Title : Warm Ice
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : Romance, Fluff, Humor
Warning! : typo(s) yang bertebaran, EYD berantakan, author abal-abal, de el el…
.
.
Setidaknya saat kau bersamaku,
Tersenyumlah..
Dan segalanya akan berubah hangat.
.
.
Warm Ice
[Chapter 2]
.
Menyedihkan.
Dilihat dari sisi manapun seorang namja bernama Kris yang berdiri di depan toko saat ini memang terlihat menyedihkan. Trademarknya sebagai pemuda cool-keren-tampan-perfect dan lain-lain rontok sudah disapu air hujan yang mengguyur tubuh atletisnya.
Kris tahu, tak ada lagi kesempatan untuk kabur atau setidaknya berpura-pura jadi orang lain. Sebenarnya Kris tidak mempermasalahkan kalau keadaannya yang menggelikan sekarang diketahui warga sekolah atau bahkan penggemarnya. Tapi kalau Suho, Kris yakin kalau sebentar lagi namja pendek ini akan mengejeknya.
Pandangan Suho mendatar. Mata angel dan elang itu bertemu menciptakan aura tidak enak. Namja yang baru selesai balanja ini membuka bibir tipisnya, tidak mengerti dan melontarkan pandangan yang seakan bertanya 'bukannya-kau-bawa-payung?'
Kris kesal, karena Suho melihatnya seperti melihat seorang idiot.
"Jangan tanya!" sembur Kris marah saat Suho hendak bertanya alasan mengapa dia sampai basah begini.
Dengan heran, Suho bertanya, "Kau ini kenapa sih? Bukanya tadi kamu bilang bawa payung?"
Kris diam, lebih memilih memandang jalan. Kali ini, dia pikir tetesan air yang membasahi aspal jalanan lebih menarik daripada wajah Suho yang ada di depannya.
"YA! aku sudah bilang ribuan kali, kalau saat aku bicara denganmu, perhatikan aku!" bentak Suho kasar sambil memukulkan payungnya ke betis Kris yang terbalut celana basah membuat Kris berjengit.
"Ngg…" Kris bergumam seperti lebah dan masih tak menghiraukan Suho. berharap namja ini menyerah dan segera pulang, dengan begitu dia tidak akan bertanya macam-macam lagi.
Kalau saja sedang tidak di tempat umum, Suho bisa saja memukuli Kris dan memberi namja jangkung itu pelajaran. Namun sekarang, mengingat dia masih punya malu, Suho hanya berdoa agar pesawat NASA tiba-tiba lewat dan dengan begitu Kris bisa langsung dia lempar ke bulan bersama roket.
"Aku jadi merasa bodoh kalau kau tidak menjawabku! Tiang tidak berperasaan!" Suho menggigit bibirnya gemas karena sudah kesal sendiri menghadapi orang yang punya hati seperti seonggok batu.
"Bukannya…. Kau sudah bodoh ya?"
Mendengar Kris bergumam seperti itu, Suho hanya bisa melayangkan tinju ke lengan kiri Kris dengan sekuat tenaga –meskipun tidak ada efeknya.
"UGH! Jawab saja aku, kenapa kau bisa sampai basah begini? Kemana payungmu?" tanya Suho. lagi-lagi pertanyaan yang sama dan kalau Kris sampai menjawab dengan gumaman lagi, Suho benar-benar akan memukulnya dengan payung sampai pingsan.
Tak tahan terus-terusan diomeli dan Suho yang melontarkan pandangan 'jawab-atau-kau-mati' dari matanya, membuat Kris gelagapan karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat akan pertanyaan partner kerja kelompoknya ini.
"Eung…. Itu…"
Kali ini Kris merasa bodoh dan benar-benar gugup. Namja di hadapannya ini bukan orang yang bisa dia hadapi dengan mudah. Dia tidak bisa ditebak dan itu membuat Kris bingung sendiri karena alasan sebenarnya bisa terungkap.
"Oh.." Suho memutar bola matanya malas melihat gelagat aneh Kris. dia lipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah datar "…. Kau bohong ya?"
Ugh, sial Kris meruntuk dalam hati karena Suho seakan mengulitinya secara langsung. Bagaimana dia tahu kalau Pangeran Es ini berbohong?
Kris gugup, dia menggeleng dan menyakinkan Suho kalau dia tidak berbohong.
Suho yang biasanya dibuat bungkam oleh Kris dengan tingkah menyebalkannya, kini dia harus membuat Kris yang jadi bungkam.
"Kau bohong padaku kan, waktu kau bilang bawa payung cadangan?"
Kris tertegun. Suho benar, di hadapan mata angel itu, dia tidak bisa berbohong dan menutupi kebenaran yang bahkan dia sudah simpan dengan rapat untuk dirinya saja.
"Kau hanya bawa satu payung, itu sebabnya kau basah kuyup kan?"
"A… apanya yang bohong?" Kris berteriak dengan suara bassnya membuat Suho sedikit terkejut "Aa… ada masalah dengan payungku tadi hingga aku tidak bisa memakainya? Jangan bicara aneh ah!"
Mata Suho menyipit dan mengintimidasi Kris, dia bergerak selangkah maju dan Kris malah mundur tanpa ada perintah. Otaknya menyuruh untuk diam dan stay cool seperti biasa namun reflek yang dia berikan malah berbeda.
"Oke, tidak perlu bicara yang lain, aku tahu kau bohong."
Keduanya diam, hanya suara hujan yang terdengar sebelum Kris merasakan ada yang aneh karena namja mungil di depannya ini malah tertawa kecil. Meskipun agak bingung, Kris diam dan memasang wajah setenang mungkin.
"Kau itu lucu," Suho terkikik geli.
Kris cengo, lucu? Wajah datarnya ini lucu? Ya ampun Suho sudah gila!
"A…apa?"
Suho menunjuk tubuh Kris dan masih terkekeh geli "Aku tidak menyangka, Kris si Pangeran Es, bisa gugup seperti itu!"
Kris tahu seharusnya dia marah atas Suho yang mentertawakannya dengan tidak sopan. Tapi, entah kenapa Kris hanya diam dan membatu seperti arca. Dirinya sekarang bukan mempersalahkan Suho yang mentertawainya atau dirinya yang terlihat bodoh karena ditertawakan.
Tapi cara Suho tertawa untuknya…
Membuat dinding es tebal dalam sisi lain hatinya itu mencair.
.
.
"Jangan bicara lagi. Kau tahu kan, dosamu bisa bertambah kalau kau terus-terusan bohong," Suho berhenti tertawa dan kini malah tersenyum di depan wajah dingin Kris.
"Akting bohongmu itu jelek sekali, jangan berwajah seperti itu, aku jadi ingin mengerjaimu."
