Chapter 4, sebelumnya:

"Ini, pembagian kamar asrama kalian nanti!, tapi kalian berdua tidak sekamar denganku", jawab Teto, dan mereka mengalihkan pandangan pada sebaris tulisan. "Whhaatt!", mereka berdua berteriak bersamaan, "Tidak mungkiin…!"

Chapter 5, "One guide"

"Ne?, minna ada apa?", tanya Teto bingung. "A..ah tidak apa, apa!", mereka berdua berusaha meyakinkan. "Hmmm!, kalian berdua pasti menyembunyikan sesuatu dariku", Teto meletakkan telunjuknya di dagunya. Tulisan pembagian kamar asrama tertulis 'Kamar 32, Miku Hatsune, Shion Kaito, Mikuo Atushi', 'Kamar 12, Luka Megurine, IA, Luki', 'Kamar 67, Rin Kagami, Len Kagamine, Rinto Masami'.

"Ya..yaudah Teto kami ada urusan sebentar", mereka berusaha mengendap ngendap meninggalkan Teto. "Jangan lupa ya!, kalian murid baru masih ada kelas!", Teto melambaikan tangan salam jumpa. 'Akhirnya, dia pergi juga', mereka berdua berlari kencang menuju tempat peneliatian professor. "Hosh.. hosh, Miku chan tunggu!", lari Miku lebih lambat dari Rin, tapi lebih cepat daripada Luka, sehingga membuat nafas Luka terengah engah.

'Krieet!', pintu lama yang terbuat dari kayu itu berderit, membuat tikus tikus berlari berhamburan tak tahu arah. Luka menyalakan computer penghubungnya. "Sensei!.. sensei!", teriak Miku didepan web camera. "Tidak ada jawaban!", jawab Luka takut. Miku mulai mengetik keyboard computer, mencari kaberadaan senseinya di sector 3, 'tidak ada tanda keberadaannya!', Miku mulai cemas. "Miku!.. apa sensei sudah di uninstall!", Luka menatap layar computer dengan meneteskan air mata. "Ti..tidak mungkin, siapa yang dapat menguninstall sensei!, kecuali professor sendiri yang melakukannya, kau ingat ada kode rahasia untuk proses penguninstallan!", Miku memukul meja komputernya. "Kalau begitu.. kemana hilangnya sensei!", Luka tambah menangis deras, Miku menatapnya.

"Kalau begitu!, kita harus cepat cepat beritahu ini ke Rin, dan kita harus cepat menemukan professor!", Miku keluar dari ruangan disusul Luka dibelakannya. "Ini sangat aneh, sungguh aneh!", pekik Miku yang mulai menangis.

Rin POV.

"Aku sudah boleh pergi?", Rin turun dari kasurnya. "Apa kau sudah merasa baikan?", Gumi menaikkan alisnya, Rin mengangguk dan berlari keluar ruangan UKS. Rin berlari terhuyung, pandangannya mengabur, ia tidak bisa berkonsentrasi, masalahnya ia belum makan, kedua kepalanya habis terbentur tadi ketika pingsan didasar tangga, ketiga efek obat yang diberikan Gumi membuatnya ngantuk berat, dan keempat kekhawatiran Rin yang berlebihan. "Kau.. harus kuat Rin!", Rin menyemangati dirinya sendiri menuju kelas, yang letaknya masih jauh, sekarang ia sedang berjalan menuju lift yang terbuka. Rin memencet tombol lift, dan tertidur sebentar di lift.

Setelah sampai tujuan, lift terbuka. 'Cting', bunyi itu membuat gadis bermata azure terbangun. Rin beranjak keluar dari lift, dan berlari menuju kelas. "Hmm, Rin chan silahkan duduk!", jawab guru berambut black, setengahnya bewarna merah dan orange, guru itu bernama Lola. (Author: "Karena mikirnya lola!", *Author dilempari granat). Rin yang paham langsung duduk manis ditempatnya, Len dan Rinto saling bertatapan dengan kesal.

"Nah anak anak!, hari ini kita belajar apa?", jawab Lola dengan gaya trololo the exploder (Dora, Author: "Karena gk mau promosi, namanya gua ganti jadi Trololo the exploder"). "Matematika bu!", jawab murid murid semangat, kecuali Rin yang sedang tertidur pulas. "Sekali lagi!", jawab Lola memasang wajah roll face. "Matematika!", jawab murid dengan membawa golok. "Sekali lagi!", Lola memasangkan tangan di telinga. "Matemaika!", jawab murid tidak ikhlas. "Pinter!, siapa gurunya?", jawab Lola dengan embel embel. "Bu Lola!", "Sekali lagi!", karena kesal salah satu murid melemparkan bom ke Lola. 'Dhuarr!', kelas meledak, murid murid berhamburan keluar, dan bu Lola lompat mosh pit keluar jendela. "Ah.. guru gile!", Len meletakkan tangannya ke leher. "Ada seseorang ketinggalan masih ada didalam sana!", teriak Miku histeris. "Haah!, siapa?!", panic Len histeris. Miku menggelengkan kepala, sambil menunduk.

