A/N: Hallo semuanyaaaa, apa kabar kalian? Yeiy akhirnya menjawab pertanyaan temen-temen yang gak pengen nunggu setahun lebih biar gak pindah lapak fandom... SAYA KEMBALI SEMUANYAAAAAAAAa. Wah seneng uga bisa publish story again. Saya gak banyak cerita aja deh di Author Note ini, semoga semuanya menikmati hasil karya teranyar saya ini yaaaaaa. Oh iya, untuk chapter ini mungkin agak nyerempet-nyerempet rated M, tapi gak nganu kok. Hehehe. LOVE YOU GUYSSS~! Last, please enjoy!

XxX

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadaoshi

The Lost Sight (c) BLANK-98

Beta (c) Matthew Shinez

XxX

Siang berputar menjadi malam

Drap! Drap!

"Hah... Hah..."

Perlahan, sosok pemuda mungil berambut baby blue itu mendongak ketika melihat tempat yang ia tuju telah sampai. Sambil terengah, ia pun menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya.

Tempat ini lagi

Pikir Kuroko Tetsuya ketika ia kembali mendatangi kantor kepolisian saat malam menjelang. Ia pun meraih id-nya dan memasuki gedung kepolisian dengan langkah berat.

Kejadian luar biasa yang terjadi sore hari itu nampak menyita waktu beberapa personel kepolisian. Pembunuhan yang terjadi di perkotaan tentu bukan hal remeh temeh yang bisa ditunda pembahasannya, apalagi menurut rumor yang beredar di lingkungan sekitar ini adalah perbuatan dari Phantom. Ya, Phantom sang urban legend yang namanya sangat ditakuti.

Tujuh tahun yang lalu, namanyabisa jadi merupakan pembunuh paling terkenal di perkotaan. Maka dari itu, Phantom pun sukses ditakuti oleh seantero kaum muda-mudi yang menjadi target pembunuhannya. Saking menakutkannya, nama Phantom bisa jadi sebuah lantunan melodi membunuh dari orangtua kepada anak-anak di kala malam.

Pada awalnya, tidak dikenal nama Phantom di perkotaan karena ia menamai dirinya sendiri sebagai Ki. Hal tersebut baru terlihat pada trademark yang ia tinggalkan yaitu kartu kuning pada tenggorokan korban pembunuhannya. Sayangnya, nama Phantom sudah lebih dahulu digemukan oleh khalayak ramai sehingga inisial orisinilnya, Ki, menjadi kurang populer dibandingkan dengan Phantom.

Model. Beauty influencer. Actress. Singer. Dancer.

Beberapa profesi di atas bisa jadi merupakan incaran dari kasus pembunuhan Phantom. Menilik dari profesi yang disebutkan diatas, kita hampir bisa menarik benang merah dari semuanya. Korban dari pembunuhan yang dilakukan oleh Phantom selalu merupakan orang-orang yang memiliki wajah yang rupawan dan bahkan tubuh yang aduhai menggoda.

Selain rupawan, ada lagi trademark dari ulah Phantom. Ya, itu tak lain adalah kondisi bagaimana korban ditemukan. Sebut saja sayatan silang pada wajah, bagian leher yang menghitam, tusukan dalam melintang dari pundak hingga ke perutnya, organ dalam yang tak lagi lengkap, dan yang terakhir adalah stilleto heels 12 cm berwarna hitam legam tanpa ornamen apapun. Dimana korban ditemukan? Jawabannya adalah selalu di tempat sampah dengan posisi tubuh yang meringkuk.

Di saat-saat seperti ini, Kuroko selalu merasa merinding ketika membayangkan bagaimana keadaan korban saat ditemukan, apalagi saat ia melihat perbandingan wajah saat sebelum dan sesudahnya. Di balik rasa merinding itu, Kuroko sendiri tidak bisa menutup matanya bahwa korban memang selalu berparas rupawan.

Terkadang, ia merasa kesal bahkan standar yang digunakan untuk membunuh bisa setinggi ini.

Kriet!

"Ah, permisi... Maaf aku terlambat"

Hayama, orang pertama yang menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, perlahan tersenyum ketika mendapati Kuroko kembali ke ruangan. Kuroko memperhatikan orang-orang yang masih terjaga hingga malam hari ini. Reo yang tengah menjelaskan duduk perkara di depan, berdiri di dekat sebuah papan tulis. Hayama yang tengah duduk rapih, mendengarkan rekannya berbicara di depan, Nebuya, dan juga Kiyoshi yang memasang wajah yang sama dengan Hayama. Ah, bahkan seorang Hanamiya juga mengikuti pertemuan meskipun tampangnya terlihat ogah-ogahan. Suara deheman perlahan dari Reo perlahan membawa pikiran Kuroko kembali ke permukaan.

"Bukan salahmu, my kawaii hitsuji. Cepat ambil tempat dudukmu dan bergabunglah"

Dengan langkah kecil yang dipercepat, Kuroko menutup pintu yang ada di belakangnya kemudian mengambil tempat duduk yang kosong di antaranya. Kemudian, ia pun meletakkan sekotak kue kecil di atas meja.

"Ah, bagus. Kau mengingat aturan main kita," Nebuya tertawa perlahan saat melihat sekotak kue yang dibawa oleh Kuroko. Sebuah hukuman sekaligus peraturan untuk orang-orang yang terlambat mengikuti rapat tim internal.

Membawa kudapan ringan.

Kuroko membungkuk perlahan menunjukkan rasa hormatnya dan kemudian memperhatikan penjelasan dari Reo yang sempat tertunda.

Mibuchi Reo, orang yang berdiri di depan, nampak memimpin pertemuan kali ini. Penampilannya nampak berbeda dari Reo yang biasa dikenal oleh personel kepolisian yang lain. Perawakannya yang nampak lebih tenang, kacamata yang menggantung di hidungnya juga memperlihatkan bola matanya yang lebih fokus. Sayangnya, sikap yang ditunjukkan oleh seorang Mibuchi Reo ini hanya bisa dilihat apabila tengah membahas kasus favorite-nya saja.

"Oke, kita mulai dari awal lagi. Pertemuan kita kali ini akan membahas materi apa yang akan kita bawa pada rilis pers yang dijadwalkan besok jam 12 siang. Kita akan membahas tentang pembunuhan yang terjadi sore tadi dimana korban ditemukan di tempat pembuangan sampah di samping restoran. Lokasi tepatnya ditemukan di area Shibuya 101."

Gestur mengangguk menyapa pernyataan dari Reo.

"Kita mulai dari korbannya dulu. Korban merupakan seorang model dari agensi papan atas di Jepang yang memulai kontrak kerja sejak 3 tahun yang lalu. Setelah ditelusuri, sekitar tahun lalu, popularitas korban melejit karena berhasil menjadi brand ambassador salah satu clothing line yang populer di kalangan anak muda."

Nebuya perlahan berdecak kagum saat melihat foto-foto yang ditampilkan per-slide oleh Hayama.

"Astaga, cantiknya..." Gumaman pelan nampak keluar dari mulut Nebuya di balik keheningan. Suara kikikan tertahan dari Hayama membuat mau tak mau Reo berhenti berbicara.

"Hei Nebuya, air liurmu menetes. Lap sana, dasar menjijikkan!" Hanamiya melempar bola-bola tissue dan tepat mendarat di pipi Nebuya.

