Kembar tidak berarti sama... Dan tidak selamanya kembar itu menyenangkan. Bagaimana jika kembaranmu memiliki semua hal yang tidak kau punyai? Senang? Bangga karena kalian saling melengkapi? Bohong. Yang ada hanya rasa iri yang berkembang menjadi kebencian.

"Kami kembar tapi kami beda."

.

.

The Story Of Twin Sisters

Kuroko no Basuke-Fujimaki Tadatoshi

Rate: T

Akashi x OC (Makimura Yuuki dan Makimura Seika)

.

.

.

Chapter 2

"A-ano… Akashi-kun…" Panggil Yuuki gugup. Akashipun menolehkan wajahnya pada Yuuki.

"Ah, akhirnya kau datang juga. Tapi…" Akashi menatap Seika yang ada dibelakang Yuuki. "Kenapa dia juga disini?" Tanya Akashi heran. Yuukipun menatap Akashi takut-takut sementara Seika menatap kearah lain.

"Ngh… Sebetulnya aku juga tidak mau ikut… Tapi…" Seikapun mengingat kejadian tadi pagi.

Flashback

"Seika! Seika! Seika! Mou… Seika! Banguuun!" Kata Yuuki panik sambil menggoncang-goncangkan tubuh Seika yang masih tertidur lelap diatas kasur empuk miliknya.

"Ngh? Ada apa sih kak? Aku ngantuk…" Gumam Seika malas sambil berniat untuk tidur lagi, melihat itu Yuukipun kembali menggoncangkan tubuh Seika.

"Seika! Jangan tidur lagi! Tolong akuuu!" Rengek Yuuki.

"Ah! Mou! Sebetulnya ada apa sih?!" Kata Seika kesal, diapun menyerah dan bangkit dari tidurnya, namun pandangan kesalnya berubah menjadi panik saat melihat kakak tersayangnya itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Huaaa! Kau kenapa kak?!" Teriak Seika panik, belum lagi saat melihat kamarnya (kamar mereka berdua) berantakan dengan pakaian milik Yuuki bergeletakan dimana-mana.

"Ada apa ini?! Malingkah?! Perampokkah?! Ah iya! Polisi! Aku harus menelepon polisi!" Kata Seika ngawur, diapun berniat menelepon polisi menggunakan ponselnya.

"Bu-bukan! Bukan!" Kata Yuuki menghentikan Seika.

"Jadi apa?" Tanya Seika polos.

"Aku hari ini kencan dengan Akashi-kun…" Kata Yuuki pelan, Seikapun menautkan alisnya bingung sambil memandang wajah kakaknya yang memerah.

"… Terus?" Kata Seika beberapa detik kemudian dengan tampang bodohnya.

"Bukan 'terus' Seika! Aku harus berdandan seperti apa?! Harus memakai baju seperti apa?! Bagaimana ini Seika~?!" Panik Yuuki, mendengar itu Seikapun hanya bisa sweatdrop.

'Aku saja hanya memakai celana jeans, tank-top, dan jaket ko'…' Batin Seika sambil mengingat penampilannya saat 'kencan' dengan Akashi dua minggu yang lalu. Namun Seika ingat, kakaknya bukan tipe orang yang cuek sepertinya.

"Kau pakai apa saja tetap cantik ko' kak…" Kata Seika berusaha menenangkan Yuuki.

"Itu tidak membantu Seika…" Kata Yuuki sambil cemberut, Seikapun menghela nafasnya dan turun dari kasurnya, setelah itu dia mengambil salah satu dress pendek milik Yuuki yang berwarna putih dengan renda-renda kecil dibagian pinggirnya, dan pita dibagian dadanya.

"Kurasa yang ini bagus…" Komentar Seika sambil menyerahkan dress itu pada Yuuki.

"Eh? Benarkah?" Tanya Yuuki memastikan. Seikapun menjawabnya dengan anggukan. Yuukipun langsung mengganti bajunya dengan dress itu.

"Oke! Selanjutnya, tinggal mendandani dan menata rambutmu!" Kata Seika, entah kenapa dia jadi semangat. Seikapun merias wajah Yuuki dengan make-up tipis. Setelah itu mengeriting bagian bawah rambut Yuuki, menata poninya, dan terakhir memakaikan jepit berbentuk pita dengan warna senada dengan dressnya.

"Selesai!" Kata Seika puas.

"I-ini… betul-betul aku?" Yuuki menatap wajahnya sendiri dengan tidak percaya. Selama ini dia tidak pernah memakai make-up ataupun menata rambutnya. Seika hanya tertawa kecil melihat ekspresi kakaknya yang menurutnya lucu itu.

"Nah! Sudah bereskan? Aku kembali tidur ya~" Kata Seika. Namun, tangan Yuuki menarik baju tidur Seika.

"Mou… Apalagi kak~?" Rajuk Seika.

"A-aku tidak tahu harus bagaimana bersikap pada Akashi-kun…" Bisik Yuuki.

"Haah? Seperti biasa saja…" Saran Seika yang sama sekali tidak membantu. Yuukipun langsung menggelengkan kepalanya cepat.

"Seika… Kau ikut ya?" Kata Yuuki yang langsung membuat Seika panik.

"HE?! Tidak! Tidak bisa! Itu kencan kalian berdua kan?!" Tolak Seika cepat.

