A/N: Saya hiatus setahun ya kawan kawan. Maafkan saya... Separuh hati ini bergetar ketika mengetahui tangan saya tidak bisa bergerak sedemikian rupa... #lebay Maaf sekali lagi ya kawan kawan. Banyak halangan yang membuat saya tidak bisa melanjutkan, tapi syukurlah hari ini saya bisa mengeluarkan seluruh potensi saya untuk melanjutkan impian yang tertunda. #lebaylagi
Warning to: Typos, OOCs, and anything related.
Pagi hari ini seharusnya –Tolong dicatat, seharusnya.- Merupakan pagi hari yang normal bagi seorang Kiyoshi Teppei. Matahari bersinar samar-samar, awan awan menari dengan gemulai di lautan biru cakrawala yang cerah, angin sepoi sepoi masuk ke ruangan apartemennya dari jendela menggelitiknya, seakan tak mau kalah cahaya mentari menembus masuk melalui gorden berwarna soft brown dan berupaya membangunkan sesosok pemuda berbadan atletis dengan kaus tank top berwarna senada dengan kulitnya. Erangan pelan adalah hal pertama yang disambut pagi hari di ruangannya, merasa terganggu dengan cahaya matahari perlahan-lahan seorang Kiyoshi Teppei terbangun dari tidurnya kemudian menerjapkan matanya dan melihat keadaan sekitar ruangan apartemennya.
Ruangan gelap gulita, check. Semangkuk nasi dan sup telur yang dilalati diatas meja, check. Tumpukkan piring di wastafel, check. Tirai yang copot sebagian, check. Sofa yang penuh dengan berkas-berkas dan dokumen yang helai kertasnya sudah tersobek, tersilang dengan spidol warna menyala, check. Baju kaus aneka warna, aneka bentuk dan aneka posisi tergeletak di lantai, check. Cairan kopi yang masih menetes dari atas meja bar-nya ke lantai, check. Tumpukan semut diatas coffee table akibat gula putih berserakan, check. Susu bubuk yang tumpah dari atas lemari, check. Printer yang masih menyala, check. Kabel charger berbagai macam bentuk dan fungsi, check.
Benar-benar bak kapal pecah.
.
"Huft…"
Helaan pertama Kiyoshi Teppei di pagi hari.
.
Teppei kemudian beranjak dari sofa –ya, dia tidak tidur di kasur seharusnya dan selayaknya- dan berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya untuk mengambil seragam dan handuk untuk bergegas mandi tanpa bermaksud untuk membereskan seluruh kekacauan yang ia buat di apartemennya dari seminggu yang lalu. Gerakannya yang kelewat santai benar benar bertolak belakang dengan jarum jam yang menandakan waktu dan pikirannya sekarang.
Bagaimana tidak? Sekarang sudah lebih dari jam sepuluh di pagi hari, dan ini adalah hari Rabu. –Hari Rabu, man.- Ini sudah waktunya untuk dia pergi ke kantor sementara dia belum mandi, belum berangkat, belum sarapan, belum memasang gel di rambutnya, belum ngoceh dan OTP-an pagi dengan Izuki, belum baca koran, dan yang paling penting untuk dibicarakan adalah DIA BARU BANGUN SAAT INI! ARGGGH!
.
"Huft…"
Helaan kedua Kiyoshi Teppei di pagi hari.
.
Bagaimana dengan pikirannya? Oh, tentu saja dia sibuk secara pikiran. Sejak kemarin sore, dia terus menerus menelfon sohib seperjuangan debatnya, Imayoshi Souchi. Tapi herannya entah mengapa tidak diangkat. Padahal biasanya, dia paling cepat mengangkat telefon darinya. Hari ini juga dia akan meneruskan perjuangan debatnya dengannya perihal tentang terror yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Tentu saja, Souchi dan dia selisih pendapat. Menurut Souchi, kasus yang sedang terjadi saat ini adalah kasus yang berbeda karena tidak ada sangkut pautnya. Menurutnya sendiri, ini bisa dibilang terorganisir dan terjadi dalam satu kasus yang sama, dengan kata lain terskanganya sama. Alasannya adalah, tempat pengeboman dan lain-lainnya terjadi pada satu tempat yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu sulit digapai satu tempat ke tempat yang lainnya.
Tentu saja pendapatnya ditolak mentah-mentah oleh Souchi. Sialnya lagi, banyak pejabat polisi yang percaya pada hal itu. Maka dari itu, saat pulang dari kantor polisi kemarin, dia langsung membaca banyak berkas tentang lokasi pengeboman, jenis bom yang dipakai, rute jalan dan masih banyak lagi topik yang ia baca untuk hal yang ingin dia debatkan pada Souchi hari ini. Makanya, dia terlihat suntuk karena tidak tidur –tidur sih, tapi cuma di sofa.-
Membilas tubuhnya dibawah guyuran shower air dingin benar benar membuatnya sedikit lebih baik. Rasa-rasanya sudah lama juga dia belum membilas rambutnya. Ketika ia membilas rambutnya hari ini, ia merasakan setengah dari bebannya dapat terangkat. Ia kemudian memakai seragamnya dan mengenakan beberapa wewangian sembari melihat dirinya di cermin dengan cengiran lebar khas dirinya.
Merapihkan pandangan dan kondisinya saat ini, Kiyoshi Teppei akhirnya sekarang berdiri di dapur, sedikit merapihkan kekacauan yang ia buat di dapur. Mencuci piring, merapihkan kopi dan kawan kawan keberantakan yang ia buat sendiri tanpa peduli harus berangkat ke kantor hari ini, jam ini dan SEKARANG INI. Bahkan ia masih sempat-sempatnya membuat furikake gohan dan segelas teh untuk sarapannya hari ini. Sedikit usaha untuk membuatnya sedikit lebih nyaman daripada semalam dan usaha yang ia lakukan agar pikirannya dapat sedikit lebih jernih.
.
"Huft…"
Helaan ketiga Kiyoshi Teppei di pagi hari.
.
