Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
The Two-Tale Heart 2
II
DRACO
Draco Malfoy tidak tahu apakah dia harus menganggap keadaan ini sebagai kesialan atau keberuntungan. Pertama, sang ayah, Lucius Malfoy bahkan tidak mempedulikannya saat Draco pulang ke rumah untuk liburan musim panas. Biasanya, ayahnya akan menggerecoki mengapa dia berada satu peringkat lagi di bawah si cewek kelahiran-Muggle, Hermione Granger sebagai juara sekolah. Lalu mengapa dia tidak mengambil pelajaran Telaah Muggle dan Rune Kuno agar bisa mendapat nilai OWL yang sempurna. Atau mencibir karena dia kalah dalam pertandingan Quidditch. Atau menyalahkannya atas segala sesuatu.
Musim panas ini dia tampak diberi kebebasan untuk liburan sepenuhnya. Tidak ada pelajaran tambahan atau pelajaran-menjelang-adanya-pelajaran-barunya.
Tapi kediaman ini juga menyiksa karena ibunya, Narcissa Malfoy, ikut diam. Bukan karena Draco, tapi karena sang suami. Ayahnya baru saja mendapat malu di sekolah Draco sendiri, kemudian dituduh atas sesuatu yang memang mungkin dia lakukan. Kemudian dia kehilangan jabatan sebagai dewan sekolah di Hogwarts. Tapi Draco tahu mengapa ibunya luar biasa marah sehingga mogok ngomong. Itu karena mereka kehilangan satu peri-rumah bernama Dobby.
Padahal masih ada beberapa peri-rumah yang mengabdi pada keluarga Malfoy. Tapi tampaknya ibunya lebih memilih untuk berurusan dengan Dobby, walaupun dia ternyata terbukti mengkhianati dan malah mencari Harry Potter, musuh utama Draco di sekolah, untuk menjadi Tuannya.
Draco tidak menyukai pertengkaran keluarga. Apalagi hal itu disebabkan oleh Harry Potter atau Dobby. Dia sudah sering melihat orangtua teman-temannya terkadang bertengkar di depan umum lalu sehari setelahnya sudah mesra lagi.
Tapi dengan memusuhi ayahnya, ibu Draco jadi mencurahkan semua perhatiannya pada Draco seorang...
Draco kini bisa tidur dengan nyenyak di tempat tidurnya yang empuk dan lebih luas. Matahari menyinarinya untuk membangunkan. Di asramanya di Slytherin, kamar mereka terletak di bawah tanah yang gelap dan lembap. Enak rasanya sekali-sekali mendapat kehangatan ini. Lagipula, lupakan tentang tidur nyenyak beberapa minggu kebelakang di Hogwarts. Ada teror dengan Basiliks si raja ular sebagai pemeran utamanya. Mereka semua tidak bisa tidur karena khawatir akan diserang menjadi batu. Atau lebih buruk lagi, sampai mati.
Draco yakin sekali, walaupun rumah mereka penuh dengan ruang bawah tanah, tidak ada leluhurnya yang membangun kamar rahasia dan membiarkan ular besar bersarang didalamnya.
Selama beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ketiga belas, Draco menghabiskan waktu diluar rumah dengan terbang. Dia berlatih menangkapi apel yang dia lempar sendiri. Kemudian dia mempertajam mata dengan berusaha menangkapi burung atau bahkan lebah. Lalu tanpa ragu, dia mencuri cara tim lawan di sekolahnya dalam memperkuat diri, yaitu lari mengelilingi rumahnya sendiri. Itu semua dia lakukan agar mengejutkan semua anggota tim Quidditch-nya semester depan. Tapi, dia berada di luar ruangan terutama karena udara di luar sangat berbeda dengan kepengapan yang selalu ada di rumahnya...
"Draco..." kata ibunya sehari sebelum dia berulangtahun. "Aku hanya ingin tahu. Apakah kau tidak apa-apa kalau aku tidak mengadakan pesta ulang tahun untukmu tahun ini? Sebagai gantinya, aku akan membawamu pergi berlibur kemana saja. Ke luar negeri juga boleh..."
Ini mungkin akan jadi tahun yang aneh kalau Draco tidak mengadakan pesta. Dia sudah tumbuh pesat sekarang, sementara suaranya mulai pecah menyebalkan. Draco masuk suatu masa di mana dia telah menjadi setengah-dewasa. Menjadi remaja. Tapi melihat mata ibunya yang penuh permohonan, Draco tahu bahwa sang ibu sedang tidak mau berpura-pura mesra dengan suaminya dihadapan teman-temannya. Melihatnya saja Draco menjadi ikut-ikutan lelah. Lalu dia menyetujuinya.
"Tidak apa-apa, Bu... Nanti aku akan melihat-lihat di buku, barangkali aku tertarik pada satu negara..."
Ibunya tersenyum sambil memeluknya erat.
Sesungguhnya Draco tidak tahu harus pergi kemana. Dan dia juga sedang malas untuk melihat-lihat buku. Tapi ide tentang kemana dia harus pergi muncul begitu saja di pagi ulang tahunnya. Tanpa adanya pesta ulang tahun, hadiah paling awal yang diterimanya tahun ini menurun drastis. Bahkan hadiah dari paman-bibi atau sepupu-sepupunya pun bisa dihitung dengan jari. Begitu pula dengan teman-temannya. Beberapa, terutama anak perempuan yang suka padanya, mengirimi hadiah dan menanyakan kapan pestanya. Tapi dua orang teman/pengawalnya pun tidak ingat. Vincent Crabbe dan Gregory Goyle yang bodohnya ampun-ampunan. Tapi Draco malah akan sangat heran kalau mereka sampai ingat.
Kurangnya hadiah tidak menjadi masalah bagi Draco saat dia melihat burung hantu berwarna cokelat kekuningan bertenger di jendelanya. Mata burung hantu itu tampak awas, seolah takut tiba-tiba diserang. Draco menghampirinya. Hatinya diliputi perasaan hangat hanya dengan melihat burung tersebut.
"Hei, Jasper. Kau baik-baik saja?" bisiknya lembut.
Draco menyukai burung hantu yang satu ini. Baru saja bulan kemarin dia mendarat dan mencabuti rambut salah satu musuh Draco yang satu lagi, Marc Zabini. Tapi bukan hanya itu. Jasper adalah burung hantu milik Serena Van Der Woodsen...
Kalau ada satu orang gadis yang tidak membuatnya mengernyit, mungkin itu adalah Serena. Dia adalah jenis yang mungkin akan dipandang tak berguna oleh keluarga dan teman-temannya. Anaknya serampangan dan jauh dari kata anggun. Dia mudah menangis dan suasana hatinya bisa menyebabkan siapapun menjauh. Dia juga selalu salah dalam memilih teman. Sahabat-sahabatnya kebanyakan anak-anak pecundang yang tidak akan Draco pandang sebelah mata. Serena juga lahir dari keluarga campuran. Ayahnya adalah Muggle biasa sementara almarhum ibunya merupakan keturunan terakhir sang cendekia sihir, Rowena Ravenclaw. Karena dibesarkan di lingkungan Muggle, Draco yakin bahkan ayahnya pun bisa mencium aroma Muggle kalau dekat-dekat Serena.
Tapi semua itu seolah tidak masalah bagi Draco. Kalau Serena di sini... apa yang akan dikatakannya tentang dinginnya suasana di rumah Draco kali ini?
Kartu ulang tahun sederhana yang digambari membuat perasaan Draco lebih baik.
Untuk Draco,
Selamat ulang tahun. Semoga tahun ini membawa banyak keberuntungan untukmu. Maaf aku harus mengirim hadiahmu lebih awal. Ayahku dan aku akan pergi ke Miami. Itu di Amerika. Baru saja terjadi angin topan besar dan kami kehilangan banyak di sana. Kami juga harus melihat para pengungsinya.
Sampai bertemu satu September kalau begitu...
Salam,
S
P.S: Tolong pastikan burung hantuku kembali dengan selamat ya, trims...
Tawa Draco terkembang untuk yang pertama kalinya semenjak mereka berpisah di stasiun kereta api minggu kemarin. Ayah Serena adalah seorang jutawan Muggle, begitulah yang Draco dengar dari temannya satu asrama, Blaise Zabini. Ini akan menjadi dilema besar bagi gadis itu. Bagaimana mungkin dia bersenang-senang di tempat yang baru saja hancur karena bencana?
Kemudian terlintas di benak Draco kemana dia harus pergi besok...
Draco memberikan air minum dari kendi kepada Jasper. Lalu membiarkannya makan makanan Stark yang sedang pergi berburu. Setelah itu dia membuka kado dari Serena.
