A/N: percayalah man, ini kemungkinan akan sangat kepanjangan di bagian flashback dan mungkin akan sangat pendek… Author galau sangat ngerjain ini chapter. Yo, pokoknya disambit aja dulu deh ini fanficnya ya~. Maaf kalau tidak sesuai ekspetasi. Ah, saya mau curcol dulu~! SAYA SENANG SANGAT FAVENYA BANYAK~~~! #narihula. ARRRGGGGGH~~~! Saya senang sangat kawan kawan. Beneran lho…. Rasanya mau nangis begitu ngeliat favenya banyak. Oh, iya… Saya lupa satu hal. Saya ngebuka request fic lho. Tapi ada syaratnya. Di baca di Author Note dibawah ya.

Listening to: Jealous. Lupa lagunya siapa. Tapi temennya author selalu pasang lagu ini kenceng kenceng kalo pagi-pagi sebelum bel. Author sampe inget ini lirik lagunya. Hffft!

Warning to: OOC, Typo(s), kata kata yang tidak sesuai dengan KBBI.


I really don't care
Even if the stars and moon collide
I never want you back into my life
You can take your words and all your lies


Badan kepolisian adalah badan dimana tiap orang didalamnya terkenal memiliki jiwa keadilan dan pembela kebenaran. Kepolisian juga dianggap sebagai tempat dimana orang- orang didalamnya terkesan suci dan bersih, memiliki hati yang baik dan murah hati. Setia dan berjiwa penolong da—sekarang, ini justru terdengar seperti dasadharma pramuka—. Meskipun kalimat diatas terkesan sangat-oh-pahlawan-super-sekali, tetapi seperti itulah keadaan sebenarnya. Anggota kepolisian adalah anggota yang dihormati oleh masyarakat, dari jenjang usia manapun. Baik muda-mudi, anak-anak, nenek dan kakek semuanya menghormati jabatan yang dipegang oleh kepolisian. Bahkan termasuk jabatan polisi yang remeh semacam polisi lalu lintas.

Mereka adalah orang yang bersedia mengabdikan dirinya demi keselamatan rakyat, mengayomi rakyat dan membantu rakyat yang dalam kesulitan. Itulah seharusnya bagaimana polisi itu. Di mata banyak orang…. Dan juga, dimata seorang…

Aomine Daiki.

Seorang laki laki dengan postur tubuh yang tinggi, tegap dan proporsional. Bersurai navy blue dengan manik bernada sama di matanya. Memiliki catatan bersih kriminal semenjak dia kecil. Pemuda normal yang memiliki kemampuan luar biasa dibidang olahraga. Kulit hitamnya, bau keringatnya, senyum seringainya adalah senjata maut yang dimilikinya untuk menggaet perempuan pada masa SMA-nya. Pemuda yang menyukai perempuan dada besar dan hobby membaca majalah porno. Aktif dibidang olahraga dan memiliki prestasi yang luar biasa hingga namanya harum di negara tempatnya berasal.

Usai masa pendidikannya di bangku SMA, Aomine Daiki meninggalkan dunia olahraga dan berjuang untuk menjadi seorang polisi. Ia akan menjadi seorang polisi sebagaimana ayahnya memintanya. Ia berusaha menjalankan amanat yang diberikan sang ayah seperti yang dibisikkannya sebelum akhirnya meninggal. Aomine Daiki, sebagai seorang laki-laki sejati, akan mewujudkan sumpahnya, perwujudan cita-citanya sejak kecil dan juga amanah dari sang ayah.

Rasanya, segala kondisi mendukungnya dengan penuh keyakinan. Pertama, dia adalah anak dari mantan penyelidik tingkat atas dari kepolisian yang namanya sangat dikenal oleh banyak anggota kepolisian. Kedua, meskipun dengan tampang bengal dan kulit yang ehemsedikithitamehem tidak dipungkiri bahwa dia memiliki tubuh atletis yang membuatnya akan diterima kapan saja –terimakasih pada olahraga basket yang ditekuninya selama ini—. Ketiga, dibalik tampangnya, dia juga orang yang lumayan pintar. Setidaknya, sebagai persyaratan akademis untuk menembus akademi polisi, otaknya masih sanggup untuk menjadi urutan pertama di setiap semester. Tiga faktor yang membuat Aomine Daiki berdiri dengan kokohnya sebagai polisi.

