Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name

The Two-Tale Heart 3

VI

DRACO

Setelah makan siang di kereta, Draco merasa bosan. Teman-temannya menyombongkan diri tentang liburan mereka, tentang apa yang paling tren belakangan ini, dan keluhan mengenai beratnya pelajaran mereka tahun ini karena sudah ada tambahan. Draco hanya menanggapi kalau mereka sedang membicarakan tentang dirinya yang merupakan pewaris utama keluarga Malfoy, nimbrung pada bahasan Quidditch, lalu diam lagi mendengarkan bersama Theo, saat salah seorang anak membicarakan perkembangan kasus Sirius Black.

Draco memutuskan untuk berjalan-jalan sepanjang koridor kompartemen untuk meluruskan kakinya. Juga melihat kabar musuh-musuhnya. Didampingi Crabbe dan Goyle, mereka tak sengaja menguping pembicaraan Ronald Weasley yang baru saja pergi ke Mesir.

Draco menyapa mereka dengan ogah-ogahan, "Kudengar ayahmu akhirnya berhasil dapat emas musim panas ini, Weasley. Apa ibumu mati saking kagetnya?"

Weasley langsung terpancing, sesuai harapan. Tapi seseorang mendengus di pojokkan.

"Siapa itu?" tanya Draco meneliti, otomatis mundur.

Orang itu tampaknya tidur. Dia juga seorang yang sudah dewasa sehingga membuat Draco aneh karena berada bersama anak-anak.

Potter menyambar Weasley, "Guru baru. Apa katamu, Malfoy?"

Tadinya Draco ingin membuat keributan. Atau sekedar bertanya guru baru untuk apa. Tapi semua ini tampaknya akan membosankan lagi. Dia toh tidak ingin cari gara-gara di depan guru.

"Ayo," katanya kecewa pada Crabbe dan Goyle.

Tahu bahwa dia tidak perlu kesulitan emas lagi seumur hidupnya ternyata membosankan. Biasanya Draco dan dua kroninya selalu menjelajah untuk memalak anak-anak penakut yang terlalu bodoh untuk memamerkan barang-barang baru mereka. Tapi kali ini tampak tidak ada gunanya. Toh Draco bisa membeli semua kalau dia mau. Jadi dia hanya cukup puas dengan mendorong dan menakuti anak-anak yang lebih kecil. Anak-anak baru di kelas satu itu perlu tahu siapa sebenarnya Draco Malfoy.

Draco baru berhenti mendorong anak-anak ketika di depannya ada seseorang.

Serena masih bersama si cewek Weasley yang cengeng dan Longbottom yang tak kalah cengeng. Rasanya dia ingin sekali menyebut mereka sebagai trio cengeng sebelum dia ingat bahwa hal itu hanya akan membuatnya tampak kekanak-kanakkan.

Jadi Draco dengan santai mempersilahkan mereka lewat. Tak lupa dengan menyunggingkan senyum ala Marc. Dia belum bertemu Marc Zabini sepanjang kompartemen tadi. Yang aneh sekali karena biasanya Marc tidak pernah lupa untuk menyombongkan sesuatu di depan cewek-cewek, persis adiknya.

Draco tidak mengerti mengapa dirinya menjadi terobsesi untuk tampil dan bereaksi seperti Marc. Apakah dia ingin menjadi seperti Marc pada masa remajanya ini? Draco yang kekanak-kanakkan, jahat, dan jahil kelihatannya seperti anak kecil. Dia, entahlah, hanya ingin terlihat lebih keren...

Tapi reaksi Serena seolah mempertanyakan juga sikap Draco. Dia memandang Draco dengan kernyitan tebal. Ketika mereka bersisian, bahunya tegang, dan dia menoleh ke belakang dengan paranoid, layaknya Draco akan menjegal kakinya atau apa.

Setelah trio cengeng berlalu, Crabbe menyuarakan pikiran mereka semua, kecuali pikiran Draco.

"Mengapa kau tidak mendorong mereka semua keluar kereta tadi?" tanyanya polos.

"Karena, Crabbe, kita akan dikeluarkan dari sekolah kalau mereka mati," jawabnya kesal.

Malam bergelayut dan hutan segera membuat semuanya terlihat lebih gelap daripada sebenarnya. Draco telah berhenti di kompartemen Marcus Flint. Kapten Quidditch Slytherin. Membahas perkembangan tim Quidditch Slytherin dengan melihat jalannya tahun kemarin sungguh sulit. Mereka tidak punya pemenang karena kejadian anak-anak yang diubah jadi batu. Tahun ini, Flint berencana, mereka harus sampai final apapun yang terjadi.

Draco sungguh lega bahwa Flint tidak berminat untuk seleksi ulang pada tahun terakhirnya di Hogwarts ini. Dia harus fokus pada ujian NEWT-nya. Draco berharap Flint akan merekomendasikan Montague jadi penerusnya. Siapapun asal bukan Marc Zabini.

Baru saja Draco berpikir begitu saat Marc masuk ke kompartemen. Anak-anak tim lainnya mengikuti. Draco merasa dia terselomot es.

"Nah, nah, sedang membicarakan acara sumbangan, nih?" tanya Marc angkuh.

"Tutup mulut, Marc..." bela Flint.

Dia dan semua anak lainnya telah menerima hadiah berupa sapu terbaru dari ayah Draco kemarin. Melihat posisi Draco yang luar biasa kaya saat ini, Flint pasti berusaha untuk menjaga koneksinya tetap bagus. Mungkin Marc hanya kesal karena dia tidak diajak pesta waktu mereka ke Diagon Alley kemarin.

Draco memutuskan untuk kembali ke kompartemen setelah merasa bahwa tidak ada udara lagi di kompartemen Flint. Mereka menyusuri koridor yang mulai sepi.

Kereta melambat dibawah kaki Draco. Lalu berhenti sama sekali.

Draco hanya sempat melihat tiang jembatan diluar sebelum lampu kereta menjadi mati sepenuhnya. Terdengar anak-anak terkesiap kaget. Crabbe merengek.

"Diam! Mungkin kereta mogok..." desis Goyle di telinganya.

Draco merasa dia melayang di tengah malam. Dia tidak terlalu suka gelap. Tidak sejak...

Pintu kompartemen berderak terbuka. Membuat angin malam langsung menyerbu, menyelomot pipi Draco. Kemudian perasaan yang tidak asing menerpanya.

Dia nyaris mendengar suara seseorang berteriak, walaupun itu bukanlah Crabbe atau Goyle. Apakah itu dirinya? Ayahnya yang sedang berteriak untuk membandingkannya dengan Hermione Granger barangkali?

Dengan kalut, Draco langsung membuka paksa kompartemen terdekat. Dia tidak mempedulikan umpatan marah dari wajah-wajah yang disinari cahaya biru dari tongkat masing-masing. Draco mencengkeram tongkatnya. Lalu dia ingat bahwa yang bisa mengusir makhluk itu hanyalah mantra ibunya. Dan dia tidak tahu...

Draco langsung menuju kursi di pojok. Memalingkan tubuh dari pintu dan memejamkan mata. Dia mengumpat entah apa untuk mempertahankan kesadarannya.

Kalau dia sampai tak sadarkan diri... Kalau dia sampai mengingat kejadian apa yang pernah menimpanya...

Rasa dingin mencengkam memasuki kompartemen itu. Bahkan kalaupun Dementor tidak bersuara, Draco yakin dia mendengar gemerisik jubah berat mereka. Nafas yang berkeretak seolah berada langsung di punuk Draco.

Tetap saja wajah Quirrell, orangtuanya yang berlumur darah, entah kapan dan mengapa, terpampang di kelopak matanya. Kakeknya yang sekarat. Kemudian Serena... Nyaris tak karuan setelah disiksa Quirrell...

Pintu kompartemen terbanting menutup. Draco merasa kelegaan ketika dia bisa bernafas dengan normal. Masih dalam kegelapan, seseorang akhirnya buka suara.

"Dementor... Mengerikan sekali... Mau apa ya mereka? Masa' mencari Sirius Black di sini?"

"Menyingkir dariku, anak gendut!" gerutu seseorang.

Draco mendengar Goyle menggerung marah saat seseorang menendangnya. Tampaknya Goyle jatuh di ketergesaan tadi.

Seseorang lagi mendorong bahu Draco, membuatnya menghadap ke depan lagi. Api biru menerangi wajah salah satu dari si kembar Weasley.

"Singkirkan tangan kotormu dariku!" gertak Draco agak bergetar.

"Wah, wah... Jangan kencing di sini, dong..." Si kembar itu pastilah melihat Draco berkeringat.

"Keluar dari kompartemen kami!" perintah satu orang lagi.

Tak satu orang pun, bahkan Crabbe dan Goyle, yang berniat untuk keluar. Draco langsung menghunus tongkatnya. Seolah nyawanya ada diambang batas...

"Ini bukan kereta kalian, kembar gendut!" desis Draco tajam. "Aku akan membeli Hogwarts Express kalau perlu. Aku akan membuat kalian menderita kalau perlu. Aku hanya akan keluar kalau lampu sudah menyala..."

.

.

.

Lampu menyala beberapa menit kemudian. Disusul dengan derak kereta berjalan. Beberapa orang tampak berlarian di koridor. Draco langsung bangkit dan merasa aman. Dia keluar kompartemen diiringi ejekkan si kembar Weasley dan temannya yang keriting.

"Draco, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat!"

Pansy menyambutnya sesampainya mereka di kompartemen. Draco merasa lapar sekali. Dia langsung menjejalkan cokelat kodok pada mulutnya dan merasa amat baikan setelah melakukannya. Draco memakan satu lagi sampai akhirnya kereta melambat lagi. Draco sempat melihat plang tanda mereka sudah sampai di stasiun Hogsmeade dan mendesah lega.

Dengan terburu-buru, Draco menyuruh beberapa orang mengangkat koper dan kandang Stark. Dia bertujuan untuk buru-buru ke kereta kuda dan sampai ke Hogwarts yang aman.

Sampai disadarinya bahwa di Hogwarts pun akan ditempatkan beberapa Dementor...

Draco menerobos lautan anak-anak yang turun dari kereta. Dia bersisian dengan Longbottom yang berjalan dengan gaya menyeruduk.

"Pantas saja tadi Harry langsung jatuh pingsan. Astaga!" serunya

"Siapa yang pingsan?" tanya seseorang.

Harry Potter ternyata menghadapi Dementor lebih parah daripadanya. Ini membuat semangat Draco lumayan terangkat.

.

.

.

Pesta awal semester berjalan selancar yang diharapkannya. Seleksi anak baru langsung dilaksanakan dan setelahnya Dumbledore memberi pengumuman bahwa Dementor hanya ditempatkan di pintu masuk Hogwarts saja. Dia berjanji bahwa kastil akan tetap aman tanpa harus ada razia seperti dalam kereta.

Draco menghembuskan nafas lega. Dia masih belum mengakui, kecuali pada Crabbe dan Goyle yang tampaknya sudah lupa sama sekali, bahwa Dementor membuatnya nyaris pingsan juga. Tidak setelah dia mengejek Potter yang pingsan dengan senang hati tadi.

