A/N: Hallo felaasssssssssss, pakabs~! Maaf banget aku baru update setelah lama sekali gak update. Saya harap kalian tidak lupa sama barang ini ya dan tetap membacanya hehehehehehe! Silahkan dinikmati santapannya, saya yakin kalian kangen sama benda ini. Enjoy it!
Warning to: OOCs, typos, kalimat tidak efektif dan sejenisnya.
Mari kuajari bagaimana cara membuat bom mematikan
Kepala inspektur Imayoshi Shoichi membunuh korban pelecehan seksual yang ditemukannya di pinggiran kota Tokyo. Hal ini dilakukannya karena ia sudah tidak mau berurusan lagi dengan korban tersebut karena korban sudah berulang kali datang ke kantor kepolisian meminta kejelasan dari kasusnya tersebut.
Comments:
XXny: Jahat sekali. Ada ya polisi seperti itu…
NNYh: Hah? Imayoshi Shoichi? Bukannya dia polisi yang terkenal itu? Ini hoax kah?
RRHn: Kakak dari korban itu adalah temanku. Dia mengatakan hal yang serupa juga. Polisi zaman sekarang cuma mau enaknya saja.
NNYh: RRHn benarkah itu? Wah Jahat banget.
Siapkan bahan bahannya. Bahan utama berupa kebenaran dan bumbu utama berupa kebohongan
"Imayoshi Shoichi terlihat menghadiri pertemuan dengan kepala kepala mafia. Didalam video nampak jelas bahwa Shoichi disuap oleh kelompok mafia tersebut untuk tidak membeberkan lokasi dimana tempat markas utama dari kelompok mafia terbesar yang meresahkan warga sekitar."
.
"Jujur saja, saya awalnya tidak percaya dengan hal-hal seperti ini."
"Saya berfikir bahwa dia orang yang sangat baik."
"-Kinerjanya juga bagus di kepolisian."
Tebarkan kebenaran hingga muncul aura aura kebencian
Imayoshi Shoichi tertangkap kamera menyuap departemen kehakiman karena salah satu anggota kepolisian tengah disidang karena menggunakan narkoba saat menjalankan tugas.
Comments:
QWhN: Kok bisa gitu ya? Perasaan dia selalu kampanye anti narkoba.
HHYN: Iya, sering banget liat poster dia dimana mana kalau dia anti narkoba.
ERRB: Wah, kerjaan polisi zaman sekarang bisanya ngomong doang nih. Gak ada kenyataannya.
"Berita singkat hari ini. Karena banyaknya pemberitaan miring diluar sana tentang inspektur tertinggi di kepolisian, Imayoshi Shoichi... banyak masyarakat yang mengajukan tanda tanya besar kepada kepolisian. Ini ditandai dari hasil survey yang mengatakan bahwa kepercayaan mereka terhadap lembaga kepolisian menurun."
.
"Diskusi kami pada pagi hari ini ditemani oleh pakar dari universitas ternama membahas fenomena dan berita yang meluncur di media tentang sepak terjang Imayoshi Shoichi yang mencoreng nama kepolisian akhir akhir ini. Bagaimana pendapat kalian?"
"Polisi sebagai lembaga yang dielu-elukan masyarakat seharusnya bisa menjaga nama baiknya dengan bekerja secara bersih dan transparan, sunguh merupakan kesalahan yang fatal mengetahui bahwa ada oknum kepolisian yang bisa dikatakan sebagai public figure bahkan terkenal ini masih berani melakukan kesalahan yang tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Saya rasa wajar kalau masyarakat tidak percaya lagi dengan lembaga yang bersangkutan"
"-Sepandai pandai apapun orang menutupi kesalahannya, suatu saat pasti terlihat juga belangnya kan. Nah, ini bau busuk dari kejahatan yang dia lakukan baru terkuak sekarang."
"Kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan?"
"Membuat publik kehilangan kepercayaan kepada lembaga pertahanannya"
"Ya, itu akan membuat goncangan besar."
Biru terkekeh pelan pada merah.
"Wah, saya nggak mau ngomong banyak. Hanya saja karena sudah banyak berkembang di dunia maya juga saya cuma mau ngasih tahu aja memang dia itu sudah busuk sejak awal. Gak ada yang bisa dipercaya dari omongannya. Dia itu berwajah dua. Bisa bilang hal yang baik baik pada kalian. Nanti dia ngomong ke orang lain beda lagi, gitu."
.
"Kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan membunuh banyak orang. Cukup satu orang yang berpengaruh."
"Kemudian buat pandangan masyarakat mengerucut, buat orang lain benci pada lembaga meskipun itu hanya terjadi pada satu orang."
Lalu campurkan sedikit kebohongan dan kebenaran. Tunggu hasilnya.
"Saya memang sudah tidak suka semenjak dia masuk."
"Auranya memang tidak mengenakan. Dia itu licik."
"Ah, petingginya aja seperti itu, apalagi anak buahnya."
"Heran, kenapa baru sekarang keluar berita kaya begini."
"Ah, pantesan banyak orang mau kerja jadi polisi."
Tunggu bom itu meledak dengan sempurna.
"Bagaimana pendapat anda sebagai teman dari Imayoshi Shoichi, Kiyoshi Teppei?"
"Sebagai rekan kerja, Imayoshi merupakan orang yang bisa diandalkan. Kinerjanya baik dan memuaskan. Kami tidak bilang kalau dia tidak bersalah, hanya saja banyak hasil pekerjaannya sebelum ini baik baik saja, jadi kami cukup terkejut dengan munculnya permasalahan ini"
"Lalu bagaimana pendapat anda kalau Imayoshi Shoichi membunuh teman sejawatnya sendiri, Aomine Daiki?"
Tebarkan sedikit lagi kebenaran didalam wadah dan biarkan tertutup rapat.