Hari ini adalah hari yang sama seperti hari biasanya, keseharian biasa dari Aomine. Bangun pagi. Jogging tiga puluh menit. Mandi. Baca majalah Mai-chan sambil minum café au lait dan juga sepotong croissant hangat. Starter mobil. Mengendarai mobil sampai ke kantornya. Setidaknya, sampai di kantor, ia masihlah Aomine yang sama dengan kebiasaan kelewat membosankan. Aomine baru saja hendak mengambil segelas kopi hangat dari tangan office boy ketika atasannya memanggilnya. Urusan penggeledahan logistik mafia katanya.

"Aku mau kau menangani ini dengan divisi bagian narkotika dan barang-barang terlarang dan harus bisa selesai hari ini. Kudengar, mereka –kelompok mafia—akan merebut kembali barang logistik mereka hari ini."

Aomine mengangguk mantap, cengirannya melebar. Ini menandakan bahwa ia sedang luar biasa semangat menangani kasus yang terkesan seperti laga action yang sering ia tonton. Dimana polisi akan bertemu dengan anggota mafia dan dimana anggota mafia menang dan membawa barang logistik mereka kembali. Eits! Jangan salah. Akhir seperti itu tidak akan terjadi pada Aomine. Dia adalah seorang polisi yang tangkas dan cerdik, bagaimanapun caranya, ia dan anggota kepolisianlah yang akan menang. Bila perlu, hari ini juga ia akan membekuk anggota mafia yang menyebalkan itu.

Selama dalam mobil menuju gudang logistik, Aomine membicarakan tentang strategi dan bagaimana seharusnya teman se-timnya harus bergerak. Alisnya berkedut, memikirkan skenario teburuk dari kejadian yang akan ia alami. Man… Ini adalah bentrokan pertama yang akan terjadi dengan anggota mafia. Tentu saja ia akan tegang.

Pok!

Aomine menoleh. Mendapati teman se-timnya yang lumayan baik dan pengertian. Imayoshi Souchi. "Tenanglah Aomine. Kau tidak sendirian. Kami ada disini, jadi tenanglah, kami akan melakukan sama seperti yang kau perintahkan." Aomine terkekeh pelan, kemudian menampakan seringai khas miliknya kemudian kembali duduk di bangku belakang. Sebuah anggukan di kepala Aomine cukup menjadi jawaban bagi Imayoshi. Kembali, Aomine berbicara bersama dengan Imayoshi. Imayoshi adalah temannya yang ia dapatkan saat tes akademi dulu. Temannya yang masuk divisi yang sama dan memiliki level berfikir serta tingkah yang kelewat mirip dengannya. Membuatnya bisa berbagi pengalaman dan pikiran.

Selama tiga tahun inilah, Imayoshi menjadi seperti sosok saudara dalam hidupnya. Mengisi kekosongan dalam hidupnya yang mana telah ditinggalkan oleh ayahnya, ibunya dan tinggal tanpa saudara. Imayoshi juga menjadi sosok yang bisa menyeimbangi bagaimana sifat dan tabiat Aomine selama ini. Mereka terkenal menjadi duo maut yang diandalkan oleh kepolisian. Sehingga, misi-misi penting yang seharunya dikerjakan oleh polisi tingkat tinggi bisa disabet dan dikerjakan dengan baik oleh mereka. Tentu saja, beberapa penilaian muncul dari berbagai kepala. Ada yang senang, karena orang yang memiliki kemampuan WOW akhirnya datang di kepolisian. Tetapi, juga iri hati. Lebih tepatnya yang iri adalah mereka mereka yang menjadi senior mereka berdua. Mereka tidak suka melihat seorang rookie menjabat posisi penting dalam waktu yang singkat seperti ini.

