Sudut pandang orang ketiga serba tahu.


"Hei Chanyeol,"

Waktu istirahat telah tiba. Mahasiswa dan mahasiswi lainnya langsung bergegas keluar kelas, entah ingin mengisi perut yang kosong atau sekedar keluar dari ruangan yang menjenuhkan ini. Chanyeol, yang bukan mahasiswa rajin tidak mempedulikan buku miliknya masih berserakan di bangkunya. Ia memilih untuk keluar dari kelas.

"Chanyeol!"

Panggilan kedua akhirnya membuat pemuda itu tersadar, dan berhenti melangkah di depan pintu kelas. "Oh, Krystal. Ada apa?" Chanyeol menoleh ke sumber suara yang memanggil dirinya.

"Mau kemana kamu?" tanya gadis blasteran Amerika-Korea yang berambut merah itu. "Kantin?"

"Uh, iya. Kenapa?" balas Chanyeol kikuk. Krystal memang teman dekatnya, namun akhir akhir ini gadis tersebut menjadi lebih 'perhatian' kepadanya.

"Apa kamu memiliki waktu senggang hari ini sepulang kuliah?"

Chanyeol mengangkat satu alis tebal miliknya. "Mungkin iya, ada apa?"

"Antar aku ke kedai es krim yang baru dibuka dekat kampus, please?" ujar Krystal dengan nada memohon, ditambah puppy eyes yang konon katanya bisa membuat semua orang luluh. Hah, Chanyeol masih ingat betul, pasalnya temannya yang satu ini jarang sekali ber-aegyo.

"Aku tidak tahu kalau kamu gemar memakan es krim," Chanyeol membalas tatapan Krystal dengan datar.

"Mereka mempromosikan kedainya di instagram dan itu membuatku penasaran. Kalaupun ada orang lain yang bisa, aku tidak akan sudi mengajakmu giant Yeol," Krystal mendecih.

Chanyeol melirik jam dinding berwarna putih yang tertempel di kelas, sedang berpikir. Hari ini pulang jam tiga sore dan Chanyeol sudah bilang ke Baekhyun bahwa ia akan pulang secepatnya. Oh well, terlambat tiga puluh menit mungkin tidak apa apa, pikirnya.

"Ya sudah, tapi cukup ke kedai es krim saja."

Krystal sontak girang mendengar respon Chanyeol. "Yeay!"


Di kedai es krim, Chanyeol dan Krystal duduk di satu bangku, mereka saling berhadapan. Chanyeol memesan es krim rasa vanilla chocochip, sedangkan Krystal memilih rasa stroberi dan choco mint. Mereka berdua berbincang hampir setiap saat tiada henti.

"Kamu tinggal di apartemen sampai kapan, Yeol?" Krystal membuka topik pembicaraan.

"Entahlah, yang jelas sampai aku beres dengan studiku. Kalau sudah punya pekerjaan, mungkin aku akan membeli rumah," jawab Chanyeol.

"Pekerjaan apa yang kamu impikan?"

"Dulu? Model. Hahaha," Chanyeol tertawa renyah. "Tapi berbeda dengan sekarang, aku ingin jadi musisi. Aku tidak suka dengan pekerjaan di kantor."

"I know you can do it, Chanyeol," ucap Krystal menyemangati Chanyeol, lalu tersenyum tipis menatap wajah serius teman dekatnya itu. "Kamu cocok kok jadi model, tubuhmu tinggi, dan wajahmu rupawan."

"Thanks," Chanyeol terkekeh, ia beruntung memiliki teman teman yang suportif terhadapnya. "Bagaimana denganmu, Krystal?"

"Aku? Sejak kecil aku selalu ingin menjadi aktris. Walaupun keluargaku tidak begitu tertarik dengan dunia hiburan, tapi mereka tahu kalau aku tetap ingin menjadi aktris," jelas Krystal. Chanyeol tahu mengenai itu, dan ia pernah mengantar gadis itu ke tempat audisi saat mereka berdua masih duduk di bangku SMA, sayangnya ia tidak terpilih, walaupun komentar dari juri hampir semua positif.

"Kamu sendiri cocok kok jadi aktrisi. Aktingmu bagus, siapa tau bisa jadi Audrey Hepburn korea," Chanyeol berusaha melawak namun ia serius dengan ucapannya dan itu membuat Krystal tertawa. "Semoga, Yeol. Semoga."

"Oh iya, bagaimana dengan kekasihmu yang di California itu?"

