Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
The Two-Tale Heart 3
V
SERENA
Serena menatap cermin dan buru-buru kembali mencuci mukanya saat dilihatnya wajah musuh besarnya dulu sewaktu di sekolah Muggle, Monica Rhodes. Ini sama sekali tidak adil. Serena melihat beberapa teman sekolahnya mengenakan make-up tipis-tipis tanpa kelihatan seperti anak SMA tukang gencet. Sekarang dia harus mengacak-acak kembali rambutnya yang tadi dibuat mengikal dengan susah payah. Kelihatannya bagus saja pada Lavender Brown, teman seasrama Serena di Gryffindor. Tapi Serena merasa dia akan pergi ke pesta ayahnya dan bukannya sekolah. Sekarang dia benar-benar sudah terlambat...
"Ser! Kita akan terlambat! Kau bahkan belum menyentuh sarapanmu..."
Cat meneriakinya dari luar kamar mandi.
"Aku datang!"
Dengan terburu-buru Serena keluar kamar dan menyambar jaket denimnya. Cat sekilas melihat Serena sambil termenung-menung.
"Apa?" sentak Serena.
"Kau sedang puber, Ser..."
"Jangan ngomong macam-macam..."
"Kau berusaha membuat rambutmu mengembang dan memakai body lotion..."
"Haha... Aku bukan orang dari gua, Cat. Ya iyalah aku memakai pelembab..."
"...dan eyeshadow yang masih menempel di matamu..."
Serena keluar kamar sambil menggosok matanya.
"Mungkin sebaiknya kuhadiahi kau majalah remaja atau apa... Tapi aku pun jarang punya yang seperti itu. Biasanya aku hanya nebeng baca pada teman sekelasku... Yang saat ini bahkan jarang bicara denganku..."
"Itu karena kau yang menghindari mereka..." bantah Serena.
Mereka membungkus donat buatan Anna karena sudah tidak ada waktu lagi untuk sarapan di rumah. Serena berpamitan kepada semuanya dengan terburu-buru. Sampai dia lupa kalau semua sepatunya sudah dipak kedalam koper yang saat ini sudah dalam bagasi mobil. Tidak menyisakan satu pasang pun untuk dipakai ke stasiun. Serena mengambil sandal pantainya dengan mengeluh. Urusan dandan ini sangat membuang waktu berharga.
Lalu kejadian paling memalukan terjadi di pom bensin terdekat. Perut Serena tiba-tiba mulas dan dia harus menumpang di toilet pom tersebut.
"Maaf... Maaf... Aku tadi telat bangun..." kata Serena tergopoh-gopoh.
Ayahnya mengecek arloji agak cemas, takut ketinggalan kereta. Dia pun sedang mengejar rapat penting di New York. Jalanan kota London biasanya macet di Senin pagi.
"Kau mau bertemu siapa, sih?" desis Cat, menyadari bahwa Serena begitu cemas.
"Kau ngomong apa, sih?" balas Serena pendek.
Untunglah hari itu jalanan tidak terlalu macet. Bahkan lampu merah pun serasa cepat sekali berlalunya. Mereka sampai ke King's Cross lebih awal. Paman dan Bibinya bahkan belum datang. Sambil menunggu, Serena duduk diam agar tidak mulas lagi.
"Nah, itu paman dan bibimu datang... Hati-hati di sekolah, sayang... Jangan lupa tulis surat... Dan jangan kemana-mana sendirian. Selalu patuhi jam sekolah..."
Ayahnya pasti cemas setengah mati akibat si tahanan tersebut, Sirius Black, kabarnya belum juga berhasil ditangkap kembali. Tapi Serena tidak cemas. Hogwarts salah satu tempat teraman di dunia. Well, kalau kemarin ada benda yang harus dijaga anjing berkepala tiga dan diincar penyihir jahat, kan bukan salah Hogwarts untuk kemasukkan benda itu? Begitu juga bukan salah Hogwarts salah satu pendirinya memutuskan bahwa membiakkan ular raksasa pembunuh sebagai ide bagus. Lagipula, apa yang akan dilakukan Sirius Black di Hogwarts? Yang mempunyai kepala sekolah paling hebat, Albus Dumbledore?
Setelah memeluk ayahnya dan Robert selama beberapa detik yang menyenangkan, Serena dan Cat langsung memasuki peron sembilan tiga-perempat sambil setengah berlari. Rasa mulas Serena seolah tertinggal di tembok yang baru saja dia tembus. Hogwarts Express seperti biasa, kuno, merah, dan mengepulkan asap. Dikelilingi anak-anak yang amat bersemangat.
Stasiun itu sama saja dengan Diagon Alley. Masih penuh dengan tempelan berupa gambar Sirius Black.
"Serena!"
Yang memanggilnya adalah Neville Longbottom, sahabatnya. Neville sekarang juga agak tinggi, walaupun tetap gemuk. Dia terengah-engah menghampiri Serena. Neville lagi-lagi didampingi neneknya yang membawa tas tangan merah besar, juga topi ajaib yang ada sarang burungnya.
"Ayo, kita cari kompartemen dulu..."
Paman dan bibi Serena mendampingi mereka sambil mengobrol dengan Mrs Longbottom. Cat celingukkan mencari ibunya yang katanya akan mengantar. Ayahnya saat ini sedang disibukkan dengan pembangunan sayap rumah sakit baru.
Akhirnya Serena berhasil menemukan satu kompartemen kosong. Serena menaruh Jasper si burung hantu disebelah kotak tempat Trevor, katak Neville, berada. Serena keluar kompartemen lagi dan menyadari bahwa dia merindukan kerusuhan sekolah, termasuk beberapa anak cowok yang tidak sengaja berselisih jalan dengannya. Yang menyapanya kelewat ramah. Tapi bukanlah sapaan mereka yang membuat hari itu menjadi tak terlupakan. Ada Ginny Weasley dan Luna Lovegood di lorong.
Mereka berdua ada di kelas dua sekarang. Ginny Weasley adalah adik dari Ron, sahabat terbaik Harry Potter. Rambutnya merah cerah sebagaimana keluarga Weasley lainnya. Sedangkan Luna Lovegood adalah anak Ravenclaw yang amat sangat jujur dan aneh. Dia tidak sengaja sekompartemen dengan mereka tahun lalu. Yang menyebabkan mereka berteman. Luna berambut pirang, agak kotor, dan bermata bulat seperti kelereng.
Ginny sangat canggung saat menyapa mereka. Serena tahu betul mengapa. Tahun pertama Ginny di Hogwarts kemarin tidaklah berjalan baik. Dia sempat dikabarkan mati terbunuh oleh si monster Slytherin yang kemarin meneror sekolah. Tapi Ginny tampak baik-baik saja. Mungkin kakak-kakaknya, Fred dan George Weasley yang kocak, berhasil mengembalikan semangatnya.
"Kau ke Mesir kemarin, Ginny?" tanya Neville. "Kulihat di Daily Prophet ayahmu menang undian, ya?"
Ginny mengangguk malu, "Ya, kami mengunjungi Bill, kakak pertamaku..."
"Oh, itu menyenangkan sekali... Mesir... Piramida... Unta..." kata Serena, mencoba berbasa-basi. Dia tidak yakin bagaimana bicara dengan orang yang amat pendiam seperti Ginny... Juga yang tampaknya menyimpan banyak tekanan untuk anak sekecil itu.
"Ya... Aku... aku bawa oleh-oleh untuk kalian. Hmm, hadiah kecil..." kata Ginny malu-malu.
Ini sama sekali diluar dugaan. Ginny membelikannya oleh-oleh.
