One Mistake coz One Night Stand

Chapter dua

.

.

Masashi Kishimoto

Sasufemnaru, sasukarin

Drama, romance

M (buat aman saja)

Ooc, au, oc, abal, typos, bahasa berulang. Femnaru, no bashing chara.

Happy reading...

.

.

(+)

Siang itu Shina dan Natsu sedang menemani Ino- mama Natsu- berbelanja perlengkapan toko bunga seperti janji Ino kemarin.

Kaki-kaki mungil penuh energi milik Shina menapaki trotoar dengan lincah, kedua tangannya yang masing-masing menggenggam jemari Natsu dan Ino bergerak seirama dengan lagu khas anak kecil yang dinyanyikannya, kadang tangannya terangkat tinggi dan Natsu menyahutinya dengan berteriak '' allright '' keras.

'' Ah, tunggu disini, Kaa-san mau beli pita dulu, ne!'' Ino berjongkok persis dihadapan dua anak berbeda usia lima tahun(Shina) dan tujuh tahun (Natsu). '' Jangan kemana-mana,'' katanya

'' Okey,'' dengan riang dua anak itu menjawab.

Onix milik Shina menyusuri jalanan yang sedikit ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Perlahan bocah itu menyenderkan punggungnya ditembok, kaki yang terbalut kaus kaki berwarna biru muda dan flatshoes senada bergerak pelan, kadang mata onixnya menyorot para pejalan kaki yang melewatinya, dirinya tak sadar kalau Natsu sudah tak berada disampingnya lagi, dirinya begitu terfokus pada guguran daun mapple yang tumbuh dipinggir jalan.

Pandangannya tercuri saat mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat didepannya, lalu sosok wanita paruh baya bersurai hitam yang disanggul rapi keluar dari kursi penumpang berjalan kearah pintu satunya dan membuka paksa, hingga sesosok lelaki muda keluar dengan lengan yang diseret oleh wanita itu.

'' Sudah kubilang, aku tak mau Kaa-san, jangan membuatku malu.''

'' Tak bisa, kau harus ikut.''

'' Ck, tak bisakah Kaa-san membiarkanku bekerja dengan normal.''

Tanpa sadar Shina melangkah mendekati mereka, entah mengapa mereka berdua begitu menarik minatnya, tentu saja bertengkar di depan umum adalah hal yang sangat jarang terjadi dan lagi Shina adalah tipe petualang sejati yang selalu penasaran kenapa bumi itu berputar dan hal-hal yang kadang tak akan muncul dibenak anak-anak berusia lima tahun.

Wanita paruh baya bersurai hitam legam masih berusaha menarik lengan lelaki dengan style rambut aneh dan berkameja putih polos sekuat tenaga, tapi sayang lelaki itu tak bergeming malah semakin kuat menancapkan kakinya ditrotoar.

'' Ayolah, Sasu.''

'' Suruh baka aniki saja, Kaa-san. Aku sudah betah di Tokyo.''

'' Itachi mengurusi perusahaan di Amerika. Ayolah, Kaa-san mohon,''

'' Tidak-''

'' Paman,'' Shina menarik celana lelaki itu pelan, mencoba mencari perhatiannya. '' Kata mama, seorang anak harus menuruti perkataan mamanya, tidak boleh membantah. Nanti Kyuubi-Onna marah lalu menculik paman lho,'' Kata polos nan lucu terucap dari bibir Shina dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, walaupun yang ada malah membuatnya terlihat imut.

'' Ahh, dengar itu Sasuke, bahkan anak seimut ini tau. Tak boleh membantah apa kata Kaa-san,'' sebelah tangan wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan gerakan anggun, tapi tak bisa menyembunyikan tawa penuh kemenangannya.

Dengan tajam Sasuke-nama pemuda itu- menatap bocah yang tetap setia menarik celananya, memasang pose serius yang tampak kontras dengan bibir yang mengerucut.

'' Apa paman?'' tanyanya.

'' Kau-'' desis Sasuke tak suka.

'' Oh, Sasuke. Jangan bicara kasar dengan anak kecil. Hei nak, namamu siapa?'' Mikoto-wanita paruh baya- mensejajarkan dirinya setinggi Shina, menatapnya dengan suka cita dan keinginan untuk mencubit lemak bayi dipipi Shina. '' Kamu lucu sekali. Ah, laki-laki Uchiha memang membosankan, kenapa Uchiha miskin perempuan sih?'' gerutu Mikoto melupakan fakta bahwa ada anak kecil yang berada dalam masa perkembangan didepannya.