"Ah, kau!"

"Maa maa, sudahlah..." Kiyoshi tertawa sambil menenangkan junior-juniornya yang tengah bertikai.

"Kalian ini, selalu bertengkar hanya karena hal-hal kecil. Ya ampun, sadar usia, dong..."

Kuroko hanya memperhatikan pemandangan di hadapannya sambil terdiam. Tersenyum tipis, kemudian ia pun mengambil foto mereka untuk diabadikan di smartphone-nya.

'Terkadang, keluarga itu dilahirkan bukan dari sepasang insan yang dimabuk cinta... tapi dari persahabatan orang-orang yang rela menghabiskan hidup dan menghadapi rintangan bersama-sama.'

Suara deheman perlahan dari Reo kemudian membawa Kuroko kembali tersadar, ia pun mendongak dan memperhatikan bahwa suasana sudah kembali kondusif dan Reo pun melanjutkan pembicaraannya.

"Sudah bisa saya lanjutkan?"

Terlihat anggukan kepala orang-orang dihadapannya.

"Sekitar tiga bulan yang lalu, korban terlilit skandal bahwa yang bersangkutan didapati berhubungan badan dengan salah satu anggota parlemen. Menurut pemberitaan media, anggota parlemen tersebut adalah orang yang berhasil membawa namanya menjadi besar seperti sekarang ini. Kabar tidak mengenakkan ini kemudian ditepis oleh pihak agensi-nya sendiri dan mengatakan bahwa perempuan yang berhubungan badan dengan anggota parlemen tersebut bukanlah dirinya. Selain itu, melalui media sosial-nya, korban sudah memberikan pernyataan maaf atas kabar tersebut dan berjanji tidak akan mengulangi kecerobohannya sendiri untuk meredam kemarahan dari fanbase-nya.

"Tepatnya 2 minggu yang lalu, korban terpergok oleh media tengah bertemu orang yang sama di dalam sebuah hotel dan pihak agensi kembali mengkonfirmasi bahwa perempuan yang dimaksud bukanlah korban, untuk memperkuat alasannya, pihak agensi pun memperlihatkan jadwal yang tertera atas nama korban saat konferensi pers. Kurang lebih satu hari yang lalu, korban menghilang. Manajer dari korban sudah datang ke kepolisian untuk mencari korban dan kalian sudah bisa tahu sendiri, bahwa dia ditemukan tidak bernyawa hari ini."

Nebuya mendenguskan nafas berat saat Reo selesai berbicara.

"Kalau begitu sekarang kita akan mulai berdiskusi tentang kemungkinan pelaku yang ada. Ah, ya Hayama?"

Reo memberikan kesempatan pada Hayama yang mengangkat tangannya untuk berbicara.

"Ah, apa ini perbuatan psycho fans?"

Reo mengerlingkan pandangannya pada Hayama yang nampak menerka-nerka.

"Setahuku kalau public figure gitu pasti punya fans yang aneh-aneh gitu kan? Bisa saja itu perbuatan mereka?"

"Kenapa kau berfikir begitu?"

Hayama menerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Reo, "Erm, mungkin saja fansnya cemburu atau tidak suka gitu kalau orang yang mereka suka digosipkan hal yang aneh-aneh, jadinya bisa saja dibunuh kan? Kurasa hal ini banyak terjadi di kalangan selebritas. Salah satu contohnya mungkin kita bisa lihat dari kasus selebritas yang lalu. Dia meminta kita menjaganya dengan ketat karena ia diburu oleh fans fanatiknya yang tidak terima atas pernikahannya. Fans yang kelewat fanatik dan terus menerus mengejar idola yang mereka suka lalu seakan-akan 'menyetir' kehidupan idolanya sesuai dengan idealisme mereka... Yah, itu menurutku sih."

"Pemikiran Hayama-san bisa saja benar. Tapi menurutku ini bukan perbuatan fans-nya."

Hayama kemudian menoleh ke arah Kuroko yang baru saja berkomentar, dan menunggu jawaban darinya.

"Aku rasa, pembunuhan yang dilakukan oleh seorang fans tidak akan bisa dilakukan serapih dan se'niat' ini. Kalau menilik dari bekas yang ditinggalkan, bisa terlihat ini merupakan perlakuan dari pembunuh profesional."

Hanamiya melanjutkan ucapan yang diberikan oleh Kuroko.

"Simple-nya, ketika aku melihat korban langsung tadi sore ketika autopsi, bekas bedah yang dilakukan untuk mengambil organ hati saja menggunakan skill tingkat tinggi. Aku setuju dengan bocah biru itu, ini pasti kelakuan pembunuh yang sudah sangat profesional."

Hayama manggut-manggut tanda mengerti mendengar penjelasan tambahan dari Hanamiya.

"Ah, aku baru saja mau mengatakan itu. Terimakasih atas bantuannya, Kuroko-chan dan Hanamiya," Reo tersenyum tipis sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kuroko yang sekarang tengah merinding disko karena kedipan matanya.

"Ah, kalau memang bukan dilakukan oleh fans dan mengacu pada pembunuh professional, apakah ini dilakukan oleh Phantom kalau mengacu pada kriteria dan trademark-nya. Benarkah begitu Reo-nee?"

Kiyoshi mendenguskan nafas berat ketika mendengar pertanyaan Hayama. Seakan-akan ia berusaha untuk tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hayama barusan.

"Kurasa itu tidak mungkin. Lagipula kasus dari Phantom sudah berakhir 7 tahun lalu. Semua kepingan puzzle yang dia kirimkan sudah selesai dan kita tidak berhasil menyelamatkan kepingan yang terakhir..."

Reo nampak berhenti perlahan ketika membicarakan kasus tersebut.

"... Menurutku ini hanya sebuah copycat effect dan pelaku berharap bisa menumpang 'ketenaran' dari apa yang dilakukan oleh Phantom. Coba saja kita berfikir menggunakan logika, sudah 7 tahun Phantom tidak pernah beraksi lagi. Aku merasa selang waktu tersebut bisa saja digunakan oleh copycat killer untuk mempelajari trademark yang ditinggalkan oleh Phantom."

Hening perlahan menyapu ruangan tempat mereka berdiskusi. Sadar lama menggantung, Kiyoshi mengambil kesempatan untuk mengakhiri diskusi mereka pada malam hari itu.

"Ah, kalau begitu... Mungkin kita akhiri saja diskusi hari ini. Kita akan merilis pers besok-

"Tunggu dulu, Kiyoshi-san."

Kuroko berdiri dari tempatnya duduk, menatap lurus kearah Reo dan juga Kiyoshi.

"Aku yakin kalau ini adalah perbuatan Phantom meskipun aku sudah mendengar pernyataan yang dikatakan oleh Mibuchi-san tadi."

"Heee... Kenapa kau bisa yakin begitu, bocah?"

"Aku juga mempelajari pembunuhan berantai dari Phantom saat perkuliahanku dulu. Aku tahu persis apa teknik dari pembunuhan yang dilakukan olehnya. Kartu kuning yang disimpan di dalam tenggorokkan itu sudah pasti menjadi trademark dari pembunuhan yang dilakukan olehnya. Selain itu, kata-kata yang digunakan olehnya

'Killing is like my kind of ecstacy. I can't live without it'

Merupakan kata-kata yang selalu ia katakan di pembunuhan di kelipatan ke-7 nya."