"Kumohon…" Mohon Yuuki dengan puppy eyesnya. Jika sudah begini, maka Seika tidak bisa menolak.

"U-ukh… Baiklah…" Kata Seika akhirnya. Batal sudah rencananya untuk tidur seharian.

Flasback End

"Ternyata aku lebih baik pulang…" Kata Seika, diapun bermaksud pergi dari hadapan Akashi dan Yuuki, namun Yuuki langsung menghentikan Seika.

"Jangan! Kumohon jangan pulang~!" Rengek Yuuki, Seikapun sweatdrop.

"Hhh… Ha'iHa'i…" Seikapun menyerah, mau tidak mau dia harus menemani kakaknya 'kencan'. Akashipun tersenyum kecil melihat kelakuan keduanya.

"Nah, jadi sekarang kita kemana?" Tanya si surai merah akhirnya. Seika dan Yuukipun saling bertatapan dan tersenyum.

"Taman bermain!" Kata keduanya kompak.

.

.

.

Dan disinilah mereka bertiga, taman bermain. Merekapun mencoba berbagai wahana yang ada disana. Namun lagi-lagi Akashi berdebat dengan Seika mengenai wahana yang akan mereka naiki selanjutnya.

"Kincir angin!" Seru Seika.

"Tidak. Lebih baik labirin. Selain bersenang-senang, kau juga menguji ketangkasanmu disana."

"Tidak! Tidak mau! Kincir angin pokoknya!" Kata Seika keukeuh.

"Kalau kubilang labirin ya labirin." Kata Akashi mempertahankan pilihannya.

"Kincir angin!"

"Labirin."

"Kincir angin!"

"Labirin."

"Kincir a-"

"Kalian berdua, cukup!" Kata Yuuki menengahi. "Daripada bertengkar, bagaimana jika kita naik itu saja?" Lanjut Yuuki sambil menunjuk ke salah satu wahana yang ternyata… Komedi putar.

"Tidak, terima kasih." Tolak Akashi dan Seika langsung. Mendengar penolakan itu, Yuukipun langsung pundung(?) dipojokan. Melihat itu, Seikapun langsung merasa tidak enak.

"Maa, maa… Seijuurou bilang, dia mau menaiki itu!" Kata Seika berbohong, sementara Akashi yang mendengar itu langsung memberikan Seika tatapan tajamnya.

"Aku tidak-" Belum selesai Akashi bicara, Seika langsung menyikut Akashi pelan.

"Sudahlah! Turuti saja! Demi kakakku, oke?" Bisik Seika.

"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang naik?" Geram Akashi.

"Kau yang sedang kencan dengannya kan?! Artinya kaulah yang harus naik bersamanya!" Kata Seika ngotot.

"Ck, baiklah. Yuuki, ayo naik itu." Kata Akashi mengalah sambil menarik tangan Yuuki, Yuuki yang diperlakukan seperti itupun merasa wajahnya sangat memerah sekarang, lalu ia melihat kearah Seika yang melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berbisik 'semoga berhasil'.

"A-Akashi-kun…" Panggil Yuuki pada Akashi yang berada disebelahnya. Sejak tadi hening diantara mereka. Akashipun melirikkan matanya pada Yuuki.

"Panggil Seijuurou saja." Kata Akashi,

"Ba-baiklah Se-Seijuurou-kun…" Kata Yuuki. "Aku… membosankan ya?" Lanjut Yuuki pelan namun cukup terdengar oleh Akashi.

"Kenapa kau berbicara begitu?" Tanya Akashi. Yuukipun tersenyum sedih.

"Aku… tidak bisa seperti Seika. Tadi walaupun kalian berdebat, kalian terlihat begitu menikmatinya… Seika itu cantik, pintar, bisa dekat dengan siapa saja, dan bisa melakukan apa saja… Berbeda denganku yang payah ini… Padahal kami kembar… Haha…" Yuukipun terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku… Aku iri padanya…" Kata Yuuki menyelesaikan kalimatnya dengan pandangan sendu. Akashipun terdiam mendengar kata-kata Yuuki barusan. Hening kembali diantara mereka.

"A-ah, maaf jika tiba-tiba aku berkata seperti tadi. Seijuurou-kun jadi merasa tidak enak ya? Ma-maaf ya." Kata Yuuki panik.

"Kenapa? Kenapa kau membandingkan dirimu dengan Seika?" Kata Akashi akhirnya. Yuukipun menatap Akashi terkejut.

"Kalian memang kembar, tapi kalian berbeda, dan itu wajar kan? Baik kau maupun Seika, kalian memiliki kelebihan masing-masing. Kau juga pasti memiliki sisi baik dalam dirimu, setidaknya kau tidak berisik seperti Seika." Akashi mengatakan itu sambil tersenyum kecil, Yuukipun tertawa pelan mendengarnya.

"Dan lagi…" Akashi melanjutkan kalimatnya. "Warna rambutmu indah." Puji Akashi, sehingga membuat pipi Yuuki merona mendengarnya.

"Te-terima kasih…" Kata Yuuki sambil tersenyum malu, baru kali ini ada seseorang yang memuji warna rambutnya. Sementara Seika saat ini melihat kearah Yuuki dan Akashi yang sedang mengobrol akrab.