"Oh, terima kasih... Kau begitu... perhatian... Aku juga bawa oleh-oleh dari Miami. Untukmu... dan Luna..." Serena mengangguk pada Luna Lovegood, yang bertambah tinggi tapi tetap memakai baju dan kalung yang sama dengan yang dipakainya tahun lalu, saat mereka pertama bertemu.
"Oh, kau sangat baik... Dan rambut ikal cocok untukmu. Kau terlihat amat cantik walau memakai sandal..." Mata Luna membelalak lebar saat bicara.
Itulah yang Serena maksud dengan Luna yang amat jujur. Otaknya kini berputar antara boneka buaya dan kaus Miami, yang untungnya dia bawa.
Setelah menunjukkan kompartemen agar mereka bisa duduk bersama, Serena keluar untuk berpamitan. Dia bercerita santai kepada nenek Neville yang menyayangkan bahwa Serena belum sempat ke rumah keluarga mereka. Akhirnya piston Hogwarts Express berbunyi. Mereka berebutan pamit pada Paman Ed, Bibi Char, nenek Neville, dan Mrs Tully.
Neville dibekali neneknya segelas cangkir plastik yang tampaknya berisi kopi.
"Kau jadi seperti Draco Malfoy..." komentar Serena otomatis.
"Apa?"
"Oh, tidak... Aku lihat dia bawa gelas yang sama..." kata Serena berbohong.
"Ini isinya cokelat panas... Kata nenek, akan sangat membantu..."
Kata-kata Neville tenggelam saat kereta dengan cepat berbelok dan melaju. Serena merasakan bahwa Neville tampak tegang. Walaupun biasanya dia juga cemas kalau bersekolah. Takut melupakan sesuatu atau jatuh dari kursinya sendiri.
"Oh, tidak... Kau sekompartemen dengan Weasley dan Loony..." kata Cat mengeluh.
"Jangan memanggilnya begitu!" desis Serena tak enak. "Dia satu-satunya yang mau dekat denganmu waktu kau baru sembuh dari cacar itu. Dan aku minta izinmu untuk memberikan boneka buaya dan kaus yang kau belikan pada mereka. Nanti kuganti. Ginny membelikanku oleh-oleh Mesir dan aku tidak tahu harus membalas apa..."
"Bilang terima kasih, dong..." gerutu Cat sambil memutar mata.
Suasana jadi aneh dan semakin aneh di kompartemen mereka. Ginny membelikan mereka Teropong Curiga dari Mesir. Teropong itu bisa bersiul dan bersuit kalau ada sesuatu yang mencurigakan mendekat. Tampang Cat seolah menyatakan bahwa benda itu bisa ditemukan dimana saja tanpa harus jauh-jauh ke Mesir. Luna menyambut kausnya dengan bahagia sekali. Tapi Ginny dengan ragu menerima boneka buaya. Katanya dulu Fred dan George pernah mengubah semua bonekanya jadi laba-laba besar.
"Kau bisa simpan di kamar asramamu dan Fred serta George tidak akan bisa menyentuhnya..." kata Cat, jelas tersinggung benda yang dibelinya tidak disambut meriah. "Oh, tidak... Sudah hampir makan siang? Aku harus bertemu dengan teman Ravenclaw-ku yang lain... Ada janji..."
Cat menatap Serena penuh arti sebelum pergi keluar.
"Catelyn sudah berbaikan dengan anak-anak sekelas rupanya?" tanya Neville.
"Dia akan pergi makan siang dengan Wood..." desah Serena agak iri. Untuk kedua kalinya tahun ini, dia tidak akan sempat pergi ke kompartemen rahasia di bagian belakang kereta. Lagipula, Draco yang kini telah senior, selalu sibuk dengan teman-temannya.
Kegugupan empat orang yang tersisa menjadi cair saat Serena mentraktir lagi mereka makan siang. Setelah perutnya penuh Cokelat Kodok, Luna pamitan karena dia perlu mengecek binatang-entah-apa yang katanya suka menganggu para masinis.
Serena, Neville, dan Ginny berhasil mengobrol santai tentang liburan mereka. Tapi saat gelap sudah menggayuti kaca-kaca jendela, Ginny memutuskan untuk berjalan-jalan.
"Aku mau ke Ron..."
"Oh, baiklah... Aku juga ingin jalan-jalan dan mencari Cat..." kata Serena, merasa kakinya pegal kebanyakan duduk.
Mereka keluar kompartemen dan nyaris bertabrakan dengan beberapa anak laki-laki. Dan disanalah dia...
Rasanya memalukan saat melihat seseorang yang tumbuh tinggi melampaui dirimu hanya dalam waktu satu liburan musim panas. Bersama Neville dan Ginny, Serena merasa seperti kakak kurcaci dibandingkan dengan dua raksasa Slytherin dan ketua mereka, Draco Malfoy.
Draco memandang balik Serena dengan pongah ditambahi seringai khas-nya. Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara maupun bergerak. Kecuali anak-anak ribut disekitar mereka.
"Well, jangan biarkan aku menghalangimu..."
Suara Draco kini bukanlah suara anak manja yang selalu menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Bukan juga suara yang melengking-terpecah yang dulu disadari Serena. Tapi adalah suara berat yang dalam... Serena nyaris tidak mempedulikan kikikkan dua raksasa temannya itu.
Draco menyisi dan membungkuk sopan untuk mempersilakan mereka lewat. Serena langsung siaga. Tapi kalau bukan karena Ginny yang langsung melewati mereka tanpa ragu, Serena akan berpikir dua kali untuk terus berjalan.
Mengenal Draco, dia biasanya menyiapkan banyak jegalan kaki atau kutukan iseng terbaru. Apalagi kalau Serena sedang bersama Neville.
Atau minimal pura-pura tidak saling kenal...
Tapi Draco berlalu begitu saja dengan sedikit sebal ketika Serena berbalik.
"Untung saja dia tadi sedang menggodamu..." kata Neville tercicit.
"Siapa menggodaku?"
"Draco Malfoy tentu saja..."
"Ah, tidak. Dia tidak begitu..."
Ginny terkikik.
"Apa?" tuntut Serena.
Muka Ginny tegang lagi, "Ah, membayangkan Draco Malfoy menggoda cewek..."
Serena juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Mungkin karena merasa sudah dewasa dan menjadi pewaris terkenal. Dia mungkin tidak akan iseng dan jahat lagi. Mungkin...
Mereka bertiga dicegat kakak kembar Ginny, Fred dan George, serta teman mereka, Lee Jordan. Mereka memperlihatkan barang-barang lelucon yang baru saja mereka ciptakan dalam kompartemen. Pikiran Serena hanya fokus setengahnya ketika mereka memperagakan kembang api versi mini yang menuliskan kata-kata umpatan di udara.
Draco tampak tumbuh dewasa dengan mudahnya. Badannya tinggi agak berisi, walaupun tetap terhitung kurus. Seperti beberapa anak cowok di SMA St. Jude, sekolah Muggle khusus laki-laki yang dulu bertetanggaan dengan sekolahnya. Rambutnya masih pirang perak tapi tidak ditata rapi jali seperti dulu. Melainkan agak berantakkan seperti saat dia kalau selesai terbang. Wajah Serena menjadi panas ketika dia menyadari bahwa bulu mata bawah Draco berbayang di wajah itu. Sejak kapan bulu matanya menjadi panjang? Dan sejak kapan Serena pernah memperhatikan itu? Apa tadi dia melihat Draco memakai jam tangan hadiah-curiannya? Tak heran anak itu terlihat begitu sebal. Karena Serena memandangnya sampai ternganga begitu.
Tapi yang lebih membuat tidak nyaman, Serena menyadari bahwa Draco kini hanya empat puluh persen lebih dekat kemiripannya dengan Lucius Malfoy. Ayahnya.