Draco adalah anak yang sangat tinggi seleranya pada barang-barang. Dia tidak pernah bercanda kalau dia akan memandang sebelah mata pada semua barang murahan yang dipajang di etalase toko. Semua teman-temannya pun sudah mengetahui kesukaan Draco.
Serena, yang tampaknya tidak mau peduli, biasanya selalu memberikan Draco barang-barang biasa yang tidak umum, seperti suvenir atau apa. Hadiah ulang tahunnya kemarin adalah empat miniatur naga dari pulau antah-berantah. Natal yang lalu Draco mendapat hiasan pohon Natal dari suatu negeri lagi. Draco belum pernah ke luar negeri kecuali Irlandia, tempat peristirahatan kakeknya, dan Perancis, tempat orangtuanya belanja.
Tapi tidak ada suvenir untuk kali ini. Arloji hadiahnya merupakan barang terkeren yang pernah Draco terima.
"Coba, bagaimana kalau aku datang ke Miami untuk mengagetkanmu, Van Der Woodsen..." gumam Draco pada arloji yang sedang dia pakai di pergelangan tangannya.
Jasper menguak pelan yang menandakan dia sudah selesai makan. Draco menghampirinya.
"Sampai bertemu nanti..." bisik Draco. "Terbang yang aman dan jaga si ceroboh itu, ya..."
Suara Draco terasa turun satu oktaf ketika dia berbisik. Draco tidak terlalu menyukai suara barunya yang melengking-lengking. Tapi bagaimana lagi? Ibunya bilang bahwa dia sedang memasuki masa puber.
Setelah Jasper menghilang ditelan malam. Draco naik ke tempat tidurnya. Cahaya kamarnya meredup menampilkan empat berlian yang bersinar di arlojinya. Sementara itu, jarumnya yang keperakkan menunjuk waktu dengan gagah. Jam dua belas tepat. Dia telah berusia tiga belas detik ini.
Draco tidur dengan memeluk lengannya sendiri...
.
.
.
Ibunya membangunkan Draco dengan ucapan selamat ulang tahun pagi harinya. Mengagumi arloji barunya.
"Bagus sekali... Dari siapa? Ini tidak seperti buatan Maximillian..." tanya ibunya penasaran, menyebutkan nama perajin arloji langganan keluarga kaya.
Draco merasa otaknya kosong. Dia sama sekali lupa di mana dia menyimpan kartu Serena. Kalau ibunya sampai lihat...
"Oh, bukan... Blaise beli di Swiss..." katanya cepat.
Bibir ibunya mengerucut. Jelas tidak suka kalau salah satu temannya, yaitu ibu Blaise, pergi ke luar negeri lebih dulu dari dia.
"Kita bisa ke Swiss juga tentu... Tapi di sana bahkan belum banyak saljunya..." saran ibu Draco.
"Ibu... AKu mau ke Miami..."
Sekarang Draco merasa bahwa otak ibunya yang kosong.
"Miami di Florida? Amerika? Pantai?" tanyanya tak yakin.
Draco amat sangat yakin bahwa kalaupun ayah dan ibunya pergi ke pantai, itu bukanlah pantai bebas yang besar seperti di Amerika. Atau yang baru saja terserang angin topan berkekuatan besar. Dia bahkan tidak bisa membayangkan kedua orangtuanya berjemur, dilihat dari pucatnya wajah mereka. Tapi ini ulang tahunnya. Dan ibunya sudah berjanji akan membawa Draco kemana saja...
"Baiklah... Aku akan menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang situs sihir di sana. Jadi kita bisa kesana lewat perapian Floo saja... Selamat ulang tahun, Draco," kata ibunya sekali lagi sambil menciumnya. "Kau sarapan di bawah, ya. Ayahmu meninggalkan hadiahnya di sana..."
Ayahnya meninggalkan hadiahnya... Satu hal sudah jelas. Dia terlalu canggung untuk mengucapkan selamat ulang tahun saat istrinya ada di sana. Ini merupakan sesuatu yang tidak Draco inginkan di hari ulang tahunnya. Apa yang bisa dia lakukan agar mereka berbaikan kembali?
Draco pergi ke kamar mandi. Mengabaikan cerminnya yang berdehem-dehem saat Draco mengelusi arloji barunya. Si cermin sialan itu bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Draco melihat di kaki tempat tidurnya. Hadiahnya bertebaran di sana, menunggu dibuka.
Tapi dia sedang tidak ingin membuka kado. Jadi Draco turun ke bawah tanpa kewajiban harus membalas kartu ucapan terima kasih pada semua orang. Dia akan mengatakannya langsung nanti saja.
Ibunya membuatkannya pizza keju dan kopi susu dingin. Dua makanan kegemarannya. Ayahnya tidak akan mengijinkan Draco makan pizza. Dia menyebut pizza sebagai makanan Muggle Italia yang tidak sehat. Tapi ibunya selalu membuatkan dengan diam-diam.
Hadiah ayahnya adalah satu peti kecil yang berisi emas batangan. Draco melihatnya sambil kesilauan dengan adanya pantulan sinar matahari memasuki kisi jendela. Ibunya tidak kelihatan. Mungkin masih menghubungi temannya di ruang kerja... Satu-satunya perapian Floo yang masih bisa dipergunakan untuk keperluan Draco yang belum diperbolehkan ber-apparate.
Draco baru menghabiskan satu potong pizza dan menyelamati dirinya sendiri saat menyesap kopi susu ketika ibunya masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya amat pucat dan masih ada sisa jelaga perapian di dahinya.
"Draco... Maaf kita tidak bisa pergi hari ini..." katanya bergetar.
"Kenapa, Bu?" tanya Draco sambil berdiri. Apa mungkin terjadi sesuatu pada ayahnya?
"Kakekmu memasuki masa kritis..."
.
.
.
Ibunya terlalu gemetar bahkan untuk bicara dengan jelas saat mencari ayah Draco. Dia salah menaburkan bubuk Floo, lalu salah saat berupaya menghubungi keluarga Zabini. Dia malah menghubungi temannya yang petugas kesehatan. Draco terpaksa mengambil alih saat ibunya dengan kacau meracau.
"Oh, keluarga Blaise kan sedang ke Swiss?" tanyanya gugup, mengingat perkataan Draco tadi.
"Tidak! Tidak! Biar aku saja... Ayah Blaise mungkin masih ada..."
Draco memasukkan kepalanya ke perapian dan segera saja rumah indah berwarna biru muda milik keluarga Zabini terlihat di depannya.
"Blaise? Marc? Mrs Zabini? Mr Zabini?" teriak Draco.
Tidak ada yang menyahut, kemudian dia melihat kaki-kaki turun dari tangga. Draco lega saat mengetahui itu Blaise, bukan kakaknya.
"Draco? Ada apa? Selamat ulang tahun..." kata anak berkulit cokelat tersebut.
"Blaise. Dengarkan... Apa ayahku ada di sana?"
Blaise menggeleng, "Tidak ada siapa-siapa di sini. Mengapa? Dia mungkin di rumah Theo?"
Draco tidak mendengarkan dan langsung mencabut kepalanya. Dia menaburkan bubuk Floo lagi dan menyebut rumah Theo. Tapi yang menyambutnya hanya peri-rumah mereka. Dia juga bilang bahwa tidak ada siapa-siapa di sana.
Draco melihat riasan mata ibunya mulai luntur saat dia menangis tanpa suara. Draco merasa cemas juga sekarang. Kakek Draco, Abraxas Malfoy, adalah satu-satunya orangtua ayahnya yang masih hidup. Kakek dan Nenek Draco dari Ibunya, Cygnus dan Druella Black, sudah meninggal bahkan sebelum Draco bisa berjalan. Nenek Draco dari ayahnya, Nenek Hera, bahkan sudah tiada sebelum orangtuanya menikah...
Setelah beberapa lama tidak menemukan ayahnya, Draco mulai berpikir untuk mengutus Stark mencarinya. Tapi kemudian dia teringat sesuatu. Suatu tempat yang membuat ayahnya betah berlama-lama... Bukan di rumah, di Kementerian, atau di rumah teman-temannya... Lalu di mana lagi?
"Borgin and Burkes!" seru Draco, bisa dibilang langsung memuntahkan tujuan pada perapian saking kesalnya.
"Mr Borgin!" serunya pada toko remang-remang yang ada di hadapannya. "Mr Burkes!"
Rasanya seolah menunggu satu minggu bagi Draco untuk menunggu jawaban. Sampai seorang tua berambut licin bernama Borgin dengan terburu-buru menghampiri perapian tempat kepala Draco muncul.
"Ah, Tuan Muda Malfoy..." katanya memuja. "Kau-"
"Apa ayahku ada? Aku ingin bertemu dia!" potong Draco segera.
"Baik, Mr Malfoy muda... Saya akan panggilkan..."
