One Mistake coz One Night Stand

Masashi Kishimoto

SasufemNaru, Sasukarin

Drama, romance

M

Ooc, au, abal, typo, bahasa yang berulang, femNaru.

Selamat membaca.

)(/()

.

.

Tak bisa Naruto lepas lagi pandangan matanya kini, selalu memandangnya dengan jantung yang terus berdetak, memandangnya dengan perasaan was-was yang terus menggerogoti hati, melihatnya yang kini berbaikan kembali dengan kekasihnya Karin, tanpa sadar membuat Naruto terbelah antara senang mereka bersama dan bernyut nyeri saat mengingat kesalahannya walaupun dia akui tak sengaja yang murni kecelakaan dan bukan keinginannya.

Memandang penuh kepada Uchiha Sasuke, salah satu sahabat baiknya, dimana hanya segelintir orang yang menerima kehadirannya disekolah ini.

Hanya gara-gara satu malam dapat merubah segalanya, merubah persahabatan yang terjalin sejak dulu kala. Satu malam yang bahkan kini tak lagi diingat Sasuke, tapi begitu jelas terbayang dipelupuk mata Naruto.

Semua gara-gara alkohol yang mereka minum dipesta Sakura. Hingga membuat Sasuke hilang kendali, tak biasanya dia mabuk hanya dengan tiga sloki wine, mungkin akibat tekanan dari Tou-sannya dan baru saja mengalami pemutusan sepihak dari kekasih tercintanya, Karin.

Setelah itu semua terjadi, semua hanya berputar hasrat, nafsu dan birahi.

Huhh

Menghela nafas lelah, surai pirang kusut melambai diterpa angin, kini pandangan Naruto tertuju pada langit sore yang membentangkan mega sewarna jeruk masak.

'Aku tak mungkin mengatakannya, kalau aku bilang pada mereka bagaimana hubungannya dengan karin, lagian kami adalah sahabat.'

Perut Naruto melilit serasa diaduk oleh pengaduk semen, mual terasa naik hingga kekerongkongan, membuatnya tanpa sadar mengatupkan bibir rapat-rapat, menahan hasrat ingin mengosongkan perut. Tak taukah kalau hidung Naruto sedikit sensitiv akhir-akhir ini.

Tapi-

Orang-orang memandang kepergian Naruto penuh tanda tanya, berlari keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Kakashi-sensei yang sedang mengajar pedalaman bagi kelas tiga.

Suara kaki yang beradu dengan lantai terdengar disepanjang lorong menuju kamar mandi siswi, sepi terlihat, mengingat ini masih memasuki pelajaran bimbingan.

Dengan cepat Naruto membuka pintu dan menghambur kewastafel, memuntahkan isi perutnya yang sejak kemarin malam tak terisi makanan sesuappun.

Entah kenapa hatinya terasa ngilu, matanya memerah menahan tangis, hingga akhirnya Naruto membasuh wajahnya berulang kali, berusaha menghilangkan perasaan bersalah yang memenuhi hatinya.

Telihat pantulan dicermin, surai blonde yang awut-awutan, iris sappire yang tak lagi bernyawa, wajah kusut dan terlihat pucat. Inikah Uzumaki Naruto. Kau terlihat kacau kawan. Batin Naruto.

Sappire itu terpejam, sedetik kemudian roll film yang terjadi hampir dua bulan yang lalu berputar ulang.

Flashback

Hiruk pikuk terdengar disalah satu kelas tiga S.A Walaupun ini merupakan jam pelajaran, salahkan Kakashi-sensei yang tiba-tiba ada kepentingan hingga membuatnya harus meninggalkan kelas setelah menyuruh murid-muridnya mengerjakan soal yang dikumpulkan sewaktu istirahat.

'' Hey, teman-teman nanti malam keapartemenku yaa, aku mau mengadakan pesta sebelum ujian, okey. Jangan lupa datang yaa.''

Suara melengking Sakura mengalihkan fokus anak-anak, membuat mereka ber'yatta' serempak, undangan pesta Sakura seperti angin musim semi di musim panas. Ahh, inilah yang mereka tunggu.

Tak terkecuali oleh Naruto, dirinya bersorak dan langsung memeluk Hinata erat. '' Uoohh, aku suka pesta.''

'' Benar refresing sebelum ujian itu perlu,'' timpal Kiba, memeluk leher Hinata dari belakang, membuat gadis manis nan pemalu itu merona.

'' Hey, Kiba. Kamu bisa membuatnya kehabisan darah.''

'' Huh, suka-suka dia pacarku kok.''

Merengut sebal Naruto mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang masih berkutat dengan buku tugasnya.