"Jadi bagaimana menurutmu, Ser? Apa bisa dibawa pada ayahmu?" tanya salah satu si kembar.
"Apa? Aku tidak ada masalah apapun dengan Dad..." jawabnya gugup.
"Bukan... Maksudku, apakah kau bisa menunjukkan barang-barang kami pada ayahmu? Siapa tahu dia tertarik dan mau membantu kami membuat lebih banyak... Kami ingin menjual barang kami sendiri..."
Ginny mencemooh keras yang langsung menyebabkan dia digelitikki oleh salah satu si kembar.
"Oh, ya ya ya..."
Serena tidak sampai hati memberitahu bahwa ayahnya tidak punya lini bisnis mainan, apalagi mainan sihir. Apa itu malah akan melanggar hukum?
"Tapi dia sungguh sibuk," saran Serena. "Kalian bisa menitipkannya kalau aku mengirim hadiah. Bagaimana kalau nanti Halloween? Aku biasa kirim kue-kue wortel itu..."
Si kembar tampak bahagia. Ginny melipir ke toilet ketika malam mulai menyebarkan hawa dinginnya dalam kereta. Serena ikut ke toilet beberapa menit kemudian, dibuntuti oleh Neville, yang tampak takut kalau ditinggal sendirian dengan si kembar yang jahil.
Tiba-tiba kereta memelan yang menyebabkan Serena berhenti di tempat. Terlalu pagi untuk sampai kan? Serena bahkan tidak melihat lampu stasiun. Keadaan diluar amat gelap gulita sehingga rasanya mereka sedang ada diatas jembatan...
Lampu-lampu di lorong dan kompartemen langsung mati. Tidak menolong sama sekali.
"Ser?" cicit Neville. Serena menyambar tangannya.
Anak-anak langsung ribut dan beberapa rasanya membuka kompartemen dan menonjolkan kepala ke lorong. Beberapa anak mengeluarkan tongkat dan memancarkan cahaya biru.
"Ser, aku lupa mantra Lumos..."
"Lumos!" desis Serena sambil mengulurkan tongkatnya. "Mungkin mogok atau apa..."
Dikejauhan, tempat pintu kompartemen berada, Serena mendengar suara gertakkan pintu dan hawa sedingin es langsung menerbangkan rambut Serena. Mungkin ada orang yang masuk. Hening sejenak. Tidak ada siapapun... Tapi mengapa dia merasa begitu dingin dan kakinya melemas?
"Ayo, masuk ke kompartemen..." seru Serena, keringat membasahi tangannya yang mencengkeram Neville.
"Kompartemen siapa?" cicit Neville.
"Siapa saja!"
Kompartemen awal jelas terlalu penuh, dan Serena punya insting bahwa mereka harus sejauh mungkin... dari apapun itu yang akan masuk...
Dengan terengah-engah dan hilang arah, karena beberapa kompartemen masih gelap, Serena memutuskan untuk masuk ke salah satunya.
Neville menabrak seseorang.
"Sori! Apa kau tahu ada apa? Ouch! Sori..." Serena merasa dia menginjak jari Neville, cahaya di tongkatnya padam lagi.
"Halo, Serena. Halo, Neville..." kata sebuah suara.
"Harry?" seru Neville teredam. "Kaukah itu? Ada apa sih?"
"Entahlah! Duduklah..."
Terdengar desis keras saat Serena menduduki sesuatu yang berbulu, tapi Neville yang menjerit.
"Hei, jangan duduki kucingku!" seru suara anak perempuan.
"Hai, Hermione..." sapa Serena pelan. Sekarang tidak berani bergerak.
"Aku mau tanya masinis ada apa..." kata Hermione seperti biasa.
"Hmmm..." Serena mau mencegah dan berusaha menjelaskan kalau mereka mungkin akan lebih baik kalau di dalam kompartemen yang pintunya tertutup. Tapi Hermione jelas tidak mau mengikuti sarannya. Pintu bergeser dan seseorang masuk. Pekik kesakitan tak terhindarkan.
"Siapa itu?"
"Siapa itu?"
"Ginny?"
"Hermione?"
"Ngapain kau?"
"Aku mencari Ron..."
"Masuk dan duduklah..."
Lalu kekacauan terjadi lagi saat Ginny menduduki seseorang.
"Diam!" mendadak terdengar suara serak.
Suara itu adalah suara orang dewasa yang terdengar familiar. Terdengar bunyi derik pelan dan ada cahaya bergoyang yang memenuhi kompartemen. Serena terkesiap saat melihat orang itu. Remus Lupin yang muda tapi tampak tua dibayangi cahaya biru. Luka-luka di wajahnya mempertegas ketajaman matanya. Dia dalam posisi siaga. Serena tidak mengerti mengapa laki-laki itu ada di Hogwarts Express. Apakah pekerjaan barunya di Hogwarts?
"Tetap di tempat masing-masing. Kau duduklah, Serena..." katanya dengan suara serak yang sama. Serena langsung duduk tegak di ujung kursi. Perlahan Lupin bangkit dengan tangan yang menggenggam api terulur di depannya. Serena begitu terpesona pada api itu. Dia bahkan tidak terlalu menyadari bau apak jubah Lupin saat pria itu melewatinya.
Pintu menggeser terbuka sebelum Lupin mencapainya.
Berdiri di ambang pintu, terkena nyala api yang bergoyang di tangan Lupin, ada sosok berjubah hitam yang menjulang tinggi. Wajahnya tersembunyi dalam lipatan kerudung tebal. Lalu ada ranting basah yang mencuat dari lipatan lengan jubah tersebut. Tapi Serena langsung menyadari bahwa itu bukan ranting basah. Melainkan jari tangan... Jari tangan yang berkeropeng, penuh lendir, dan busuk...
Serena otomatis mencengkeram ujung jubah tipis Lupin. Apakah ada malaikat kematian yang datang menjemputnya?
Sosok bermantel itu menarik napas pelan berkeretak. Seperti orang yang punya penyakit asma akut. Seakan mencoba mengisap lebih dari sekedar udara...
Rasa dingin menusuk, yang tadi Serena rasakan saat masih berada di lorong, kembali menyapunya lebih parah. Rasa dingin itu menembus kulitnya, dan semua yang ada pada Serena.
Api biru di tangan Lupin padam seketika. Atau begitukah? Pandangan mata Serena hanya tinggal gelap. Telinganya seolah tersumpal kapas tebal. Tapi dia bisa mendengar sesuatu di kepalanya... Seseorang terbatuk parah. Seseorang menghela nafas dengan susah payah. Darah seseorang terlihat merah di selimut. Walau dalam kegelapan, dia melihat baik ibu dan ayahnya sepucat mayat.
Serena ingin berteriak. Dia ingin menjatuhkan diri dari gendongan ayahnya dan kembali pada ibunya...
Dari gendongan? Mengapa dia yang sudah sebesar ini digendong oleh ayahnya?
Ini tidak mungkin nyata...
"Harry!"
Suara gedebuk keras menyadarkannya. Ayah dan ibu Serena menghilang. Digantikan api Lupin yang ternyata masih menyala walaupun goyah. Serena masih berada di kompartemen. Malaikat maut itu masih ada. Dan Harry terjatuh sampai kejang-kejang dari kursi.
Serena hanya berhasil terpaku dan terus mencengkeram jubah Lupin. Suara Lupin lebih dekat daripada yang Serena kira. Dia langsung menghadapi malaikat maut dengan gagah berani...
"Tak seorang pun dari kami menyembunyikan Sirius Black di balik jubah kami. Pergi!"