"Hubungan kami tetap berjalan dengan baik, hanya saja akhir akhir ini ia sulit untuk dihubungi," Krystal memajukan bibirnya.

"Mungkin ia selingkuh dengan wanita cantik di luar sana," canda Chanyeol, kemudian ia tertawa terbahak bahak.

"Lihat, aku baru saja diledek oleh seorang lelaki bujangan," Chanyeol mendelik mendengar balasan Krystal. "Setidaknya aku punya seseorang yang jaraknya tidak jauh dariku sampai berbeda negara."

Alis Krystal terangkat. "Oh? Jadi begini rupanya, punya kekasih tidak bilang bilang!" Chanyeol menjulurkan lidahnya, mereka berdua memang sering mengejek satu sama lain. "Untuk apa aku bilang bilang."

"By the way, siapa namanya?" Krystal memicingkan kedua matanya, menagih jawaban dari Chanyeol. "Baekhyun. Kalau kamu mau lihat seperti apa rupa dia, langsung saja ke apartemenku." untuk kali ini saja, Chanyeol dengan bangga memamerkan 'teman hidup'nya ke orang lain.

"Baek..hyun?" lelaki itu menganggukkan kepalanya. Gadis itu tidak kembali berceletuk.

Krystal pun menyeringai. "Interesting, nanti kalian akan kutagih pajak jadian."


Setelah berbincang bincang berbagai macam topik, tak terasa itu memakan waktu lebih dari dua jam dan Chanyeol tidak menyadarinya, bahkan ia hampir lupa kalau Baekhyun tidak mengiriminya SMS. Oh, jangan lupa dengan notifikasi missed calls yang mencapai dua puluh.

Kapan pulang, Chanyoru?

- Baekhyun

Chanyeol langsung berkeringat dingin. Pasalnya, sekarang sudah jam enam kurang lima belas menit, itu tandanya ia berbohong kepada Baekhyun.

Chanyeol mengantar Wendy sampai ke depan gang rumahnya, tidak bisa masuk karena Chanyeol membawa mobil dan gangnya hanya cukup untuk dua motor. Rumah Wendy sangat jauh dari kampus apalagi dari apartemen, ia sedikit salut dengan gadis itu yang jarang sekali terlambat.

Di perjalanan pulang menuju apartemen, Chanyeol tidak sengaja melihat lelaki yang familiar baginya itu. Surai hitam, tubuhnya sedikit pendek, dan memakai sweater berwarna hitam lengan pendek. Yang Chanyeol ingat, sama seperti yang Kyungsoo pakai saat ia mengunjungi Kyungsoo.

Oh, itu memang Kyungsoo.

Lelaki tersebut tampaknya sedang melihat lihat komik komik bekas yang dipajang di depan toko buku. Chanyeol mengerem tepat di depan toko tersebut, lalu membuka kaca mobil. "Hei, Kyungsoo!"

Kyungsoo sontak menoleh ke belakang, dan ia mendapati sang tetangga di apartemen menyapanya dari dalam mobil. "Oh, itu kau."

"Sedang apa? Membeli komik untuk koleksi?" Chanyeol berusaha menebak, sekedar berbasa basi.

"Tidak, aku bekerja disini," ujar Kyungsoo dan kembali melanjutkan aktifitasnya yaitu memeriksa komik komik yang dipajang.

"Woah," Chanyeol membulatkan mulutnya, ternyata lelaki seperti dia memiliki pekerjaan di toko buku. "Ya sudah, aku duluan ya!"

"A-akh!" Kyungsoo mengaduh kesakitan, ia pun buru buru menutupi lengan kanannya dengan tangan kirinya. "Ada apa?" Chanyeol ikutan panik.

"Tidak. Hanya terasa digigit semut. Jangan khawatir," ujar Kyungsoo. Ia masih menutupi lengannya, Chanyeol terlalu masa bodoh untuk kembali peduli. "Sudah menjadi hal yang biasa."

"Omong omong, kau sendiri darimana? Baru pulang?" Chanyeol hendak tancap gas, tidak jadi karena Kyungsoo kembali membuka suara. "Ya, aku habis mengantar temanku."

Kyungsoo tidak lagi bertanya. Ia dan Chanyeol saling bertukar tatap, bedanya Kyungsoo menatapnya dengan datar. "Cepatlah pulang, Baekhyun mencarimu."

Langit tampak mendung, walaupun sudah malam. Mungkin sebentar lagi Korea akan memasuki musim hujan.