"Selain itu, skill membunuh Phantom tidak bisa kita ragukan lagi. Hampir mustahil rasanya untuk menggandakan skill-nya dalam kurun waktu hanya 7 tahun. Salah satu rekan kuliahku yang merupakan lulusan kedokteran saja pernah mengatakan butuh setidaknya waktu lebih dari 10 tahun dan dedikasi yang tinggi untuk benar benar ingin menggandakan skill-nya. Aku yakin, Hanamiya-san juga pasti tahu kalau tak hanya organ hati saja yang diambil, tapi tulang clavicula, tulang selangka, juga diambil karena hendak memposisikan korban dalam kondisi meringkuk dalam tempat yang sempit. Pengambilan tulang tersebut cukup rumit apalagi ia juga berpacu dengan waktu."

Reo perlahan terduduk kembali ke kursinya, wajahnya tertunduk dalam dan tidak ingin menatap Kuroko, Kiyoshi orang yang sedari tadi duduk dengan wajah yang tidak nyaman kemudian menatap Kuroko dan mulai bertanya.

"Apa kau yakin kalau ini adalah perbuatannya, bukan yang lain?"

"Aku yakin 100 persen, Kiyoshi-san."

"Kenapa aku harus mempercayai hipotesismu?"

Kuroko menghela nafas pelan, dan perlahan tubuhnya bergetar hebat seakan ada trauma berat yang terpaksa harus ia ingat kembali setelah sekian lama.

"... Kuroko?"

"Aku... pernah melihatnya membunuh seseorang 7 tahun lalu, tepat di kasus terakhir sebelum ia menghilang. Karena itu, aku yakin pembunuhan hari ini...

Itu dia, Phantom."

XxX

Midorima, sosok berwarna hijau yang tengah menghabiskan waktunya membaca buku kecil didapur menoleh perlahan menyadari suara yang ia idamkan telah muncul.

Kiiiiiiiiiiiiiiitttt!

Suara desisan air yang baru saja mendidih nampak terdengar.

Perlahan, ia pun menutup buku yang tengah dibacanya dan mulai berdiri untuk mematikan kompor dan membuat minuman yang hendak dibuatnya.

Kriet!

Midorima menolehkan kepalanya saat sadar ada yang memasuki dapur.

"Kau mau minum apa, Aomine?"

Sosok yang dipanggil nampak baru saja memasuki dapur setelah seharian ini menghabiskan waktunya ngorok di ruangannya.

"Ah, kau memang mau buat apa, Midorima?"

"Teh"

"Oke, aku kopi saja"

Tanda perempatan di dahi Midorima tiba-tiba muncul karena kekesalannya mendengar jawaban twist dari Aomine.

'Tidak ada yang salah dari jawabannya, tapi kenapa aku kesal dengan jawabannya?'

Aomine menarik bangku yang terletak di ruang makan, lalu duduk diatasnya. Ia melipat kedua tangannya diatas meja dan memperhatikan gerakan Midorima yang tengah menyiapkan teh dan kopi. Jarinya perlahan mengetuk-etuk meja pertanda ia mulai bosan menunggu nampak menguap panjang meskipun sudah tertidur lama seharian ini.

"Hmm, Akashi belum pulang?"

"Belum"

"Bukannya dia kerja bareng sama kamu?"

"Aku bukan babysitter-nya Akashi, Aomine"

Suara ooh berkumandang dibelakang punggung Midorima. Aomine kemudian melihat kearah jam dinding yang terpasang dan memperhatikan jam saat ini.

"Ryouta dimana?"

Midorima menghela perlahan, merasa kesal karena terus-menerus diinterogasi oleh Aomine. Sekarang ia merasa seperti seorang ibu yang ditanyai oleh anaknya karena terus ditanya perihal absensi personel didalam rumah.

"Aku tidak ta-"

"Hmm, kau benar. Kau juga bukan babysitter-nya Ryouta"

Suara dentingan sendok pada cangkir teh terdengar diatas meja dapur. Midorima menurunkan kedua tangannya keatas meja, lalu menolehkan kepalanya menatap Aomine dengan pandangan kesal.

"Aku tak heran kenapa Murasakibara bisa kesal denganmu. Kau memang jago mencari ribut."

Aomine mendengus sambil terkikik geli atas jawaban dari Midorima.

"Haha, terimakasih. Kuanggap itu sebuah pujian"

Midorima menghela nafas berat, lalu membawa dua cangkir berisi masing-masing teh dan kopi keatas meja bar tempat Aomine duduk saat ini.

"Ah terimakasih"

Aomine menyesap aroma kopi yang dibuat oleh Midorima dan meminumnya. Midorima hanya memperhatikannya dan ikut meminum teh buatannya sendiri.

"Aku tahu ada yang ingin kau katakan padaku, Midorima. Kenapa?"

Midorima menaruh kembali cangkir tehnya keatas meja, lalu menatap Aomine yang ada didepannya lurus.

Aomine Daiki.

Orang yang ia dan Akashi temui terapung diatas gelondongan kayu satu tahun yang lalu merupakan orang terakhir yang memasuki grup ini. Orangnya cukup aneh, dibalik wajahnya yang sangar dan mesum itu, dia mungkin orang yang paling 'baik' disini. Yah, meskipun sebaik-baiknya dia tetap saja tak tertahankan karena keusilannya yang tingkat tinggi itu. Omong-omong, tempat yang sekarang menjadi tempat tinggal perkumpulan ini adalah hasil pencarian dari Aomine dan juga Kise.

Ah, benar juga. Midorima ingat apa yang tadi ingin ia tanyakan pada Aomine.

"Kau menyebutkan kalau aku bukan babysitter dari Kise. Tapi nyatanya, bukannya kau babysitter-nya?"

"Kenapa kau menanyakan hal ini. Kupikir kau akan menanyakan hal yang lain"

Aomine mengelus cangkir kopi dihadapannya, menolak untuk bertatap mata dengan Midorima.

"Sebenarnya ada banyak rahasia diantara kalian bertiga. Murasakibara, Kise, dan kau. Terlebih lagi yang membuatku bingung, diantara Murasakibara dan Kise... Apa yang menyebabkan kau memilih Kise?"

"Ryouta berbeda dari kalian."

Aomine memicingkan matanya berbahaya, saat ini tatapan matanya lebih terlihat seperti hendak menerkam mangsa yang ada didepannya. Midorima yang sudah terbiasa dengan tatapan tersebut hanya menggelengkan kepalanya, mengangkat tangannya seakan mengisyaratkan pada Aomine untuk berhenti.

"Aku mengerti ketika Akashi berkata bahwa disini kita sebagai rekan dan bukan sebagai teman. Urusan kita sebagai rekan akan selesai ketika kita sudah mencapai tujuan kita... Tapi kurasa kalian, Aomine dan Kise, berbeda. Aku tahu benar Kise bukanlah orang yang seperti sekarang ini. Si pirang itu, bahkan tidak berbicara sama sekali sebelum kau datang.

Berganti, Midorima memicingkan matanya pada Aomine.

"Aku penasaran, apa yang kau telah lakukan sehingga si pirang itu, bisa menganggapmu sebagai teman bukan sebagai rekan?"

Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu beralih ke tengkuknya. Kelakuan khasnya apabila ingin menjelaskan sesuatu yang rumit.