Dengan tidak sopan Suho masih tertawa membuat Kris membuang pandangannya dengan kesal. Siapa yang tidak berperasaan sekarang?
Sementara beberapa detik, keduanya diliputi dengan keheningan dan hanya suara hujan disertai petir yang terdengar. baru setelah itu, Suho mengedipkan matanya cepat saat dia mendengar suara yang berasal dari mulut Si Pangeran Es – yang saat ini tidak terlihat seperti pangeran.
"Hatchi!"
Suho tertegun.
Kris terkejut.
"Kau flu?" tanya Suho dan membalik tubuh Kris agar mau menghadapnya dan segera menyentuh dahi namja berambut pirang itu.
Merasakan rasa lembut dan hangat sekaligus dari tangan Suho, Kris buru-buru menepisnya dan kilasan merah tipis menghiasi pipi tirus pemuda tampan tersebut.
"Apanya yang flu? Jangan bodoh!"
Kalau Kris merasa malu seperti sekarang, sudah pasti dia akan melakukan apa saja agar semua orang tidak menyadarinya. Terlebih lagi dia tidak bisa blushing di depan Suho karena bisa dipastikan namja pendek itu akan membuatnya malu lebih parah.
"Tapi kau pasti sudah basah kuyup dari tadi, pasti kau sakit."
Kris menggeleng saat Suho hendak menyentuh pipinya. Oke, kali ini bisa dipastikan namja sok keren ini akan memerah dalam waktu singkat. Memalukan memang, namun Kris juga tidak tahu mengapa darah suka berkumpul di bagian tubuhnya yang habis disentuh oleh Suho.
"Ini bukan urusanmu, aku tidak flu…"
"Kris!"
"…kan aku sudah bilang aku tidak flu.. hatchi!"
Jika Suho tadi berharap pesawat NASA akan membawanya, maka kali ini Kris dengan senang hati akan menyanggupinya. Ke bulan, dan tidak kembali lagi itu lebih baik daripada Suho melihatnya tersipu dan sekaligus merontokkan semua image dan harga dirinya. Aish! Kenapa juga dia harus sial saat ini?
Suho diam lalu menyeringai kecil "Tidak flu? Dosamu terusan menumpuk kalau kau berbohong lagi."
Pangeran Es itu kini merasa lelah. Lelah karena dia kalah di depan namja manis ini dan lelah karena tak kuat dingin. sedari tadi dia terkena angin dan air hujan terus-terusan. Kris tidak bawa sepeda, payung dan dia lelah menunggu bis yang tidak kunjung datang. Akhirnya, dia memilih berlari dalam hujan. Kali ini pilihan Kris sungguh bodoh. Dan lebih bodoh lagi saat dia berteduh di depan supermarket lalu bertemu dengan Suho.
"Lalu kalau aku flu kau mau apa, sudah pulang saja sana!" Kris mengusir Suho dari hadapannya. Namun sepertinya Suho memiliki pendirian yang kuat daripada yang Kris kira.
"Kenapa tidak naik bus?" tanya Suho, mengabaikan usiran Kris. pertanyaan itu membuat Kris menaikkan alisnya.
"Aku lelah menunggu bis, jadi aku lari saja," jawabnya enteng sambil lagi-lagi mengusap kepalanya yang basah dengan air merembes turun.
"Lalu kenapa kau berteduh disini?"
Kebiasaan Suho selain cerewet dan bertingkah seperti ibu-ibu itu membuat Kris kesal. dia tidak suka ditanyai macam-macam dan urusannya dicampuri. Keras kepala Kris memang sudah akut, merepotkan.
"Kau tidak lihat hujan sederas ini? kau mau aku mati disambar petir juga? dasar bodoh!"
Suho menggeram. Kalau dia bodoh, maka Kris lebih bodoh dari dirinya, dan dipastikan Kris masuk dalam daftar orang yang ingin dia masukkan namanya di dalam death note.
"Kau yang bodoh!" Suho berteriak kesal "Kalau sudah tahu deras dan petirnya seperti ini untuk apa kau malah berlari dalam hujan?"
Untuk kesekian kalinya, Kris kalah bicara dengan Suho. Lalu, ini juga pertama kalinya, Suho bicara dengan nada yang terdengar lain di telinga Kris.
Bukan seperti membentak, lebih terlihat seperti melindungi dan khawatir.
"Hatchi!"
Suho meraba lengan Kris dan namja jangkung itu tak bisa berbuat apa-apa karena dia merasa hidung mancungnya itu digelitik dan kepalanya lebih berat.
"Rumahmu masih jauh," ucap Suho.
"…"
"Ikut aku ke rumahku!"
Mata elang itu mengerjap, berharap dia salah dengar karena sempat mendengar kata-kata 'rumah'. Ya ampun, mau apa Kris ke rumah Suho? salah-salah dia akan jadi santapan anjing daripada seorang tamu. Dia tidak mau ke rumah Suho dan berujung dengan dia yang akan jadi makanan hewan.
"Tidak, tidak, pulanglah!"
Suho kesal karena Kris selalu seperti ini, Kris yang tidak perlu bantuan, arogan dan keras kepala. Dia tahu kalau sesungguhnya dirinya sangat memenci Kris, namun dia tidak bisa mengabaikannya. Namja manis dengan tubuh pendek ini terlahir dengan jiwa seperti ibu – terlihat dari sifatnya yang hobi mengomel. Suho memikirkan semuanya dan menjaga apapun yang dia ingin jaga.
"Aku tidak bisa membiarkanmu disini seperti orang aneh."
Kris masih menggeleng dengan keras, kalau dia ikut Suho ke rumahnya, dia tidak bisa lagi menahan diri dan degup jantungnya yang sekarang saja sudah mau turun ke ginjal.
"Kenapa tidak bisa? Kau hanya pulang dan biarkan saja aku," Kris jengkel karena Suho masih belum menyerah. Dan Kris sebenarnya juga tahu, kalau dia tidak bisa menang melawan Suho.
"Bodoh! Mana bisa…"
Kini giliran Kris yang tertegun.
"… aku membiarkan orang bodoh sepertimu basah kuyup di tengah hujan seperti ini."
Suho tersenyum, Kris masih saja tertegun dan perlahan menunduk melepaskan ego dan tatapan angkuhnya. Namja tinggi itu tak menolak saat Suho menggandeng tangannya sambil membuka payung. Saat Suho menariknya agar lebih dekat, Kris tak bisa berbuat apa-apa.
Dan tepat saat dirinya dan Suho berjalan berdua di bawah payung bening yang sama, dengan tangan halus namja mungil itu menggenggamnya erat membuat Kris berharap, rumah Suho terletak sangat jauh hingga dia bisa terus seperti ini.
.
.