" Ah…"
Kiyoshi Teppei hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan itu, kemudian dengan nada ragu ragu dia menjawab, "Saya rasa hal itu hanya Shoichi sendiri yang bisa menjawab. Untuk sementara tolong jangan bicarakan ini dulu, kami sudah cukup berduka atas kepergian Shoichi. Terimakasih."
.
"Teman makan teman di kepolisian. Padahal Aomine Daiki lebih baik daripada Imayoshi Shoichi."
"Ah, paling dia cuma mau cari jabatan doang. Hal itu sudah biasa di kalangan kepolisian."
"Tapi kalau sudah main bunuh, itu keterlaluan namanya."
"Polisi macam itu sudah tidak bisa diandalkan lagi."
Inspektur Imayoshi Shoichi ditemukan meninggal dengan keadaan terpisah antara tubuh dan kepalanya. Sempat dinyatakan bahwa kepalanya hilang, pihak kepolisian kemudian menemukan kepalanya di saluran kotoran dan tubuhnya di kepolisian. Belum ditemukan siapa pelaku dari pembunuhan tersebut. Tapi kuat dugaan bahwa ada pihak orang dalam.
.
"Wah, kepalanya ditemukan di saluran kotoran. Pas banget sama attitudenya."
"Tuh kan, makan temen hasilnya dimakan temen sendiri."
"Bagus deh kalau dia sudah mati."
Maka bom kebencian anda berhasil meledak dengan sempurna
.
"Dia memang pantas mati seperti itu."
.
DUAAAAARRRRR!
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadaoshi
The Lost Sight © BLANK-98
"KUSOOO!"
Suara bantingan koran mencium lantai kemudian menyusul.
Kiyoshi Teppei sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Terhitung sejak dua minggu yang lalu sejak kematian mantan sohib sekaligus mantan penyidik utama di kepolisian, masalah yang ia dan lembaga kepolisian hadapi semakin runyam. Semakin hari, ada saja masalah yang datang. Awalnya, Kiyoshi bisa menanganinya dengan kepala dingin, tapi semakin hari masalah itu semakin besar, semakin membuatnya tidak sabar karena ditekan terus menerus.
Jujur saja, dalam perspektif timnya, Kiyoshi Teppei terkenal sebagai orang yang sangat sulit tersulut emosi. Meskipun dia ditekan dan terus menerus dihajar oleh berbagai macam masalah dan perdebatan yang membuat darah mendidih, dia akan tetap tenang dan mengatasi segala masalah. Maka dari itu, ketika Reo melihat teman seperjuangannya ini meluapkan amarahnya pada segala macam barang yang ditemukan dihadapannya dia tahu bahwa masalah ini benar benar menyiksanya.
Dia tidak bisa menahan ini sendirian.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Sungguh."
Mibuchi Reo yang terkenal bisa menenangkan siapapun kali ini angkat tangan. Dia menghela nafas lelah dan tidak bergerak sama sekali mencoba untuk menenangkan kawannya didalam. Di luar ruangan Kiyoshi kini terlihat sekitar empat orang. Kalau saja Reo tidak salah menghitung. Eh, tunggu? Reo sepertinya tidak melihat ada seseorang dengan rambut biru muda mengalahkan warna langit itu daritadi. Lagipula, dia siapa?
"EH! Kuroko-san, sejak kapan kau disini!?"
Kuroko melihat dengan tatapan aneh pada Reo.
"Jelas aku disini daritadi, Mibuchi-san."
Kesal karena tidak terlihat sekarang terdeteksi diwajah datarnya. Reo mendesah lagi, kali ini dengan sarat wajah lelah sambil memijat pelipisnya yang pening.
Kuroko Tetsuya memang belum mengenali betul watak dari teman teman barunya saat ini. Ia sendiri nampaknya memang baru kali ini melihat Kiyoshi seperti itu. Lagipula selama ini, Kiyoshi bukanlah orang yang bisa sesumbar masalah pribadinya meskipun kepribadian hariannya selalu cengengesan. Dalam hati, Kuroko pun menyetujui kalau media selama dua minggu ini tidak henti hentinya menyorot kinerja Imayoshi Shoichi dan terkesan memojokkan lembaga. Tentu saja Kuroko mendapatkan imbasnya, apalagi saat orang orang melihatnya dalam balutan seragam biru polisi. Tatapan sinis dan bisik bisik mencemooh tak pelak ia dengar.
Suara amukan dan bantingan di ruangan Kiyoshi kini mulai mereda dan itu berhasil mengambil perhatian ke-empat rekannya yang berada disampingnya. Hanamiya, seseorang yang sama sekali belum pernah bicara dengan Kuroko –kecuali saat merayunya agar masuk tim- kemudian angkat suara.
"Sudah berhenti. Hei kau, bocah biru. Masuk. Tenangkan dia."
Suara teriakan tertahan sontak terdengar dari mulut Reo. Pria yang diakui paling cantik seantero kepolisian ini kemudian dengan refleks meraih tubuh Kuroko yang memang lebih kecil –baca: sangat kecil dibawahnya- dan memeluknya erat.
"Eeeeeeh. Aku saja gak berani masuk. Jangan dia… dia itu my kawaii hitsuji. So, it's a big no no!"
Reo mengatakannya dengan menggunakan nada cerianya seperti biasa. Cukup untuk mencairkan suasana diantara mereka berempat. Kuroko mau tak mau tertawa pelan. Menghargai lawakan khas yang dilontarkan oleh seniornya yang dinilainya sebagai norma sopan santun kali ini.
Lelaki dengan surai teal dengan manik bernada sama ini kemudian mencoba mengambil inisiatif.
Pertama, ia melepaskan tangan Reo yang sedari tadi terus menerus memeluknya. Diabaikannya tatapan aneh yang dilempar oleh Reo dengan senyuman samar. Kemudian, dia meraih kenop besi yang menjadi penghalangnya untuk bertemu dengan Kiyoshi Teppei yang sedang terpuruk sendirian di ruangannya.