Malaikat maut itu tidak bergerak. Dia ditugaskan untuk apa? Mencabut nyawa Sirius Black?
Lupin mencabut tongkatnya dan berseru.
"Expecto Patronum!"
Sesuatu yang berkaki empat, bercahaya keperakkan, dan membutakan menerjang malaikat itu. Si malaikat maut melayang pergi menjauhi kompartemen seolah Lupin melemparkan malaikat lain yang baik hati. Serena begitu terpesona pada sihir kedua Lupin. Tapi makhluk perak itu sudah membuyar seiring perginya si malaikat maut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lupin pelan. Dia memegangi tangan Serena yang satunya lagi, yang memegang tongkat dan mulai menyeburkan keping salju.
"Oh, eh..." ujar Serena gugup.
Dia melepas jubah Lupin, yang langsung menghampiri Hermione dan Ron, yang sedang berseru-seru menyadarkan Harry.
Beberapa detik yang terasa bagaikan setahun, lampu-lampu kereta akhirnya menyala. Walaupun belum langsung berjalan. Serena ingin sekali meninggalkan rel sialan ini. Neville dengan gemetar menghampirinya. Neville mengulurkan sapu tangan. Serena baru menyadari bahwa pipinya basah oleh air mata...
Bajunya pun terasa lembap. Pastilah begitu, karena keringat dingin telah membanjirinya. Serena langsung memakai sapu tangan Neville untuk menyeka wajahnya.
"Tidak apa-apa..." kata Lupin menenangkan Hermione yang berseru-seru pada Harry, yang masih kejang walaupun sedikit. Harry, yang berada di lantai, yang sedang ditampari oleh Ron, tampak jauh lebih banjir keringat dibanding dirinya.
"Aku tahu obatnya... Biarkan dia sebentar. Nanti akan sadar..."
Lupin dan Ron menggotong Harry untuk berbaring di kursi.
Lupin mengeluarkan bungkusan dari jubahnya. Ternyata adalah cokelat...
"Cokelat," katanya soelah sudah amat jelas. "Akan membantu... Dementor adalah makhluk yang menyebalkan..."
Menyebalkan adalah kata yang paling jauh untuk menggambarkan makhluk itu. Tapi toh Serena tidak membantah. Lupin memotong-motong cokelatnya. Saat mengulurkan satu pada Serena, Serena berhasil menemukan suaranya.
"Makhluk tadi... Malaikat maut?" tanyanya pelan.
Bahkan Hermione tidak mendengus.
"Hampir mirip..." kata Lupin getir. "Dementor itu penjaga penjara sihir Azkaban. Dia pasti patroli untuk mencarinya. Sirius Black..."
Serena ingin sekali bertanya mengapa dia tiba-tiba bisa mendengar saat-saat terakhir ibunya... dan melihatnya lagi... Atau sesederhana mengutuk dirinya sendiri karena hampir berkomentar mengapa bukan manusia saja yang menjadi sipir penjara. Tapi tampaknya perkataan itu lebih buruk untuk dikatakan saat ini. Ginny masih meringkuk dipojokkan tempat Lupin tadi duduk. Dan mata Neville membelalak hebat, sementara jari-jarinya mencakar kuat kursi kereta. Harry bahkan belum sadar. Efek kehadiran Dementor ternyata amat sangat mengerikan.
Lupin memakan cokelatnya. Serena otomatis mengikuti.
Rasa manis yang luar biasa seolah menyebar seperti rasa dingin tadi. Tapi dengan kehangatan yang nyaman dan tenang. Setidaknya jantungnya tidak berdebar kencang dan tangannya mulai hangat...
Kereta yang berderak keras tampaknya menyadarkan Harry. Atau karena Ron mulai menamparinya. Harry terbangung dan tampak linglung.
"Kau tak apa-apa?" tanya Ron cemas.
"Yeah..." jawab Harry. "Apa yang terjadi? Di mana makhluk-makhluk itu? Siapa yang menjerit?"
"Tak ada yang menjerit," kata Ron.
Serena sengaja tidak menatap mata Harry saat dia mulai memandangi seluruh kompartemen dengan bingung.
"Tetapi..."
Lupin mematahkan cokelat yang paling besar dan mengulurkannya pada Harry.
"Makan. Akan membantu. Aku perlu bicara dengan masinis, maaf..."
Dia berjalan melewati mereka dan lenyapke koridor.
Hermione cemas sekali. Lalu mulai menceritakan tentang kejadian tadi pada Harry.
"Mengerikan sekali," kata Neville dengan suara melengking. Jelas berusaha melupakan sesuatu. Apa yang dilihat atau didengar Neville?
"Apakah kalian merasakan hawa jadi dingin sekali ketika dia datang?"
"Aku merasa aneh," kata Ron. "Sepertinya aku tak akan pernah gembira lagi..."
Ginny tiba-tiba terisak yang langsung dipeluk oleh Hermione. Apakah Ginny juga melihat sesuatu?
"Tetapi apakah kalian tidak ada yang-jatuh dari tempat duduk?" tanya Harry dengan sedikit rasa malu.
"Tidak," kata Ron. "Tapi Ginny gemetar hebat sekali..."
Mata Harry berhasil menemukan mata Serena. Dia tidak berkata apa-apa. Mungkin akan menanyakan sesuatu... Kemudian Serena menyadari, kalau kedua orangtua Harry sudah tiada. Dan mereka mati mengenaskan. Apakah Harry juga melihat saat-saat terakhir mereka? Apakah dia ingat walaupun dia masih sangat kecil? Apa yang dilakukan Dementor tadi? Mengembalikan ingatan buruk yang pernah terjadi dalam hidup? Rasanya seperti psikolog yang membuat trauma daripada malaikat maut...
Lupin kembali dan memandang berkeliling, "Aku tidak meracuni cokelatnya lho..." katanya sambil tersenyum pada Harry.
"Kita akan tiba di Hogwarts sepuluh menit lagi," kata Lupin. "Kau tak apa-apa, Harry?"
Harry menjawab dan mereka tidak banyak bicara lagi selama sisa perjalanan. Serena bahkan tidak sempat mengatakan terima kasih atau apa saat dia, Neville, dan Ginny kembali ke kompartemen mereka. Serena memegang lengan Neville dengan amat kencang dan menutup mata setiap mereka melewati gerbong yang berpintu...
Tidak ada anak-anak yang ribut dan saling tabrak kali ini. Kebanyakan tampang mereka seolah seperti habis mengunjungi rumah pemakaman.
"Harry kasihan sekali ya..." bisik Neville. "Menurutmu mengapa tadi dia kejang begitu?"
"Aku benci makhluk itu!"
Pintu kompartemen di sebelah mereka terbuka dengan keras. Draco Malfoy, entah mengapa, keluar dari kompartemen Fred dan George. Hal itu mengembalikan kesadaran Serena.
Wajah Draco hampir transparan saking pucatnya. Rambutnya agak lepek karena dia berkeringat. Kentara sekali bahwa dia pun merasa takut pada Dementor.
Ini kedua kalinya mereka berpapasan. Hanya saja, saat mata mereka bertemu, Draco langsung pergi begitu saja.
"Kau harus lihat bagaimana dia masuk terbirit-birit nyaris mendobrak kompartemen kami... Mungkin si Dementor mengejarnya," kata Fred terkekeh.
"Untung dia tidak mengencingiku..." kata George.
"Oh, tidak, Ginny..."
Ginny langsung menghambur ke pelukan Fred dan George, menangis tersedu-sedu. Serena tidak tahu harus bicara apa. Maka dia hanya berjalan kembali ke kompartemennya.
