thank you for your reviews! and also thank you to people who followed or favorited my story :)

chapter 1 sama chapter 2 bakal jadi chapter terpendek (mungkin), karena ide aku malah ada di bagian tengah sama akhir hahaha. kayaknya ga bakalan nyampe 10 chapter, karena aku gampang kena writer's block. always support exo, guys!

regards, andréi.


Sudut pandang orang ketiga serba tahu.


Hari demi hari, Chanyeol setia mengajari Baekhyun sang 'teman' barunya itu, dimulai dari cara berbicara bahasa Korea hingga cara berbelanja ke minimarket (karena terkadang Chanyeol terlalu malas untuk pergi keluar). Walaupun saat Baekhyun berbicara tidak sengaja kata kata Rusia terselip di lidahnya, namun setidaknya ia sudah bisa berbicara bahasa Korea dengan lumayan fasih, thanks to Chanyeol. Tentunya sang pemilik apartemen yaitu Raina tidak tahu menahu tentang Baekhyun dan Chanyeol yakin ibu muda itu terlalu sibuk untuk mengurusi salah satu penghuninya. Kalau dipikir pikir, Raina memang tidak acuh sampai tidak menyadarinya sejak tiga minggu silam, kejadian dimana Chanyeol memungut Baekhyun di tempat pembuangan sampah.

Bagaimana dengan keluarga Chanyeol? Sama tidak acuhnya dengan Raina, bedanya orangtua Chanyeol terutama Tuan Park yang keheranan mengapa putranya itu kerap meminta uang kepadanya, tentu dengan alasan bahwa Chanyeol ingin membeli peralatan untuk tugas kelompoknya di kampus, padahal ia harus membeli pakaian untuk Baekhyun. Merepotkan sih, Chanyeol terkadang mengeluh tetapi ia tidak bisa menolak.

Baekhyun anak yang pintar dan penurut, ia jarang meminta sesuatu yang aneh aneh. Tingkah lakunya yang seperti anak kecil membuat Chanyeol gemas dan pemuda itu memperlakukan Baekhyun seperti adiknya sendiri.

"Chanyoru, ajari aku!"

"Chanyoru, ayo mandi bersama!"

"Aku bosaaaan, ayo kita main!"

"Chanyoru, aku sudah cocok menjadi istrimu belum?"

Oke, abaikan yang terakhir. Anak itu terlalu girang karena dipuji oleh Chanyeol tentang masakannya yang memang betul terasa sedap di lidahnya.

Omong omong, berbicara soal Baekhyun, tato angka 04 dan anting aneh milik Baekhyun tidak pernah ia lepas, sepertinya tato di rahangnya itu permanen. Chanyeol terlalu takut untuk bertanya kepadanya, dan ia menganggap hal itu tidak terlalu penting.

Waktu liburan telah habis, beruntung Baekhyun sudah bisa menjaga dirinya sendiri dan menunggu di kamar Chanyeol. Baekhyun pun dipinjamkan handphone yang harganya murah oleh Chanyeol agar mereka berdua bisa saling berkomunikasi, mengingat Chanyeol akan sibuk dengan kuliahnya nanti.

"Hei Chanyeol," sapa Sehun dari belakang, mengikuti langkah Chanyeol di koridor kampus yang menuju ke kantin. Chanyeol menyadarinya dan menoleh kepada Sehun. "Hei bro,"

"Tugas dari dosen killer yang minggu kemarin sudah beres belum?" tanya Sehun berbasa basi. Padahal mereka bukan tipe mahasiswa yang rajin mengerjakan tugas. "Aku berusaha untuk melupakannya tapi kau malah membuatku ingat dengan tugas memyebalkan itu," Chanyeol sewot.

Sehun terkekeh, lalu ia memasukkan buku catatannya ke dalam ransel berwarna hitam miliknya. "Santai, aku juga belum, kok. Kai mengajakku untuk mengerjakan tugas bersama, kupikir apartemenmu tidak buruk, Yeol. Memangnya kalian tidak bosan dengan rumahku yang monoton itu?"