Kuroko sudah bisa mengkalkulasikan apa yang akan terjadi seandainya Kiyoshi menolaknya untuk bertemu dengannya. Apa yang akan terjadi pada wajah unyu unyu nya ini? Ditimpuk buku dan dokumen? Atau badannya jadi tameng untuk… kursi yang akan dilempar? Itukah yang akan terjadi? Bulu kuduk Kuroko meremang sekarang membayangkannya.
'Jangan memikirkan hal lain kecuali yang ada dihadapanmu.'
Inhale, exhale. Inhale, exhale.
Sekali lagi, Kuroko berusaha untuk menenangkan dirinya dan menyudahi pikirannya yang iya iya barusan.
Ditolehkannya kepalanya kepada rekan rekan tim abnormal dibelakangnya seakan akan meminta dukungan dan tatapan matanya dibalas dengan tatapan 'kami mendukungmu, Kuroko-san. Ganbatte!'
Menyerah dengan kelakuan teman-temannya, ia pun mengetuk pintu tiga kali.
"Kiyoshi-san."
Dibalas dengan suara hening. Seakan-akan Kiyoshi Teppei menghentikan seluruh aktivitasnya, termasuk bernafas.
Nggak.
Itu lebay. Maaf.
"Masuk Kuroko."
Suara berat yang terdengar sedikit serak nampak membalas perkataan Kuroko. Pertanda Kuroko untuk memutar kenop besi itu untuk menemui sesosok pria yang frustasi didalam.
Pemandangan yang Kuroko dapati didalam benar-benar berantakan. Tumpukan kertas, laptop yang masih menyala dengan masih memperdengarkan berita hangat hari ini, koran koran yang bertebaran dilantai termasuk koran hari ini yang mendapatkan ciuman pertamanya pada dinginnya lantai. Cangkir kopi yang sudah bertumpuk tanpa isi dan sesosok pria yang kini tengah membaringkan kepalanya diatas meja dengan rambut acak acakan dan terlihat frustasi.
Mungkin terdengar lebay, tapi semenjak Imayoshi meninggal, dia menjadi bulan-bulanan media. Media terus menerus mengatakan bahwa dia adalah penerus Imayoshi, dalam artian tidak baik. Meskipun awalnya Kiyoshi santai santai saja, namun ketika ada media yang mengompori bahwa dia akan mengikui jejak Imayoshi yang membunuh partner terdekatnya… wajah Kiyoshi benar benar berubah. Kiyoshi adalah orang yang setia kawan, sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Imayoshi. Jelas kalau Kiyoshi darahnya mendidih ketika berita itu terus menerus bergulir satu minggu terakhir.
Jika ditilik lagi, Kiyoshi Teppei dapat disimpulkan sebagai orang yang sensitif. –ya, sensitif. Tapi bukan berarti sensitif di ranj- Oh maaf, bagian ini harus di sensor karena menjurus pelecehan seksual.
Menyadari bahwa Kuroko sudah masuk dan pintu telah tertutup rapat, Kiyoshi menaikan kepalanya dari meja dan menatap wajah Kuroko lurus dengan penampilannya yang acak-acakan.
"Langsung saja."
Suara serak Kiyoshi kemudian membangunkan Kuroko dari alam bawah sadarnya.
"Apa yang membuatmu masuk kemari?"
Skakmat.
Kuroko menganga imajiner, tidak tahu harus berbuat apa. Saat masuk ke ruangan ini dia tidak berfikir apapun sungguh. Perlahan lahan dalam waktu singkat itu dia gunakan untuk memutar otaknya untuk memutuskan hal apa yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Kiyoshi.
"Kuroko."
"Ah, ya…"
Kuroko mulai membuka mulutnya, mangap mangap kayak ikan lagi menggelepar diatas tanah kekurangan air.
"Eh, itu… begini… Kiyoshi-san."
Meneguk ludahnya perlahan, kemudian Kuroko melanjutkan ucapannya lagi.
"Ini sedang musim semi bukan?"
Pertanyaan retoris yang dikeluarkan Kuroko mau tak mau membuat Kiyoshi menautkan kedua alisnya bingung. Kemudian, tertawa perlahan.
"Kau ingin aku menjawab apa, Kuroko. Tentu saja."
Helaan nafas lega ketika ia mulai mendengar suara tawa Kiyoshi.
"Begini Kiyoshi-san, aku kan baru saja masuk tim penyelidikannya Kiyoshi-san dan rekan rekan yang lain. Aku berencana untuk mengajak kalian untuk makan malam bersama dirumahku. Sekalian kita bisa hanami, soalnya disamping rumahku ada pohon sakura."
Good idea, Kuroko-kun!
Kuroko bisa mendengar ucapan tak terdengar dari rekan rekannya yang ada dibelakang pintu, mengawasinya berbicara dengan Kiyoshi. Dalam hati Kuroko merutuk pelan, menyumpahi rekan-rekannya yang terlalu penakut untuk hal ini.
Kiyoshi nampak menimbang nimbang dan mulai berpikir untuk menolaknya.
"Ah, maaf… Kuroko. Aku sepertinya tid-"
"Aku lupa memberitahumu, Kiyoshi-san. Kemarin aku membeli setumpuk dorayaki dan aku tidak tahu bagaimana harus menghabiskannya."
Seketika air muka Kiyoshi berubah.
"Aku ikut. Ayo kita bersenang senang~"
Dalam hati Reo mengingat bahwa Kuroko mempunyai jurus tertentu dalam membujuk seseorang. –baca: menyogok-
Murasakibara Atsushi, titan berwarna ungu dengan kelakuan dasar seperti bocah berusia tiga tahun ini sedang memasak makanan ketika melihat seorang pemuda dengan perawakan tinggi tegap dengan kulit nampak sedikit gelap baru saja keluar dari kamar mandi.