"Cepatlah!" perintah Draco gusar, lupa bersopan santun.
Borgin pergi dan sedetik kemudian dia bergegas-gegas kembali bersama suara sepatu ayahnya.
"Draco?" serunya.
"Ayah! Cepat kembali! Kakek sakit keras!"
Ayahnya mengangguk paham dan segera pergi keluar toko untuk ber-apparate. Draco mengeluarkan kepalanya dari perapian dan ruang kerja ayahnya terlihat kembali.
"Ibu... dia akan datang..."
Belum sempat Draco menghampiri ibunya, sudah terdengar suara keras dari depan ruang tamu. Ayahnya bisa dibilang berlari menuju ruang kerja karena wajahnya merah dan rambutnya berantakkan. Dia langsung menghampiri ibunya dan mengangkatnya pada sikunya.
"Ambil mantelmu, Draco," perintah ayahnya. "Cepat..."
Draco bahkan tidak perlu keluar ruangan karena beberapa peri-rumah tampak sudah siap siaga dan menyiapkan semua perlengkapan bepergian mereka seperti mantel dan tas tangan ibunya. Draco memegangi tas ibunya karena dia tampak terlalu terguncang untuk memegang apapun.
"Masuk perapian... Katakan sejelas mungkin alamat rumah peristirahatan kakekmu. Dan bertahanlah. Jangan sampai tersasar... Kami akan duluan ber-apparate. Apa alamatnya Draco?"
Draco masuk dengan patuh sambil merapatkan sikunya. Dia melirik ibunya yang tampak tidak berdaya di pelukan ayahnya.
"Malfoy Manor 21, Irlandia?"
Ayahnya langsung menaburkan bubuk berwarna kehijauan dan Draco segera mengucapkan tujuannya sekeras dan sejelas mungkin. Perapian langsung berpusing. Meninggalkan pemandangan ayah-ibunya. Kemudian dia memejamkan matanya. Berbagai ruang keluarga, ruang tamu ataupun dapur milik orang lain berkelebat melewati matanya.
Walaupun begitu, Draco tetap berusaha mempertahankan makanannya di dalam perut... Dia tidak tahu apa yang akan terjadi... Apakah kakek Abraxas akan baik-baik saja? Draco bahkan belum menulis surat padanya musim panas ini... Draco jarang mengunjunginya karena bersekolah. Bulan lalu, kata ibunya yang selalu rutin menjenguk, kakeknya terserang Cacar Naga. Para Penyembuh pribadi keluarga Malfoy yakin dia akan membaik. Tapi umurnya memang sudah terlampau lanjut...
Draco memejamkan matanya. Lebih baik dia menelungkup selagi bisa. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu jam. Dan sama sekali tidak nyaman...
.
.
.
Draco terlempar keluar begitu saja. Dia mungkin ketiduran di setengah perjalanan. Ada seorang peri-rumah yang menguak kaget. Juga seorang asisten Penyembuh wanita. Draco bangkit dengan siku perih. Dia berlumur jelaga dari atas sampai bawah. Biasanya ada ibunya yang selalu membersihkan pakaian Draco dengan sihir, kalau mereka sedang bepergian. Tapi kini Draco tidak melihat mereka.
"Mereka di kamar, Mr Malfoy..." kata si perawat wanita. Ada nama Robbins tersulam di jubahnya. Dia mungkin salah satu anak dari Albert Robbins, Penyembuh keluarga selama bertahun-tahun...
"Aku mau kesana..." kata Draco sambil mengibas dan bersin.
"Itu arena karantina... dan..."
Draco tidak mendengar apa yang wanita itu bicarakan, lalu segera keluar ruangan. Draco sudah hafal dengan situasi rumah peristirahatan kakeknya ini. Yang besar dan luas seperti rumah mereka juga. Hanya saja, lebih banyak jendela yang menyenangkan di sini. Temboknya juga bukan dari batu tua hitam, melainkan buatan yang bagus seperti rumah-rumah peristirahatan modern. Lukisan-lukisan padang rumput yang sepi menghiasi dinding. Sepertinya itu adalah lukisan kakek Abraxas. Karena pemandangannya sama dengan apa yang ada di luar. Dataran tinggi di padang rumput Irlandia...
Ada lebih banyak Penyembuh dan asistennya yang mondar-mandir di luar pintu kamar. Draco merasa bahwa isi perutnya baru saja jatuh lagi. Kalau mereka sudah berkumpul dan tidak ada kerjaan begini, pasti situasinya sudah jelas... Kakek Draco mungkin hanya tinggal menunggu waktu...
Draco berlari ketika semua Penyembuh juga melarangnya. Cacar Naga sangat menular dan mereka tidak tahu kalau kakeknya akan menularkan semua pada mereka. Ayah dan ibunya mungkin punya pertahanan karena mereka sudah dewasa. Tapi Draco masih harus sekolah bulan September...
"Tuan Muda, kau tidak boleh masuk..."
"Mungkin akan menular..."
Bahkan ada satu perawat yang sudah mulai menangis...
"Apa yang kau tangisi?" sentak Draco sebal. "Dan aku menyuruh diriku sendiri!"
Draco bisa dibilang langsung mendobrak pintu. Dia seolah tersedot dalam mimpi bisu. Merasa kecil dan jauh, Draco bisa melihat ibunya memegangi kaki seseorang yang sedang terbaring. Ibunya tidak bergerak. Dia telungkup di tempat tidur seperti sewaktu Draco telungkup di perapian. Ayahnya hanya berdiri memunggunginya. Kemudian ayahnya berbalik dengan kaget.
"Draco!" desisnya. Mungkin menyuruh Draco agar keluar ruangan.
Tapi wajah pada tempat tidur itu keburu menoleh dan wajahnya amat sangat menjijikkan.
Kakek Draco, yang dalam potret dan lukisan keluarga masih sangat gemuk tapi gagah, kini hanya berbalut tulang. Meskipun begitu, perutnya tetap melembung, gejala parah Cacar Naga. Mereka sulit mencerna makanan...
Kumisnya sudah tidak terurus lagi. Terakhir Draco menjenguk kakeknya, kumis itu masih tumbuh lebat. Draco kemudian ingat, terakhir kali dia menjenguk sang kakek adalah sewaktu dia belum diterima di Hogwarts.
Draco mempercepat langkah, melihat senyum menyakitkan yang tersirat pada wajah penuh bentol bernanah tersebut. Dia belum menceritakan pada kakeknya bagaimana dia terpilih langsung untuk asrama Slytherin, masuk tim Quidditch dengan menjadi anggota cadangan terlebih dulu, bertemu dengan guru jahat yang hampir membunuhnya, atau menemukan identitas sebenarnya dari Basiliks... Apapun yang mungkin akan membuat ayahnya mengamuk...
Tadinya dia mau menyapanya. Mengatakan sesuatu yang menenangkan hati. Tapi ternyata tidak semudah dalam cerita. Bahkan bibir Draco sudah gemetar ketika dia sampai di sisi kakeknya...
Mata kakeknya menutup dalam senyum bahagia dan dia membuat gerakan tangan yang menandakan ingin memegang Draco. Draco seharusnya lari atau takut... Tapi dia dengan segera memegang tangan berbahaya penuh nanah itu lalu duduk di sisinya, seperti ibunya. Tidak terdengar desisan dari ayahnya dan Draco tahu, sepertinya gerakan sedikit saja akan membuat ayahnya menangis juga.
"Nah, nah, bagaimana kabar cucuku ini?"
Kata-katanya terdengar lancar, walaupun jelas dia harus menahan sakit dan menghela nafas untuk setiap kalimat.
Draco tidak bisa menjawab, dia hanya mengangguk-angguk sambil melihat bayangan buram di depannya. Air mata sudah menggenangi matanya.
"Aku... beruntung... Bisa melihat keluargaku berkumpul... Istriku tidak seberuntung aku... Aku... sangat menyesal, sangat menyesal..."
Terdengar suara isakkan yang berasal dari ibunya di bawah.
"Tapi dia selalu ada... dia memegangi tanganku yang satu lagi... Kau lihat, Draco? Nenekmu... Dia bersama kita... Aku mencintai kalian... Aku mencintai kalian... Sungguh mencintai kalian... Syukurlah, aku bisa mengatakannya..."
Draco memejamkan mata, membiarkan kakeknya terbatuk-batuk dan sesak nafas saat berbicara sebanyak itu. Tapi saat membuka mata lagi, lengan ayahnya sudah menutupi kepala Draco. Draco tidak melihat apa-apa, hanya merasa sesuatu keluar dari tangan kakeknya, keluar dari dunia ini. Mungkin juga hanya perasaannya, tapi tangan sang kakek yang sudah lunglai menjelaskan segalanya... Bahwa dia telah menghembuskan nafas terakhir...
