Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
The Two-Tale Heart 3
III
SERENA
Agustus hampir berakhir. Membawa angin dingin yang tak kenal lelah, sisa dari amukkan yang pernah meluluhlantakkan kota. Udara yang panas tidak menolong. Menyebabkan seluruh penjuru negeri menjadi lembap.
Tapi desau akan datangnya musim dingin tidak terlalu mengkhawatirkan mereka yang tetap tinggal. Perbaikan yang dilakukan mengalami kemajuan dari hari ke hari. Semua masih berantakkan, tapi bukannya tanpa harapan.
Setelah memastikan bahwa dapur umum tidak akan kehabisan makanan kaleng. Dan obat-obatan sudah distok rapi di rumah sakit, beberapa sukarewalan memutuskan untuk kembali ke negara asal mereka masing-masing. Penduduk lokalnya, kini fokus pada kehidupan mereka pribadi.
Serena terkesan melihat para pekerja sosial, yang biasanya meributkan keadaan dan kesehatan orang lain itu, punya sanak keluarga, pekerjaan tetap, atau masalah lain yang harus diurus. Mrs Chen punya tiga anak perempuan yang masih kecil-kecil. Tidak pernah kelihatan mengeluh walaupun sang ibu selalu pulang malam. Padahal listrik di daerah mereka tinggal masih antara ada dan tiada.
Ayahnya pun kembali ke pekerjaannya. Beberapa hotel dan villa sewaan mereka yang hancur belum siap menerima wisatawan, tentu saja. Dia dengan lapang dada menerima bahwa mereka akan merugi sampai kurun waktu yang lama. Ada banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan. Tapi sangat sedikit sekali pengembalian yang mungkin diterima. Itu adalah risiko, begitulah ayahnya selalu mengingatkan kepada semua kolega bisnisnya. Yang terpenting adalah bekerja dengan sepenuh hati. Ayahnya masih tampak berkharisma. Semua bantuan yang dia berikan untuk korban bencana alam membuat para karyawannya tetap hormat sehingga menjadi bersemangat. Tapi Serena memperhatikan hampir semua manajer terlihat sedih, walaupun tidak ada yang mengeluh.
Serena hanya menunduk sepanjang pertemuan yang diikutinya. Apakah mereka akan mengalami kesulitan sementara mereka mempunyai kebutuhan masing-masing? Ada anak-anak mereka yang juga perlu uang untuk makan, berobat, dan sekolah. Urusan uang jajannya yang ditahan ayahnya kini menjadi tampak tak berarti.
Lalu, beberapa hari sebelum mereka meninggalkan Miami untuk kembali ke London, Cat mengajak mereka semua membeli suvenir di pantai. Banyak sekali korban jiwa di daerah pesisir pantai. Membuat keadaan para karyawan ayah Serena terlihat seratus kali lipat lebih baik. Cat membeli banyak kaus-kaus bergambar, persediaan terakhir seorang penjaga toko yang tangannya buntung karena tertimpa bangunan. Juga banyak sekali boneka buaya.
Serena tidak membeli apa-apa karena tidak berani meminta apapun dari ayahnya. Apalagi dia masih berhutang arloji hadiah ulang tahun untuk Draco. Tapi Cat tidak bertanya-tanya. Dia memberikan sebagian kaus dan boneka buayanya.
Serena menatap lepas pantai sementara kaus bergambar pohon kelapa yang kebesaran itu menggelembung kena angin. Tidak seperti pulaunya yang tersembunyi dan masih asri, Miami kini kembali sibuk. Sementara lalu lintas perairan telah ramai kembali. Sebagian besar tentu saja untuk transportasi perbaikan kota dan para polisi penjaga perairan. Tiba-tiba dia ingat hadiah ulang tahunnya dari Neville. Jadi dia minta diantar ke tempat di mana mereka menanam tanaman bakau.
Penjaga pantai dan tanaman disekitar pantai itu adalah lelaki tua, berkulit cokelat sekali, sinis, dan tidak ramah. Dia menatap curiga pada Serena yang membawa-bawa peti seperti kotak sumbangan.
"Kau ingin apa kemari?" sentaknya. Menatap curiga pada setiap niat baik yang akan dilakukan orang asing seperti orang-orang lainnya dulu di dapur umum.
"Aku... Saya ingin menanam sesuatu... Untuk kebun bakau Anda," jawab Serena defensif. "Ini dikatakan bisa menahan gelombang sampai beberapa kilometer. Apabila suatu saat, yah, suatu saat terjadi bencana yang tidak diinginkan..."
"Tentu saja semua bencana tidak diinginkan!" sentak si penjaga itu. "Ini semua juga adalah ulah manusia! Lihat di New Orelans... Bencana ini terjadi lagi di sana. Justru makin parah! Ini karena pertengkaran dukun Voodoo yang berebut kekuasaan..."
Serena tidak berani bertanya apakah penjaga pantai dan tanaman ini adalah penyihir ataukah dia hanya Muggle penggemar supranatural biasa. Tapi begitu merengut kotak bibit Neville dan melihat isinya, kerutan di dahinya menjelaskan dia Muggle.
"Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya? Bentuknya beda dengan bibit yang biasa kutanam... Kau yakin ataukah kau hanya akan berbuat onar saja? Menanamkan bibit perusak pada tanamanku... Aku tahu anak-anak orang kaya sepertimu. Kau seolah peduli pada satu hal. Lalu merepotkan kami karena atasan kami segan pada orangtuamu. Lalu meninggalkan semuanya karena bosan. Dan membuat kami semua jadi repot..."
Serena mau tidak mau teringat Draco. Tapi dia menghela nafas menahan kesal. Lagipula kantor penjaga itu sudah pengap. Dia tidak berniat berlama-lama.
"Saya memang tidak mau menanamnya sampai tanaman itu besar atau apa... Saya kan tidak tinggal di sini? Ini titipan teman saya yang pecinta tumbuhan. Dia mendapat bibit ini dari... hmm... hutan Amazon... Sangat langka. Dan berguna. Anda harus menanamnya... Kujamin tidak akan merusak apapun..."
Si penjaga kini terlihat takjub dan penasaran alih-alih sinis. Dia meneliti bibit Neville dengan konsentrasi.
