.
Aku melihat radarku dan aku langsung kaget.
"Bagaimana... mungkin?" gumamku.
Titik helikopter yang dibajak Ketua Perserikatan Penyihir berada dalam jarak 150 kilometer di belakangku!
"Dan ada dua buah berita. Berita baik dan berita buruk. Kau mau dengar yang mana dulu?" suara officer itu terdengar lagi.
"Jangan bercanda!"
"Baiklah, karena kau sedang marah akan kuberikan kau berita buruk dulu,"
"Kau hanya akan memperburuk suasana hatiku."
"Terserah kau saja," ucap officer itu. "Satu, helikopter dengan nomor seri pesawat MA-271231-B hilang kendali dan baru saja jatuh dan pilotnya, V31071-KG, menghilang entah kemana. Berita buruk kedua, kadet kita V1-HM310707 menjatuhkan rifflenya saat pemasangan di atas atap mobil. Sepertinya kita akan mengadakan strategi baru. Baru saja para kapten mengadakan rapat."
Aku memutar helikopterku dan suara noise pun terdengar.
"Kadet, aku tak menyuruhmu untuk berputar! Kembali ke posisi semula!" suara officer itu terdengar marah.
"Ha'i!" jawabku agak takut. Bisa diapain aku sama officer itu kalau aku melanggar. Bisa-bisa aku dilempar rudal kendali dari sana. Hiii...
"Lalu, Pak Officer, apa berita baiknya?" tanyaku penasaran.
"Oh itu, kurasa kau nggak mau dengar." jawabnya. Officer itu terdengar cekikian.
"Jika berita buruk saja kudengar kenapa aku harus menolak berita baik?"
"Kalau begitu, aku dengar kau diterima sebagai cosplayer Tsunemori Akane dari fandom Psycho-Pass-"
Suara officer itu terputus karena aku mematikan headphoneku.
"Kupikir berita baiknya berguna ternyata tidak begitu berguna!" aku mendumel.
Aku terbang sangat rendah. Aku sudah masuk dalam kawasan hutan dan menunggu helikopter yang dibajak Ketua Perserikatan Penyihir melintas di atasku.
"Hei, pilot idiot!"
Apa bagaimana mungkin? Aku telah menon-aktifkan headphoneku lalu darimana sumber suara officer itu?
"Check, check, tower disini! Pilot V-27122-KL, apa kau bisa dengar aku?! Roger!"
"Re-receive! Pilot V-27122-KL, si-siap menerima perintah!"
"Idiot sekali, kadet! Kenapa kau malah terbang rendah-ralat- bersembunyi disitu?! Bukankah dalam perintah kau disuruh mengejar helikopter tersangka dan membawanya untuk dieksekusi oleh Kadet V1-HM310707? Kenapa kau keluar dari rencana, kadet!"
"Bukannya tadi anda bilang untuk menurunkan kecepatan dan terbang serendah mungkin?!"
"Tidak! Aku tidak ada menyuruhmu melakukan itu! Kembali ke rencana! Sebelum Kapten melihatmu!"
Ada apa ini? pikirku.
"Cepat lakukan Len-kun! Sebelum terjadi Time Slip lagi dan kau akan diteleportasi'kan oleh Kami-sama lagi! Ayo, Len-kun!" sebuah suara. Suara seorang gadis yang rasanya sudah tak asing lagi di telingaku. Suara yang sangat familiar. Suara...
"Gumi-chan?" gumamku.
"Heh, kubilang padamu untuk mengejar helikopter itu bukannya menggumamkan nama kekasihmu! Cepat!"
"Ha-Ha'i!" aku menaikkan sedikit demi sedikit tuas Collective Control yang berada di sebelah kiriku dan lalu mendorong perlahan tuas Cyclic Control yang berdiri di antara kakiku.
Jadi, barusan aku kenap Time Slip? Kupikir yang begituan cuma isapan jempol belaka. Sekarang aku harus menarik pemikiranku dan menyatakan bahwa Time Slip itu benar adanya.
Soal suara Gumi yang entah dari mana muncul itu masih aku pertanyakan. Biarlah, untuk sementara aku akan berfokus pada tugas. Masalah itu mungkin nanti bisa kupikirkan. Karena kemungkinan terbesar, sekarang aku punya indera keenam...
Aku bisa bertelepati dengan arwah...
.
.
.
Aku benar-benar berpikir soal aku bisa berbicara dengan arwah. Ini bisa dibuktikan dengan suara-suara Gumi atau suara cewek lain yang menjerit meminta kebebasan kematian mereka.
'Aku akan membantu kalian tapi bisakah kalian memberitahuku siapa 'Kami-sama' yang kalian maksud?' balas dalam bentuk telepati.
'Tidak bisa, Len-kun. Kami tak mau jiwa kami tersiksa lebih dari ini.' jawab salah satu dari mereka.
'Kami telah memberikan petunjuk pada kalian.' kata Gumi.
'Petunjuk? Yang mana?'
Aku berada sejajar dengan pesawat yang dibajak ketua Perserikatan Penyihir.
"Check, check, disini pilot helikopter MA-271231-B, kadet V31071-KG. Apa kau mendengarku? Ganti."
Itu suara si maniak terong, Kamui Gakupo.
"Receive. Disini V27122-KL. Iye, gue denger. Ada apaan?" jawabku dengan bahasa santai ala samurai terong itu.
"Ehem." peringat Officer dengan cara berdehem dari microphone di tower sana.
"Ya, iya, ulangi jawaban," aku berdehem sambil membetulkan letak microphone di dekat mulutku. "RECEIVE! DISINI KADET V27122-KL, SIAP MENERIMA PERINTAH!"
"NGGAK USAH TERIAK JUGA KALI!" balas Gakupo berteriak.
"Kalian berdua, lihat saja jika kalian sampai lagi di helipad markas." suara Officer terdengar mengancam.
Kami berdua diam, hanya ada noise standar terdengar di telingaku. "Jadi, ada apa, BaKamui?"
"Berita buruk,"
"Eh?"
"Helikopter itu tak berawak."
"E-eh?"
"Kita mengejar helikopter yang salah dan officer salah memberi koordinat."
"E-e-eh?"
"Kita terbang ke utara sementara helikopter yang dibajak sudah jatuh di pantai tapi puing helikopter itu tak ditemukan."
"Eeeh?"
"Jangan 'eh-eh-eh'-an doang! Kita harus buru-buru kembali ke markas dan membantu BaKaito dan Rin-chan!"
"Sasaran terlihat. Izin menembak. Pilot helikopter MA-V2712A dan MA-271231-B diharap keluar dari sasaran tembak."