DOR!

Suara ban belakang yang pecah membuat Aomine tersadar dari lamunannya. Kemudian ia berteriak panik. "Imayoshi! Suara apa itu!?"

"Kurasa orang-orang mafia itu sudah mengambil langkah. Lebih baik kita segera menepi dan masuk ke gedung tua itu seperti rencana." Imayoshi menunjuk sebuah gedung tua, kemudian pemuda berambut hitam itu menoleh seakan meminta persetujuan dari Aomine. Sebuah anggukan kecil membuat Imayoshi tersenyum dan meminggirkan mobilnya. Aomine masuk ke gedung sementara Imayoshi menjauh, katanya ia mengkordinir tim dua yang akan menyerang di gedung sebelahnya. Sambil bersembunyi di salah satu pilar, kemudian Aomine berkata, "Tim satu. Segera bergerak." Dengan walkie talkie ditangannya, Aomine memberikan komando. Lama ia menunggu jawaban, tetapi tak ada jawaban. Memaksanya untuk mengucapkan kembali pernyataannya, "Tim satu. Dengar perkataan saya?" Aomine mengulang pertanyaannya, tidak ada respon. Aomine mulai panik, tetapi ia tetap berusaha tenang. "Tim satu—"

"—hei, Aomine Daiki."

Suara itu membuat bulu kuduk Aomine meremang, ia mendengar suara yang familiar di seberang sana. Suara yang cukup dikenalnya.

"Imayoshi?"

"Hai, hai. Kurasa kau tidak akan sebodoh ini. Kau tahu Aomine? Kau orang terbodoh yang bisa mudah masuk kedalam perangkapku… Sayang sekali kita hanya akan bertemu sampai disini…"

"Kenapa…..?"

"Oh tentu saja, Aomine sayang. Selama kau masih hidup, aku tidak akan pernah menjadi kepala detektif, dan rasanya banyak sekali senior yang ingin menyingkirkanmu… Aku hanyalah orang yang baik yang tidak bisa menolak permintaan dari senior, Aomine… Jadi, yah… Maaf sekali. Aku cukup menikmati menjadi temanmu, Aomine,"

"HOI! BRENGSEK!"

Aomine mengecek keadaan disekitarnya. Menjauhkan sedikit walkie talkie-nya, ia kemudian menyadari dimana ia berada sekarang. Sebuah gedung tua yang nampaknya seperti gedung yang sempat di bom oleh kelompok tertentu, berdiri gagah di pinggiran hutan lebat yang berbatasan dengan sungai. Tempat tak berpenghuni. Tanpa sinyal dan penciuman manusia. Dan —hei, sejak kapan pintu disana tertutup!? —. Kemudian, ia menyadari mau dibawa kemana ia sekarang. Ini adalah tempat yang cocok –kelewat cocok— untuk membunuhnya. Rapih dan tidak akan terendus siapapun. Bahkan dia yakin, seandainya dia mati disana, selama-lamanya, tidak akan ada yang tahu kalau ia mati disana.

Suara piiip ringan membuat Aomine kembali tersadar dari alam bawahnya, banyak. Ada sangat banyak bom di gedung ini. Dia pasti ingin meruntuhkan gedung ini, bersamaan dengan dia dialamnya. Skenario yang sangat baik, Aomine memuji Imayoshi dalam hatinya. Sebelum akhirnya berusaha mencari jalan keluar agar dia bisa menyelamatkan diri. Dengan kekuatan ekstra, ia menghancurkan tembok besi yang ada didekatnya dengan baretta-nya dan mengambil celah yang ada untuk mengeluarkan tubuhnya

"Selamat menikmati nerakamu, Aomine Daiki. Temanmu yang tersayang, Imayoshi Souchi."

Suara itulah yang terakhir Aomine Daiki dengar, sebelum akhirnya bom meledak dan ia melompat kearah sungai sambil berucap,

"Aku. Akan. Menemukanmu."


.