'Syukurlah kakak…' Batin Seika, tanpa sadar ia tersenyum melihatnya. Namun entah kenapa dadanya terasa sakit melihat pemandangan itu, tapi Seika memilih mengabaikannya.

.

.

.

Seminggu setelah kejadian kencan itu, hubungan Akashi dan Yuuki semakin dekat, Yuuki juga menjadi lebih banyak tersenyum, walaupun terkadang dia masih malu jika hanya berdua dengan Akashi. Tentu saja Seika sangat senang dengan ini, tapi entah kenapa terkadang dadanya terasa sakit jika melihat kedekatan mereka.

"1… 2… 3… hup!" Seika terus menghitung sambil berusaha melatih gerakan lompatan dan memutar ditariannya, sebetulnya hari ini tidak ada latihan tapi Seika memilih untuk latihan sendirian di taman kota, 'Daripada diam saja dirumah… Membosankan.' Pikirnya. Namun sebuah suara membuat konsentrasinya buyar sehingga dia kehilangan keseimbangan.

'Gawat!' Seikapun menutup matanya bersiap untuk mencium tanah, Namun sebuah tangan menangkapnya.

"Ck… Berhati-hatilah…" Kata Akashi dingin, sambil masih menahan tubuh Seika.

"A-aa! Maaf maaf!" Kata Seika kaget, diapun buru-buru bangkit. "Makanya, jangan mengagetkanku dong Seijuurou!" Lanjutnya sambil cemberut.

"Jangan menyalahkan orang lain atas kecerobohanmu sendiri." Cibir Akashi.

"Chee… Ha'iHa'i… Ngomong-ngomong, kenapa kau disini?" Tanya Seika heran karena Akashi ada ditempat seperti ini.

"Jalan-jalan saja. Dan jangan bilang kau lupa kalau hari ini ayahku dan aku akan ketempatmu?"

"E-eh? Iya ya?" Tanya Seika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal disertai cengirannya. Dia benar-benar melupakannya.

"Mattaku…" Desah Akashi pelan.

"Ng? Kalau begitu, kenapa kau tidak bersama ayahmu dan malah kemari?"

"Aku bilang padanya, kalau aku ingin keluar dulu sebentar, lagipula sekarang dia pasti sedang membicarakan urusan pekerjaan."

"Souka… Karena itu kau kabur kemari…" Goda Seika.

"Urusai…" Bisik Akashi. Seikapun tertawa mendengarnya.

"Ngomong-ngomong…" Kata Seika tiba-tiba. "Soal perjodohan… Kau sudah memutuskannya kan?" Tanya Seika hati-hati.

"Entahlah." Jawab Akashi singkat, mendengar itu Seikapun meliriknya sebal.

"Pastikan kau memilih kakakku ya!" Kata Seika akhirnya.

"Boleh kutanya satu hal?" Kata Akashi."Kenapa kau begitu ingin aku bertunangan dengan kakakmu?" Mendengar pertanyaan Akashi, Seikapun terdiam untuk sesaat.

"Itu... Karena kakak menyukaimu." Jawab Seika pelan.

"Jadi kau tidak menyukaiku?"

"Tidak! Bukan begitu! Cuma… Aku…" Seika bingung bagaimana menjelaskannya. "Ah iya! Aku tidak tertarik dengan perjodohan ini! Ah iya! Karena itu!" Entah kenapa dia agak berat mengatakan itu. Akashipun terdiam mendengar itu.

"Da-dan lagi…" Lanjutnya. "Aku tidak tertarik pada pria yang tingginya tidak jauh beda dariku!" Ejek Seika sambil menjulurkan lidahnya dan tersenyum main-main. 'Ctikk' Akashipun kesal mendengar itu.

"Hoo… Tidak jauh beda tingginya darimu kah?" Kata Akashi mengulangi ucapan Seika barusan dengan nada dingin disertai evil smirknya.

"Un! Yaah… Setidaknya setinggi Kise-kun lah…" Tambah Seika lagi. Mendengar nama Kise, Akashipun semakin kesal, tanpa Akashi sadari dia menarik lengan Seika sehingga tubuh Seika menubruk tubuh Akashi.

"Hu-huaaa! Apa-apaan kau Sei… Juu… Rou…" Ucapan Seika melambat saat menatap kedua iris beda warna milik Akashi, wajah mereka sangat dekat sekarang.

"Jangan menyebut nama pria lain atau membandingkanku dengan pria lain saat sedang bersamaku." Kata Akashi dingin. Mendengar itu Seikapun terdiam, antara terpesona dan takut.

"Ha-ha'i… Maaf…" Kata Seika pelan, lalu Akashipun melepaskan Seika.

"Kembali ke masalah perjodohan ya…" Kata Seika setelah agak tenang. "Kakak benar-benar menyukaimu, Seijuurou. Lagipula dia lebih pantas untukmu, kakak itu cantik, feminim, dan jago mengerjakan urusan rumah tangga, benar-benar perempuan idaman, kau tahu! Maka dari itu..."

"Sudahlah. Aku tidak mau membahas ini lagi." Potong Akashi. Seikapun menghela nafasnya.

"Baiklah kalau itu maumu, tapi…" Akahipun menoleh kearah Seika. "Ajari aku main basket! Kau pernah bilang akan mengajariku kan?"

"…Baiklah." Kata Akashi setuju. Merekapun pergi ke lapangan basket yang ada disitu, Akashipun mulai mengajari Seika dari menshoot, defense, drible dan pass.