Itu suara Miku!
"Miku kau akan menembak helikopter yang salah!" cegahku sambil menstabilkan frekuensi sambungan Miku yang lemah. "Batalkan tembakan. ABORT IT! ABORT IT!"
"Aku melakukan tindakan sesuai rencana Len-kun. Minggirlah dan perintah kutolak."
DOOOR! Suara tembakan dari rifle Miku membuatku dan Gakupo memundurkan helikopter masing-masing untuk menghindari ledakan helikopter yang telah ditembak Miku.
Helikopter pun meledak.
"Miku, kau melakukan kesalahan!" ucapku pada Miku yang terdengar tengah menyiapkan peluru baru.
'Tidak, Miku-san tidak salah menembak. Mata kalian telah ditutupi ilusi yang dibuat Kami-sama untuk mengecoh mereka. Sekarang ini salah satu teman kami sedang mencoba menyadarkan Zeiko.' kata seorang cewek.
Betul kata arwah cewek itu. Aku harus menarik ucapanku. Diantara puing-puing kecil helikopter yang menghujani helikopterku, aku melihat sesosok wanita berjubah hitam yang sedang terjun dengan parasut.
"Miku tembak parasut yang ada diarah jam 12!" perintahku.
"Jam 12 dari arahku atau dari arahmu?!"
"Dari arahku! Cepat!"
"Tidak bisa, aku tak punya peluru standar! Aku pakai peluru anti-tank!"
Sial!
"Gakupo! Bisa dengar aku?!" ucapku sambil mengganti gelombang dan menstabilkannya.
"Diterima. Aku sudah tahu!"
Gakupo terbang ke atas helikopterku dan melemparkan sebuah cakram yang langsung menempel di atas cakram penumpu baling-baling atas.
Aku mengambil pistolku dan perlahan turun dari kokpit helikopter.
TEP! Kakiku berhasil menginjak landing skits. Angin yang berhembus sangat kencang. Aku menarik pistol dari sakuku dan mengarahkannya pada parasut wanita berjubah hitam. Sambil menunggu parasut itu berada sejajar dengan posisiku. Angin berhembus semakin kencang. Aku bergetar. Sejujurnya, aku sangat takut berdiri berpegangan satu tangan pada besi dekat pintu kokpit.
Helikopterku bergoyang.
Parasut itu sejajar denganku. Aku menarik pelatuk pistolku...
dan tak terjadi apa-apa.
Aku membuka kamar peluru pistolku dan menemukan magazennya kosong! Aku melemparkan pistol tersebut.
Sial!
Parasut itu tak jauh dariku mungkin cuma sekitar 3-4 meteran. Aku menelan ludahku lalu melepas peganganku dan melompat ke parasut itu.
Jantungku masih berdebar-debar justru saat ini berdebar sangat keras sampai-sampai aku bisa merasakannya. Posisi kami berdua saat ini hampir sama dengan posisi terjun bebas. Aku yang sengaja melilitkan tanganku pada tali pengikat parasut membuat parasut sedikit mengatup.
"Lepaskan tanganmu dari parasutku dan mati sana!" teriak cewek itu.
Rambutnya pendek berwarna hitam dengan potongan rambut nyaris sama dengan Kaito.
"Zeiko!" tebakku.
Ikatan rambutku terlepas. Rambutku mulai menghalangi pendengaranku. Aku berniat memotongnya nanti.
"Kau siapa, hah?! Ayo lepaskan tanganmu!"
Jarak kami dengan tanah tinggal sedikit lagi.
Bukan, bukan tanah. Melainkan lumpur! Landasan empuk!
BRUKKK! Nyaris saja kami tenggelam di kubangan lumpur kalau saja aku tak cekatan menarik habis tali parasut dan melingkarkannya ke tubuh kami.
Saat ini posisi Zeiko berada di atasku dan kami tak bisa banyak bergerak karena dibelit parasut.
"Gara-gara kau, dasar brengsek!" umpat Zeiko sambil menendangi parasut di atasnya.
'Bunuh dia, Len-kun.' suara Gumi kembali terdengar.
'Mana mungkin!'
'Ancam dia maka dia akan memberikan petunjuk tentang akhir kasus ini.'
Aku menelan ludahku.
"Kau anggota Perserikatan Penyihir'kan?" tanyaku dengan nada normal.
"Jangan sok tahu 'ya! Bisa kukirim santet kau habis ini!"
"Mengaku sajalah atau aku membunuhmu!" nada bicaraku mulai mengancam. "Siapa Kami-sama yang kalian maksud?"
"Aku tak bisa memberitahumu!"
"Beritahu aku atau aku akan membunuhmu!"
"Kau mengancamku?! Aku ini immortal, kau tahu!"
"Kau pikir dirimu ini makhluk supernatural?! Kau ini cuma manusia yang dihipnotis-ralat-dibodohi oleh seorang wanita penganut aliran sesat!"
Zeiko tersentak kaget. Dia membalikkan badannya dan menatapku tajam. Sorot matanya begitu menusuk dan tubuhnya mengeluarkan aura hitam di antara cahaya orange akibat sinar matahari berkolaborasi dengan warna parasut.
"Kau. Jangan. Macam. Macam." Zeiko menekan setiap kata dalam kalimatnya sambil menunjuk-nunjuk di depan hidungku.
"Ha," aku menyeringai. Aku menunjuk hidung Zeiko seolah hidung Zeikolah yang bersalah. Aku menunjuk hidung Zeiko sampai-sampai jari telunjuk dan jari tengahku nyungsep ke dalam lubang hidungnya. "Kau pikir kami bodoh! Tinggal kau lah yang masih hidup, Shion."
Zeiko menarik tanganku supaya jariku keluar dari lubang hidungnya. "Kampret! Kenapa hidung gue make disumbat segala?!"
"Sorry, kelewatan. Tadinya mau nyolok mata cuma nanti ganti genre fic-nya!"
PLAK! Zeiko menamparku lumayan keras.
Aku tidak terima dan balas menampar. Zeiko menyiapkan tangannya untuk menamparku. Aku dapat ide.
"Stop! Katakan-"
"Mau ngomong 'Stop katakan tidak pada korupsi' 'kan?" potong Zeiko. "Yang ternyata iklan tersebut hanya HOAX belaka? Huh, busuk banget!"
(Readers : woy, udah OOT parah banget!
Author : Gomenasai m(_ _)m *sujud-sujud* pengaruh ujian..)
"Gue bilang biarkan gue nebak siapa Kami-sama yang kalian maksud,"
"Ho, tebaklah kalau bisa."
Aku mengeluarkan belasan lembar foto.