"Eomma! Aku pulang!" Suho menutup payung dan membiarkan Kris yang kini bersin-bersin sambil menggigil di pintu masuk rumahnya. Di dekat rak sepatu.
"Tunggu disini ya," Suho pergi dan menemui ibunya sementara Kris yang hendak bicara jadi batal karena melihat Suho sudah pergi duluan.
Beberapa detik kemudian, Suho kembali dengan membawa handuk yang sangat lebar dan besar. Dia mendekati Kris dan menyelimuti tubuh jangkungnya dengan handuk lembut setelah melepaskan tasnya.
"Suho, pinjamkan aku payung saja lalu aku akan pulang," ucap Kris pada Suho yang kini menggesekkan handuk itu ke tubuh dan kepalanya.
"Setidaknya kau harus kering kan? Hujan juga masih deras di luar. Nanti kalau kau pulang, jadi basah lagi deh."
Cara Suho membalutnya dengan handuk benar-benar membuat Kris nyaman. lihatlah sekarang Suho malah meloncat karena tak sampai memegang puncak kepala Kris untuk mengeringkan rambutnya.
Karena kasihan, Kris merunduk dan Suho merasa lega karena dia tak perlu meloncat lagi. Namun dia berdesis sebal dan mencubit lengan Kris saat tiang itu malah terkekeh dan bergumam 'dasar pendek!'.
"Ya ampun Suho! kenapa malah dibiarkan masih disini? Ajak saja temanmu itu ke kamar dan pinjami dia pakaian kering!"
Suho memang sudah menceritakan secara singkat pada ibunya kalau dirinya membawa pulang Kris. eomma Suho tidak keberatan, malah beliau menyuruh Suho untuk mengajak Kris sekalian makan mengingat sebentar lagi jam makan malam.
"Ah ne!"
Tak bisa menolak, Kris hanya pasrah saat Suho menyeretnya ke sebuah ruangan. Setelah memberi salam pada ibu Suho, Kris kembali bersin-bersin dan memilih mengerutkan dahinya menahan pusing. Dia hendak protes pada Suho karena dia tidak berniat untuk merepotkannya lebih dari ini.
"Tunggu ya, aku akan mengambilkanmu pakaian,"
Kris mengangguk singkat dan menatap ruangan lembut ditempatnya berdiri ini. ruangan dengan dominasi warna baby blue ini punya kamar mandi, satu single bed, balkon, rak, meja belajar, lemari besar dan sebagian lantainya dilapisi oleh karpet beludu berwarna abu-abu. Sangat lembut dan Kris bisa merasakan bau Suho yang harum dari kamar yang terlihat sangat rapi ini.
"Kau mandilah, dan ganti baju. Ini punya hyungku, dia sedang kerja di luar negeri jadi kau bisa pakai," jelas Suho seraya memberikan Kris sebuah celana kain berwarna hitam dan kemeja kotak-kotak serta sweater berwarna putih.
"Terima kasih, maaf aku jadi membuatmu repot."
Suho tersenyum dan menyerahkan pakaian ditangannya lalu mendorong Kris ke kamar mandi. Menyuruhnya mandi dengan cepat dan segera berganti baju.
Begitu pintu di tutup, Suho menghela nafas dan tersenyum kecil, masih tidak mempercayai apa yang terjadi sekarang. Kris yang bersin, Kris yang memerah, dan Kris yang berbohong itu baru pertama kali Suho lihat. Sisi lain yang dia tidak ketahui dari si Pangeran Es sekolah itu kini terlihat jelas. Dia mengerti, Kris bukan seperti yang dia benci selama ini. dan entah kenapa, Suho menyukainya.
.
.
Sudah tak terhitung berapa kali Kris bersin dan memijit pelipisnya sendiri. Membuat Suho yang hendak menulis laporannya itu tak tega. Melihat tiang bodoh yang sekarang tampak kacau itu, dia tertegun dan segera meloncat turun dari kursi di depan meja belajarnya.
Suho barusaja memberi Kris sisir dan minyak kayu putih namun Kris sama sakali tidak menggunakannya dan hanya meletakkan benda itu di ranjang tempat dia duduk sekarang. Dengan cepat, Suho merebut sisir dari genggaman Kris dan menyisir rambut setengah basah milik namja di hadapannya ini sebelum mengoleskan minyak kayu putih di leher, pelipis dan tengkuknya.
Wajah Kris sekarang merah. Suho tak bisa mengartikan itu sebagai apa namun Suho kemudian beranggapan kalau Kris terserang demam.
"Kris bagaimana perasaanmu? Tidak nyaman?"
Tak bersemangat, Kris hanya diam.
Suho memasang wajah datar dan menggembalikan sisir serta minyak kayu putih ke tempatnya sebelum menghampiri Kris lagi yang kini malah terlihat pucat. Menguap sudah semua aura sombong dan menyebalkan yang dia punya.
"Kris, jangan begini, kau menyeramkan!"
Menurut Suho, Kris yang normal adalah Kris dengan trademark ice prince-nya, namun saat namja dingin ini diam dan bisu seperti sekarang, berwajah mengerikan dengan tatapan kosong membuat Suho merinding.
"Aku, hanya merasa pusing," tak mau Suho malah mengiranya sebagai orang idiot, Kris mengakui apa yang dia rasakan sekarang "Kepalaku berat, dingin sekali."
Oh gawat, Suho mulai panik saat Kris menghela nafas panjang sambil merapatkan sweater yang dia pakai. Dirabanya telapak kaki dan tangan Kris yang sangat dingin seperti mayat namun leher, tengkuk dan dahinya malah panas.
"Kau demam Kris, jangan pulang dulu kalau begitu. Hujannya masih deras," Suho menggigit bibir dan kini terlihat sangat cemas "Aku akan ambilkan sesuatu di dapur. Kau tidur saja ya?"
Dengan paksa, Suho menyuruh Kris berbaring dan memberinya selimut. Kris sendiri tidak terlalu peduli dengan image dan harga dirinya sekarang. Yang penting, dia harap bisa segera menghilangkan rasa sakit dan pusing di kepalanya serta dingin yang masih menusuk tulang.
Suho menemui ibunya yang tengah memasak di dapur dan langsung bertanya dengan nada panik.
"Eomma! Kris demam, bagaimana ini?"
Dahi nyonya kim berkerut "Kris? oh temanmu tadi ya?"
Suho mengangguk singkat "Ambil obat dan buatkan dia minuman yang hangat."
Karena Suho sudah terbiasa cekatan dan terampil, dengan cepat dia membuat dua mug coklat hangat serta mengambil obat . saat dia kembali ke tempat ibunya, ternyata nyonya kim menyiapkan segelas air putih dan semangkuk kecil bubur kacang.