"Well, itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui... Tenanglah, ini tidak akan menghancurkan tujuan kita disini.

"Lagipula, walau kuceritakan... kau tidak akan mengerti"

Aomine menenggak habis kopinya, lalu berdiri dan berbalik meninggalkan Midorima sambil melambaikan tangannya.

"Terimakasih kopinya, Midorima"

'Ah, aku tak suka ini'

Midorima mengambil cangkir tehnya dan cangkir kopi yang dipakai oleh Aomine barusan.

'Aku tidak suka ada hal penting yang disembunyikan dariku. Apalagi, hal tersebut membuat Akashi marah.'

"Cari Ryouta. Dia harus ada sebelum aku pulang sore ini."

Midorima menghela nafas berat dan mencuci cangkir cangkir di tangannya.

'Sudahlah, mereka akan tahu sendiri akibatnya'

XxX

Siang berputar menjadi malam.

Tzinnnggg!

Suara jangkrik pelan-pelan terdengar saat pergantian waktu hari itu.

Tap... Tap... Tap...

Aomine, orang yang tadi baru saja dari dapur bersama dengan Midorima, tengah mencari angin di halaman belakang. Ia berdiri menyender ditembok dan mengambil rokok yang ia simpan di saku celananya.

Klik!

"Haaaaah..." asap rokok mengikuti helaan nafas berat yang dikeluarkan olehnya. Ia pun memejamkan matanya dan mencoba menikmati suasana sunyi yang ada di malam itu.

'Sebentar lagi dia akan pulang...'

"Aku penasaran, apa yang kau lakukan sehingga si pirang itu, bisa menganggapmu sebagai teman bukan sebagai rekan?"

"Well, itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui... Tenanglah, ini tidak akan menghancurkan tujuan kita disini. Lagipula, walau kuceritakan—

Aomine mengganti batang rokoknya dengan yang baru dan memantikkan api lagi.

"Aomine-cchi… Sudah, ssu. Jangan dilanjutkan lagi."

'Ah, Ryouta'

Aomine memperhatikan batang rokoknya yang baru saja ia ambil sejenak sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke mulutnya dan menghisapnya.

"Haaahhh..."

"Aaah! Nggh...! Le-lebih dalam, Aomine-cchi!"

"J-jangan... Jangan tinggalkan aku..."

Aomine membuka matanya kembali dan memperhatikan kepulan asap yang ia buat dari menghisap rokok. Matanya seakan menerawang jauh keatas langit dan memperhatikan langit malam hari itu.

... kau tidak akan mengerti"

"Kau tidak akan mengerti... Hubungan 'spesial' ini"

XxX

"Saat kecil, aku belajar tentang Tuhan
Katanya, Tuhan yang Maha Pengasih itu akan mengabulkan semua doamu,...
... Kalau kau datang pada-Nya

Aku selalu berdoa pada-Nya, meskipun...
Aku memang bukan anak yang baik-baik

...

Namun, sudah sekian lama aku berdoa... berdoa...

Berdoa...—

Sama sekali tidak ada yang berubah

Tuhan ternyata tidak mendengar doaku

... Kurasa, Tuhan itu tidak ada

Kalau dia ada, dia akan mendengar jeritan tangis anak-anak-Nya yang meminta pertolongan padanya. Maka dari itu,...

Aku berhenti mencari Tuhan...

-... dan menjadi Tuhan itu sendiri"

XxX

Kise Ryouta's Story: 01

XxX

"Dasar anak jalang!"

BRUAK!

'Ah, dasar gila...'

Tendangan yang bertubi itu ternyata belum selesai, orang yang baru saja menendang dengan kencang itu mengambil spatula kayu dari dapur dan mengejar seorang laki-laki yang tersungkur setelah ditendang tadi.

Tes!

'Bau darah lagi...'

"Kau memang anak tidak tahu diuntung!"

Wanita tersebut memukul tubuh yang sudah tersungkur itu tanpa ampun.

'Hmm, mungkin aku harus menangis saat ini...'

"A-a-ampun maaa! Mama! Sakit! Ampun maa... Jangan pukul lagi!"

Laki-laki itu berusaha melindungi dirinya dengan membentuk dirinya menjadi seperti bola. Ia pun menghindari pukulan yang bertubi-tubi datang dengan susah payah karena tubuhnya yang penuh lebam.

Tak puas hanya dengan memukulnya berulang kali, perempuan yang dipanggil 'mama' tersebut menjambak rambut pirangnya dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke dinding.

"Ampun ma... Huuuu...! Am-ampun maaa!"

"Diam anak jalang! DIAM!"

Mengakhiri dengan kata terakhirnya, ia pun membanting tubuh laki-laki tersebut ke lantai. Laki-laki itu kemudian menjerit histeris ketika merasakan benturan kencang antara tubuhnya dan lantai yang dingin.

"AAAAAARGGGHH!"

"Sudah kubilang padamu, kalau laki-laki itu datang kau hanya perlu tidur dengannya! Kau dengar perkataanku anak jalang! KAU HANYA PERLU TIDUR DENGANNYA!

'cepatlah selesai... aku sudah mau istirahat'

"Dengan seenaknya kau lari dari sana dan mendatangi kantor polisi, kau pikir mereka akan membantumu? Kau tidak punya apa-apa disini kecuali tubuhmu, tahu! Aku ibumu! Jangan berani-berani kamu pulang kerumah kalau tidak menghasilkan uang dari tubuhmu itu... Aku tidak mengambilmu dari ayah bajingan keparatmu itu hanya untuk ini!"

Brak!

Gemetar ditubuhnya tak juga hilang meskipun perempuan yang mengaku sebagai ibunya sudah pergi dengan membanting pintu ke ruangan lain dan meninggalkannya sendirian di ruangan tersebut.

Namanya Kise Ryouta.

Awalnya, ia pikir kelahirannya di dunia ini adalah hal yang terbaik.

Dikelilingi keluarga yang mencintainya yaitu ayahnya dan kedua orang kakaknya. Dia tinggal di rumah yang bagus, kekayaan yang melimpah, dan bebas menari kemanapun yang ia inginkan. Dia memiliki segalanya.

Tapi, semua berubah ketika ayahnya bangkrut dan seorang wanita datang kembali ke rumah yang awalnya penuh kebahagiaan itu.

Wanita itu datang kepada ayahnya, mulutnya begitu manis dan dengan parasnya yang rupawan ia menipu ayahnya. Wanita itu mengatakan akan membayar lunas seluruh hutang-hutang yang dimilikinya, tapi dengan satu syarat.

Dia harus pergi dari rumah penuh kebahagiaan itu, dan membiarkan wanita itu tinggal bersama dengan 3 orang anaknya.

Awalnya pria yang mengaku sebagai ayahnya itu menolak dengan mengatakan bahwa ia tidak akan menjual anak-anaknya kepada seorang wanita yang bahkan dulu tidak bisa hidup bersamanya karena menentang mimpinya yang tinggi. Didepan anak-anaknya, pria itu berkoar-koar akan melindungi segalanya. Tidak masalah hidup miskin asal ada kehangatan keluarga didalamnya, katanya. Didepan anak-anaknya, pria itu terlihat seperti gemerlap cahaya yang sempurna. Mereka tidak perlu khawatir karena cahaya itu ada bersama mereka.

Tapi, kenyataan tidak seindah apa yang diharapkan.