Chanyeol mengangguk, dan ia melanjutkan perjalanan menuju apartemen meninggalkan Kyungsoo yang berjalan masuk ke dalam toko buku.

(11) "….バカみたい. Ternyata dia orang yang cuek."


Sesampainya di apartemen, tanpa babibu Chanyeol langsung lari ke kamarnya dengan tergopoh gopoh. Pintu kamarnya pun ia buka, menampilkan sosok Baekhyun yang telah berdiri menyambut Chanyeol. Tangannya tersidekap di dada, sepertinya lelaki mungil ini marah terhadapnya. Chanyeol menelan ludahnya, baru kali ini ia melihat Baekhyun marah.

"Kenapa lama sekali, Yoru?"

"Aku.. pergi bersama teman dan aku harus mengantarnya ke rumah," balas Chanyeol gugup.

"Dengan cara mengabaikan panggilanku?" Baekhyun menatapnya dengan tajam.

Chanyeol terdiam, ia dibuat skakmat. Ia tidak dapat membela diri, Chanyeol bukan tipe orang yang bisa membuka ponsel saat sedang mengobrol dengan orang lain.

Lelaki jangkung itu bisa melihat dari jauh, makan malam yang dibuat oleh Baekhyun telah disajikan dengan cukup rapih di meja makan. Tidak ada asap yang menguap dari makanan tersebut, tandanya sudah dingin.

"Aku minta maaf Baek," Chanyeol menghampiri Baekhyun hingga jarak diantara mereka berdua hanya beberapa sentimeter. "Aku janji tidak akan mengulanginya."

"Aku tahu kamu sibuk akhir akhir ini Yoru," Baekhyun merajuk. "Setidaknya jangan abaikan pesan atau panggilanku."

"Sebetulnya... ponselku low battery, dan temanku itu tidak membawa powerbank. Aku sudah berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi, oke?"

Chanyeol baru saja berbohong. Kebohongan yang hanya membuat Baekhyun percaya untuk sementara, walaupun hati kecilnya merasakan sesuatu yang tidak enak. Untungnya, mata hitam kelam Chanyeol tidak akan memberi janji palsu terhadap mata Baekhyun.

Baekhyun merasa terenyuh karena ditatap dengan intens oleh Chanyeol. "Kamu janji?"

"Hmm," Chanyeol tersenyum, mengiyakan pertanyaan Baekhyun. Ia pun merengkuh tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya sedikit erat, lalu mengusap punggung lelaki mungil tersebut dengan sayang.

"Chanyoru, pelukanmu selalu membuatku nyaman." cicit Baekhyun.

"Kamu suka?" senyum di bibir tebal Chanyeol merekah. "Tubuh hangatmulah yang membuatku nyaman."

Baru kali ini, setelah sekian lama, Chanyeol merasakan banyak kupu kupu beterbangan di perutnya. Padahal, ia adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta.

Dan kini ia terperangkap di hati dan mata obsidian milik Baekhyun. Chanyeol tidak tahu apakah Baekhyun memiliki perasaan yang sama terhadapnya, yang jelas ia mulai merasakan bagaimana memiliki orang yang ia kasihi.

Sayangnya, Baekhyun tidak lebih dari seorang adik bagi Chanyeol.

Hening. Beberapa menit, mereka masih berdiri di depan pintu dengan posisi saling menghangatkan tubuh. Hanya ada dinding polos berwarna putih dan lantai kayu mahogany yang menjadi saksi bisu mereka berdua.

"Kamu tahu, Baek?" Chanyeol yang duluan membuka mulut.

"Hmm?" Baekhyun bergumam, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Chanyeol.

"Aku sayang padamu…" Chanyeol membisikkan kata cinta ke telinga Baekhyun dengan suara bass miliknya. "Seperti aku sayang pada adikku sendiri."

Baekhyun tidak merespon.

"Baekhyun?" Chanyeol melonggarkan pelukannya, dapat ia rasakan tubuh Baekhyun menjadi sedikit lemas. Reflek, Chanyeol menahan tubuhnya dengan memegang pinggangnya.

Chanyeol terkejut saat bola matanya berguling ke arah rahang Baekhyun. Tato 04 miliknya kembali bersinar, namun kali ini cahayanya lebih terang dibandingkan saat Baekhyun mengalami mimpi buruk waktu itu.

Mata Baekhyun terpejam, mulutnya terbuka, suhu tubuhnya menjadi dingin seketika. Semakin lama, Baekhyun menjadi semakin berat sama seperti saat pertama kali Chanyeol membawanya ke apartemen. "Baek? Baekhyun? Ayo bangun," Chanyeol menepuk pipi Baekhyun beberapa kali, mencoba untuk membuat ia tersadar.