'' Teme, nanti malam jemput aku ya, lagi hemat. Pleaseee,'' Naruto memohon tepat didepan hidung Sasuke, membuat lelaki itu mengernyit sebal. '' Bulan ini pengeluaranku membengkak.''

'' Hn.''

'' Ck, ayolah, Teme.''

'' Hn, aku menjemput Karin,'' kata Sasuke yang tetap terfokus pada buku tugasnya.

'' Hah, ayolah, Teme. Aku tak ada teman yang searah dengan rumah Sakura-chan, lagipula apartemenku yang paling jauh.''

'' Karin bisa marah.''

Roman Naruto menekuk sebal. '' Teme, kau tak setia kawan, katamu aku ini sahabat sejatimu, tapi apa buktinya, kau menelantarkanku, mentang-mentang punya pacar, kau melupakanku. Jika tak ada aku. Mungkin kau masih belum menyatakan cinta pada primadona itu, mana balas budimu, kau ketjjjhhaaam Sasuke, kettjjhhaam,'' linangan air mata buaya menuruni wajah oriental Naruto, terhisak diantara sela lengannya. Satu lagi julukan Naruto. Drama Queen.

'' Ck,'' decih Sasuke. '' Ya baiklah, kau keapartemenku.''

'' Yatttaaa, Temeee, kau yang terbaik.''

Dengan indahnya Naruto melompat kearah Sasuke yang tentu saja ditahan oleh lelaki bermuka datar itu.

Tapi sepertinya Naruto tak menghiraukannya, karena detik berikutnya dia sudah bergabung dengan Hinata, Tenten dan Sakura.

Yap, mengabaikan wajah kesal Sasuke yang lagi-lagi acara berduaannya terganggu. Gara-gara Dobe yang lagi progam hemat.

.

.

Kini bulan menggantikan tugas matahari, menjadi tanda bahwa pesta sudah dimulai sejak satu jam yang lalu.

Bunyi musik keras terdengar didalam apartemen Sakura yang kedap suara. Banyak pasangan yang berjoget, duduk-duduk disofa atau mengintari meja bundar yang diletakkan dipinggir tembok.

'' Enjoy Naruto,'' tepukan ringan dibahu Naruto membuat surai yang kini dihiasi jepit bunga matahari kembar bergerak pelan.

'' Tentu, Sakura-chan.''

'' Ahh, aku menyambut tamu dulu. Apa penampilanku menawan?''

Naruto mengamati tubuh Sakura yang berputar genit dihadapannya, gaun mini sewarna surainya, pink. Membalut tubuh Sakura.

'' Beautiful,'' Naruto menunjukan dua ibu jari miliknya yang diikuti cengiran khasnya.

'' Tentu saja,'' dengan keanggunan khas putri bangsawan Sakura mengibaskan surai pink yang tergerai indah.

Naruto mengendikkan bahunya, setelah memperbaiki jaket orange hitam yang dipadu dengan rok mini dan sepatu sport miliknya.

Naruto yang kini tengah tertawa senang tanpa memperdulikan dimana Sasuke berada, dia sangat bersemangat, banyak makanan gratis yang tentu saja sangat enak terhidang didepannya, Naruto tak akan menyia-nyiakan rejeki didepannya.

Sebenarnya Uzumaki Naruto bukanlah seorang yang kaya raya, dia bisa masuk di Uchiha Internasional High Shcool adalah karna kerja kerasnya, mengikuti olilmpiade, mengikuti program beasiswa bagi murid berprestasi.

Dan untung saja, disini Naruto diterima oleh sebagian teman-temannya walaupun tak jarang dirinya menjadi korban bullying dari murid lainnya.

Dia sebatang kara, ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan, setelahnya Naruto diasuh oleh kakek-kakek mesum yang mengaku sebagai Sensei dari ayahnya,Jiraiya, penulis novel mesum yang sekarang entah ada dimana.

Dia bukanlah orang kaya, dia menyadari itu.

Terkadang rasa minder datang menghampirinya. Saat teman-temannya diantar-jemput dengan mobil mahal, tapi dirinya malah menaiki sepeda bekas pemberian Jiraiya.

Ya diantara jejeran mobil-mobil mewah hanya satu sepeda jelek berwarna merah karatan nyempil diantara semak-semak tempat parkir.

Tapi ketahuilah, keinginan Naruto untuk terus maju sangat besar, tak akan ia biarkan hal semacam itu menghalanginya.

Tiba-tiba saja dirinya dikejutkan oleh beban berat yang menimpa punggungnya. Membuat Naruto secepat kilat berbalik.