Dumbledore memperkenalkan guru baru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Ternyata adalah lelaki yang tadi tidur di kompartemen Potter dan yang menegurnya di undakkan. Profesor Remus Lupin, katanya.

Lupin berdiri dan tampak tidak terlalu senang berada dalam sorotan. Hal itu tidak aneh. Kalau Draco sampai memakai jubah yang lapuk begitu, dia juga akan memilih tinggal dipojokkan.

"Snape tidak dapat pekerjaan itu lagi rupanya?" bisik Theo setelah tepukan reda.

"Yeah, kau mau satu-satunya guru yang selalu membela kita keluar atau mati tahun depan?" balas Draco sambil mencuri pandang pada Snape, yang duduk di sebelah kiri Dumbledore.

Snape, yang hidung bengkok dan rambut berminyaknya mencolok, kini lebih mencolok lagi karena tampangnya. Dia tidak pernah menyembunyikan perasaannya pada siapapun, sejauh yang Draco tahu. Snape menatap Lupin dengan tampang jijik. Draco menduga apakah mereka saling kenal sebelumnya.

Kemudian Draco mendapati dirinya juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat kepala sekolahnya mengumumkan bahwa guru Pemeliharaan Satwa Gaib barunya adalah si raksasa Rubeus Hagrid.

"Apakah kita bisa membatalkan pelajarannya?" erang Draco. "Apa yang dipikirkan Dumbledore?"

"Dia sebenarnya tidak bisa... Rubeus Hagrid bahkan tidak lulus kelas duanya..." komentar Theo santai.

Kalau ayahnya masih di dewan sekolah, Draco yakin dia akan menolak mentah-mentah pengangkatan ini.

Meja Gryffindor berseru paling lama. Tidak heran. Serena, yang merupakan sahabat raksasa itu, malah bersiut-siut segala. Draco menatapnya tajam.

Akhirnya makanan dihidangkan. Bahkan makanan pesta awal semester yang biasanya mengalihkan perhatian Draco pun tidak membuatnya semangat. Mungkin karena dia kebanyakan makan cokelat tadi. Perutnya jadi tidak nyaman. Draco berharap dia bisa langsung tidur. Perjalanan yang ada Dementornya tadi menguras tenaganya.

Akhirnya pesta bubar dan Draco mengalihkan pemandangan memuakkan ketika Serena dan si Longbottom menghampiri si raksasa untuk memberi selamat.

.

.

.

Senin paginya, Draco memutuskan untuk menobatkan hari itu sebagai hari favorit. Dia tidak menyangkal, bahwa salah satunya karena dia sekelas dengan Serena di pelajaran Arithmancy. Pelajarannya pun tidak terlalu sulit. Walaupun dia sekelas juga dengan si Granger, yang akan membuatnya mustahil untuk menjadi nomor satu di kelas.

Tapi rasanya menyenangkan bahwa dia bisa sekelas dengan anak yang mau bersikap normal, selain anak seasramanya. Rasanya seperti punya teman.

Draco melupakan sejenak usahanya untuk bersikap seperti Marc Zabini dan tertawa saat si Profesor Vector menjelaskan pelajaran dengan selingan humor. Serena ikut tertawa. Sementara itu Granger tetap serius dan kaku.

Kemudian dia sekelas lagi dengan Serena pada pelajaran Pemeliharaan Terhadap Satwa Gaib.

"Tahu tidak?" Draco mulai mengeluh ke Pansy. "Kita akan belajar membersihkan kotoran binatang apapun, sekelas dengan anak-anak menyebalkan, dan diajar oleh guru besar bodoh... Lalu yang lebih parah dari itu, kita bahkan tidak bisa membuka buku cetaknya!"

"ADUH!" teriak Pansy sebagai balasan, buku Monsternya yang ditali kencang masih saja berusaha menggigit jari-jarinya.

Mereka melewati rumput landai yang akan membawa mereka ke kelas baru. Pondokkan si raksasa. Draco mulai merencanakan beberapa hal yang mungkin bisa mengacaukan kelas. Crabbe dan Goyle terkekeh senang saat membicarakannya.

Raksasa itu akan mengajar ditemani anjing besarnya, Fang. Fang langsung menggonggong riang pada Draco, yang menghindarinya. Mungkin dia merasa bisa akrab bersama Draco. Draco tidak bisa melupakan apa yang dia hadapi saat terakhir kalinya dia masuk hutan bersama Serena dan anjing itu. Draco berusaha untuk mengabaikan ingatan itu saat 'gurunya' itu mengajak mereka masuk hutan lagi.

"Buka buku kalian..." kata si bodoh itu riang.

"Bagaimana caranya?" cetus Draco tajam.

"Ap-Apa?"

"Bagaimana cara kami membuka buku kami?"

Si raksasa berhenti, menyadari bahwa semua anak tidak ada yang mau membuka buku yang bisa mencabik-cabikmu.

"Kalian harus belai dia... Lihat..."

Si raksasa mengambil salah satu buku dan mulai membelai. Buku itu tidak berangasan lagi, melainkan bergetar dan akhirnya beku.

"Oh, kita hanya harus membelainya..." komentar Draco sinis. "Kenapa tidak terpikir, ya?"

"Diam, Malfoy!" kata si Potter.

"Hati-hati, Potter, ada Dementor di belakangmu..."

Anak-anak kembali berjalan dan si raksasa langsung pergi mengambil satwanya. Longbottom tidak melakukan intruksi dengan benar, seperti biasanya. Si buku langsung menyerangnya sehingga Serena Van Der Woodsen harus turun tangan untuk menyelamatkan hari.

"Buset, tempat ini parah benar," komentar Draco lagi, menyadari dia akan duduk di tanah untuk mencatat apapun itu. "Si tolol itu mengajar. Ayahku akan pingsan kalau kuberitahu..."

Potter ikut-ikutan Serena untuk menyelamatkan hari, "Tutup mulut, Malfoy..."

Draco mulai menyoraki Potter, pura-pura takut. Semua anak Slytherin tertawa mengejek. Potter mulai maju untuk menantang.

Draco tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia tumbuh lebih tinggi dari si Potter dan tampak lebih mengintimidasi. Dia juga tampak seratus kali lebih keren, menurutnya. Mereka saling berhadap-hadapan. Draco langsung memasang wajah cemas dan menunjuk ke belakang Potter.

"Dementor! Dementor!"

Potter dan kroninya langsung termakan ini, mereka segera menoleh ke belakang dan termakan tipuan Draco.

Semua anak Slytherin tertawa heboh. Yang terputuskan oleh ringkikkan keras.

Selusin makhluk yang hanya pernah Draco lihat di buku-buku kini berjalan menuju mereka. Tubuh belakang mereka sama seperti kuda. Besar dan tinggi. Tapi tubuh bagian depan sampai kepala mereka adalah kepala elang raksasa. Dengan paruh yang terlihat tajam dan juga dilengkapi cakar-cakar burung. Sayapnya besar sekali, berwarna-warni seperti kepala mereka, walaupun tidak sebesar kuda terbang.

Mereka tampaknya ganas. Kalau tidak, si raksasa tidak akan memasangkan rantai yang begitu tebal.

"Hippogriff! Cantik, kan, mereka?"

Raksasa itu menjelaskan betapa baiknya Hippogriff, walau Draco tahu bahwa kalau dia ada di buku tentang monster, berarti dia sama berbahayanya seperti manticore. Hippogriff hanyalah hewan yang menjunjung tinggi sopan santun dan harus didekati dengan rendah hati sambil menunduk. Mungkin itulah yang dimaksudkan raksasa itu. Draco tidak terlalu mengerti apa yang dia bicarakan. Benar kata Theo, lelaki yang tidak lulus kelas dua mana mungkin menjadi guru?

Draco mendecak dan menoleh ke belakang, kepada Serena yang sedang membantu Longbottom yang masih berkutat dengan bukunya. Baju Longbottom sobek-sobek. Serena melewatkan pelajaran hanya karena membantu anak cengeng.

"Baik, kita coba dulu sekarang. Siapa yang mau ucapkan halo pada Buckbeak..."

Draco memutar mata. Salah satu ciri guru yang tidak baik adalah langsung menumpahkan pelajaran padamu. Dalam kasus pelajaran ini, membuatmu langsung praktek dengan binatang buas.

Semua anak mundur sebagai jawaban. Draco melirik Serena lagi dengan agak lega. Kalau dia memperhatikan dari awal, dia mungkin sudah maju langsung sebagai sukarelawan.

"Tak ada yang mau?" tanya raksasa itu dengan sedih.

Potter maju lagi dengan gagah. Draco sedikit senang. Kalau beruntung, dia bisa terluka.

Serena baru bergabung ketika Potter mulai membungkuk sedemikian rupa untuk hewan itu. Draco ingin membuat keributan pada kelas yang tiba-tiba hening itu. Tapi dia khawatir si Hippogriff justru akan menyerang sumber keributan. Jadi dia hanya cukup puas untuk mendorong beberapa anak dan maju paling depan. Untuk melihat Potter terluka.

Betapa kesalnya ia saat Potter justru berhasil sampai bisa mengelus paruhnya. Anak-anak bertepuk. Kemudian si Hippogriff menunduk lebih rendah. Dia ingin si Potter naik.

Sekejap kemudian si Hippogriff, dengan Potter di punggungnya, membuat anak-anak menunduk karena dia berlari kencang untuk ancang-ancang. Ternyata dia bisa terbang sama seperti elang pada umumnya. Draco mengibaskan rumput yang menempel pada pakaiannya. Kemudian dia menguping Serena.

"Wah, kau tidak pernah menunjukkan mereka sebelumnya, Profesor..." kata Serena.

"Ini kejutan..." gerung si raksasa senang. "Kau mau coba ketemu Beatrice? Dia si hitam ini..."

Serena mulai tenggelam dalam perkenalannya dengan Beatrice. Draco kini berharap Hippogriff yang membawa Potter sudah menjatuhkannya.

Tapi ternyata tidak. Dia kembali lagi dengan wajah bahagia. Diiringi sorakkan heboh semua anak. Draco langsung memutuskan untuk mengambil alih Hippogriff Potter.

"Ini gampang sekali," kata Draco keras, yang memang benar, hanya beberapa usaha, si Hippogriff langsung membungkuk padanya.

"Hei, jangan sombong..." Serena memberi peringatan. Dia sekarang sudah berada di punggung Beatrice. Seperti dugaan Draco.

Draco langsung membalas, "Aku sudah tahu pasti gampang, kalau Potter, atau kau, bisa melakukannya... taruhan, kau tidak berbahaya sama sekali, kan?" tanya Draco langsung menatap ke mata jingga si unggas. "Iya kan, makhluk jelek kasar?"

Sedetik kemudian Draco berharap dia menjadi dirinya yang berusaha meniru Marc, yang tidak akan sudi menyentuh makhluk gaib apapun, karena rasa sakit yang menyusul Draco yang ini sama sekali tak tertahankan.

Cakar unggas itu secepat kilat menyobek lengan Draco sampai dia melihat darahnya sendiri. Tidak sempat pusing, Draco hanya mendengar teriakannya sendiri saat si unggas berusaha menerkamnya lagi.

"Tetap diatas!" seru si raksasa pada Serena yang pucat pasi. "Iringi yang lainnya masuk ke hutan! Cepat!"