Shina mengerjab bingung, onix miliknya menatap Mikoto. '' Apa Uchina tidak bekerja? Mama Shina bekerja buat sekolah Shina?''

'' Keh,'' dengusan Sasuke terdengar keras. '' Uchiha bocah, bukan Uchina. Kau bocah sok ta-adududuh, sakit Kaa-san,'' protes Sasuke, mengusap pahanya yang jadi sasaran jubitan Mikoto.

Sedangkan Sang Pelaku tetap tersenyum manis, mengabaikan desis kesal dari putra bungsunya, dirinya lebih memilih menatap gadis mungil dengan surai blonde terkepang rapi. '' Tadi belum jawab. Siapa namamu?''

Tersenyum manis. '' Uzumaki Kushina, lima tahun,''

Ujarnya bangga.

Kepala Sasuke tersentak, menatap tajam Shina yang memamerkan senyum bangga. ' Uzumaki katanya, Uzumaki.' tanpa sadar dahinya mengernyit dalam. Ingatannya berputar mengulang memori tentang sahabat baiknya yang menghilang tanpa ada kabar sama sekali. Sahabat yang paling mengerti dirinya, paling memaklumi sifat egois dirinya. Uzumaki... Naruto.

Terdengar panggilan beberapa kali dari suara yang begitu dikenal Shina, dirinya menoleh lalu tangannya melambai dengan semangat saat mendapati Natsu dan Ino juga melambai kearahnya, menyuruhnya kesana. Shina kembali menoleh kearah Mikoto yang masih setia mengamati tingkahnya dengan pandangan berbinar. '' Ah, sudah dulu ya bibi, Shina dicari Natsu.''

Kepangan blonde itu bergerak saat Sang Pemilik sedikit membungkukan badan. '' Senang berkenalan dengan bibi, ini buat bibi dan ini buat paman ayam. Jaa nee.''

'' Uhhh,'' gemasnya, Mikoto dengan semangat membalas lambaian Shina. '' Jaa nee,'' teriaknya. '' Ah, lihat, dia memberikanku lolipop rasa semangka. Aihh, manis sekali Shina.''

Sasuke menoleh kearah Kaa-sannya, setengah otaknya masih tak berfungsi dengan baik, berusaha mencerna informasi barusan 'ada berapa banyak marga Uzumaki di Jepang' pikirnya.

Onixnya memindai punggung Shina yang berjalan menjauh, tertawa gembira bersama dua orang yang memanggilnya tadi. Shina menoleh, sesaat pandangan mereka bertemu. Tersenyum manis lalu dengan jahil menjulurkan lidahnya. '' Janee nee, Pamaaannn.''

'' Kenapa aku seperti mengenalnya?'' guman Sasuke, jemarinya mengerat pada lolipop rasa jeruk ditangannya.

'' Kau tau Sasuke, aku lebih suka cucu dengan surai pirang daripada merah.''

Mikoto menatap Sasuke, bibirnya tersenyum manis, seolah membicarakan menu makan malam hari ini.

Begitu jelas.

(+)

Kini ruangan direktur terasa seperti kuburan bagi Naruto, dirinya sama sekali tak punya firasat hari ini. Yang Naruto tau lima menit setelah dia sampai dikantor dirinya dipanggil Sara - asisten Guy-san direktur tempatnya bekerja- agar menemui Guy-san diruangannya.

Naruto tenang-tenang saja karena mengira Guy-san meminta dokumen yang sudah selesai dikerjakannya. Memang Perusahaan ini tak terlalu besar, hanya sebuah perusahaan yang menerima pesanan meja, kursi atau alat-alat rumah tangga juga kantor dalam skala yang tak terlalu banyak.

Naruto sebagai wakil sekertaris merangkap salesgirl juga. Tak banyak karyawan hanya lima orang termasuk pemilik sendiri. Perusahaan yang diberi nama 'Semangat Masa Muda'-aneh memang, seaneh pemiliknya- ini juga memliliki beberapa orang yang memang hanya bertugas membuat pesanan saja, yah begitulah sistem disini.

Dan disinilah dia, duduk tak nyaman, kekesalan mewarnai romannya. Juga setitik rasa was-was tak luput diwajahnya. Wajah yang biasanya bersinar layaknya mentari kini pucat pasi.