"Bukan begitu cara menshoot three point Seika." Akashipun membenarkan posisi Seika sehingga jarak mereka sangat dekat, sehingga membuat jantung Seika berdebar sangat kencang.

'Kenapa aku ini? Ini hanya Seijuurou kan? Kenapa dia membuatku berdebar seperti ini? Ini tidak boleh!' Batin Seika.

"Be-begini?" Kata Seika memastikan setelah Akashi membetulkan posisinya.

"Iya. Sekarang coba kau tembak." Kata Akashi. Seikapun menembak bola tersebut, dan masuk.

"Yatta! Masuk!" Kata Seika terlalu riang, sehingga tanpa sadar ia memeluk Akashi, sementara yang dipeluk hanya membatu diperlakukan seperti itu.

"Sei… Ka?" Panggil Akashi. Seikapun sadar atas apa yang ia lakukan.

"Ma-maaf! Aku tidak bermaksud-" Seikapun melepaskan pelukannya, dan hendak meminta maaf, namun ucapannya terpotong karena Akashi menariknya kembali dan memeluknya erat.

"Se-Seijuurou!" Panggil Seika untuk menyadarkan Akashi.

"Sebentar saja. Biarkan tetap seperti ini sebentar saja." Bisik Akashi. Perlahan, Seika membalas pelukan Akashi, sehingga keduanya berpelukan erat. Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan penuh rasa sakit, cemburu, marah, dan kecewa.

"Seijuurou-kun…" Panggil Yuuki pada Akashi saat melihat Seika dan Akashi memasuki rumahnya.

"Ada apa Yuuki?" Tanya Akashi.

"Aku ingin bicara BERDUA saja sebentar, boleh?" Kata Yuuki sambil menekankan kata 'berdua' yang secara tidak langsung, mengusir Seika agar pergi dari situ.

"Ba-baiklah! Kalau begitu, kalian kutinggal ya!" Kata Seika buru-buru pergi dari hadapan keduanya. Setelah melihat Seika benar-benar sudah pergi, Yuukipun mulai berbicara.

"Seijuurou-kun… Aku menyukaimu!" Yuuki mengatakan itu tanpa menatap wajah Akashi. Akashi sendiri kaget mendengar pernyataan Yuuki, dia memang tahu Yuuki menyukainya, tapi dia tidak menyangka akan menenggarnya langsung dari mulut Yuuki.

"Ka-karena itu…" Lanjut Yuuki pelan, "Karena itu, pilihlah aku Seijuurou-kun!" Pintanya dengan air mata yang menetes. Akashi hanya bisa menatap Yuuki sendu.

"Maaf Yuuki. Aku menyukai orang lain." Tolak Akashi. Mendengar itu Yuukipun membelalakan matanya, dadanya terasa sangat sakit sekarang, dan air matanya semakin deras.

"Apa itu… Seika?" Tanya Yuuki pelan. Akashi memilih diam tidak menjawab.

"Jadi begitukah…" Kata Yuuki lemas, dia sudah tahu jawabannya. "Kalau begitu, boleh aku meminta satu hal?"

"Apa itu?" Tanya Akashi.

"Ijinkan aku memelukmu, Seijuurou-kun…" Kata Yuuki pelan, Akashipun mengangguk sebagai jawaban dan Yuukipun langsung memeluknya dan menangis disana. Bagi Yuuki hancur sudah cinta pertamanya…

Yuuki memasuki kamarnya dan Seika untuk mengambil sebuah gunting, lalu ia duduk didepan kaca, dan 'ckrik' dia memotong rambut panjangnya hingga kini menjadi seleher, setelah itu dia melihat wajahnya di kaca dengan pandangan kosong.

'Setidaknya sekarang aku tidak terlalu mirip dengannya.' Batin Yuuki.

Sementara Seika yang baru saja masuk kekamarnya membelalakan matanya terkejut.

"Kakak! Rambutmu-!" Kata Seika panik.

"Tidak apa-apa… Aku hanya ingin mengganti image…" Jawab Seika tenang.

"Tapi-"

"Kubilang tidak apa-apa, Seika…" Kata kakaknya dingin, lalu ia keluar dari kamarnya sambil membawa potongan rambutnya untuk dibuang, sementara Seika hanya menatap Yuuki dengan pandangan sedih.

"Kakak.., Maafkan aku…" Bisik Seika. Dan semenjak itu hubungan mereka berdua tidak sama lagi…

.

.

.

"Kakak… Bagaimana jika akhir minggu ini kita ke kuil?" Ajak Seika, sudah beberapa hari semenjak itu mereka jarang bicara, dan Yuuki berusaha menghindari Seika.

"Kuil? Kau sudah memiliki segalanya, apa masih kurang sampai harus ke kuil untuk meminta pada Dewa?" Respon Yuuki dingin. Mendengar itu Seikapun terdiam.

"Itu tidak benar…" Bisik Seika pelan. Yuukipun memandang Seika dengan pandangan dinginnya.

"Baiklah. Akhir minggu ini kita ke kuil." Kata Yuuki akhirnya, mendengar itu Seikapun tersenyum senang.

Di kuil seperti biasa, mereka melemparkan uang receh, membunyikan lonceng, dan berdoa.