Dari sudut telinganya, yang berdenging, Draco mendengar unggas yang lainnya mulai panik. Mungkin bisa melukai anak lain. Draco terus menjerit agar si raksasaa itu tahu rasa. Atau dipecat. Dia tidak punya hak untuk menyuruh murid manapun membereskan kekacauan yang dia buat. Dia tidak punya hak untuk memerintah Serena menghalau selusin Hippogriff diatas Hippogriff yang baru saja dikenalnya... Hanya karena anak itu terlalu baik dan bodoh...

Tapi Draco segera berada di gendongan si raksasa sebelum sempat mengatakan atau menjeritkan apapun...

.

.

.

Tampaknya matron rumah sakit memberinya obat tidur. Karena Draco terbangun dengan kaget ketika seseorang menyeka dahinya.

Ternyata si peri-rumah Hogwarts, Doreah.

"Kau! Pergi dari sini!"

"Tapi Miss Serena meminta Doreah kemari, Sir! Sebagai gantinya, Miss Serena yang baik hati membereskan perapiannya sendiri sebagai ganti Doreah, Sir! Dia sedang menjalani detensinya dengan Profesor Snape, Sir! Jadi tak bisa kemari..."

Rasanya aneh bahwa peri-rumah Hogwarts adalah satu-satunya yang mengetahui tentang hubungan mereka... Serena pasti menjalani detensi untuk kelas persiapan. Dia sudah mendapat hukuman ketika Snape memergoki burung hantunya menyerang Marc yang menghina Draco bulan lalu.

Lagi-lagi Draco tidak mengerti mengapa dia sebodoh itu...

"Aku tidak apa!" sentak Draco. "Kau kembali dan bereskan perapianmu..."

"Tapi..."

"Lakukan perintahku! Kau tidak mau majikanmu yang bodoh itu sampai sakit..."

.

.

.

Draco diusir dari rumah sakit lusa harinya. Ketika Madam Pomfrey yang menganggapnya terlalu manja memberitahu bahwa ayahnya sudah diberitahu. Snape datang menjenguknya. Memastikan Draco sehat-sehat saja. Dia menyarankan bahwa Draco harus mengusahakan diri untuk masuk kelas pada minggu pertama, agar tidak ketinggalan. Snape berjanji akan menulis pada guru-guru agar Draco tidak bekerja terlalu keras.

Draco akhirnya menurut dan segera kembali ke asramanya. Tapi pemandangan makan malamnya adalah sesuatu yang membuat lukanya dingin lagi. Padahal Madam Pomfrey telah membalut banyak-banyak gendongan tangannya.

Meja Hufflepuff tampak ramai daripada biasanya. Ternyata ada semacam pesta kecil-kecilan khusus pada meja makan itu.

"Diggory tahun ini terpilih sebagai kapten Quidditch," Blaise melaporkan. "Jadi dia meminta para peri-rumah untuk memasak menu yang spesial... dan beberapa butterbeer langsung dikirim dari Three Broomsticks..."

"Dia bisa melakukannya di ruang rekreasinya sendiri," cetus Draco tajam.

"Tentu... Tapi tamu spesialnya kan dilarang masuk ke sana..."

Serena ada di sana. Tampak tidak yakin. Dia memakai topi pestanya dan menyeruput butterbeer dalam diam. Dia tersenyum dan tertawa kepada 'tuan meja' yang menyambutnya dengan baik. Tak sekalipun dia melirik meja Slytherin, yang memang agak jauh. Tapi matanya dengan gugup terus menerus melirik meja Gryffindor. Anggota tim Quidditch-nya, terutama Wood yang protektif, tidak akan suka dia berpesta dengan lawan.

Draco sependapat dengan Wood dan berharap McGonagall membubarkan pesta ini secepatnya.

.

.

.

Keesokan harinya, Draco mendapat kejutan di perpustakaan. Serena menghampirinya. Wajahnya cemas. Sepertinya dia menginginkan sesuatu.

"Hai..."

"Well, well... Lihat siapa yang datang menjenguk si Draco jelek... Biasanya kau kemana-mana bersama pacarmu," kata Draco mengejek.

Mulut Serena langsung terkatup rapat, tapi tidak membantah, yang membuatnya gusar. Draco balas memandanginya.

"Jangan semarah itu... Aku sudah memperingatkanmu agar hati-hati..."

"Dan aku tidak kembali dari rumah sakit untuk mendengar ceramahmu," balas Draco sinis.

"Tanganmu tidak apa-apa, kan? Kau bisa tenang, Madam Pomfrey bilang goresannya tidak dalam..."

"Kau tidak berhak menyatakan tanganku tidak apa-apa... Kau kan tidak merasakannya!"

"Baiklah, baiklah, baiklah!" Serena mengangkat tangannya tanda menyerah. "Aku tidak mau berdebat... Aku kemari untuk negosiasi... Jadi, tolong jangan buat ayahmu menghukum Hagrid atau Buckbeak..."

"Siapa?" tanya Draco pura-pura bodoh.

"Hagrid dan Hippogriff itu, Buckbeak..."

"Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa ayahku akan menghukum mereka?"

"Kau yang bilang bahwa-"

"Aku tidak bilang apa-apa tentang apapun..."

"Baiklah, anak-anak yang bilang kalau semua kejadian ini akan langsung sampai ke telinga Lucius Malfoy... Dan aku mengenalmu. Kau tidak pernah suka Hagrid atau siapapun yang mengalahkanmu dalam kelas..."

"Kalau kau menyadarinya, Van Der Woodsen," desis Draco, mulai marah. "Aku terlalu sibuk menangis karena rasanya amat sakit. Aku tidak akan sempat membuat skenario apapun agar siapapun dikeluarkan..."

"Tapi kau sendiri yang berteriak-teriak bahwa ayahmu akan mendengar kejadian itu? Kau memang tidak mengindahkan perintah Hagrid untuk bersikap sopan-"

"Awal yang baik sekali untuk mulai negosiasi, ya?" sindir Draco.

Tas Serena sekarang terjatuh dari bahunya saking frustasinya.

"Hagrid bilang dewan sekolah sudah diberitahu..."

"Itu salahnya sendiri membawa binatang buas langsung pada hari pertama. Semua orangtua murid akan menganggap hal itu membahayakan. Dan asal kau tahu saja, kalau kita punya guru yang lebih baik, kita bisa selamat... Dengan adanya Dementor, kita tidak butuh pelajaran yang bisa mencabut nyawa kita..."

"Apa yang kau rasakan kalau Dementor didekatmu?" tanya Serena tiba-tiba.

Mulut Draco terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Pertanyaan ini diluar dugaan Draco.

"Aku tidak lihat apa-apa..." katanya pada akhirnya. "Dan kalau kau tidak keberatan, aku punya pelajaran untuk diikuti..."

Draco melewatinya sebelum Serena memaksa.

"Lalu tentang Hagrid-" desaknya.

"Sudah terlanjur... Dengan atau tanpa aku merengek-rengek sekalipun Ayah akan tetap berusaha agar mereka dimusnahkan. Kau pernah bertemu ayahku?"

"Tapi kau bisa meyakinkannya!"

"Selamat sore..." kata Draco sambil mengeloyor.

"Aku mohon..."

Draco berhenti dan berbalik lagi.

"Apa?"

"Aku mohon padamu..."

"Apakah ini benar? Si Serena yang penuh harga diri mau memohon pada Malfoy yang culas?"

Ujung bibir Serena terangkat sedikit, "Hagrid telah mengalami masa-masa yang, yah, lebih parah... Kau ingat kemarin? Dia dikeluarkan karena hal yang tidak dia lakukan. Kalau dia kehilangan pekerjaan, yah... Dia akan kehilangan penghasilan atau apa... Atau malu... Yah, dia mungkin mengalami hal-hal buruk... Tolonglah..."

"Dia tidak sekuat badannya yang besar sampai harus membiarkan anak cewek memohon untuknya, ya?" sindir Draco lagi.

"Dia sahabatku, Draco..."

Kata-kata balasan siap keluar dari mulut Draco. Satu lebih kejam daripada yang lainnya. Tapi nyatanya, tak ada satupun yang bisa Draco katakan. Serena menatap lantai. Mungkin ini jauh lebih serius daripada sebenarnya.

Karena Serena Van Der Woodsen adalah orang yang sangat bodoh dan peduli...

"Aku akan bilang Ayah lenganku baik-baik saja... Tapi aku tidak menjamin..."

Senyum merekah di wajah Serena, membuat Draco tak nyaman.

"Ayahku bisa sangat galak, tahu? Dan aku masih ingin guru yang layak daripada raksasa itu!"

"Yah, aku tidak menyangkal kalau Hagrid agak ceroboh. Tapi berilah kesempatan... Aku akan mentraktirmu apa saja di Hogsmeade kalau begitu..." kata Serena.

"Apa?"

"Hogsmeade... Kunjungan pertama. Kau membuatku berjanji waktu di lemari itu. Kalau kita, yah..."

Serena memungut tasnya dengan salah tingkah. Draco menggali-gali dalam pikirannya. Syukurlah, dia ingat kalau dia pernah mengajak Serena ke Hogsmeade pada kunjungan pertama, walaupun tidak tahu bagaimana cara pergi ke sana tanpa dilihat orang-orang.

Draco tidak tahu harus bicara apa. Kemudian dia memikirkan apa yang mungkin akan dikatakan Marc Zabini...

Draco bersandar di rak buku sesantai mungkin sambil menyeringai menggoda, "Jadi ini semacam kencan?"

"Apa?" seru Serena, wajahnya langsung memerah. "Tidak! Kau mikir apa, sih?"

Serena langsung pergi meninggalkannya. Tapi Draco tidak serba salah lagi. Entah mengapa, dia menikmati ini...

.

.

.

Draco masuk ke kelas Ramuan keesokan harinya dengan berlagak. Dia memutuskan untuk membuat Gryffindor kehilangan banyak sekali angka. Dan di kelas Snape, hal itu bisa dengan mudah terjadi. Draco sengaja masuk terlambat, memastikan semua anak akan iri karena Snape menyambutnya dengan luar biasa ramah.

Mereka membuat ramuan baru hari ini, Cairan Penyusut. Serena tampak luar biasa puas di sudut ruangan. Snape memutuskan agar anak-anak kelas tiga sudah bisa menyiapkan bahan ramuannya sendiri. Jadi alih-alih merebus bahan ramuan siap pakai, mereka harus menyiapkan semuanya dari dasar.

"Sir," Draco memulai. "Sir, saya perlu bantuan memotong-motong akar daisy ini, karena lengan saya..."

"Weasley, potongkan akar Malfoy," Snape langsung memerintah.

"Lenganmu tidak apa-apa," desis Weasley.

"Weasley, kau dengar apa kata Profesor Snape, potong akarku."

Weasley memotong dengan asal saja sehingga ramuan Draco pasti gagal.

"Profesor, Weasley merusak akar saya, Sir."

Snape langsung mendatanginya, "Tukar dengan akarmu, Weasley."

"Tapi, Sir...!" protesnya.

"Sekarang," kata Snape dengan suaranya yang paling berbahaya.

