Teleportation

Author : yo minna, ketemu lagi sama autho yang baru beres hibernasi. Baiklah tanpa ba-bi-bu babi buta lagi, sebelum para readers mengamuk karena author lama update, Rin bacain disclaimer.

Rin : Vocaloid bukan punya si BakAuthor melainkan milik Yamaha Corp. dan Crypton Future Media. Kalau Teleportation, jelas milik author.

Warning : AU, GaJe, abal, typo(s) bertebaran, fantasy berlebihan, OOC dan OOT.

Don't Like Don't Read

Silahkan pencet tombol 'back' bila tidak suka.

RnR, please?

.

.

.

.

Aku ingin tahu tentangnya, orang dengan kemampuan teleportasi itu

.

.

Teleportation

.

.

(Miku POV)

.

.

"Bangun! Bangun! Bangun! Hatsune Miku!"

Kira-kira begitulah bunyi wekerku yang sudah berada di meja samping tempat tidurku selama 2 tahun lebih. Aku bangkit dari kubur -ralat- maksudnya dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mandi (ya iyalah, kalau bukan melakukan kegiatan wajib sama mandi, terus apalagi?).

...

Selesai mandi, aku langsung berpakaian dan turun ke bawah. Tidak ada siapa-siapa, Kaa-san mungkin sudah pergi ke kantor. Aku membuka lemari makanan dan menemukan my lovely negi pancake dan langsung memakannya.

'ronrii gaaru wa itsumademo.. todokanai yume mite.. sawagu atama no naka o kakimawashite..."

(author : Coba tebak lagunya, minna #nggakmaksa#)

Ponselku berdering, menandakan bahwa ada panggilan masuk.

"Moshimoshi, Miku disini." sapaku.

"Ini aku Rin. Jadi'kan menengok Kaito-kun."

"Ne. Pokoknya tunggu aku di depan Rumah Sakit Crypton, ne?"

"Ok! Jaa nee!"

"Jaa nee." aku menutup ponselku dan menaruh piring bekas makanku di bak cuci piring.

Aku memakai sepatuku dan keluar dari rumah sambil mendengarkan musik lewat walkman-ku. Saat di perjalanan, aku banyak bertemu dengan teman-temanku termasuk Luka-senpai.

"Ohayou, Miku-san!" sapa Luka, kami bertemu di perhentian bis.

"Ohayou, Luka-senpai," balasku, "wah, sepertinya Luka-senpai sudah baikan ya.."

"Begitulah. Tokoro de Miku, kamu mau pergi kemana? Sekarang'kan libur."

"Ng, ke rumah teman. Luka-senpai sendiri mau kemana?"

"Cuma mau main ice skating sama Gaku-kun. Aku disuruh menunggunya disini"

'Itu main atau kencan?' pikirku.

"Ah, bis-nya datang. Aku duluan ya, senpai. Jaa nee!" pamitku sambil menaiki bis.

"Oke! Jaa nee!" jawab Luka-senpai sambil melambaikan tangan dan tersenyum.

.

.

.

(skip time. Time : 11.32 a.m

Place : Crypton Hospital)

.

.

.

Aku masih menunggu Rin. Aku membawa sekantung buah-buahan yang baru saja kubeli.

"Miku-chan!" sapa Rin sambil berlari ke arahku, "gomen, membuatmu menunggu lama."

"Nggak apa-apa. Ayo kita masuk." ajakku.

Aku dan Rin mengobrol sambil berjalan menuju ruang rawat Kaito. Sesampainya disana, aku tak menemukan siapa-siapa. Ranjangnya sudah dibereskan dan tak ada tabung infus yang menggantung. Seorang suster menghampiri kami.

"Gomenkudasai. Ano.. pasien yang nama Shion Kaito sudah dipulangkan kemarin." suster itu berhasil menjawab pertanyaan yang hendak kutanyakan. Aku takut kalau suster ini punya kemampuan telepati.

"Oh, begitu ya. Padahal kami ingin menjenguknya. Kalau begitu kami pulang dulu. Arigatou gozaimasu!" Rin menarik tanganku.

Kami keluar dari rumah sakit. Banyak orang yang menatap kami... aneh. Apa ada yang salah pada kami? Kami cuma mengabaikannya sambil berjalan keluar.

"Ano Miku-chan, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya Rin, "i-ini bukan soal uang. Aku ingin bertanya soal kematian Len lagi. Aku janji deh, nggak akan nangis."

"Lho, memang kemarin kamu nggak ngedengerin penjelasan aku?" aku malah balik bertanya.

"Sinyal dirumahku sedang jelek saat itu, jadi suara putus-putus gitu. Lagipula kemarin kamu ngejelasinnya make mewek."