Helaan itu bersambut dengan kunyahan makanan di mulutnya sembari tangannya mencari-cari remote TV di coffee table dan mulai memanjakan matanya dengan berita hangat di pagi hari. Dia berjaga-jaga seandainya saja berita terror yang baru saja dia selidiki muncul jadi berita hangat di pagi hari. Lumayan untuk menambah pengetahuan dan informasinya yang bisa ia bagikan kepada Imayoshi Souchi, dan kemudian semua orang akan memuji dia akan segala informasi yang ia dapatkan, berbalik memihaknya dan memberikannya jabatan paling tinggi di kepolisi-…
Kring-kring! Kring-kring!
-an.
Shit!
Keringat dingin mengalir di pelipis Teppei. Takut-takut atasannya yang menelfon dan berujung ingin memecatnya.
Tertera nama, Hayama.
Oh. Hayama, toh. Bikin jantungan aja.
Baru saja, Teppei membereskan kembali kekacauan yang tersisa di apartemennya sebelum akhirnya temannya di kepolisian menelfonnya pagi pagi –jam masuk kantor saja sudah lewat masih dibilang pagi. Ckckck-.
Entah berita baik atau buruk yang menanti Kiyoshi Teppei di pagi hari yang kelewat santai dan menyenangkan ini. Lebih banyak sih feeling buruk, secara Hayama bukanlah tipikal orang yang hiperaktif untuk menanyakannya kabar, makanan apa yang ia makan hari ini atau menanyakan malam Teppei.
Pik.
"moshi-moshi, Hayama-kun. Ada apa?"
Suara ricuh terdengar dari ujung sana, entah meributkan apa di pagi hari seperti ini. Bahkan suara yang ia dengar bukan lagi suara Hayama yang 'aduh, aku harus omong apa?', tetapi juga Nebuya yang berisik soal otot inilah, otot itulah dan yang paling menyebalkan mungkin bisa dibilang Reo. Suaranya dan cicit burung beda banyak. Burung merdu, Reo jijik hoek, bahkan sialnya terdengar juga di telinga Teppei.
Kali ini, Teppei kebanyakan yakin kalau ini benar benar berita buruk yang akan disampaikan oleh Hayama, benar benar menyebalkan. Berharap saja Kiyoshi Teppei belum almarhum saat mengangkat telfon dari Hayama.
Sungguh, ia merasa menyesal mengangkat telfon dari Hayama. Bahkan setelah mendengar kata-kata yang dikeluarkan Hayama detik berikutnya.
"Teppei, masuk kantor sekarang juga. Keadaan genting."
Tuut… Tuut… Tuut…
Telefon dimatikan. Sepihak. Dari Hayama. Kepolisian. Pagi hari.
Oh, Shiet!
.
"Huft…"
Dan helaan Kiyoshi Teppei yang keempat berhasil diakhiri dengan cenat-cenut di kepalanya.
.
"Sial banget aku pagi ini."
dengan iringan lima kata, Kiyoshi keluar dari apartemennya menyongsong masalah di pagi hari.
Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadaoshi
I own nothing but this story. Don't like don't read. Please RnR
You, with your words like knives
And swords and weapons that you use against me
You have knocked me off my feet again
Got me feeling like I'm nothing
You, with your voice like nails on a chalkboard
Calling me out when I'm wounded
You picking on the weaker man
Midorima Shintarou adalah seorang pria yang hampir memiliki segalanya. Mulai dari fisiknya. Dia bisa dikategorikan sebagai pemuda yang cukup tampan. Dengan kombinasi mata, hidung dan bentuk serta kontur wajahnya yang unik dan menarik hampir banyak perempuan. Apalagi yang lebih tua darinya. Dengar-dengar dari bisikan mereka, tampang Midorima diyakini bisa membuat tidur mereka lebih nyenyak dan panas di 'malam hari'. Kalau sudah dengar yang begituan, Midorima langsung meneguk ludahnya. Serem ah ngebayanginnya. Midorima kan masih anak anak.
Lanjut.
Midorima Shintarou cukup disegani oleh banyak perempuan. Bukan hanya dari tampannya saja. Tubuhnya juga proposional. Bisa dibilang tinggi tubuhnya adalah tinggi normalnya seorang laki-laki. Berbadan tegap dan tidak gendut. Terimakasih kepada sayur-sayuran yang kebanyakan ia makan saat masa pertumbuhannya. Ia tumbuh pada keluarga yang semi-vegetarian, itulah sebabnya kenapa dia tidak besar berlebihan. Psst! Asal tahu saja, makanan kesukaannya itu makanan kesayangan yang sering dibuat ibunya saat ia masih kecil, yaitu sup kacang merah.
Rasanya, jarang sekali melihat seorang laki-laki yang menyukai sup kacang merah selain dia.
Sekali lagi, Midorima Shintarou disukai banyak perempuan bukan hanya dari tampang dan tubuhnya saja. Tetapi juga dari pekerjaannya. Memangnya dia kerja apa? Perusahaan dengan nama dimana-manakah? Atau boss mafia yang punya anak buah dan musuh dimana-mana? Polisi yang kerjaannya menangkap penjahat dan berlaga layaknya superhero setiap hari? Oh, oh… Atau mungkin saja dia diam-diam adalah seorang designer yang punya banyak klien perempuan dan setiap perempuan jatuh cinta pada karya tangannya?
Bukan.
Dia hanya seorang dokter.
Yah, tapi justru karena dia dokterlah, banyak perempuan menyukainya. Berharap mereka jadi susternya mungkin? Supaya Midorima setiap malam bisa menemani mereka cosplay suster? Oh, tidak. Jangan bayangkan itu, karena Midorima sudah mau muntah di pojokkan sekarang.