Aomine Daiki.
Bagi Murasakibara, Aomine bukanlah orang yang sangat dekat dengannya. Ia –Murasakibara- jarang berbicara empat mata atau bahkan berdiskusi dengan anak anak perkumpulan pelanginya yang lain, kecuali saat sedang kumpul. Cukup mengherankan memang, apalagi mengingat Murasakibara adalah orang yang pertama kali membentuk perkumpulan ini.
Pemuda berambut ungu itu memang tidak mengatakan dengan gamblang apa yang mendasari tindakannya. Menjadi orang pendiam yang bertugas memasak hasil buruan tangkapan rekan rekannya dan tidak pernah bertugas diluar markas nampaknya sekarang menjadi pekerjaan favorit titan ungu ini.
Sadar terus menerus diperhatikan oleh Murasakibara, Aomine meliriknya sejenak dan menangkap basah Murasakibara yang terus menerus memperhatikannya.
"Kau bisa bintitan kalau melihatku terus seperti itu."
Murasakibara mendengus pelan dan memalingkan wajahnya, malu karena tertangkap basah telah memperhatikannya. Ia kemudian mengaduk sup hangat kacang merah request dari Midorima kemarin. Tak menyadari si pemuda berkulit tan itu mendekatinya perlahan dari belakang sembari menghanduki rambutnya yang masih basah.
"Kita jarang sekali bicara, Murasakibara."
Lebih tepatnya karena Murasakibara menolak untuk bicara dengan siapapun. Kecuali kepada kapten merah unyu unyu gemez kesayangannya, Akashi Seijuurou dan pemuda pirang dengan sifat ceria melebihi kelinci kelebihan gula, Kise Ryouta.
"Mine-chin, jangan ganggu aku. Tunggu saja diruang makan. Aku sebentar lagi kesana."
"Murasakibara."
Ting!
Suara sendok beradu besi. Murasakibara hanya terdiam, hal yang serupa pun juga dilakukan Aomine yang masih menyender di kitchen island dibelakang Murasakibara. Aomine tahu bahwa baru saja ia memprovokasi perang mulut dengan Murasakibara. Terkesan sepele memang, tapi Murasakibara tidak suka diajak bicara. Dengan siapapun. Entah apapun alasannya, Murasakibara sendiri tidak pernah mengatakannya. Satu hal yang Aomine tahu, selama ini Murasakibara hanya bisa mentolerir untuk berbicara dengan Akashi dan juga Kise.
Mengingat nama pemuda pirang yang disebut terakhir berhasil membuat Aomine kesal.
Satu hal yang Aomine Daiki pelajari saat masuk kedalam perkumpulan ini adalah untuk mentolerir tingkah kekanak kanakan dari orang yang usianya paling tua diantara lima rekan-rekannya yang lain, yah… Siapa lagi kalau bukan si titan ungu yang tingkahnya seperti crying baby didepannya ini. Bukan tanpa alasan Aomine menyentuh zona privasi dari Murasakibara, tapi ini sudah keterlaluan baginya.
"Kau menggangguku, Mine-chin. Menjauh atau kuhancurkan kau."
Terbukti dari ucapannya yang terakhir, Aomine kemudian terkekeh perlahan sambil melancarkan senyuman seringai terbaiknya beserta dengan aura aura kegelapan yang ia pinjam dari kapten tersayang si titan ungu, Akashi Seijuurou.
"Heh. Seperti kau bisa…"
"Lagipula bukankah kau yang sejak awal memprovokasiku, Murasakibara?"
Langkah kaki Aomine yang terkesan dingin sekaligus mengintimidasi kemudian mendekati pemuda titan ungu yang masih saja terdiam.
Permasalahan kecil sebenarnya.
Tahu majalah Horikita Mai? Majalah porno wanita berdada besar yang sangat disayangi oleh Aomine?
Yah, awalnya dari majalah itu.
Majalah Horikita Mainya –Aomine- tersayang, dijadikan alas penggorengan kushiage kemarin. Majalah itu masih baru. Masih sangat sangat sangat baru. Baru saja Aomine melepas segelnya kemarin dan dia sudah menemukan kertas kertas tersayangnya itu, yang ia apresiasikan per lembarnya itu… menjadi alas gorengan.
Aomine Daiki berusaha mati-matian mendapatkan majalah itu dan itu adalah satu satunya hartanya yang berharga. Majalah itu sangat mahal dan Akashi hanya bisa memberikan uang untuk membeli majalah itu sebulan sekali kalau ia berhasil melakukan misinya. Permasalahannya, misinya selalu merupakan perjuangan hidup dan mati.
Maka begitu menemukan kertas itu menjadi alas gorengan, Aomine sudah tidak tahu lagi bagian hati mananya lagi yang masih utuh. Rasanya itu sakit, man.
"Hei, Murasakibara."
Suara itu kembali berdengung, kali ini lebih dekat dan memaksa Murasakibara untuk menoleh menatap Aomine yang menantangnya.
"Kau tahu snack kesayanganmu itu? Yah… aku baru saja membakarnya bersama jasku tadi pa—"
Murasakibara mencengkram pundak Aomine dan melihatnya dengan tatapan menusuk. Tidak ada satu orangpun yang boleh menyentuh maibounya. Tidak satu orangpun. Ya, termasuk merah unyu unyu gemez miliknya.
"Kau bilang apa barusan?"
Ditambah aura aura kebencian yang dikeluarkan oleh Murasakibara, membuat Aomine kembali memulaskan seringainya.
Pembalasan dendam.
"Aku hanya bercanda"
—dan memberikan komentar yang seakan akan menyulutkan api diatas bensin. Dengan nada mengejek, membuat siapapun tidak akan percaya. Bahkan termasuk orang sebodoh Kise Ryouta.