.
.
.
Draco tidak tahu bagaimana caranya dia bisa sampai ke kamar mandi besar. Di sana dia harus mandi dengan pancuran yang diisi ramuan pencegah Cacar Naga terbaik. Tampaknya para Penyembuh tersebut telah berjaga-jaga agar mereka, dan keluarga Draco, tidak tertular.
Draco berdiri dan berputar, matanya terpejam, menahan keluarnya air mata. Tapi dia tidak tahan dan segera berjongkok untuk menangis tersedu-sedu.
Ini adalah ulang tahunnya yang terburuk. Sangat buruk. Di matanya tidak ada kebahagiaan. Di matanya hanya ada kakeknya yang tersenyum bahagia tadi. Di telinganya hanya ada suara merana kakeknya saat dia mengatakan bagaimana dia mencintai mereka. Draco hanya terdiam di sana. Sampai seorang Penyembuh menggedor pintu kamar mandinya dengan cemas.
Mengapa kakeknya bersyukur? Apakah karena dia jarang mengatakan bahwa dia menyayangi mereka semua? Mengapa kakeknya seolah berkata bahwa neneknya meninggal dengan cara yang tidak damai?
Mereka adalah keluarga yang pendiam saat berduka. Ibunya tidak bisa berhenti menelungkup, bahkan dia berhenti berusaha duduk dengan anggun saat mereka ada di kursi tamu. Ayahnya menatap kosong. Tidak berekspresi. Abu-abu pucat di bola mata tersebut seolah menghilang juga dari dunia ini...
Mereka bahkan melupakan makan malam dan terus menunggu sampai mereka selesai mengurusi surat kematian Abraxas Malfoy, membersihkannya, dan mendandaninya. Sampai surat kematian harus ditandatangani ayahnya dan peti mati sudah siap. Mereka bangkit dengan susah payah. Pemakaman Abraxas akan langsung diadakan di Inggris. Semua kerabat yang tersisa, kebanyakan dari pihak ayahnya sendiri, sudah diberitahu atas kejadian duka ini lewat burung hantu.
Mereka yang bahkan tidak pernah peduli kepada kakeknya kecuali hartanya...
Setelah menandatangani surat kematian, ayahnya berpaling pada Draco dan memandang titik kecil di atas bahu Draco, menolak memandang matanya.
"Kau pulang lewat Floo dan jaga Ibumu. Kau bisa? Karena aku akan membawa petinya. Sebutkan alamatnya dengan jelas," perintahnya kaku. Suara ayahnya terdengar seperti suara orang lain.
"Malfoy Manor 1, Whiltshire, Inggris..." kata Draco mantap, berusaha kuat untuk sang ibu.
Ayahnya mengangguk lalu menuntun ibunya yang lemas agar masuk perapian bersama Draco. Draco memegang erat-erat tangan ibunya sebelum ayah menebar bubuk Floo yang berkilau.
Setelah menyebut tujuan, Draco kembali melewati berbagai perapian sambil berpelukan dengan ibunya...
.
.
.
Keadaan di Malfoy Manor sungguh berisik seperti pasar. Draco baru saja keluar dari perapian ketika seorang bibi gemuk berambut ungu mengembang menariknya pada tangannya.
"Draco... Sepupu kesayanganku... Sungguh menyedihkan..."
Draco tidak bisa bernafas atau dia nyaris pingsan karena mencium bau parfum. Untunglah, ibunya telah siaga kembali. Karena dia yang menarik Draco dari wanita itu dengan protektif. Wajah ibunya sudah coreng-moreng. Membuat semua saudara mereka iba. Atau mereka hanya ingin tahu bagaimana kakeknya meninggal. Tapi tampaknya tidak semuanya peduli. Beberapa kelihatan masih sempat berdandan dengan jubah bagus. Seolah mendatangi pesta...
Draco hanya sekilas memperhatikan. Dia dan ibunya sudah mulai berjalan ke kamar-kamar ketika dilihatnya ayah Theo, Mr Nott, menghampiri mereka.
Mr Nott mencengkeram lengan ibunya dan Draco. Kemudian dia mendekat kepada mereka dengan kepanikan jelas di matanya.
"Narcissa, maaf aku menganggu. Tapi Lucius belum datang. Dan kupikir kau harus tahu..."
Tidak ada balasan dari mereka berdua sehingga Mr Nott langsung melanjutkan, "Kontakku dari Kementerian baru saja memberitahu, Sirius Black, sepupumu, telah kabur dari penjara!"
.
.
.
Pemakaman kakek Draco dilakukan keesokan harinya di tanah pemakaman keluarga mereka. Di bagian terjauh dari Malfoy Manor yang luas. Draco hanya sekali-sekali kemari, itu pun kalau ibunya sedang menginpeksi tanaman. Dia juga jarang mengunjungi makam nenek dan leluhurnya yang dulu.
Pagar tinggi berwarna hitam muncul begitu saja saat rombongan pertama muncul di depannya. Draco memasuki bukit kecil di bawah naungan pohon Yew. Deretan batu nisan besar menggambarkan leluhur Malfoy. Kemudian ada tanah yang baru digali disebelah nisan nenek Draco, Hera Malfoy.
Beberapa wanita, tentu saja menangis histeris. Begitu juga dengan Lasalle, merak albino bodoh kepunyaan ayahnya, yang dulunya adalah kepunyaan nenek Draco. Tentu saja dia berkuak sedih. Bagaimana pun Abraxas itu masih suami dari pemiliknya yang pertama.
Tapi tidak ada tanda-tanda air mata pada ayahnya, pada ibunya, bahkan pada Draco. Mungkin mereka telah menghabiskan seluruh tangis mereka saat di Irlandia kemarin...
Matahari bersinar terik tanda musim panas. Kemudian pendeta mulai mengatakan kata-kata indah terakhir tentang Abraxas Malfoy. Tapi tidak ada yang masuk ke telinga Draco. Dan Draco juga yakin tidak ada satu pun kata yang masuk ke otak beberapa saudaranya yang berdiri di belakangnya. Mereka berbisik tentang Sirius Black, kehausan, atau memimpikan makanan.
Sirius Black yang kabur di hari yang sama dengan meninggalnya kakeknya dan hari ulang tahunnya, tidak membuat Draco menjadi lebih baik. Draco tidak bangga dengan beberapa kerabatnya yang berada di penjara. Draco tahu bahwa masih ada beberapa paman dan bibinya yang berada di sana karena perbuatan mereka di perang jaman dulu itu. Juga beberapa teman ayahnya. Tapi mungkin tidak semua orang mempunyai keluarga yang sempurna seperti Serena Van Der Woodsen...
Keluarga yang penuh cinta...
Mungkin karena mengingat perkataan kakeknya yang menyatakan bahwa neneknya masih menggenggam tangannya-lah yang membuat Draco seolah melihat Serena disampingnya. Dia memakai jubah hitam. Rambutnya rapi ditahan bandana putih. Dia berpaling pada Draco. Mata hijau-birunya melotot memperingati. Kemudian dia menggenggam tangan Draco dan kembali mendengarkan si pendeta.
Mungkin itulah mengapa kakeknya berulang-ulang mengatakan dia mencintai mereka. Sampai kepada nafas terakhirnya. Kakeknya benar... Mungkin ada orang yang tidak seberuntung dia...
Ayahnya melempar tanah pertama saat peti mati diturunkan. Kemudian dia berbalik diikuti ibunya. Draco dengan kaget menatap ibunya yang merangkulnya, mengajaknya berjalan juga.
Semua orang menyisi, bahkan ada yang mendesis. Karena acara belum benar-benar selesai. Tapi tampaknya tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan orangtuanya.
Mereka memasuki rumah setelah terengah-engah mendaki. Rumah mereka sekarang penuh dengan berbagai macam jenis makanan yang dihidangkan bagi tamu. Betapa kagetnya Draco ketika dia mendapati mereka berjalan menuju kamarnya. Hadiah-hadiah Draco bahkan belum dibuka semua. Berantakkan sekali. Tapi ayahnya membuka pintu balkon dan langsung duduk menyelonjor di lantai. Punggungnya bersandar di pagar balkon. Kepalanya menatap langit...
Selama sedetik Draco hanya memandanginya. Namun kemudian ibunya melakukan hal yang sama. Dia menelusup ke pelukan ayahnya. Seolah semua pertengkaran mereka kemarin telah lenyap. Draco tidak melihat Serena saat itu. Tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia menelusup ke pelukan ayahnya pada sisi yang satu lagi.
Menikmati aroma jubah ayahnya, kehangatannya, Draco merasa tidak terlalu kehilangan...
.
.
.