"Yowane Haku,"
Zeiko menggeleng.
"Hirane Tekuno,"
Zeiko menggeleng kembali.
"Megpoid Gumi,"
'Hei!' protes Gumi.
"Nekomura Iroha,"
"SonIka,"
"Megurine Luka,"
"Furukawa Miki,"
"Megurine Luki,"
"Kokone,"
"Kiku Juon,"
"Shion Zeiko,"
"Heh! Sudah jelas bukan aku masih ditebak!" protes Zeiko.
"Shion Zeito,"
"Heh, abang gue nggak mungin jadi anggota Perserikatan!" protesnya lagi.
Aku kehabisan foto dan nama.
"Terus siapa dong?"
Dia tertawa.
"Kau mau tahu?"
"Jelaslah! Biar aku bisa istirahat setelah ini! Laper tahu empat hari nggak makan!" aku justru curcol. Kurasa otakku mulai konslet...
"Baiklah, aku akan memberitahu jawabannya. Sebenarnya, aku nggak boleh memberitahukannya tapi aku nggak bisa..."
Zeiko menundukkan kepalanya dan terdengar isakan.
"Zeiko?" panggilku.
Mata bloody red Zeiko menatapku sedih. "Aku tak mau jiwa terus disiksa disana."
''Kan sudah bilang,' Gumi angkat bicara lagi namun tak ditanggapi apa-apa olehku.
"Dia selalu ada di setiap kecelakaan misterius.. Menggunakan bando kelinci dan bawa boneka kelinci. Kau pernah bertemu dengannya kok,"
"Bando kelinci?"
Aku mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah mengenakan bando kelinci.
Bukan! Yang jelas bukan Rin! Memang pita Rin sengaja dibentuk mirip telinga kelinci meskipun kelebaran...
Gah, aku benci memory ini! Kenapa bisa butut banget sih! Ayo dong, inget!
Tiba-tiba semuanya menggelap. Aku mencium bau amis dan cairan hangat kental mengalir di wajahku.
Aku semakin tenggelam ke dalam lumpur. Napasku semakin pendek dan udara disini sangat panas. Belum lagi Zeiko yang ketiduran di atasku.
"Zeiko," panggilku sambil mengguncang tubuhnya. "Zeiko, Shion Zeiko!"
Aku mengangkat tubuhku dan kepalaku langsung terantuk sesuatu. Aku mencium bau terbakar. Aku mengeluarkan pisau lipatku dan merobek parasut. Sesuatu menutupi parasut. Aku mengangkat benda tersebut dan ternyata itu adalah puing helikopter!
Bagaimana bisa?
Tempat meledaknya helikopter Zeiko berada 2 kilometer dari tempatku sekarang dan puing helikopter tak seringan bulu sampai-sampai bisa dibawa angin kesini!
Aku menarik kaki Zeiko dan menemukan kepala Zeiko nyaris terpisah dari badannya.
Aku menelan ludahku dalam-dalam. Aku melepas kaki Zeiko dan menyeret diriku keluar dari kubangan lumpur. Aku tak peduli bahwa sekarang aku telah dipenuhi lumpur. Tiba-tiba benda besar yang terbuat dari besi dan logam lainnya jatuh menghantam kubangan lumpur di depanku. Besi itu mengeluarkan api.
'Celaka!' teriakku dalam hati.
Aku berlari secepat yang aku bisa.
BUUUMMMM!
Kubangan itu memuncratkan lumpur-lumpurnya sampai mengenaiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
'Zeiko...' gumamku.
'Sudah menjadi takdirnya, Len-kun. Dia akan bergabung bersama kita,' Gumi berbicara.
'Gumi-chan,' jawabku lewat telepati. 'Bisakah kalian, para arwah, memberi kami petunjuk lain?'
'Kaito-kun dan Rin-san telah menemukan semuanya.'
'Termasuk Kami-sama?'
'Gakupo-kun dan Miku-san akan menemukannya. Len-kun berhati-hatilah,' pesan Gumi. 'Aku akan berhenti menggangguimu. Sayonara.'
Gumi menampak dirinya sekejap bersama Iroha, Sonika, Zeiko dan Luka menampakkan diri mereka dalam bentuk arwah sekejap. Mereka perlahan menghilang seiring angin yang berhembus menerbangkan beberapa helai daun yang langsung menempel di tubuhku yang lengket oleh lumpur.
"Kalian korban yang tak salah apa-apa," ucapku.
Aku dapat sebuah clue lagi.
Bando kelinci.
.
.
.
(Rin POV)
.
.
.
"Kita sudah dapat beberapa petunjuk." kata Kaito sambil menyetir.
"Ya, iya, cuma potongan tubuh di dalam tumpukan kelopak bunga cherry dan empat pemakaman tak bernama di Taman Senbonzakura." jawabku.
"Sekarang kita pergi kemana?"
"Ke tujuan awal kita. Ke lapas yang dipimpin ayahmu."
"Baiklah."
Selama perjalanan menuju lapas, Kaito tak buka mulut sama sekali. Orang yang biasanya jadi radio rusak itu kini diam seribu bahasa. Dahinya mengkerut, dia menggigit bibir bawahnya, dan jarinya mengetuk-ngetuk kemudi di depannya.
"Hei, tenanglah," ucapku.
"..."
"Kaito."
"..."
"Huffttt," aku menghela napasku. Kaito saja setegang ini.
"Kaito~" panggilku sambil menyikut perutnya.
"Apa?!" Kaito justru membalas dengan suara nyaris berteriak.
"Aku hanya memintamu untuk tenang, oke?"
"Aku tak bisa tenang di saat-saat seperti ini. Aku merasa tidak enak perasaan."
"Maksudnya?"
"Daritadi aku terus berbicara dengan arwah terduga kita, dia yang terus membimbing kita. Kau memangnya tidak bisa melihatnya?"
"Sejak kapan kau bisa 'lihat'?"
"Sejak kita berpisah dengan BaKamui dan Micchan."
"Siapa yang kau lihat?"
"Nekomura dan Masuda."
"Masuda? Masuda Lily maksudmu?!"
"Yup. Dia korban tak bersalah," jawab Kaito. "Memangnya kau tak bisa mengobrol dengan mereka? Mereka bilang, mereka sedang membantu kita untuk menyelesaikan kasus dan semua anggota kita bisa bertelepati dengan mereka."
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Semua ini berhubungan dengan kejadian supernatural.
Coba pikirkan kasus mediang Yuki-chan.
Kata kuncinya disini adalah...
1. Yuki-chan
2. Len
3. Misteri
4. Mobil
5. Kecelakaan
6. Tak bisa mendengar
Pikiranku teralihkan oleh sebuah plang selebar dua meter berdiri di samping jalan.