"Dari Amazon? Tampaknya bagus dan sehat. Untunglah kau punya pacar yang berguna karena dia cinta tumbuhan..." katanya menyindir.
Tidak akan ada gunanya membantah penjaga tua tersebut. Maka Serena memberi detail cara penanaman dan perawatan (dari surat Neville) dan memintanya berjanji untuk benar-benar melakukan penanaman.
Serena kembali pulang dengan telanjang kaki. Membiarkan kakinya terbenam di pasir putih yang panas. Dia sungguh berharap, bahwa tanaman sihir tidak akan membuka rahasia tempat perlindungan penyihir yang dulu pernah ada di kota ini.
Kalau suatu saat terjadi perang penyihir lagi...
.
.
.
Serena dan Cat mengepak barang bawaan mereka yang kini bertambah dengan oleh-oleh. Serena baru menyadari bahwa kini dia bisa mengepak dengan rapi barang bawaannya. Dulu hanya Anna yang bisa membungkus dengan sedemikian efisien. Saat mengepak barang ke Hogwarts pun Serena biasanya sudah diberi kemudahan, karena bibinya yang brilian sudah menyihir kopernya agar semua barang bisa masuk. Serena biasanya hanya melemparkan segala sesuatu.
Tapi beberapa bulan berada dengan para manusia yang serba sigap dan mandiri membuatnya beradaptasi. Walaupun dengan bersungut-sungut, Serena menyadari, bahwa ada hikmah dari setiap kejadian...
Mengepak hadiah-hadiah ulang tahunnya ternyata mengingatkan Serena pada sesuatu. Hadiah Draco dan Jasper.
Bayi buaya hadiah dari Jasper masih keenakkan tinggal di bathtub-nya. Dia tentu saja tidak bisa ikut terbang bersama Serena ke London. Selain karena danau buatan di rumahnya berisi bebek-bebek malang dan tak berbahaya, buaya juga dilarang dibawa terbang oleh pesawat. Sebetulnya boleh, tapi izinnya akan merepotkan.
Dia juga tidak bisa memberinya pada Hagrid. Si pengawas binatang liar di sekolahnya. Karena siapa yang akan tahu akan sebesar apa buaya itu nanti? Lalu dia pasti akan menjadi asing sendiri di dunia yang penuh binatang sihir.
Jadi si manajer perempuan yang mirip McGonagall mengambil si bayi dan berjanji akan memasukkannya ke kebun binatang terdekat. Serena memintanya untuk menamai si buaya dengan 'Dracoria', entah mengapa...
Bahwa ternyata dapur umum di gedung serbaguna yang tidak menarik itu adalah sejarah dari masa lalunya, membuat Serena mengunjungi kembali tempat itu untuk terakhir kali. Dia meneliti tiap sudut. Berharap ada sisa-sisa persembunyian atau apa. Sisa-sisa di mana dulu ibunya yang bagai malaikat dan sang ayah yang selalu mendukung, pernah dekat dengan maut, bersama dengan para pengungsi lain yang berlindung dari Voldemort dan pengikutnya...
Tapi sia-sia saja dia mencari kenangan. Tempat itu terlalu biasa. Berlawanan dengan fakta bahwa dia telah menjadi tempat perlindungan yang terbukti efektif.
"Kau akan kembali bersekolah kalau begitu?" tanya Mrs Chen yang sedang beres-beres.
"Ya. Awal September..."
"Kau sekarang akan bisa memamerkan keahlianmu apabila suatu saat menjadi seksi konsumsi..." katanya polos.
Serena membayangkan para peri-rumah di Hogwarts. Yang kualitas dan kuantitas kerjanya membuat murid manapun tidak perlu mengupasi kentang. Tapi dia teringat Snape dan detensi yang pasti menantinya...
"Kau akan bangga padaku... Percayalah..." balas Serena sambil menyeringai.
.
.
.
Setelah perjalanan panjang di pesawat yang terus-menerus mengalami guncangan mengerikan. Serena kembali ke pinggiran kota London yang tetap berkabut di pagi hari, terhormat, penuh tata krama, dan orang-orang yang berlogat kental seperti Cat serta seluruh murid Hogwarts. Mereka menunggu sopir ayah Serena menjemput. Jadi karena kelaparan, mereka mencari makanan. Penjaja bagel keliling yang mereka datangi di luar bandara bahkan mengira Serena adalah pendatang baru.
Serena menyadari bahwa di tahun ketiganya di Inggris ini, dia bahkan belum bisa beradaptasi dengan logat Amerikanya yang kental. Kemudian dia sadar kalau dia tidak bisa mengubah logat kalau dia tetap bersama ayahnya, Anna, dan Robert, dan terus berlibur di luar negeri. Maka dia berhenti mencoba.
"Toh yang mengejek logatku sekarang hanya anak Slytherin dan Hermione Granger..."
Cat tertawa. Setelah masuk mobil. Serena memperhatikan jalan sepanjang kota London yang sangat berbeda dengan Miami. Di sepanjang perjalanan, Serena tidak menyadari ada yang aneh sampai dia menemui paman dan bibinya melambai-lambai di toko serbaada Muggle, yang terletak sekitar satu jam dari rumah Serena.
Paman Ed dan Bibi Charlotte adalah favoritnya. Selain karena mereka lah satu-satunya keluarga ibunya yang masih ada. Mereka juga belum pernah membuat Serena kecewa. Paman dan Bibi Chat terlihat sedikit aneh dan ketinggalan mode belasan tahun karena mereka memakai pakaian Muggle alih-alih jubah penyihir. Berusaha berbaur dengan para Muggle di jalan itu.
"Kalian tidak perlu menjemputku sampai sini!" seru Serena, kaget tapi senang.
"Tentu saja kami perlu, Ser..." kata pamannya, sambil menepuk-nepuk punggung semua orang. "Keadaan sungguh berbahaya..."
Paman Edward-nya menggosok kacamata bulatnya pada jasnya. Dia seumuran dengan ibu Serena, kalau masih hidup. Tapi tampang kutu-bukunya membuat Paman Ed terlihat jauh lebih tua. Dengan rambut tipis hampir botak, mata yang dalam dan bening, siapapun tidak akan meragukan kepintaran Paman Ed. Dia bertampang cemas juga seperti Cat dan salah satu teman asrama Serena yang terpintar, Hermione Granger.