'Semoga hubunganku dan kakak bisa kembali baik, dan semoga penampilanku lusa bisa sukses!' Doa Seika. Setelah itu dia dan Yuukipun bergegas untuk pulang.

"Kau meminta apa kak?" Tanya Seika.

"Bukan sesuatu yang penting…" Jawab Yuuki pendek. "Kau sendiri? Apa permintaanmu?"

"Aku ingin hubunganku dengan seseorang membaik…" Jawab Seika dengan senyum sedih.

"Seseorang? Seijuurou-kun?" Sindir Yuuki. Seikapun langsung menggelengkan kepalanya.

"Bukan! Bukan dia!" Tegas Seika.

"Naa, Seika… Jawab aku dengan jujur. Kau juga menyukai Seijuurou-kun kan?" Tanya Yuuki dengan nada serius.

"Ha-hah? Apa maksud kakak?" Elak Seika.

"Jawab aku!" Perintah Yuuki dengan nada tinggi.

"A-aku tidak…"

"Jawab aku dengan jujur Seika!" Bentak Yuuki, sehingga Seika terdiam. Hening diantara mereka.

"Seika… Seijuurou-kun menyukaimu… Dia memilihmu…" Kata Yuuki akhirnya, dada Yuuki sakit sekali rasanya saat mengatakan itu. Mendengar perkataan Yuuki, Seikapun membelalakan matanya kaget.

"E-eh?" Kata Seika bingung, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.

"Kenapa? Kenapa selalu kau?" Bisik Yuuki pelan dengan nada penuh kebencian, namun cukup terdengar oleh Seika. Yuukipun menghentikan langkahnya saat akan menuruni tangga kuil tersebut.

"Ka-kakak?" Panggil Seika bingung karena tiba-tiba bicara seperti itu.

"KENAPA?! KENAPA SELALU KAU?! PADAHAL KITA KEMBAR, TAPI KENAPA SELALU KAU YANG TERPILIH?! KENAPA BUKAN AKU?!" Teriak Yuuki pada Seika menumpahkan semua emosinya yang selama ini dia tahan..

"Itu tidak benar! Aku-" Seikapun berusaha menyentuh Yuuki, namun tangannya langsung ditepis oleh Yuuki, Seikapun melihat mata Yuuki yang dipenuhi oleh kebencian dan rasa sakit saat menatapnya sehingga membuat Seika membatu, ini pertama kalinya dia melihat Yuuki menatapnya seperti itu.

"… Bagaimana jika kau merasakan sedikit rasa sakitku?" Kata Yuuki dingin, lalu ia mendorong Seika pelan dari tangga kuil tersebut. Seika yang terlalu terkejutpun tidak bisa merespon apa yang Yuuki lakukan padanya, keseimbangannya hilang dan tiba-tiba hanya rasa sakit yang terasa ditubuhnya, dia merasa ada cairan berwarna merah mengalir keluar dari tubuhnya. Seika terjatuh dari tangga kuil tersebut.

"Ka… Kak…" Bisik Seika lemah, yang terbayang hanyalah wajah Yuuki yang tadi menatapnya penuh kebencian sebelum semuanya menjadi gelap. Sementara Yuuki saat ini melihat Seika dengan tubuh gemetar karena takut.

"A-apa yang tadi kulakukan?" Kata Yuuki sambil memegangi kedua tangannya, air matanya mulai menetes. Diapun berlari turun mendekati tubuh Seika.

"Se-Seika?" Panggil Yuuki ketakutan, terutama saat melihat darah yang terus keluar dari tubuh Seika, namun tidak ada respon sama sekali dari tubuh itu.

"Seika! Seika! SEIKAAA!" Teriak Yuuki panik dan dia juga sangat menyesali perbuatannya tadi itu, entah setan apa yang merasukinya sehingga ia tega melakukan hal seperti itu pada adiknya. Mendengar teriakan Yuuki, orang-orangpun menghampiri mereka, dan segera memanggilkan ambulan.

'Seika…' Batin Yuuki, panik dan sedih. Dia sekarang berada didepan ruangan operasi sendirian, ayahnya masih dalam perjalanan kembali ke Jepang karena sedang tugas diluar negeri. Tidak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki, dan terlihatlah sosok pemuda berambut merah.

"Seika bagaimana?" Tanya Akashi berusaha untuk tetap tenang, namun dari nada suaranya dia benar-benar panik dan khawatir, nyatanya dia langsung pergi menuju rumah sakit saat tahu Seika kecelakaan. Yuukipun menggelengkan kepalanya lemah.

"… Tidak tahu… Dokter bilang, Seika kehilangan banyak darah dan beberapa tulangnya ada yang patah dan retak… Beruntung dia masih bisa diselamatkan…" Kata Yuuki lemah, air matanyapun terus berjatuhan, Akashi yang mendengar itu shock namun dia berusaha tetap kuat lalu ia mengambil posisi duduk disebelah Yuuki sambil menyerahkan sapu tangannya pada Yuuki.

"… Tenanglah, Seika itu kuat. Kita berdoa saja agar operasinya berhasil." Kata Akashi. Yuukipun membalasnya dengan anggukan kecil.

'Maaf… Maafkan aku Seika…' Batin Yuuki. Tiga jam kemudian operasipun selesai, dokter yang menanganinyapun keluar, Akashi dan Yuukipun langsung menemuinya.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Akashi.