Hanya butuh beberapa hari bagi semua kerabat keluarga Malfoy untuk berduka. Tapi tidak dengan orangtuanya dan dia. Tapi untunglah ibunya sudah tegas lagi. Dia segera memerintahkan beberapa anggota keluarga yang terlalu jauh dan hanya ikut-ikutan berduka untuk pulang. Mereka yang bahkan tidak terlalu penting jadi namanya tidak tercantum di pohon keluarga, sudah dilarang makan malam lagi. Ibunya cukup kejam dalam hal ini.
Tapi Draco juga merasa terganggu. Ayahnya sudah mengungsi di rumah keluarga Nott. Mungkin untuk membicarakan paman Draco itu, Sirius Black yang baru kabur dari penjara. Ibunya membiarkannya. Karena pastilah ayahnya sedih sekali.
Tapi masih banyak sekali keluarga Draco yang tetap tinggal.
"Draco... Aku tidak percaya kau melupakan Bibi Magdalen ini..." kata bibi Draco yang rambutnya ungu mengembang itu. "Nah, sekarang, ambilkan aku sosis panggang lagi..."
Draco keluar dari ruangan tapi dia tidak mengambilkan apa-apa untuk mereka.
Ada juga beberapa anak kecil yang belum cukup umur untuk masuk Hogwarts. Draco menyadari itu adalah sepupu-sepupunya yang sok kaya.
"Hei! Drakie! Kau punya uang berapa?"
"Taruhan kau pasti hanya dapat hadiah sedikit tahun ini... Kau tidak mengadakan pesta..."
"Taruhan kau tidak punya pacar..."
"Bagaimana dengan cewek yang mirip Bulldog itu? Hanya dia yang mau denganmu?"
"Kakek meninggal pada hari ulang tahunmu..."
"Kau memang pembawa sial, ya?" kata seorang sepupunya yang perempuan.
Draco langsung menonjok keras salah satu sepupunya yang laki-laki, yang membicarakan meninggalnya kakeknya seolah dia membicarakan kematian lalat. Kemudian, tidak diajarkan untuk memukul perempuan, Draco langsung mengumpatnya sebagai kalkun kebanyakan makan.
Mereka berdua menangis meraung-raung.
Tapi tidak ada yang memarahi Draco. Bahkan tidak ayah dan ibunya. Draco menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar. Mengabaikan para sepupunya yang konyol melempari jendelanya dengan kerikil. Dan yang tua-tua menggunjinginya dengan berkata dia kurang sosialisasi.
Ibunya juga kebagian repot. Wanita-wanita yang merupakan bibi-bibi Draco yang lain sibuk mengagumi jubah-jubah dan perhiasan milik mereka. Draco dan ibunya sudah mulai mengunci lemari mereka yang berharga. Beberapa orang kelihatannya sudah siap mengutil. Padahal mereka juga sama kayanya dengan Draco sekeluarga.
"Narcissa, jangan sampai kau terlalu lama bersedih! Nah, kalian kan masih muda... Mengapa tidak mempunyai anak lagi? Draco pasti ingin punya adik..."
Draco jelas tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Dia terlalu keenakan menjadi anak tunggal. Apa yang dimaksud bibinya tadi adalah agar keluarga Malfoy beranak-pinak seperti keluarga Weasley? Yang punya anak lebih banyak daripada yang mereka sanggup?
Untunglah, ibunya hanya menanggapi perkataannya dengan delikkan hebat.
Kemudian apa yang ditunggu semua orang terungkap dua minggu setelah penguburan kakek Draco. Ayahnya datang dengan satu petugas Kementerian kurus yang berkacamata bulat.
"Ahhh, mereka sudah menemukan surat wasiatnya?" seru bibi-rambut-ungu itu.
.
.
.
Pembacaan surat wasiat akan dilaksanakan pada awal Agustus. Dan semua kerabat bisa hadir di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir Bagian Hukum Keluarga di Kementerian pada pukul sepuluh.
Draco sudah mengucapkan selamat tinggal pada rencana liburannya ke Miami. Ibunya bahkan tidak ingat lagi pada rencana itu. Dia terlalu sibuk mengusiri mereka yang masih enak-enakkan berada di Malfoy Manor.
Draco kemudian membungkusi hadiahnya untuk Serena, yang berupa bahan-bahan makanan sihir untuk bertahan hidup, lalu mengirim Howler-Penyanyi yang tidak norak. Berharap Serena tidak terlalu trauma. Karena pada Valentine kemarin, selusin penggemar Serena telah mengirim hal yang sama. Lalu Draco menyuruh Stark segera pergi. Karena Miami lumayan jauh. Setelah Stark pergi, dia agak menyesal tentang hadiahnya yang mungkin tidak akan bisa dikenang. Dia juga menyesal tidak membicarakan tentang kematian kakeknya. Tapi Serena pasti masih sibuk sekali sekarang di negara antah-berantah. Dan kabar ini mungkin hanya akan membuatnya sedih. Mungkin...
Surat Hogwarts-nya juga baru datang. Dia bahkan malas untuk membukanya dan meminta tandatangan pada orangtuanya agar bisa pergi ke Hogsmeade. Tapi mau bagaimana pun, ayahnya tidak langsung berada dalam perasaan yang bagus karena semua keluarganya yang berisik telah pergi. Masih ada Sirius Black yang perlu dipikirkan.
Draco sudah membaca-baca koran dan menemukan berbagai fakta tentang pamannya tersebut. Saat Black dipenjara, Draco masih berumur satu tahun-an. Melihat foto Black yang tersebar di seluruh halaman utama koran, kotor dan tak terurus, Draco sama sekali tidak bisa melihat kemiripannya dengan ibunya. Tapi rambut gelap, kemudian garis wajah yang tinggi dan bagus itu mengingatkan pada bibinya yang satu lagi, yang sama-sama di penjara, Bibi Bellatrix Lestrange.
Sirius Black dikabarkan sebagai tangan kanan Pangeran Kegelapan, pembunuh tiga belas Muggle dalam satu kutukan, gila, dan satu-satunya yang berhasil mengecoh penjaga penjara Azkaban sampai dia berhasil kabur...
"Draco, aku ingin kau tahu bahwa banyak sekali makhluk berbahaya yang ada disekitar kita..."
Begitulah kata ibunya saat Draco sudah mulai mengenal sihir dan banyak cerita. Ibunya menceritakan penjaga penjara Azkaban saat hari sudah mulai gelap. Ketika dia akan pergi tidur. Kalau tidak salah, ayah dan ibunya baru saja mengunjungi Bibi Bella dipenjara, untuk mengabarkan sesuatu. Ayahnya langsung pergi ke tempat tidur dengan pemanas dinyalakan sepulangnya dari sana.
"Penjaga penjara yang mengurung orang-orang jahat juga sama berbahayanya. Namanya Dementor. Mereka tinggi, hitam, dan jubah mereka seolah dibuat untuk bisa mengurung anak kecil..." terang ibunya, memegangi tangan Draco.
"Mereka tak-berwajah..."
Ibunya pasti merasakan getaran dari tubuh Draco lewat tangannya, jadi dia memeluk Draco.
"Mereka juga akan membuatmu melupakan segala yang indah kalau kau terlalu dekat... Jadi berhati-hatilah, oke?"
Draco membisikkan sesuatu yang pastilah meminta kepastian apakah mereka akan datang ke kamarnya.
"Tentu saja tidak..." tawa ibunya menenangkan. "Aku ada di sini..."
Ibunya mengangkat tongkat sihirnya, kemudian sesuatu yang perak dan hangat menerangi kamar Draco. Draco tidak tahu apa itu. Yang jelas cahaya itu membuatnya tidur dengan nyaman sampai pagi.
Setelah besar, Draco jadi tahu bagaimana Dementor yang sesungguhnya. Alasan mengapa Azkaban yang dipenuhi penyihir jahat hanya terproteksi dengan kurungan dan laut yang mengelilingi adalah karena adanya Dementor.
Makhluk pemakan kebahagiaan itu akan membuat stres siapa saja yang didekatinya. Sehingga kabur adalah hal terakhir yang ada dalam pikiran mereka. Tapi paman Draco itu berhasil kabur...
Ibunya tidak pernah membicarakan adik sepupunya tersebut. Draco hanya tahu dari ayahnya bahwa dulu Sirius Black tukang bikin malu keluarga. Dia bergaul dengan para Darah-lumpur dan menolak untuk bergaul dengan keluarganya yang lain. Jadi paman Black sudah diusir dan dicoret dari keluarga. Draco tidak boleh lagi menganggapnya paman.
Tapi Draco menjadi heran sendiri. Bagaimana mungkin orang yang kelihatannya lebih mirip Harry Potter ini menjadi tangan kanan sang Pangeran Kegelapan? Lalu, mengapa rumahnya belum juga disambangi sang buronan?
