KnB fanfiction
Present:
Your Lies © Ran Hime
KnB © Tadatoshi Fujumaki
MuraKiyo (Murasakibara X Kiyoshi)
T rated
Canon, AR, OOC, Shonen ai.
.
.
.
Chapter 2
.
"Kiyoshi!"
Kiyoshi hanya bisa tertawa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka jika Murasakibara akan menemukan dirinya di tempat seperti ini. Apalagi setahun setelah pertengkaran mereka hari itu. Ia pikir, Murasakibara tidak peduli lagi tentang keberadaannya. Namun semua pemikiran itu terpatahkan ketika ia melihat wajah menyeramkan Murasakibara kini berada dihadapannya.
"Berhentilah tersenyum seperti itu," ujar Murasakibara dengan nada dingin.
Tawa Kiyoshi memudar begitu saja. Ia menurunkan sebelah tangannya yang ia pakai menggaruk tengkuknya. Seketika itu juga ia merasa canggung.
"Berdiri dan ayo kencan." Murasakibara mengulurkan tangan kanannya kehadapan Kiyoshi.
"Heh!" Kiyoshi syok mendadak. Ia bahkan mengabaikan tangan besar Murasakibara yang masih berada dihadapannya.
Bagaimana bisa Murasakibara dengan mudah mengajakknya kencan, bahkan ketika mereka tidak lagi bertemu selama setahun lebih? Bagaimana bisa Murasakibara mengatakan hal tersebut seolah tidak pernah ada pertengkaran sama sekali di antara mereka? Dan bagaimana bisa Murasakibara dengan entengnya mengajaknya kencan di hari mereka pertama kali bertemu kembali setelah perpisahan hari itu.
"Murasakibara .."
Murasakibara hanya diam dengan pandangan dinginnya. Membuat Kiyoshi semakin tidak mengerti akan sikap pemuda yang lebih muda setahun darinya itu.
"Kubilang kencan ya kencan," ujar Murasakibara masa bodoh sembari meraih tangan kanan Kiyoshi dan menarik tangan yang serasa makin kurus di genggaman Murasakibara.
Kiyoshi bangun dari bangku akibat tangannya yang ditarik paksa itu. Dengan tertatih ia mencoba mengimbangi langkah panjang Murasakibara. Sebelah tangannya yang bebas mencoba menggapai ujung kaos Murasakibara.
"Murasakibara .." Berkali-kali ia hampir terjatuh namun Murasakibara seolah tidak peduli.
Hingga akhirnya Kiyoshi benar-benar terjatuh. Ia dapat merasakan tangan Murasakibara melepaskan genggaman tangannya. Kiyoshi merasa kakinya benar-benar sakit. Ia sedikit mengabaikan Murasakibara yang ikut berjongkok dan memandangnya dingin.
"Maaf!" seru Kiyoshi tanpa sadar. Sejujurnya ia tidak mau terlihat menyedihkan di mata orang lain. Namun keadaan tubuhnya juga tidak mungkin berbohong. Ia hanya diam sembari memandangi kakinya yang terkilir bahkan membiarkan Murasakibara memegangnya. Membiarkan Murasakibara melepas sepatu miliknya dan membuat kakinya yang bengkak terlihat. Namun ia tidak bisa diam ketika melihat Murasakibara melempar sepatunya entah kemana.
"Apa yang kau lakukan Murasakibara? Aku bahkan baru membelinya seminggu lalu." Protesnya agak emosi.
"Naik!" perintah murasakibara tidak peduli akan protesan Kiyoshi sembari menyodorkan punggungnya.
Kiyoshi hanya bisa menurut. Percuma protes. Apapun yang ia katakan hanya akan diabaikan oleh Murasakibara. Seperti hari itu, ketika pemuda berambut ungu itu mengejarnya ke Amerika dan mengabaikan sekolahnya. Seperti hari itu, ketika Murasakibara menemani dirinya di pusat rehabilitasi dan mengabaikan pertandingan-pertandingan basket yang ada di Akita. Seperti hari itu, ketika ia berkata bahwa keadaannya sudah membaik dan Murasakibara bisa kembali ke Jepang. Murasakibara hanya menanggapinya dingin lalu mengabaikannya begitu saja.