'Get the sale! You not in illusion!' aku membaca tulisan di spanduk itu.
Aku memusatkan pikiranku kembali. Aku mengingat-ingat pengakuan Len saat jam istirahat sekolah 4 hari yang lalu.
'Anehnya aku berada di sisi jalan sementara Yuki-chan ada di tengah jalan.."
Ingatanku terus mundur...
'Aku merasa ditabrak oleh truk padahal saat itu tak ada truk dan gang tersebut tak mungkin dilewati gang...'
Terus mundur...
'Yuki-chan tidak bisa mendengarku dan terus mengulang pertanyaan...'
"ILUSI!" teriakku. Kaito tersentak kaget dan memencet klakson tanpa sengaja.
"Hei, kau itu kenapa sih?!" tanya Kaito kesal.
"Ini semua ilusi! Hanya ilusi yang dibuat 'Kami-sama' untuk mengecoh kita!"
"Ilusi?" Kaito menaruh punggung tangannya dijidatku tanpa melepas pandangannya dari jalan. "Kau baik-baik saja, 'kan?"
Aku menepis tangan Kaito. "Coba ingat-ingat pernyataan Len tentang kecelakaan Yuki-chan saat rapat di rumah Miku,"
Kaito mengernyit dahi, mencoba untuk mengingat-ingat.
"Bagiku, itu mungkin cerita yang dibumbui oleh Len." kata Kaito.
Aku meninju pelan lengan Kaito. "Awalnya juga aku pikir begitu tapi coba sambungkan dengan kecelakaan dan kejadian-kejadian selama kita menyelidiki kasus ini!?"
Kaito berpikir kembali lalu beberapa detik kemudian dia menjentikkan jarinya.
"Kau benar!" balas Kaito.
"Sekarang-"
"Kita harus pergi ke CCTV Center!"
Kaito memutar mobilnya dan menambah kecepatan.
.
.
.
.
Kaito memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko yang jaraknya berbeda satu blok dengan CCTV Center.
"Kenapa kita nggak parkir di sana aja sih?" tanyaku karena kesal harus berjalan jauh lagi.
"Ayolah, Rin. Kita cuma jalan sekitar 300 meteran, masa' kau capek dengan hal seperti itu. Sebenarnya, alasan utamanya adalah karena CCTV Center bukanlah toko CCTV biasa, di balik lantai itu CCTV Center merupakan pusat perekaman terbesar di seluruh Jepang."
"Kalau seperti itu ceritanya, kenapa kau tak pulang, mengambil laptop-mu, dan mengambil datanya?"
"Masalahnya mereka tak punya website atau link yang bisa menghubungkan kita dengan mereka. Mereka satunya-satunya instansi di Jepang yang belum kususupi."
"Mereka itu kudet atau gimana sih? Di abad 21 seperti ini masa' nggak punya website," ucapku tak habis pikir dengan instansi yang satu itu. "Pegawai mereka pasti punya e-mail, 'kan?"
"Hoho, berharap saja seperti itu. Masalahnya, CCTV Center melakukan pekerjaannya dengan bantuan robot dan segala sesuatunya di sana dikerjakan otomatis oleh mesin," jawab Kaito dengan nada bicara senang.
"Kenapa kau senang begitu?"
"Kalau segala sesuatunya dikerjakan otomatis dengan satu perintah berarti kita akan mudah masuk ke sana."
"Caranya?"
Kaito menyeringai sambil mengeluarkan tablet PC dari balik jaketnya.
"Sejak kapan kau punya benda seperti itu?" tanyaku yang pada dasarnya sedikit iri itu.
Tablet itu terlihat tebal. Kaito menarik bagian bawah tab itu yang ternyata adalah sebuah keyboard itu.
Hal itu semakin membuatku iri.
Kaito menyalakan benda tersebut dan mengetikkan password untuk membuka kunci keamanannya.
Di layar benda tersebut hanya ada dua icon.
1. Browser
2. OSU!
'Dia beli tab secanggih ini cuma buat surfing di internet sama main OSU! ?!' teriakku dalam hati.
"Ayo, Rin. Kita masuk ke sana."
Kaito memasukkan tablet tersebut ke dalam jaketnya dan berlari menuju CCTV Center. Sesampainya disana, Kaito mengeluarkan tablet-nya kembali dan membisikiku rencananya.
'Kau masuk ke sana layaknya seorang pembeli. Kau pergi ke bagian dalam toko yang bebas dari drone dan matikan sumber listriknya dengan cara menarik tuas besar disana. Dengan matinya listrik maka drone-drone tersebut akan ikut mati karena mereka bergerak dari sumber cahaya.' bisiknya.
"Baiklah, aku mengerti."
"Begitu tokonya mati, biar aku masuk dan melanjutkan rencana selanjutnya. Aku akan mencoba mengambil alih CCTV toko."
"Siap, Kapten!"
Aku kembali ke pintu depan. Aku meratakan poniku yang tak dijepit agar menutupi wajahku.
"Selamat datang!" kata robot android yang berdiri di depan meja. "Bisa saya bantu?"
"Saya mencari CCTV yang lensanya di bawah satu mm," jawabku pura-pura memesan.
"Tunggu sebentar. Biar saya carikan di gudang. Nona bisa melihat-lihat kamera di seluruh toko ini. Saya tinggal dulu, Nona." robot itu pun pergi ke gudang dengan kaki-kaki robotnya. Jalannya agak meluncur. Robot tersebut seperti sedang ice skating.
Aku berjalan masuk lebih ke dalam toko. Deretan etalase-etalase berisi kamera CCTV itu membuatku terpana sampai-sampai aku menempelkan wajahku di kaca etalase saking sukanya.
Ponselku bergetar sebentar. Itu sinyal dari Kaito.
Aku langsung berlari, mencari-cari sumber daya toko ini. Entah di koridor berapa, aku menemukan belasan tuas pengendali sumber daya. Dengan cepat aku menarik tuas-tuas itu. Satu per satu sumber daya mati. Lorong-lorong menjadi gelap dan drone-drone yang sedang menjaga toko mati.
Aku menarik ponselku dalam saku rok dan menekan beberapa kombinasi angka untuk menelepon Kaito.
"Aku telah mematikan sumber dayanya." ucapku begitu panggilan terhubung.
"Baiklah, aku akan masuk ke dalam."
Panggilan pun terputus.
Baru saja aku mau menyimpan ponselku, ponselku pun berdering kembali.
[Private Number]
Aku menekan tombol hijau dan menempelkan kembali ponselku ke telinga.
"Moshimoshi?" sapaku.