Malfoy Manor tampaknya adalah pemikat bagi orang-orang tak jelas. Lihat saja kemarin kerabat keluarga mereka. Lalu teman-teman ayahnya yang membuat gelisah. Juga Quirrell, guru Draco yang jahat, pernah datang kemari untuk mengancam.
Semua terjawab saat ayahnya mengajak ibunya ke rumah Mr Nott. Katanya ada hal yang harus mereka semua bicarakan.
"Ayah! Aku juga mau ke tempat Theo untuk mengerjakan PR musim panas..."
Anak Mr Nott, Theodore, adalah teman seasrama Draco.
"Aku juga belum memberikan hadiahku pada Theo yang kemarin ulang tahun... Stark... sedang berburu..."
Akhirnya mereka mengijinkannya ikut karena tidak punya waktu lagi. Draco mendarat di perapian di ruang belajar Theo.
"Wah, Draco! Apa yang membawamu kemari? Aku harusnya mengabari Crabbe, Goyle, dan Blaise..." sambut Theo, menyebutkan anak-anak geng mereka.
Theodore Nott adalah anak kurus tinggi yang agak mirip tikus, walaupun matanya bersinar licik dan pintar. Theo bisa jadi adalah musuh dalam selimut. Tapi dia selama ini belum pernah mengecewakan Draco.
"Selamat ulang tahun, Theo," kata Draco buru-buru sambil menyelipkan dua batang emas batangan hadiah ayahnya pada dia. Theo langsung kegirangan.
"Nah, aku mau menguping pertemuan..."
"Oh, tidak..." gumam Theo mengeluh.
"Ayolah... mana Theodore Nott yang dulu suka mencuri-curi tongkat sihir? Kau jadi tidak seru begini..." pancing Draco.
"Aku sudah mencoba menguping... Tapi kebanyakn dari mereka bingung juga. Kau tidak akan tertarik... Mungkin lebih baik fokus pada pembagian warisanmu besok..."
"Aku harus fokus apa? Surat wasiatnya toh sudah dibuat sebelumnya... Itu akan jadi urusan Ayah... Ayo! Ayolah, Theo... Itu pamanku yang kalian bicarakan..."
Theo hanya mencibir, sepertinya dia juga tidak mau mengakui orang-orang seperti Sirius Black sebagai paman.
"Mereka membawa ibuku juga... Ini pasti akan lebih penting dari pada pembicaraan sebelumnya..." rayu Draco lagi.
Akhirnya Theo, dengan mengendap-endap, membawa Draco ke lubang udara besar yang nantinya akan membuka ke ruang pertemuan bawah tanah. Keluarga penyihir tua selalu punya ruangan bawah tanah. Ayah Draco menggunakannya untuk menyimpan harta pribadi dan benda berbahaya. Ayah Theo menggunakannya sebagai tempat rapat.
Mereka berimpitan di sana. Tapi suara-suara mulai terdengar dengan jelas, seolah mereka juga berada dalam ruangan.
"...kau adalah sepupunya. Dan kau dulu lebih dekat kepadanya dibandingkan Bella. Ayolah, Narcissa, masa' kau tidak punya ide?"
"Aku sama sekali tidak pernah bicara dengan Sirius..." Terdengar suara ibunya mempertahankan diri. "Dan aku lulus Hogwarts jauh sebelum mereka semua bergabung dengan Orde..."
Baik Draco dan Theo saling berpandangan karena tidak mengerti.
"Apa mungkin Black kabur karena bantuan... yah, kalian tahu, gosip-gosip bahwa Tuan masih hidup..." kata seseorang takut-takut.
Hawa di ruangan langsung menurun dengan resah. Draco harus menendang kaki Theo yang mulai bergerak gelisah.
"Kalaupun itu mungkin... Kita pasti mengenal tanda-tanda apapun... Yah..." kata suara Mr Nott, agak tak yakin.
"Itu tidak mungkin..." sekarang ayahnya yang membuka mulut. "Mereka bilang Black adalah tangan kanan Tuan? Well, katakan saja itu akan membuat Bella dan aku tersinggung..."
Draco bisa merasakan tangannya dengan tegang mencengkeram batu yang menjadi pondasi lubang udara.
"Kita tidak akan pernah tahu bagaimana, kan? Kita bahkan tidak pernah melihat Black sebelumnya. Tuan amat merahasiakan hal ini. Apapun yang berhubungan tentang mengapa dia harus membunuh keluarga Potter... Juga orang-orang yang terlibat di dalamnya... Mungkin saja hanya si tikus itu yang tahu kebenarannya..." kata suara seorang wanita yang tidak Draco kenal.
Draco dan Theo berpandang-pandangan.
"Kalau begitu bagaimana? Bagaimana kita akan menghadapi situasi ini?" kata Mr Nott. "Dengar, Lucius, mungkin saja buronan itu datang ke tempatmu..." Mr Nott mengatakan hal itu seolah satu pikiran dengan Draco.
"Mungkin dia mengira Narcissa akan memberinya perlindungan..." kata seorang lagi.
"Istriku akan bertindak sama denganku. Dan aku menyarankan hal yang sama pada kalian. Biarkan semua yang ada di Azkaban membusuk di Azkaban. Kita sudah bebas dan membersihkan nama kita dengan susah payah. Kalau ada salah satu dari kalian yang menemukan Black, segera panggil Auror. Aku tahu kalian tidak mau berhubungan dengan mereka. Tapi siapa yang tahu apa yang bisa dilakukan Black?" tanya ayahnya.
"Dia tidak akan ke rumah mana pun..." kata ibunya, berusaha untuk menahan emosi. "Bukankah Fudge keceplosan bilang padamu bahwa Sirius selalu mengigau tentang Hogwarts?"
Ibunya bertanya pada ayahnya. Draco dan Theo saling berpandangan lagi. Fudge sang Menteri Sihir berkata apa tentang Hogwarts?
"Ya. Mereka semua berasumsi bahwa Black akan menghabisi Harry Potter..."
Draco dan Theo tidak saling berpandangan sekarang. Terlalu takut melewatkan apapun.
"Tapi Hogwarts akan dilindungi, kan? Anakku ada di sana..." ratap Mr Nott. "Narcissa?"
Mungkin hanya ibunya-lah satu-satunya orang yang tukang cemas di ruangan itu, karena dia wanita yang lembut pada anaknya. Maka Mr Nott meminta penegasan darinya.
"Fudge menempatkan beberapa Dementor..." kata ibunya sedingin es.
Draco merasa tengkuknya telah ditempeli es juga. Bagaimana mungkin dia bisa tidur kalau ada makhluk tinggi, hitam, dan jubahnya tampak bisa menyedotmu itu berjalan di koridor-koridor kastil? Membuat Draco yang biasanya gusar saat di sekolah menjadi lebih gusar? Kenangan tentang Quirell, Basiliks, atau kakeknya yang baru meninggal mungkin akan menghantuinya tiap malam...
"Mereka akan aman, Nott..." kata ayahnya.
"Yah, kita tidak bisa yakin apa yang Black cari di Hogwarts..."
"Betul..." kata si wanita itu lagi. "Kalau saja tikus pengecut itu mengatakan sesuatu yang akan menjelaskan-"
"Black hanya mencari si Harry Potter," potong ayahnya tegas. "Dan aku yakin dia akan kepayahan untuk menyelundup masuk ke dalam Hogwarts... Dan jangan bicarakan tentang si tikus. Aku tidak suka padanya. Dan dia sudah mati. Tidak ada yang perlu disesali..."
"Bagaimana kalau kau bicara dengan Bella, Narcissa?" tanya Mr Nott masih mengotot. "Mungkin dia tahu sesuatu. Juga tentang kaburnya Black. Kau masih adiknya Bella. Dan mereka di Azkaban memperketat kunjungan. Tapi tidak masalah dengan kunjungan rutin..."
Draco tahu ibunya tidak akan mau. Tapi demi sedikit kepastian bahwa anaknya bisa aman, ayahnya akhirnya angkat suara.
"Baiklah! Aku yang akan menanyai wanita gila itu! Asal kau tahu saja... Dia sungguh menyebalkan dan tidak menyukai kita yang tidak terpenjara!"
Semua menyetujui dengan sepakat. Tapi ada yang belum jelas bagi Draco. Pertanyaan entah apa yang tidak terjawab pada diskusi tadi. Kemudian jawabannya muncul di akhir pertemuan.