Akhirnya kereta benar-benar melambat untuk berhenti di Stasiun Hogsmeade. Anak-anak berdesakan turun. Jasper dan semua burung hantu beruhu-uhu keras, kucing mengeong, dan Trevor menguak keras. Dingin sekali di peron kecil mungil itu. Hujan mengguyur seperti jarum-jarum es.
"Apakah Harry akan baik-baik saja menurutmu?" seru Neville agak terlalu keras, mengatasi berbagai bunyi hewan piaraan. "Tadi dia tidak pingsan terlalu lama juga, kan?"
Serena mengedikkan bahu. Lalu Cat berhasil mendorong beberapa orang dan menghampirinya.
"Ser! Kau tidak apa-apa?" katanya cemas. "Maafkan aku tadi tidak bersamamu..."
Cat mengatakan itu seolah-olah dia adalah pengawal Serena, yang membuatnya tak enak hati.
"Jangan bodoh, Cat! Tentu saja aku tidak apa-apa..." katanya berbohong.
"Pasti kau apa-apa..." bantahnya keras kepala. "Maaf aku lupa memberitahu. Kemarin kita sibuk sekali sampai aku lupa bahwa penjaga Azkaban yang menakutkan itu bukan manusia. Dementor itu menyerap kebahagiaan, menyembulkan ketakutan-ketakutanmu yang paling dalam, dan mengembalikan kenangan buruk... Aku terus terbayang waktu aku sakit Cacar Naga, takut akan mati... Dan kekhawatiranku akan menjadi guru privat biasa seperti ibuku... Tapi lupakanlah..."
Cat mengatakan ini dengan kecepatan senapan api. Tapi Serena merasa semua yang tadi dia rasakan masuk akal... Cat takut apa tadi? Dan Neville?
Tapi Neville cukup tenang untuk berkomentar, "Pantas saja tadi Harry langsung jatuh pingsan. Astaga!"
"Siapa yang pingsan?" tanya Cat.
Mereka bertiga terdorong ke kereta bawang. Kereta itu masih saja ditarik oleh kuda-reptil bersayap hitam, Therstal. Serena bahkan tidak berani menatap mata putih kuda itu. Dia buru-buru masuk kereta dan membayangkan Hogwarts yang nyaman dan penuh warna. Apapun selain gelap...
Luna menyusul mereka sambil setengah melamun. Tanda-tanda semangat Luna yang aneh namun berekspresi sudah tidak ada lagi di mata bulatnya. Sama seperti Ginny tadi, Luna tampak terlihat seperti anak yang baru sembuh flu berat. Cat dan Neville masih membicarakan Harry dan kejadian di kompartemen tadi.
Kereta-kereta berkeretak di jalan berkerikil dengan kenyamanan luar biasa. Serena tidak mengomentari seluruh pembicaraan Cat dan Neville, dua orang di kereta itu yang tampaknya pulih dengan cepat dari efek Dementor, sampai mereka langsung terdiam saat kaca-kaca bulat di kereta bawang mulai berembun. Sensasi dingin yang tadi Serena rasakan merayapinya lagi.
"Oh, tidak..." kata Neville sambil menggigil. "Ada dua lagi di gerbang..."
Serena memejamkan mata sambil terus membayangkan Hogwarts dan bukan ayah-ibunya...
Dia baru membuka mata dengan takut-takut saat mereka sudah sampai di pintu kastil. Serena turun dan memandang kastil Hogwarts yang menjulang. Tidak ada hawa dingin. Tidak ada Dementor yang berjubah layaknya malaikat maut. Dinding kastil amat kokoh. Hanya bisa ditembus oleh hantu Hogwarts, yang menjanjikan keamanan. Cahaya terang memancar dari tiap jendela besar dan kecil. Hanya dengan melihatnya saja, Serena sudah merasakan kehangatan. Efek sekolahnya ini hampir sama dengan cokelat Lupin.
Percy, si ketua murid baru, sudah berteriak-teriak menyuruh mereka masuk.
Mereka melewati aula depan dan memasuki aula besar tempat pesta. Semangat Serena terangkat saat melihat aula besar yang megah, atapnya bertabur bintang, dan kilatan dari piring dan piala di meja panjang asrama mereka. Cat dengan enggan menghampiri meja Ravenclawnya bersama Luna. Ketika Ron bergabung dengannya dan Neville, tampangnya kusut.
"Mana Harry dan Hermione?" tanya Serena.
"Dipanggil McGonagall tadi. Kenapa ya kira-kira?"
Terdengar tawa pecah dari belakang meja mereka, tempat anak-anak Slytherin berada. Draco rupanya sedang bercerita sesuatu yang amat lucu. Dilihat dari gelagatnya sambil menunjuk-nunjuk Ron, pastilah kabar tentang Harry yang pingsan sudah menyebar.
"Dasar rubah albino..." gerutu Ron sebal.
Serena memalingkan wajah dari pemandangan ini. Mungkin benar kata Cat, warisan keluarga itu hanya akan membuat Draco semakin bertingkah...
Pandangan Serena beralih ke meja guru yang sudah separuh terisi. Dumbledore sudah datang tentu saja. Seolah menyambut murid-muridnya paling awal adalah keharusan. Dia memakai topi warna ungu yang diganduli pernik. Kacamata bulan separuhnya tenggelam di hidung bengkoknya. Janggutnya kini hampir sama panjangnya seperti rambutnya.
Dumbledore disebut-sebut sebagai penyihir hebat zaman ini. Draco membencinya. Menyebutnya pecinta Muggle dan pilih kasih. Tapi Serena ingat bahwa Dumbledore tidak berkomentar apa-apa saat dia memergoki Serena dan Draco waktu kelas dua kemarin... Dia kelihatan begitu baik hati sampai Serena tidak mengerti mengapa banyak orang membencinya. Lalu mengapa kepala sekolah yang hebat dan baik hati menempatkan makhluk seperti Dementor di gerbang? Apakah dia tidak bisa menangani Sirius Black?
Lupin menyeret jubahnya di meja guru. Berusaha untuk tidak menarik perhatian.
"Apa yang dilakukan Lupin di meja guru?" tanya Serena. "Dia guru baru?"
"Oh, kau sudah tahu Lupin ya?" jawab Ron. "Jabatan apalagi yang kosong di sini selain Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam? Tadinya kupikir dia lemah. Tapi tadi dia yang mengusir Dementor, kan?"
"Yah... Itu hebat..." gumam Serena, masih memandangi Lupin yang lusuh.
Jabatan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts adalah jabatan yang dikutuk. Kabarnya, tidak ada guru yang pernah bertahan selama setahun. Fred dan George, yang sudah masuk Hogwarts lebih lama, mengonfirmasi kebenaran ini. Percy, yang sekarang kelas tujuh, mencibir, mengatakan para guru itu hanya tidak kuat pada tekanan.
Tapi Serena melihat dengan mata kepala sendiri kejahatan yang dilakukan guru mata pelajaran itu sejak tahun pertama. Harry bilang Quirrell mati. Dan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di kelas duanya sangat narsis. Ron bilang dia menjadi gila akibat mantra penghapus ingatan yang berbalik. Serena sungguh merasa sedikit kasihan pada Lupin. Bibi Char bilang dia sulit mencari pekerjaan. Apa yang menyebabkan ia sampai nekad menerima pekerjaan yang dikutuk?
Anak-anak kelas satu masuk ke Aula Besar. Mereka tampak gemetar di bawah cahaya lilin dan ratusan pasang mata yang memandang ingin tahu. Serena berpikir pastilah dirinya terlihat seperti itu dua tahun yang lalu. Si topi seleksi mulai menyanyi-nyanyi kegirangan.
Ketika para penyihir masih dalam masa kejayaan...