Pria itu kabur dari rumah saat malam hari setelah menerima semua uang yang diberikan dari wanita tersebut kepadanya. Jangankan mengucapkan kata perpisahan, pria itu bahkan sepertinya lupa kalau dia memiliki tiga orang anak yang perlu ia jaga.

Semenjak saat itu, jangankan melihat adanya kebahagiaan didalam rumah itu... Yang bisa dilihat dalam rumah itu adalah kekacauan. Rumah yang berantakan atau darah kering yang ada dimanapun mungkin menjadi pemandangan lumrah yang terjadi disana.

Dua anak pertama dari pria itu diambilnya dan dilelang dengan harga tinggi di pasar perdagangan manusia. Terakhir kali Ryouta mendengar kabar tentang kedua kakaknya itu, katanya mereka berakhir di Russia dan Timur Tengah bersama para babi-babi yang perlu diberi makan diselangkangannya oleh kedua orang kakaknya yang saat itu merupakan model terkenal di Jepang.

Wanita itu senang karena pundi-pundi uangnya pun kembali setelah memberikan pria itu uang dan ia kembali berfoya-foya atas uang yang dia dapatkan dari menjual dua anak tersebut. Wanita itu menggelar pesta besar dirumahnya, merayakannya dengan tidur dengan banyak laki-laki sampai bahkan Ryouta sendiri tidak ingat wanita itu pernah tidur dengan berapa banyak laki-laki.

Ketika uangnya sudah menipis dan pria-pria itu tidak lagi mau tidur dengannya, maka hanya tinggal satu hartanya yang berharga yaitu selangkangan anak yang dibelinya dari pria itu yaitu Kise Ryouta. Kali ini, wanita itu bahkan tidak langsung menjualnya tapi menyewanya kepada laki-laki hidung belang yang sudah bosan dengan vagina istri ataupun selingkuhannya.

Mungkin, kedua kakaknya lebih beruntung nasibnya dibandingkan dengannya yang harus tinggal dengan wanita gila harta ini.

"Hhhh... Hhhhh..."

Laki-laki itu berusaha menahan rasa sakit yang amat pada seluruh tubuhnya. Luka lebam akibat pukulan, darah yang menetes diujung bibirnya, ah bahkan ia merasa tubuh bagian bawahnya pun juga terasa sakit karena kelakuan pria terakhir yang menyewanya sore tadi.

"Ya, terimakasih sayang... Aku sudah menerima uangnya. Senang berbisnis denganmu."

Ryouta terdiam ketika sayup-sayup mendengar suara merdu dari wanita yang mengaku sebagai ibunya itu berteriak penuh kesenangan saat pundi-pundi uangnya bertambah.

'Ah, aku harus istirahat...'

Tap... Tap... Tap...

Kakinya perlahan menaiki tangga dan memasuki kamar kecilnya yang tidak berubah sejak dulu. Ah, mungkin kecuali foto-foto ayahnya dan kedua kakaknya tidak ada lagi disana.

Bruk

Ia perlahan menjatuhkan dirinya diatas kasur dan meletakkan tangannya diatas dadanya, perlahan ia mulai merapalkan umpatan-umpatan yang sedari tadi ada dibenaknya tapi tak bisa ia keluarkan.

Terkadang, Kise merutuki dirinya kenapa wanita itu memiliki begitu banyak mata-mata yang mengawasi seluruh gerak geriknya sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana. Ketika ia mencoba untuk kabur, mata-mata itu segera menyergapnya entah darimana, membawanya pulang, dan kemudian ia harus menerima badannya akan dijadikan sansak tinju yang lebih berat dibandingkan biasanya. Entah sudah keberapa kali hal itu terjadi sehingga ia menyerah untuk kabur dan mencoba berdamai dengan keadaan.

Merutuk pelan ketika merasakan udara dingin menyapu kulitnya, Kise kemudian kembali terduduk di tempat tidurnya. Perlahan, ia bangun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju jendela yang terbuka sejak tadi. Ia berniat menutup tersangka yang berhasil membuatnya mengigil kedinginan sejak tadi. Baru saja ia hendak menutup jendela yang terbuka, matanya kemudian menangkap 2 orang berpakaian serba hitam masuk kedalam rumahnya.

'Siapa?'

'Ah, apa mungkin teman malam wanita itu?'

Kise memangku tangannya pada ambang jendela, memperhatikan sosok yang masuk lewat pintu samping karena memutar jalan dari arah gerbang rumahnya. Kepalanya perlahan mulai berfikir siapa yang mungkin masuk kedalam rumahnya dan sudah mengetahui dimana saja pintu rumah—

Tunggu

"Kalau dia memang teman wanita itu, kenapa dia masuk lewat pintu samping? Bukankah...?"

KYAAAAA!

Kise menoleh secara refleks ketika mendengar suara teriakan nyaring dari lantai bawah. Tanpa sadar, insting Kise kemudian berhasil membuatnya berlari dari kamarnya menghampiri asal suara yang terdengar.

'Dari kamar'

Usai mengetahui darimana suara tersebut terdengar, Kise berlari melesat menuju tempat yang ia tuju.

"Tidak! Tidak! Aku tidak salah apa-apa, berhenti!"

Brak!

Terengah perlahan, Kise berhenti didepan pintu ketika berhasil membuka pintu kamar tempat suara tersebut berasal. Kise mengerlingkan pandangannya, mendapati wanita yang mengaku sebagai ibunya telungkup di lantai berlumurkan darah, seorang laki-laki yang berhenti melakukan pemukulan dengan tongkat baseball-nya ketika melihat Kise masuk, dan seorang laki-laki lainnya diam duduk diatas meja memperhatikan Kise yang masuk kedalam.

"Kalian... siapa—

"RYOUTA!"

Kise menoleh kaget mendengar wanita tersebut memanggil namanya, wanita tersebut nampak mengangkat sebelah tangannya seakan ingin meraih tubuhnya. Wajahnya tersembunyi dibalik surai-surai rambutnya yang acak-acakan, namun dari balik itu Kise dapat melihat ada sarat ketakutan yang amat dari wajah itu yang mana baru kali ini ia temukan.

"Ryouta... tolong aku Ryouta...! Tolong... Kumohon tolong aku, aku tidak mau mati disini..."

Suaranya yang parau memanggil Kise, orang yang sedari tadi berdiri mematung karena tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Seumur-umur hidup dengan wanita itu, Kise tidak pernah mendengar permohonan yang begitu menyayat dari wanita yang mengaku sebagai ibunya tersebut.

"Haaah..."

Suara helaan nafas berat terdengar dari laki-laki yang duduk diatas meja, nampak kesal meskipun tertutup ekspresi dinginnya ketika melihat Kise masuk dan mengacaukan acara yang tengah dibuatnya didalam ruangan tersebut.

"Aku tidak suka ini... Cepat selesaikan ini juga"

Kise terdiam ketika menyadari bahwa ia juga turut menjadi target pembunuhan ditempat itu. Laki-laki yang memegang tongkat baseball itu kemudian berdiri sejenak seakan-akan mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan tongkat baseballnya tersebut. Laki-laki tersebut menoleh memperhatikan wanita yang sedari tadi ada dibawah kakinya kemudian berkata,

"Ah, kau duluan."