Weasley akhirnya mendorong akarnya yang rapi pada Draco.

"Dan, Sir, saya perlu Shrivelfig ini dikupaskan..."

"Potter, kupaskan Shrivelfig Malfoy..."

Potter terpaksa melakukan hal itu. Draco menyeringai lebih lebar daripada tadi. Dia hanya berjanji pada Serena untuk melepaskan si raksasa dari tuduhan. Tapi tidak untuk menyiksa sobat-sobat si raksasa yang lain ini.

"Sudah bertemu sobat kalian Hagrid belakangan ini?" tanyanya.

"Bukan urusanmu!" desis Weasley.

"Sayang sekali dia tak akan jadi guru lagi," kata Draco pura-pura. "Ayah kecewa aku luka..."

"Ngomong saja terus, Malfoy, kubuat kau luka betulan nanti."

"...dia sudah mengajukan keluhan kepada dewan sekolah..." Padahal ayahnya tidak pernah bicara lagi dengan mereka, sejak kejadian dia dipecat. Paling banter dia akan langsung ke Menteri Sihir. "Dan kepada Kementerian Sihir. Ayah punya pengaruh besar, tahu. Dan luka seperti ini... Siapa yang tahu apakah lenganku akan bisa kembali seperti semula?"

"Jadi, itulah sebabnya kau mempermainkan kami semua," kata Potter terpancing. "Berusaha supaya Hagrid dipecat?"

"Wah, sebagian memang untuk itu, Potter. Tapi ada banyak keuntungan lain juga. Weasley, iriskan ulatku."

Draco dengan puas mengalihkan pandangan ke duo pemarah itu kepada Longbottom yang sedang dimarah-marahi.

"Hei, Harry," Draco mendengar Seamus Finnigan berbisik padanya. "Kau sudah dengar? Daily Prophet pagi ini- katanya ada yang melihat Sirius Black."

"Di mana?"

"Tak jauh dari sini. Muggle perempuan yang melihatnya. Tentu saja dia tidak mengerti. Para Muggle mengira Black cuma penjahat biasa kan? Jadi dia menelepon nomor hotline. Waktu orang-orang Kementerian Sihir tiba di tempat itu, Black sudah pergi."

Draco memikirkan hal ini. Sesungguhnya cuma masalah waktu saja sampai Black menerobos Hogwarts dan membunuhi semua yang menghalangi. Dia takut pun percuma saja. Tujuan Black kan si Potter itu?

"Tak jauh dari sini..." Weasley mengulangi. "Apa, Malfoy? Ada lagi yang perlu dikuliti?"

Draco menyeringai. Tidak ada salahnya tetap membuat Potter khawatir.

"Mau coba menangkap Black sendirian saja, Potter?"

"Yeah, betul..."

"Tentu saja, kalau aku, aku pasti sudah melakukan sesuatu sebelum ini. Aku tak akan tinggal di sekolah dan menjadi anak baik-baik, aku akan di luar sana mencarinya."

Itu betul. Kalau ada seseorang yang mengkhianati orangtuanya sampai mati. Draco pasti akan langsung mengutus banyak orang untuk memburunya.

"Kau bicara apa, Malfoy?" tanya Weasley kasar.

Jadi mereka tidak tahu... Apa si keluarga Weasley tidak memberitahu yang sebenarnya? Padahal mereka pasti anggota perkumpulan itu dulu.

"Mungkin kau tak berani mempertaruhkan lehermu. Kau lebih suka menyerahkannya kepada para Dementor saja, kan? Tapi kalau aku, aku akan balas dendam. Akan kuburu sendiri."

"Apa yang kau bicarakan?" desis Potter marah. Tapi Snape sudah memutuskan agar seluruh kelas memperhatikannya.

Draco bergabung dengan teman-temannya dan dengan puas memperhatikan dua orang yang jadi sewot itu.

Snape mengetes ramuan Longbottom pada kataknya. Draco sungguh tak peduli pada katak atau apapun tentang Longbottom. Tapi semua anak Slytherin bergairah karena katak itu akan mati kalau ramuannya salah. Longbottom mengkeret di sebelah Serena sementara Snape meneteskan ramuannya.

Suasana sunyi senyap, lalu dengan bunyi plop pelan, si katak berubah menjadi kecebong. Semua anak Gryffindor bertepuk riuh. Snape langsung mengubah si katak dengan ramuan lain agar menjadi katak biasa kembali.

"Potong lima angka dari Gryffindor... Sudah kularang kau membantunya, Miss Granger," kata Snape diakhir pelajaran.

Siang itu Draco membuka surat dari ayahnya yang belum sempat dia baca. Draco mengira suratnya akan membahas si raksasa dan unggas sialan tersebut. Tapi tidak. Si raksasa tampaknya tetap akan mengajar. Dia masih makan siang di meja guru seperti kemarin-kemarin. Draco mencibir tapi bersyukur. Setidaknya Serena tidak akan terlalu menggerecokinya.

Draco,

Aku baru mengetahui bahwa guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-mu tahun ini adalah Remus Lupin. Aku dan Ibumu dulu sempat mengenalnya. Dia seangkatan dengan Snape...

Hal ini menjelaskan mengapa Snape menjadi lebih getir dibanding beberapa bulan yang lalu.

Ini buruk. Karena dia dulu bersahabat dengan pamanmu yang kabur, Sirius Black.

Draco membiarkan garpunya jatuh berdenting.

Aku ingin kau menjauhi dia. Apapun yang dia ajarkan. Apapun yang dia berikan. Jangan sampai kau terpengaruh. Lagipula, kita tidak mau didekati jembel macam begitu.

Aku akan berbicara pada teman dekatku, Menteri Sihir, agar memperhatikan cara Dumbledore dalam merekrut guru.

Jangan macam-macam!

Ayah.

Ini pastilah semacam kebetulan yang mengerikan. Teman lama pamannya ada di Hogwarts sementara Sirius Black kabarnya sedang berusaha mencari Harry Potter di Hogwarts.

"Ada apa?" Theo berbisik pelan mengagetkannya.

Tanpa berpikir, Draco menyerahkan surat dari ayahnya.

"Yah, kita bisa tenang sekarang..."

"Kenapa?" tanya Draco heran.

"Kalau ada apa-apa terkait Black, kita bisa menunjuk si Loony Lupin sebagai pelaku. Gampang, kan?"

Draco nyaris terbahak saat mendengar julukan Theo pada Lupin. Tapi dia serius lagi.

"Kau pikir Lupin membantu Sirius Black kabur? Lalu berusaha memasukkan dia ke Hogwarts? Bagaimana kalau dia ikut dendam pada keturunan-keturunan kelompoknya yang dulu? Contohnya aku dan kau..."

"Dia akan lama sekali sampai ke ruang rekreasi Slytherin... Kan dulunya pamanmu itu Gryffindor..."

"Tapi Lupin guru di sini... Dia punya akses masuk..."

Draco melirik pada meja guru, kepada Lupin yang sedang makan dengan ogah-ogahan. Dia tampak selusuh peri-rumah. Tidak terlihat berbahaya. Tapi memang banyak cerita bahwa tahanan yang kabur selalu dilindungi oleh sahabatnya. Salah satu teman ayahnya sendiri mengira keluarga Malfoy menyembunyikan Black...

Serena sedang makan siang di mejanya. Tampak tidak terganggu. Draco tahu bahwa lelaki tidak akan bisa masuk ke kamar anak-anak perempuan. Ada sihir yang melindunginya. Black akan sangat lama kalau mau mencoba. Lagipula tujuan Black kan si Potter.

"Mungkin kita bisa menilai apa yang bisa si Loony lakukan hari ini. Pelajaran terakhir kita. Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam..."

Ini kebetulan ketiga yang Draco ketahui hari ini. Dan dia menjadi takut.

.

.

.

Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam sore itu dipindahkan ke ruang bekas klub paduan suara berlatih. Ruangan di sana lebih luas dan agak temaram dengan panggung kecil. Mereka tidak menghadapi papan tulis, melainkan berdiri menghadap kotak besar yang mirip podium tempat Flitwick menjadi konduktor .

Kotak itu berderak seolah ada ratusan tikus didalamnya. Semua anak waspada.

"Segera setelah tiba di sini. Aku langsung mencari tempat-tempat tersembunyi yang biasanya menjadi tempat hidup makhluk ini. Kalian tahu apa itu? Makhluk yang biasanya bersembunyi di tempat gelap yang tertutup? Ada tebakan?"

Lupin berusaha memecahkan suasana kelas dengan menjadi guru yang komunikatif. Tapi hal itu tidak berhasil. Mungkin karena tampilannya yang tidak mengesankan. Atau karena Draco sama sekali tidak mau menebak. Begitu pula dengan Theo dan Blaise. Beberapa orang yang tampaknya punya otak di kelas tiga Slytherin.

"Baiklah. Yang akan kalian hadapi sore ini adalah Boggart..." kata Lupin.

Erangan dan keluhan langsung muncul diseluruh kelas. Draco tidak heran. Hampir semua teman sekelasnya kan dibesarkan oleh penyihir. Mereka pasti mengetahuinya.

"Tenang kalian semua. Aku jamin pelajaran ini sangat aman..." Draco merasa Lupin melirik dirinya. "Boggart adalah makhluk hitam yang paling umum yang harus kalian hadapi. Penanganan Boggart pasti muncul dalam OWL atau NEWT. Nah, maka, untuk sepuluh angka bonus. Siapa yang bisa menjelaskan apa itu Boggart?"

Theo menjawab ogah-ogahan. "Boggart adalah shiftshaper. Dia tidak berbentuk melainkan kalau ada orang berhadapan dengannya. Dia segera mengubah bentuk menjadi apapun yang menakutkan bagi orang itu."

"Bagus sekali, Mr Nott... Sepuluh angka," kata Lupin lunak. "Itu berarti keadaan kita yang sedang bersama-sama ini menguntungkan. Mengapa begitu?"

Tidak ada yang berusaha menjawab sekarang. Mereka sudah sangat cemas menatap kotak itu.

"Hal itu dikarenakan Boggart terlalu bingung dalam membaca apa yang kita takutkan. Cara terbaik menghadapi Boggart adalah bersama-sama. Sehingga dia mengubah diri menjadi sesuatu yang campur aduk dan tidak menakutkan. Tapi ada satu pertahanan yang harus kalian kuasai. Cara menghancurkan Boggart adalah dengan tertawa!"

Draco nyengir sadis. Kalau tidak ada satu pun yang mau menjawab pertanyaan Lupin, mana ada yang mau tertawa disini? Kecuali Boggart ini berubah bentuk menjadi Potter yang kejang karena Dementor.

"Yang harus kalian lakukan hanyalah memaksanya berubah bentuk menjadi sesuatu yang kalian anggap lucu..."

"Itu sih gampang..." celetuk Theo. "Bayangkan saja Blaise dengan masker malamnya..."

Semua anak kini tertawa mengejek Blaise. Lupin ikut tersenyum. Kotak itu mulai bergetar hebat.

"Kita akan berlatih mantra ini tanpa tongkat dulu. Tirukan aku... riddikulus!"

"Riddikulus!"

"Kelas ini konyol..." desis Draco pada Crabbe yang terkekeh.