Empat orang yang paling jaya memutuskan untuk mundur...
Tapi tidak, oh bukan mundur dari segala kegemilangan sihir...
Melainkan mundur untuk mewariskan harta mereka yang paling berharga...
Ya... Keempat pendiri memastikan gunung tinggi, sungai lebar, hutan lebat, jauh di mata Muggle yang ingin tahu...
Sebagai pelindung kastil mereka...
Ya... Tempat mereka akan mewariskan harta mereka kepada siapapun...
Gryffindor mewariskan keberanian, keloyalan, dan harga dirinya yang tinggi...
Slytherin mewariskan kecerdikan, keeleganan, dan geloranya yang tinggi untuk pembuktian diri...
Hufflepuff mewariskan kesetiakawanan, ramah tamah, dan kerendahhatiannya...
Ravenclaw mewariskan kecerdasan, kewibawaan, dan pengetahuan dari banyak buku...
Maka pakailah aku...
Akan kuberitahu di mana tempatmu... Warisan mana yang akan kau terima...
Jangan ragu, ayo, pakailah aku!
Serena bertepuk dan tersenyum bersama seluruh aula. Topi seleksi setiap tahun semakin tidak rasis, menurut pendapat Serena. Dulu dia menggambarkan yang bagus-bagus dari Gryffindor dan Ravenclaw saja. Sementara Slytherin digambarkan licik dan jahat sementara Hufflepuff hanya menerima yang sisa-sisa saja. Serena, mengenal Draco, yang tidak terlalu licik. Dan Cedric, yang jauh lebih istimewa daripada mereka semua.
Satu persatu murid maju untuk penempatan. Gryffindor berhasil mendapatkan banyak anggota baru. Dan pada saat Dumbledore mau berpidato, Harry dan Hermione muncul. Hermione tampak sangat puas diri. Sementara Harry hanya menunduk seolah dia berharap ditelan lantai batu. Serena melirik Draco di mejanya, yang kini tampak tertawa mengejek kepada meja Gryffindor.
"Selamat datang! Selamat datang, untuk tahun yang baru lagi di Hogwarts! Ada beberapa hal yang perlu kusampaikan, salah satunya amat serius, sebelum kalian disibukkan oleh berbagai hidangan pesta yang lezat..."
"Seperti sudah kalian ketahui setelah pemeriksaan di Hogwarts Express, sekolah kita sekarang jadi tuan rumah untuk beberapa Dementor Azkaban, yang ada di sini untuk urusan Kementerian Sihir..."
Aula menjadi hening sekali.
"Mereka ditempatkan di semua pintu masuk ke halaman sekolah. Dan sementara mereka bersama kita, harus kutekankan bahwa tak seorang pun diizinkan meninggalkan sekolah tanpa izin. Dementor tidak bisa dibodohi dengan tipuan atau samaran, atau bahkan Jubah Gaib. Dementor tidak memahami permintaan atau permohonan maaf. Karena itu aku memperingatkan kalian semua, jangan memberi mereka alasan untuk mencelakai kalian. Aku mengandalkan Ketua Murid yang baru, untuk memastikan tak ada anak yang melanggar peraturan sehingga bisa jadi korban Dementor..."
Hanya Percy yang mendongak dengan penuh lagak, sementara semua anak masih hening seperti di rumah pemakaman.
"Tapi ingat," lanjut Dumbledore. "Bahkan dalam masa penuh kegelapan, ingatlah, untuk selalu menyalakan cahaya..."
"Sekarang! Berita gembiranya... Aku gembira sekali menerima dua guru baru di sekolah kita tahun ini. Yang pertama, Profesor Remus Lupin yang telah berbaik hati berkenan mengisi posisi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam."
Serena bertepuk keras bersama semua anak yang tadi sekompartemen dengannya. Tepuk tangan untuk Lupin sangat seadanya. Dia memang jauh berbeda dengan si Lockhart kemarin yang amat peduli penampilan. Tapi Serena tak peduli, seribu Lockhart pun tidak bisa menandingi apa yang telah Lupin lakukan di kompartemen tadi.
"Lihat si Snape!" desis Ron keras.
Profesor Snape, guru Ramuan yang paling Serena tidak sukai, tidak ikut bertepuk. Dia hanya memandang jijik pada Lupin dari balik rambut hitamnya yang panjang. Hidung bengkoknya mendengus. Serena tahu mengapa. Sudah jadi rahasia umum kalau Snape ingin jadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Tapi Serena lega hal itu belum terjadi sejauh ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Snape memegang kelas yang dirinya harus waspada setiap saat dengan tongkat sihir dan mantra berbahaya. Melindungi diri sendiri pun sulit, apalagi harus ditambah melindungi diri dari Snape.
Serena ketinggalan separuh kata-kata Dumbledore yang menyatakan guru Pemeliharaan Satwa Gaibnya pensiun.
"Meskipun demikian, aku senang sekali mengumumkan bahwa kedudukannya akan digantikan oleh, tak lain tak bukan, Rubeus Hagrid kita, yang telah setuju menjadi pengajar sebagai tambahan tugas-tugasnya..."
Mereka di meja Gryffindor saling berpandangan, kemudian bertepuk keras. Bahkan bersiul-siul. Hagrid tampak sangat malu dan terharu di balik rambut lebatnya.
Hagrid menjadi guru. Seseorang yang tidak lulus sekolah karena sesuatu hal yang tidak dia lakukan. Serena memandang Dumbledore yang masih bertepuk. Ini adalah tindakan paling baik hati, sekaligus berani, yang pernah Serena lihat dilakukan kepala sekolahnya.
"Baiklah! Mari kita mulai pesta!"
Piring dan piala emas kini dipenuhi berbagai makanan. Air liur Serena sudah menitik saat berlapis-lapis daging asap dan telur, steak dan daging domba berlemak, berbagai jenis pai, dan berbagai jenis olahan kentang tersaji di hadapannya. Selain makanan ala Inggris itu, yang membuat Serena tertawa adalah satu nampan penuh burger keju. Si peri rumah Hogwarts, Doreah, pastilah membuatnya khusus untuk Serena.
Semua hal tentang Dementor terlupakan begitu dirinya menyendok pai. Semuanya tertawa dan makan seolah mengadakan reuni yang paling menyenangkan. Dan yang paling sempurna dari segalanya adalah, setelah pencuci mulut terakhir hilang dari pandangan, Dumbledore langsung mengajak mereka menyanyikan lagu sekolah. Serena tidak peduli suara cemprengnya membuat Hermione mengernyit, toh tak ada yang boleh protes.
"Hagrid! Selamat!"
Serena menghampiri Hagrid sebelum dia pergi ke asramanya. Hagrid langsung meraung dan mengangkat Serena dari tanah dengan pelukan peremuk tulangnya. Sebelum Serena berucap apa-apa McGonagall sudah menyuruhnya kembali ke asrama untuk tidur. Hagrid berteriak agar besok Serena datang ke kelasnya lebih awal agar mereka bisa cerita.
Mereka sampai ke lukisan besar si Nyonya Gemuk yang memakai gaun pink mengembang. Dia menyapa anak-anak sambil menanyai kata kunci.
"Jangan lupa, kata kunci barunya adalah: Fortuna Major," seru Percy.
"Oh, tidak..." keluh Neville sambil merogoh-rogoh saku mencari pena-bulu. Neville selalu lupa kata kunci sederhana itu.
Setelah melambai pada Neville dan anak-anak cowok lainnya, Serena menaiki tangga lebar tempat kamar anak perempuan. Kamarnya kini telah ditulisi 'kelas tiga'.