Bibi Char tidak pernah melepaskan rangkulannya selama perjalanan. Serena mencium aroma menyenangkan antara bunga, perkamen tua, sampai bau besi emas, yang mungkin menandakan dia baru saja berhitung uang di toko buku mereka, Flourish and Blotts.
Perbedaan Charlotte Blotts dengan sang kakak sungguh mencengangkan. Sama seperti sang suami, dia juga bertampang khas seorang kutu-buku. Tidak mendapat anugerah kecantikan tersembunyi seperti Cat atau ibunya, tapi dia sungguh nyaman dengan dirinya sendiri. Serena menyadari kenyamanan itu menular padanya. Karena walaupun baru dua tahun kemarin mereka dekat, dia sudah sangat merindukannya.
Paman dan ayahnya mulai bicara tentang keadaan di Miami, sementara itu Cat tertidur. Serena juga hampir-hampir pulas dalam buaian bibinya. Perbedaan waktu ini hampir saja membuatnya mulas terus-menerus. Lalu dia menyadari apa yang dimaksud pamannya dengan keadaan yang berbahaya...
Bibinya mengacungkan tongkat sihirnya saat mereka mencapai gerbang tinggi rumah besar ayahnya. Biasanya hal itu tidak perlu. Karena selain ada penjaga dan kamera selama dua puluh empat jam, melakukan sihir di tempat Muggle berdomisili juga punya aturan yang ketat.
"Tidak apa-apa..." kata bibinya saat Serena ternganga melihat butiran es tampak luruh dari langit-langit sekita gerbang. "Hanya penjagaan standar... Dan Muggle tidak bisa melihatnya..."
Serena tidak melihat kembali saat mobil memasuki pekarangan, tapi dia yakin bahwa apapun itu akan tersegel kembali.
"Kau pikir mereka berlebihan?" tanya Serena ketika dia dan Cat sudah sampai ke kamar untuk mandi.
"Mungkin..." jawab Cat masih mengantuk. "Aku dilarang heboh waktu tahu penjahat itu kabur. Tapi semua orang dewasa siaga... Yah, kau tinggal di daerah Muggle. Sirius Black mungkin hanya tahu daerah tempat tinggal penyihir... Tapi paman dan bibimu harus menjaga tempat kau tinggal... Kau tahu, kan? Yah, untuk jaga-jaga... Muggle bahkan diperingati tentang Black..."
"Apakah kelompok Phoenix itu juga aktif kembali?" tanya Serena.
"Tidak... Kurasa tidak..." jawab Cat sambil menggeleng dan bergidik. "Jangan sampai, deh. Itu, kan berarti perang? Black pasti akan diurus Kementerian... Kau sebaiknya melupakan tentang Orde Phoenix itu, Ser. Ayahmu bilang untuk tidak memberitahu siapapun... Itu kan kelompok rahasia..."
"Baiklah... Baiklah..."
Serena tadinya ingin sekali begadang semalaman. Paman dan bibinya menginap. Pasti mereka akan membicarakan sesuatu sampai jauh malam dengan ayahnya. Serena ingin sekali ikut mendengar. Atau mungkin menguping. Rasanya janggal melihat ayahnya mendiskusikan masalah sihir, dan bukannya bisnis, dengan paman-bibinya. Tapi itulah yang terjadi.
Serena bahkan tidak kuat makan makanan penutup malam itu. Dia tidak menguping apapun, karena langsung tidur pulas setelah kepalanya menyentuh bantal. Miami tampak jauh di ujung mimpinya. Kini dia kembali berada di daratan London yang aman dari angin topan, tapi tidak dari penyihir hitam...
.
.
.
Serena bangun pagi-pagi sekali. Hampir tersedak bahagia saat menelan pancake-nya. Hari itu mereka akan ke tempat yang menurut Serena adalah tempat berlibur favoritnya. Toko mereka di Diagon Alley.
Ayahnya akhirnya melunak dan mengatakan Serena boleh berlibur selama tiga hari di sana. Walaupun nanti harus kembali lagi ke rumah dan pergi ke King's Cross, untuk naik kereta ke sekolahnya, dari London. Jam malam ternyata telah diberlakukan di sekitar Diagon Alley, berhubung dengan kaburnya Sirius Black. Mereka dilarang keras keluar tanpa izin. Dan ini mungkin yang membuat ayahnya berpikir Serena akan lebih aman sementara di toko, dibandingkan harus bolak-balik pulang malam ke rumahnya. Robert diharuskan ikut dengan Serena kemanapun dia pergi. Serena sempat mengeluh pelan-pelan. Bukannya dia tak suka, karena toh dia sudah lama sekali selalu didampingi Robert. Tapi keluarganya menganggap kaburnya narapidana ini dengan berlebihan... Toh, semua orang juga sedang dalam bahaya...
Ayahnya menyempatkan diri mengantar sampai jalan Charing Cross.
"Jangan jauh-jauh dari Paman dan Bibimu. Kau bawa tongkat?"
Serena mengangguk saat memeluk ayahnya. Biasanya, penyihir di bawah umur tidak diijinkan menyihir di luar sekolah. Jadi tidak membawa tongkat pun tidak apa. Tapi tongkat sihir adalah bagian yang tak terpisahkan dari tangan seorang penyihir. Lagipula, sekarang ada kasus. Jadi mereka diizinkan membawa demi berjaga-jaga.
Tongkat sihir Serena adalah tongkat ajaib yang berintikkan beberapa pecahan perisai seekor beruang es kuno. Yang konon dulu adalah penguasa daerah kutub. Lima kali lipat lebih besar dari beruang es normal, bisa bicara, dan memakai baju perisai dari perunggu. Ollivander, si tukang tongkat, yang menceritakan hal ini padanya, karena tongkat itu adalah satu-satunya. Tongkat sihir Serena termasuk aneh karena kebanyakan tongkat sihir berintikkan naga, unicorn, atau phoenix... Beruang es berperisai itu rupanya sudah lama sekali punah. Tapi Serena tidak begitu peduli. Serena cocok sekali dengan tongkatnya ini. Walaupun dia sering mengeluarkan salju kalau Serena tegang.