Banyak perempuan menyukai Midorima dari tampangnya, bentuk tubuhnya, pekerjaannya, hingga banyaknya harta yang ia miliki sekarang. Midorima adalah seorang dokter jenius yang menghasilkan banyak obat-obatan paten pada penyakit penyakit langka setiap tahunnya dan juga hobi meneliti terapi dan segala macam hal yang berhubungan tentang kemanusiaan dan rahasia kesehatan pada manusia. Dengan otak secemerlang itu, otomatis Midorima selalu menjadi perbincangan banyak orang. Bukan hanya dari orang orang yang bekerja pada bidangnya, tetapi juga dari bidang bidang lain. Percayalah, hampir setiap hari media membicarakannya. Entah mereka menanyakan, otaknya terbuat dari apa, atau hatersnya mungkin membicarakan kemungkinan-kemungkinan orang yang ia sudah suap dalam departemen dan sebagainya.
Umumnya orang lain menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk menyelesaikan studi dokter bahkan hampir setiap orang mencapai sarjana kedokteran lebih dari kepala dua. Atau mungkin saat kepala dua. Midorima yang memang didaulat jenius sejak kecil akan kemampuannya berfikir, sudah lulus kedokteran saat kita semua baru meniup lilin angka tujuh belas pada kue ulang tahun kita.
Ya, Midorima lulus kedokteran saat berusia 17 tahun. Aneh? Tenang saja, dia gak bakalan tersinggung. Dia sudah sering dibilang begitu.
Kemudian dari sana ia sering diuji oleh banyak orang akan teori ini dan itu, skripsinya dibaca oleh banyak dosen dan banyak dosen geleng-geleng kepala akan isi skripsinya, tak butuh waktu satu tahun, nama Midorima Shintarou menjadi objek pembicaraan manusia seantero Jepang. No, no, no. Bukan hanya Jepang bahkan yang membicarkannya, tetapi juga orang orang dari seluruh dunia.
Dari sana jugalah, dia kebanjiran job. Meneliti inilah, meneliti itulah, jadi kepala lab di negara inilah, menjadi pemegang top secret negara itulah, diberi proyek kemanusiaan inilah, menjadi perwakilan negara untuk rapat kesehatan dunialah, pokoknya banyak inilah dan itulah yang dikerjakan oleh Midorima muda.
Semenjak negara adidaya, Amerika Serikat memprakarsai super hero, bisa dibilang Midorima tambah sibuk. Pekerjaan bertambah dan membuat bebannya semakin berat. Lho, apakah itu? Apakah Midorima justru pindah haluan jadi bekerja dibidang animasi? Jadi asisten produksi? Atau jadi direktur episode? Penambah efek suara? Atau justru malah jadi pengisi suaranya!? ATAU JANGAN JANGAN DIA PENULIS CERITA SUPERHERO? OHMEJI OHMEGODDDD!
Bukan.
Pada puncak pekerjaannya, Midorima Shintarou menjadi kepala penelitian lagi. Oh, syukurlah… Kepala penelitian lagi. Pikir Shintarou. Tapi apa yang terjadi berikutnya mungkin bisa dibilang tidak waras. Midorima Shintarou sekarang mulai khawatir pada kesehatan otak manusia untuk berfikir.
Shintarou pada puncak kejayaannya diminta untuk menjalankan misi Olympus.
Misi Olympus adalah misi dimana setiap orang dapat hidup kekal seperti dewa dewi seperti dalam Mitiologi Yunani dan memiliki kekuatan super seperti mereka juga. Supaya manusia dapat berdiri di kakinya sendiri dan dapat melindungi diri mereka sendiri. Sasarannya adalah orang-orang di rumah sakit jiwa atau bahkan orang yang sudah dikenal mempunyai virus langka di tubuhnya yang tidak dapat disembuhkan.
Melalui berbagai permasalahan intrik, Midorima Shintarou akhirnya menerima pekerjaan itu dengan harapan bisa menyembuhkan adik perempuannya tersayang yang menderita sakit sejak kecil yang memotivasinya untuk menjadi seorang dokter seperti sekarang ini.
Dimulai saat kata 'iya' meluncur dari bibir Midorima, ia bersama dengan tim dokter professional dari berbagai negara berusaha mewujudkan misi Olympus ini. Dia menangani berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan ini. Mulai dari mencari refrensi teori yang bisa dipakai, peralatan yang dikerjakan untuk mengekstrasi berbagai virus yang dijinakkan, tempat markas rahasia misi Olympus, dana dari pemerintah bahkan dari seluruh dunia –tentu saja ini illegal dan bahkan tidak terendus oleh WHO anehnya-, sampai pada anak-anak yang dikira punya potensi untuk bahan percobaan ini.
Mulai kata 'ya' keluar dari bibir Midorima, dia mulai menyadari pro dan kontra dari pekerjaan yang ia kerjakan saat ini. Pro tentu saja terjadi karena dia memiliki banyak channel dan juga banyak kenalan dari seluruh penjuru dunia, mempunyai banyak uang tentu saja karena bahkan dia mau makan saja pasti dibayar oleh orang lain, mempunyai jabatan tentu saja karena dia kepala penelitian misi Olympus, dan otomatis juga banyak perempuan yang jatuh cinta pada pesonanya. Kontra yang ia alami justru lebih banyak dibandingkan pro yang dia dapatkan, mulai dari tatapan kelewat sinis dari orang orang yang iri pada nya saat ini, orang orang yang kemungkinan akan menusuknya dari belakang begitu misi ini gagal, dan bahkan mendengar caci maki dari banyak orang.
Mulai kata 'ya' keluar dari bibir Midorima, dia mulai menyadari bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang jahat. Dia mulai menulikan dirinya dari teriakan, jeritan dan isak tangis anak-anak yang dijadikan bahan percobaan untuk misi ini. Jelas. Banyak percobaan yang dilayangkan pada mereka, mulai dari virus yang dijinakkan, dinaikkan kadarnya hingga 1000 persen, atau bahkan penyiksaan lainnya yang dialami banyak anak anak lainnya.
Midorima didaulat menjadi dokter berhati baja karena perlakuannya pada anak-anak. Sudah tak terhitung berapa dari mereka yang ia jadikan kelinci percobaan demi suksesnya misi ini. Demi harta dan harga diri yang akan didapatkannya. Dia kemudian berubah, mulai kata 'ya' dilayangkan pada selembar kertas kontrak yang disimpan negara, sumpah pada negara dan dunia bahwa ia akan menuntaskan pekerjaan ini, pada materai yang dilayangkan dan ditandatangani oleh tinta emas.