Satu menit, masih belum ada jawaban. Tato milik Baekhyun masih bersinar dan matanya pun masih terpejam pula.

"The software will be inactive. Are you sure with this?"

"Hah?" Chanyeol melongo. 'Suara darimana itu? Akan nonaktif, katanya?' batin Chanyeol bermonolog.

Ternyata sumber suara muncul dari leher Baekhyun, yang manakala dekat tato 04 berada. "Please enter the secret code to turn the power on again."

Chanyeol gelagapan, bingung apa yang harus ia lakukan untuk menolong Baekhyun. Chanyeol tidak tahu menahu soal kode rahasia milik Baekhyun. "Apa maksudmu-"

"Time's up. Power turned off."

PIIIIIP. Terdengar suara tanda mesin telah dimatikan, seperti suara televisi ketika ada gangguan teknis. Tubuh Baekhyun langsung berubah menjadi kaku layaknya mayat. Ini membuat Chanyeol deja vu.

"Baekhyun, bangun!" Chanyeol kembali menepuk pipi tembam Baekhyun. Sayangnya usahanya nihil. "Baek!"

Chanyeol seketika sadar, kalau tidak ada detak jantung atau urat yang berdenyut dari dalam tubuh Baekhyun, bernafas pun tidak. Ia pun berhenti menepuk pipinya. Chanyeol mulai panik, nafasnya sedikit tidak beraturan, keringat dingin kerap mengalir.

Lelaki bersurai silver tersebut bersimpuh, masih merengkuh tubuh Baekhyun cukup lama. Walaupun Baekhyun tidak bereaksi, setidaknya itu cukup untuk menenangkan Chanyeol.

Chanyeol akhirnya bangkit, membaringkan tubuh kaku Baekhyun di ranjang lalu menyelimutinya, berharap ia akan segera bangun.

"Baekhyun..." lirih lelaki itu.


April 20th

06.30 p.m. KST, Seoul

at Chanyeol's room

Senar gitar berhenti dipetik oleh Chanyeol. Gitar kesayangan miliknya itu pun ia letakkan di sampingnya, kemudian lelaki yang mempunyai tinggi 185 cm itu menghela nafas.

Waktu terus berjalan, setiap melihat kalender dada Chanyeol terasa sesak.

Chanyeol sudah memasuki semester akhir dan tandanya ia harus fokus membuat skripsi agar ia bisa lulus nanti. Tapi tetap saja ia memikirkan Baekhyun setiap saat. Memikirkan lelaki mungil itu, terkadang membuat Chanyeol melamun di kelas, hampir setiap hari. Untungnya ia bisa mengatasi itu sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dari teman temannya.

Satu bulan telah berlalu, dan selama satu bulan itu pula Chanyeol masih berusaha membuat Baekhyun bangun dari 'tidur'nya. Chanyeol tidak dapat menemukannya di internet, di kota, dan bertanya ke orang orang terdekatnya pun mereka tidak tahu menahu. Sempat terbesit pikiran untuk keluar negeri, namun itu ditepis olehnya karena ia takut tidak menimbulkan kemajuan sama sekali.

Bahkan saat Chanyeol menanyakan tentang Baekhyun di tempat tempat yang berhubungan dengan mesin, respon mereka selalu sama.

"Kau mempunyai robot?" atau,

"Mungkin robotmu low battery," atau bahkan,

"Kau membeli robot tersebut dimana? Bekas atau baru? Kualitasnya mungkin jelek," oke yang terakhir agak menohok untuk Chanyeol.

Hah, bahkan Chanyeol tidak pernah mengira Baekhyun adalah robot, pikirannya tidak pernah sampai kesitu. Karena Baekhyun bertingkah dan berbicara layaknya manusia (mengesampingkan fakta bahwa Baekhyun berbicara Rusia), bagi Chanyeol itu tidak mungkin. Seperti yang ada di televisi, mana ada robot yang memakan makanan manusia dan terkena air saat mandi.

Tapi, mendengar dari respon orang orang, itu membuat dirinya yakin. Kalaupun Baekhyun adalah robot harus dicharge, Chanyeol tidak pernah menemukan usb port untuk dicharge seperti yang ada di gadget macam komputer atau ponsel.