Membanting sendok sayur ditangannya, kemudian Murasakibara mengambil jaketnya dan pergi lewat pintu belakang dengan wajah kusut.
Suara derap kaki terdengar tak lama kemudian, memunculkan seorang pemuda dengan rambut pirang yang datang dengan nafas memburu.
"Ada apa, aku mendengar keributan tadi."
Aomine memijat tengkuknya, merentangkan tangannya dengan puas kemudian dengan asal menjawab.
"Tidak ada apa apa. Sudah, ayo makan. Panggil Midorima dan Akashi."
Pertandingan adu mulut pagi itu dimenangkan oleh Aomine.
Skor sementara 1-0
"Arigatou gozaimasu!"
Pria bersurai biru muda dengan manik bernada senada kemudian keluar dari supermarket sambil menjinjing perlengkapan pribadinya. Memastikan segala hal yang ia butuhkan sudah lengkap, kemudian ia mendesah perlahan dan melangkahkan kakinya perlahan pergi.
Sudah sekitar seminggu terakhir ini Kuroko Tetsuya belum kembali ke apartemennya. Sekedar untuk mengecek binatang peliharaannya saja tidak. Bukan tanpa alasan Kuroko tidak pulang ke apartemennya. Bisa dibilang, ini merupakan tuntutannya sebagai polisi sekarang. Timeline tugas dari kepolisian sekarang sedang sibuk-sibuknya. Tidak mungkin dia pulang kalau tugasnya belum selesai. Lagipula…
Di apartemennya tidak akan ada yang menyambut.
'Tetsu-kun. Okaeri~.'
'Ah, gomenne Tetsu-kun… aku gagal lagi. Padahal tadinya aku mau membawakanmu makanan buatanku.'
Tanpa sadar, Kuroko melihat kearah langit. Sekedar mengecek apakah ia masih mengingat bagaimana momen indah itu pernah ada. Bagaimana itu dimulai… dan berakhir. Bagaimana dunia mempertemukannya, kemudian dengan paksa memisahkannya. Serta, manisnya mencintai dan—
Tes!
Nampak setetes air menjatuhi punggung tangannya.
"Sepertinya hujan."
Dengan langkah terburu buru, kemudian Kuroko melihat persinggahan berikutnya. Sebuah café diujung jalan.
"Irrashaimase."
Awalnya, tidak ada yang aneh dalam kehidupan Kuroko Tetsuya.
Kehidupannya jauh dari kata menyedihkan.
Normal.
Mungkin satu kata itu yang bisa menggambarkan Kuroko Tetsuya saat itu…
Dan kemudian berubah, beberapa saat kemudian.
Karena kehidupan tak selalu mulus
Kerikil dan riak ombak kadang menjadi halangan
Mereka hendak berkata
"Jangan remehkan aku kawan"
Karena bila tanpa mereka, kau tak akan jatuh atau tenggelam
Kuroko berlari secepat yang ia bisa saat hujan menerpanya sambil merutuki kecerobohannya yang terjadi pada hari ini. Harusnya dia memang percaya dengan ramalan cuaca hari ini dan membawa payung. Sambil merutuki nasibnya, dia hanya bisa berharap menemukan tempat berteduh terdekat.
Matanya menangkap tempat yang bisa ia jadikan tempat berteduh kali ini, sebuah halte pemberhentian berjarak kurang lebih dua puluh lima meter. Ia kemudian mempercepat langkahnya kembali mengingat baju dan tubuhnya sudah basah oleh air hujan.
Splash! Splash!
Kuroko terengah pelan, kemudian terduduk di kursi yang terdapat di halte. Sembari menenangkan nafasnya, ia pun melepas jaketnya dan menaruhnya disampingnya. Usaha agar tubuhnya tidak menggigil karena jaketnya yang basah kuyup.
"Hhhh… sepertinya ini alamat lama hujan turun."
Sambil merutuki nasibnya yang tengah sial hari itu, ia pun meraih mobile phone-nya dari balik kantong celana untuk mendapati banyaknya panggilan yang masuk dari berjam jam yang lalu. Panggilan masuk yang selalu berhasil mengambil hatinya untuk kemudian mengulum tersenyum saking senangnya.
Yah, tambatan dan pelabuhan hatinya.
Momoi Satsuki.
Wanita berambut soft pink semampai hingga pinggang. Cantik dan sexy. Seorang model terkenal, bahkan bisa dibilang seantero Jepang mengenal namanya.
Satsuki adalah gadis tercantik yang pernah Kuroko temui. Meskipun terkesan dingin dan meskipun hanya sebentar mau tak mau Kuroko mengagumi paras cantiknya, membuatnya terlihat sempurna sebagai seorang perempuan.
Lihat saja sekarang Kuroko tersenyum sendiri saat melihat bahwa Satsuki menelfon sekali lagi. Sengaja untuk tidak mengangkatnya, Kuroko Tetsuya membiarkan nada dering itu berhenti berbunyi.
Hari ini adalah hari wedding anniversarynya yang ketiga. Aaah, pikirannya mengawang lagi… sudah tiga tahun mereka menikah. Dengan satu anak manis yang sudah menghiasi bahtera rumah tangganya dengan Satsuki.
Ya, Momoi Satsuki resmi menjadi Kuroko Satsuki tiga tahun yang lalu. Bagian terbaik dari skenario hidupnya adalah ketika ia mengecup kening Satsuki setelah mereka berjanji setia sehidup semati di altar sembari melihat Satsuki menangis bahagia dipeluknya.
Ah, membayangkannya sekarang membuat Kuroko ingin segera berlari pulang dan mencium istrinya. Memanjanya, menyayanginya. Ingin berbagi kasih berdua –ah, bertiga- dengan anaknya tersayang. Bayi gembil persis seperti miniaturnya itu pasti tengah menunggunya dirumah. Terugami Kuroko. Sesuai dengan namanya, bayi itu memang selalu 'terlihat cerah' dimatanya dan Satsuki.