Serena menyempatkan diri menyapa Lavender Brown dan Parvati Patil. Teman satu kamarnya. Mereka tidak membicarakan Dementor atau Sirius Black, tapi krim wajah terbaru Lavender.
Serena sedang ikut-ikutan mengoles krim itu demi solidaritas ketika Hermione masuk kamar.
"Liburanmu menyenangkan, Hermione?" tanya Lavender berbasa-basi.
"Yah, lumayan... Tapi aku harus bersiap-siap untuk pelajaran esok hari. Jadi liburan sudah usai..." jawabnya lugas.
Tidak ada yang menghalangi Hermione untuk langsung berbenah dan tidur. Serena merasa lega karena Hermione yang lelah tidak akan punya waktu untuk mencela Serena. Tapi krim wajah Lavender tidak mengizinkannya untuk tak enak hati. Wanginya semerbak dan menenangkan. Serena hanya sempat memajang foto keluarganya sebelum terlelap.
Dia melihat ibunya yang tertawa lebar. Menggenggam tangan mungilnya... Bayangan yang disebabkan Dementor tadi nyaris pudar dalam desauan kelambunya yang menenangkan...
"Selamat tidur, Mom..."
.
.
.
Serena dan Neville masuk ke aula besar keesokan paginya disambut dengan aroma roti panggang yang membuat perut kerucukkan. Meja Gryffindor masih tampak sepi. Jadi yang pertama dilihat Serena dari kejauhan adalah Draco dengan rambut pirangnya yang mencolok.
Draco sedang dikerubungi oleh anak-anak yang telah tumbuh berkembang juga. Mereka kelihatan sangat mengintimidasi kali ini. Bukan seperti anak-anak kecil yang jahil dan jahat dulu. Tapi lebih seperti geng remaja penggencet.
Draco sepertinya sedang menceritakan suatu lelucon. Sambil tak lupa minum kopi. Anak-anak lelaki ikut tertawa, sementara anak perempuannya menatap kagum. Termasuk Pansy Parkinson.
Serena memutar mata dan mulai mengambil jus labu kuning.
"Bagus... Sekarang kau ikutan diet tak penting..." gerutu seseorang.
Cat sudah duduk lagi disampingnya. Dia menyendok telur aduk dan roti milik meja Gryffindor.
"Aku hanya belum mengambil makanannya, Cat..." kata Serena sebal. "Dan kau mungkin mau ambil sarapan jatahmu sendiri di meja Ravenclaw..."
"Biar kuambil setelah aku memberitahu kau tentang Dementor. Agar kita bisa jaga-jaga..."
Serena batal menyeruput jusnya. Bahkan dia jadi tidak berminat untuk sarapan. Pembicaraan tentang Dementor di hari pertama masuk kelas bukanlah hal yang dia tunggu-tunggu.
Serena, kini mengenal Cat, tahu betul bahwa berbagi pelajaran adalah bentuk kepedulian Cat pada dirinya. Tapi Dementor kan jauh berada di pintu gerbang? Apakah Cat menganggap Serena tukang berkeliaran?
Lalu Fred dan George muncul sebagai juru selamat.
"Chaser kami tidak mungkin diet. Dia perlu makanan berlemak agar bisa mencetak gol..."
"...minggu pertama pertandingan Quidditch melawan Slytherin..."
"...dan kau harusnya mencari alasan yang lebih baik agar bisa duduk lebih lama di meja Gryffindor, Tully..."
"...Wood baru akan turun setelah dia memoles sapunya..."
"...dia memolesnya dua kali tiap pagi lho..."
Fred menyerahkan jadwal pelajaran baru Serena dan Neville. Serena mengambil jadwalnya sambil tertawa sementara Cat cemberut. Tapi Wood masuk seketika itu juga. Aroma Wood memang bebau pelitur sapu.
"Sana... Kau makanlah bersamanya," desak Serena ketika Fred dan George sudah keliling lagi.
"Jangan konyol..."
"Kau seharusnya bisa sekereta berdua dengan Wood kemarin malam... Tapi kau malah mencariku lagi," bantah Serena, merasa bersalah. "Ini tahun terakhir Wood di Hogwarts. Percayalah. Kau tidak mau menyia-nyiakan setiap detiknya..."
"Aku tidak... Kami tidak..." kata Cat bersikeras.
"...dan menyangkal setiap detiknya..."
Akhirnya Cat tersenyum malu-malu. Jenis kebahagiaan yang menular.
"Kau tidak akan apa-apa?" tanyanya.
"Aku seratus persen merasa hebat..."
Cat akhirnya bangkit dan menghampiri Wood. Meninggalkan Serena dengan buku tentang makhluk gaib yang berbahaya. Serena segera mengalihkan pandangan saat Wood dengan antusias menyambut Cat. Kini aula jadi ramai karena anak Slytherin semakin bergairah. Harry yang masuk aula-lah yang membuatnya begitu.
Pansy meneriaki Harry. Diikuti anak-anak payah lainnya. Draco langsung pura-pura pingsan.
"Potter! Awas Dementor dibelakangmu!"
Semua tertawa gembira kecuali anak-anak meja Gryffindor. Harry kelihatannya seperti habis menelan Trevor. Suasana jadi agak lebih baik saat Fred dan George bilang Draco nyaris kencing di kompartemen mereka... Serena penasaran, apa yang membuatnya takut? Ayahnya? Kematian kakeknya? Atau... kejadian di kelas satu kemarin?
Neville langsung sigap ketika makanannya habis, "Aku harus pergi lebih awal dengan Dean dan Seamus. Aku lupa jalan ke Menara Utara. Kelas Ramalan ada di sana..."
Serena termenung-menung sambil meneliti jadwalnya yang berisi Arithmancy. Matematika di pagi hari agar otakmu masih segar. Sungguh keren sekali. Lalu dia tidak akan sekelas dengan Neville...
"Oh, kalau begitu aku ikut kau saja sekarang... Kelasku di lantai dua..."
Serena berjalan sendirian ke kelas Arithmancy. Semua anak dikelasnya tampak mengambil Ramalan. Serena menjadi satu-satunya yang tiba di kelas. Dia kepagian karena berjalan bersama Neville.
Kemudian Draco masuk... Tubuhnya menjulang di sisi pintu...
Dia tampak kaget melihat Serena. Dan kemudian rikuh. Yang sangat tidak seperti Draco. Yang tadi mengejek Harry dengan sadis. Serena berhasil mengangkat ujung-ujung bibirnya menjadi senyuman kaku.
Serena lega. Draco tidak membalasnya dengan senyum menggoda yang membuatnya bingung.
"Well, bagaimana kerja sosialnya?" tanyanya santai.
"Baik-baik saja..." kata Serena cepat. "Aku turut berduka cita untuk kakekmu..."
"Yah... Terima kasih. Dia sudah tua..."
Hening lagi...
"Mana Crabbe dan Goyle?" tanya Serena.
Draco tertawa dengan suara berat barunya. Tapi belum sempat dia menjawab, Hermione masuk kelas. Serena hampir tersedak.
"Hai... Hmm... Hermione... Kukira kau di kelas Ramalan..."
Draco, yang tadi wajahnya penuh tawa, langsung melempar pandangan jijik seperti biasanya. Untunglah dia tidak mengatai Hermione apa-apa.
"Jangan khawatirkan aku..." kata Hermione singkat sambil berjalan ke kursi paling depan.
Draco memeragakan gerakan memotong leher di belakang Hermione. Kali ini hal itu terasa lucu sehingga Serena harus menggigit lidahnya. Tapi dia cemas lagi. Hermione adalah salah satu anak paling intuitif yang pernah Serena tahu. Apakah tadi dia dengar Draco tertawa?