"Apa kubawa Baekhyun ke tempat servis laptop dan ponsel saja ya? Tapi ia bukan gadget," monolog Chanyeol. "Tapi ia juga bukan kulkas atau televisi, apalagi kendaraan bermotor."

Ponsel Chanyeol bergetar di dalam saku celananya, kemudian berbunyi, tanda ada panggilan yang masuk. Chanyeol pun meraihnya lalu menaruhnya di telinga kiri. "Halo?"

"Chanyeol? Kamu ada dimana?"

Panggilan tersebut berasal dari kakaknya, Yoora. "Aku ada di apartemen, ada apa?"

"Ayo makan malam bersama! Ayah dan Ibu mengajak kita makan malam di restoran yang mewah," Chanyeol dapat mendengar kekehan kakaknya itu. "Jam berapa?"

"Sebentar lagi Ayah dan Ibu akan berangkat, mereka menjemputmu nanti. Aku menyusul."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, walau itu tidak akan terlihat oleh Yoora. "Okay."

Tiba tiba Chanyeol teringat sesuatu. Keluarganya tidak tahu soal Baekhyun sampai sekarang. Apakah ia harus memberitahu mereka?

"Tidak tidak tidak, nanti aku disuruh membuang Baekhyun," Chanyeol menggeleng kepalanya beberapa kali. "Tapi mereka juga tidak tahu apa apa tentang sesuatu yang berhubungan dengan mesin atau robot. Aku tidak tahu mereka akan percaya atau tidak."

Tok tok tok. Pintu kamarnya dapat ia dengar diketuk oleh seseorang. Tebakan Chanyeol, mungkin itu kedua orangtuanya yang menjemput.

Ia pun buka pintunya dan tebakannya tepat sasaran. Terpampang sosok kedua orangtuanya sudah berpakaian rapih, berbeda dengan Chanyeol yang masih memakai baju tidur. "Chanyeol? Kukira kamu sudah bersiap siap," Nyonya Park mengangkat salah satu alisnya.

"Uh, Yoora baru meneleponku sepuluh menit yang lalu dan kalian sampai terlalu cepat."

Nyonya Park menggelengkan kepalanya mendengar alasan anak bungsunya itu. "Ya sudah, ayo ganti baju Chanyeol. Ayah sudah memesan satu meja untuk keluarga kita di restorannya namun di jalan terlihat padat barusan. Weekend, sih."


Acara makan malam keluarga Park pun berakhir. Mereka kembali ke rumahnya masing masing, terkecuali Chanyeol yang diantar oleh Yoora karena Chanyeol tidak membawa kendaraan pribadi. Untungnya Chanyeol bisa menutupi semua masalah dan rasa kegelisahan yang masih hinggap di dalam dirinya, sehingga ia tidak perlu repot repot menjelaskan kisahnya dan Baekhyun, apalagi sampai bikin keluarganya terkejut.

"Hei, Chanyeol?" Yoora tetap fokus dengan kegiatan menyetirnya, namun ia ingin mengajak adiknya itu berbicara. "Ya? Kenapa?"

"Kamu tampak murung hari ini."

Chanyeol sedikit terkejut, namun ekspresinya masih tetap datar. Tidak menyangka kakaknya bisa menebak suasana hatinya sekarang. "Iyakah? Memangnya terlihat jelas, ya?"

"Of course. Kamu tidak terlalu banyak menanggap perkataan Ayah atau Ibu seperti biasanya, dan itu aneh bagiku."

Chanyeol sudah masuk ke dalam perangkap Yoora, ia sudah dibuat skakmat dan tidak bisa mengelak lagi. Lelaki itu meremas ujung t-shirt berwarna hitam yang ia pakai. "Ceritakan padaku, Yeol. Apapun itu."

Apapun itu?

Chanyeol tahu benar, keluarganya bukanlah keluarga yang ada di dalam film atau komik, yang menganggap hal hal yang di luar nalar itu adalah hal yang wajar. Tapi bolehkah Chanyeol berharap sedikit?

Ia pun mengepalkan kedua tangannya, tekadnya sudah bulat, percaya tidak percaya Chanyeol pun menceritakan semua hal secara detail kepada Yoora. Anehnya, wanita itu memang terdengar sedikit tidak percaya dengan adiknya sendiri, namun Yoora tidak menyangkal atau menegur Chanyeol sama sekali, dinilai dari nada suaranya yang cukup datar seolah mereka memang hidup di dunia fiksi. Yah, setidaknya Chanyeol butuh satu pihak yang pro padanya.