Diperhatikannya tentengan disampingnya. Kue bertopping buah cherry kesayangan istrinya dan baju bayi untuk anaknya tercinta. Masih terlihat apik dan rapih. Sebuah hadiah yang dipikir Kuroko pas untuk orang orang terkasihnya di hari yang spesial. Perlahan, Kuroko tersenyum. Apalagi ketika melihat, langit sudah tak lagi meneteskan hujan. Ia bisa segera pulang. Menemui orang orang yang dicintainya.
"Yosh, mari kita pulang."
.
"Tetsuya."
Mayuzumi Chihiro, kakak sepupunya itu sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Kuroko menampakkan wajah datarnya seperti biasa meskipun Mayuzumi tahu bahwa ia sedang sedih karena dia.
"Tetsuya, jangan bersedih."
"Mana mungkin aku tidak sedih, Mayuzumi nii-san."
Dalam hati Mayuzumi tertawa meskipun pandangan matanya kosong menatap langit langit rumah sakit. Yah, ini harga yang harus dibayar atas apa saja yang sudah ia lakukan. Menjadi mata mata negara berarti kau punya begitu banyak musuh. Punya salah perhitungan sedikit saja kau bisa ditusuk dari belakang. Sebelumnya, Mayuzumi sudah belajar banyak hal untuk mengantisipasi hal ini, termasuk menajamkan indera dan menumpulkan rasa kemanusiaan.
Namun, sepandai apapun dia, pada akhirnya terjebak juga dengan permasalahan hati.
Ditusuk dari belakang oleh seseorang berkedok sahabat membuat Mayuzumi harus menanggung akibat panjang saat ini. Bukan hanya badannya yang menderita karena percobaan pembunuhan, tapi sekarang dia juga mengkhawatirkan adik sepupunya yang ada disampingnya saat ini.
"Kau satu satunya keluargaku, Mayuzumi nii-san."
Sebelum terlambat. Ia harus memberitahu Kuroko soal ini karena dia satu-satunya keluarganya.
Itu pikiran Mayuzumi. Ia harus mengatakannya.
"Tetsuya."
"Jadilah orang kuat."
"—eh, maksud Mayuzumi nii-san?"
"Ya, kau tidak salah dengar. Jadilah orang kuat dan lindungi apa yang harus kau lindungi."
Langkah Kuroko terasa ringan saat ia semakin dekat menuju tempat dimana ia merasakan kehangatan kembali sebagai sebuah keluarga kecil. Padahal baru saja ditinggal sebentar untuk kerja tapi sekarang rasanya kangen sekali. Rasanya ingin mencium pipi Satsuki dan anak tercintanya itu. Diliriknya lagi tentengan hitam besar disampingnya, untuk memastikan bahwa tidak ada yang rusak didalam tentengan tersebut. Dia tidak ingin mengacaukan hari spesial ini.
Kuroko ingin kedua orang terkasihnya bahagia.
.
Beberapa hari belakangan, Kuroko melihat perubahan yang berangsung angsur membaik. Kata dokter, meskipun beberapa tulangnya patah, tapi Mayuzumi Chihiro nampaknya bisa pulang cepat. Tentu itu membuat Kuroko senang.
Satu hal yang membuat Kuroko semakin senang adalah mengetahui bahwa Mayuzumi Chihiro sudah tidak se frustasi pertama kali ia datang.
Kuroko Tetsuya sudah tahu apa pekerjaan dari kakak sepupunya itu sejak lama sekali. Dia berulang kali meminta kakak sepupunya itu untuk berhenti dari pekerjaan berbahaya itu, tapi Mayuzumi tetap saja keras kepala dan mengatakan dia bisa mengatasinya karena sudah terbiasa dan nyaman pada pekerjaannya.
Sebenarnya Kuroko tahu apa alasan dari Mayuzumi kenapa dia terus menerus mempertahankan pekerjaan ini dari lama.
"Aku ingin melindungi orang yang harus kulindungi"
Itu alasan utama yang selalu Kuroko dengar dari Mayuzumi.
Seperti hari ini.
Mayuzumi tersenyum samar saat melihat adik sepupunya masih mengenakan seragam khas pengajar TK saat datang.
"Belum menyerah dengan anak anak itu?"
Kuroko mendengus pelan sambil menaruh jaketnya di kursi.
"Aku suka anak anak, Mayuzumi nii-san."
Mendengus kesal, Mayuzumi kemudian memperhatikan bagaimana Kuroko duduk disampingnya sembari menggantikan bunga yang ada di vas.
"Jadi, bagaimana? Apa kata dokter?"
"Katanya kau bisa pulang lebih cepat."
Kuroko tidak mengerti bagian mana yang aneh, tapi Kuroko sadar bahwa wajah Mayuzumi terlihat berbeda setelah ia mengatakan bahwa Mayuzumi bisa pulang lebih cepat. Ada apa? Apa yang salah dengan itu? Yang lebih Kuroko tidak bisa mengerti adalah ketika Mayuzumi selalu mengatakan hal yang sama. Berulang ulang dan berkali kali.
"Jadilah kuat, Tetsuya. Lindungi apa yang bisa kau lindungi."
Mata membelalak.
Kenop besi pintu rumah didepannya penuh cairan merah sekental darah.
Tanpa menunggu barang satu detikpun, Kuroko masuk kedalam rumah dan membanting tas, jaket dan tentengan penuh hadiah teronggok di pinggiran dinding. Rusak karena bantingan. Biarkan itu, karena sekarang ini, bukan itu yang Kuroko pikirkan.
"SATSUKI!"
Pemuda bersurai teal itu mencari sang istri dan anak kesayangannya ke seluruh penjuru rumah yang sudah dihiasi darah dimana mana. Panik. Ia tidak tahu itu darah siapa.
"SATSUKI! TERUGAMI!"