Semakin hari, bulan dan tahun bergulir saat Midorima mengerjakan misi ini, dia semakin lemah karena keegoisannya, tak hanya pada ambisinya untuk menyembuhkan sang adik yang terbaring lemah di rumahnya yang tersenyum padanya tiap dia pulang, yah meskipun dia hanya pulang beberapa bulan sekali untuk menjenguknya saja. Tetapi juga pada harta yang di-iming imingi oleh semua pihak apabila pekerjaannya berhasil. Dan juga jabatan yang dia ingini pun akan datang sendirinya apabila semua misi ini selesai. Dia mulai melupakan tugas mulia yang seharusnya ia emban sebagai mitra kesehatan, dan sekarang dia bahkan jatuh dalam keegoisan dan keserakahannya sendiri. Karena ambisinya itulah, perlahan lahan para kenalan yang bekerja padanya juga mulai menyusun rencana untuk menjatuhkannya. Dimulai dengan masalah yang terjadi pada misi yang dikerjakannya saat ini.
Masalah pertama yang dihadapai Midorima adalah, mulai terendusnya misi ini oleh pihak pemerintah secara legal dan mulai dikritik oleh media. Masalah kedua adalah misi ini terancam gagal karena setelah beberapa teori dan percobaan dilakukan, tetap tak ada yang berhasil. Masalah ketiga adalah kaburnya calon bahan percobaan dari markas, entah siapa yang memprakarsai kejadian ini, padahal markas tempat percobaan adalah markas yang tertutup dan tak bisa dijangkau bahkan orang ahli sekalipun. Masalah keempat dan yang paling berat menurutnya adalah, diajukannya voting pada anggota tim ini untuk menguji kelayakannya sebagai kepala penelitian misi Olympus.
Belum cukup semua masalah itu, Midorima didera masalah yang jauh lebih berat lagi.
"Shizuna. Kau kenapa, nanodayo?"
Entah siapa yang menghubungi adik perempuannya tersayang Midorima Shizuna, dia tiba tiba ada di markasnya bahkan di ruangan tempat dia bekerja dengan menodongkan pistol dengan wajah yang pucat padanya. Ia menjerit, kaget melihat adiknya yang pucat pasi dengan tubuh lemah berdiri didepannya menodongkannya pistol tanpa ragu seperti mayat hidup yang digerakkan oleh benang benang puppet. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya ini indikasi dari…
"Wah, wah, wah. Bukankah kau yang membuat semua kekacauan ini, Shin-chan?"
Siluet Takao Kazunari, wakil ketua yang merangkap pekerjaan di markas tiba tiba muncul dibelakangnya dengan satu injeksi virus yang masih menetes, dengan senyum sinis terpampang di wajahnya yang berbinar penuh kemenangan.
"KAU! Apa yang kau lakukan pada adikku, nanodayo!"
"Jangan pura pura bodoh, Shin-chan."
Takao berjalan menghampiri Shizuna, adik satu satunya Midorima Shintarou yang ia jaga dengan telaten dan penuh kasih sayang. Yang sekarang bertingkah seakan manusia yang tidak punyai akal dan bergerak hanya atas dasar perintah dari majikannya.
"Bukankah kau ingin menyembuhkan adikmu ini?" Takao mengelus dagu Shizuna, yang dibalas dengan gertakan gigi dari Midorima. Takao tersenyum sadis melihat Shintarou yang tidak bisa berkutik sedikitpun saat pekerjaan dan ramuan yang ia kerjakan diuji kebenarannya pada adiknya sendiri, yang mana Midorima sendiri belum pernah menemukan keberhasilan sekalipun dalam menggodok ramuan itu.
"Aku hanya mempercepat waktu penyembuhan adikmu, Shin-chan."
Midorima Shintarou terpuruk melihat kondisi adik kesayangannya didepannya. Tak sanggup mengatakan apapun atas kondisi yang saat ini tengah mendera dirinya dan adiknya yang sungguh-sungguh ia cintai dan ia sayangi. Sosok yang membuatnya ingin terus berjuang sebagai seorang dokter, yang membuat dirinya bahkan mengubah cita-citanya menjadi seorang dokter hebat yang bisa menyembuhkan penyakit dari adiknya sendiri. Sekarang, semuanya musnah.
"Aku hanya membuat dia seperti yang kau inginkan, Shin-chan. Harusnya kau bangga. Bukankah ini yang kau inginkan selama ini?"
"Nee, Shizuna-chan, kenapa kau tidak bicara pada Shin-chan apa yang kau pikirkan?"
"Onii-chan…"
Suara samar yang terdengar dari mulut Shizuna adalah salah satu yang bukan ingin Midorima Shintarou dengar, ia hanya ingin mendengar kata kata adiknya yang lebih manis daripada suara datar bak robot seperti ini.
"Aku membencimu."
Adiknya tidak mungkin mengatakan hal itu, seharusnya dia yang mengatakan seperti itu.
"Kau jahat, onii-chan. Kau seharusnya tidak hidup didunia ini. Aku benci mempunyai kakak sepertimu."
Tangisan mulai keluar dari pelupuk mata Shintarou, tidak tahan dengan segala masalah psikis yang menderanya, baik internal maupun eksternal. Shintarou kemudian melihat kearah Shizuna sekali lagi, yang berjalan mendekatinya tanpa ragu ragu dan menempelkan pistol pada jantungnya seraya berkata…
"Aku tidak membutuhkanmu. Lebih baik kau mati saja."
DOR!
Hidup seorang Midorima, berakhir hari itu juga.
Hidupnya sebagai seorang dokter, seorang yang terpandang, seorang yang diidolakan, seorang yang ingin dijadikan rival, dan bahkan seorang kakak.
Semuanya musnah. Pada hari itu.
"Lalu bagaimana caranya kau bisa kabur?"