"Jangan matikan sumber dayanya. Jika mau minta video kau bisa bilang padaku, 'kan?"
Ini'kan suaranya...
"Piko?" tebakku.
"Masih mengingatku 'ya, Rin?"
"Ha, tentunya saja. Bagaimana mungkin aku melupakan orang yang lebih shota dari Len."
"Geeez, pasti begitu."
Aku tertawa. "Maaf deh, maaf."
"Nah, aku akan menunjukkanmu jalan menuju tempat perekaman CCTV-ku asal kau hidup 'kan kembali sumber daya tokoku."
"Serius?" tanyaku memastikan.
"Memangnya aku pernah berbohong padamu?" jawabnya.
"Nggak sih," balasku sambil menggaruk kepala belakangku yang gatal karena keringatan (author : hahahahaha, gk mainstream, 'kan? (_)). "Baiklah, baiklah, akan kunyalakan."
"Arigatou. Begitu listriknya nyala aku akan menjemputmu ke atas. Tetap disitu, 'ya."
Percakapanku dengan Piko pun terputus.
Baru aku mau menaikkan tuas yang pertama, tanganku langsung dikepret oleh seseorang. Keras pula!
"Apa-apaan, sih?" tanyaku kesal.
"Kau mau keluar dari rencana?"
Itu suara Kaito!
Aku menyorotkan layar ponselku ke wajah Kaito. Kaito menutupi wajahnya dengan sebelah tangan tapi matanya tetap menyipit karena silau.
"Kita bisa masuk ke sana secara legal karena aku tahu siapa orang yang bekerja di balik toko ini." kataku.
Aku menyeringai dan Kaito menukikkan alisnya membuat dahinya bekerut.
Aku menaikkan semua tuas dan lampu-lampu juga drone-drone menyala kembali.
"Makasih, Rin-chan~" kata Piko yang muncul tiba-tiba. Ahoge-nya bergoyang ketika dia muncul dengan cara meloncat entah darimana.
"Piko!" teriakku sambil berlari memeluknya erat. "Lama nggak ketemu!"
"Hahaha, i-iya. Le-lepasin dong! Aku nggak napas." Piko megap-megap tanpa balas memelukku.
Kaito berdiri di sampingku. "Ini Shion Kaito, putera dari pimpinan kepolisian bagian kasus kejahatan cabang Crypton. Kaito, ini Utatane Piko."
Mereka berdua berjabat tangan.
"Kau shota seperti Len, 'ya." Kaito menyampaikan kesan pertamanya secara blak-blakan, dengan senyum pula.
"Hahaha," Piko tertawa getir. Tak suka disebut shota. (author : Kamu memang imut kok. Lebih imut dari Len malah. *digantung ditiang bendera pake USB*)
"Ehem," aku berdehem. "Kaito, aku tahu sepupuku ini memang kelewat shota dan kau mulai mengembangkan rasa tapi bisakah kita langsung ke ruang penyimpanan? Kita masih dikejar waktu."
BLETAK! Aku dapet jitakan gratis tanpa aba-aba dari Kaito dan Piko.
"Gue masih normal!" teriak Piko dan Kaito berbarengan.
"Cie, cie," aku menyikut perut Kaito dan Piko. "Ngomongnya kompakan. Oh Kaito! Kalau kamu sama Piko terus gimana nasib Miku? Kau poligami?"
BLETAK! Aku dijitak lagi. Aku membalas jitakannya.
"Sudah, sudah. Kita masuk ke penyimpanan video." pisah Piko.
Kaito membalikkan badannya dan berjalan mundur mengkutiku.
JDUG! Ada suara benda terbentur sesaat setelah pintu portable yang baru tertutup.
"Suara apaan tuh?!" tanyaku pada Piko.
"Eh, Shion dimana?" Piko justru balik bertanya.
"Pintunya ketutup lagi, tuh!"
"Eh? Jangan-jangan ketinggalan!"
Ada guncangan sedikit tanda lift siap turun. Piko menekan sebuah tombol dan menahannya. "Rin, tolong tahan tombol ini."
"Baik!" aku langsung mengambil alih posisi jari Piko.
Piko menekan tombol lain. Sebuah layar berukuran 10 inci muncul.
[Input code]
Piko menekan tombol-tombol dilayar touchscreen itu, mengetikkan sebuah kombinasi angka dan huruf (juga simbol). Pintu pun terbuka kembali.
"Ah, akhirnya terbuka juga." Kaito menghela napas lega sambil mencoba menyembunyikan tab canggihnya tapi gagal karena kabel data yang masih tersambung dengan layar touchscreen yang mirip dengan ada yang di depanku.
Piko menatap Kaito tajam. Kaito salah tingkah dan buru-buru mencabut port kabel datanya sambil senyum-senyum nggak jelas dan garuk-garuk ke belakang.
Piko keluar dari lift.
"Kalau mau masuk, ketikkan kodenya ini." kata Piko sambil memberi Kaito sebuah kode.
"Oh.." jawab Kaito. "Eh, kenapa kau enak begitu memberiku kode keamanan seperti ini?"
"Kode ini hanya berlaku hari ini. Besok ganti lagi." jawab Piko.
Aku berdehem lagi dan memasang wajah bosan dan kesal.
"Bisa lebih cepat?" tanyaku sambil mengetuk-ngetuk kakiku ke lantai lift.
Piko dan Kaito nyengir.
Mereka berdua masuk. Aku melepas jariku dari tombol tahan itu. Lift berguncang dan membawa kami turun perlahan.
Beberapa detik kemudian, pintu lift kembali terbuka dan menampilkan jejeran televisi ukuran 12 inch berwarna.
"Selamat datang di surgaku." sambut Piko setelah keluar dari lift. Kami ikut keluar dan langsung terpana, terutama Kaito. Kaito langsung meraba-raba sakunya yang terdapat tab.
"Ini video yang kalian cari." Piko datang kembali dengan sebuah keranjang berisi video tape. " Ini video tentang kecelakaan misterius selama 4 hari terakhir."
"Lho, tahu darimana kita mencari tahu video itu?" tanyaku kaget.
"Kemarin ada banyak polisi datang kesini. Mereka mencari video-video tentang kecelakaan misterius. Yah, kupikir kalian pun mencari video yang sama."
Aku tak bisa menjawab apapun begitu pun dengan Kaito.
"Nah, pemutar videonya ada di sana. Mungkin pemutarnya nyala semua. Aku tinggal dulu."
Piko kembali ke lift dan pergi.
"Ayo, Rin!" ajak Kaito sambil mengangkat keranjang. "Hufft, berat banget. PikoShota itu kuat sekali mengangkatnya!"