Chanyeol terdiam, tidak langsung menjawab. Di apartemen kan ada Baekhyun, Chanyeol harus jawab apa nanti. "Uh, tapi di rumahmu tidak membosankan karena ada wifi," ujar Chanyeol berusaha mencari alasan.

"Kau itu aneh Chanyeol, akhir akhir ini selalu saja menolak jika kami berkunjung ke apartemenmu. Memangnya ada siapa di sana? Pacarmu, hah?" Goda Sehun, memicingkan kedua matanya menatap Chanyeol dengan tajam.

"Tidak, hanya saja…" cicit Chanyeol, dipotong oleh adanya kehadiran Kai di antara mereka berdua yang datang secara tiba tiba sambil merangkul Chanyeol dan Sehun. "Berdiskusi tanpaku, eh?"

"Kai, berkompromilah dengan Chanyeol. Dia terus saja menolak kalau kita mengerjakan tugas atau berkunjung ke apartemennya," ucap Sehun sinis sambil melepas rangkulan Kai. "Seperti perjaka takut ketahuan oleh orangtuanya gara gara punya pacar saja," lanjutnya sambil meledek Chanyeol. Ledekannya tepat membuat Chanyeol tertohok.

"Bro, tidak usah menyembunyikan sesuatu dari kami. Biasanya kau selalu jujur dan menceritakan segalanya," Kai menoleh ke arah Chanyeol. Pemuda bertelinga lebar itu menggigit bibir tebal miliknya, bingung apakah ia harus cerita kepada kedua sahabatnya ini atau tidak.

"Okay fine, tapi kurasa kalian lebih baik melihatnya langsung di apartemenku nanti."


Baekhyun sedang asyik menonton kartun Pororo yang baru tayang beberapa menit yang lalu di televisi milik Chanyeol, sambil memakan tteokpokki buatannya sendiri.

Ting tong. Mendengar suara bel dibunyikan, Baekhyun menghentikan aktifitas menontonnya sejenak dan bergegas membuka pintu. "Mungkin itu Chanyeol," gumamnya.

(6)"ДОБРО ПОЖАЛОВАТЬ, Chan-" saat pintu terbuka, Baekhyun sedikit terkejut karena Chanyeol tidak sendirian seperti biasanya. Ini baru pertama kalinya Baekhyun melihat teman Chanyeol berkunjung kemari. "…yeol?"

"Woah, ini kekasihmu Chanyeol? Ia begitu manis dan mungil!" teriak Kai heboh sambil menunjuk Baekhyun. "Diamlah, dia bukan kekasihku," Chanyeol berdecih pelan, memasuki kamarnya dan mengusak rambut Baekhyun sekilas. Lelaki mungil itu masih berdiri mematung, memperhatikan dua lelaki bertubuh tinggi yang masih asing baginya itu.

(7)"Chanyoru, Кто?" Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sudah dalam posisi duduk sila mengelilingi meja bundar bersama Sehun dan Kai, jari lentiknya menunjuk ke arah dua sahabat Chanyeol itu. "Mereka itu sahabatku Baekhyun, tolong siapkan kami minuman ya?" jawab Chanyeol tersenyum tipis, memaklumi sifat Baekhyun yang gemar bertanya itu. Lelaki mungil itu pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju dapur.

"Kekasihmu itu orang Rusia, Yeol? Tapi wajahnya seperti asli Korea," tanya Sehun. "Bisa saja ayahnya atau ibunya orang Rusia, iya kan Yeol?" Kai menimpali pertanyaan Sehun, sok tahu.

"Mungkin…? Tentang keluarganya saja aku tidak tahu," Chanyeol menjawab dengan santai. Berbeda dengan Sehun dan Kai yang keheranan. "Aneh, memangnya kalian itu sudah tinggal bersama berapa lama?" Sehun kembali menginterogasi.

"Kurang lebih tiga minggu," ucap Chanyeol, sambil mengubah siaran televisi menjadi berita. "Tiga minggu itu cukup lama Yeol, memangnya kalian bisa bertemu gara gara apa? Aplikasi sejenis Omegle?" gurau Kai. Tidak begitu lucu namun hanya ia satu satunya yang tertawa.