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

The Lost Sight © BLANK-98

Beta © Matthew Shinez

I own nothing but this story. DLDR. Please RnR… Need feedback.

.


Pagi yang cukup sunyi di markas rahasia perkumpulan terror yang belum diketahui namanya ini. Burung-burung bercicit pelan, bernyanyi merdu di dahan pohon, sementara matahari masih mengintip malu-malu di balik awan. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa pergi udara malam yang dingin menusuk kulit, dengan angin pagi yang menyegarkan dan hangat. Rumput hijau bergoyang lembut, mengikuti arah datangnya angin.

Seorang pemuda bersurai navy blue dengan manik bernada sama di kedua bola matanya menerjap pelan. Ia masih duduk di tempat yang sama seperti yang ia lakukan tadi malam. Oh ya, tentu saja… Ketika ia menemukan nama Imayoshi Souchi di daftar orang-orang yang kira-kira bisa dibunuh, jangankan menyentuh tempat tidur, berniat untuk berbaring saja tidak. Tentu saja Akashi sudah menasehatinya –baca: mengancamnya- untuk tidur, bahkan dengan sohib sejatinya, gunting merah yang tidak diragukan lagi ketajaman dan keakurasiannya untuk menusuk. Tapi tetap saja, pemuda ini tetap keras hati dan kepala batu level tinggi yang bahkan tidak mau mendengarkan Akashi berbicara.

Usai Akashi menyerah dengannya, Kise Ryouta sempat menemaninya beberapa saat, bertanya apa yang terjadi padanya dan target yang dipilih oleh Aomine. Kise yakin ada sesuatu yang aneh semenjak Aomine memilih nama Imayoshi dari daftar dan memutuskan untuk berangkat sendiri esok pagi-pagi buta tanpa bantuan siapapun. Bahkan, Aomine berjanji akan mematahkan seluruh tulangnya dan menyebarkannya di seluruh penjuru kantor polisi di negerinya. Tak perlu khawatir teman-teman, ide gila itu sudah pasti ditolak keras oleh Akashi yang ternyata –TERNYATA!- masih punya sedikit rasa kemanusiaan.

Aomine menghela pelan, diambilnya lagi sebatang rokok dan memutuskan untuk menghisapnya lagi sebelum sebuah jemari menahan tangannya. Sumbernya tak jauh, ternyata dia tepat berada disampingnya.

"Aomine-cchi… Sudah, ssu. Jangan dilanjutkan lagi."

Ya, Kise Ryouta akhirnya berakhir menemani Aomine Daiki di teras depan sambil tertidur setelah mendengarkan cerita dari Aomine. Kise merasa tidak aman apabila meninggalkan Aomine sendirian di teras, entah kenapa feeling-nya mengatakan bahwa ia mungkin saja pergi mendadak dan pulang membawa kepala Imayoshi dalam tidurnya –oke itu lebay, tapi bisa saja terjadi mengingat penuturan sadis dari Aomine sebelum ini-. Selain alasan barusan, Kise merasakan sesuatu yaitu Aomine sedang tidak tenang, serta perlu seseorang untuk menemaninya serta menenangkan hatinya yang sedang kacau ini. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk melupakan masa-masa kelam seperti itu. Bahkan –menurut Kise- Akashi yang heartless saja pernah depresi karena masalah yang prinsipnya sama seperti yang dialami mereka semua.

"Kise. Sampai kapan kau mau tidur di pahaku?"

Kise berjengit. Sial! Dia tidak sadar kalau sejak tadi dia tidur di paha Aomine. Mungkin saat malam kemarin dia mendengarkan cerita Aomine dia tiba-tiba sudah tertidur di pahanya. –eh, tapi masa sih?- yah, mungkin saja itu yang terjadi. Buru-buru Kise mengangkat kepalanya dan menggembungkan pipinya pada Aomine. Aomine hanya membalasnya dengan tawa renyah sambil mengguncal-guncal kepala Kise.