Dada Serena mulai berdebar saat dia memasuki portal masuk ke Diagon Alley. Rumah minum dan penginapan bernama The Leaky Cauldron. Yang dipenuhi selebaran entah apa... Lalu Serena menyadari itu foto Sirius Black yang bergerak-gerak. Pamannya berbasa-basi dengan Tom, si pemilik penginapan yang amat bungkuk. Lalu mereka sampai di dinding kosong yang segera membuka jalan bulat menuju tempat belanja favorit Serena.
Diagon Alley merupakan jalan berliku dengan ratusan toko pada kanan-kirinya. Jalannya dialasi batu. Belanja di sana adalah kesenangan tersendiri karena barang yang dijual adalah barang-barang sihir. Tapi siang itu Diagon Alley begitu penuh sesak. Sampai-sampai Serena tidak bisa melihat etalase toko.
"Mereka buru-buru belanja karena jam malam diberlakukan... Sirius Black. Dementor berpatroli-"
Cat tidak menyelesaikan perkataannya. Dia terjepit seseorang yang memborong sapu terbang.
"Apa berpatroli?" seru Serena, menghindar dari seorang ibu yang berdesakkan dengan menggandeng lima orang anak sekaligus.
"Anak-anak... Jangan terpisah! Lebih baik kita ke Gringotts dulu! Jam tutupnya lebih awal bank itu..." kata Bibi Char. Robert langsung sambil menggamit lengan Serena.
Mereka terus berjalan sambil desak-desakkan menuju bangunan paling tinggi yang ada dijajaran jalan. Gringotts. Bank penyihir yang dikelola oleh goblin. Bangunan itu terbuat dari batu putih dan menjulang tinggi. Tapi lupakan ide tentang menyimpan uang di bangunan seringkih itu. Seperti kebanyakan bank dengan pengamanan tinggi, harta-hartamu disimpan dibawah lantainya. Gringotts punya lantai bawah tanah entah berapa lapis. Dan diklaim sebagai tempat teraman di dunia sihir.
Para penyihir masih percaya pada kekuatan bentuk uang. Emas, permata, bahkan alat tukarnya juga masih berupa kepingan. Semakin terbuat dari batu berharga seperti emas dan logam mulia, semakin tinggi harganya. Kemarin dulu, ayah Serena berhasil mengajukan cek sihir sebagai bentuk pembayaran. Tapi hanya orang-orang yang kebanyakan emas-lah yang menggunakannya.
Gringotts juga sangat penuh, seperti semua toko yang mereka lewati.
"Euh, aku benci mengantri.." kata Serena lelah. Dia menyesal tadi tidak terlebih dulu membeli es krim. Tapi semua toko juga sama penuhnya.
"Kau tidak perlu, kan?" Cat mendelik pada seorang goblin yang terengah-engah menuju mereka.
"Keluarga Van Der Woodsen! Silakan langsung ke kereta..." kata si goblin itu sambil terengah.
"Eh, mengapa?" tanya Serena terheran-heran.
"Karena ayahmu yang Muggle menemukan cek sihir yang sangat efisien... Kami jadi dituntut untuk mempermudah layanan padamu..." katanya menggerutu.
"Sudah sepantasnya!" kata Cat mendelik, tidak menyukai nada 'yang Muggle' pada kalimat si goblin.
"Baiklah... Kalian berdua sebaiknya cepat, ya... Ambil seperlunya untuk keperluan sekolah... Tidak semua bisa menerima cek sihir... jadi sebaiknya jaga-jaga..." kata Paman Ed yang sudah didesak orang lagi.
Mereka buru-buru mengikuti si goblin sambil diiringi protes beberapa orang yang mengantri. Serena merasa tidak enak hati. Tapi toh dia sedang tidak ingin berdesakkan.
Kereta bawah tanah mereka melaju kencang beberapa menit kemudian. Mereka mampir di lemari besi keluarga Tully yang terletak beberapa lorong diatas lemari Serena. Cat turun dengan kunci di tangannya. Serena jadi menyesal dia ikut-ikutan turun. Mungkin Cat tidak ingin Serena tahu jumlah emasnya. Di lemari besi keluarga Cat, galleon, sickle, dan knutnya banyak. Hanya saja satu banding lima puluh dengan lemari Serena. Kemudian Cat ikut turun juga saat mereka sampai ke lemari besi Serena yang lembap dan dingin.
"Ah, tidak apa kalau kau tidak turun..." seru Serena sambil cepat-cepat menempelkan tangan pada pintunya yang tidak perlu kunci.
"Tidak apa kok... Kau pakai kunci pemindai-tangan-pewaris, ya?" kata Cat santai, suaranya bergaung di lorong tersebut.
Serena buru-buru memasukkan semua uang yang diperlukannya. Agak kebanyakan karena tidak berkonsentrasi. Lagipula dia perlu beberapa untuk menggantikan arloji ayahnya. Kapan lagi dia bisa punya uang karena uang jajan dari ayahnya masih ditahan? Jumlah emasnya tampak tidak berubah, syukurlah, padahal dia dulu pernah memberikan cek kosong pada Snape, guru Ramuannya itu, saking marahnya karena pernah dituduh mencuri.
"Ayo..." ajak Serena pada Cat yang masih diluar. "Kau lihat apa, sih?"
Lorong tempat lemari besi Serena berada menuju kepada beberapa rel yang menjorok ke jurang. Serena belum pernah melewati tempat tersebut. Tapi tampaknya tempat itu menakutkan seperti pertambangan paling dalam yang tidak mau dimasuki siapapun.
Suara gerujukkan air terdengar dari bawah...
"Itu pasti tempat yang paling ketat pengamanannya. Tempat lemari besi yang paling banyak isinya... Yah... Mungkin juga tempat yang dijaga naga..." kata Cat.
Keheningan selain suara air membuat suasana terasa lebih menyeramkan. Jarang ada kereta goblin yang lalu-lalang di daerah itu.
"Bagaimana kau tahu?" sentak si goblin yang masih ada di kereta. Dia merengut galak di bawah cahaya seolah Cat telah berdosa karena mengetahui hal tersebut.