Chanyeol mendengus. "Aku memungut Baekhyun di tempat pembuangan sampah dekat apartemen," jelasnya membuat Sehun dan Kai melotot. "Seriously? Tempat pembuangan sampah? Memangnya apa yang terjadi kepadanya?" nada bicara Sehun mulai meninggi.

"Entahlah, Baekhyun lupa ingatan. Saat kutanya dia mengaku tidak mengingat apa apa. Ya sudah, kurawat saja dia," masih, Chanyeol menjelaskan dengan santai, berbeda dengan kedua sahabatnya itu yang sedikit terkejut mendengar penjelasan Chanyeol.

"Ho, apakah karena dia seorang yakuza? Kulihat tadi ada tato di rahangnya dan dia memakai anting," tebak Kai dengan sok tahu, lagi.

Sehun tidak kembali membuka mulut, ia hanya mengangkat kedua bahunya. "Hei, bisakah kalian merahasiakan ini dari orang lain? Keluargaku bahkan tidak tahu," bisik Chanyeol, takut terdengar oleh Baekhyun yang masih berada di dapur.

"Tentu saja, kami berjanji," Sehun dan Kai bersungguh sungguh dengan ucapan mereka, karena mereka bertiga sudah berteman sepuluh tahun lamanya.

Tak lama kemudian, Baekhyun kembali menghampiri tiga pemuda yang sedang bersenda gurau itu. "Tiga lemon tea sudah jadi," ia menaruh tiga gelas lemon tea yang dihiasi oleh es batu tersebut di atas meja bundar. "Terima kasih Baekhyun," ujar Chanyeol.

"Baekhyun, umurmu berapa?" tanya Sehun, membuat Baekhyun menoleh kepadanya. "Aku tidak tahu… sembilan belas, mungkin?" jawab Baekhyun dengan polos.

"Kau sebaya dengan kita? Kukira kau masih sepuluh tahun," celetuk Kai. "Heh, kau pikir aku pedofil," Chanyeol sewot untuk kedua kalinya.


"Bye Chanyeol, bye Baekhyun,"

Baekhyun melambai lambaikan tangannya ke Sehun dan Kai yang sosoknya mulai hilang perlahan lahan karena mereka berjalan kaki ke rumahnya. Apartemen ini cukup dekat dengan rumah Sehun dan Kai omong omong, maka dari itu letaknya sangat strategis bagi Chanyeol. Chanyeol dan Baekhyun hanya mengantar mereka sampai depan gerbang apartemen.

"Sudah malam, apa kamu lapar?" tanya Chanyeol sambil merangkul pundak sempit Baekhyun. "Hum, lumayan."

"Ayo kita masuk, lalu kita masak untuk makan malam," Chanyeol menggandeng tangan Baekhyun untuk masuk ke kamarnya. Baekhyun mengangguk dengan girang.

Di dapur, Baekhyun tampaknya sudah siap untuk memasak, buktinya lelaki mungil itu telah memakai celemek berwarna pink muda yang dibelikan oleh Chanyeol. Ia memang gemar memasak sehingga tidak aneh untuk Chanyeol melihat Baekhyun yang terkadang sibuk sendiri di dapur.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, Baekhyun yang handal itu bisa memasak bokkeumbap dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Chanyeol tidak jadi membantunya karena Baekhyun memaksa agar ia menyiapkan makanan untuk sang 'majikan', dan Chanyeol menurut saja.

"Kamu memang koki yang lihai," puji Chanyeol tulus. Baekhyun hanya tersenyum sipu, dan mendudukkan pantatnya di sebelah Chanyeol. "Aku senang memasak, apalagi untuk Chanyoru."

"Makanan kesukaanmu apa, Baek?" tanya Chanyeol.

"Blini dan honeycake," jawab lelaki mungil tersebut.

"Blini? Pancake khas Rusia yang terbuat dari gandum?"

"Bagaimana kamu bisa tahu, Chanyoru? Blini berbeda dengan pancake di Korea yang ada isinya," jelas Baekhyun.