Kiyoshi mengeratkan pegangannya di bawah leher Murasakibara ketika pria besar itu mulai bangkit lalu berjalan menggendongnya. Rasanya begitu aneh ketika ia berada di gendongan orang lain ketika ia bukan lagi anak-anak.
Kiyoshi menaruh pipinya di bawah tengkuk Murasakibara. Ia memejamkan matanya merasakan setiap bau yang menguar dari tubuh Murasakibara. Tidak pernah berubah sedikitpun. Aroma keringat Murasakibara masih seperti dulu.
Seperti saat pertama kali ia melawan Yosen di pertandingan pertamanya ketika SMA. Seperti ketika ia melawan Murasakibara sebelum akhirnya cederanya makin parah di akhir pertandingan musim dingin. Bau Murasakibara tidak pernah berubah sedikitpun. Seperti ketika ia melawan Murasakibara setahun yang lalu. Semua tidak pernah berubah. Dan Kiyoshi pun tidak pernah bisa menang melawan Murasakibara.
"Hei, Kiyoshi ... Jangan tidur!" seru Murasakibara menghentikan lamunan Kiyoshi, "itu merepotkan."
"Kenapa tidak kau turunkan aku saja kalau begitu."
Kiyoshi mengangkat kepalanya. Ia menarik nafas dalam. Lalu memperhatikan pemandangan di depannya. Sejak kapan ia berada di daerah ini?
"Kita akan kemana?"
"Kencan."
"Dasar bodoh! Mana ada orang kencan seperti ini."
Untuk pertama kalinya Kiyoshi benar-benar ingin marah. Bagaimana bisa Murasakibara mempunyai kekuatan sebanyak itu dan terus menggendongnya sampai sejauh ini.
"Hei, kita mau kemana?" tanya Kiyoshi agak khawatir ketika Murasakibara berjalan memasuki gang yang belum pernah ia lewati satu kali pun.
"Murasakibara ... Kau bisa menjawabnya, kan?"
Namun Murasakibara tetap diam dan terus berjalan hingga sampai pada sebuah rumah yang lumayan besar. Ia berhenti di depan pintu dan menekan bel dengan tidak sabaran.
"Ahh siapa yang berisik." terdengar suara dari dalam sebelum pintu di depan mereka terbuka, "Murasakibara ..."
"Minechin ... Kau lama sekali."
"Hah ... Kiyoshi? Apa yang kalian lakukan di sini? Berdua pula?"
Kiyoshi hanya tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi rapinya. Murasakibara membawanya masuk ke dalam rumah Aomine bahkan sebelum pemilik rumah itu mempersilahkan mereka masuk.
.
.
.
Hampir setengah jam Aomine keluar untuk membeli makanan, namun belum juga kembali. Kiyoshi mulai merasa bosan berada di ruang tamu Aomine tanpa melakukan apapun. Sementara Murasakibara tengah menikmati tidurnya di atas karpet. Pemuda itu terlihat pulas dalam tidurnya setelah memijat kaki Kiyoshi dan sedikit mengompresnya.
Kiyoshi menyadari jika Murasakibara mungkin benar-benar lelah setelah menggendongnya ke rumah Aomine lalu mengobati kakinya. Bahkan sangking lelahnya, Murasakibara menghabiskan makanan di kulkas Aomine dan masih juga menyuruh Aomine untuk membelikannya makanan. Tamu tak tahu diri, bathin Kiyoshi.