'' Kau, Teme. Be-rat tau,'' protes Naruto tapi sayang tubuh tegap berisi itu tetap bersender pada punggungnya. '' Kau pikir aku ini apa, tiang listrik, kau gajah, Sasuke.''

'' Hn, Naru-Dobe,'' bunyi 'hik' terdengar ditelinga Naruto, membuat gadis blonde itu mengernyit.

'' Mabuk?''

'' Siapa bilang?'' Sanggah Sasuke.

Perlahan pandangan orang-orang disana mulai terpusat pada Naruto dan Sasuke, mungkin dalam sudut pandang yang lain mereka terlihat berpelukan.

Desis tak suka muncul dari gadis-gadis penggemar Sasuke, mengumpat dan bersumpah serapah.

'' Teme, kau mabuk. Dasar ayo kita pulang.''

Dengan segera Naruto melepas pelukan Sasuke dan menyeretnya keluar. Dirinya melambai kearah Sakura yang tengah berciuman dengan seseorang, memberi isyarat kalau dia pulang mengantar Sasuke dan lambaian Sakura mengiringi langkahnya.

Naruto mendumel sepanjang perjalanan ke basement.

'' Ku pikir, kamu sedang bercinta dengan karin, tapi kenapa sekarang kau mabuk, hah? Dasar, kalau begini siapa yang akan menyetir mobil, kau taukan kalau aku tak bisa, hah?''

Perlahan onix Sasuke terbuka, memandang menyedihkan kearah Naruto. '' Naru, kami putus -hik- dia-jalang-itu berciuman dengan manusi-hik-air, putus, sudah putus.''

Naruto menghela nafas. '' Sudah kubilangkan kalau Karin tak cocok untukmu, padahal aku sudah memperingatimu, Sakura-chan malah lebih baik, tapi kau menolaknya, dasar Teme. Itu gara-gara kau tak menuruti sahabatmu ini.''

Hening menyapa, hanya terdengar deru mobil dari jauh, Naruto mendekati ferrari biru tua milik Sasuke, merogoh kantung celana Sasuke yang menuai kekehan geli Sasuke.

'' Diam kau, tak lihat aku kerepotan,'' Sungut Naruto walaupun pada kenyataannya pipi itu merona merah.

Dengan perlahan Naruto memasukkan Sasuke dijok samping kemudi.

'' Kau tau Teme, jangan salahkan aku kalau mobil mahalmu ini penyok besok pagi,'' mata Sappire Naruto memandang tajam sosok yang kini tertidur disampingnya, sama sekali tak menanggapi ocehan Naruto.

Membuang nafas lalu memandang tajam jalanan.

Ouhh, ada yang bisa menggantikanku menyetir?

Satu jam kemudian.

Memapah lelaki yang jauh lebih besar dan berat darimu memang menyusahkan, apalagi jika lelaki itu mabuk dan terus merecokimu tentang betapa dia mencintai Karin, dan tak bersungguh-sungguh ingin putus atau berkata dengan lantang kalau Tou-sannya adalah seorang pemilih, yang lebih menomor satukan kakak lelakinya, membuatnya terlihat bagai bayangan tak kasat mata.

Terkadang tangan Sasuke dengan seenaknya menepuk-nepuk kepala Naruto, atau dengan sengaja menyandarkan dirinya dibahu mungil itu yang tak ayal membuat Naruto limbung dan hampir jatuh.

'' Bisakah kau diam, Teme. Kita tak akan sampai dikamarmu jika kau tak menjaga tanganmu,'' sentakan tangan yang diterima Sasuke malah membuat lelaki itu terkekeh, merasa senang dengan kelakuan Naruto.

Naruto membuka password apartemen Sasuke yang sudah diingatnya diluar kepala. Bunyi ting pelan terdengar, bersamaan dengan pintu yang sedikit terbuka.

Lampu menyala, memberikan akses bagi Naruto untuk melihat isi apartemen Sasuke, bersih, rapi, teratur seperti terakhir kali dia lihat.

'' Kau tau teme, bangun ataupun mabuk kau sangat menyusahkan, berat, uhh. Sasuke jangan tidur saja, cepat berjalan dan lepas sepatumu,'' sungut Naruto walaupun dia tau Sasuke yang mabuk tak akan menjawab apalagi melakukan perintahnya.

Perjuangan berakhir saat Naruto mendorong Sasuke terlentang diranjang, membuat tubuh atletis itu terpental pelan.

Dengan segera Naruto melepas sepatu sport, jaket kulit mahal, kaos yang terkena muntahan Sasuke. Lalu melemparnya dikeranjang pakaian kotor.