Chanyeol mengangguk paham, sekarang ia tahu mengapa dulu Baekhyun pernah beberapa kali meminta makanan berupa kue atau bolu. Anak itu mempunyai hobi makan, apalagi kalau rasanya stroberi. "Sejak ada kehadiranmu, aku jadi lebih sering cari tahu tentang Rusia."

"Hee, iyakah? Coba bicara bahasa Rusia padaku!" Baekhyun menantang Chanyeol, sedikit penasaran seperti apa kalau Chanyeol berbicara bahasa asing.

"Tidak jadi, yang jelas aku masih payah dibandingkan dirimu," lelaki berlesung pipi itu merajuk. "Kamu menyukai blini dan honeycake sejak kecil?" tanya Chanyeol, lagi.

Baekhyun mengangguk sekali. (8)"Мать selalu membuatku blini setiap sarapan bersama, begitu juga dengan Отец. Keluargaku senang memasak,"

"Sayangnya hanya sampai mereka berdua meninggalkanku," lanjutnya, dengan tersenyum pilu.

Chanyeol terhenyak, rupanya lelaki mungil ini telah mengalami berbagai kejadian yang menyedihkan. "I feel sorry to hear that,"

"It's ok." Baekhyun masih tersenyum.

"Omong omong, kamu tinggal di kota apa saat masih di Rusia?" Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan.

"Moskow. Walaupun aku hanya tinggal beberapa tahun disana, tapi kota itu sangat indah. Aku suka dengan suasananya," jelas Baekhyun. "Kalau Chanyoru ke Moskow, jangan lupa pergi ke teater Bolshoi atau Gorky Park."

"Kedengarannya menarik. Ayo nanti kita ke sana berdua, Baek." Chanyeol mengusak surai berwarna hitam milik Baekhyun dengan sayang. "Kita bulan madu di kota kelahiranmu," ujar Chanyeol sambil terkekeh.

Rona merah muncul di kedua pipi gembil Baekhyun. "Hmm, boleh."

Chanyeol menghabiskan bokkeumbap buatan Baekhyun dengan lumayan cepat, akibat rasa lapar yang mendera. "Tapi sebelum bulan madu, sepertinya aku harus belajar bahasa Rusia terlebih dahulu."

"Bukannya kamu sudah bisa, Yoru? Buktinya aku pernah diam diam mengintip kamu menulis kata kata Rusia sebelum tidur, beberapa hari yang lalu," Baekhyun menyusul, bokkeumbap miliknya pun sudah habis. "Sini aku ajarkan, mudah kok."

Sudut pandang orang pertama: Chanyeol.


"Tetangga baru?"

Aku baru sampai di apartemen, habis membelikan Baekhyun komik yang berjudul One Piece di toko buku yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari kampus. Raina menyambutku di pintu masuk, biasanya ia menyapaku hanya saat ada sesuatu yang harus disampaikan.

"Iya tetangga baru, ia baru pindah kemarin siang. Aku berniat untuk memberikan ia handuk dan makanan ringan sebagai tanda pengenal, tapi sepertinya ia terlalu malu untuk keluar. Bisakah kau berkunjung ke kamarnya? Ia seorang lelaki," Raina memberikan handuk dan makanan ringannya kepadaku. "Kamarnya nomor 312. Tolong ya!"

Raina menatapku dengan tatapan memohon, apakah dia memang terlalu malas menyambut penghuni baru atau takut, entahlah. Lagi, ibu muda ini terlalu akrab denganku sehingga aku kerap diminta tolong olehnya. "Baiklah."

Kulangkahkan kedua kaki panjangku ke lantai tiga, mencari pintu yang bernomor 312. Setelah kutemukan, aku mengetuk pintu tersebut dengan menggunakan punggung tanganku.

Tiga ketukan, tidak membuat sang empunya bereaksi. Apakah ia tidur?

Aku menarik lipatan lengan kemeja kotak kotak hitam-putih ke belakang, melihat ke arah jam tangan berwarna hitam yang sedang kupakai. Sudah jam lima sore, rasanya aneh kalau ada orang yang tidur jam segini.

"Permisi, ada orang?" aku pun mengetuk kembali pintunya.