"Baiklah, akan kujelaskan padamu sekali lagi," aku mengambil napas, "Tiga bulan yang lalu, aku mencoba membangkitkan kekuatan supernaturalku dengan bantuan Power Seeds. Aku nggak tahu kalau menggunakan Power Seed akan mengakibatkan aura super natural kita akan keluar lebih kuat dari biasanya. Aura kuat itu bisa mendatangkan Porthunt -Teleporter Hunters- dan aku belum tahu hal itu. Entah darimana datangnya, muncul sekelompok hunters dan menyerangku habis-habisan. Aku nggak ingat apa-apa lagi setelah itu tapi Kaito menceritakan bahwa Len yang menyelamatkanku dengan cara memberikan kekuatan spiritualnya padaku. Dan alasan kenapa Len memberikan kekuatan spiritualnya padaku karena kekuatan spiritualku sudah dibangkitkan oleh Power Seeds."

Aku melirik Rin yang mencoba memahami ceritaku.

"Len menyelamatkan nyawaku, makanya dia meninggal. Dia memberikan kekuatannya padaku. Dia hanya ingin aku tetap menjadi temanmu. Kau tidak benci padaku'kan?" sambungku. Rin menggeleng.

"Aku tahu kalau Len itu bijak. Tidak aneh jika dia memberikan kekuatannya padamu bukan padaku. Itu karena dia ingin memberikan kekuatannya pada orang dengan kekuatannya lebih sedikit. Eits, aku bukan meledekmu lho.." Rin tersenyum, "tapi aku sendiri bahkan belum bisa membangkitkan kekuatan spiritualku."

"Mau berlatih bersamaku? Aku berjanji akan mengajarimu sampai bisa." tawarku dengan nada persuasif.

"Bagaimana jika aku tidak punya kekuatan spiritual?" tanya Rin.

"Jika kembaranmu bisa, kenapa kau nggak bisa? Jika kau tak bisa berarti kau mutan sihir." jawabku bercanda.

"Hah? Memangnya ada mutan sihir?"

"Nggak ada sih. Tapi bukankah itu seperti mutan?"

"Memang." dia tersenyum.

Aku menutup matanya menggunakan tanganku, "Bayangkan kalau dalam keadaan gelap kau masih bisa melihat sesuatu dengan jelas dan nyata."

"Benda apa itu?" tanya Rin. Sepertinya dia mulai bisa melihat Tirai Teleportasi, "Kenapa mereka bergerak-gerak. Itu seperti tirai."

"Kau melihatnya Rin?"

"Apa bisa kusentuh?"

"Just try it, Rin-chan." aku tersenyum melihat perkembangan Rin yang begitu cepat -dia bisa melihat Tirai Teleportasi hanya dalam waktu 15 detik-.

Rin menyentuh salah satu tirai teleportasi masih dengan keadaan mata tertutup tanganku.

SRET! Rin berhasil berteleportasi.

"Aku merasakan listrik statis saat menyentuh tirai tersebut," Rin melepaskan tanganku dari matanya, "jadi Miku, sebenarnya teleportasi itu apa?"

Pertanyaan yang sulit. Aku sendiri tak mungkin bisa menjelaskan pengertian teleportasi karena sulit untuk menjelaskannya, "Teleportasi itu -ini berdasarkan pengalamanku- perpindahan yang melibatkan kecepatan kekuatan spiritualmu untuk mengubah ruang dan waktu tanpa merusak kejadian yang sebenarnya. Singkatnya, teleportasi akan bekerja saat kau bisa menyentuh Tirai Teleportasi dengan kekuatan spiritualmu. Mengerti?"

Dia mengangguk, "Apa dengan kekuatan ini aku bisa kembali ke masa lalu?"

"Entahlah, aku belum pernah mencobanya. Baik percobaan kembali ke masa lalu atau melihat masa depan." jawabku seadanya.

"Eh, kita ada dimana?" Rin baru tersadar karena saat dia mencoba mengenali kekuatan teleportasinya, aku terus membimbingnya menuju rumah Kaito.

"Menuju rumah Kaito, ingat?"

"Oh ya, aku lupa. Gomen ne, hehe." dia cengengesan. Untuk sesaat, aku ingat cengiran Len saat dia berhasil mengerjai kami. Aku rasa aku merindukannya.

Sesampainya di rumah Kaito, Rin memencet bel rumah Kaito brutal.

"Nee, matte!" seru Kaito dari dalam rumah.

SRETT! Kaito bertelepotasi untuk membukakan pagar. Penampilannya acak-acakkan. Seragam sekolahnya masih dipakai, rambut birunya acak-acakan, dan wajahnya masih pucat.