"Baiklah... Mr Zabini, mau menjadi yang pertama? Kujamin akan aman... Dan dua puluh angka bagimu..."

Blaise maju dengan ragu-ragu. Draco memutar mata melihat tindakan heroik Blaise. Mungkin dia berusaha untuk pamer kepada anak-anak perempuan.

"Nah, Mr Zabini... Apa yang paling kau takutkan di dunia ini?" tanya Lupin.

"Ditolak cewek!" seru seseorang.

"Maskernya habis!"

Semua anak tertawa riang. Blaise langsung memandang mereka dengan sebal.

"Mr Zabini?" Lupin menunggu.

"Saya rasa... saya..." Blaise terlihat gugup.

"Ayah tiri saya..."

Draco tahu bahwa Blaise mempunyai banyak ayah tiri. Tapi dia tidak tahu kalau Blaise pernah takut kepada salah satu diantara mereka.

"Karena dia galak?" tanya Lupin perhatian.

"Ya, begitulah..."

"Apa yang paling konyol yang pernah terjadi pada dirinya?"

Blaise langsung nyengir. "Ketika aku dan kakakku tidak sengaja menumpahkan bahan ramuan ketika sedang bermain. Bahan itu adalah serbuk sari. Ayah tiri kami alergi serbuk sari. Dia langsung bersin dan membengkak selama beberapa bulan. Parah sekali..."

Beberapa anak tertawa lagi, membuat suasana kelas jadi cair. Tapi Lupin mengernyitkan dahi seolah hal ini adalah sesuatu yang lucu tapi kejam.

"Baiklah... Aku ingin kau membayangkan ayahmu, lengkap dengan pakaian atau tongkatnya. Lalu kau serukan mantra tadi dan fokus pada ayahmu yang bersin-bersin... Bagaimana?"

Blaise mengangguk dengan tekad kuat. Draco memberi catatan pada diri sendiri kalau dia harus mendiamkan Blaise nanti, karena terlalu menurut pada Lupin.

"Kalau Mr Zabini berhasil, si Boggart-ayah tiri Mr Zabini akan bersin-bersin karena alergi dan membuatnya tertawa. Lalu Boggart akan bingung dan mengalihkan perhatiannya kepada kita bergantian... Kuminta kalian semua memikirkan sebentar, apa yang paling menakutkan kalian, dan bayangkan bagaimana kalian bisa memaksanya berubah menjadi konyol..."

Kelas hening. Beberapa diantaranya langsung memejamkan mata. Tapi Draco hanya menatap Lupin dengan marah. Kenapa dia melakukan itu? Apakah ada maksud tersembunyi? Draco melirik Theo untuk mencari dukungan. Tapi Theo juga memejamkan mata sambil berkomat-kamit tentang manticore.

Atau mungkin Lupin hanya mengajar. Kebanyakan anak hanya takut pada binatang, hantu, atau ayah mereka.

"Sudah siap? Mr Zabini?" tanya Lupin.

Giliran Draco memejamkan mata sekarang. Banyak hal yang dia takutkan yang sama sekali tidak bisa dia ubah menjadi lucu. Bayangannya pada efek Dementor dan kenangan paling buruk dan menakutkan dia singkirkan jauh-jauh. Begitu pula tentang Sirius Black ataupun Quirrell...

Kotak besar itu terbuka. Sosok seseorang yang tinggi besar memenuhi ruangan. Draco tahu orang itu. Salah satu suami ibu Blaise yang meninggal karena sakit. Draco melihat Blaise mundur ketika si ayah tiri itu mulai mengangkat tongkatnya.

"Riddikulus!" raung Blaise.

Tongkat meledak dan menyebarkan banyak serbuk sari. Ayah Blaise langsung bersin-bersin tak karuan. Beberapa anak malah ikut bersin karena kecipratan. Blaise tertawa riang saat melihat ayahnya dengan ingus besar-besar, mata bengkak dan jubah tak karuan karena gatal-gatal. Kemudian si Boggart-ayah tiri Blaise bingung. Mata bengkaknya menatap Crabbe.

Tar!

Boggart berubah menjadi Mrs Crabbe yang juga luar biasa gemuk.

"Gendut! Bodoh! Gendut! Tidak ada camilan untukmu tahun ini!" seru si Boggart.

"Jangan, Mama!" rengek Crabbe keras. Ternyata yang paling ditakutinya adalah rasa lapar. Draco tertawa keras melihat reaksi refleks temannya tersebut.

Si Boggart langsung bingung karena tawa anak-anak, bahkan tanpa mantra, Boggart-mama Crabbe sudah lucu sekali.

Tar!

Boggart mengalihkan pandangannya pada Goyle yang segera mengerung marah. Ternyata itu adalah api yang berkobar-kobar. Goyle takut pada api? Sejak kapan? Dan mengapa?

"Siram apinya!" seru seluruh kelas. Api itu telah membesar sampai langit-langit ruangan.

Goyle tampak membeku. Tapi dia meneriakkan mantranya dengan sekuat tenaga. Draco bingung. Bagaimana membuat api jadi tampak konyol?

Goyle tertawa saat satu bagian dari api berubah menjadi sepuluh ekor centaurus. Semua centaurus itu terbakar dan kaki mereka sibuk menghentak-hentak. Rupanya Goyle menganggap hal itu lucu. Tapi anak-anak kelas tidak ada yang tertawa. Api mulai padam dan salah satu centaurus yang gosong mengalihkan pandangan pada Theo. Semua centaurus bersatu dan Boggart Theo langsung berubah menjadi manticore. Singa yang bertubuh kuda dan punya ekor ular. Sebelum si manticore membuat anak-anak semaput, Theo berhasil mengubahnya jadi berwajah badut, berbadan jerapah, dan berekor kuda panjang sekali. Si badut terjalit ekornya sendiri sampai jatuh. Theo tertawa puas.

Kemudian badut itu menatap Draco...

Draco merasa dirinya hampir pingsan ketika kepala badut itu terlepas dari tubuhnya. Tubuh jerapah itu tergeletak dan menjadi unicorn putih bersih berlumur darah keperakkan. Kepala badut tersebut segera berubah menjadi apa yang mungkin terlintas dalam pikirannya pertama kali.

Bukan Dementor... Tapi makhluk bertudung hitam yang malam itu ada di dalam hutan terlarang... Dia menggeleser kepada anak-anak yang menjerit, kepada Draco... Wajahnya penuh darah mengkilap...

"Riddikulus!" raung Draco sampai rasanya tangannya yang terluka ngilu lagi.

Jubah makhluk itu merosot. Menampilkan Marc Zabini yang telanjang, dilumuri krim pencukur bulu, dan rambut penuh rol pelurus rambut. Tampangnya saat itu kocak sekali karena dia kebingungan mengapa bisa telanjang dihadapan banyak anak. Rasanya seperti Marc sungguhan yang kebingungan sambil menutupi tubuhnya sehingga Draco terbahak keras. Semua anak cowok juga terbahak. Theo malah sampai mengeluarkan air mata. Terdengar jerit malu tapi senang dari anak-anak perempuannya. Lalu tanpa diduga, si Boggart-Marc telanjang meletus dan menjadi gumpalan asap kecil-kecil lalu lenyap.

Kelas langsung heboh selama beberapa saat sampai Lupin berdiri dengan tenang di tempat dimana Boggart tadi berada.

"Bagus... Bagus sekali... Walaupun rasanya tidak terlalu pantas bagi kelas ini. Tapi apapun akan dilakukan Slytherin untuk menyelamatkan diri, bukan?" tanya Lupin lagi-lagi lunak kepada kelas. Dia melirik Draco agak lama.

Draco hanya mampu tersedak sambil berusaha melepaskan diri dari Theo yang masih terkikik sampai tidak bisa berdiri.

"Masing-masing sepuluh angka untuk semua anak yang menangani Boggart. Untuk PR, baca bab tentang Boggart dan buat ringkasannya untukku... Cukup sekian dan selamat sore..."

Draco mengikuti semua anak yang masih terkikik. Lagi-lagi apa yang dia lakukan tidak benar, padahal Draco yang memusnahkan si Boggart... Dia masih teringat pandangan Lupin yang penuh penilaian padanya... Apakah dia masih berhubungan dengan pamannya? Apakah dia mengicar Draco untuk diburu Sirius Black?

Tapi Lupin lebih seperti orang-orang seperti Dumbledore, atau Potter, atau malah Serena, yang menjunjung tinggi kebaikan yang memuakkan. Walaupun dulu dia pernah berpikir bahwa Quirrell sama lemahnya...

"Marc akan marah sekali kalau cerita ini menyebar..." kata Blaise, nyengir tapi khawatir.

"Biarkan menyebar..." kata Draco.

Yah, setidaknya dia bisa menangani si Quirrell/Voldemort itu dengan memuaskan.

.

.

.

Berita tentang apa-apa saja yang paling menakutkan bagi anak-anak menyebar dengan cepat. Anak laki-laki dengan senangnya saling mengejek dan menakut-nakuti anak perempuannya. Mereka membicarakan Lupin dengan rasa hormat dalam nada suara mereka. Mereka bilang pelajarannya mengasyikkan. Mereka dengan cepat menobatkan Lupin menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam terbaik yang pernah mereka punya. Draco menjadi sebal.

"Lihat jubahnya," kata Draco kalau Lupin lewat. "Cara berpakaiannya seperti peri-rumah kami..."

Semua anak tertawa. Pansy, yang saat itu sedang menguntitnya karena Astoria juga mengikutinya, bahkan sampai berani menyoraki Lupin.

"Setidaknya dia berpakaian..." kata seseorang keras dan pedas.

Draco menoleh dan menyadari itu Serena. Wajahnya kesal. Rupanya kini topik Lupin menjadi satu dari banyak hal sensitif untuknya. Serena memang terkenal mengagumi banyak orang yang salah. Dumbledore dan Rubeus Hagrid salah satu buktinya.

"Jangan kurang ajar, cewek singa!" seru Astoria.

"Kudengar kau membuat Boggart-mu menjadi Marc Zabini telanjang... Apakah itu yang ada dipikiranmu tiap malam?"

"Jaga mulutmu, Ser- Van Der Woodsen!" desis Draco, wajahnya panas.

"Kudengar kau takut pada gelombang air raksasa, Van Der Woodsen..." bela Pansy. "Lalu kau berusaha membuat ombak itu konyol dan membanjiri kelas dengan berbagai permen alih-alih air, tapi kau tetap tak bisa menyebut mantra sampai Boggart-mu berubah lagi menjadi ayahmu yang mati..."

"Apa?" tanya Draco bingung.

Serena tersenyum tenang, "Namanya Tsunami, Parkinson... Dan gelombang itu bisa membunuh banyak orang sekali sapu. Dan ya, siapa yang tidak takut pada kematian orang tercinta? Apa yang paling kau takuti Parkinson? Draco Malfoy yang mencampakkanmu untuk Astoria GrossGrass?"

Para Prefek keburu membubarkan mereka sebelum terjadi pertumpahan darah. Draco hampir tertawa kalau saja tidak ingat Serena tadi mengejeknya. Dia mengatai Astoria dengan Astoria GrossGrass (Rumput Menjijikkan) yang hampir senada dengan Astoria Greengrass, namanya. Semua anak pasti akan mengatai Astoria seperti itu mulai saat ini. Prestasi yang amat besar dari cewek Gryffindor untuk mempermalukan cewek Slytherin. Serena harus membeli persediaan sepatu satu toko.