Bukan karena dirinya dimarahi habis-habisan oleh mahkluk berkrorofil aka Guy-san, tapi penampakan lelaki yang kini duduk nyaman didepan-nyalah yang membuatnya ingin berlari keluar. Tamu yang sama sekali tak diharapkannya datang-kemarin- dan orang yang tak ingin ditemuinya-saat ini-.

Onix lelaki itu yang biasannya terlihat malas dan mengantuk kini menatapnya tajam, serasa menelanjangi setiap mili tubuhnya. Tanpa sadar Naruto membenahi potongan baju dibagian lehernya, Naruto sadar kemana mata onix itu berlama-lama memandangnya.

'' Jadi bisa kau jelaskan kenapa kemarin kau tiba-tiba membanting pintu tepat dihidungku, Naruto?''

'' Uhh.''

'' Dan bisa jelaskan kenapa kau tinggal disini?''

'' Uhh.''

'' Dan kenapa kau kabur enam tahun lalu, membuat orang-orang gempar?''

'' Arrghhh,'' erangnya. '' Bisakah kau diam!''

'' Ya, jika kau memberikan alasan yang logis.''

'' Berhenti bicara seolah kau mengenalku,'' teriak Naruto, tangannya mencengkram erat map merah transparan-yang seharusnya dia serahkan kepada direktur Guy-san bukan lelaki mesum yang kemarin tiba-tiba berdiri didepan rumahnya- sebagai usaha untuk menahan rasa kesal dan keinginan untuk menendangnya ke Tokyo.

Lelaki itu dengan pongahnya bersandar pada kursi, salah satu tangannya menyisir surai yang entah kenapa bisa melawan gravitasi, sedangkan satu tangan yang lain menyanggah dagunya, sebuah pose yang membuat mata Naruto terasa terkontaminasi limbah pabrik.

'' Jangan melihatku seperti itu, Naru. Aku tak akan menggigitmu.''

Wajah Naruto merona padam, setengah malu setengah marah, setengahnya lagi hasrat ingin meninju muka lelaki didepannya itu.

Tarik nafas, buang, tarik, bu-

'' Yah, jika kau ingin aku menggigitmu LAGI, tentu aku tak keberatan.''

Uhuk

Naruto merasa akan lebih baik kalau ada lubang hitam didepannya dan dia yakin seyakin yakinnya akan mendorong lelaki mesum itu kedalamnya.

Dan sialnya kenapa lelaki itu berada disini, bukankah akan lebih menyenangkan bekerja disana dari pada mengurusi perusahaan kecil seperti ini, menghabiskan waktu dengan hobi abnormalnya dan juga bukankah anak-anak itu lebih membutuhkannya.

'Ohh, dimana kau Krorofil sialaaann. Kau adalah dalang dibalik semua ini. Pasti.' maki Naruto

'' . .,'' ancam Naruto, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari lelaki mesum itu.

'' Ah, aku tak bisa kembali, Guy memintaku mengurusi perusahannya ini sementara dia bulan madu dan juga ada Asuma yang menggantikanku, tempatku bukan disana, kau yang lebih tahu itu? '' Pria itu melirik Naruto dari atas kebawah, bersiul pelan. '' lagipula pemandangan disini jauh lebih indah,'' lelaki itu tersenyum aneh dengan mata yang membentuk 'U' terbalik.

'' Ka-kau dengan otak mesummu itu, pergi keneraka sana,'' teriak Naruto kalap.

'' Tidak, jika tanpamu.''

Naruto membeku, pipinya merona antara marah dan malu, dengan emosi tinggi dia membanting pintu dengan keras dan kontrol emosinya semakin tak terkendali saat melihat tiga temannya berjejer disamping pintu-menguping- berdiri salah tingkah.

'' kalian,'' desisnya penuh racun berbisa. '' Tak pernah melihat Kyuubi-Onna mengamukan?'' Tersenyum manis.

'' Hiiii... Naruto-Sama~ ampuni kami~''

Lalu secepat kilat teman-teman Naruto -Sara, Tenten dan Lee- berhamburan menuju kursinya masing-masing.

Begitu juga dengan Naruto, dirinya segera berjalan menuju kursinya yang hanya berjarak beberapa langkah dari pintu direktur, tiga orang temannya melirik penasaran kearah Naruto tapi tak ada yang berani bertanya.

'' Huh,'' desah Naruto. '' Kenapa orang ini harus muncul.''

Naruto memijat pelipis kepalanya yang berdenyut nyeri, salah satu orang yang tak dia inginkan tau tentang keadaannya malah muncul tanpa diundang.