"Jangan khawatir, operasinya berhasil. Kalian bisa menemuinya saat dia dipindahkan ke ruang rawat biasa, dan tinggal menunggu kesadarannya pulih." Kata dokter tersebut. "Hanya saja… Kedua kakinya patah, jadi dia tidak bisa berjalan untuk empat sampai enam bulan kedepan dan harus menjalani rehabilitasi agar bisa berjalan normal kembali. Setelah itu, dia juga harus di operasi kembali untuk pencabutan pen." Lanjutnya.

"… Tapi dia pasti sembuh kan?" Tanya Akashi lagi, dia khawatir jika Seika mengetahui keadaannya.

"Iya, tentu saja." Jawab dokter itu singkat, setelah itu sang dokterpun pamit untuk kembali ke ruang kerjanya. Yuuki dan Akashipun menemui Seika yang masih belum sadar di ruang rawatnya. Akashipun duduk dikursi samping ranjang Seika sambil memegang tangannya dan menatap wajah Seika yang sekarang terdapat perban dipipinya dan agak memar. Sementara Yuuki menatap Seika dan Akashi dengan pandangan sedih.

'Kenapa aku merasa lega saat mengetahui Seika tidak apa-apa? Padahal jika Seika terbangun nanti semua perbuatanku pasti akan ketahuan. Dan lagi… Bukankah aku membencinya?' Batin Yuuki.

.

.

.

"Seika" Panggil sebuah suara.

'Siapa?' Batin Seika.

"Seika…" Panggil suara itu lebih jelas.

'Sepertinya aku kenal suara ini…' Perlahan Seika membuka matanya yang terasa sangat berat, samar-samar dia melihat bayangan seseorang.

"Seika!" Panggil suara itu lebih keras. Seikapun membuka matanya lebar, dan terlihatlah Akashi, ayahnya dan Yuuki yang menatapnya khawatir dan lega.

"Sei… Juurou? Ka… kak? A.. Yah?" Kata Seika lemah dengan suara serak.

"Minumlah." Kata Akashi sambil menyodorkan minum.

"Aku akan memanggil dokter." Kata Yuuki, diapun keluar dari ruangan tersebut. Namun didepan pintu ruangan itu, Yuuki jatuh terduduk dan menangis penuh kelegaan.

"Syukurlah… Seika… Syukurlah…" Isak Yuuki. Dia benar-benar bersyukur adiknya masih hidup.

"Seijuurou…" Panggil Seika. "Bisa tidak menatapku begitu? Aneh tahu!" Katanya. Karena saat ini Akashi menatap Seika dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau baru saja bangun dan langsung membuatku kesal." Kata Akashi dingin. Seikapun tertawa kecil mendengarnya. Tidak lama kemudian dokter yang dipanggil Yuukipun datang dan memeriksa keadaan Seika.

"Sudah tidak apa-apa. Minggu depan Makimura-san sudah bisa keluar dari rumah sakit." Kata sang dokter, wajah Seikapun tersenyum senang mendengarnya.

"Tapi… Makimura-san, anda harus berlatih menggunakan tongkat. Dan untuk 4-6 bulan kedepan anda harus rehabilitasi agar bisa berjalan normal kembali karena kedua kakimu patah. Dan setelah itupun, anda masih harus melakukan operasi kembali untuk pencabutan pen. Mengerti?" Kata sang dokter. Mendengar itu semua yang ada diruanganpun terdiam.

"Aku mengerti." Kata Seika sambil menunduk, rasanya ia ingin menangis sekarang.

"Baiklah, kalau begitu saya pamit." Pamit sang dokter.

"Ngomong-ngomong Seika. Bagaimana ceritanya kau bisa terjatuh dari tangga kuil?" Tanya ayahnya. 'Degg', jantung Yuuki dan Seikapun berdebar lebih kencang. Akashipun mencium ada yang tidak beres. Yuukipun bermaksud untuk mengaku.

"Itu-" Kata Yuuki saat akan menjawab, namun dipotong oleh Seika.

"Itu karena aku ceroboh, aku tidak hati-hati melangkah, dan akhirnya terpeleset… Hehe… Maaf membuat kalian khawatir…" Kata Seika dengan senyum palsu terbaiknya. Mendengar itu Yuuki membelalakan matanya kaget, sementara Akashi hanya menatap Seika tidak percaya.

"Hhh… Kau harus berhati-hati Seika… Jantungku hampir copot saat mendengarmu kecelakaan dari Yuuki…" Kata ayahnya.

"Maaf ya, ayah…" Kata Seika masih dengan senyumnya.

"Baiklah, kalau begitu ayah akan berangkat lagi kekantor. Yuuki, jaga Seika. Seijuurou-kun, terima kasih sudah kemari. Aku pergi dulu." Pamit ayahnya, lalu ia pergi menuju kantornya, sejujurnya, dia mencurigai cerita Seika, tapi dia berusaha percaya padanya.

"Ceritamu tadi sungguhan?" Tanya Akashi dengan nada mengintrogasi.

"Tentu saja! Untuk apa bohong!" Kata Seika berusaha meyakinkan Akashi.

"Hmm…" Kata Akashi pendek masih tidak percaya. Sementara Yuuki hanya menundukan wajahnya tanpa berani menatap siapapun disitu.