"Kalian tidak usah mencemaskan Black. Seluruh negeri sudah khawatir..." tutup ayahnya. "Dan aku ingatkan lagi. Apabila kalian entah bagaimana bertemu dengannya, segera panggil petugas Kementerian, atau kalau dia membahayakan identitas dan diri kita sendiri, segera gunakan mantra keras. Tidak akan ada yang mengasihaninya mengingat dia telah membunuhi Muggle-muggle itu. Juga ingat ini: tidak ada tempat bagi pengkhianat. Dia dibenci kawan maupun lawan. Dia telah mengkhianati Tuan di malam kejatuhannya. Tapi terutama, dia telah mengkhianati sahabatnya sendiri, James Potter, sampai ke kematiannya... Semua orang akan menghabisinya kalau sempat. Tanpa pertanyaan. Jadi jangan tanya-tanya lagi!"
Pertemuan dibubarkan. Draco dan Theo memanfaatkan suara derit kursi dan salam pamit yang bergaung untuk mereka kabur dari lubang udara. Setelah berlari tanpa suara ke ruang belajar Theo, Draco baru bisa menghembuskan nafas panjang.
"Nah, tadi itu kabar baru buatku..." kata Theo sambil pura-pura membuka buku pelajaran.
Itu semua juga baru buat Draco. Sekarang dia tahu mengapa pamannya itu tiba-tiba beralih ke kelompok ayahnya, kelompok Pelahap Maut. Itu karena dia adalah pengkhianat. Pengkhianat kepada sahabatnya sendiri. Ini akan membunuh Harry Potter dari dalam...
Draco juga tidak tahu siapa tikus yang tadi mereka bicarakan. Yang telah mati juga. Kemungkinan adalah orang dalam yang tidak diketahui jelas tujuannya. Semua ini semakin menarik selain juga berbahaya.
Tapi Theo hanya punya satu hal lagi dalam pikirannya yang membuat Draco nyengir sadis.
"Wow! Black ternyata berniat membunuh Harry Potter... Apakah sebaiknya kita membukakan pintu kastil untuk dia?"
.
.
.
Draco tidak mau ketahuan bahwa dia telah menguping. Dan bertanya-tanya tentang Sirius Black pada ayah atau ibunya akan terasa sangat menyakitkan. Ayah dan ibunya masih banyak diam, yang dikarenakan mereka masih berduka. Draco jadi merasa bersalah juga kalau peduli terhadap hal lain saat ini.
Apa yang akan dikatakan Serena tentang ini? Dia bisa dibilang salah satu teman si Potter. Bahkan ibunya, kabar dari Blaise, dulu adalah salah seorang yang vokal dalam menghadapi Pangeran Kegelapan. Apakan ibu Serena juga masuk Orde seperti yang dikatakan ibunya tadi? Apakah Orde itu?
Keesokan harinya, Draco harus ke Kementerian Sihir untuk menghadap ke Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Pasti akan ricuh sekali di sana. Selain karena adanya kerabat-kerabat keturunan Malfoy yang berpura-pura menyayangi kakeknya sepenuh hati, mereka juga sedang sibuk mengurusi Sirius Black. Markas besar Auror ada di lantai yang sama...
Draco lega bahwa kedua orangtuanya juga bersikap sama santainya dengan dia. Kemarin, salah satu pamannya mencibir kalau Lucius Malfoy akan menyogok dan memaksa agar surat wasiat Abraxas bisa dibuka duluan. Agar tidak ada satu kalimat pun yang merugikannya. Dia benci saat mereka menggambarkan ayahnya sebagai mata duitan. Mungkin kenyataannya begitu. Tapi siapa sih yang tidak?
Yang jelas Draco merasa bahwa dia dan ayah-ibunya sungguh-sungguh kehilangan dan merasa malu karena tidak pernah menghabiskan waktu lama untuk mendampingi kakek Draco itu.
Pagi itu Draco pergi lagi lewat Floo, sementara kedua orangtuanya ber-apparate. Dia muncul di aula yang dipenuhi dengan batu pualam hitam mengkilap. Perapian Floo berjajar banyak sekali. Di hadapannya maupun di sampingnya. Terus mengeluarkan api hijau dan orang yang sedang bekerja. Draco menuju kolam Persaudaraan Sihir. Di mana patung emas peri-rumah, goblin, dan centaurus sedang memandang memuja pada dua pasang penyihir. Kolam di bawah patung berisi banyak sekali koin galleon, sickle, sampai knut, yang akan disumbangan pada St Mungo, rumah sakit mereka.
Draco menghampiri orangtuanya dan segera memeriksakan tongkat sihir. Berpikir bahwa uang di kolam itu tidak akan cukup untuk membeli ramuan pencegah Cacar Naga satu drum penuh. Draco, ayah serta ibunya sama sekali belum tertular Cacar Naga akibat mandi ramuan itu.
Mereka memasuki lift yang sangat penuh sampai ayahnya harus sengaja mengusir beberapa orang. Mungkin orang-orang tersebut takut pada ayahnya, jadi dia langsung menurut dan menunggu lift kosong berikutnya. Di dalam lift kini hanya ada mereka bertiga. Ayahnya memencet angka dua.
Mereka turun ke bawah dan terus ke bawah. Beberapa kali berhenti di lantai tiap divisi, tapi ayahnya langsung menutup pintu lagi sebelum ada yang sempat naik.
Suara wanita yang sejak tadi menyebutkan lantai-lantai kini mengabarkan kalau mereka ada di lantai dua.
"Lantai dua, Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir."
Draco tidak keburu mendengar lanjutan suara wanita tadi karena sudah keburu ditarik ibunya.
"Tenanglah, Draco..." bisik ibunya.
Draco tidak mengerti mengapa ibunya menyuruhnya tenang. Bagian hukum keluarga yang mengurusi ahli waris sangat jauh dari markas besar Auror. Draco tahu karena mereka berbeda pekerjaan. Tapi ternyata bukan berarti para pegawainya tidak berkeliaran pada satu lantai...
Ayahnya harus berjalan lurus ketika beberapa pegawai Kementerian dengan terang-terangan memandang menghina kepada mereka. Mungkin mereka Auror. Tapi bisa juga orang-orang yang kalah dalam hukum. Ayahnya biasa mendapat kemudahan sehingga dia dibenci banyak orang...
Lalu Draco menyadari bahwa baru kemarin ayahnya membuat masalah dengan membawa-bawa Hogwarts...
"Tenang... Fudge teman baik ayahmu..." bisik ibunya sambil melengos dari seorang wanita bertampang galak yang menatap tajam dirinya.
Mereka sampai pada bagian administrasi, di mana kantor pelaksanaan hukum keluarga berada. Ternyata semua anggota keluarga Malfoy sudah berada di sana. Termasuk bibinya, yang kini mengenakan rambut emas mengembang, seperti permen kapas cokelat. Mereka terlambat dan bahkan tidak mendapat tempat duduk. Si petugas berusaha memunculkan kursi agar mereka bisa duduk. Tapi saking penuhnya, dia hanya bisa menghasilkan satu kursi. Draco tidak mau duduk. Dia memberikan kursi itu pada ibunya. Ketika si pegawai masih merasa tidak enak, dua orang pamannya yang paling berisik berteriak, menyuruh dia segera mulai. Draco merasa malu kepada kenyataan bahwa semua orang ini adalah kerabatnya.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terhormat. Kita berkumpul hari ini untuk mendengarkan surat wasiat yang dibuat oleh almarhum Abraxas Malfoy yang telah meninggal..."
Pegawai itu terus berbicara hal-hal yang formal. Draco merasa mengantuk. Terutama karena keluarga Draco yang ricuh kini diam tak bernafas saat pria kurus itu membacakan surat pembukaan.
"...maka dari itu, kami, berduabelas, dari Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir Bagian Hukum Keluarga, menyatakan bahwa surat ini telah disegel secara sihir oleh yang bersangkutan, Mr Abraxas Malfoy, dan dia secara khusus juga meminta beberapa perlindungan tambahan sebagai bukti bahwa surat ini sah, otentik, dan tidak perlu dipertanyakan lagi di masa mendatang, serta dapat dianggap sebagai bukti dihadapan pengadilan."
Kalau tadi Draco merasa mereka semua menahan nafas, mungkin sekarang mereka sudah menjadi batu saking tegangnya.
"Saya, Abraxas Stannis Malfoy, menyerahkan semua harta milik saya, termasuk di dalamnya adalah isi dari lemari besi Gringotts yang diatasnamakan saya, kunci-kuncinya yang diatasnamakan saya, tanah dan bangunan yang diatasnamakan saya, serta berbagai kegiatan bisnis yang sedang berlangsung yang masih diatasnamakan saya, kepada cucu saya langsung dari garis keturunan: Draco Lucius Malfoy. Dan apabila Draco Lucius Malfoy belum akil balig, maka anak saya: Lucius Abraxas Malfoy, dan istrinya: Narcissa Cassiopeia Malfoy (dulu Black), bertanggungjawab untuk pengawasan atas hartanya. Demikian surat wasiat ini saya buat dengan sebenar-benarnya, disaksikan oleh dua belas komite Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir Bagian Hukum Keluarga,"
Draco tidak tahu apakah surat itu sudah selesai atau belum, karena semua orang sudah memotong dengan geram. Ibunya segera melindungi Draco dengan mendorongnya ke belakang punggung ayahnya.