Percayalah, itu adalah tawa pertama yang Kise lihat dari Aomine selama mereka bersama sama. Senyuman itu sanggup menceriakan suasana di hati baik Aomine dan juga Kise. "Aomine-cchi! Jangan iseng, ssu~! Jangan cubit cubit pipiku!"

"Gomen, gomen."

Aomine kemudian bangkit berdiri dan memasukkan tangannya ke saku celana dan dengan gaya casual dia berucap pada Kise, "Sana mandi, sarapan lalu tidur lagi. Kurasa Murasakibara sudah selesai mengotak-atik dapur dan membuatkan kita sarapan." Kise mengangguk pelan pada apa yang dikatakan oleh Aomine. "Bagaimana denganmu, Aomine -cchi? Tidak ikut sarapan?"

Aomine menggeleng pelan, kemudian berbalik badan memunggungi Kise dan melambaikan tangannya. "Aku akan sarapan setelah membunuh that freak four-eyes."

Kise melambai perlahan, sebelum akhirnya memasuki teras dengan senyum merekah di bibirnya, rasanya dia belum pernah tersenyum selebar ini, semenjak pekerjaannya yang dilakoninya beberapa tahun yang lalu. Kise sedikit berfikir, mungkin saja… Aomine memang adalah orang yang baik meskipun luarnya bengis dan kasar seperti itu. Rasanya, belum pernah ada orang yang mengajaknya bersenda gurau dan juga tidak mempermasalahkannya tertidur di paha.

Langkah Kise perlahan terhenti saat melihat titan berambut ungu menclok di depan pintu, mengunyah maibo kesayangannya dan dengan penampilan mata setengah mengantuk miliknya. "Err, maaf Murasakibara-cchi… Aku mau lewat…"

"Silahkan saja, Kise-chin." Ucap Murasakibara, tangannya meraih kotak snack berikutnya.

Baru saja Kise melangkah pergi, kemudian langkahnya dihentikan oleh ucapan Murasakibara berikutnya yang membuat wajahnya memerah bak udang baru direbus.

"Sepertinya, kau cocok jadi istrinya Aomine-chin ya, Kise-chin."

Kise membelalak, dengan mulut megap-megap seperti ikan kehabisan nafas, dia menyerbu Murasakibara yang masih terdiam di daun pintu.

"MURASAKIBARA-CCHI!"


Imayoshi Souchi adalah seorang pemuda bersurai hitam, dengan manik bernada sama dengan rambutnya. Seorang pemuda yang memiliki tingkat kecerdasan mencapai 160 dan dikatakan mutan karena kepandaiannya. Dulu –dulu sekali- dia punya seorang partner yang sangat luar biasa, dan bahkan nyaris melampauinya. Seorang partner yang nyaris saja mempunyai segalanya di kepolisian. Orang yang nyaris dia takuti dan sekaligus ia dekati untuk menjatuhkannya. Ternyata dia tidak lebih pintar darinya. Dia belum tahu apa yang namanya politik. Masih anak lugu. Meskipun otaknya berlian, tapi mentalnya seperti kerupuk. Diinjak langsung pecah dan berantakan.

Ya, partner satu-satunya yang ia miliki adalah Aomine Daiki.

Semenjak berita hilangnya Aomine Daiki dalam membongkar sistem logistik mafia, ia sudah menolak untuk punya partner. Lebih enak kerja sendiri katanya. Hal yang sesungguhnya terjadi adalah, dia tidak mau ada yang menyainginya dan menyamar sebagai seorang partnernya sama seperti yang ia lakukan dulu pada Aomine. Ia sadar betul dengan apa yang ia lakukan, dan kemudian teringat dengan kata-kata orangtuanya dulu,

"Dengan cara apakah kau mengambil tahta? Dengan mencurinya? Maka dengan hal yang sama, kau akan dijatuhkan."

Dengan kata kata seperti itulah, Imayoshi Souchi menguatkan hatinya, instuisinya, perkiraannya dan pergerakannya untuk tidak terjatuh seperti yang Aomine rasakan. Hal itulah sebenarnya yang membuatnya semakin lemah, karena terlalu menyimpan keraguan dalam hatinya. Tetapi, hal itulah juga yang membuatnya semakin tajam dan semakin terlihat kuat. Ah, bagai makan buah simalakama. Dimakan salah, tidak dimakan pun salah.