"Heh, kau bilang apa, Shion?"
"Suara darimana itu?" tanyaku.
"Itu pasti intercom. Ayo, Rin! Berat nih!"
"Ah, baik!"
Aku mengekor di belakang Kaito menuju ruangan untuk menonton video tape ini.
"Akhirnya, sampai juga." Kaito menaruh keranjangan itu dengan (sedikit) bantingan lalu menyusut keringat di wajahnya.
Aku mengaktifkan semua video tape player itu dengan televisi-televisinya. Aku memilih beberapa video tape begitu juga dengan Kaito. Aku memasukkan video tape-video tape tersebut ke dalam masing-masing player. Aku mengambil universal remote di ujung meja.
Aku menatap Kaito dan Kaito tak menatapku. Dia justru menatap televisi-televisi di depannya dengan tatapan 'kapan-mulainya?' Huh, padahal aku mau membuat suasana ini seserius mungkin. Mungkin aku berharap pada orang yang salah.
Aku menekan tombol play dan secara serentak video-video itu terputar di televisi.
"Aku video 1 sampai 25. Kau video 26 sampai 55." perintah Kaito.
"Loh, kok aku lebih banyak?!" protesku.
"Kau 'kan punya Magic Eye. Mata yang bisa memindai dengan cepat." jawab Kaito.
"Huh, baiklah."
Aku langsung mengalihkan perhatianku pada video-video yang terputar.
Ada banyak sekali kecelakaan misterius yang sama persis dengan kejadian Yuki-chan. Belum lagi kasus-kasusserangan jantung serentak yang mirip dengan salah satu anime dengan karakter utama 'Light Yagami' itu. Ada lagi, para gelandangan yang tiba-tiba ditemukan sekarat di samping gereja tua di bilangan Crypton Square.
"Rin, stop videonya!" suruh Kaito tiba-tiba.
Aku langsung menekan tombol 'Pause' pada remote universal yang otamatis menjeda seluruh video.
Kaito mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang ternyata adalah sebuah marker.
"Kaito jangan! Nanti Piko marah!" larangku sambil menarik marker itu dari tangan Kaito.
"Rin, coba lihat apa yang telah kutandai!" balasnya. Aku memperhatikan layar-layar yang ditandai Kaito. Aku menyipitkan mataku untuk melihat apa yang ditandai Kaito. Aku terperanjat. Napasku langsung memburu dan tubuhku bergetar.
"Itu.. bu-bukan ki-kita, ka... 'kan?" aku tergagap.
Kaito menghelas napasnya.
"Itu aksi-aksi kita selama 4 hari ini." jawab Kaito bergetar.
Tiba-tiba ponsel kami berdering bersamaan.
.
.
.
(Normal POV)
Len masih menstabilkan helikopternya.
Gakupo sudah kembali ke helipad markas udara di Minato, Tokyo.
Miku sedang membereskan rifle kesayangannya dan sedang dalam perjalanan kembali ke markas.
Rin masing cengo dengan video yang ditandai Kaito sementara kawan berambut birunya sedang menenangkan diri.
.
.
.
Disaat yang bersamaan, di tempat yang berbeda...
Handphone Miku, Rin, Len, Kaito, dan Gakupo berbunyi.
Disaat yang bersamaan pula, mereka mengangkat panggilan dengan ID pemanggil dirahasiakan.
"Kami dari Interpol." kata orang diseberang sana.
'Interpol?' batin mereka mengatakan hal yang sama.
"Interpol?" akhirnya Len-lah yang menyuarakan batinnya.
"Ini mengenai kasus yang sedang kalian tangani. Kami akan menunggu kalian di conversation hall Hotel ***** hari ini, dua jam lagi."
"Baik!" jawab mereka serentak.
.
.
.
Kaito dan Rin saling bertatapan. Pikiran mereka mulai dijajah oleh kemungkinan-kemungkinan buruk.
"Jangan katakan," Rin menjeda kalimatnya sambil menarik sebuah kursi untuk diduduki. "Kalau kita jadi tersangka dalam kasus ini..."
"Mana aku tahu!" bentak Kaito. "Ini semua gara-gara-"
"Kau tak bisa menyalahkan Len!" teriak Rin membela Len. "Bukankah dari awal Len sudah bilang kalau dia akan menyelesaikan kasus ini sendiri?! Kau justru ikut-ikutan! Kau tak bisa menyalahkan Len!"
.
.
.
Gakupo masih berdiam diri di kokpit. Masih menstabilkan napas.
"Interpol memanggil kami? Untuk apa?!" gumamnya.
"Bodohnya aku mau ikut-ikutan dalam kasus ini! Kasus ini bahkan sampai harus ditangani oleh Interpol!" lanjutku masih bergumam sambil memukul jendela kokpit.
.
.
.
Setelah dihubungi oleh pihak Interpol, Len berubah gusar. Dia menggigit sudut bibirnya (sampai berdarah). Kekhawatiran dan katakutan menguasai diri Len.
'Ini salahku!' pikirnya. 'Coba saja aku tak melibatkan teman-temanku!'
Interpol saja sudah turun tangan. Berarti kasus kecelakaan misterius ini sudah menjadi perhatian seluruh Jepang, 'kan? Kasus kecil tapi karena Len memberitahukan pada kepolisian, hal ini menjadi kehebohan raksasa.
Mungkin saja saat itu aku cuma melamun dan merasa bahwa aku membonceng Yuki, ditabrak truk dan tiba-tiba muncul di Jalan Besar Tenshi!
Len tertawa. Tertawa seperti orang kurang waras. Dia tak peduli bahwa helikopternya perlahan-lahan turun.
Dia berhasil menguasai dirinya lagi. Dia menaikkan helikopternya lagi dan mencoba berpikir secara jernih.
Kecelakaan itu benar-benar terjadi!
Batin Len bertengkar. Batin Len memperebutkan kenyataan yang sesungguhannya agar sang pemilik batin bisa sedikit lebih tenang.
Len memfokuskan pikirannya lagi.
'Untuk sementara, aku harus kembali ke helipad di markas dengan selamat.' pikir Len.
.
.
.
Pikiran Miku tentang Interpol belum bisa dihilangkan. Dia masih bertanya-tanya alasan kenapa dia bisa dipanggil (pikiran yang sama seperti empat temannya yang lain).
"Bisakah kita langsung pergi ke Hotel ******?" tanya Miku pada Jo-san yang menyetir di depan.
"Eh? Dengan mobil off road ini?" Jo-san terdengar kaget (memang kaget kok).