"Gomen ne, penampilanku acak-acakkan. Aku baru pulang dari rumah sakit -sebenarnya tadi malam sih- dan aku baru bangun tidur. Ayo masuk. Akan kubuatkan teh." cerocos Kaito.

Aku dan Rin masuk ke dalam rumah Kaito dan nyaris pingsan ketika melihat rumah Kaito yang sama acak-acakannya dengan penamapilannya. Aku dan Rin melepas jaket kami dan menggantungkannya di gantungan jaket dekat pintu.

"Gomen, belum sempat beres-beres. Jadi dudukin aja apapun yang ingin kalian duduki." Kaito cuek lagi. Aku heran. Apa begini perangai Kaito yang sebenarnya?

"Hoi, Kaito. Bagaimana kalau hari ini kau membereskan kapal pecah ini. Kami akan membantumu." ucap Rin tiba-tiba. Dia menarik taplak meja di depannya, membuat sampah yang berserakan di atasnya jatuh ke lantai.

"Serius?" tanya Kaito tak percaya, matanya membulat sekarang.

"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena menuduhmu sebagai pembunuh Len."

Wajah Kaito berubah cerah, "Tunggu di sini. Aku akan mengambil peralatan bersih-bersih.". Dia berlari menaiki tangga.

Aku dan Rin mengambil sampah-sampah yang berserak di lantai. Tak lama kemudian, Kaito telah kembali dengan 3 buah sapu dan peralatan mengepel dan dia telah berganti baju.

"Kalian serius mau membantuku?" tanya Kaito sambil memberikan kami masing-masing sebuah sapu, "Aku tak bisa membayar kalian." Entah kenapa kalimat yang terakhir diucapkan Kaito terdengar ambigu. (author : Micchan mikir yang aneh-aneh nih.)

"Tenang saja, Kai. Bayarannya simple kok, cuma tolong ajari aku teleportasi, ne?" jawab Rin.

"Ng.. bukannya menghinamu, Kai-kun. Asal kau tahu Rin-chan, Kaito juga kategori Teleporter pemula sama sepertiku." ucapku, aku mulai menyapu debu-debu di lantai.

"Jadi gimana? Aku nggak mau temen sekelas mikir yang aneh-aneh karena mendengar kejadian ini."

"Ini bukan kejadian meledaknya reaktor nuklir lain di Jepang, Kai. Jadi, tenang saja. Biar aku dan Miku yang mengurus tentang tangggapan aneh temen-temen di kelas. Iya'kan, Micchan?" Rin mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.

Kaito membungkuk 90 derajat pada kami, "Arigatou gozaimasu, Rin-san, Miku-san."

Aku memegang bahu Kaito, menyuruhnya tegak kembali, "Itulah gunanya teman, Kaito. Nah,sekarang ayo bersih-bersih."

"Oh ya, dan panggil aku Rin saja." Rin menyibakkan tirai supaya sinar matahari bisa menerangi ruangan ini.

"Ha'i!" Kaito mengulas senyum di bibirnya. Sekarang dia terlihat senang dengan adanya kami disini.

.

.

.

Kami sudah selesai beres-beres berkat bantuan Rin dan Kaito antara kesal dan berterima kasih kepada gadis pirang yang baru menemukan kekuatan supernaturalnya. Mau tahu kenapa? Kuceritakan sedikit pada kalian.

.

.

(Flashback : ON)

.

.

Rin mengumpulkan sampah dengan riang. Saat dia sedang membawa sebuah kantong sampah penuh menuju tempat sampah di depan rumah Kaito, dia tak sengaja memicu kekuatan tubuhnya dan mengangkat seluruh sampah dari rumah Kaito menuju tempat sampah.

"Huwaa, apa yang terjadi?" pekikku kaget sambil meraih tasku yang hampir ditarik Rin dengan kekuatannya.

"Nggak tahu, mungkin salah satu jenis kekuatan supernatural yang belum kita ketahui." jawab Kaito sambil menarikku bersembunyi di bawah meja, kami takut sampah-sampah besar akan terbawa dan menghantam kami.

"Minna, bantuin dong. Aku nggak tahu gimana caranya menghentikan kekuatan ini. Kekuatan ini seperti vacuum cleaner. Gyaa, tempat sampah tetangga jadi penuh.." teriak Rin.

"Bertahanlah Rin, kami-" ucapan Kaito tertahan karena sebuah tempat sampah dari dapurnya menghantam kepalanya.

"KYAAAA..." Rin berteriak makin keras.

"Rin kamu ada megang apaan?" teriakku.

"Besi dan kantong sampah!" jawab Rin berteriak juga.