Ia kini baru saja melenggang keluar dari kantor kepolisian, baru saja membahas soal kelompok teroris yang membuatnya geleng-geleng kepala. Selama ini, yang ia tahu, kebanyakan teroris hanya mengincar gedung pemerintahan atau juga mall-mall, bank atau brankas perjudian atau apalah yang berbau dengan uang. Tapi yang kali ini, tidak masuk akal kalau menge-bom bandara? Tempat aborsi? Apa untungnya buat mereka? Okelah kalau mereka mengincar orang orang kaya atau design terkeren yang ada di bandara internasional Chūbu Centrair. Tapi tempat aborsi?

Nyaris saja dia menggaruk aspal mengingat bagaimana ia dan detektif nomor satu dibawahnya, Kiyoshi Teppei tadi bertengkar bagaimana menyelesaikan kasus ini. Keduanya bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing. Ia mempertahankan kalau itu hanyalah teroris sesaat karena tidak ada kesinambungan antara kedua kasus ini. Rantainya terpisah, menurutnya. Tapi menurut Kiyoshi, dia berpendapat kalau ini sumbernya adalah sama. Mengingat bom yang digunakan hampir sama dengan tehnik yang sama pula. Meskipun dia belum bisa menjelaskan apa motif pelakunya, tapi ia benar benar yakin kalau sumber kekacauan ini adalah sama.

Imayoshi menggelengkan perlahan kepalanya, kemudian ia berjalan perlahan menuju apartemennya sembari menguap perlahan. Kasus ini melelahkan sekaligus menyebalkan. Ia menghabiskan waktunya terlalu banyak untuk ini. Sampai sampai dia lupa sudah dua hari terakhir ini ia belum keramas. Buat catatan sampai di rumah nanti kalau ia harus beli shampoo, hair gel dan hair spray nanti. Jaga-jaga kalau saja rambutnya terlalu bau. Dia yang masih saja terus berkutat dengan pikiran dan catatan belanjanya, tidak menyadari bahwa kakinya telah melangkah ke arah yang jauh berbeda dengan arah jalan pulangnya. Seakan-akan ia ingin mampir ke suatu tempat yang dulu pernah dia kunjungi dan kemudian baru pulang ke apartemennya. Kira-kira butuh beberapa menit sehingga Imayoshi terjaga pikirannya dan sadar dimanakah ia sekarang.

"Ini adalah tempat dimana aku menghancurkan Aomine dulu…"

Imayoshi nampaknya masih mengingat dengan persis bagaimana lekuk-lekuk kontur tanah, letak bangunan, perempatan bahkan sampai lampu merah yang sudah tak berfungsi lagi yang masih tergantung di dekat tempatnya berdiri, keadaan seperti itu, dalam keadaan sore hari menjelang malam, adalah senjata yang pas untuk membuat nyali siapapun ciut. Takut. Takut akan keadaan horror yang tercipta didepannya.

Tap! Tap! Tap!

Perlahan, suara langkah kaki Imayoshi terdengar menggema di sebuah gedung kosong yang terlihat hampir habis dimakan usia, dan seperti… –di bom?- Beberapa tahun silam. Sepertinya inilah gedung yang dulu pernah ia pakai untuk membunuh Aomine. Ia mengingat persis bagaimana sulitnya mencapai medan ini, berikut dengan mencari gedung yang pas untuk eksekusi, bahkan dengan kejadian palsu yang sangat sulit ia buat.