Membuat segala memori yang dia inginkan luntur bersamaan dengan waktu malah mencuat kembali. Susah payah dia mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi kenapa lelaki itu menemukannya disini, setelah enam tahun berlalu. Naruto tidak mempunyai keinginan ditemukan. Tidak, sama sekali tidak. Dia malah berdoa semoga sahabatnya disana membiarkannya pergi.

Apalagi Sasuke, Naruto selalu berdoa agar Sasuke tak mengingat kejadian itu, tak mengingat sedikitpun tentang dirinya, dan semoga tak pernah bertemu lagi.

Naruto tersenyum saat melihat wallpaper handphone flipnya menampakan potret gadis mungil yang belepotan eskrim tengah tersenyum manis didepan kamera.

Sebagai keturunan Uchiha, Shina terlalu ceria jika dibandingkan dengan wajah datar khas Uchiha, tapi kalau soal paras wajah mungkin gen Uchiha lebih mendominasi dari pada gen Uzumaki, juga soal IQ Shina lebih mirip dengan Sasuke(yang diam-diam diamini oleh Naruto) dan sikap ramah penuh sopan santun Khas seorang Namikaze.

Naruto tersenyum sumringah, tapi mengernyit saat menggingat sifat Shina yang membuatnya mengelus dada. Sifat jahil, kekanakan, manja, selalu penasaran adalah murni turunannya. Kadang dirinya berfikir kenapa hanya sifat jeleknya yang menurun pada Shina. Tapi entah kenapa perpaduan Uchiha-Uzumaki-Namikaze tidak buruk juga. Batin Naruto.

Dan satu hal yang pasti, Naruto tak akan menunjukan Shina pada Uchiha.

'' Sensei-'' desah Naruto, dahinya membentur meja pelan. '' Aishi-''

(+)

'' Naruto, kau ada hubungan apa dengan direktur pengganti itu?''

Naruto mengacuhkan pertanyaan Tenten disampingnya, berpura-pura membalas E-mail dari Shina yang menyuruhnya pulang cepat.

'' Naru~ ada hubungan apa?''

'' Benar ada hubungan apa, kalian sepertinya dekat sekali, kalian tadi berteriak seolah mengenal lama,'' kini Sara menyudutkan Naruto ditembok, sedangkan Tenten disisi satunya, menghalangi akses Naruto untuk kabur.

Naruto menghela nafas. '' Tak ada apa-apa, jangan pikirkan itu, lebih baik kau memikirkan bagaimana Temujin terpesona padamu.''

'' Ouh, kau benar. Tapi kehidupanmu juga misterius Naru. Aku penasaraaaan, '' jawab Sara mengerling kepada Tenten.

'' Yap, aku juga berfikir begitu.''

Naruto mendorong bahu Tenten agar memberinya jalan dan dengan cepat menuju halte bis, mengabaikan teriakan dari duo wanita cerewet dibelakangnya.

Hidup Naruto yang awalnya berkisar pada Shina dan bekerja mulai runtuh, apalagi kalau bukan karena-

'' Ayo, ku antar pulang Naru.''

Yah karena lelaki ini.

Dengan perlahan mobil putih keluaran BMW itu berjalan pelan disamping Naruto, surai perak yang tiba-tiba menyembul disamping Naruto tak ayal membuatnya berjingkat kaget.

'' Apa yang kau lakukan, Sensei?''

'' Aku ingin mengantarmu pulang. Ayo.''

'' Aku tak mau,'' Naruto mengibaskan sebuah tangan yang mencengkram lengannya. '' Tidak, ya tidak.''

'' Ayolah, Naru-chan~''

Tenten dan Sara menahan tawa saat melihat wajah kecut Naruto.

'' Hei, Naruto. Cepat naik sana. Kau tak lihat pak direktur bersusah payah seperti itu,'' kata Tenten menahan tawanya.

'' Benar, cepat naik sana Shina pasti menunggumu, hehehe.''

'' Benar Naru-chan, ayo aku antar pulang.''

Naruto menoleh, menatap tajam kedua temannya. Yang dibalas dengan kibasan tangan Sara dan Tenten, seolah menyuruhnya pergi.

Menghela nafas, Naruto mengikuti ajakan Senseinya. Didalam mobil, Naruto terdiam pandangannya memilih mengamati jejeran pohon-pohon mapple disepanjang jalan, keheningan tak membuat mereka salah tingkah, mereka menikmati moment ini.