Naruto berjalan kedapur merebus air untuk membersihkan tubuh Pangeran tidur, tak berapa lama Naruto memasuki kamar Sasuke, melihat lelaki yang kini tertidur tenang diranjang tak ayal membuatnya tersenyum.

Saat beginilah Sasuke terlihat polos bagai malaikat kecil, tanpa ada muka datar, tak ada senyuman miring dan pandangan sinis. Ya dia seperti malaikat kecil yang tertidur, tenang dan tampan.

Meletakkan baskom yang berisi air hangat dinakas- disamping tempat tidur- Naruto mengambil handuk baru dari dalam lemari dan piyama biru tua.

Dengan telaten Naruto membasuh tubuh Sasuke, dari wajah, leher lalu lengan berotot tapi saat mencapai dada Sasuke, sebuah tangan menyentaknya hingga terlentang tanpa perlindungan diranjang, diatasnya Sasuke tersenyum bagai predator kelaparan.

Dan selanjutnya teriakan yang terucap dari bibir Naruto sama sekali tak dihiraukan Sasuke.

Malam itu Naruto kehilangan mahkota berharganya.

End flashback

.

Naruto tersentak kaget, ketakutan, kekawatiran menjadi satu, tanpa sadar kini air matanya mengalir.

Dirinya tercabik, bersyukur karna Sasuke sama sekali tak mengingat malam itu tapi kini ketakutannya menjadi nyata.

Dia hamil, satu bulan.

Lalu harus bagaimana sekarang, apa Naruto harus mengatakannya.

Demi tuhan, Naruto tak mencintai Sasuke, tak mencintainya, dia menganggap Sasuke sahabatnya.

Tapi-

Bagaimana dengan anak ini.

Tangan Naruto mengelus perut datarnya.

Disini ada kehidupan, akibat perbuatannya dan Sasuke, tapi bagaimana? jalan apa yang harus dia ambil.

Tuhan kumohon bantu aku.

(/)(/)

Enam tahun kemudian...

'' Shina, Shina-chan.''

Sesosok bocah lelaki tengah berteriak didepan pintu apartemen sederhana,tangannya kadang meraih handel pintu.

Perlahan pintu terbuka, sesosok gadis bersurai hitam panjang menyembul diantara celah pintu yang dirantai.

'' Natsu? Mau main?''

Dengan riang bocah yang dipanggil Natsu mengangguk.

Pintu tertutup, terdengar gemerincing dari dalam lalu setelahnya terbuka lebar, Kushina tersenyum senang.

'' Ayo masuk, ayo masuk. Mama sedang memasak sup tomat, apa kau mau?'' suara riang terdengar jelas tanpa cadel khas anak-anak.

'' Hmm, aku tak suka tomat.''

Shina mengangguk paham. '' Ada wortel dan jamur didalam.''

'' A-aku mau..'' teriakan penuh semangat terdengar dari bibir Natsu tak ayal membuat Shina tersenyum girang, mereka berdua berlari menuju dapur yang menjadi satu dengan tempat makan setelah menutup dan mengunci pintu.

'' Hey, jangan berlarian didalam rumah.''

'' Mama, Natsu mau makan siang bersama kita.'' Adu Shina pada sosok paling dewasa diantara mereka.

'' Benarkah? Ayo bantu aku menyusun piring ini,'' Helaian pirang yang disanggul acak bergerak lembut saat pemiliknya berjalan kearah rak piring.

'' Mama-mama, besok senin aku mau bermain dirumah Natsu, boleh?''

'' Tentu, tapi bilang bibi Ino ya!''

'' Okey.''

Wanita pirang itu dengan cekatan menuang sup tomat dimangkuk kecil, membagi nasi dan lauk dipiring dua bocah kelebihan energi.

Melihat Shina dan Natsu makan dengan lahap membuatnya tersenyum senang.

Anaknya sudah besar sekarang, padahal terasa baru kemarin dia melahirkannya. Kini dirinya bersyukur mengambil jalan ini, Tak ragu dalam memulai. Inilah jawaban dari Tuhan kepadanya.

Ting tong

'' Ah, biar mama yang membuka pintu, kalian habiskan makanannya ya.''

'' Okey mama.''

'' Sip.''

Sedikit merapikan kaus hijau miliknya dan rambut -sekedar ingin terlihat rapi- wanita itu melangkah menuju pintu.

Dengan tergesa dia membuka sedikit daun pintunya, sedikit celah membuatnya tau siapa yang bertamu siang-siang bolong begini. Bola matanya melebar, ekspresi keterkejutan.

'' Kau?''

'' Naruto?''

TBC.