"Andai saja kau tidak terlalu bodoh untuk kuperdaya, Aomine…"

Imayoshi terduduk perlahan, melihat bagaimana bom yang dipasangnya sudah rusak dengan sirkuitnya yang sudah berantakan dimana-mana dengan barisan semut didekatnya. –mungkin saja semut menyukai sirkuit elektronik-, ia masih merenungi bagaimana kejadiannya dulu. Ia masih merenungi kejadian yang ia buat untuk merenggut nyawa partner yang diusung tinggi oleh anggota kepolisian dulu. Ya, hal itulah yang membuatnya iri tidak bisa mencapai apa yang ia inginkan. Ambisinya untuk menjadi detektif terkenal bisa saja terselubungi oleh bakat Aomine yang luar biasa dibidang analisis. Mungkin, saat itu bukan ambisinya yang menang untuk membuatnya akhirnya merencakan rencana kematian untuk Aomine, melainkan…

Takut.

Ya, bisa dibilang dia takut kalau posisinya diambil. Atau bisa juga ia takut kalau segala mimpinya yang ia rajut perlahan-lahan hancur oleh Aomine. Si bintang gemerlapan yang muncul tiba tiba oleh ledakan supernova yang disebabkan oleh kematian ayahnya.

"Kau sudah dinobatkan sebagai raja, tapi pada kenyataannya kau takut untuk tidak terpilih."

Ya, bisa jadi itulah yang terjadi.

Tunggu!

Imayoshi membelalakkan mata, dengan gerakan refleks ia kemudian membuka matanya, siapa tadi yang berbicara padanya di tempat ini? Jangan bilang benar-benar ada hantu di tempat angker seperti ini? Tapi tidak mungkin, lagipula suara itu mengingatkannya pada sosoknya dulu. Sebuah bayangan mendekat dari jauh, mendekati tempat dimana posisi duduk sang detektif nomor satu. Langkah kakinya terlihat begitu perlahan dan rapih, namun terkesan anggun dan elegan. Benar benar menciptakan suasana mematikan. Gaya berjalan seseorang yang dulu pernah ia tipu sebelumnya. Belum lagi dengan senyuman seringai setengah bibir yang ia tampilkan. Benar-benar mengingatkannya akan sosok Aomine dulu.

"Yo, king. Menikmati tahtamu sampai hari ini?"

"… Aomine… Daiki?"

.

.

"...-merindukanku?"

SLAP!

.

.

-To Be Continue-

A/N: YAP! AKHIRNYA SELESAAAAAAIIIIIII~~~~! #muntah. Sumpah, ngerjain bagian belakangnya itu tuh susah sangat… Beneran deh. Saya bingung, galau… Gado gado pokoknya. Anyway, ini ditunggu ya review dari yang berkenenan memberikannya. Sesuai dengan janji saya diatas tadi, saya akan membuat request fic buat anda anda semuanya yang kepinginnnnn banget saya nulisin fic buat kalian kalian semuanya~. Tapi ada syaratnya, lho… Yang pertama, kalian harus follow dulu benda ini. Yang kedua adalah… Pertanyaan~

Sebelum masuk pertanyaan, saya ingin menegaskan bahwa ide fic ini orisinil dan tidak berniat untuk mengambil alih anime lain. Contohnya adalah Zankyou no Terror. Saya sukak sangat sama itu anime kok, saya jatuh cinta sama Nine. Tapi saya gak kepikiran –bener bener gak kepikiran- untuk nyomot ide orang brilian kaya gitu. Ini beda. Beda sama Zankyou no Terror. Beneran! TTATT

Ini dia pertanyaannya: ada kalimat penggambaran Aomine yang diulang. Hayo, apa tuh? Terus di kalimat kalimat pertama yang dimiringin merupakan kalimat apa? Lirik lagukah? Puisikah? Harus jelas ya disertakan nama pembuatnya. Atau kalau lirik lagu penyanyinya siapa.

Nah, jawabannya dikirim ke PM ya. Gak boleh lewat review. Jawaban yang nyasar ke review gak bakalan dihitung~ Pengumuman pemenang bakalan disebutin di chapter depan. Sayonara!

Balesan review anon:

Akaverd20: Iya, sudah dilanjutkan~ Makasih lho pujian dan reviewnya. Saya tunggu review darimu lagi~ Wekekekeke!