"Berikan padanya, kasihan temanmu itu, pasti belum makan dari tadi."
Suho mengangguk senang dan segera membawa baki berisi semangkuk bubur, dua coklat panas, obat dan segelas air putih itu ke kamarnya.
"Kris, makan ya, perutmu masih kosong dari tadi kan?"
Melihat Suho yang malah membawakan berbagai makanan Kris tertegun dan merasa segan. Tidak nyaman dan rasanya tidak sopan pada Suho yang kini malah mengkhawatirkannya. Kris ke rumah Suho bukan untuk membuat tuan rumahnya ini repot.
"Suho, sebaiknya aku pulang saja, aku malah membuatmu repot," Kris berdiri dan mengambil tasnya yang ada di dekat ranjang. Bersiap untuk pergi.
Dengan kesal Suho mendorong Kris membuat namja jangkung itu terhempas ke ranjang "Apanya yang repot? Lebih repot lagi kalau kau tidak sembuh dan besok malah tidak masuk sekolah! Bagimana sih!"
"…"
"Jangan pikirkan, aku tidak keberatan, aku senang merawat orang dan rasanya tidak masalah karena kau temanku."
Kris merasa Suho memperlakukannya dengan baik saat ini. Saat Suho menyodorkan mug berisi coklat panas dan senyuman angelic yang biasanya membuat jantung Kris benar-benar sudah turun ke ginjal sekarang. Ya Tuhan berdebar seperti ini melelahkan.
Tak berbeda dengan Kris, Suho merasakan hal aneh juga saat Kris menyentuh tangannya. Saat Kris menatapnya bingung dan ketika Kris mengucapkan terima kasih, Suho rasa perutnya digelitik oleh ribuan kupu-kupu.
"Jangan sakit, siapa yang akan menulis sisa laporan bagianmu kalau kau sakit? Aku bisa keriting kalau menulis semuanya," omel Suho.
Kris diam dan menyesap coklat panas yang mengepulkan uap itu. Di tengah hujan dan badai mengerikan di luar, Kris merasa hangat dan nyaman di dalam ruangan sederhana yang punya harum seperti mint itu.
Dengan tidak sabar, Suho meneguk coklatnya. Sebagai pengalihan karena entah kenapa dia merasa malu saat Kris mulai memperhatikannya.
"Uhuk!"
Suho tersedak dan Kris menghentikan minumnya melihat Suho mengeluarkan lidah sambil merintih kesakitan "Panas!"
"Kau kenapa?"
Suho menggeleng, namun setelah dia meletakkan cangkir coklatnya dia masih terus-terusan merintih "Ugh! Appo!"
Kris ikut meletakkan cangkir coklatnya dan memegang kedua pundak Suho, melihat keadaan namja manis itu. Dan Kris dapat menarik kesimpulan bahwa lidah Suho bersentuhan dengan coklat panas dan menimbulkan sensasi perih.
"Huwee… appo!"
Niat Suho tadi adalah berakting seolah ini tidak menyakitkan dan dia baik-baik saja. Namun begitu merasa perih dan terbakar di lidah, Suho tak bisa berhenti untuk merengek. Sifat manja dan cengengnya keluar sekarang.
"Tunggu! Jangan begitu, basahi saja lidahmu dengan air liur dan jangan digigit!"
Tak tahan dengan rasa sakit di lidahnya, bulir air mata turun dan membasahi pipi pemuda manis itu. Untuk pertama kalinya, Kris yang selalu melihat Suho marah dan galak kini menangis.
"Ya ya! jangan menangis. Sakitnya tidak akan lama. Sst…"
Kris menenangkan Suho karena dia takut kalau tuan dan nyonya kim mendengar lalu beliau berfikiran bahwa Kris lah yang telah membuat Suho menangis sampai sesenggukan seperti ini.
"Hiks, ini sakit sekali!"
Tangisan Suho mereda dan dia mengusap air mata yang turun itu dengan ujung lengan kaus putihnya. Melihat Suho yang setiap hari memukul dan membentaknya kini menangis seperti anak kecil, dia tersenyum, tertawa kecil dan membantu Suho menghilangkan bekas air mata itu.
Suho mengerjap melihat Kris yang kini tersenyum dan tertawa kecil di hadapannya.
Tersenyum…
Ya tuhan Kris tersenyum!
Baekhyun dan Luhan benar kalau dunia akan kiamat sebentar lagi.
Bukan sebuah smirk menyebalkan atau senyuman mengejek, namun kali ini adalah senyuman tulus dan demi apapun, Kris terlihat lebih tampan kalau seperti ini. Meskipun Suho tak mau mengakuinya, namun dia tahu, kalau Kris yang tersenyum merontokkan segala image dingin dan cuek yang selama ini dia sandang.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kris dengan wajah yang kembali datar.
Suho gelagapan, namun dia akhrinya bicara dengan jujur dan polos "Kau tersenyum? KRIS kau tersenyum!"
"E..eh?"
Guratan merah karena tersipu kini muncul di pipi Kris. Dia sendiri tidak menyadari, kalau dirinya yang tersenyum itu dapat membuat seorang Suho menjadi terkejut.
"Kalau aku menjual foto tersenyummu tadi pada penggemar anehmu itu, pasti laku keras."
Kris mengacak rambut Suho dengan gemas membuat namja mungil itu meringis. Lidahnya berdenyut dan memerah masih terasa dengan jelas.
"Oh! Aku lupa, kau harus makan!"
Melupakan sejenak euphoria tentang senyuman Kris yang jujur bisa membuat jantung Suho macet sebentar, dia mengambil mangkuk di baki itu lalu merayap menuju ranjang dan menyodorkan bubur kacang hijau itu pada Kris.
"Aku benar-benar merepotkan," sesal Kris sambil memandang Suho dengan perasaan bersalah sementara namja manis di depannya ini menyendok bubur kental itu dan menyodorkannya pada Kris.
"Berhenti bilang dirimu merepotkan dan segeralah makan," Suho makin menyodorkan sendoknya hingga menyentuh bibir tebal namja berambut pirang gelap ini.
"Aku bisa makan sendiri ho, aku bukan anak kecil juga."
Suho mendengus dan tetap memaksa menyuapi si Pangeran Es. Bukan karena alasan apapun, namun Suho merasa, merawat seseorang itu termasuk juga menyuapinya makan.
"Oh ya Kris…" di tengah Suho yang menyuapi Kris, dia teringat sesuatu yang ingin ditanyakan.
"…"
"…kenapa kau berbohong padaku soal kau bawa payung cadangan?"
Kris tertegun "Aku hanya ingin melindungimu saja."
Mata beriris hazel itu melebar "Melindungi?"
"Kalau kau kehujanan, lalu sakit, siapa yang akan menyelesaikan laporan fisika semuanya?"