"Untung saja waktu itu aku habis makan sandwich, nanodayo." Midorima sedikit membetulkan kacamatanya, melanjutkan pembicaraannya dengan anggota kelompoknya minus Aomine Daiki yang tengah menjalani misinya diluar sana.
Kise Ryouta memonyongkan bibirnya sambil mengernyit heran. Yah, wajar saja, meskipun dia tampan tak terkira dan punya banyak penggemar perempuan diluar sana, tidak diragukan lagi kalau sebenarnya dia juga punya IQ jongkok.
"Midorima-cchi, apa hubungannya sandwich sama mati, ssu~?"
"Aku tidak suka saus tomat, Kise. Makanya aku menumpuk banyak banyak saus tomat di saku saat pelayan restoran memberikanku terlalu banyak saus, nanodayo. Lagipula lucky item yang kubawa hari itu cukup empuk untuk menahan laju pistol."
Midorima menunjuk gantungan kunci bola basket yang tergantung di handphone-nya.
"Oh."
Suara oooh ria terdengar dari mulut Kise, mengangguk anggukan kepalanya seirama dengan nada oh yang dia keluarkan.
Keadaan di markas besar organisasi terror pagi hari ini bisa dibilang cukup damai. Beberapa mahluk warna warni ini juga ada yang sedang dalam good mood. Well, bisa dilihat dengan masakan sarapan pagi hari ini yang terbilang lengkap. Itu semua dimasak Murasakibara Atushi, tipikal orang yang jarang good mood sampai rela masak sarapan seperti ini. Oh, ya… Jangan bertanya mereka dapat uang dari mana bisa makan pagi semewah ini. Sungguh, kalian tidak akan mau tahu jawabannya.
Sarapan pagi hari ini dibuka dengan sesi tanya jawab dan cerita masa lalu dari seorang Midorima Shintarou. Pada masa lalu namanya dikenal oleh banyak orang, bahkan termasuk beberapa orang didalam ruangan ini. Eits, jadi buka flashback lagi di sesi ini.
"Aku sih pura pura tergeletak gitu, nungguin mereka pergi, nanodayo…"
"Ha'i, ha'i, Shizuna-chan, arigatou nee~"
Takao mencium pipi Shizuna dan mengguncal guncal rambut Shizuna. Puas rasanya melihat Midorima tergeletak tak bernyawa diatas lantai dengan darah di dadanya.
Shizuna yang dalam pengaruh virus yang sedang dikembangkan oleh tim dokter Midorima Shintarou hanya diam saja tanpa bicara, dengan mata kosong serta tangan yang masih memegang pistol yang masih mengeluarkan asap.
Langkah kaki Takao terdengar menggema didalam ruangan Midorima, matanya menjelajah ke seisi ruangan dan mengambil beberapa sampel darah dan virus yang dijinakkan dalam toples toples kaca.
"Jangan sampai kau tahu Shin-chan. Virus itu sudah berhasil kau kembangkan, hanya saja selalu kumanipulasi. Sayang sekali, kau tidak sepintar aku."
Tawa membahana terdengar dan menghilang seiring dengan tapak kaki Takao Kazunari yang menghilang ditelan kegelapan.
Midorima menatap secangkir earl gray yang dihidangkan untuknya. Kekentalan dan konsentrasi manis serta asam yang pas, suasana dingin serta hangat matahari juga pas, dengan angin sepoi sepoi yang menyambut lembut rambutnya.
'Khas suasana musim semi.'
Midorima menatap langit biru dengan awan yang berkumpul dekat dengan matahari yang bersinar tanpa membuat dia merasa kepanasan. Khas suasana musim semi yang benar benar disukai banyak orang.
'Aku akan membalaskan dendamku…'
Menatap kembali minuman hangat yang ada didepannya sembari menyesapnya perlahan, Midorima kembali mengingat-ingat saat-saat terpuruknya itu dengan wajah murung. Midorima selalu berusaha melupakan kejadian adiknya yang benar benar membuatnya sangat kaget disaat itu. Tapi semakin ia berusaha menutup telinga dan pikiran serta hatinya, ingatan itu terus kembali dan menghantuinya. Terus mengingatkan dirinya bahwa dia belum benar-benar menjadi seorang kakak yang baik. Menjadi seorang dokter yang baik. Dan bahkan-
Dia lupa apa tujuan hidupnya.
Saat dulu kedua orangtuanya meninggal, dia tinggal bersama dengan pamannya yang tempramental dan adik perempuan satu-satunya. Saat itu, mereka hidup dalam kemiskinan karena pamannya yang hobi berjudi. Saat itu, tujuan hidupnya adalah memisahkan diri dari pamannya, agar dia dan adiknya dapat hidup dengan nyaman. Saat dia masuk ke SMA, keinginannya untuk bisa lepas dari pamannya berhasil dilakukan karena dia mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah, sehingga dia bisa mendapatkan biaya untuk sewa apartemen dan kehidupan sehari harinya.
Kemudian tujuan hidupnya bertambah kesulitannya, dia bermimpi untuk menjadi seorang dokter hebat agar bisa menyembuhkan adiknya.
Ketika adiknya hilang dihadapan matanya, seketika itu juga dia sadar, bahwa ia telah kehilangan gairah hidup dan tujuan hidupnya. Ia kemudian berusaha memacu dirinya dan menjadikan hal lain untuk dijadikannya tujuan hidupnya. Sampai sekarang, dia bisa terus hidup, terus bernafas karena keinginannya untuk membalas dendam pada Takao dan keinginannya juga untuk menemukan adiknya.
Ya, mungkin seperti itu adanya.
Keadaan hening selama sarapan. Semua personil organisasi terror rookie ini, sibuk dengan makanan di mulutnya masing-masing. Bisa dilihat bahkan Akashi memakan sup tofu sembari mencorat coret strategi dari Midorima yang sedang diperiksanya.
Atushi baru saja membuka kemasan maibou yang entah keberapa untuk menemaninya sarapan saat seseorang masuk dengan jas penuh darah dari pintu masuk.
"Are, Mine-chin? Kau sudah pulang."