Seorang guru yang mirip dengan ilmuwan ternama Muggle, Albert Einstein, tapi versi cewek dan berambut mirip kepala burung hantu, masuk ke kelas. Dia adalah Profesor Vector, mengajar Arithmancy dan mengatur keuangan Hogwarts. Dia berjalan ringan ke meja guru dan langsung mengeluarkan absen.
"Nah... Sudah datang semuanya?" tanyanya, suaranya juga ringan seperti layaknya ilmuwan pendiam. "Gryffindor akan sekelas dengan Slytherin kali ini. Dan hanya kalian yang mengambil mata pelajaranku. Jadi marilah kita mulai saja..."
Serena langsung melirik Draco dan Hermione di depan. Hanya bertiga? Bagaimana kalau ada kerja kelompok? Apakah tidak akan jadi perang dunia? Serena memutuskan untuk menyerahkan pekerjaan kepada Hermione saja.
"Jadi, aku tahu beberapa anak kelahiran Muggle yang pernah belajar Aljabar akan dipusingkan dengan berbagai pembagian, pecahan, dan hal rumit lainnya... Tapi aku tidak akan menekankan pada hal itu... Aku akan langsung mengajari kalian ilmu siap pakai! Yang akan berguna bagi kalian di dunia kerja nanti ataupun kehidupan sehari-hari. Nah, Miss Granger yang pintar tampak ingin mempelajari banyak hal. Dan Mr Malfoy, ibumu mengirim surat untuk menyatakan kau perlu Arithmancy untuk belajar mengelola keuangan keluarga? Ibumu dulu juga salah satu murid Arithmancy terbaik, begitu yang kudengar... Dan Miss Van Der Woodsen? Aku membaca banyak tentang ayahmu. Aku juga langganan toko buku ibumu. Pastilah sekarang sudah banyak angka-angka yang berkejaran dibenakmu? Baiklah, mari kita mulai dari awal..."
.
.
.
Bel berbunyi dan Hermione, seperti biasa, langsung terburu-buru menuju kelas selanjutnya. Hal itu memungkinnya berjalan setengah koridor dengan Draco.
"Jadi... Sampai ketemu nanti..." katanya buru-buru.
"Oke..."
Mereka berpisah jalan saat menuju koridor yang dipenuhi murid-murid. Pelajaran dan cara mengajar Profesor Vector sungguh menyenangkan. Serena merasa dia sangat beruntung dapat pelajaran yang bagus di hari Senin pagi. Kemudian, ada Draco...
Serena tidak bisa berhenti tersenyum ketika dia masuk kelas Transfigurasi setelahnya. Tapi dia hanyalah satu-satunya anak yang tersenyum. Ketika rombongan Gryffindor masuk berbondong-bondong, mereka tampak seperti habis bertemu Dementor lagi.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Serena pada Neville.
Serena kemudian menyesal sudah bertanya karena Neville jadi gemetar.
Sebelum Neville membuka mulut, Profesor McGonagall sudah memasuki kelas. Kepala asrama Gryffindor ini adalah wanita yang amat tua tapi terlihat kuat dan bersemangat. Terutama galak. McGonagall yang berkacamata kotak tidak diragukan lagi kepintarannya. Dia langsung menerangkan tentang Animagi, sihir yang rumit, yang memungkinkan manusia untuk menjadi binatang.
Serena memilih untuk menghindari hal ini, kalau bisa. Dia agak takut jika mengubah diri menjadi binatang lalu tidak bisa kembali seperti semula. Siapa yang bisa dimintai tolong?
McGonagall mengubah dirinya menjadi kucing kurus yang bermata galak, membuat Serena terkesiap. Kemudian dia mengubah diri lagi menjadi dirinya sendiri seolah hanya dalam satu jentikkan mudah. Serena bertepuk keras.
Tapi hanya dialah yang bertepuk tangan di seluruh kelas...
"Astaga, kenapa sih kalian hari ini?" tanyanya kesal. "Walaupun bagiku tak apa-apa, tapi ini pertama kalinya transformasiku tidak mendapat aplaus."
Semua langsung melirik ke belakang, ke tempat Harry duduk. Hermione langsung angkat bicara.
"Maaf, Profesor, kami baru saja ikut pelajaran Ramalan untuk pertama kalinya, dan kami membaca daun-daun teh, dan..."
"Ah, tentu saja," kata McGonagall memotong. "Beritahu aku, siapa yang akan mati tahun ini?"
Semua ternganga mendengar ini.
"Saya..." kata Harry pelan.
"Ah, begitu. Kalau begitu kau perlu tahu, Potter. Bahwa Sybill Trelawney telah meramalkan kematian satu murid setiap tahun sejak dia tiba di sekolah ini. Tak seorang pun dari mereka ada yang sudah mati. Melihat pertanda kematian adalah cara favoritnya untuk menyambut murid-murid baru. Aku sebetulnya tak pernah menjelek-jelekkan kolegaku..."
"Tapi kan itu jahat sekali..." celetuk Serena spontan. "Maksud saya, meramalkan hal yang seperti itu, membuat cemas saja..."
McGonagall mengangguk setuju, kemudian melanjutkan dengan lebih tenang, "Ramalan adalah salah satu cabang sihir yang paling tidak tepat. Aku tak akan menyembunyikan kepada kalian bahwa aku kurang percaya pada Ramalan. Peramal sejati sangat jarang, dan Profesor Trelawney..."
McGonagall membuat kelas jadi agak tenang, terutama Hermione. Tapi Neville berbisik disikutnya.
"Dia menebak cangkir yang kupilih dengan tepat, Ser..."
Pelajaran Transfigurasi usai dan mereka semua berbondong-bondong ke aula besar untuk makan siang. Menu hari itu adalah daging panggang lezat yang memusingkan. Serena terjebak diantara trio emas. Sehingga dia mau tak mau mendengar beberapa pembicaraan mereka.
Harry ternyata telah melihat anjing hitam besar yang diasumsikan Ron sebagai anjing neraka penanda kematian. Seperti dalam cerita. Hermione, seperti yang akan Serena lakukan juga, mencemooh. Ron dan Hermione sudah bertengkar lagi.
Lalu Serena ingat betapa narapidana yang sedang kabur kali ini bisa dibilang adalah musuh bebuyutan Harry. Seorang pengkhianat... Apakah guru Ramalan itu hanya pamer saja saat melihat sasaran empuk?
Hermione menutup bukunya dengan marah. Bilang bahwa Ramalan adalah pelajaran sampah.
"Dia ngomong apa sih?" tanya Ron pada Harry. "Dia kan belum ikut pelajaran Arithmancy..."
"Ikut kok. Tadi dia sekelas bersamaku..." celetuk Serena.
Ron bengong, "Tidak mungkin... Dia tadi duduk disamping kami!"
"Kau lihat hantunya barangkali... Hermione dapat dua puluh angka dari Profesor Vector..."
"...dan dia mengomentari cangkir teh Harry!"
Baik Serena maupun Ron sama-sama mempertahankan diri bahwa mereka tidak ketemu hantu Hermione. Jadi Harry menengahi.
"Tahu begini aku ikut kau agar tidak mengambil Ramalan, Ser. Apa yang kupikirkan?"
"Kalian yang dibesarkan oleh Muggle memang tidak peka..." sambar Ron tajam.
"Yah... Jangan khawatir, Harry," Serena menenangkan. "Semua yang hidup pasti mati. Itu bukan Ramalan. Jadi bagaimana kalau kita siap-siap untuk pelajaran Hagrid? Semoga makhluk gaib hari ini bukan anjing hitam raksasa..."
"Kau tidak membantu, Ser..." gumam Harry.
.
.
.