"Kalau Jo-san bisa merubah mobil ini menjadi Ferrari, silahkan saja." jawab Miku polos. Jo-san mendengus dan Miku nyengir tanpa dosa di belakang.
"Telepon itu dari siapa?" tanya Jo-san pada Miku.
"Interpol." jawab Miku sedikit memelankan suaranya.
"I-Interpol?"
Miku mengangguk (Jo-san bisa melihat gadis tosca itu lewat spion dalam mobil).
"Kasusnya semakin ruwet, 'ya. Tadinya cuma mau mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan miterius ini. Eeeh, malah jadi gini," Jo-san menggelengkan kepalanya. "Shion-kaichou. sudah menyerah. Dari kemarin kami mencoba menghubungi kalian tapi tak satu pun dari kalian menjawab panggilan kami."
"Lho?"
Miku mengecek ponselnya.
Betul kata Jo-san. Ada belasan panggilan dari Mitsusina, Jo-san sendiri, dan ayah Kaito.
"Kalian memasang profil silent, 'ya?" Jo-san terdengar sedang menebak.
"Nggak kok," bantah Miku.
"Terus kenapa nggak diangkat?" Miku melihat Jo-san sedang menaikkan sebelah alisnya.
Ponselnya berdering. Sebuah panggilan lewat aplikasi canggih buatan Kaito
.
.
.
.
Mereka berlima mengangkat sebuah panggilan misterius untuk kedua kalinya (kecuali Rin yang sudah dapat tiga (satu lagi dari Piko)).
"Yo, yo, adik-adikku sayang~" sapa orang di seberang sana.
"SIAPA KAU?!"
"AKAITO!"
Kalimat pertama merupakan kalimat pertanyaan marah dari Rin, Len, Miku dan Gakupo sementara yang terakhir dari Kaito.
"Masa' kalian melupakanku sih~" jawab orang itu.
Len facepalm.
Gakupo facepalm.
Miku facefalm.
Gakupo facepalm.
Kaito bengek.
"Kau itu siapa sih? Kau dapat darimana nomor rahasia kami?!" Rin bertanya marah.
"Aku adalah..." makhluk lebay itu menjeda kalimatnya.
Rin menunggu.
Len menunggu.
Gakupo mencoba mengingat-ingat.
Miku kebingungan.
Kaito semakin stress.
Ya, Kaito tahu siapa makhluk lebay ini. Dia adalah..
"Aku adalah Shion Akaito! Polisi paling ganteng seantero Jepang! Penyuka cabe, bukan cabe-cabean, paling hot di seluruh dunia. Mwahahahahha!"
Miku berniat memutus sambungan tapi diurungkan karena hanya si penelepon yang bisa memutus sambungan.
Gakupo memencet tombol mute untuk sementara.
Rin menukikkan alisnya sambil ngedumel GaJe.
Len mencopot port headphone helikopternya dari handphone-nya.
Kaito...
Nyaris mati karena deklarasi narsis abangnya di telinga teman-temannya.
Rin menyikut Kaito. "Orang narsis ini abangmu, BaKaito?"
"Ano, Rin-chan yang cantik?" suara Akaito terdengar kembali. Rin bersungut-sungut karena dipanggil cantik. "Kau menyebut 'BaKaito' untuk adikku yang maniak es krim itu, 'kan?"
"Kakak-adik sama gilanya." dengus Rin sambil geleng kepala.
"Bang, aku tahu kalau kamu memang narsis tiada tara sampai sekarang tapi bisakah kau berhenti narsis di depan orang yang unurnya di bawahmu? Kau memalukan tahu!" Kaito protes atas kelakuan abangnya yang kelewat narsis itu.
"Hehe, sorry, sorry. Aku tahu kalian sedang tegang makanya aku candain dulu." Akaito tertawa. Kaito mendengus.
"Nah, langsung to the point aja," Akaito berubah menjadi serius. "Aku menemukan X-Files tentang kecelakaan misterius."
"Bagus. Tentang apa itu?" Kaito berharap kini abangnya benar-benar serius soal X-Files itu.
"30 tahun lalu, tepatnya Juni tahun 1984 terjadi sevuah kecelakaan misterius. Kecelakaan itu mirip dengan apa yang diceritakan Len-kun. Kasus ini bahkan tak terpecahkan. Kasus ini terjadi di sebuah desa kecil yang kini telah berubah menjadi kota Crypton. Kecelakaan misterius ini mengawali semua kecelakaan misterius lain. Mungkin 'kutukan' itu sedang berjalan kembali di tahun ini," jelas Akaito.
Mereka berlima (walaupun berada di tempat yang berbeda-beda) merinding mendengar cerita kakak laki-laki Kaito ini.
"Jadi, kasus ini..." Gakupo tak melanjutkan kalimatnya.
"Tak bisa dipecahkan oleh detektif manapun sampai sekarang." Akaito mengisi kalimat Len yang rumpang.
"Sebaiknya, kalian menyerah. Interpol akan memasukkan kasus ini pada X-Files," lanjut Akaito. "Aku tak bisa lama-lama. Kecup cintaku kukirim untuk kalian semua. Muaaaacchhhhh~"
Kaito ingin muntah tapi masih sibuk berpikir.
"Rin, ayo kita ke Hotel ***** untuk menemui Interpol."
Rin mendesah lalu menghela napas sambil mengangguk. Mereka membereskan video-video tape yang mereka gunakan dan mematikan semua player.
Kaito mengetikkan kombinasi angka, huruf, dan simbol oleh Piko pada layar ukuran 10 inci itu dan keluar dari toko itu.
Mereka akhirnya merasakan udara luar lagi.
Rin menatap langit sendu.
"Akhirnya seperti ini, 'ya." gumam Rin yang terdengar oleh Kaito.
Kaito ikut-ikutan memandang langit. "Kasus pertama yang tak terselesaikan."
"Habis dari awal juga kecelakaan ini masih jadi pertanyaankan, bahkan dari kita banyak yang tak percaya pada cerita yang disampaikan Len." lanjut Rin sambil meneruskan langkahnya.
"Cerita bohong tapi tak bisa dibilang bohong karena 30 tahun lalu pun ada kasus serupa."
"Sudahlah," aku mengulas senyumku lagi. "Kita masih bisa memecahkan kasus lain, 'kan?"
Kaito pun tersenyum sambil mengangguk.
.
.
.
[SKIP TIME.
PLACE : HOTEL LOVELESSXXX
TIME : 09.00 P.M]
Kelima detektif VocaSky tak bisa menerima apa yang dikatakan oleh salah seorang dari pihak Interpol.
(Flashback)
Kelimanya sampai di Conversation Hall hotel dengan nama yang mirip dengan salah satu judul anime itu bersamaan.