Wanita itu memasang wajah horror dan berusaha menghindari laki-laki tersebut dengan bergerak mundur menggunakan tangannya. Airmata menggenangi matanya dan mulutnya tidak berhenti berteriak nyaring.

"Tidak...! Tidaaaakkk!"

Cyaats!

Kise tidak sempat menutup matanya ketika darah menyembur karena laki-laki tersebut mengayunkan tongkat baseballnya dengan kecepatan penuh dan memenggal kepala wanita itu. Kise sempat merasakan jantungnya berhenti sejenak ketika melihat kejadian tersebut dalam diam.

Laki-laki yang duduk diatas meja itu menepuk tangannya perlahan seakan puas melihat pertunjukkan berdarah didepannya. Usai tepukan tangannya selesai, sosok itu menoleh perlahan kearah Kise, memiringkan kepalanya dan tersenyum dingin.

"Kau berikutnya."

Tap! Tap! Tap!

Kise menghindar dengan cepat ketika melihat laki-laki yang tadi menghabisi wanita itu berlari untuk mencapainya. Tepat sebelum tongkat baseball itu diayunkan, Kise menundukkan kepalanya dan mundur sebanyak 2 langkah untuk menghindari pertarungan.

Laki-laki tersebut kemudian mengayunkan tongkat baseball-nya lagi dan kali ini mengenai pinggul Kise yang kini tengah tersungkur karenanya. Sosok itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, kemudian berlari menghampiri Kise yang tersungkur dan mengayunkan kembali tongkat tersebut.

Bruak!

"Akkkhhh!"

Kise menjerit kencang tatkala tongkat baseball tersebut menghantam punggungnya dengan begitu keras. Dengan posisi telungkup, ia berusaha menahan sakit di punggungnya dengan menggigit bibirnya dengan begitu kencang.

"Heh... kau ini ternyata tipenya sama ya? Mangsa yang berisik kalau diterkam. Baguslah, ini akan jadi menarik"

Laki-laki itu menarik bibirnya hingga membentuk senyum yang mengerikan. Bahkan ia mulai terkikik perlahan ketika mendengar erangan lanjutan kesakitan dari Kise yang kini tengah bergetar dibawah kakinya. Laki-laki itu memperhatikan Kise seksama sambil mengetuk-etuk tongkat baseball.

"Ah aku lupa...

Laki-laki tersebut kemudian berjongkok dihadapan Kise kemudian menjambak rambutnya dan menarik wajahnya sejajar. Ia pun kemudian berbisik perlahan

"Kau memang sudah 'dididik' untuk selalu berisik bukan...

Meremas bokong Kise dan menjilat bibirnya lapar

"Untuk memuaskan semua laki-laki itu?"

Ucapan singkat dari laki-laki tersebut membuat Kise kembali tersadar dan dari bola matanya menyiratkan adanya rasa kebencian yang amat terhadap kata-kata tersebut.

"Ckckck... Sudahlah, kau tidak perlu merasa marah. Lagipula perkataanku memang benar kan?"

"Haha... Ha..."

Tawa perlahan dari Kise membuat wajah laki-laki dihadapannya kembali mengeras.

Cuh!

"SIALAN! Berani-beraninya sampah sepertimu meludahiku!"

.

"Harus berapa kali kau kabur? Tidak ada capek-capeknya?"

"Ini sudah ketiga kalinya kau mencoba kabur hari ini. Kau tidak tahu betapa capeknya aku dan temanku ini untuk menghajarmu supaya kau tidak kabur?"

"Kalau bukan permintaan dari perempuan itu, rasanya ingin kupatahkan kakimu"

.

Laki-laki yang begitu emosi tersebut kemudian mengayunkan tongkat baseball yang dipegang dengan begitu kencang.

Kise yang tengah tersungkur tidak kehilangan fokusnya dan menahan ayunan tongkat tersebut dengan kedua tangannya ketika ayunannya mulai terasa menyapa bagian kiri dari tubuhnya. Usai menahanya dengan tangan kirinya, dengan gerakan cepat Kise kembali berdiri dan mengambil langkah menjauh agar bisa mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.

Ia tidak menyadari, laki-laki yang duduk diatas meja itu memperhatikan gerakkannya dengan intens.

Laki-laki pemegang tongkat baseball itu kemudian mengejar Kise kembali setelah merutuki serangannya yang tidak berhasil padanya. Tidak berhasil pada tongkat baseball-nya, laki-laki tersebut memasuki pertarungan jarak pendek pada Kise dan melancarkan tendangan setinggi dada dengan kecepatan tinggi.

.

"Oi, sudah berapa kali kubilang jangan pukul dia terlalu banyak. Kalau dia jadi jelek, dia tidak akan laku dipasaran."

"Tidak laku dipasaran juga tak apa. Yang penting dia masih bisa berteriak nikmat saat lubangnya dijamah orang."

"Haha, ya... termasuk kita"

.

Kise, yang sudah terbiasa dengan tendangan dan pukulan, dengan instingnya yang kuat melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya menghalau gerakan dari laki-laki tersebut. Ia terlihat berusaha menghafal pola pergerakan dari laki-laki yang menyerangnya. Ketika dia lengah, Kise mengambil kesempatan dengan berbalik dan mengambil tongkat baseball tersebut dari tangan pemilik sebelumnya.

"Hei!"

Suara teriakan tertahan dilontarkan ketika senjatanya diambil oleh pemuda pirang yang seharusnya menjadi mangsanya saat ini. Kise menenteng tongkat baseball tersebut dan mengingat bagaimana pergerakkan dasar dari lawan dihadapannya. Entah mengapa, ia tidak takut meskipun ia tahu bahwa pertarungan ini antara hidup dan mati.

'Aku menikmatinya...'

Tanpa sadar, Kise menjilat bibirnya lapar. Degup jantungnya yang semakin tak berirama memompakan adrenaline yang mengalir deras pada seluruh peredaran darahnya. Kise begitu menghafal rasa ini. Ini adalah rasa yang sama ketika ia melakukan hubungan badan, dan herannya ini membuatnya nyaman dan merasa seperti ia tidak akan kehilangan dirinya sendiri.

'Aku tidak akan mati disini'

Sosok didepannya, yang sadar akan perubahan dari sikap Kise, perlahan menyadari bahwa aura membunuhnya sudah didominasi oleh pemuda pirang amatir yang bahkan tidak tahu bagaimana membunuh. Ia pun menjadi ciut apalagi mengingat bahwa senjata yang ia pegang kini berbalik pemilik. Laki-laki itu menggigit bibirnya untuk menghindari rasa gugup mengambil alih dirinya. Mau ditaruh dimana harga dirinya? Tidak kurang dari 5 menit yang lalu ia baru saja membunuh seseorang dan sekarang orang yang bahkan tidak tahu caranya membunuh berdiri didepannya dengan aura membunuh yang lebih kuat dibandingkan dengannya. Jangan gila!

"Majulah, aku akan menghabisimu"

Kise mengulurkan tangannya, mengajak sekaligus merendahkan sosok didepannya yang merupakan pemilik dari senjata yang kini ada di tangannya untuk maju kehadapannya. Kise berteriak gembira dalam hati melihat sosok dihadapannya termakan provokasinya dan maju kehadapannya.

'Lakukan seperti yang kau lihat'

Semakin sosok itu mendekat kearahnya, Kise menutup matanya mengingat bagaimana pergerakkan laki-laki tersebut saat membunuh beberapa menit yang lalu.