Draco masuk kelas Arithmancy-nya dan menyadari Serena sudah ada di sana.

"Tidak lucu!" sembur Draco langsung.

"Kau juga tidak lucu dengan mengatai Lupin seperti itu!"

"Memang kenyataannya dia kumal dan mirip Doreah-mu, kan?"

"Kau berbicara tentang gurumu yang tahu tentang ilmu hitam. Kalau aku jadi kau, aku akan bicara padanya dengan lebih hormat..."

"Kau bisa bilang apa saja. Tapi leluconmu yang mengatakan aku homo itu tidak lucu!" seru Draco tak mau kalah.

"Apa yang tidak lucu?" tanya seseorang di pintu.

Hermione Granger muncul dengan terengah. Profesor Vector disampingnya.

"Van Der Woodsen mengata-ngatai saya, Profesor..." kata Draco langsung sambil mengulur-ulurkan suaranya. Wajahnya panas. Hal itu refleks dilakukannya karena dia tidak mau ketahuan sedang bertengkar dengan Serena.

"Ya, ya, ya... Saya bersalah..." kata Serena pasrah sambil mengangkat tangannya dengan gaya bosan.

"Nah, anak-anak... Daripada bertengkar, lebih baik kalian siapkan buku kalian. Aku akan mengajar dua materi sekaligus hari ini. Minggu depan aku akan mengambil cuti untuk menemani anakku yang akan melahirkan..."

Draco dan kedua anak perempuan itu mengucapkan selamat dan mereka langsung mulai belajar. Draco berusaha menahan rasa kesal sepanjang pelajaran. Tapi Serena memilih tempat duduk paling jauh dari Draco, untuk menghindari tatapan mautnya.

Begitu bel berbunyi dan si Granger langsung meloncat keluar bersama Profesor Vector, Draco langsung menyembur Serena lagi.

"Kalau kau sekali lagi berkata seperti itu di hadapan banyak orang..."

"Apa? Kau mau apa?"

"Aku akan memastikan ayahku menghukum mati unggasmu..."

Darah langsung hilang dari wajah Serena.

"Kau tidak bisa seperti itu..."

"Oh, bisa saja... Aku kan Draco yang culas dan hanya peduli pada lelaki..."

"Jangan nyinyir begitu dong..."

"Aku akan nyinyir. Terserah padaku..."

Draco langsung keluar kelas.

"Kau..." seru Serena. "Aku... hanya ingin memberimu pelajaran agar kau tidak terlalu jahat pada orang-orang... Kau keterlaluan. Dan jubah siapapun yang kumal... Yah, Profesor Lupin itu orang baik dan kau tidak mengenal dia. Kau tidak tahu ceritanya. Aku hanya... refleks membelanya..."

Draco berbalik, "Usaha bagus, Van Der Woodsen... Tapi tidak membantu..."

"Kau..."

"Aku juga tadinya merasa mengenal Quirrell. Dan lihat bagaimana dia akhirnya? Dan kau mungkin akan terkejut tentang siapa sebenarnya Lupin tersayangmu itu..."

Dia meninggalkan Serena dengan perasaan puas.

.

.

.

Menjelang Halloween yang menyebarkan angin penyayat-kulit, Snape mengumumkan bahwa kunjungan ke Hogsmeade akan diperbolehkan pagi tanggal tiga puluhnya. Setelah itu mereka akan berpesta.

Semua anak senang karena kebetulan ini. Draco membayangkan kastil yang hangat setelah perjalanan panjangnya dari Hogsmeade. Draco sudah merencanakan akan minum Butterbeer panas langsung dari rumah minum Three Broomsticks. Kemudian ditutup dengan kopi susu panas yang akan menemaninya jalan-jalan belanja cokelat di Honeydukes. Draco tersenyum hanya dengan membayangkan hal ini.

Marc Zabini, lima kursi dari tempat Draco duduk, sedang menatapnya dengan garang. Draco menjadi tak nyaman alih-alih puas, yang biasanya didapatkannya kalau bisa menjelekkan Marc. Marc tidak menghajar atau menyiksanya dengan kata-kata. Tapi matanya marah sekaligus takut. Dia juga jarang mencerca Draco pada saat mereka latihan Quidditch. Mungkin perkataan Serena yang menuduh Draco membayangkan Marc telanjang itu menganggu pikiran Marc. Ini juga membuat Draco tak nyaman walaupun dia merasa damai tanpa Marc yang dulu selalu membuatnya merasa tak kompeten.

Marc hilang dari pikiran Draco saat kepalanya menyentuh bantal. Tapi dia terbangun ketika suara keras muncul dari kamar mandinya. Draco langsung bangun dan berniat menyerbu. Lalu sesuatu menghentikannya.

Apa itu? Apakah Sirius Black berhasil ke Hogwarts dengan membobol toiletnya? Apakah Draco harus berteriak?

Dia meraih tongkat sihirnya dan melakukan hal bodoh, memasuki kamar mandi...

"Paman?" desisnya.

"Hah?" tanya orang itu.

Draco nyaris pingsan lagi karena yang dilihatnya adalah Serena, sedang memegangi sambil meneliti botol pencuci rambutnya. Draco langsung menutup pintu.

"Ini menjadi kebiasaanmu yang paling... mati sana kau, cewek singa! Jangan kembali lagi ke kamarku! Ke toiletku!" desis Draco sambil merebut botolnya.

"Kau jadi sehati sama cewekmu, nih?" balasnya.

"Kau mau kemari untuk memastikan aku membayangkan Marc Zabini? Dia sendiri jadi takut kepadaku!"

"Lalu apa masalahnya?" tanya Serena sambil nyengir. "Kau malah bebas gangguannya, kan? Kau belum tidur?"

"Sudah sampai seorang cewek mendobrak toilet!"

Serena tersenyum sambil mengeluarkan secarik perkamen.

"Kau tidak mau kutemui dimana-mana. Kau selalu membuang muka dan tidak mau ke perpustakaan lagi... Yah, ini satu-satunya cara agar bisa memberikanmu ini..."

Dia menyerahkan perkamen tersebut.

"Sampah apa ini?"

Serena menarik nafas, "Yah, ini jalan pintas ke Hogsmeade yang Doreah tahu. Jangan bodoh... Kita tidak bisa terlihat bersama di Hogsmeade. Anak-anak akan mengejek kita lebih parah daripada gosip kau yang suka membayangkan Marc- iya, aku tahu itu tidak benar- atau lebih naas lagi, mereka akan mengecap kita sebagai pengkhianat..."

"Hah?"

"Yah, Slytherin dan Gryffindor tidak seharusnya terlihat berdua?"

"Lalu?"

"Yah, begitu..."

Serena terdengar salah tingkah sampai dia hanya bisa memandangi tempat sikat gigi Draco. Draco menjadi relaks dan bersandar dengan menggoda, bersyukur bahwa dia terlihat lumayan keren dalam balutan kaus dalam.

"Jadi kau masih mau berkencan denganku?"

"Apa? Tidak... Kau kan yang bilang kalau aku harus pergi denganmu kalau Hagrid tidak dikeluarkan..."

"Aku tidak ingat aku bilang begitu... Aku bahkan sudah lupa dan raksasa itu masih tetap mengajar karena dia kesayangan Dumbledore. Jadi apa yang membuatmu ingat terus? Kau menginginkannya, ya?"

"Kau yang menginginkannya waktu kau membuatku berjanji di kelas dua!"

"Aku sudah lupa juga, tuh..."

Serena mengatur nafasnya walaupun Draco melihat daun telinganya memerah. "Seorang Van Der Woodsen tidak mengingkari janji..."

"Oh, ya?"

"Dan kita bisa pergi bareng kalau kau mau. Aku akan menunggumu dijalan itu. Kemudian kita berpisah di desa dan berkegiatan masing-masing. Lalu pulang lagi bersama-sama. Dengan itu tidak ada yang tahu kalau kita datang dan pergi barengan. Aku menepati janjiku. Dan semua lunas..."

"Hore... rencana yang bagus sekali..." kata Draco, kini kehilangan minat.

"Semua terserah kau... Aku sebaiknya kembali..."

"Kau akan main bersama Diggory kalau begitu?" tanya Draco.

"Aku... Yah, dan dengan Neville juga... Kau jangan beli apa-apa. Sesuai janji, nanti aku yang belikan..."

"Aku tidak perlu apa-apa. Aku juga anak terkaya di sini. Kau belikan saja untuk si Cedric BigGory itu..."

Doreah meletus dengan keras dan tiba-tiba ada diantara mereka sambil membungkuk hormat. Dia adalah peri-rumah Hogwarts yang kini merangkap sebagai sarana transportasi Serena ke toilet Draco.

"Usaha bagus, Draco..." Serena nyaris tersedak saat mendengar Draco membuat nama Diggory menjadi BigGory (BesarBerdarah-darah).

"Jangan cemburu begitu dong..." kata Serena sambil mengedip.

Doreah keburu membawa Serena menghilang sebelum Draco sempat membalas.

.

.

.

Pagi Halloween datang dan Draco bangun dengan perasaan yang tak-terjelaskan. Dia mandi secepat mungkin. Tapi setelah menyadari bahwa dia terlalu wangi, Draco mengutuki diri sendiri. Dia toh hanya akan menyusuri jalan ke Hogsmeade bersama Serena. Pulang-pergi. Tidak lebih. Dia akan melihat si bodoh itu berkencan dengan Diggory setelahnya. Draco tidak mau membuang-buang parfum untuk acara seperti itu.

"Diam di rumah, Potter? Takut menghadapi Dementor?" serunya senang saat melihat Potter yang ditinggalkan oleh kedua temannya.

Draco menyesap kopi dengan senang. Dia pernah mendengar bahwa Potter dibesarkan oleh Muggle yang membencinya. Tak heran, dia pasti tidak diberi ijin untuk bersenang-senang.

"Surat ijin! Tunjukkan suratnya!"

Filch berseru-seru pada anak-anak tepat sebelum gerbang babi bersayap. Draco memandang berkeliling. Hari itu tidak ada Dementor yang terlihat. Kemudian dia tahu mengapa.

Patronus yang sama seperti milik ibunya sedang beterbangan. Hanya saja bentuknya seekor burung hantu. Filch tidak akan mungkin menyihir seperti itu, dia kan Squib. Pasti milik seorang guru yang berjaga khusus hari ini. Saat anak-anak akan keluar kastil.

"Aduh! Suratku tertinggal!" seru Draco meyakinkan.

"Apa?" seru Pansy. "Tolong ambilkan dong, Goyle..."

"Dia mana mungkin tahu di mana aku menyimpannya. Kalian duluan saja... Sisakan tempat untukku di Three Broomsticks. Nanti keburu penuh..."

Akhirnya Draco pura-pura kembali ke kastil dengan terburu-buru. Kemudian sampai kopinya habis, dia kembali lagi ke gerbang. Draco berpikir bahwa apa yang dia lakukan amat sangat konyol.