Hampir satu jam perjalanan menuju apartemen Naruto, tadi dia dan Senseinya itu sempat berhenti disupermarket, membeli barang-barang yang sudah habis dan bahan makanan untuk beberapa hari.

Semburat merah mewarnai langit sore, saat Naruto menaiki tangga apartemen lantai dua, tangannya memegang kantong yang berisi beberapa bahan makanan sedangkan sebelah tangannya meneteng tas plastik berisi telur ayam.

Dalam benak Naruto mungkin Shina sudah menunggu didepan pintu apartemen jika dirinya telat pulang.

Seperti saat ini, gadis cilik itu bersandar pada pintu, tangan kirinya membawa buku cerita anak-anak dengan tangan kanannya memegang lolipop berwarna ungu.

'' Hei, mama bilang apa saat membaca buku.''

Shina menoleh cepat, senyumnya mengembang, terburu-buru Shina memasukan buku critanya ditas selempang kecil. '' Mama!'' teriaknya, lalu menghambur kepelukan Naruto.

'' Oh, little angel. Kamu bisa membuat es krim didalam kantong tumpah.''

'' Eh, es krimmm! Aku mau, aku mau,'' Shina berlonjak senang, tubuhnya memantul keatas kebawah, membuat Naruto tersenyum geli.

'' Naruto.''

Suara berat Khas pria dewasa menghentikan moment ibu dan anak. Shina melongok ketangga, mendapati seorang pria bermasker berjalan kearah mereka sambil membawa kantong persis milik mamanya.

'' Ahh, Shina ini Sensei mama waktu masih sekolah, ayo ucapkan salam.''

Shina mengangguk, dalam hati dirinya menghitung sudah dua kali dia memperkenalkan diri hari ini. '' Saya Uzumaki Khusina, salam kenal paman.'' Shina membungkuk kecil yang dihadiai dengan tepukan lembut dikepalanya.

'' Hatake Kakashi,'' Kakashi merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil Shina dalam gendongan dengan satu tangan.

Shina mengernyit bingung, sedangkan Naruto menghela nafas.

Satu orang mengetahui rahasianya.

Ah, mantan kekasihnya.

Kalau boleh dia menambahkan.

TBC

A/N: ahh, terimakasih sudah membaca fic ini. Chapter kemarin inginnya hanya prolog. Jadi pendek (chapter ini juga pendek), ohnya, disini sasuke dan Naruto sama sekali tak punya rasa cinta, hanya sahabat baik, jadi tak heran bila nanti mereka akan bingung dan aku buat galau. Hmm mungkin tidak sampai beberapa chapter mengingat ficq yang lain pada tbc.

Bales review.

Morph: lanjut, okey sip, ini udah update.

: bukan, bukan teme, kalau teme keburu end dong critanya, hehehe. Tuh yang datang ada diatas.

gothiclolita89: makasih dibilang menarik, sip ini dah lanjut kok.

Dhese lusi: halo denpasar, hehehe. Jauhnya.

Hahaha, itu cuma prolog, aku juga belum tau nasib mereka selanjutnya, mungkin akan kebongkar chap, depan. Makasih sudah baca.

Nasumichan uharu: yang datang ada diatas tuh,, hihihi. Makasih atas charge semangatnya ya.

Kaname: klu hubungan sasukarin aku belum bisa jawab*plak. Ini termasuk cepet kan?

Ime: ini udah update.

Risa:salam kenal risa, chapter kemarin prolog kok, makanya cepet, hehehe*ngeles.

Makasih sudah suka fic ini.

Zen ikkika: bukaaan, yang datang bukan samasekali tidak tau, kalau Naruto hamil, efek mabuk yang berkepanjangan*nggak logis ya. Sip udah update.

Sunniest stars sky: okey jangan Sasuke. Tenang bukan sasukekok, teme merana. Ntar ada bagiannya. Sasuke galau ekstrim.

miszchanty05: sipp, ini udah lanjut.

Aristy: heheh, itu anaknya sasu,, ya aku pakek ide pasaran tapi ku buat beda, semoga suka.

Athena athiya: makasihhhh, tenang walaupun ini M tapi belum ada lemonnya, tenang saja. Dan chap ini bebas lemon. Makasih ya

Qnantazefanya: Udah update

Guest: siapa yaaa? Haha, udah ketahuan dichap ini.

Terimakasih buat semuanya yang langsung fave atau follow yang add aku jadi author fav(padahal masih baru dan butuh perbaikan) makasih ya semuanya.

Jangan lupa membaca dan tinggalkan reviuw ya..

Ageha Haruna