Mereka berlima tidak begitu disambut baik oleh para keamanan karena penampilan mereka kotor, kucel, udik, jorok, (ah, pokoknya sifat-sifat yang berbau kotor), terutama Len (dia 'kan mandi lumpur).
Untungnya, pihak Interpol menyambut mereka baik.
"VocaSky, kalian datang tepat waktu. Silahkan duduk." sambut seseorang (yang nampaknya) ketua Interpol bagian Jepang.
Kelima detektif muda itu duduk dengan canggung.
"Maaf, penampilan kami seperti ini. Kami terburu-buru juga karena kami terpencar-pencar." Len meminta maaf. Ketua Interpol itu hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa."
Raut wajah Ketua Interpol berubah serius.
"Bisakah kita berbicara langsung ke inti?" tanya Ketua Interpol sambil melipat jari-jarinya di depan wajah.
"Itu terserah anda." kata Len.
"Baiklah, aku langsung bicara saja," balas Ketua Interpol sambil menyilangkan kakinya. "Kalian hanya kuberi dua opsi pilihan."
"Pilihan?" tanya Rin kaget. "Pilihan untuk memilih apa?"
"Pilihannya sederhana. Untuk menyelesaikan kasus ini," jawab Ketua Interpol santai. "Berhenti untuk menyelesaikan kasus 'Mysterious Accident' ini, biar kami memasukkannya ke dalam X-Files. Pilihan kedua, kalian boleh terus menyelediki kasus ini sampai tuntas?"
Mereka berlima diam.
"Jika kalian memilih pilihan pertama kalian akan kehilangan jabatan kalian sebagai detektif lepas di kepolisian," lanjut Ketua Interpol.
Mereka berlima terperanjat. Aksi heroik mereka 2 tahun lalu mau dilupakan begitu saja?
"Tapi jika kalian memilihan opsi kedua kalian tetap akan memiliki jabatan kalian." sambung Ketua Interpol.
Mereka berlima masih diam.
.
.
.
(Flashback : OFF)
.
.
.
Sampai detik ini mereka masih diam. Sudah setengah jam semenjak Ketua Interpol memberi mereka dua buah opsi pilihan sederhana namun membingungkan untuk mereka berdua.
Ketua Interpol memandang mereka berlima bergantian tapi yang ditatap justru memandang sesuati di bawah sana. Entah itu sepatu atau lantai.
"Kutinggal dulu," kata Ketua Interpol sambil melangkah keluar ruangan. "Lima menit lagi aku kembali dan kalian harus punya jawaban."
Ketua Interpol pun keluar. Mereka berlima saling berpandangan.
"Aku sudah punya jawaban," kata Miku pesimis. "Aku memliih opsi pertama."
"Miku," Rin terdengar kecewa. Len pun terlihat kecewa.
"Aku menyerah," Kaito angkat bicara. "Aku memilih opsi pertama."
"Aku juga opsi pertama. Kasus ini tak mungkin bisa diselesaikan oleh kita." Gakupo mengeluarkan pikirannya selama setengah jam terakhir.
"Kalian!" Len menggebrak meja. Napasnya memburu saking kesalnya. Dia duduk kembali sambil menghela napas.
"Len, aku juga memilih opsi pertama. Kasus ini memang sepantasnya berhenti ditangani oleh kita." kata Rin.
"Kenapa kita tak boleh meneruskan kasus ini? Jika kalian mau berhenti disini, biar aku yang selesaikan kasusnya. Biar saja aku kehilangan jabatanku!" Len berteriak.
PLAK! Rin menampar Len. Len menatap Rin tajam.
"Len, kau jangan egois! Kita ini kelompok. Kita memulai kasus ini bersama-sama maka kasus ini pun harus kita selesaikan bersama-sama!" ucap Rin.
"Aku yang memulai kasus ini bukan kalian!" bantah Len.
"Ya, ini memang salahmu!" teriak Kaito. Len yang kini tersulut emosi langsung menonjok Kaito. Kaito dan Len beradu jotos.
"Hentikan!" teriak Rin sambil menggebrak meja. "Kita tak bisa menyelesaikan permasalahan dengan pertengakaran!"
Gakupo memisahkan Kaito dan Len.
Miku berdehem, "Lebih baik jika kita adakan pemungutan suara," usul Miku yang langsung disambut anggukan dari yang lainnya. "Siapa yang memilih opsi pertama?"
Miku, Rin, Kaito, dan Gakupo mengacungkan tangan.
"4 lawan 1, Len. Dari sisi manapun kau tak bisa menang. Coba tenangkan pikiranmu," kata Miku lagi.
Len menghela napas entah keberapa kalinya. Dia memejamkan matanya, mengurut-ngurut keningnya, menundukkan kepala. "Kalian benar. Lebih baik jika aku memilih opsi pertama."
Rin tersenyum.
Ketua Interpol kembali dan duduk di kursinya semula.
"Apa pilihan kalian?" tanyanya.
"Kami memilih opsi pertama." Len menjawab untuk menyampaikan pilihan teman-temannya.
Ketua Interpol terdengar kecewa.
"Sou ka.." gumamnya.
Ketua Interpol menghelas napas. "Terima kasih atas kerja kalian selama ini. Ini sebuah pertemuan pertamaku dengan kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi,"
"Haha, betul sekali, Pak!"
Mereka berlima lalu berpamitan dan membungkukkan badan. Ketua Interpol membalas dengan tindakan yang sama. Mereka berlima pun keluar dari hotel.
"Akhir yang tak menyenangkan," komentar Len.
"Menggantung pula," timpal Rin.
"Masih menjadi misteri," tambah Kaito.
"Apa boleh buat deh," celetuk Miku.
"Semoga mereka yang menjadi korban tenang di alam sana." Gakupo (tumben) berkata bijak (author *digorok pake katana).
"Ya!" jawab keempatnya kompak.
.
.
.
.
The End?
.
.
.
.
Sebuah misteri akan tetap menjadi misteri apabila misteri tersebut tak ada jawabannya...
.
Author Note :
Hore, hore, UN telah selesai! *tebar confetti, tiup terompet*
Readers : *deathglare
Oke, oke, author minta maaf karena lama nggak update fanfic ini. Itu karena author harus konsen belajar dan Valen diculik oleh mama author.
Oke, karena author nggak tahu mau ngomong apa lagi.
Nanti Mysterious Accident bakal ada sequel-nya.
With love and proud,
The Mysterious Accident end,
Shintaro Arisa, out.
A/N : Tetap tinggalkan jejak! Walaupun, yah, sedikit aneh. Arigatougozaimasu! (^_^)/