Hening. Masih tidak ada jawaban.

Cklek. Satu menit berlalu, pintu baru dibuka. Tampak sesosok lelaki yang memiliki tinggi badan di bawahku menatapku dengan tajam. Matanya bulat, bibirnya tebal, rambutnya berwarna hitam dan pipinya pun gembil, sama seperti Baekhyun.

"Ada apa?" walaupun ekspresi wajahnya sedikit menyeramkan dan suaranya berat, kelihatannya ia orang yang baik. "Tidak, kudengar dari Raina, kau baru pindah ke apartemen kemarin. Jadi ia menitipkan ini kepadaku," kuberikan handuk dan makanan ringan kepada lelaki tersebut. Untungnya ia menerimanya dengan begitu saja.

"Terima kasih," ujarnya tanpa senyum sedikitpun. Oh well, aku tidak berharap pamrih juga.

"Sama sama, semoga kau betah disini ya," balasku sambil tersenyum lebar, berusaha ramah. "Oh iya, namamu siapa?"

"…..Kyungsoo, Do Kyungsoo," balasnya singkat.

"Namaku Park Chanyeol, semoga kita bisa berteman dengan baik!"

Aku pun bergegas pergi meninggalkan Kyungsoo, setidaknya tugasku sudah selesai. Setelah aku pamit pergi, dapat kudengar pintu kamarnya ditutup olehnya.

"Tetangga yang aneh," gumamku bermonolog.


February 12th, 2018

Seoul, 04.00 a.m. KST

Waktu yang terlalu awal untuk bangun tidur, untungnya aku masih tertidur pulas dan bermimpi indah. Tidak ada suara yang berbunyi selain dengkuranku dan kipas angin yang berputar dengan kecepatan lambat.

Aku dan Baekhyun selalu tidur di satu ranjang, jangan berpikiran yang aneh aneh, aku hanya berani sampai memeluknya, tidak lebih. Tubuh Baekhyun walaupun mungil, setidaknya hangat saat dipeluk karena ia memiliki banyak lemak, lmao.

Entah kenapa, tiba tiba aku terbangun. Kedua mataku terbuka dengan cepat, ibarat aku sehabis mengalami mimpi buruk. Lalu aku menyadari sisi kasur sebelahku kosong, apakah Baekhyun terbangun juga?

Aku terduduk, melihat sebuah sosok yang meringkuk depan jendela. Dari rambut hitamnya, sosok tersebut tak lain adalah Baekhyun. Apa yang sedang ia lakukan?

"Baekhyun, ada apa?" aku menghampiri dirinya yang tidak memperdulikan panggilanku. Tatapannya kosong, tidak berkedip, terus menatap ke arah jendela. Dan disitu aku baru sadar kalau jendelanya terbuka.

"Baekhyun?" sekali lagi, aku memanggil namanya agar ia sadar.

(9)"пожалуйста…пожалуйста…пожалуйста…" Baekhyun terus mengulanginya seolah olah ia sedang mengucapkan mantra. Nada bicaranya pun seperti bukan dirinya.

Tato angka 04 di rahangnya itu bersinar, namun sedikit redup. Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak beres. "Baekhyun, ayo tidur lagi. Masih terlalu pagi," aku berusaha tenang, menarik tubuh mungil Baekhyun kembali ke ranjang dengan perlahan lahan. Untungnya ia tidak menolak atau melawan, setelah kurebahkan di sampingku, Baekhyun kembali memejamkan matanya.

Tidak butuh waktu lama, dengkuran halus pun terdengar di telinga lebarku. Sepertinya ia berhalusinasi atau mengalami mimpi buruk. Aku tersenyum, memperhatikan wajah baby face miliknya.

(10) "Спокойной ночи..." kusibakkan poni Baekhyun lalu kucium keningnya lama. Aku pun menyusul ke alam mimpi bersama Baekhyun, dan kupeluk tubuh yang lebih mungil dariku itu.


writer's note:

(6) 'selamat datang'

(7) 'siapa?'

(8) 'ibu', 'ayah'

(9) 'tolong'

(10) 'selamat tidur'