Gerbang sudah sepi saat Draco akhirnya menyerahkan suratnya. Dia berbelok ke jalan setapak kecil yang tidak terperhatikan kalau kau tidak punya peta. Jalan itu agak masuk ke hutan yang mengelilingi Hogwarts bagian depan.

"Kau terlambat..." kata sebuah suara.

Draco berbalik dengan kaget, menyadari bahwa Serena tadi sedang duduk di salah satu batu.

"Yah, aku kan bukan anak kuper yang bisa melarikan diri dengan mudah dari teman-temannya..."

"Baiklah... Baiklah... Mari kalau begitu..."

Mereka berjalan dengan Serena di depan, karena jalannya amat sempit. Hari itu dia mengenakan celana jins biasa, dengan baju terusan agak mengembang yang ditutupi sweater rajutan abu-abu. Bajunya agak pink, warna favorit Pansy. Draco jadi berpikir. Untuk siapakah dia mengenakan pakaian dengan warna yang diartikan sebagai warna romantis itu?

"Kau lihat burung hantu tadi? Yang terbang disekeliling Filch?" tanyanya.

"Patronus?" jawab Draco acuh.

"Oh, jadi itu yang namanya Patronus? Cat telah memberikan catatannya padaku yang menyatakan bahwa sihir itu yang akan melindungi kita dari Dementor... Hanya bisa dilakukan oleh penyihir berkemauan kuat..."

"Ibuku punya yang bentuknya ular..." kata Draco menyombong.

"Benarkah?" Serena berbalik dan Draco bisa melihat matanya membulat.

"Kenapa? Kau tidak menyangka bahwa dia bisa melakukan itu?"

"Bukan begitu... Hanya saja aku penasaran kapan kau dan ibumu bertemu Dementor sampai dia harus mengeluarkannya?"

Draco terdiam. Ibunya tidak ingin Draco bicara tentang Patronusnya pada siapapun. Tapi ini kan Serena?

"Lebih baik tidak kau tanyakan. Kami ini keluarga yang terkenal jahat, kan? Tidak aneh kalau kami bisa bertemu Dementor di tengah jalan..."

Serena berbalik lagi, tapi dia tersenyum, "Kabarnya Dementor hanya bisa dilakukan penyihir berkemauan kuat dan baik hati... Hal itu karena dalam teori, mereka harus memikirkan sesuatu yang paling membahagiakan sebelum akhirnya Patronus terbentuk... Pasti ibumu yang jahat memikirkan hari saat kau lahir, atau saat dia bertemu ayahmu atau apa..."

Draco tidak membalas. Pikirannya jadi mengawang lagi. Apakah itu benar? Mengapa ayahnya tidak bisa membuat Patronus? Apakah dia tidak cukup punya kemauan untuk melindungi? Atau dia tidak menganggap kelahiran Draco atau pertemuan dengan ibunya sebagai pendorong yang kuat?

Draco tidak memikirkan apa-apa saat sisa nafasnya digunakan untuk berjalan menanjak. Apabila beramai-ramai, dia mungkin tidak akan merasa secapek ini. Tapi dia tidak terlalu menyesal...

"Nah... Itu mungkin gerbangnya, ya?"

Terlalu mewah untuk disebut gerbang, tapi memang beberapa rumah tempat penjaga malam itu menjadi satu-satunya tempat masuk desa Hogsmeade. Desa itu merupakan tempat belanja kecil, lebih kecil dibandingkan Diagon Alley. Rumah-rumah penduduknya disulap menjadi toko. Bahkan Draco bisa melihat hutan yang rimbun dibelakangnya.

Tapi untuk murid Hogwarts, tempat ini bisa dibilang adalah surga pelarian yang menyenangkan. Beberapa anak, pasti anak kelas tiga, berlarian dari satu toko ke toko lainnya. Draco bisa merasakan semangatnya membumbung. Dia melirik Serena yang wajahnya kemerahan karena gairah.

"Selamat datang di Hogsmeade..." kata Draco

"Ini luar biasa bagus... Mirip seperti di Quebec..."

Draco mendengus, "Jangan samakan desa ini dengan desa Muggle, dong..."

.

.

.

Three Broomsticks adalah rumah minum paling besar dan paling ramai di Hogsmeade. Madam Rosmerta, si pemilik rumah minum generasi ketiga itu, selalu tidak kelihatan di saat-saat seperti ini. Itu karena konternya selalu dibanjiri anak-anak.

"Draco! Sini!" seru seorang anak perempuan.

Pansy menyisakannya tempat duduk. Ini mungkin akhir pekan yang paling membahagiakan untuk Pansy. Astoria yang kelas dua tentu saja belum boleh mengunjungi Hogsmeade.

"Kau lama sekali, Draco..." rajuknya.

"Jangan pikirkan aku... Bagaimana kalau kau pesankan aku Butterbeer hangat? Dua gelas ya..."

"Kau jalan kemari sendiri?" tanya Theo sambil mengunyah kue muffin.

"Tentu saja... Kau pikir aku takut apa?" tantang Draco sambil merampas kue donat Crabbe.

Mereka makan dan minum sambil mengobrol. Dalam keadaan begini, tidak terlalu kelihatan mana yang dari asrama mana. Semuanya mengenakan baju bebas. Semuanya terlalu bahagia sampai Pansy pun hanya nyengir saat seseorang menabraknya.

Tapi Draco merasa ingin menonjok Blaise yang berbagi kentang gorengnya. Pintu berdenting terbuka dan masuklah seseorang yang merusak suasana. Serena dan Cedric Diggory. Si bodoh Longbottom yang biasa mengekorinya tidak kelihatan.

Diggory tampak tidak terlalu senang dengan keramaian ini. Tapi Serena sudah menghampiri salah satu temannya di meja terdekat. Dia menggendong tas yang penuh belanjaan.

"Ayo, kita belanja saja..." gumam Draco pada yang lainnya.

Setelah beberapa jam belanja dan berongkang-ongkang kaki sambil mengejeki beberapa anak, Draco melirik arlojinya dan menyadari dia harus sudah berada di jalan setapak yang tadi, saat berpisah dengan Serena. Dia merasa malas. Bagaimana kalau Serena sudah lupa karena kencannya dengan Diggory? Untuk yang kesejuta kalinya, Draco mengutuki dirinya sendiri.

Tapi anak perempuan itu beringsut-ingsut menuju gerbang Hogsmeade dengan punggung penuh belanjaan. Draco merasa balon dalam dirinya mengembang lagi.

"Baiklah, aku ada perlu sebentar... Kalian tetaplah di sini sambil senang-senang," perintah Draco.

"Apa? Kami juga ikut!" seru Pansy ketakutan.

"Kami?" protes Blaise yang masih betah.

"Jangan bodoh, Pansy... Sana! Belanjalah pakaian yang lebih bagus pakai emasku tadi... Dan bawa semuanya..."

Semuanya bergembira karena mereka ditraktir Draco lagi. Draco segera berlari menuju gerbang sambil membuat catatan pada diri sendiri kalau mereka harus membayar belanjaan mereka sendiri lain waktu. Mereka punya kemampuan untuk membuatnya bangkrut.

"Kau bersenang-senang?" tanya Draco pada Serena. Dia masih meminum Butterbeer panas pada gelas kertas.

"Aku beli semua permen itu satu ransel..."

"Dasar pemula..."

Mereka berjalan agak cepat karena senja mulai menggantung di langit.

"Aku tidak melihat Potter... Ternyata dia memang tinggal di kastil..."

"Yah..." kata Serena yang berjalan di depan lagi. "Aku dengar walinya tidak terlalu ramah. Pasti akan sulit baginya mendapat izin. Kasihan juga..."

Draco mencibir, "Kukira dia ketakutan karena ada Dementor..."

Serena tidak membalas.

"Harry Potter yang terkenal. Takut setengah mati pada Dementor... Kalian yang di Gryffindor kan harusnya berani..."

"Yah, kulihat kau tidak pernah lupa untuk mengingatkannya betapa takutnya ia..." Serena membalas ogah-ogahan.

"Dia tidak perlu pingsan-pingsanan untuk menarik perhatian..." umpat Draco. "Kita semua menghadapi ketakutan itu... Aku tidak heran dia lega karena tidak diijinkan ke Hogsmeade. Satu langkah menuju gerbang sekolah, dia pasti pingsan sebelum menghadap Filch..."

"Kau menganggap itu lucu?"

"Yah, paling lucu dibandingkan apa yang pernah aku dengar sebelumnya..."

Serena berbalik dan menghampiri Draco. Wajahnya datar. Di matanya yang biru-hijau itu ada kilatan rasa geram. Draco segera berhenti.

"Kau tahu apa? Fred dan George Weasley bilang bahwa kau kabur ke kompartemen mereka. Malam Dementor masuk ke kereta..."

Draco memotong, "Sikap yang buruk, Van Der Woodsen. Mengingat kau sedang mengusahakan si raksasa itu tetap mengajar..."

"Aku penasaran. Apa yang membuatmu takut? Kau yang seumur hidup tidak pernah hidup susah... Boggart mengambil bentuk apa dihadapanmu? Pikiran apa yang menghantui anak jahil sepertimu kalau Dementor menghampirimu..."

"Mereka menampilkan banyak kalau kau mau tahu!" Draco menggertakkan gigi.

"Maka kuberitahu sesuatu. Yang paling menakutkan adalah kehilangan orang yang paling kau cintai... Aku seperti tenggelam saat melihat ayahku tergeletak di lantai, tangannya memegang dada, sewaktu Boggart itu menampilkan ketakutanku yang sesungguhnya. Dan hanya suara ibuku yang menghela nafas dengan susah payahlah yang ada dalam pikiranku sewaktu Dementor itu ada di dekat kami..."

"Kau tidak pingsan seperti si Potter Penakut itu..."

"...lalu bayangkanlah bagaimana kalau orangtua kita terbunuh di depan mata kita? Terbunuh... Itu sama sekali tidak lucu, Draco. Bukan hanya bagi Harry dan kedua temannya. Tapi bagi kami semua..."

Dia berbalik dan kembali berjalan.

Setelah beberapa detik yang hening tak mengenakkan. Draco berdehem mencari perhatian kepada teman seperjalannya yang marah.

"Nenekku juga terbunuh..." katanya pahit. "Oleh seseorang yang katanya dendam pada keluargaku. Yah, aku agak salut sekarang pada ayahku, karena dia masih mau berjalan di tempat yang ada Dementornya. Padahal memori itu pasti kembali padanya..."

Masih hening...

"Kau benar-benar takut kematian ya?" Draco baru tiga belas tahun dan membicarakan hal suram seperti ini pada sore secerah ini. Rasanya tidak benar... Tapi Draco tidak pernah tenang kalau sedang bicara tentang Potter. Kemarahannya entah mengapa, selalu menggelegak.

"Manusia pasti mati! Kalian di Gryffindor pasti diajarkan hal seperti itu pertama kali. Kalian orang-orang yang pastinya dituntut berada di garis depan kalau ada perang..."

Serena masih tidak menjawab. Draco menyerah dan menyimpan nafasnya karena mereka kini mulai menanjak untuk memasuki daerah pintu gerbang.

"Tunggu!"

Jadi akhirnya dia mulai bicara dan berhenti...