"Kamu sudah tanya ke teman temanmu? Seperti Sehun dan Kai?" Yoora masih fokus menyetir, keadaan lalu lintas di jalan cukup lancar. "Sudah, tetapi itu tidak membuatku tertolong."

"Lalu? Penghuni apartemen yang lain, misalnya?"

"Entahlah, mereka jarang sekali bertegur sapa denganku. Kalau aku bertanya ke Raina, tidak mungkin."

"Hah, aneh sekali. Siapa tahu mereka akan menawarkan bantuan dan kamu bisa menghidupkan Baekhyun kembali. Kamu tinggal di apartemen sudah hampir dua tahun." Chanyeol hanya terdiam, membenarkan pendapat dari kakak perempuannya.

"Memangnya siapa saja yang kamu tanyakan soal Baekhyun selain di apartemen?" lanjutnya.

"Hampir semua yang ada di kota ini, termasuk montir dan ahli reparasi," jawab Chanyeol.

Lelaki berambut silver itu seketika teringat sesuatu. Sang tetangga, Kyungsoo, ia menjadi penasaran apakah lelaki mungil tersebut tahu soal ini.

Kemudian Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Walaupun dia tampaknya orang baik, tapi ia sedikit mencurigakan."

"Siapa, Yeol?"

"Kyungsoo. Tetangga baruku yang baru pindah bulan kemarin."

Perjalanan pun sudah berakhir, tak terasa mereka berdua sudah sampai di depan pintu gerbang apartemen. "Hmm, kenapa kamu tidak coba bertanya kepadanya?"

Chanyeol menggigit bibir bawahnya. "Dia bukan teman dekatku, sering mengobrol saja tidak."

"Coba saja, lagipula kalau berprasangka buruk terus masalahmu tidak akan selesai," wanita bermarga Park itu melepas sabuk pengaman yang tadi ia kenakan dan mematikan mesin mobil. "Ayo. Aku yang tanya, deh."

Chanyeol pun keluar dari mobil, mengikuti langkah Yoora yang masuk ke dalam apartemen terlebih dahulu. Karena Kyungsoo adalah tetangganya, lelaki itu yang memimpin jalan menuju kamar Kyungsoo.

Tok tok tok. Pintu berbahan kayu meranti itu pun diketuk oleh Yoora. Wanita itu sedikit terkejut karena sang empunya membuka pintu dengan cekatan. Sosok tersebut muncul, walaupun sekarang sudah diatas jam sembilan malam, Kyungsoo tidak seperti orang yang akan bergegas tidur.

"Kau siapa?" tanya Kyungsoo. "Ah, kenalkan ini kakakku, Yoora." Chanyeol menyela, takut Kyungsoo mengira kakaknya itu orang asing.

Kyungsoo mengernyitkan keningnya, sedikit samar. "Oh? Lalu, ada apa kau berkunjung ke sini?"

"Apa kamu tahu soal mesin atau yang berhubungan dengan robot?" kakaknya memang to the point sekali.

"Mesin? Kebetulan aku studi tentang teknik mesin saat aku masih kuliah dulu dan ayahku bekerja di pabrik mesin. Memangnya kenapa?" tatapan Kyungsoo berubah menjadi curiga.

"Oh, kebetulan sekali! Chanyeol ingin kamu memperbaiki robot miliknya. Sejak sebulan lalu robotnya tidak bisa menyala kembali," dapat kita dengar nada bicara Yoora menjadi sedikit memohon. "Robot apa?"

"Robot manusia," jawab Chanyeol.

Kyungsoo terdiam, sepertinya ia sedang berpikir. "Bagaimana?" tanya Yoora, berharap penuh kepada Kyungsoo.

"...Ikut aku, kurasa aku tahu robot apa yang kalian maksud," Kyungsoo pun keluar dari kamarnya, lalu menguncinya. Lelaki itu berjalan duluan meninggalkan Chanyeol dan Yoora yang agak bingung, namun mereka memutuskan untuk mengikutinya.

Mereka bertiga berjalan cukup jauh dari apartemen, dan Park bersaudara itu dibuat semakin bingung karena Kyungsoo membawa mereka berdua melewati gang gang yang sempit dan gelap, seperti pemukiman kumuh. Diantara Chanyeol dan Yoora, tidak ada yang berani bertanya kepada Kyungsoo. Setidaknya jangan sampai mereka dijebak oleh lelaki mungil tersebut apalagi diculik atau dibunuh seperti yang ada di berita.