"Coba lepas benda-benda itu buruan!"

WUUSHH! Sampah-sampah semuanya telah tertarik keluar dan rumah menjadi bersih.

Aku dan Kaito keluar, melihat keadaan Rin. Pita putih Rin merosot sampai menutupi matanya, rambutnya acak-acakkan dan tempat sampah semua tetangga Kaito penuh oleh sampah.

"Apa yang kau lakukan Rin?!" tanya Kaito marah, "Kau membuatku akan dihukum lagi!"

Mata Rin berkaca-kaca, "Gomen ne, Kai-kun. Aku nggak tahu kenapa itu bisa terjadi."

Para tetangga keluar dari rumah dan melihat tempat sampah mereka penuh lalu memandangi kami bertiga curiga.

"Heh, jangan apa-apa'kan gadis-gadis itu. Ini sudah kelima kalinya Kaito kau membuat tempat sampah kami penuh secara misterius!" kata seorang pria berambut hijau.

"SUDAH BERAPA KALI KUBILANG, BUKAN AKU YANG MEMBUAT TEMPAT SAMPAH KALIAN PENUH DAN BERANTAKAN TAPI BERANDALAN-BERANDALAN ITU-" ucapan Kaito terpotong karena sebuah frying pan bekas menghantam kepalanya (author : Caps lock lepas, men..).

"Damare, bakemono!" teriak wanita berambut coklat dengan sebuah frying fan yang dilemparkan lagi menuju Kaito.

Rin merentangkan tangannya di depan kami dan sebuah pelindung medan gaya terbentuk dari tangannya.

Wanita itu dengan mulut menganga siap melemparkan benda lain lagi kepada kami tapi saat benda itu dilempar pada kami, benda itu terpental balik.

"Kalian semua monster. Pergi dari lingkungan kami!" teriak seorang pria sambil menarik-narik tangan kami paksa.

SRETTT! Kaito menteleportasikan pria itu lagi.

"Kaito-"

"Tenang aku menteleportasi Gumiya-san kembali ke rumahnya. Ayo masuk sebelum Meiko-san melemparkan mobilnya ke arah kita." ajak Kaito. Aku dan Rin mengikuti Kaito masuk ke dalam rumahnya yang kini sudah bersih.

.

.

.

(FLASHBACK : OFF)

.

.

.

Kaito terus memerhatikan lantai rumahnya. Sesekali dia memerhatikan Rin yang bergetar dan memandangi Kaito dengan tatapan seba salah.

"Gomen ne, Kaito-kun," kata Rin sambil mengaduk-aduk tehnya, "gara-gara aku kamu jadi terluka."

"Ah, nggak ada gunanya kamu minta maaf. Kepalaku jadi berdarah begini karena kamu, tau!" Kaito memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.

Rin menangis, "Aku mau pulang."

Rin mengusap air matanya dan mengambil jaket, aku menahan Rin supaya tidak jadi pulang tapi Rin justru mengambil jaketku dan menyeretku pulang.

Jalan sudah dipenuhi dengan salju. Rupanya telah turun salju lagi. Rin masih menangis dalam diam.

"Kaito pasti nggak maksud marahin kamu, Rin. Dia pasti cuma lagi pusing doang." aku mencoba menenangkan Rin.

"Dia marah padaku, Miku. Dia marah karena aku telah memakai kekuatanku di depan umum dan membuatnya dihina tetangga-tetangganya lagi.. hiks.." Rin sesenggukan.

Aku menepuk-nepuk bahu Rin.

"Besok kita kunjungi dia lagi dan minta maaf lalu minta dia untuk mengajarimu." hiburku.

"Memang dia mau?"

"Mungkin saja." Aku tersenyum sambil berjalan untuk mengantar Rin sampai stasiun kereta.

.

.

.

-To Be Continued-

.

.

.

Author Line :

Gomenasai... *mewek lebay* Gomen ne, update (sungguh sangat super super) lama. Habis Valen-kun diculik, maksudnya disita sama Kaa-san author. Yah, namanya juga nasib anak SMP semester 5. Semester 5'kan nilai-nilainya harus tinggi. Yah, pokoknya doa'in author supaya nilai bagus-bagus semua dan Valen-kun nggak digadaikan, maksudnya disita. Bales review-nya langsung via PM. Mata ashita di chap depan~ *lambai tangan*

.

.

A/N : Author mengharapkan munculnya review-review yang bermakna. Saya juga menerima flame yang tentunya, bermakna. Yah, sekalipun tulisan saya ini penuh kecacatan, harap readers memaklumi saya karena saya suka rada bingung bikin plotnya. Akhir kata...

R

E

V

I

E

W

Please? *_*