"Sialan kau! Berani-beraninya!"

'Sedikit lagi...'

Kise bersiap untuk mengayunkan tongkat baseball ditangannya. Ketika ia merasakan deru angin yang cepat dan ayunan kaki yang semakin terdengar di telinganya, tanpa sadar Kise membuka matanya dan mengayunkan tongkat baseball tersebut sekuat yang ia bisa.

'Jackpot!'

Klak!

Seakan dibawa kembali ke 5 menit yang lalu, Kise tidak sempat menutup matanya lagi ketika melihat semburan darah hangat menyapa wajahnya hasil dari ayunan tongkat baseball-nya yang memenggal kepala sosok dihadapannya.

"Hah... Hahhh..."

Kise terengah perlahan ketika ia merasakan sesak di dadanya karena jantungnya yang berdegup begitu kencang. Ia menjatuhkan tongkat baseball yang berhasil ia curi dari sosok yang ia bunuh didepannya dan jatuh terduduk melihat hasil pertarungan yang baru saja ia lewati.

Clap! Clap! Clap!

Kise, yang tidak lagi memiliki tenaga, menoleh perlahan melihat pemuda yang duduk di meja. Sosok yang terlihat begitu mengintimidasi apalagi ketika tubuhnya menjadi siluet ketika tertimpa cahaya rembulan yang masuk kedalam ruangan. Sosok yang tersenyum dengan senyuman dinginnya dan memperhatikan pergerakkan Kise sedari tadi.

"Bagus sekali..."

Kise meraih tongkat baseball yang tadi dijatuhkannya, sebuah bentuk proteksi apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pemuda itu kemudian turun dari meja yang sedaritadi merupakan singgasananya, menghampiri Kise yang tengah terduduk dan gemetar menghadapi aura intimidasi darinya.

"Laki-laki tadi adalah calon pembunuh yang kudidik, orangnya bermulut besar dan tidak bisa diatur. Kau lihat sendiri hasilnya. Sangat menyedihkan

Matanya mengerling pada kepala yang ada diujung ruangan, kemudian tersenyum miring.

"Tapi kau, orang yang bahkan tidak pernah menerima pelatihan sebelumnya. Berhasil untuk membunuhnya dengan mengikuti teknik murahan miliknya hanya dengan sekali lihat. Aku tidak bisa membayangkan akan seberbahaya apa kau ketika sudah dilatih nantinya.

Gemetar ditangan Kise perlahan menghilang berganti rasa waspada yang mengalir. Ia berjaga-jaga seandainya sosok dihadapannya akan membunuhnya juga.

"Ikutlah aku..."

Kise tersentak perlahan mendengar ucapan yang diucapkan padanya. Sosok dihadapannya secara spontan menjadi sosok penyelamat dihadapannya. Penyelamat yang mau menolong sosok kotor yang jadi pembuangan sperma laki-laki hidung belang setiap harinya. Sosok yang memuji pergerakan yang ia miliki.

"... Kenapa?"

"Karena kau berbakat. Bakatmu harus kuasah, aku akan menjadikanmu pembunuh paling ditakuti. Orang diluar sana akan gemetar hanya dengan mendengar namamu...

"Bukankah itu yang kau inginkan?"

Untuk kali pertama, Kise mendongak memperhatikan pemuda berambut hitam legam dihadapannya. Senyumnya, yang kali ini menjadi senyum menenangkan, menghipnotis seluruh indranya. Kise perlahan menunduk kembali, menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku orang kotor. Aku tidak akan berguna untukmu, tadi itu hanya kebetul—

"Bukankah kamu ingin merasakan itu lagi? Adrenaline yang mengalir deras, membuatmu sesak, gelisah, tubuhmu panas, tapi itu berhasil membuatmu nyaman kembali...

"Bukankah itu yang orang kotor seperti aku dan kau ingin rasakan setiap hari?"

Merasa seperti tertampar, tanpa sadar airmata mengalir dari pelupuk matanya.

"Jadi apa jawabanm—

"YA!"

Belum sempat pemuda itu melanjutkan pertanyaannya, Kise, masih dengan airmatanya yang mengalir deras berteriak menjawab pertanyaannya yang terpotong. Pemuda itu tersenyum tipis dan menepuk kepala Kise perlahan.

"Aku akan mengikutimu"

Kise meyambut tangan pemuda tersebut yang hendak membantunya berdiri dan kini mereka berdua berdiri bertatap-tatapan.

"Kalau begitu panggil aku Himuro Tatsuya, muridku."

XxX

"Kau belum pulang, Reo?"

Kiyoshi menghampiri Reo yang nampak duduk di tempatnya, terlihat lebih diam dibandingkan hari-hari biasanya. Reo hanya mengetuk-etuk jarinya diatas meja dan nampak memikirkan hal lain meskipun Kiyoshi mengajaknya untuk berbicara.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Reo."

Kiyoshi menarik kursi dan duduk dihadapan Reo yang kini tengah termenung. Seakan menyadari ada sosok yang duduk dihadapannya, Reo kemudian meghentikan ketukan jarinya dan memindahkan tangannya ke pangkuannya. Ia pun menoleh dan menatap Kiyoshi secara empat mata.

"Ah maaf, aku tidak sadar tadi..."

Reo mengurut pelipisnya perlahan dan menyandarkan dirinya pada bantalan kursi dibelakangnya.

"Santai saja, hanya ada aku dan kau disini."

Kiyoshi tersenyum tipis saat melihat senyuman singkat dari Reo, pertanda dia sudah lebih tenang dibandingkan tadi.

"Kau terlalu tegang tadi saat Kuroko membahas kasus itu, Reo. Semua anak-anak di tim bahkan tahu kalau kau gelisah saat Kuroko membahas tentang pelakunya. Jangan seperti itu..."

"Tidak bisa, Teppei..."

Reo menghela lelah saat Kiyoshi melanjutkan pembicaraan yang paling tidak ingin ia bicarakan.

"Kita ada didalamnya, kita mengurusnya, kita mengejarnya, tapi... dia tidak juga bisa tertangkap...

"Sudah terlalu banyak waktu yang kita curahkan untuk mengejarnya. Tapi dia tidak kunjung tertangkap. Setelah tidak membunuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, aku berharap dia sudah mati dimanapun itu agar tidak lagi harus mencurahkan waktuku untuknya. Ketika sekarang dia tiba-tiba muncul lagi... Bagaimana aku bisa tenang, Teppei? Kau tahu kalau adikku mati di pembunuhan pertamanya... Berhadapan dengannya lagi bisa membuatku gila, kau tahu itu kan?"

"Karena aku tahu itu... Maka kau tenanglah..."

Kiyoshi menarik tangan Reo, sebuah usaha untuk membuatnya kembali tersadar dan berhenti dari ucapannya.

"Kita punya tim yang bagus. Kau tidak sendirian untuk menanggung semua beban ini lagi, Reo. Tenanglah... apapun itu, kau tidak akan mengerjakannya lagi sendirian...

"Kita akan menangkapnya. Kau harus percaya itu. Kita akan menemukannya dan menangkapnya. Membuatnya untuk menyesali perbuatannya, dan dia akan menerima hukuman yang pantas untuk itu. Kita akan membuat semua korbannya damai setelah melihat pelaku pembunuhan itu menerima apa yang seharusnya ia terima.