Suho ternganga, mendengar jawaban aneh Kris yang begitu menyebalkan dan entah kenapa membuatnya kesal. dicubitnya keras pinggang Kris membuat namja jangkung itu menggeliat.
"Huh! Dasar! Tidak tulus membantu," desis Suho sebal sambil menyodorkan sesendok penuh bubur, "Tapi aku tetap senang, kau melakukannya demi aku. terima kasih ya!"
Suho menunjukkan eyesmile miliknya membuat Kris tak berani menatapnya lama-lama kerena malu, senyuman itu membuatnya lelah karena senam jantung.
Kris tersenyum kecil sambil menatap Suho, namun perlahan dia juga bertanya dengan suara kecil, "Aku juga mau tanya padamu…"
"…kenapa kau begitu membenciku?"
"…"
Suho terdiam dan tak berani menjawab karena dia tak menemukan jawaban yang tepat untuk Kris, namun, sebelum dia melontarkan jawaban, Suho menghela nafas panjang "Aku, tidak membencimu kok."
Untuk beberapa saat, Suho mengentikan kegiatannya untuk menyuapi Kris "Aku, hanya tidak suka, kau yang berwajah datar…"
"Wae?"
"Bukan tidak suka begitu Kris, tapi aku hanya menjadi bingung saat melihat wajahmu yang selalu datar seperti itu.."
Kris merasakan Suho tak bernai menatap wajahnya lagi dan sekarang malah menunduk "…aku jadi tidak tahu, apa saat itu kau sedang sedih, senang, atau menderita. Bagaimana perasaanmu aku juga tidak mengerti, apa yang kau inginkan, harapkan dan apa yang membuatmu senang aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan dan merasa kesal sendiri karena kau begitu mengabaikanku!"
"Suho…"
"…aku…aku…"
"…."
"Aku…aku suka padamu Kris."
Tak bisa ditahan lagi, kini air mata Suho turun. Melihat namja yang tengah demam di hadapannya ini membuat dadanya sesak dan dia susah sekali mengontrol detak jantungnya.
"Mian… mianhe."
Suho terisak dan Kris bisa melihat mangkuk yang Suho bawa bergerak-gerak karena tangannya ikut bergetar hebat. Diambilnya paksa mangkuk beserta sendoknya itu dan diletakkannya ke meja nakas yang paling dekat sebelum dia merengkuh namja mungil itu dalam pelukannya.
"Tidak perlu, meminta maaf begitu."
Suho terisak hebat dan mencengkram sweater putih yang Kris kenakan dan menangis lebih keras lagi. Saat dia rasa Kris membelai rambutnya sambil menarik tubuh kurusnya mendekat, Suho memejamkan kedua matanya dan membiarkan air matanya turun membasahi sweater tersebut.
"Terima kasih ya, sudah menyukaiku."
Ucapan Kris terdengar tenang, pelan dan kini terasa lebih lembut "Jangan menangis, sudahlah, aku juga minta maaf, aku selalu mengabaikanmu."
Kris bisa merasakan Suho mengangguk kecil dan masih terisak. Kris kini mengerti Suho orang yang seperti apa. Namja itu mungil dan sangat manis, dia cengeng dan kekanakan namun juga ceroboh dan seseorang yang bersemangat. Suho orang yang lembut namun cerewet, tapi dia melindungi semuanya dengan sangat baik.
Termasuk saat ini, saat tangan halus itu menyuapinya tadi dan merawatnya.
Kris tahu itu Suho lakukan itu untuknya, dengan tulus.
Suho meredakan tangisnya dan berusaha bernafas dengan normal. Namun dia ingin meledakkan tangisnya lagi saat Kris melepaskan pelukannya dan menangkup kedua belah pipi tembamnya.
"Terima kasih…"
"…aku juga suka padamu."
Tak bisa menahan segala luapan emosinya, Kris mengecup singkat bibir tipis sewarna ceri milik Suho yang basah karena air matanya sendiri.
Ini ciuman pertamanya dan Suho tidak menyesal telah membiarkan Kris merebutnya. Setidaknya, orang yang telah menciumnya sekarang adalah orang yang dia cintai dan mencintainya. Perasaannya membuncah dan segera memeluk Kris saat ciuman sangat singkat itu selesai.
"Aku… menyayangimu, Yi Fan!"
Untuk kali pertama ini Kris mendengar Suho memanggil nama aslinya dengan manja disertai usakan halus di dadanya. Diciumnya puncak kepala Suho yang terbalut rambut halus dan ditepuknya punggung sempit itu. Pusingnya perlahan menguap dan semuanya menjadi hangat sekarang.
"Oh ya ampun Suho, kau bisa terlular flu ku kalau begini. Sebaiknya kau jangan dekat-dekat denganku dulu!"
Ucap Kris tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya dengan tatapan menyesal "Maaf aku sudah menciummu tadi, kalau fluku sampai menularimu, aku minta maaf!"
Suho menggeleng dan memandang jendela yang tengah diketuk oleh angin yang dingin "Tidak apa-apa, tularkan saja tidak masalah…"
Tiang telepon ini mengerjapkan matanya saat melihat Suho menjawab lirih dengan kedua belah pipi yang merah seperti ladang tomat.
"…aku akan menutup gorden dan membersihkan ini semua. Kau tidur saja ya Kris…"
Kris mengangguk saat Suho membereskan mangkuk dan menutup gorden jendela, setelah itu dia menyuruh Kris minum obat, dan kembali ke dapur untuk meletakkan mangkuk kotor dan segelas air. Sementara dua muga berisi coklat hangat itu dia biarkan di kamarnya.
"Aku sudah mengatakannya…" desis Kris dalam hati dan meraskan pipinya panas. Mengatakan kalau dia menyukai Suho, akhirnya setelah lebih dari 2 bulan sejak menyukai namja manis itu, dia bisa mengungkapkannya.
"Kris, kau menginap di sini ya."
Kris terkejut dan tersadar Suho sudah ada di depannya, dia tutup pintu kamar lalu berjalan mendekati Kris yang ada di ranjangnya.
"Menginap? Ya! aku tidak bisa merepotkanmu lebih dari ini," Kris menggeleng dan menolak ide itu. Sebenarnya dia ingin juga, namun Kris masih punya sopan santun.
"Eomma yang menyuruhku, tidak apa-apa, diluar masih deras dan sepertinya tidak akan berhenti sampai pagi. Tidur saja disini."
Tak ada pilihan lagi, Kris mengangguk dan menyanggupi usulan Suho. dia kira, dirinya juga tidak akan bisa pulang dalam cuaca mengerikan seperti ini.
"Kris…"
"Eung?"