"Cuma menebak..." kata Cat sambil angkat bahu.
"Ayo, cepat! Aku masih banyak kerjaan!" perintahnya.
Serena dan Cat kembali ke kereta. Serena terus-terusan melirik ke belakang kepada lorong itu. Siapa yang berharta begitu banyak sampai-sampai perlu naga untuk menjaganya?
Pertanyaannya terjawab saat melihat antrian masih mengular di lantai lobi. Tentu saja semua penyihir hanya menyimpan hartanya di Gringotts. Setidaknya Muggle punya banyak bank cabang lain...
"Kita beli barang-barang yang kau perlukan terlebih dulu. Ada di surat kalian, kan? Lalu kita makan siang di toko... Karena restoran manapun pasti penuh saat jam makan siang," kata Bibi Char mengatur.
Mereka mulai dengan jubah. Karena jubah Serena sudah kependekkan. Lalu beralih ke toko alat tulis, sempoa sihir baru, ramuan untuk perawatan burung hantu, pernak-pernik perawatan sapu, dan yang terakhir bahan ramuan yang dibeli terakhir agar tidak membusuk. Serena membeli es krim di toko es krim Florean Fortescue. Tidak ada keistimewaan yang dia dapat di sini. Toh ayahnya tidak menciptakan pembeku es. Jadi dia harus mengantri panjang sebelum menikmati sorbert stoberi dengan lelehan krim keju cairnya.
"Apakah tidak apa-apa kalau aku mengundang ayah dan ibuku untuk makan malam besok? Aku belum bilang pada bibimu... Tapi ibuku akan memasak juga, jadi kalian tidak repot..." kata Cat sambil mengaduk-aduk es krim teh hijau-nya.
"Tentu! Mengapa kau minta izinku segala, sih? Tentu saja aku mau bertemu mereka lagi..."
Serena hanya sekali bertemu dengan ibu Cat, yaitu saat dia membelikan buku Cat yang saat itu sedang sakit cacar naga.
"Yah... Mereka juga ingin bertemu. Ayahmu dulu sering mengundang dan segala macam pada ayah-ibuku. Tapi mereka selalu menunda... Kau tahu? Maklumlah mereka sibuk... Atau hanya tidak enak karena, yah, dulu mereka tidak membantu saat kita sedang perang..."
"Jangan aneh-aneh, Cat... Kau dengar ayahku bilang apa. Kau masih kecil saat itu. Kau adalah prioritas mereka agar selamat..."
Cat pernah bercerita bahwa ayahnya adalah Kepala Penyembuh di St. Mungo, Rumah Sakit Untuk Penyakit dan Luka Sihir. Sedangkan ibunya sudah tidak terlalu kuat bekerja. Kondisinya lemah, sehingga dia hanya mengajar beberapa anak yang ingin diajar privat, sebelum mereka masuk Hogwarts. Kata Cat, ibu Cat terlalu pintar untuk hanya mengajar baca-tulis, berhitung dasar, atau cara mengendalikan kekuatan sihir pada seseorang yang masih kecil. Tapi Serena berpikir bahwa mengajar sekaligus mengasuh anak-anak kecil yang belum bisa mengendalikan sihir adalah pekerjaan paling sulit dan melelahkan. Lihat saja dirinya sewaktu belum menyadari kekuatan sihirnya. Kekacauan muncul dimana-mana.
Mereka menuju toko paman dan bibinya setelah makan es krim. Toko buku Flourish and Blotts. Toko itu masih menjadi milik ibu Serena, yang berarti diwariskannya pada Serena. Serena tidak hanya mempunyai pulau tropis, tapi juga toko buku. Hatinya melembung bahagia saat melihat papan nama berwarna ungu tersebut. Tapi menjadi kempis kembali saat melihat etalase kacau balau.
"Hmm... Kukira Merryl akan mengatasi buku itu ketika kita ke London..." gumam Paman Ed sambil mengeluh.
Di etalase toko yang biasanya rapi bersih berisi buku, kini ada kandang besar yang memuat binatang mengamuk. Serena hampir bertanya sejak kapan mereka mengijinkan binatang masuk etalase sampai kemudian menyadari bahwa mereka adalah buku besar berwarna hijau yang sedang saling menggigit satu sama lain dengan ganas.
.
.
.
"Buku Monster! Aku akan senang kalau kalian tidak membelinya!"
Pegawai toko kurus tinggi bernama Merryl itu mengobati beberapa tangannya yang terluka dengan Dittany. Jelas dia baru digigit seharian itu. Tak heran Merryl begitu histeris. Beberapa buku tampak berusaha mencabuti rambutnya yang sudah tipis. Entah bagaimana caranya.
"Baiklah, Merryl... Kami akan menangani bukunya. Kau boleh pulang lebih cepat dan ambil cuti besok..." kata Bibi Char.
"Kau tidak akan membuat kami menanganinya, kan?" tanya Serena, melirik lagi kandang yang kini terguling.
"Kau ngomong apa, Ser? Buku Monster itu adalah permintaan dari guru Pemeliharaan Satwa Gaibmu. Kau ambil pelajaran itu, kan?" tanya bibinya.
"Untung aku tidak mengambil pelajaran itu pada NEWT-ku..." kata suara seorang laki-laki dibelakang Serena.
"Wood!" seru Serena sambil berbalik.
Oliver Wood adalah pemuda tinggi gagah yang merupakan kapten tim Quidditch Gryffindor. Selama ini Wood selalu keras pada Serena. Dan semua anggota tim lainnya. Karena dia begitu terobsesi pada olahraga sapu terbang itu. Tapi Cat sudah lama naksir pada Wood, walaupun tidak mengakui. Cat masih memperhatikan Wood walaupun dia bilang Wood tidak terlalu berotak dan hanya memikirkan olahraga. Itu terbukti karena Cat langsung kehabisan kata-kata dan mulai mengelapi ujung-ujung mulutnya, takut ada es krim yang masih menempel.
"Kau siap untuk pertandingan awal musim ini? Kau latihan terbang selama liburan, kan? Lalu-" tanya Wood langsung.
"Tentu saja!" seru Serena meyakinkan. Walaupun dia sama sekali belum menyentuh sapunya semenjak ayahnya membawa paksa dia ke Miami.