Kiyoshi melirik sesuatu di atas meja. Dengan menyeret tubuhnya ia mendekati meja yang kebetulan berada di samping Murasakibara tengah tidur. Kiyoshi meraih spidol hitam itu lalu duduk di samping Murasakibara. Ia menatap cukup lama wajah terlelap Murasakibara. Jika boleh jujur, sebenarnya Murasakibara terlihat mempesona saat sedang tidur. Membuat wajah seramnya menghilang.
Kiyoshi membuka tutup spidol di tangannya lalu mengarahkan ke wajah Murasakibara.
"Kau itu tampan jika saja kerutan ini hilang," ucap Kiyoshi sembari melingkari kerutan di dahi Murasakibara yang membuat wajah itu nampak menyeramkan di mata semua orang yang menatapnya.
"Kau itu cukup manis, kalau saja kau mau sedikit tersenyum," lanjutnya sambil membuat garis lengkung dari ke dua sudut bibir Murasakibara hingga ke atas sedikit.
Kiyoshi meletakkan spidol di tangannya ke atas karpet. Tanpa sadar tangannya menyentuh bibir Murasakibara yang nampak sedikit terbuka itu. Ia mempersempit jarak wajahnya dengan wajah Murasakibara. Semakin sempit hingga kemudian mata itu terbuka sebelum sempat Kiyoshi mencuri ciuman di bibir Murasakibara.
Kiyoshi nampak terkejut dan hendak menegakkan tubuhnya. Namun ia kalah cepat dengan Murasakibara yang lebih dulu menarik kemejanya hingga tubuhnya terjatuh ke atas tubuh Murasakibara. Tanpa basa-basi Murasakibara menyentuh kepala belakang Kiyoshi dan menekannya hingga Murasakibara dapat memperdalam ciuman di bibir Kiyoshi.
Kiyoshi kelabakan dibuatnya. Ini ciuman pertamanya. Rasanya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia memukul dada Murasakibara ketika pemuda itu tidak juga melepaskan ciumannya, sementara ia sudah hampir kehabisan nafas. Wajah Kiyoshi mendadak serasa horor ketika tangan besar itu menyelinap ke balik bajunya dan menyelus punggungnya.
"Kenapa tidak kalian gunakan kamar saja. Kalian pikir ini rumah siapa?"
Untuk sesaat jantung Kiyoshi berhenti berdetak. Wajahnya merah padam mendengar suara pemilik rumah yang memergoki mereka hendak berbuat yang iya-iya.
Kiyoshi bangkit dari atas tubuh Murasakibara dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar merasa malu. Sejenak ia melirik Murasakibara yang hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kiyoshi senpai!" ucap seseorang yang baru datang dari balik pintu.
"Kagami, kau ada di sini?"
"Yah, kami akan pergi ke festival kembang api." ujarnya kemudian melirik Murasakibara yang tengah memasang wajah masa bodohnya sambil memakan snack yang baru saja Aomine bawa.
"Aku pinjam toilet." Kiyoshi bangkit lalu berjalan tertatih ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
.
.
.
"Cih, melakukan pelecehan di hari pertama kali bertemu." sindir Kagami ketika ia dan Murasakibara berada di ruang tamu berdua. Aomine masih bersiap-siap untuk pergi ke pesta kembang api, sementara Kiyoshi tidak kunjung kembali dari kamar mandi.
"Lalu apa urusanmu?" Murasakibara sok tidak peduli dengan wajah Kagami.
"Bagaimana kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Bahkan setelah Kiyoshi senpai tidak melanjutkan pengobatan kakinya."
"Hah."
"Jangan cuma 'hah' brengsek." sebisa mungkin Kagami berusaha menahan amarahnya. "Kau pikir karena siapa Kiyoshi senpai bersembunyi agar tidak dipaksa ke Amerika lagi. Dan membuat Alex mengamuk."
"Mana kutahu?" Murasakibara bangkit lalu membawa bungkus-bungkus snack yang telah ia habiskan ke dapur. Ia menyalakan kran lalu menghapus coretan-coretan yang ada di wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali ke ruang tamu.
.
.
.
To be Continue ...