Dengan malu-malu, Suho menggaruk tengkuknya "Apa… aku kekasihmu sekarang?"
Muka Suho merah padam saat menanyakan itu dan terlebih lagi saat Kris menyuruhnya untuk mendekat dan menyunggingkan sebuah smirk yang kali ini di mata Suho lebih terlihat seksi dan menggodanya.
"Menurutmu?"
Mata angel itu tak tahan dan akhirnya mengedip cepat-cepat "I…iya."
"Kalau sudah tahu begitu kenapa malah bertanya?"
Menjadi pacar seorang Pangeran Es sekolah. Berciuman dengan orang yang selalu dia tendang itu membuat otak Suho beku. Namun saat Kris meraih telapaknya dan memberikan ciuman singkat lagi di pipinya, membuat Suho mematahkan seluruh anggapannya tentang Kris si arogan yang berhati dingin.
Suho lalu memeluk pemuda jangkung itu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kris. membau aroma maskulin dari sana dan tersenyum senang.
Bukan lagi Pangeran Es.
Kris benar-benar sudah mencair sekarang, hanya gara-gara seorang pria pendek yang tengah memeluk erat tubuhnya.
.
.
"Kris, aku boleh bertanya lagi?"
Kris yang tengah bergulung di kasur dan Suho yang duduk di meja belajarnya, tengah mengerjakan laporan. Namun laporan bagian Suho sudah selesai dan kini dia memilih menemani Kris yang belum tertidur.
"Eung? Mwo?"
Suho duduk tepat di samping tubuh Kris di dekat meja nakas.
"Kenapa… kau tidak pernah berekspresi?"
Mendengar Suho bertanya seperti itu, Kris hanya bergumam.
"Kenapa? Karena aku tidak tahu…"
Jawaban Kris kali ini membuat Suho mengernyitkan dahinya bingung "Tidak tahu?"
"Aku hanya tidak bisa mengekpresikannya dari kecil. Appa selalu berwajah keras , setiap aku berekspresi di depannya dia mengabaikanku, sedangkan eomma tidak terlalu peduli dan tidak memperhatikanku."
Suho melihat putra tunggal dari seorang pemilik perusaahan asing ini bangkit dari tidurnya dan beralih membelai kepala Suho berserta pipinya yang sangat halus seperti tepung.
"Lagipula, dengan wajah seperti ini, aku bisa lebih mudah, menyembunyikan perasaan dan masalahku…"
"… termasuk juga perasaanku padamu."
Suho mengangguk kecil dan balas meletakkan kedua tangannya ke pundak Kris "Aku tahu, kau tidak bisa menunjukkan ekspresimu Kris. Tapi, kalau denganku setidaknya tersenyumlah, dan jadilah Kris yang hangat."
Kris mengangguk dan Suho turun dari kasur pegasnya. Sementara itu, namja tinggi ini menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang memijit pelipisnya pelan sambil memejamkan mata.
"Huwee appo!"
Teriakan nyaring dan melengking itu membuat Kris membuka matanya dan melihat Suho tengah meringis sambil menutup kedua mulutnya.
"Ya! kenapa lagi? Bukannya coklatnya sudah dingin?" tanya Kris sambil segera turun dari tempat tidur dan menepuk pundak Suho. Dilihat dari gelagatnya, Kris yakin kalau lidah pacar barunya ini sakit lagi.
"Aku, makan kue tadi, tapi lidahku tergigit tepat bagian yang luka… ini sakit Kris, ugh!"
Dengan polosnya Suho menunjuk potongan kue kering berwarna keemasan di piring kecil yang ada di dekat map bening miliknya.
"Sini, aku akan memeriksanya. Jangan menangis terus!"
Suho tak peduli meskipun Kris menyuruhnya untuk jangan memangis, dan dia tetap pasrah saat Kris menuntunnya untuk berjalan menaiki kasur dan duduk bersandar di ranjangnya.
"Hiks! Ini sakit, huwee… pasti berdarah…"
Seperti biasa, Suho selalu berlebihan dan tidak bisa tenang dalam menyikapi masalah, membuat Kris gemas sendiri dan ingin mencubit pipi kekasihnya tersebut.
"Buka mulutmu, berhenti menangis! Nanti aku susah memeriksanya," Kris mengeluh karena Suho masih menangis sesenggukan.
Akhirnya, saat Suho mulai tenang, Kris tersenyum saat Suho membuka mulutnya malu-malu. Dia julurkan lidahnya dan Kris bisa melihat jelas bekas kemerahan yang sangat menonjol dari bagian lidah lainnya. Terkena panas dan gigitan. Tidak berdarah, hanya saja telihat menyakitkan dan perih.
"Hisk, bagiamana menyembuhkannya? Ini sakit…"
Merasa bagian lidahnya berdenyut, Suho mengatupkan kedua belah bibirnya dan menangis pelan.
"Menyembuhkan?" Kris berfikir dan tidak tega meliha Suho yang sudah merawatnya itu kini malah merintih kesakitan.
"Ah, baiklah, aku akan menyembuhkannya."
Suho tersenyum karena dia fikir Kris bisa mengobati rasa perih yang terbakar dalam lidanya. Namun saat Kris malah mendekatkan diri dan wajahnya, baru Suho merasa ini aneh.
"K…Kris? katanya… mau menyembuhkan?"
Kris berhenti tepat beberapa senti di depan bibir merah pucat kekasihnya "Ini aku mau melakukannya."
Barusaja Suho hendak protes namun Kris buru-buru menempelkan bibirnya. Suho mengedip, dan merasakan tangan besar Kris memegang dagunya membuat posisi berciuman mereka menjadi lebih baik dan pas hingga keduanya bisa sedikit bernafas lebih lancar.
"Eungh…"
Seorang Kim Suho ini memang tak tahu ciuman akan seperti ini rasanya. Namun saat Kris malah melumat dan menggerakkan bibirnya, Suho baru menyadari kalau ini rasanya menyenangkan. Dia letakkan kedua tangannya di dada Kris dan kekasihnya menahan tengkuk dan pinggangnya.
Karena Kris menyadari lidah Suho yang terluka, bibirnya bergerak lembut dan tidak terlalu cepat. Dihisapnya bibir atas dan bawah Suho sebelum mulai menggerakkan kepalanya ke kanan.
"Eungh… Kriish…"
Sebuah desahan kecil keluar dari mulut mungil Suho yang sedang ditawan Pangeran Es ini. namun, Suho sebenarnya tidak keberatan, dia sendiri mulai membalas ciuman tersebut dan mulai terbiasa dengannya.
Bahkan saat Kris menjilati bibir basahnya, Suho malah membukanya dan membiarkan lidah Kris masuk untuk menjelajahi isi mulut pemuda manis itu. Dibelainya titik terbakar di lidah milik Suho membuat rasa yang nyaman dengan lidahnya sendiri.