Dari sela jubah ayahnya, Draco mengintip. Dia melihat semua kerabatnya tidak terima. Mereka tidak kebagian apapun dari kakek Draco yang notabene adalah yang paling kaya. Draco tidak pernah dan tidak mau merasakan bagaimana rasanya miskin. Tapi semua kerabatnya ini bahkan sudah hidup enak tanpa mereka berusaha. Apakah mereka membutuhkan yang lebih lagi? Kemana mereka saat kakeknya membutuhkan teman? Dia bahkan tidak pernah mendengar ibunya mengurus kakeknya dengan salah satu sanak saudaranya atau apa... Mereka bilang, mereka bahkan tidak tahu bagaimana Hera Malfoy meninggal... Itu sangat keterlaluan... Dan sangat tidak adil...
Draco mendapatkan semuanya dan dia merasa itu terlalu berlebihan. Draco yang dulu mungkin tidak akan ragu dan akan senang-senang saja atas pengaturan itu. Tapi Draco yang sekarang? Dia hanya merasa linglung. Kakeknya mati menderita, walaupun dia tersenyum... Draco merasakan nyawanya keluar dari tubuhnya... Lalu mengapa?
Serena bilang dia juga dihadiahi pulau. Dan dia merasa bertanggungjawab atas semuanya... Apa yang akan cewek bodoh itu lakukan kalau dia ada di posisi Draco sekarang?
Draco menatap ke sebelahnya. Dan, seolah terhubung dengan kakeknya yang selalu merasa sedang ditemani neneknya, Serena ada lagi di sana. Dia mengenakan kaus tangan pendek bergambar pohon kelapa, menatap gusar pada kericuhan. Bibinya yang berambut gula kapas kini pingsan. Dan beberapa pamannya yang ganas, sudah mengguncang-guncang si pegawai. Kacamata pegawai ringkih itu jatuh dan pecah, sementara itu, salah seorang pamannya yang bertampang pintar ternyata sama ganasnya. Dia menghajar si pegawai untuk melihat kembali surat wasiat. Tapi ketika memegangnya, dia tersengat sesuatu sampai rambut di kepalanya berdiri. Mungkin itulah maksud dari perlindungan tambahan tadi... Tapi kini semua orang mulai berebut sampai pegawai itu diguncang-guncangkan lagi. Ayah dan ibunya tidak bereaksi. Mungkin lelah. Atau mungkin ayahnya sudah menggunakan Mantra Pelindung agar tidak ada yang menyerang mereka.
Tapi Serena yang ada dalam pikirannya kembali melirik Draco. Dahinya berkerut. Kemudian dia menunjuk meja podium dengan dagunya.
Draco tahu apa yang harus dia lakukan. Kalau kakeknya menunjuknya sebagai ahli waris, entah dengan alasan apapun, Draco harus maju kesana dan melindungi wasiat kakek...
Draco langsung maju dan menerjang. Dia mungkin juga menyerukan sesuatu yang menyuruh mereka minggir. Ataukah itu suara jeritan ibunya?
Draco sampai ke atas meja podium setelah dengan nekad memakai punggung seseorang yang menunduk sebagai pijakkan. Dia mengaduh, pastinya. Dengan segera surat wasiat yang bisa menyengat itu berada di tangannya. Tapi Draco sama sekali tidak merasa tersengat atau rambutnya berdiri. Dia lalu menghajar beberapa saudaranya yang masih menyalahkan si pegawai dengan kasar. Tidak tanggung-tanggung, satu orang langsung terkapar ditendangnya. Draco tidak tahu dari mana asal kekuatan ini.
"Dengarkan, kalian orang-orang bodoh yang mengaku keluarga Malfoy!" seru Draco pada seluruh ruangan.
"Sekarang, hanya kami bertiga yang betul-betul Malfoy sungguhan! Hanya kami yang betul-betul peduli pada kakek Abraxas. Maka dia percaya pada kami. Kalau kalian berani-berani lagi mengganggu, aku akan menempatkan anjing berkepala tiga di depan pintu rumahku. Dan karena aku yang menguasai segalanya. Aku tidak akan membagikan sepeser pun pada kalian! Lebih dari itu, aku akan memberikan semua hartaku kepada St Mungo dan kepada semua korban bencana alam di Miami! Tahu rasa kalian!"
Draco baru menyadari, ketika suasana menjadi hening, bahwa suaranya sama sekali tidak melengking pecah. Itu adalah suara ayahnya versi muda. Yang agak berat dan bernada memerintah yang sombong. Di bagian belakang, ayah-ibunya bahkan melotot tidak percaya pada kelakuan Draco.
Tetapi yang membuat Draco yakin dia sudah melakukan hal yang benar adalah pandangan berterimakasih yang mendamba dari si pegawai karena diselamatkan, dan Serena. Yang masih ada di sebelah orangtua Draco dalam pandangannya. Yang kini mengacungkan tinju tanda semangat pada Draco, kemudian menari ala peperangan.
.
.
.
Draco terduduk di tepi kolam Persaudaraan Sihir sambil meminum soda kalengan. Suaranya sudah tidak berubah lagi. Dia akan selamanya bersuara begini. Dan dia merasa asing sekali, bahkan diantara para penyihir yang tidak henti-hentinya muncul dan menghilang di hadapannya.
Ayahnya sudah menenangkan massa yang notabene adalah kerabatnya sendiri itu. Cukup dengan kembang api sihir yang berbunyi seperti ledakkan. Kemudian mereka menyadari betapa Lucius Malfoy adalah orang yang tidak ingin mereka tembus garis batasnya.
Ayahnya menyuruh Draco menenangkan diri di luar, sementara ibunya dengan hati-hati menyuruh Draco melepas surat wasiat. Ibunya juga aman tentu saja, karena namanya ada di surat. Jadi Draco rasa dia tidak akan tersengat.
Serena tidak ada di sisinya sekarang. Entah karena apa Draco sudah dua kali melihatnya. Tidak mungkin itu hantunya karena toh Stark yang sudah kembali tidak membawa kabar buruk. Draco kini dilanda rasa cemas yang baru membayangkan kemungkinan cewek itu kenapa-kenapa. Tapi mungkin Serena muncul kalau dia sedang mengingat kakeknya...
Draco menatap potret sihir besar bergambar Cornelius Fudge, si Menteri. Sangat mengesankan melihat dia di foto hitam-putih begitu, bergerak sesedikit mungkin agar tidak berkeringat. Lalu memo-memo sihir yang beterbangan melewati patung-patung emas menuju lantai atas. Membuat pandangan Draco jadi ke atas juga.
"Istirahatlah dalam damai, kakek... nenek..." bisik Draco dengan suara barunya.
"Kerja bagus, Draco..."
Suara ayahnya tiba-tiba menghampirinya. Draco berpaling cepat sekali sampai lehernya berderik. Ayahnya sedang tersenyum seperti biasa. Senyum angkuh yang menandakan bahwa Draco telah melakukan sesuatu yang membuat dia agak senang. Draco langsung berdiri.
"Ibu?" tanyanya, karena dia tidak melihatnya.
"Sedang di Departemen Satwa Gaib untuk mencari tahu tentang hewan-hewan yang bisa melindungi rumahmu... Tapi kurasa mereka tidak punya anjing kepala tiga..."
Mata Draco pastilah kosong karena ayahnya kini terbahak.
"Bercanda. Dia di kamar kecil... Dan kau tahu, Draco?" tanya ayahnya. "Aku masih menjadi pengawasmu. Jadi kau tidak bisa menggunakan hartamu dengan semena-mena. Aku akan menyumbang banyak ke St Mungo atas namamu, tentu saja. Tapi tidak semuanya. Bagaimana kau akan hidup?" tanyanya lagi dengan masuk akal.
"Lagipula aku dengar bencana di Amerika itu hanya menyerang perkotaan Muggle. Dan Malfoy tidak menyumbang pada Muggle. Bagaimana kau bisa mendengar kabar menyenangkan tentang bencana itu?"
Ayahnya tetaplah ayahnya, dan untunglah, kepala Draco sedang tidak kosong.
"Aku baca di kolom internasional Daily Prophet, tentu saja. Seorang pewaris Malfoy tidak boleh ketinggalan berita..."
Kemudian Draco menyadari bahwa musim panas hari itu sangat cerah...
.
.
.