Mantan pangeran berambut merah dengan mata heterocrome ini kemudian menengok keadaan Aomine Daiki yang pulang dengan wajah lega dan bahagia. Tentu ia bisa tahu, semuanya berubah dari seorang Aomine Daiki. Atmosfer saat dia berjalan, aura yang dipancarkan saat dia berbicara, dan semacamnya. Tak puas hanya dengan mengamatinya seperti itu, Akashi kemudian membuka suaranya untuk mengomentari keadaan Aomine saat ini.
"Nampak senang, heh?"
Aomine tersenyum lebar, dengan seringaiannya yang khas. Dia kemudian mendudukkan dirinya di sofa sambil melonggarkan dasinya. –Lagi, jangan tanya kenapa kostum membunuhnya seperti itu.- Dia baru saja menerima segelas earl gray dari Midorima dan masih tetap tersenyum. Cukup lebar sehingga membuat seorang Kise Ryouta merasa ketakutan.
"Jadi, bagaimana laporannya?"
"Sukses besar, Captain Aka."
Kiyoshi Teppei tiba di kantor kepolisian sekitar jam sepuluh pagi tepat. Nafasnya terengah engah saat melangkahkan kaki di ruangannya. Sungguh, ia merasa hari ini adalah hari sial sepanjang minggu ini. Pagi pagi, ia menemukan bahwa apartemennya sangat berantakan, bangun terlambat, harus membereskan segala kekacauan di apartemennya sendirian, tidak bisa menghabiskan sarapannya dan kopinya, ditelfon mendadak saat sedang menikmati sarapannya, datang ke kepolisian telat, macet dijalan, terpaksa jalan kaki (baca:lari) ke kantor kepolisian, kejatuhan telur mentah dari pedagang yang tidak sengaja dia senggol saat sedang berlari dan tersiram air dari pipa yang rusak dijalan. Bisa tolong hitungkan sudah berapa kesialan yang ia coba jalani dengan susah payah hari ini?
Dalam hati Kiyoshi Teppei sudah menangis meraung raung meskipun sekarang wajahnya penuh dengan cengiran tanda tanpa dosa tanpa beban tanpa tekanan seperti Kiyoshi Teppei yang orang lain kenal.
Jaga image.
Kiyoshi terduduk di kursinya, menghela lelah dan setengah tiduran dengan menyandarkan kepalanya diatas meja. Sungguh, rasanya ia ingin membenturkan kepalanya berulang kali sembari mempertanyakan keberuntungannya hari ini. Meraung pada matahari dan rembulan, sambil menangis histeris dengan penuh kesungguhan hati. Kali saja ada dewa keberuntungan yang ikut bersedih dan memberikannya seribu satu kebaikan untuknya.
Lebay
Belum sempat Kiyoshi terduduk lama sembari menyesap oolong tea di mejanya, pintu ruangannya sudah diketuk tiga kali. Kiyoshi menolehkan kepalanya dan melihat siluet yang berada dibalik pintu. Tahu akan tabiat siapa itu, Kiyoshi meletakkan tehnya kembali diatas meja, mengambil id card kepolisiannya dan keluar dari pintu. Tebakannya benar. Mibuchi Reo tepat berada didepan ruangannya dengan nafas memburu dan kaki yang masih bergetar. Tanda kelelahan.
"Detektif Imayoshi Shouichi meninggal pukul 06:00 pagi tadi. Kepalanya hilang sementara tubuhnya ditemukan di ruangannya."
Sempat terdiam beberapa saat karena rasa kagetnya, kemudian Kiyoshi berjalan keluar ruangan dipimpin oleh Reo menuju sebuah ruangan yang sudah digarisi kuning khas kepolisian. Mungkin ini salah satu alasan mengapa mobile phone Souchi tidak bisa dihubungi sejak kemarin malam.
Membungkuk hormat sejenak kepada rekan rekan seperjuangannya, Kiyoshi kemudian membuka pintu perlahan dan melihat kedalam ruangan Souchi. Tidak ada yang berubah dari ruangannya. Masih aksen aksen rapih dan apik seperti biasanya, tidak ada atmosfir yang berbeda di ruangan itu. Masih nampak dokumen dokumennya yang terorganisir diatas meja. Intinya, tidak ada yang berubah.
Matanya kemudian tertuju kepada badan Imayoshi yang didapatinya terduduk di kursinya seperti biasa, dengan tangan memegang bolpoint yang sedang memeriksa dokumen terorisme yang menumpuk diatas meja kerjanya dengan segelas kopi yang masih ada diatas meja. Dingin. Mungkin dibuat saat lembur saat malam dan belum sempat terminum. Kiyoshi hanya bisa terdiam. Jujur saja, ruangan itu nampak seperti tidak ada pembunuhan sama sekali. Hanya terlihat bekas darah menetes di meja dan lantai. Hipotesis sementara Kiyoshi hanya bisa mengatakan dia dipenggal diruangannya saat malam hari dia lembur dan baru ketahuan oleh orang orang sekitar saat paginya masuk kantor.
Saat Nebuya mengatakan kronologi sementara, kemudian Kiyoshi merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Tunggu dulu. Kemarin Souchi pulang bersamaan denganku dan dalam keadaan para pegawai sudah pulang."
Seluruh rekan rekannya kemudian terdiam. Bahkan termasuk Nebuya yang laporannya dihentikan sepihak oleh Kiyoshi.
"Lalu apa anehnya, Kiyoshi-san?"
Hayama menerjapkan matanya heran.
"Mustahil dia bisa masuk kembali kemari tanpa membuka pintu bagian depan. Sepagi apapun pegawai datang tidak akan dibukakan pintu oleh office boy karena dia tidak tinggal disini, kecuali kalau dia lembur. Kunci bagian depan maupun kunci ruangannya akan dia pegang. Intinya, dia lewat mana saat kembali kemari?"
"Kau benar." Hayama mengucapkannya tanpa berfikir dua kali.