Mendengar suara tangis bayi dikamarnya, Kuroko kemudian dengan secepat kilat naik ke kamarnya.
"TERUGAMI!"
Ia kemudian membuka pintu kamarnya, hanya untuk menemukan sosok wanita terkulai di lantai penuh darah dengan organ organnya yang tak lagi lengkap tanpa berbusana, dan anaknya yang ditusuk menggantung di dinding rumah.
Kuroko terduduk lemas, ia mengenali kedua sosok itu… ia sangat mengenali kedua sosok itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Kemudian saat itu, suara bisikan dari seseorang yang amat dikenalnya terdengar.
"Jadilah kuat, Tetsuya. Lindungi apa yang bisa kau lindungi."
Kuroko baru saja bisa pulang setelah menunggu anak yang terakhir dijemput orangtuanya. Kesal memang, tapi ini sudah menjadi tanggung jawabanya. Kuroko saja sekarang sudah bisa membayangkan apa yang akan Mayuzumi lakukan kalau saja ia telat datang.
Hari ini, kakak sepupunya itu sudah bisa pulang.
Jadi hari ini setidaknya ia harus bergerak lebih cepat, supaya kakak sepupunya itu bisa istirahat lebih cepat di rumahnya.
Rumah sakit itu hanya tinggal satu blok lagi. Kemudian Kuroko mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke tujuannya.
BUAGH!
Kuroko meringis perlahan ketika tertabrak seorang pria yang mengangkut bayi laki lakinya dan menggandeng seseorang disampingnya. Bisa ditebak, kemungkinan terbesar itu istrinya. Dengan wajah khawatir dan suara yang serak orang itu kemudian berkata.
"Nak, jauhi rumah sakit itu sekarang!"
Kemudian Kuroko menyadari bahwa banyak orang meninggalkan rumah sakit itu. Berbondong bondong.
"Apa yang terjadi?"
"Keributan di lantai 10."
Kuroko yang mendengarnya langsung berlari menggapai rumah sakit itu. Lantai itu merupakan tempat dimana kakak sepupunya itu dirawat. Tidak, tidak. Dia pasti baik baik saja. Kuroko berlari secepat mungkin dan menerobos kerumunan orang orang yang ada didepannya.
"Mayuzumi nii-san. Kumohon, bertahanlah. Aku akan membawamu keluar."
DOR!
Tepat saat Kuroko sampai di rumah sakit itu, ia mendengar suara tembakan begitu kencang. Beberapa saat kemudian, ia melihat sesosok pria, jatuh dari lantai sepuluh. Kuroko begitu mengenalnya tapi ia tidak bisa melakukan apapun dan bergeming ditempatny, kemudian suara bisikan sosok pria yang jatuh itu kembali terdengar.
"Jadilah kuat, Tetsuya. Lindungi apa yang bisa kau lindungi."
.
"—Sebelum semuanya terlambat."
"MAYUZUMI NII-SAN!"
.
"… Satsuki… Terugami…"
.
"—Lakukan sebelum semuanya terlambat, Tetsuya. Jadilah kuat."
.
"GUAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH!"
Kini penyesalan tak lagi berarti
Tangisan dan teriakan tak lagi berarti
Suaramu, jeritanmu tidak akan sampai pada mereka
Apa yang kau genggam, kini menghilang
.
Dan kemudian kau berfikir
Aku ingin mengulangnya dari awal
Tapi penjaga waktu terkekeh perlahan dan berkata
.
"Semua sudah terlambat"
.
Kuroko Tetsuya duduk di kursi paling pojok dari café yang ia temukan. Tempat terdekat untuk berlindung dari hujan besar yang melanda. Lagi lagi, Kuroko mendengus kesal sambil terus merutuki kecerobohannya tidak membawa payung saat sedang musimnya hujan turun.
Sejenak, Kuroko terdiam dan melihat café tempatnya berlindung dari hujan kali ini. Aksen aksen modern nampak khas melekat didalam café itu. Meskipun terkesan modern, ada aura hangat yang dipancarkan dan membuat nyaman siapa saja yang datang meskipun hanya sebentar.
Dalam hati, Kuroko berjanji akan datang ke café ini lain kali.
Ah, mungkin ia juga bisa mengajak rekan timnya untuk makan disini lain kali.
Mungkin.
Seorang pelayan kemudian datang membawakan buku menu dan menawarkan makanan atau minuman yang dipesan.
"Vanilla milkshake saja satu."
Beruntung minuman itu selalu ada di café manapun ia singgah. Sehingga Kuroko tidak perlu membolak balik buku menu lagi.
Pelayan itu menganggukkan kepala tanpa bicara apapun dan mengambil kembali buku menunya.
Kuroko menghembuskan nafasnya berat. Sudah lima tahun sejak kepergian kakak sepupunya, Mayuzumi Chihiro dan tiga tahun sejak kepergian anak dan istrinya. Dua kejadian dalam rentang waktu dua tahun yang membuatnya kehidupannya nelangsa hingga sekarang, mengingatnya saja membuat nafas menjadi tak lagi berarti. Hidup tak lagi berarti. Tentu, ia terpuruk akan kejadian itu. Sakit. Sakit. Rasanya sakit sekali. Sakit hingga menembus jantungnya. Hingga airmata dan darah tak lagi berarti dimatanya.
Tapi saat ini, Kuroko sudah tidak mau menyalahkan siapapun. Ia sudah tidak lagi mau menyalahkan Mayuzumi karena pekerjaannya sebagai mata mata negara sebagai penyebab dari kematian tiga orang yang disayanginya. Ia terus menerus mengingat apa yang dikatakan Mayuzumi, berkali kali sebelum akhirnya ia meninggal.
Ini semua salahnya.
Salahnya karena tidak bisa kuat dan melindungi orang orang yang dicintainya. Harusnya ia mendengarkan nasihat itu, bukannya mengabaikannya.