"Baiklah... Aku lega. Nah, aku perlu buku ini untuk NEWT-ku..."
"Cat akan mencarikannya untukmu..." kata Serena sambil menarik Cat.
"Oh, hai..." kata mereka berbarengan dengan canggung.
"Serena yang akan mencarikannya... Dia yang punya toko buku-" desis Cat tidak percaya diri.
"Aku masih punya Buku Monster untuk dijinakkan... Nah... Ambil bukumu, Wood. Jangan lupa bayar di kasir, ya..."
Cat mendelik pada Serena yang masih cengengesan. Tapi tak urung ikut membantu Wood.
"Nah, ini tongkatnya Miss..." kata Merryl. "Langsung sodok atau pukul begitu mereka menyerangmu..."
Serena menatap kerangkeng dengan lemas.
.
.
.
Keesokan harinya, toko lebih sibuk daripada biasanya. Hal itu karena sekolah sudah semakin dekat. Jadi banyak anak Hogwarts yang datang untuk belanja buku pada detik terakhir.
Robert, yang kemarin berhasil menangkap satu Buku Monster yang langsung diikat tali dan menyerah untuk Serena, kini bertugas khusus untuk buku tersebut. Serena telah bertemu beberapa teman kelas tiganya yang mampir. Dia memakai celemeknya untuk mulai melayani pelanggan dan langsung dapat cibiran dari Pansy Parkinson. Murid kelas tiga Slytherin yang mengaku-aku pacar Draco sejak tahun pertama. Serena sengaja menggunting tali yang mengikat Buku Monster Pansy. Ketika anak perempuan itu dan orangtuanya yang angkuh menginjakkan kaki dibawah matahari, si buku langsung terbangun karena ingin berburu. Lalu mengamuk dan menggerigiti jari dan cincin-cincin Pansy.
Serena tertawa riang sampai dia tidak menyadari keberadaan seseorang dibelakangnya.
"Maaf... Saya tidak bisa menemukan beberapa halaman pada buku ini..."
Serena berpaling dan otomatis mundur saat melihat pelanggan dihadapannya. Lalu menyesal karena tidak sopan. Tapi Serena punya alasan mengapa dia menjadi takut sekaligus siaga.
Wajah pria itu penuh bekas luka yang hanya akan Serena temui pada narapidana atau anak-anak nakal. Pria itu juga memberikan kesan abu-abu yang lusuh. Mungkin karena rambut berubannya. Padahal dia tampak lebih muda dibandingan Bibi Char. Tapi yang menyedihkan, jubahnya penuh tisikkan dan tambalan. Dia menyodorkan pada Serena salah satu buku bekas mereka. Yang menjelaskan keadaan.
"Eh... Oh... Maaf... Sir... Coba saya lihat dulu di stok kami..."
Serena menyesali dirinya yang gugup dan bergetar karena si pria muda buru-buru bicara, "Oh, tidak usah repot-repot. Biar saya tanyakan pada salah satu peri-rumah..."
"Tidak, tidak! Tidak apa-apa..." potong Serena tidak enak, sambil buru-buru membaca judul buku. "Nah, bagian pertahanan praktis ilmu hitam ya? Kurasa aku tahu tempatnya! Biar kuambilkan sebentar..."
Serena buru-buru lari ke salah satu rak. Kemudian secepat kilat kembali ke tempat pria ringkih itu. Tapi bukan ekspresi senang yang terpampang di wajahnya, melainkan malu.
"Kalau bisa saya ingin yang bekas saja..."
"Oh, betul!" Serena bergerak gugup sampai hampir saja lupa mengecek kepada buku stok-nya yang lebih mudah dilakukan.
Matanya mencari-cari di beberapa halaman dengan bingung, "Sepertinya itu edisi terakhir kami yang bekas-pakai... Kami minta maaf... Biasanya ada buku yang menjerit atau apa kalau disobek atau hilang halaman... Tapi saya tidak bisa, maksud saya, saya tidak punya laporannya... Maksud saya kami baru saja membeli buku yang suka menggigiti orang maupun buku... Jadi bagaimana kalau saya memotong harga buku baru ini seharga buku bekas? Sebagai ganti karena keteledoran kami? Biar saya bungkuskan di kasir, ya?"
Mungkin keringkihan pria itu, atau fakta bahwa dia hanyalah miskin, dan bukan kriminal, yang membuat insting melindungi Serena muncul. Entah mengapa Serena berpikir bahwa pria itu sering dijahati atau apa... Buku pertahanan terhadap ilmu hitam yang akan dibelinya seolah menjelaskan kebutuhannya itu.
"Remus? Remus Lupin?"
Serena yang masih bingung mengalihkan pandangan kepada bibinya. Yang kini meluncur ke arah mereka.
"Oh, Charlotte... Senang bertemu denganmu..."
Pria ringkih yang bernama lucu itu mengangguk sedikit pada bibi Serena. Ternyata mereka saling kenal.
"Kau kemana saja?" tanya Bibi Char sambil menyalami. "Masa' iya kami jarang menemui kutu-buku di toko kami? Oh, ya. Kenalkan... Ini keponakan kami, Serena Van Der Woodsen... Putrinya Celia..."
Lupin tertegun saat matanya bertemu Serena, "Oh, maafkan... Aku mengira dia salah satu pelayan..."
Serena mengangsurkan tangannya yang dijabat Lupin dengan ragu-ragu.
"Tidak apa-apa... Tidak apa-apa..." kata Bibi Char menjawab untuk Serena. "Kau lagi cari buku apa, Remus?"
Serena buru-buru menunjuk buku yang hilang halamannya dan tetap bersikukuh untuk mendiskon. Bibinya tersenyum paham. Tapi si Remus Lupin menolak.
"Jangan, Charlotte. Aku tidak ingin merepotkan... Aku biasanya ke toko buku bekas... Tapi mereka sedang tutup hari ini..."
"Jangan begitu... Hmm, Mr Lupin..." kata Serena gugup. "Ini bukan apa-apa... Anggap saja keteledoran..."
"Sungguh tidak apa-apa..." Lupin tersenyum ramah, tapi Serena bukanlah Serena kalau tidak mendeteksi kepahitan dalam suaranya.