Pada akhirnya, mereka telah sampai di depan bangunan yang tampak tua, cat dindingnya pun mengelupas, dan seperti tidak layak untuk dihuni. Suasananya sedikit angker, ditambah mereka terletak di lokasi yang jauh dari keramaian kota. Chanyeol merasa sedang ikut acara syuting pemburu hantu.

"Anu, tempat apa ini?" Yoora yang bertanya pertama kali. "Tempat ibuku bekerja," ujar Kyungsoo dengan singkat. Chanyeol dan Yoora bergidik ngeri, siapa pula yang betah bekerja di tempat seperti ini? Vampire?

Ketiganya pun masuk ke dalam bangunan angker tersebut, pintunya sedikit susah untuk dibuka. Pandangan Chanyeol berubah drastis, bagaimana tidak. Isinya tidak seperti luarnya, bahkan banyak furnitur dan alat alat modern yang mirip di film sci-fi. Walaupun di luar sana gelap, namun ruangan ini penuh cahaya, dan ada banyak peralatan kimia yang Chanyeol ingat pernah ia pelajari saat masih SMA dulu. Ruangan serba putih, poster anatomi berbagai makhluk hidup seperti manusia dan hewan tertempel dengan sedikit berantakan di dinding. Apakah ini laboratorium?

Anjing yang sedang dikloning, potongan tangan dan lengan manusia namun tidak meneteskan darah, tumbuhan pemakan serangga yang kerap memakan lalat yang menghinggap, kepala manusia yang diawetkan di dalam guci transparan. Itulah pemandangan yang 'indah' yang disajikan oleh laboratorium ini.

Chanyeol dan Yoora tidak berkomentar, begitu juga dengan Kyungsoo yang menjelaskan tempat ini.

Peralatan peralatan yang tampak aneh di mata Chanyeol dan Yoora itu pun masih dalam keadaan nyala, mungkin penghuninya masih ada disini. Mereka berjalan menuju lantai dua dengan menggunakan tangga besi yang melingkar, untungnya keadaan di lantai dua tidak epic seperti lantai satu barusan.

(12) "お母さん," Kyungsoo memanggil seorang wanita berjas putih seperti dokter yang duduk menghadap komputer yang layarnya masih bersinar, namun membelakangi mereka bertiga. Wanita itu pun menolehkan kepalanya ke arah mereka, lalu beranjak berdiri dan menghampiri Kyungsoo.

"Kenapa kamu membawa orang asing?" bukannya menyambut, wanita berambut pirang tersebut malah memberi Kyungsoo pertanyaan. "Baekhyun mati dan mereka tidak tahu menahu soal ini."

Wanita yang bertubuh semampai itu membulatkan bibir seksinya. "Oh?" ia pun mengganti arah pandangnya ke Chanyeol dan Yoora. Yang dipandang hanya memasang muka bingung, dan tersenyum kaku. "Halo." sapa Chanyeol.

Terdengar suara high heels yang dihentakkan ke lantai, Chanyeol berkeringat dingin saat didekati oleh wanita tersebut. "Kau yang menculik anakku?"

"Huh?" ekspresi Chanyeol berubah, ia tampak bodoh. "Baekhyun adalah anakmu?"

"Jangan membalikkan pertanyaan dengan pertanyaan!" gertaknya. Chanyeol terperanjat, ternyata wanita ini galak sekali. "Anu, a-aku memungutnya di tempat pembuangan sampah. Aku kira dia adalah mayat... jadi kupungut dia lalu kurawat," jelas Chanyeol yang masih berkeringat dingin. "Tapi keesokan harinya ia hidup,"

Wanita yang Kyungsoo sebut 'ibu' itu pun terdiam, memijit pelipisnya dan menghela nafas. Ia memilih untuk kembali duduk di kursi depan meja kerjanya. "Hah, Baekhyun gagal melaksanakan tugasnya untuk ketiga kalinya."

Yoora yang sedaritadi hanya menyimak pembicaraan, akhirnya berani untuk bertanya. "Tapi Baekhyun memang robot, kan?"

Lagi, wanita tersebut menghela nafas. "Ayo, ikuti aku laboratorium di bawah," ia pun kembali berdiri. "Omong omong, namaku Kyuri. Jika kalian menulis namaku, pakai huruf q ditambah ri, ya."


Kini mereka semua berada di laboratorium lantai satu, minus Kyungsoo karena ia memilih untuk berkutat dengan dokumen dokumen penting milik Kyuri.