Rinto hanya menatap aksi Len masuk didalam kobaran api, tidak peduli, sebaliknya Rinto mengikuti teman temannya menonton Len menunjukkan ABSnya, duduk dikursi didepan kelas, memakai kacamata 3D sambil makan popcorn?.

"Uhuk!.. uhuk!", Rin batuk batuk terjatuh dibawah meja dengan kejang kejang. Biar tidak menghirup asap, ia mentup hidungnya dengan sapu tangan. "U..uh, kenapa disaat begini aku lengah?", Rin merayap dengan keadaan badannya yang kian melemah. Pandangannya mengabur, sulit membuka matanya, gerakannya kini berhenti. 'Bruk', Rin terjatuh untuk kedua kalinya pada hari pertamanya sekolah. 'menyebalkan!', gerutunya dalam hati. Rin bermimpi, didalam ruang makan bersama professor?, sensei?. Mereka semua tertawa bersama sama, saat itu aku, Miku, dan Luka masih kecil, menatap sawah diterangi cahaya kunang kunang?.Tempat itu kemudian berputar, kenangan itu merasa hilang.

Tiba tiba Rin sekarang melihat dirinya yang masih di taman kanak kanak menangis sambil memeluk senseinya yang sudah naik SMP, Rin kecil digandeng seseorang menuju ruang operasi. Rin yang sekarang berteriak histeris melihat darah dimana mana, ia menutup kedua telinganya dengan tangannya. Di ruangan gelap ada suatu cahaya jauh disana, Rin yang sekarang menatap dirinya yang kecil ada di tempat yang bercahaya itu, sedang tertawa gembira. 'You lie, more hopeless, and you can't awake to rise!', suara keras itu menggaung di ruangan gelap, Rin berlari menuju cahaya, yang mungkin tidak ditakdirkan untuknya, suatu benda seperti tali menjeratnya agar ia tidak bisa lari dari keterpurukannya. Rin berteriak, menangis deras, 'kapan terakhir kali aku menangis?', batinnya. Rin kecil menghilang seperti lembaran kertas melayang ke udara. Hilang dari pandangan tanpa jejak.

Tempat itu berubah lagi menjadi laut, tali hitam menjeratnya, Rin bergerak bersusah payah, untuk melepas ikatan. Semakin kuat bergerak, semakin erat iktannya. Rin kehabisan nafas, meninggalkan buih buih didalam air. Berharap seseorang dapat membantunya. Matanya terpejam. "Somebody, can you help me?, can you hear me?, can you huge me, from this darkness way", Rin berbicara di tengah nafas terakhirnya.

"Rin Kagami!", teriak bocah berambut honeyblonde dikuncir belakang, dengan terbatuk batuk. Rin tidak merespon, "Cih", Len mendecakkan lidah mencari jalan masuk diantara kayu yang terbakar. Len menemukan jalan kecil yang muat untuk dirinya, dia terpaksa merangkak dan menunduk. 'Ouch', pekiknya dalam hati, lengan kirinya kena luka bakar yang lumayan parah. Setelah berhasil masuk ia menutup hidungnya dengan tangannya, dan mendorong Rin agar masuk celah kecil untuk jalan keluar. Setelah berhasil keluar, diambang pintu kelas yang terbakar, Len menggendong Rin keluar kelas. "Ia selamat!", Len menjawabnya dengan terengah engah. 'Prok.. prok.. prok', tepukan seluruh murid kelas 7a dengan keras. Len hanya menyeringai senang atas usahanya, dan menatap Rin. "Kita apakan dia?", tanya Len. "Taruh saja di kamar asrama", kata Mikuo yang lain hanya mengangguk. "Baiklah!", Len bersemangat menuju asrama, karena ia dapat bermain PSP sepuasnya 0. Setelah menuju lantai 1, lantai paling dasar, Len berlari dari taman, menuju kebelakang sekolah 'asrama', tempat para murid terlelap. Len berlari dengan bertelanjang dada, membuat para gadis yang melihatnya nosebleed jamaah?.