'Pembunuhnya pasti jenius. Tidak ada kerusakan di jendela, pembunuhan rapih. Tidak ada tanda pintu yang dijebol. Tidak ada jejak kaki. Satu satunya jejak kaki yang tersisa hanya jejak kaki Souchi. Tidak ada sidik jari menempel dimanapun. Dia membuat kami berfikir bahwa Souchi adalah satu satunya orang yang masuk kemari. Tidak ada yang lain.'
Kiyoshi nampak berfikir keras sembari terus menerus mengetuk ngetukkan jarinya ke atas meja kerja Souchi. Sampai tangan seseorang menyentuh lehernya membuatnya terjungkal karena kaget.
"KUROKO! Berhenti mengagetkanku!"
"Maaf, Kiyoshi-san. Aku daritadi disini."
"Oh, maaf. Kesalahanku."
Seorang pemuda berpostur kecil dan mungil, bermata bulat, berkulit putih pucat dengan rambut berwarna sky blue itu terus menatap Kiyoshi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Didalam dekapannya nampak beberapa print out berwarna hasil penyelidikan kasus pembunuhan Imayoshi Souchi. Pemuda yang kira kira baru dikenal Kiyoshi dua bulan ini memang wajah baru di kepolisian. Fresh graduate dengan major kriminologi ini memang baru saja masuk ke timnya kurang lebih seminggu yang lalu, menggantikan posisi pendahulunya yang pensiun. Jujur saja, keberadaannya sulit dirasakan. Terkadang dia terlihat tidak ada meskipun sebenarnya ada disana dari beberapa waktu yang lalu.
Namanya Kuroko Tetsuya.
Rookie satu ini cukup berprestasi meskipun baru hitungan bulan masuk kepolisian. Salah satu daya tariknya sebagai penyidik mungkin ada pada pemikirannya yang tidak biasa. Memikirkan sesuatu yang orang lain tidak pikirkan. Yhea, hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Kiyoshi. Mungkin, itu salah satu alasan pula kenapa Kiyoshi bisa memilih Kuroko untuk masuk kedalam timnya selain sifat pekerja keras dan… Keras kepala.
"Ada apa kau tadi memanggilku, Kuroko."
"Err, hanya mau menanyakan apakah kau mendapatkan mail yang sama dari kepolisian sekitar tiga menit yang lalu?"
"Eh. Aku belum melihat mail."
Mendengarkan sembari membuka mail di smartphonenya. Melihat entri teratas dari lembaga kepolisian cukup membuatnya terkaget kaget.
"Iya. Aku mendapatkannya."
Suara getar sesaat saat membuka mail misterius –entahdarisiapa- berupa video. Tanpa menunggu waktu lama untuk download, Kiyoshi kemudian melihat pampangan wajah Imayoshi Souchi di pipa air dengan luka baret sepanjang matanya, luka bekas jahitan membujur sekitar dahi hingga dagu dan bekas bekas lepuhan disekitar lehernya serta lubang di dahi persis ditengah kedua bola matanya, cukup membuat Kiyoshi dan Kuroko mengernyitkan dahinya heran.
"Apa tujuannya mengirimkan mail ini? Tunggu. Siapa yang mengirimkan ini!"
Hayama menggeram perlahan melihat keadaan menyedihkan yang diperlihatkan di video tersebut. Benar benar mencoreng nama kepolisian, pikir Hayama. "Sesuatu yang harus kau pikirkan sekarang bukan itu, Hayama." Suara Reo perlahan membuat Hayama memalingkan wajahanya ke arah Reo.
"Kita harus ke pipa saluran air tersebut sekarang juga. Setidaknya jangan sampai berita ini luas menyebar ke media."
"Cek dimana saluran pipa itu berada, Reo."
Kiyoshi mengatakannya dan berlalu. Kuroko hanya melihati Reo yang nampak serius. Cukup sulit melihat Reo serius seperti ini, pekerjaannya di kepolisian yang Kuroko tahu hanya menggombali gadis dan pria pria yang lewat didepannya. Dia jarang terlihat mengerjakan pekerjaan dan dokumen dokumennya. Bahkan pekerjaannya sehari-hari dikerjakan olehnya (Kuroko) dan Nebuya, kalau Reo berhasil membujuk Nebuya untuk mengerjakan tugas tugasnya dengan membayarinya makan, meskipun tidak pernah dilakukannya. Cukup mengherankan mengapa Nebuya masih saja percaya kalau Reo akan membayarinya makan padahal ia tahu sudah sering dibohongi setiap hari. Bodoh.
Menurut informasi yang beredar di kepolisian, tim dimana Kuroko berada saat ini penuh dengan manusia manusia yang bisa dibilang… Err, abnormal? Tim mana lagi yang punya orang yang bisa makan sampai sepuluh porsi makanan dan masih bilang belum kenyang. Orang yang kerjanya selalu menggombali siapapun yang lewat dan tidak pernah mengerjakan apapun. Orang yang kerjanya hanya bisa berteriak kesana kemari, semangat tapi pikirannya pendek. Orang yang kelewat santai dan selalu melanggar aturan seperti misalnya datang terlambat dan tidak mengikuti apel pagi. Orang yang…. Tidak pernah masuk ke kantor, etiked jelek, berwajah mafia dan bertingkah juga seperti mafia. Shortly, tidak ada. TIDAK ADA.
Saat ditawarkan untuk menjadi bagian dari tim ini saja, Kuroko menolak berkali kali. Tapi, apa daya… Melihat senpai senpainya terus menerus membujuknya untuk masuk kedalam timnya, seperti orang yang benar benar terobsesi akan sesuatu. Membuat bulu kuduknya meremang tiap kali mengingatnya.
.
"Nee, kawaii hitsuji. Ayo temani Reo-nee. Aku berjanji akan menjagamu dengan sepenuh hati. Aku tidak akan membuatmu rusak ataupun menyentuhmu dengan ka-!"
Yah, yang itu harus disensor karena terdeteksi sebagai pelecehan seksual.
.