"Aku… Keluar dulu, aku titip Seika ya, Seijuurou-kun…" Pamit Yuuki. Akashipun mengangguk. Tiba-tiba ponsel Seika berbunyi, ada panggilan masuk dari temannya, Aya. Seikapun mengangkatnya.

"Moshi-moshi?"

"Seika, apa benar kau kecelakaan?!" Kata suara diseberang sana panik.

"I-iya… Sudah tidak apa-apa sih… Tapi…"

"Tapi?" Kata Aya penasaran.

"Kakiku patah, jadi aku tidak mungkin ikut tampil di festival nanti…"

"A-apa?! Patah?!"

"Maaf… Maafkan aku ya… Aya…" Kata Seika dengan nada menyesal.

"Tidak! Sama sekali tidak apa-apa! Jangan pikirkan hal ini, pikirkan saja kesembuhanmu oke?"

"Un… Terima kasih, Aya. Sampaikan maafku pada semuanya…" Dan Seika memutuskan panggilannya, diapun hanya menunduk sambil tetap memegang ponselnya.

"Mengesalkan ya… Padahal aku sudah berlatih mati-matian untuk tampil nanti…" Kata Seika sambil tersenyum paksa. Akashipun menatap Seika simpatik. Dia tahu betapa Seika berusaha keras untuk tampil nanti, tiba-tiba Akashi menggenggam tangan Seika, sehingga Seikapun menatapnya bingung sekaligus kaget.

"Kalau ingin menangis, menangislah." Kata Akashi. Seikapun langsung memeluk Akashi, mengabaikan rasa sakit ditangannya, ataupun luka-luka ditubuhnya. Dia hanya menangis, menangis, dan menangis di dada Akashi, Akashipun memeluknya kembali dengan hati-hati dan mengelus kepala Seika. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuknya. Sementara Yuuki yang baru saja kembali melihat pemandangan itu, diapun memilih untuk keluar lagi. Ini salahnya, dia benar-benar kakak yang buruk, sehingga membuat adiknya seperti itu, hanya itulah yang ada di pikiran Yuuki.

.

.

.

Sepuluh hari kemudian…

"Ngh~ Akhirnya bisa pulang dan bermain!" Kata Seika riang.

"Jangan senang dulu. Kau masih harus bolak balik rumah sakit," Kata Akashi dingin.

"Chee… Kau menghancurkan mood orang saja!" Kata Seika kesal. Dia sedang berlatih berjalan dengan tongkat di taman kota bersama Akashi dan Yuuki sekarang. "Hhh… Ternyata capek sekali menggunakan tongkat ini…" Lanjutnya. Diapun duduk disalah satu bangku taman.

"Ngomong-ngomong Yuuki, aku ingin bicara denganmu." Kata Akashi tiba-tiba pada Yuuki.

"So-soal apa Seijuurou-kun?" Kata Yuuki gugup. Seikapun merasakan firasat buruk soal ini.

"Yang mendorong Seika dari tangga kuil, kau kan?" Kata Akashi to the point. Seika dan Yuukipun membelalakan matanya.

"Ka-kau bicara apa sih Seijuurou?! Aku sudah bilang ini kecelakaan kan!" Kata Seika berusaha menutupi perbuatan Yuuki.

"Jangan bohong, Seika." Kata Akashi dingin.

"Aku tidak-!"

"SUDAH CUKUP, SEIKA!" Teriak Yuuki, memotong kata-kata Seika.

"Kakak…" Kata Seika lemah.

"Ya, kau benar Seijuurou-kun. Akulah yang mendorong Yuuki dari tangga sehingga membuatnya seperti ini. Puas?" Kata Yuuki dengan suara bergetar.

"Kenapa? Seika adikmu kan?"

"Kenapa? Sudah jelas kan? Aku benci padanya! Dia memiliki semua yang tidak aku miliki! Teman, kasih sayang orang tua, bahkan kau! Padahal kami kembar, tapi kami tidak sama! Maka dari itu, aku ingin dia merasakan sakit yang aku rasakan!" Yuukipun mengeluarkan semua emosi yang ditahannya.

"Yuuki… Kau…" Ucapan Akashi terhenti saat melihat Seika memeluk Yuuki dengan kaki yang bergetar, karena kaki Seika belum sembuh.

"Kakak… Kumohon sudah cukup… Jangan menyakiti dirimu lagi…" Bisik Seika. Yuukipun tersentak mendengar itu, dia ingin memeluk Seika kembali, tapi tidak bisa, dia merasa tidak pantas menerima uluran tangan adiknya.

"Lepas! Aku tidak butuh rasa kasihanmu! Aku membencimu!" Kata Yuuki sambil mendorong Seika hingga Seika terjatuh. Akashi ingin membantunya, namun Seika menolak. Seikapun segera mengambil kedua tongkatnya dan berdiri.

"Sekalipun kakak membenciku, tapi satu hal, aku tidak pernah membenci kakak… Karena kita kembar…" Kata Seika dengan senyumnya.

Yuuki yang mendengar itupun langsung berlari meninggalkan Seika dan Akashi, Seikapun berusaha mengejar Yuuki, walaupun itu sangat sulit karena dia menggunakan tongkat. Tanpa Seika sadari lampu penyebrangan sudah berubah warna menjadi merah. Yang ia dengar hanyalah suara teriakan Akashi, klakson mobil, dan kakaknya…

'Ckiit! Brakk!'