Memasuki lobby asrama, penjaga kartu menyerahkan kartu kamarnya kepada Len. Len segera menuju kamar no. 67, kamar asrama tingkat 3. Yang menyebalkan bagi Len, diasramanya tidak ada lift, kalaupun ada paling hanya lift barang. Len menaiki anak tangga dengan susah payah, sedangkan tangannya yang luka sedang menggendong seseorang. "Capeek!", keluh Len membaringkan Rin di ranjang.

'Manis juga, kalau dia sedang tidur', Len tersenyum, dan memegang dadanya. "Kenapa ini?, kenapa dadaku memanas!", Len menatap Rin membuat semburat merah muncul dipipinya. "Aku kalah!", Len mengelus rambut Rin dan mencium dahinya, "Kau menang!", pekik Len. Karena lelah atas aksi heroiknya, Len tertidur lelap disamping Rin, hanya guling yang dapat memisahkan jarak mereka.

Normal POV.

"Kriing..kriing", bel sekolah berbunyi tandanya kelas selesai. "Aku mau kekamar!", Luka meregangkan tangannya keatas. "Mau ngapain?", Miku memiringkinkan kepalanya. "Mau tidurlah!, loe tahu gk, hari ini capek banget tahu!, mana lagi guru di kelas gua killer semua!, si Piko kek, si Yukari kek!", Luka mengembungkan pipi. "Hahaha!, iya juga sih!", jawab Miku. "Tapi loe masih mending, lah gua dapat guru udah namanya LOLA, otaknya lola lagi, dan perlu diinget lagi ye kite udah SMP, matematika masih diajarin tambah tambahan!, inikah yang dinamakan kecerdasan manusia di bumi, tambah lagi kelas gua kebakar gara gara dia!", Miku tertawa terbahak bahak. "Buset dah!, serius lo!", tatap Luka tak percaya. "Lo liat sendiri kan!", Luka mengikuti arah gerak Miku menuju kelasnya yang terbakar. "Yang lebih lucu lagi Luka, si Rin kan ketinggalan di kelas, pas itu lagi kebakaran, apinya membesar, si Len akhirnya melakukan aksi heroic kayak di pilem pilem india acha acha gitu lah!". "Anjiir lo, temen susah, lo malah seneng!", Luka tertawa. "Yang penting!.. co cweeeett!", teriak mereka perbelokan tembok seseorang berjubah hitam menabrak mereka berdua hingga terjatuh, tapi ia tetap berlari kencang. "Hoi, kalo lu nabrak sohib gua, minta maaf dong!", teriak Miku tidak terima. "Sudahlah Miku chan tidak apa!", Luka menenangkan. Luka membantu Miku berdiri karena luka dikakinya masih terasa kesakitan. "Cih, awas saja kalau aku bertemu lagi dengannya!",Miku menggepalkan tangannya dengan marah.

"Eh lihat!, Miku chan!, benda apa itu?", Luka mengambil sebuah flashdisk, yang ditandai dengan tanda 'X'. "Hmm?, aku tidak ahli dengan sebuah, atau yang namanya kasus 'menyelidiki'", Miku mengambil flashdisk itu dan mengamatinya. 'menyelidiki', 'Sherlock Holmes?', mereka berdua mulai berpikir, kemudian sesaat mereka saling menatap. "Rin.. Rin Kagami!", jawab mereka berdua kompak.

~ To be continew ~

Author: "season 1 sudah selesai!", author tepar di sofa

Miku: "Ciee, season 2 nya kayak gimana nih nanti?", Miku menepuk pundak Author

Author: "Rahasia!, deh pokoknya!", author memberikan salam peace

Kaito, Gakupo, dan seluruh anggota Vocaloid: "Katanya, issuenya, thor lo season satu udah selesai ya!", girang semua

Author: "Yoi!"

Seluruh anggota Vocaloid: "Author sini!, masa penulisnya sendiri gk diajak berpelukan!"

Author: "Ogah!, gua bukan Teletubies!"

Len: "Thor berarti gaji kite semua naik kaga?", Len menunjukkan wajah serakah

Author: "Tentu!, tapi loe semua harus acting lebih bagus lagi!", jawab Author

Seluruh anggota Vocaloid: "Horee, ayo adakan pesta!, banyak makanan!"

Author: "Lo semua gile!, inikan puasa!", semua Vocaloid teriak, hingga studio hancur.

Author: "Maafkan saya sebagai author kalau ada kekurangan dalam menulis!, sekali lagi 'selamat menunaikan ibadah puasa'", Author membungkuk