"Ayolah, Remus... Kita jarang bertemu... Mari mengobrol dulu. Serena masuk kelas tiga di Hogwarts tahun ini. Kau dulu Prefek Gryffindor, kan? Nah, Serena juga di Gryffindor!" seru Bibi Char.
"Oh, begitu? Mungkin lain kali, Charlotte... Aku ada perlu dulu. Aku harus siap-siap untuk pekerjaan..."
"Demi Merlin!" seru bibinya lagi. "Syukurlah-"
Lalu bibinya terdiam dengan tidak enak. Persis seperti Serena saat dia langsung menjauh saat pertama kali melihat tampang Lupin. Tapi Lupin tampaknya tidak tersinggung. Dia malah menggunakan kesempatan untuk berpamitan.
Perlu waktu sampai Lupin keluar toko dan Serena memandangi bibinya.
"Yah, dia salah satu teman lama... Seperti Hagrid..."
"Kenapa wajahnya?" desis Serena.
"Aku juga tidak tahu... Sudah dari dulu... Yah, dia sulit sekali mendapat pekerjaan... Entah mengapa... Maka dari itu tadi aku kaget dan senang untuknya... Tapi dia sensitif dan harga dirinya agak tinggi..."
"Tapi dia kan dulu Prefek Gryffindor..." tuntut Serena, tak peduli pada sensitif dan harga diri. Dia langsung teringat teman Prefeknya, Percy Weasley yang serius dan Cedric Diggory yang luar biasa tampan. Kelihatannya para Prefek bukan tipe yang akan sulit mendapat kerja.
"Aku tidak tahu... Aku pernah menawarinya agar menjadi buyer toko kita. Tapi dia menolak..."
"Benarkah?"
"Yah... Aku tidak tahu mengapa. Dia salah satu teman ibumu dulu. Waktu di Orde... Tapi kau jangan bahas ini pada siapapun..."
Serena melotot lagi. Mungkin luka-luka itu hasil perang penyihir dulu? Dan dia masih membaca buku pertahanan terhadap ilmu hitam? Dia salah satu teman ibunya? Ternyata dunia itu sempit...
"Ser..."
"Oh, ya! Maaf..."
"Buku Monster kelihatannya memakan buku lain..."
Lalu Remus Lupin hilang begitu saja dari kepala Serena saat dia berkutat dengan stok terakhir Buku Monster.
.
.
.
Orangtua Cat datang malam harinya dengan membawa banyak sekali oleh-oleh untuk dimakan sebagai cuci mulut. Mr Neddard dan Mrs Catherine Tully adalah pasangan yang hangat. Serena jarang mengobrol lebih dekat dengan sepasang orangtua sahabat-sahabatnya. Neville selalu saja ditemani neneknya. Mungkin orangtuanya sibuk sekali seperti ayahnya.
Salah satu pasangan orangtua yang Serena perhatikan terakhir adalah Mr dan Mrs Malfoy. Jika dibandingkan mereka yang terlihat aristokrat dan dingin, pasangan Tully sangat hangat, sama seperti warna rambut mereka yang merah kelam.
"Maaf kami terlambat dan tidak bisa ikut berkunjung ke rumahmu di London..." kata Mr Tully sambil menjabat tangan Serena. "Sampaikan maaf kami pada ayahmu..."
"Tidak apa-apa," balas Serena sopan.
Mr Tully kelihatan seperti Hagrid versi mini daripada Kepala Penyembuh. Rambutnya dibiarkan panjang menggantung di bahu. Lalu dia berkumis, berjanggut, dan ada kerutan pada ujung matanya saat tersenyum. Betul-betul mirip Hagrid.
"Ada apa? Mengapa kalian terlambat?" sembur Cat langsung.
"Biarkan kami bernafas, Cat!" tegur Mrs Tully sambil tersenyum.
Mrs Tully bisa disebut sebagai kembaran ibu Serena dan juga Bibi Char pada beberapa hal. Mungkin tipe-tipe ibu-ibu Ravenclaw seperti itu? Dia sederhana dan bertampang pintar. Rambutnya panjang. Dia cantik, tapi wajahnya agak lelah. Serena ingat perkataan Cat yang menyebutkan kondisi ibunya cukup lemah.
Makan malam dimulai dengan makanan pembuka yang lezat. Pembicaraan mulai mengalir dan Mr Tully bercerita tentang mengapa mereka tidak sempat ke rumah Serena tadi.
"Draco Malfoy meminta acara serah-terima sumbangan dimajukan jadi tadi siang..."
Serena hampir menelan tomat ceri bulat-bulat.
"Oh, mereka menyumbang lagi, ya?" tebak Paman Ed santai.
"Ya. Fudge saja langsung buru-buru menyempatkan diri datang. Fudge itu Menteri Sihir.." jelas Mr Tully, salah mengartikan ekspresi bengong Serena.
"Kali ini mereka menyumbang besar-besaran," kata Mrs Tully menambahkan. "Ned jadi punya stok Ramuan Pencegah Cacar Naga yang mahal itu sampai ratusan gentong. Sangat manjur bagi mereka yang belum atau yang sedang terjangkit. Kemudian ribuan galleon lagi untuk riset. Dan banyak lagi untuk membangun beberapa bangunan baru di sayap rumah sakit. Kemudian ada biaya khusus untuk penyihir tak mampu..."
Pamannya bersiul, "Murah hati sekali..."
Tapi Bibi Char terbahak, "Malfoy menyumbang pada orang-orang tak mampu? Wah, apakah dunia mau kiamat?"
"Char!" tegur Paman Ed, sementara semua keluarga Tully tertawa.
"Ned bisa bilang apa, kan?" tanya Mrs Tully sehabis tertawa. "Fudge jelas terkesan. Atau lebih tepatnya, terbantu. Dia pasti merasa segan sekali kepada Lucius Malfoy sekarang. Rumah sakit jelas beruntung juga. Tapi biasanya St. Mungo tidak pernah berada dalam cengkeraman orang lain..."
"Yah... Apa yang diinginkan Lucius Malfoy?" tanya Bibi Char sambil pura-pura berdesis ngeri. "Jangan sampai kau kena pengaruhnya, Ned!"