Setelah Kris merasa Suho menggeliat tidak nyaman dan nafasnya mulai putus-putus, Kris melepaskan ciuman cukup lama itu dan mengeluarkan lidahnya dari dalam mulut kekasihnya sendiri.
"K…Krishh.. eung.."
Suho tak bisa memungkiri bahwa wajahnya memerah sekarang, apalagi saat melihat Kris di depannya tersenyum singkat dan menjilati bibir bengkak Suho dengan lembut.
"Sudah? Masih terasa perih?"
Suho menggeleng, lidah Kris tadi memang membuat luka dalam mulutnya lebih baik "Tidak kok, terima kasih."
Kris tersenyum sebelum merasakan kepalanya berdenyut lagi. Belum apa-apa, namja jangkung itu roboh dan terhempas ke kasur diikuti Suho yang ikut merebahkan diri di sampingnya.
"Maaf ya, mungkin setelah ini kau akan tertular."
Suho menggeleng "Tidak apa, aku suka kok," ucapnya malu-malu "Saat kau menciumku, aku merasa hangat dan begitu nyaman."
Kris menarik tubuh Suho mendekat sebelum menyelimuti tubuh keduanya, lalu dia berbisik kecil di telinga merah Suho sebelum jatuh tertidur.
"Kalau fluku sudah sembuh nanti, kita harus sering-sering melakukannya."
Suho memerah parah dan menyembunyikan wajahnya yang serasa terbakar sebelum memukul manja dada bidang Kris sambil menggeutu kecil "Dasar mesum!"
Dengan kekehan pelan, Kris mengeratkan pelukannya sebelum akhirnya keduanya tertidur pulas.
.
.
Sudah 3 hari sejak kejadian menginap di rumah Suho itu, hubungan keduanya masih terlihat seperti biasa. Marah-marah, mengomel, berdebat, dan saling bertukar ejekan jadi kegiatan rutin Suho dan Kris selama di sekolah. Suho lebih parah karena Kris pasti hanya menanggapinya dengan wajah datar dan tenang. Namun sedikit berbeda, Kris akan menunjukkan sisi hangatnya itu saat dia hanya bersama Suho sendirian dan tak ada seorangpun yang mengganggu.
Dengan begitu, Suho akan berubah dari mood ibu-ibu, menjadi manja pada Kris. Idola sekolah ini tidak keberatan sih, lagipula Suho yang sedang manja itu lucu juga.
"Kris!"
Namja jangkung itu menoleh dan terkejut saat melihat Chanyeol dan Chen duduk tepat di bangku mereka berdua.
"Apa?"
"Kau pacaran dengan Suho ya?"
Meskipun hari ini cerah dan matahari menyengat, Kris merasa ada kilat menyambar dan petir yang menggelegar dalam pendengarannya saat Chanyeol bertanya to the point padanya.
"Huh?"
Chen mengetuk telunjuknya pada meja "Habis, belakangan ini Suho dan kau suka aneh sih, jadi aku berfikir seperti itu."
"Apaan sih, jangan mencampuri urusan orang!"
Kris berdiri dan kini menyambar headset di meja dan langsung pergi ke luar kelasnya. Bukannya dia marah pada Chen dan Chanyeol, tapi Kris hanya tidak sanggup memasang wajah seperti apa saat duo orang aneh di kelasnya ini mengetahui dia dan Suho berpacaran.
Suho sendiri sama, dia tidak mau hubungannya dengan Kris diketahui dan membuatnya mendapat terror kertas berdarah atau boneka voodoo dari penggemar Kris seantero sekolah.
Perlu diingat juga, Kris tak suka jadi perhatian dan ditanyai macam-macam.
"Yeol, sudah aku bilang dia akan langsung begitu! Mana mungkin dia mengaku di depan kita berdua?" Chen menghela nafas panjang.
Chanyeol terkekeh lalu membuka kunci handphonenya, dia tersenyum begitu melihat gambar-gambar di galeri foto yang baru saja dia ambil beberapa saat lalu.
"Tapi kita punya bukti kan? Aku mau bantu aku tidak?"
Chen mengangkat alis "Kau mau apa dengan foto mereka berdua?"
"Aku mau membalas tuan muda itu, enak saja waktu itu dia tidak membantuku piket kelas. Hehe, meskipun teman, aku benar-benar ingin mengerjainya!"
Dengan tawa kecil, Chanyeol kembali mengusap layar handphonenya dan melihat berbagai foto Kris dan Suho yang dia ambil saat jam istirahat sekitar 30 menit yang lalu.
Ekor mata Chen ikut melihat foto di handphone Chanyeol dan menghela nafas "Bodoh sekali mereka berdua, tidak mau mengaku kalau pacaran."
"Kau bantu aku ya! aku mau mengerjai mereka berdua, lebih-lebih wu itu!" pinta Chanyeol pada Chen yang merupakan pasangannya dalam melakukan tindakan bodoh dan mengerjai sesama anggota kelas.
"Baiklah, aku setuju."
Keduanya bertos sebelum beranjak dari bangku Kris dan berjalan ke luar kelas.
.
.
30 menit yang lalu, Jam istirahat.
Kris dan Suho menyendiri di taman belakang di dekat gudang olahraga. Si pria jangkung itu tidur-tiduran di atas rumput dan Suho berdiri bersandar pada pohon sambil memakan stroberi yang jadi bekalnya saat itu.
"Kris, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Suho masih khawatir kalau Kris masih demam, sebenarnya Kris sudah membaik sejak tidur dengan Suho sebagai gulingnya tempo hari.
"Baik, fluku sudah sembuh kok."
Dengan helaan nafa lega, Suho tersenyum dan meletakkan kambali kotak bekalnya yang kini sudah kosong ke dalam tas ransel yang memang dia bawa itu.
"Kau sendiri?"
"Eh?"
Kris mengubah posisinya menjadi berdiri berhadapan dengan Suho dan manatapnya dengan mata tajamnya membuat Suho gugup dan merasa tidak nyaman karena malu.
"Setelah aku menciummu waktu itu, apa kau tidak tertular?"
Wajah putih dengan pipi tembam itu memerah, lalu dia menggeleng kecil.
Mata angel Suho terpejam saat Kris memeluk pinggangnya dan menyentuhkan bibir mereka berdua. Suho sendiri meyakinkan dirinya kalau berciuman di area sekolah itu tidak melanggar peraturan. Lagipula, dirinya juga menyukai lumatan lembut dari bibir si pangeran sekolah ini.