"Kenapa jadi dingin?"

Mulanya Draco mengira hal itu dikarenakan angin yang menyulut mereka terus-menerus. Tapi udara di bulan Oktober tidak sampai membuat nafas Serena yang ada dihadapannya mengepul. Dikejauhan, tidak ada burung hantu keperakkan yang sinarnya terlihat sampai jauh...

"Sial! Lari!" seru Draco.

"Apa?"

"Pertahanan kastil tidak ada! Dementor itu pasti ada di... manapun!"

Draco berbalik dan langsung dicegat oleh Serena yang menarik tangannya.

"Kau gila! Kau ingin mati sendirian di hutan? Ke kastil! Dumbledore akan menolong kita!"

Mereka langsung berlari secepat mungkin ke kastil. Draco tidak melihat kemanapun kecuali ke titik tempat babi bersayap berada. Dementor mungkin akan langsung mencegatnya kalau dia melihat ke belakang. Hogwarts pasti bergairah pagi ini. Dengan murid-murid yang menghabiskan akhir pekan. Dementor juga sama bergairahnya dengan perasaan manusia... Untuk menyedot kegembiraan mereka...

"Filch! Oh, tidak!" seru Serena.

Di pintu gerbang, Draco tidak melihat Filch berdiri tegak, melainkan satu Dementor melayang. Dia terlihat menunggu dengan harap-harap cemas pada gundukkan dibawahnya, yang pastinya adalah tubuh Filch.

Draco langsung menjambak tangan Serena dan menariknya kembali ke belakang. Tapi yang pertama dilihatnya nyaris membuatnya pingsan.

Rasanya seperti pusaran yang penuh dengan gigi manusia duyung yang busuk. Semuanya taring. Semuanya buruk dan Draco seolah merasa akan tertelan kedalamnya. Draco tidak tahu bagaimana. Dia kembali mundur, merasakan dingin dan tak berdaya yang amat sangat ketika disadarinya bahwa ini hanya satu Dementor... Ataukah demikian?

"Ibu..." desahnya pelan ketika bintik-bintik hitam mulai merasuki matanya.

Draco tidak bergerak. Dia masih merasakan Serena terisak lebih keras dibelakangnya, lutut cewek itu goyah, mulai menarik Draco jatuh juga. Dia pasti sedang mendengar saat-saat terakhir ibunya... Draco berharap agar punggungnya lebih lebar lagi. Mungkin Dementor tidak akan mencapai cewek itu. Seperti perisai...

Dengan putus asa Draco mulai mencari-cari tangan Serena. Mereka bertautan dalam keputusasaan...

"Expecto Patronum!"

Sesuatu yang sangat terang membuat mata Draco kesakitan. Tapi itu hanya sementara. Rasa sedih dan tak berdaya yang tadi tiba-tiba dirasakannya memudar. Digantikan oleh perasaan luar biasa hangat. Seperti waktu dia berada di Azkaban...

Draco membuka mata dan melihat sesuatu yang besar, bersinar perak, menguar, dan berderap serta melayang sedang berusaha menyerang para Dementor. Ada Patronus yang mirip seperti milik ibunya. Hanya saja yang ini mengeluarkan suara mengaum yang amat keras dan berbentuk beruang yang nyaris sebesar gajah.

Serena berteriak seolah hal itu biasa terjadi, "Kesana!"

Si beruang, yang Draco sadari tampak lebih padat daripada Patronus ibunya ataupun burung hantu yang tadi dia lihat di gerbang, melewati Draco. Dia seperti memakai baju pelindung entah apa...

Kemudian tanpa susah payah menyerang, aumannya sudah membuat Dementor di dekat Filch kabur.

Draco ikut berlari karena Serena menyeretnya ke dalam perlindungan si beruang. Serena langsung menghampiri Filch. Yang tampak kaku. Mrs Norris disebelahnya mengeong marah. Dia tidak terpengaruh oleh Dementor...

"Mr Filch! Mr Filch!"

Serena mulai menampar-nampar penjaga sekolah itu.

"Kita harus ke kastil! Dia pingsan!" seru Draco.

"Dan aku tidak mau menyeretnya dengan susah payah!"

Serena mengeluarkan cokelat besar dari tasnya. Draco tidak bertanya. Tapi dia mengangkat tongkat sihirnya dan memancarkan bunga api merah setinggi mungkin.

Si beruang, yang masih ada di belakang mereka, mengaum lagi, seolah terganggu.

"Demi Merlin! Kau sedang apa, sih?"

"Cokelat. Obat terbaik setelah kita bertemu Dementor... Kau makanlah satu. Lupin pernah mencobanya..."

Serena mencairkan cokelat dengan tongkat sihirnya dan segera mencekoki tenggorokan Filch. Draco sebenarnya tidak mau. Tapi Serena juga mulai menjilati jari-jarinya dengan sisa cokelat.

Rasa hangat yang damai mulai mengalir dari lidah sampai ke jari-jari kakinya setelah dia menjejalkan cokelat... Ataukah itu karena Draco melihat Snape dan yang lainnya berlari menghampiri mereka?

"Maaf! Maaf!" cicit Profesor Vector disebelahnya. Dumbledore dan McGonagall juga berlarian menghampiri.

Snape hanya melirik Serena dan Filch dengan sekilas, kemudian langsung menghampiri Draco.

"Kau tidak apa-apa, Draco? Ada apa?"

"Dementor..." kata Draco, anehnya dengan tenang. "Tadi Patronus burung hantunya hilang..."

"Maaf... Maaf..." cicit Profesor Vector sambil menangis, bulir keringat bejatuhan dari dahinya. "Tadi aku mendapat kabar buruk dari anakku... Bayi yang dilahirkannya meninggal... Pikiranku tidak fokus..."

"Oh, tidak!" seru Serena, tepat ketika Filch terbatuk keras.

"Argus!"

Kini McGonagall menghampiri Filch dan membantu Serena mendudukkannya.

"Sudahlah, Septi..." kata Dumbledore kepada Vector. "Itu bukanlah hal yang harus disalahkan..."

Filch menggapai-gapai kepada Serena, nyaris mencakar lengannya yang masih penuh cokelat.

"Tolong bilang kepada anak-anak itu bahwa aku juga bisa seperti mereka... Tolong bilang kepada ayahku bahwa aku bukannya tidak berguna sampai hari kematiannya... Tolong, Miss Serena... Tolong..."

Mungkin akan tampak lucu bahwa Filch, yang wajahnya berlumur cokelat, menangis tersedu mengenai dirinya yang Squib. Mrs Noris melolong panjang kepadanya. McGonagall terlihat amat tua. Air mata sudah jatuh di pipi Serena...

Terlalu banyak kesedihan dalam kelompok ini... Snape mencengkeram bahu Draco dengan kencang, seolah itulah caranya agar kepedihan tidak lagi datang.

Si beruang mulai mengaum dan mengagetkan mereka semua. Draco baru menyadari bahwa Patronus itu masih ada.

Serena melirik makhluk itu dengan sedikit takut.

"Hmm... Dia muncul entah bagaimana... Mungkin mantra salah kaprah?" tanyanya sambil cegukkan.

Dumbledore meminta McGonagall dan Vector untuk membopong Filch ke rumah sakit. Dia memberi isyarat kepada Serena, Snape, dan dirinya untuk tinggal.

Ini bukan pertama kalinya si kepala sekolah melihat Draco dan Serena. Hanya berdua...

Dengan mantra salah kaprah Serena yang besar...

"Jadi Dementor itu menyerang Filch..."

"Saya mau ke kastil dan bertemu Van Der Woodsen ini terpaku di gerbang... Iya, kan?" potong Draco cemas pada Serena.

Serena mengangguk bingung.

"Dan ada beberapa Dementor lagi menyerang. Lalu semua kabur karena beruang itu..." kata Draco tak acuh, menyebabkan si beruang menggeram tersinggung.

"Patronus badaniah dari seorang anak kelas tiga..." desis Snape dari ujung-ujung mulutnya.

"Ya, dan seperti yang saya bilang... Saya refleks... Lalu muncul beruang, hmm..." Serena melirik Draco memohon bantuan. Tapi bagaimana? Snape sedang mencengkeram bahunya.

"Darimana kau mempelajari Patronus?" kata Dumbledore ringan. "Dan cokelat sebagai obat?"

"Oh... Saya sekompartemen dengan Profesor Lupin di Hogwarts Express kemarin. Anda tahu? Dia mengusir Dementor dan membagikan cokelat..."

"Dan..."

"Saya... Yah, berada di dekat dia... Saya melihat gerakan tangan dan mendengar mantranya... Jadi namanya Patronus?" katanya pura-pura polos.

Serena melirik Draco lagi.

"Hanya sekali itu melihat? Dan kau langsung mempraktekkannya?" tanya Dumbledore lunak.

"Maafkan saya, Profesor Dumbledore..." Kini dia nyaris menangis lagi. "Saya serasa mati tadi dan tidak sempat berpikir apa-apa... Saya hanya meniru... Bahkan bentuknya tidak seperti milik Lupin dan Profesor Vector... Saya tahu ini mungkin melanggar hukum..."

"Oh, tidak, tidak..." Dumbledore menghampiri Serena untuk menenangkannya. "Kau menghasilkan Patronus hebat, Miss Van Der Woodsen. Aku belum pernah melihat yang... begitu padat dan bisa bersuara... Lalu tetap tinggal walaupun dia sudah mengusir Dementor..."

"Yah, itu kan karena gagal..."

"Patronus mengambil bentuk dari hewan pilihan... Yang mungkin berarti sesuatu..." Snape angkat bicara. Ada kepahitan dalam suaranya. "Lalu apa hubunganmu dengan Beruang Es Berperisai yang sudah punah?"

Jadi itu bentuk sebenarnya? Pantas Draco merasa dia tidak mirip binatang lainnya karena pakai jubah besi keperakkan...

"Itu inti tongkat sihir saya..."

"Selamat, Miss Van Der Woodsen..." potong Dumbledore. "Kau mungkin telah menemukan pelindungmu... Coba katakan: Finite Incantatem!"

"Finite Incantatem!"

"Bagus... Lalu kibaskan tongkatmu sambil mengucapkannya..."

Serena mengucapkannya dan seketika si beruang lari dan lenyap ditelan udara.

"Kalau kau berkenan, Severus... Miss Van Der Woodsen dan Mr Malfoy pasti sudah ingin bersiap untuk pesta nanti malam... Aku masih akan disini menunggu anak-anak kembali..."

"Ayo!" desis Snape sambil merangkul Draco berjalan. Membiarkan Serena berjalan sendiri. Draco menoleh kepada Serena yang mengangguk padanya.

"Dan, oh, ya! Coba kupikirkan..." kata Dumbledore lagi. "Mungkin masing-masing dua puluh angka untuk Slytherin dan Gryffindor ya? Karena kalian menyelamatkan Mr Filch dan mempertahankan gerbang sekolah!"

"Saya tidak melakukan apapun..." gumam Draco getir.

"Oh, ya?"

Snape keburu menarik Draco sebelum Dumbledore membatali hadiah angkanya. Tapi Draco bersumpah bahwa Dumbledore mengedip padanya...

.

.

.