Dan kita yang akan melakukan itu, bukan hanya kau, Reo"

Reo menunduk dalam tidak ingin bertemu mata dengan Kiyoshi setelah ia mengatakan begitu panjang.

"Sekarang pulanglah, tubuhmu perlu istirahat. Kita akan membahas kasus ini lagi besok, jadi pastikan kau juga dalam kondisi yang optimal."

Kiyoshi menepuk pundak Reo beberapa kali untuk kembali menenangkannya. Reo mengangguk dan membereskan barang-barang yang ingin dibawanya pulang.

"Ah, satu lagi...

Reo menolehkan kepalanya, melihat Kiyoshi yang memunculkan kepalanya lagi dari balik pintu.

"Aku tidak akan membiarkan kau sendirian lagi, Reo."

'Karena begitu menyesakkan melihatmu menderita sendirian. Biarpun kau harus menderita, biar aku juga merasakan penderitaan itu bersamamu'

Reo tertawa renyah khas dirinya sambil memegang perutnya yang sakit karena banyak tertawa. Ia pun mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya pada Kiyoshi.

"Aku mengerti, terimakasih Teppei"

XxX

"Kurasa aku sudah pernah bilang untuk tidak bekerja sendiri tanpa perintahku. Benar begitu, Ryouta?"

Kise Ryouta, orang yang sedari tadi duduk dihadapan Akashi Seijuuro hanya terdiam dengan wajah dan pandangannya yang kosong.

"Aku mengajukan pertanyaan padamu, Ryouta."

Akashi Seijuuro, laki-laki yang tengah berusaha mengintrogasi Kise mengulangi pertanyaan yang sama sejak setengah jam yang lalu, nampak mulai kesal ketika melihat orang yang diajak bicara dihadapannya tidak menggubris perkataan yang dilontarkan dari mulutnya.

Tersangka dan hakim duduk berhadap-hadapan sementara ketiga pemuda lainnya berdiri mengelilingi keduanya. Suasana disana nampak begitu dingin dan mencekam terlebih setiap Akashi Seijuuro mengatakan hal yang sama berulang kali selama setengah jam terakhir. Keduanya begitu keras kepala, Akashi tidak mau mengalah dan mengharuskan Kise untuk menjawab pertanyaannya. Sementara berkebalikannya, Kise tidak mau mengalah dengan tetap duduk diam dan memasang wajah datarnya.

Midorima, berulang kali menggigit bibirnya tiap kali Akashi melontarkan pertanyaan yang sama dan dengan nada suara yang sama. Ia menggigit bibirnya makin kencang ketika melihat Kise hanya seperti boneka duduk dihadapan Akashi tanpa bicara sepatah katapun. Ia menolehkan bola matanya untuk melihat pipi kanan Kise yang masih merah akibat tamparan refleks yang dilepaskan Akashi padanya.

Midorima menolehkan kepalanya untuk melihat dua orang lainnya yang berdiri bersebelahan, Aomine Daiki dan juga Murasakibara Atsushi. Midorima merutuk didalam hatinya ketika melihat keduanya memasang poker face meskipun mengetahui bahwa suasana sedang begitu menegangkan. Tidak ada itikad apapun dari keduanya untuk mengakhiri perseteruan ini.

"Krkkk...! Krrk!"

Murasakibara mengambil satu batang pocky yang sedaritadi ia makan, mengunyahnya perlahan sambil terus memperhatikan keduanya, Kise dan Akashi, berseteru panjang. Melihatnya, Midorima hanya bisa menghela nafas berat merutuk kesal mengapa rekan-rekannya tidak bisa bertindak sesuai dengan situasi sekarang ini.

"Aku mengulangi pertanyaanku, Ryouta. Kenapa kau bekerja sendirian tanpa mendengarkan perintah dariku?"

Kise hanya terdiam.

Melihat respon dari Kise, Akashi perlahan menghela dan memijat pelipisnya yang terasa pening.

"Kesabaranku mulai habis, Ryouta.

Akashi mengeluarkan gunting merah kesayangannya dari kantung celananya dan menggerakkannya perlahan didepan wajahnya.

"Kalau kata-kata saja tidak cukup untuk menjinakkanmu, kurasa aku perlu main kasar untuk membuatmu membuka mulutmu itu."

Midorima membelalakkan matanya kaget mendengar perkataan Akashi dan balik menoleh kearah Aomine dan juga Murasakibara yang juga bertindak sebagai penonton. Sadar diperhatikan terlalu lama oleh Midorima, Aomine mengelus tengkuknya dan mulai membuka mulutnya untuk membela Kise.

"Akashi, bisakah kita hentikan? Ryouta belum siap untuk menja—

"Berhenti bicara, Daiki. Aku tidak memintamu bicara."

Akashi berdiri dari tempatnya, melihat Kise yang masih terduduk ditempat bergeming dibawah matanya.

"Aku rasa orang-orang itu tidak pernah mendidikmu untuk menutup mulutmu itu. Kalau hanya diam yang bisa kau berikan sebagai jawaban atas pertanyaanku, kurasa aku juga salah untuk memilihmu sebagai rekan kerja, Ryouta. Aku tidak membutuhkan rekan kerja yang pengecut sepertimu"

Akashi melangkahkan kakinya menjauh dari sana.

"Aku harus melakukannya karena aku membutuhkan itu"

Empat pasang mata menoleh ketika mendengar Kise berbicara pada Akashi yang sedari setengah jam bertanya pertanyaan yang sama padanya. Aomine melirik Kise dari ekor matanya, memperhatikan apakah ada gelagat yang aneh dari Kise setelah ia menjawab hal tersebut.

"Tidak selamanya perbuatanku perlu diatur olehmu bukan, Akashi Seijuuro? Aku bebas melakukan apa yang kumau, dan bebas tidak melakukan apa yang tidak aku sukai. Aku akan menjalankan perintahmu ketika aku mau menjalankannya, dan tidak akan kulakukan ketika aku tidak mau menjalankannya. Itu hal yang lumrah bagiku. Pertanyaanmu membuatku bingung harus menjawab apa karena aku yakin kau juga sudah tahu apa jawaban dariku.

"Aku tidak mengikutimu karena kau satu-satunya cahaya, Akashi Seijuuro. Aku mengikutimu karena kau cahaya yang menjanjikan. Ketika kau sudah tidak menjanjikan, aku bisa meninggalkanmu.

Kise ikut berdiri dan memandang Akashi sejajar dengannya

"Karena itu berhentilah dengan peran raja-mu itu Akashi-cchi, kau tidak cocok memainkan peran itu sekarang.

Kenapa?

"Karena kau lemah"

-To be Continued-

A/N: Yakkkk! Tidak menyangka bisa nulis sebanyak ini teman teman semuaaaaaaa. Saya bangga banget because ini adalah penjabaran terpanjang dari saya. Oh iya saya mau minta maaf, saya sepertinya ada kesalahan beberapa frasa di chapter lalu jadinya saya ubah di chapter ini. Huhuhuhu... Nantikan update-an lanjutannya ya semuanya. Last but not least, please review and kasih kesan pesan di kolom komentar ya... Karena kepuasan anda adalah prioritas kami. #ngek #berasaiklan
SAMPAI KETEMU DI CHAPTER SELANJUTNYAAAAAAA. ADIOS!