Sudah beberapa menit mereka berciuman, Suho merasa kakinya berubah menjadi agar-agar dan melemas seketika. Melihat hal ini, tanpa memutuskan ciumannya, Kris membawa Suho untuk terlentang di rerumputan dan posisi menindihnya. Keduanya tak memperdulikan apapun disekitar, bahkan suara angin dan dahan yang berdecit tak mengganggu mereka berdua.
Mereka juga tak menyadari, kalau namja jangkung bernama Chanyeol dan teman sekelasnya bernama Chen lewat di dekat mereka saat itu, dengan terkejut dan tidak percaya mereka mengambil setiap moment itu dalam ponsel pribadinya.
.
.
"Kris! pagi!"
Suho baru saja sampai di depan pintu masuk gedung sekolah saat dia melihat Kris tengah kembali dari parkiran sepeda.
"Ah, ne."
Keduanya berjalan beriringan seperti biasa menuju gedung utama tempat mereka belajar nanti. Namun mata Suho sedikit bergerak-gerak bingung ketika dia melihat keributan di lorong. Tepatnya di sebuah papan pengumuman atau mading yang tidak pernah di urus oleh guru itu.
"Apa sih?" tanya Kris dengan gumaman ketika semua orang tumpah ruah disana sambil berteriak-teriak tidak jelas.
"Entahlah, ada pengumuman menarik mungkin," Suho tersenyum lalu berjalan mendekat ingin tahu. namun begitu dia ingin menerobos kerumunan, dirinya lebih dulu dihadang oleh Baekhyun dan Luhan.
"SUHO!"
"Ha?"
Angel mungil yang bodoh ini mengedip tidak mengerti dengan tatapan innocent seperti biasa. Apalagi melihat kedua sahabatnya ini, Suho hanya bisa mengucapkan kata 'annyeong' dan tersenyum.
"YA! kau dan KRIS? KRIS SI PANGERAN ES ITU?"
Luhan berteriak sambil menggoyang-goyangkan kedua bahunya. Sementara bekhyun kini menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan.
"A… apa?"
"Kau pacaran dengannya?" kini giliran Baekhyun yang bertanya dengan tidak sabaran. Membuat Suho bingung, dia harus menaruh perhatian pada Luhan atau Baekhyun sekarang.
"Ha..hah?"
Suho terkejut karena setahunya dia tidak pernah bicara pada Luhan dan Baekhyun perihal pacarannya dia dengan Kris. Ya Tuhan darimana dua orang ini tahu?
"Tidak? Lalu kenapa kau berciuman dengannya?" sembur Luhan dan ini membuat Suho makin bingung dengan semua ucapan sahabatnya.
"A..apa? cium?"
Luhan dan Baekhyun mengangguk berbarengan. Ciuman? Suho tak pernah juga mempertontonkan adegan ciumannya dengan Kris di hadapan teman-temannya.
"Kenapa? Kalian tahu yang seperti itu?"
Luhan mengernyit "Jadi itu benar? Kau bodoh! Seluruh sekolah sudah mengetahuinya tahuu!"
Mata Suho menelusuri banyak murid-murid yang ada di belakang Luhan dan Baekhyun, dia masih heran mengapa Baekhyun dan Luhan bisa tahu dan mengapa semua orang mengerumuni papan pengumuman.
"Lihat saja disana kalau kau mau tahu," Luhan mendorong Suho menuju papan pengumuman. Kris yang saat itu diam menunggu Suho perlahan ikut melangkahkan kakinya menerobos kerumunan lautan manusia itu.
Namun, saat anak-anak disana menangkap sosok Kris dan Suho, mereka langsung diam dan hening. Hilang sudah keributan tadi dan itu semua membuat sepasang kekasih itu bingung.
"Kalian berdua? Pacaran?" itu adalah pertanyaan dari Kyungsoo. Mata bulatnya semakin bulat lagi saat dia terkejut.
Suho gelagapan namun Kris masih mempertahankan topeng dinginnya. Saat dia melihat sebuah artikel di papan pengumuman dengan ukuran sebesar kertas A3. Dia mendelik begitu melihat judul artikel itu.
Terpampang jelas dengan font yang tebal.
'KRIS SI PANGERAN SM HIGH SCHOOL SUDAH MENCAIR KARENA SEORANG KIM JOON MYUN'
Ya ampun! Siapa orang kurang kerjaan yang menstalk mereka? tangan Kris mengepal saat dia lihat fotonya yang berciuman dengan Suho di taman belakang dicetak besar-besar dan membuat wajahnya memerah sekarang. Dia yakin, hampir semua siswa disini telah melihat foto tersebut.
"K..Kris?"
Suho terlihat khawatir, karena dia takut kekasihnya yang tidak pernah marah ini akan meledak. Suho juga takut kalau teman-temannya sekarang akan jadi korban mengamuknya naga china ini. kali ini kertas berdarah dan boneka voodoo ikut terngiang dalam otaknya.
Sebaris kalimat di akhir artikel itu membuat Kris gemas dan menggetarkan bibirnya sementara puLuhan pasang mata melihatnya serta melontarkan berbagai pertanyaan.
'Kami punya video untuk ini, tapi tidak gratis, kalau mau, hubungi kami berdua'
Ada dua tanda tangan di bawah kalimat itu dan Kris bisa menafsirkan itu tanda tangan milik siapa. Suho menggoyangkan lengan Kris sementara dia merasakan kekasihnya ini berdesis.
"Mati kau Park Chanyeol, Kim Jongdae.."
Suho menelan ludah, setelah ini kawan sekolahnya bisa dipastikan melihat dua orang tolol yang menyebarkan berita itu akan mendapat semburan api dari Kris. Sekaligus, ini akan menjadi pertama kalinya mereka akan melihat Si Pangeran Es ini megamuk.
Tapi, dengan ini, mereka semua akan tahu, namja tampan ini benar-benar sudah melepaskan statusnya sebagai Pangeran Es.
Karena dia sudah melelehkannya.
Bukan dia…
Namun seorang namja cengeng yang suka mengomel,
Bernama Kim Joon Myun.
.
.
END
.
.
UDAH ABIS YEEE! *Dan humornya gagal jadi lupakan genrenya yang Rae tulis humor -_-
Untuk Remember, Rae masih dalam proses pengerjaan. Yang review di chapter kemarin terima kasih ya, tolong review juga untuk chapter ini :3
Kalau yang chapter ini dirasa kurang memuaskan, maaf ya… rae sedang flu hingga suka pusing di depan laptop -_- kalau banyak salah dan typo, Rae mohon maaf.
Oke, terima kasih ya semuanya, Rae benar-benar senang dan blushing lihat review kalian.
Kamsahamnida! ;D
/bow/
.
.
#bagi yang mau fotonya krisho kisseu silahkan minta Yeol sama Chen :3
.
Annyeong!
.
SungRaeYoo ^o^