"Kalian para wanita memang hobi bergunjing... Aku tidak akan membiarkan Lucius Malfoy ikut campur urusan rumah sakit. Biar saja Fudge yang menanggung itu. Tapi kan Malfoy Junior yang memberikan sumbangan. Dia tidak minta apa-apa selain memajukan acara serah-terima tadi..."
"Aku tidak tahu kalau Draco Malfoy bisa semurah hati itu," timpal Serena, menjaga agar nada suaranya terdengar santai dan bukannya peduli.
Mrs Tully tertawa lagi, "Yah, aku tidak akan heran kalau ayahnya-lah yang menyumbang untuk menyogok sana-sini. Kau kan sudah dengar tentang Lucius Malfoy dengan dewan sekolah kemarin, Ed?"
Menggosipkan Draco dan keluarga Malfoy adalah salah satu hal yang membuat Serena salah tingkah sepanjang hari. Tapi toh dia tidak bisa mengalihkan diri dari makan malam keluarga.
"Kakeknya baru saja meninggal. Si tua Abraxas Malfoy meninggalkan semua hartanya pada Malfoy Junior..."
Garpu Serena berhenti di tengah-tengah perjalanannya ke mulut saat Mr Tully berkata begitu. Sementara itu Cat, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, mengelap mulutnya.
"Yah, tebak siapa yang akan sok jago tahun ini?"
"Kakeknya meninggal? Kenapa?" tanya Serena, menahan nada cemas dengan minum air.
"Cacar Naga... Yah, mungkin Malfoy merasa kehilangan juga. Dia mungkin trauma lalu menyumbang banyak ramuan cacar itu. Aku tidak menghakimi. Ada berbagai macam masalah dalam satu orang, apalagi keluarga? Kudengar ada bentrokkan-bentrokkan saat pembacaan surat wasiat..."
"Yah, keluarga kaya-raya biasanya hanya pura-pura menangisi kepergian, lalu kemudian menuntut harta warisan yang berlimpah. Seperti itulah..." komentar Mrs Tully.
"Tapi... kita tidak menghakimi, kan?" tegur Paman Ed pelan. Serena tahu pamannya itu berusaha menjaga perasaannya. Bagaimanapun Serena juga termasuk pada anak yang agak kaya-raya.
Mr dan Mrs Tully berbicara santai sampai mereka membicarakan hal-hal yang jauh dari keluarga Malfoy. Bibi Char mengeluarkan botol anggur sementara Serena dan Cat makan es krim dan merasa mengantuk.
Cat langsung masuk selimut dan mengucapkan selamat tidur ketika mereka selesai berganti piama. Besok mereka akan pulang pada siang hari agar bisa berkemas. Minggu pagi mereka sudah harus ada di King's Cross. Tapi Serena menunggu sampai Cat pulas kemudian kembali ke lantai bawah untuk melihat-lihat Daily Prophet edisi yang lalu di gudang.
Dia berjingkat-jingkat. Tapi rupanya semua sudah tidur, Para peri-rumah juga tidak kelihatan. Mungkin sedang di dapur. Serena memasuki gudang dan langsung menutupnya. Daily Prophet menumpuk di hadapannya. Halaman pertama setiap edisi jelas masih menampilkan Sirius Black besar-besar. Tapi dikolom dukacita ada beberapa artikel tentang penyihir penting yang wafat.
Akhirnya dia sampai pada tanggal beberapa bulan yang lalu. Kemudian mengerang saat membaca kabar kematian Abraxas Malfoy, yang bertanggal sama dengan hari ulang tahun Draco. Apakah harinya Draco tidak bisa lebih buruk lagi?
Serena tidak tahu apa yang dia cari. Mungkin satu foto yang dengan jelas menampakkan wajah Draco. Apapun itu. Mungkin suatu pembenaran bahwa Draco bukanlah anak dingin tak berperasaan yang sama-sama menuntut harta dari kematian orang yang seharusnya dia cintai. Mrs Tully mungkin bisa salah. Begitu pula orang lain yang mencibirnya saat dia membagikan hartanya pada amal.
Kemudian Serena sampai pada berita pemakaman kecil. Salah satunya menampilkan bukit besar dengan pohon Yew betebaran. Gambar yang bergerak-gerak menunjukkan tiga orang berambut putih, pirang terlihat putih di foto hitam-putih, melemparkan tanah pertama begitu saja kepada peti mati yang sudah dikebumikan. Lalu mereka pergi begitu saja.
Serena hampir merasa lemas saat melihat reaksi keluarga tersebut. Apakah mereka tidak bisa tinggal lebih lama sampai tanah ditutup? Apakah keluarga itu memang tidak berperasaan seperti yang semuanya kira?
Dia berusaha mencari lagi. Wajahnya selalu terpampang besar-besar di majalah lifestyle seperti orang bodoh saat dia dan ayahnya melakukan sesuatu. Tapi mungkin jurnalis sihir di sini punya cara tersendiri. Mungkin juga mereka tidak mau repot-repot membahas keluarga yang ditinggalkan. Tinggal foto saja, toh fotonya sudah bergerak. Kau tidak perlu cari info lebih lanjut tentang perasaan orangnya...
Kemudian dia melihat nama Malfoy pada berita yang berjudul: Kericuhan di Departemen Hukum Sihir: Pewaris Baru Malfoy Emosi, Melukai Beberapa Kerabat dan Akan Memberikan Semua Hartanya Pada St. Mungo dan Korban Topan Andrew Miami?.
Ini pastilah kejadian bentrokan yang tadi mereka singgung. Serena tidak tahu menahu mengapa Miami-nya dibawa-bawa dalam kejadian ini? Lalu senyum kelegaan serta geli mengembang di bibir Serena setelah menyelesaikan artikel. Dia melihat Draco dalam foto itu, menerjang dan menghajar beberapa orang. Menyelamatkan si penyihir yang tampaknya adalah pengacara. Ekspresi di wajah Draco bermacam-macam. Marah, kesal, malu. Tapi sedih adalah salah satunya. Kalau tidak begitu, apalagi yang akan membuat dia senekad itu?
Serena menyelipkan potongan gambar itu ke saku piamanya...
.
.
.