Pernah bersalah pada masa lalu, membuat Kuroko Tetsuya menata dirinya kembali, memungut pecahan pecahan dirinya untuk membentuk Kuroko Tetsuya yang baru. Mungkin, didalam hatinya… inilah yang menjadi alasan utama, mengapa ia menjadi polisi. Pekerjaan yang tentu sangat berbeda dengan pekerjaan pertamanya.
Melindungi sesuatu, yang orang lain belum tentu bisa lindungi. Melindungi sesuatu, yang ingin dia lindungi.
Simple. Dan bermakna.
Khas seorang Kuroko Tetsuya.
Tak lama setelahnya, pelayan kembali dan membawakan pesanan untuk Kuroko. Ah, sepertinya pelayan yang sama seperti yang baru saja memberikannya buku menu.
"Ini tuan. Chamomile tea dan vanilla souffle."
"Tapi ini bukan pesanan—"
"Ini baik untuk menenangkan pikiran. Anda kelihatan kelelahan dan kurang tidur. Saya rasa ini cukup membantu. Maaf atas ketidak sopanan saya."
Kuroko sejenak memperhatikan pelayan yang berada didepannya. Sosok pemuda tinggi dengan surai hitam dengan bola mata crimson dengan senyum menenangkan. Menghela perlahan, kemudian Kuroko menerima pesanannya sembari membalas senyumannya.
"Terimakasih."
"Bukan masalah, pak polisi. Pasti berat ya bekerja hari hari ini."
Kuroko melihat dirinya yang berada dalam balutan seragam kepolisian dengan mata kosong. Kemudian membalas ucapan pemuda disampingnya
"Yah begitulah—"
"Rialoir Dearg"
Mengangguk perlahan. "Namamu cukup sulit diucapkan, aku Kuroko Tetsuya."
"Banyak orang mengatakan itu. Tuan bisa memanggil saya Dearg."
"Ah, begitu. Terimakasih"
Perlahan, mata Kuroko menjelajahi cafe yang ia singgahi. Tak banyak yang datang, pikir Kuroko. Yah, wajar saja saat ini diluar sedang hujan lebat sehingga cafe ini tidak ramai pelanggan. Kemudian, Kuroko mengerlingkan pandangannya hanya untuk menemui Dearg yang masih memperhatikannya secara seksama. Tak pelak, membuat Kuroko tertawa perlahan.
"Kau daritadi memperhatikanku begitu. Kenapa? Kau ingin duduk disini dan berbincang denganku?"
Senyuman terpaksa terlihat di wajah Dearg yang terpergok tengah memperhatikannya
"Ah tidak, saya hanya sedang mengagumi orang yang tengah bekerja keras ditengah gempuran media yang memojokkan lembaga tuan saat ini"
Ah, ucapan ini lagi
Kuroko tersenyum sopan berusaha mengakali perasaannya yang kesal karena ia mengatakan itu didepan orang yang nyaris diterkam atasannya yang bad mood karena ulah media pagi tadi.
"Yah, memang sekarang keadaan sedang sangat berat.
Kuroko mengambil satu suapan souffle kedalam mulutnya.
Tapi, melihat orang yang kami bela juga menyimpan kepercayaan kepada kami... Seperti kau contohnya, membuat kekuatan yang berarti bagi kami"
Dearg terlihat tersenyum kembali, merasa senang karena tindakannya dipuji. Kemudian ia mohon pamit dan kembali ke tempatnya berjaga.
Kuroko melanjutkan makanannya sambil melihat berita yang tersedia di televisi sore itu.
Ah, ada keributan apalagi ini?
"kami melaporkan dari lokasi kejadian. Telah ditemukan jenazah seorang perempuan didalam tempat pembuangan sampah disamping restoran dekat wilayah perbelanjaan Shibuya 101 tadi pukul 15.00. Jenazah ditemukan dengan sayatan melebar dari pundak hingga perutnya dengan organ dalam yang tak lagi lengkap.
Kuroko meloncat dari tempat duduknya.
Korban merupakan seorang model ternama yang diketahui tengah memiliki skandal dengan anggota parlemen baru-baru ini.
Sambil berlari ke meja kasir, Kuroko dengan cepat membayar makanan yang dia beli dan buru-buru keluar dari cafe tersebut meskipun hujan masih mengguyur saat itu. Dearg, pemuda yang daritadi memperhatikan gelagat Kuroko pun mengerling untuk melihat jenazah korban yang tengah disiarkan itu.
Terdengar dari rumor bahwa pembunuhan ini merupakan pembunuhan berantai dari seorang legenda yaitu Phantom. Ini terbukti dari bekas sayatan dan cara pembunuhan benar benar mirip dengan sang legenda. Setelah tujuh tahun tidak pernah beraksi, legenda Phantom kembali lagi dengan aksi berdarah ini.
Namun, tak hanya itu temuan pada hari ini. Terdapat sebuah kartu kuning yang disimpan dalam tenggorokan korban yang menuliskan kalimat...-"
Dearg mendecak sambil mematikan televisi hari itu. Sambil merapihkan makanan yang masih tersisa di piring Kuroko tadi, terlihat amarah yang terpancar dari raut wajahnya saat ini dan melampiaskannya dengan melempar piring beling ke lantai dengan kencang.
Sambil terengah, Dearg berteriak
"Apa yang dia pikirkan!"
"Killing is like my kind of ecstasy. You can't live without it
-KI"
To be continued
A/N: YHEAYYYYY! Setelah setahun, akhirnya saya berhasil membuat benda ini update. Maafkan saya yang tidak bisa membagi waktu dengan baik dan berakhir dengan teronggoknya benda ini dari file file yang saya simpan. Ehehehehehe, anyway semoga kalian juga masih mengikuti benda ini yahhh~ Keep reading kalau mau tahu lebih lanjut gimana kejadian selanjutnya.