Wajah Seika berubah ngeri melihat pemandangan didepannya, kakaknya dengan tubuh bersimbah darah karena tertabrak mobil box tergeletak dijalan.

"KAKAK!" Jerit Seika. Tepat saat mobil box itu hampir menabraknya, kakaknya muncul dan mendorongnya, sehingga Seika selamat. Akashi yang melihat itupun langsung menelepon ambulan dan segera memeluk tubuh Seika, namun Seika melepaskan pelukan Akashi, dan menghampiri tubuh kakaknya, memeluknya, mengabaikan darah kakaknya yang menempel ditubuhnya.

"Sei… Ka…" Yuuki berbicara dengan suara terputus-putus.

"Jangan bicara dulu! Bertahanlah!" Kata Seika, air matanya mengalir membasahi pipinya dan sang kakak. Yuukipun menggeleng lemah.

"Apa… Ini hukuman karena… ukh… Melukai adik sen… Diri?" Kata Yuuki sambil tersenyum sedih.

"Sudah cukup, kakak! Kumohon, jangan tinggalkan aku sendiri!" Yuukipun menyentuh pipi Seika sambil tersenyum.

"Jangan menangis… Kau jangan khawatir… Kau… Punya banyak o-uhuk-rang, disekitar-uhuk-mu…" Darah keluar dari mulut Yuuki, namun ia tetap melanjutkan kalimatnya. Air mata Seikapun semakin deras melihatnya.

"Sei… Juu… Rou… Kun… Tolong… Jaga Seika… Ya…" Pinta Yuuki pada Akashi yang berada dibelakang Seika, nada suaranya semakin lemah. Akashipun menjawabnya dengan anggukan.

"Sei… Ka… Maaf… Ya… Aku menyaya… ngimu… Berbahagia… Lah…" Kata Yuuki sambil tersenyum tulus sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Tangan yang menyentuh pipi Seikapun terjatuh, meninggalkan jejak darah disana.

"KAKAK! KAKAK! KAKAAAK!" Raung Seika, namun percuma, Yuuki sudah tiada. Akashipun memeluk Seika erat, berusaha menenangkan gadis itu, tapi percuma, Seika terus dan terus menangis.

Esoknya, upacara pemakaman Yuukipun dilaksanakan, disana Seika terus menerus menangis, sementara ayahnyapun shock, tapi berusaha untuk tegar melihat tubuh putrinya terbujur kaku.

"Kakak…" bisik Seika saat melihat kakaknya di kremasi, air matanya masih terus menetes. Akashi menghampiri Seika dan menggenggam tangannya, berusaha menguatkan gadis disampingnya ini. Seikapun menatap Akashi dan tersenyum sedih.

"Sei… Apa kakak senang sekarang? Apa kakak sudah tidak merasa sakit lagi?" Tanya Seika.

"Ya. Pasti." Jawab Akashi singkat. "Karena itu, kau juga harus berbahagia. Berhentilah menangisi Yuuki, karena itu akan membuatnya sedih…" Lanjut Akashi.

"Benarkah? Kalau begitu, ini yang terakhir… Biarkan aku menangisi kakak untuk yang terakhir…" Kata Seika.

"Baiklah, tapi berjanjilah, ini terakhir kalinya kau menangisinya." Seikapun mengangguk dan Akashi menarik Seika kepelukannya, membiarkan Seika terisak disana.

"Selamat tinggal… Kakak…" Bisik Seika.

8 tahun kemudian

"Akashichi! Seikachi! Selamat atas pernikahan kalian-ssu!" Kata Kise riang. Hari ini adalah pernikahan Akashi dan Seika, anggota Kiseki no Sedai yang lainpun hadir.

"Terimakasih Kise-kun! Aah! Ini tunanganmu ya!" Kata Seika dengan senyumnya.

"Iya! Kami akan segera menyusul kalian! Tunggu saja-ssu!" Seika dan yang lainpun tertawa mendengarnya. Tiba-tiba sepintas Seika melihat sosok yang sangat dikenalnya tersenyum kearahnya, Seikapun terkejut namun ia tersenyum kembali pada sosok itu.

'Kakak… Kau lihat kan? Aku bahagia sekarang…' Batin Seika.

"Ada apa?" Tanya Akashi bingung melihat istrinya tersenyum tiba-tiba.

"Tidak… Bukan apa-apa…" Jawab Seika sambil tersenyum dan menggenggam tangan suaminya.

END

Author's note:

Yaps, inilah chapter 2-nya…

Maaf kalau endingnya GaJe gitu… Maaf juga kalau ceritanya lebay abisss~

Sekarang, saatnya membalas review!

Akiyama Seira : Makasiih~! Ini chap duanya, semoga kamu senang(?)~ :D

Juvia Hanaka : Uwaah, dibilang bagus… Makasih '/' *blushing* #plakk
Yosh! Ini chap 2-nya… Semoga kamu suka~ xD

Aoi Yukari : Selamat! Tebakanmu benar! xD #digetok

Makasih banyak buat semua yang udah baca, review, fav, and follow! Aah… Bahagianya~ *lebay*

Well, pokoknya komentar, kritik, saran, dll saya tunggu semuanya di kotak review~

Last, review please~ w)d

Sign. Kaito Akahime