Kyuri tidak begitu banyak berbicara, faktanya ia tidak menggubris omongan Chanyeol ataupun Yoora. Ia sibuk dengan peralatan aneh nan canggih ini, tapi Chanyeol yakin pasti ada hubungannya dengan Baekhyun. Mereka bertiga sedang menghadapi sebuah benda berukuran manusia yang bentuknya mirip peti mati.

Pip. Pip. Pip. Jemari lentik milik Kyuri bergerak dengan lincah, menari di atas tombol yang menyala yang tampaknya itu adalah tombol untuk membuka peti tersebut. Sepertinya ia memang ahli dalam penggunaan teknologi canggih. Tak lama kemudian, peti mati itu pun terbuka. Isinya kosong, hanya ada tulisan 'LIGHT04' yang terpahat rapi di plakat logam.

"Bawa Baekhyun ke sini, dan akan kubuat ia hidup kembali," ujar Kyuri tegas, lalu menoleh ke arah Chanyeol dan Yoora. "Jadi memang benar kalau Baekhyun itu mati?" timpal Yoora.

"Mati dalam konteks kehidupan manusia kurasa bukan itu yang kalian pikirkan. Toh, dia bisa hidup atau mati semau dia," Kyuri mengangkat kedua bahunya tak acuh. Chanyeol melotot, berarti memang benar kalau Baekhyun adalah robot.

"Oh iya, satu lagi, Baekhyun bukan manusia, mungkin bisa kalian sebut robot tapi itu kurang tepat. Mereka adalah 'Kuklaubiytsa', atau singkatnya Kubiyt," jelas Kyuri sambil mengambil sesuatu dari kotak yang terletak di dekat peti milik Baekhyun. "Artinya? Boneka pembunuh."

Chanyeol dan Yoora bergidik ngeri, lagi. Mendengar fakta bahwa Baekhyun adalah seoranh pembunuh, ditambah Kyuri memegang satu potongan tangan manusia yang darah segarnya masih menetes, kemudian memamerkan tangan tersebut kepada Park bersaudara. Rasanya wanita di sebelah Chanyeol itu ingin pingsan.

"Ah, jangan khawatir. Walaupun aku suka mengoleksi tubuh manusia, aku hanya mengambil kulitnya saja," Kyuri tersenyum lebar, ia begitu carefree. "Aku hanya menciptakan kerangka dari mesin dan kabel yang berbentuk seperti anatomi manusia, lalu kututupi dengan lemak serta kulit manusia asli."

"Tapi itu tidak masuk akal. Selama tinggal bersamaku, Baekhyun bisa mandi, minum dan makan layaknya manusia. Kalaupun ia memang robot sungguhan, mestinya ia tidak bisa melakukan aktifitas tersebut," sanggah Chanyeol. Kyuri hanya membalasnya dengan tatapan tidak minat. "Oh, ralat. Aku menggunakan tubuh manusia yang lengkap, lalu kubedah, aku isi rangka tubuhnya dengan mesin serta kabel tadi. Semestinya benda berupa cairan atau padat tidak masalah kalau masuk ke dalam tubuhnya, toh itu tidak mempengaruhi kabel listrik."

Pusing, Chanyeol masih menganggap ini tidak masuk akal. "Terserah apa tanggapanmu, yang jelas sains memang terkadang tidak bisa dipikirkan menggunakan logika. Baekhyun adalah model lama dan aku membuatnya sepuluh tahun yang lalu."

"Model? Kau menciptakan robot lebih dari satu?"

"Ya, Kyungsoo adalah adik Baekhyun." ucap Kyuri. "Mereka memiliki region yang berbeda, omong omong."

"Region? Maksudmu wilayah?"

"Baekhyun adalah Russian, sedangkan Kyungsoo adalah Japanese," Chanyeol manggut manggut, penjelasan Kyuri dapat dimengerti. "Tapi Nyonya, apa mereka berdua benar benar pembunuh sungguhan?"

Kyuri terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Chanyeol, malahan mengambil sebuah suntikan lalu jarumnya yang panjang itu pun ia tusuk ke pergelangan tangan kirinya secara perlahan.

Kedua mata wanita berambut pirang itu berubah menjadi berwarna ungu pekat sepenuhnya hingga menutupi sklera saat menjawab pertanyaan Chanyeol. Dan yang Chanyeol sadari, di paha Kyuri yang tidak tertutupi oleh jas muncul sebuah tato angka 09 seolah olah itu muncul dari dalam kulitnya.

"Soal itu, aku tidak bisa menjawabnya sekarang."


writer's note:

(11) 'dasar bodoh'

(12) 'ibu'