"Kuroko-san, kau sungguh sungguh tidak mau masuk kedalam tim penyelidik kami? Padahal aku sudah susah payah mengajukan hal ini, lho. Aku benar benar berjanji kalau kau tidak akan menyesal apabila masuk kedalam tim ini."
Masih persuasi biasa. Kuroko tahan iman. Dia lebih baik bekerja biasa daripada harus bertemu banci setiap hari, orang tukang buat onar dan blablabla
.
"Kuroko-san. Kau tahu… Di gang sebelah kantor ada sosok kegelapan yang suka membunuh orang yang tidak mau mendengar perintah atasannya. Jadi kurasa kau harus siap siap… Apa? Mengancammu? Tentu saja tidak… Bencanda saja kok, wee…"
Terdengar mulai menyeramkan.
.
"Kuroko-san. Hayama bisa membuat kerajinan tangan. Kemarin kudengar kau sedang mencari orang untuk ikut bersamamu ke festival kerajinan itu kan. Aku siap kok. Ini, aku buatkan baju untuk nigou. Takut kalau dia kedinginan."
Kuroko juga bisa membuat baju untuk Nigou. Eh, tapi baju itu terlihat bagus. Nigou kalau memakainya pasti terlihat bagus. Ambil, tidak. Ambil, tidak. Ambil…. Ambil aja deh, kan dikasih orang. Tapi, gak ikut masuk tim ya. Tapi boleh deh, nanti dipertimbangkan.
.
"Kuroko Tetsuya-san, aku punya banyak voucher milkshake di Maji Burger. Aku berjanji akan memberikan semuanya apabila kau masuk kedalam tim kami."
Yaaaaa…. Kuroko masih tahan iman. Eh, Kuroko? Tunggu, jangan ambil voucher itu. Kuroko… Kuroko! KUROKOOOOOOOOOO!
.
Yah, demikian ceritanya bagaimana Kuroko Tetsuya bisa masuk kedalam tim yang abnormal ini. Mengingatnya saja membuatnya facepalm di ujung tembok sebelah sana, bermain dengan darah inspektur Imayoshi.
"Kuroko-san, bisa tolong panggilkan Hanamiya? Katakan padanya aku sudah menemukan lokasi pipa air ini. Aku mau cepat selesai, sudah punya ticket booking dengan seseorang hari ini."
Sungguh, keabnormalan ini menyiksa batin Kuroko. Sangat.
"Bermain main dengan korban, membunuh tanpa jejak, kepala dibuang ke pipa saluran kotoran, melepuhkan seluruh bagian kepala dengan air panas dan menuangkan cairan raksa ke kedua bola mata, dan ada surat di bekas jahitan luka itu?"
Kiyoshi mulai menggelengkan kepalanya. Heran. Ada manusia yang tega melakukan hal itu.
"Bawa saja itu pada Hanamiya, aku tidak mau membacanya."
Lebih tepatnya karena bau.
Hayama mengangguk perlahan, mengenakan sarung tangan steril dan maskernya serta membawa surat itu untuk dibaca oleh Hanamiya.
"Eh, Kiyoshi kun."
Langkah Hayama kemudian terhenti dan membalikkan badannya pada Kiyoshi.
"Maaf, aku baru sadar… Hanamiya langsung pulang setelah mengambil kepala-."
"Cukup Hayama, bawa kemari."
Dari pagi tadi hingga matahari tenggelam sekarang, Kiyoshi baru sadar bahwa ini adalah hari terburuk sepanjang masa ia hidup. Begitu banyakkah dosa yang sudah ia perbuat hingga dewa tidak mau memberikannya sedikit keringanan? Gerakan tangan membuka pucuk surat dengan perlahan dan dengan gerakan yang extra hati-hati. Surat itu rapuh karena terus menerus kena air, maka Kiyoshi tidak mau ambil resiko apabila surat itu robek dan ia tidak bisa menemukan sesuatu didalamnya.
Sebuah kartu kecil dengan sifat tahan air berada disana.
.
Code: XXOyY
"Masukkan kode diatas pada IP adress dibawah ini sebelum pukul tujuh tepat."
.
Hal pertama yang dilakukan oleh Kiyoshi adalah bertanya jam pada Hayama.
"Hayama, jam berapa sekarang."
"errr… E-eto…"
Dengan gerakan buru buru, Hayama mengambil mobile phone di sakunya dan meneguk ludahnya.
"… Pukul tujuh lewat lima menit."
.
"Apabila kalian tidak memasukkan kode diatas pada IP adress sebelum pukul tujuh tepat, selamat menikmati kudapan ringan dari kami di situs dan media media terdekat.
Regards,
C.A"
.
"Oh, tidak…."
-To Be Continued-
A/N: di footnote ini saya gak berani ngomong dan janji yang macem macem ya kawan kawan. Saya takut tidak bisa menyeimbangi janji dan dunia realita saya. Perlu saya tekankan bahwa menulis memang hobby saya dan yayang saya #wink, tapi kalau saya sudah sulit mengimbanginya, saya rasa hal inilah yang terjadi. (Bilang aja males mau ngelanjutin, gak punya feel cukup untuk meneruskan baby baby yang unyu ini. Elaaaaah.) Sebenernya di chapter ini saya mau ngejelasin soal musuhnya Midorima, tapi takut kepanjangan karena kasus yang kemarin belum dibahas tuntas. Makasih banyak yang bisa bertahan untuk terus membaca sampai akhir, jujur saya tahu ini masih banyak kekurangannya... tapi saya akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dalam menyampaikan ide ide saya berikutnya. Oke, sampai jumpa pada chapter berikutnya ya~. Ditunggu reviewnya.
Review for Anonymous reader:
Yuuki: Wah, makasih banyak atas reviewnya sayangku. #hugs iya kok, dicerita ini gak fokus pada BLnya, lebih ke hurt comfortnya aja, biar feelnya nyampe. Kalo fokus ke BL, nanti saya bisa kebablasan. #eluajayangmesum, Aku sudah berusaha memanjangkan flashbacknya nih... Maaf kalau kurang panjang yah... TTATT. Baca dan review lagi ya sayang. Ditunggu di chapter berikutnya.
