ONE MISTAKE COZ ONE NIGHT STAND

CHAPTER TIGA

.

.

Masashi Kishimoto

Sasufemnaru, sasukarin, Kakafemnaru.

Drama, romance

M (buat aman)

Ooc, au, oc, typo, bahasa berulang, membingungkan, femnaru, no bashing chara.

Happy reading.

.

.

(o.o)

Konoha adalah kota yang dipilih oleh Naruto dalam pelariannya, Konoha terletak diantara Osaka dan Kyoto. Perbatasan antara dua kota metropolitan.

Selain itu Konoha adalah tempat kelahiran Jiraiya. Konoha juga tempat dimana Tousannya tumbuh dewasa sebelum akhirnya pindah ke Tokyo untuk bekerja.

Bagi Naruto ini pertama kalinya dia pergi ke Konoha itupun dengan Jiraiya saat dia hamil muda, walaupun terlihat mesum dan selalu bertindak seenaknya, tapi ketahuilah Jiraiya bahkan ingin membunuh ayah dari bayi yang dikandungnya.

Dan Naruto tak bisa lebih bersyukur karena tak memberi tahu Jiraiya siapa lelaki itu tapi juga bersyukur dia tak pernah memberi tahu Sasuke tentang Konoha.

Sebagai kota yang berada diperbatasan, Konoha mempunyai banyak sekali pertokoan, gedung-gedung yang dikhususkan untuk masyarakat, mall, bioskop.

Mungkin karna disini ada beberapa tempat pariwisata, hutan lindung, danau Konoha juga sebuah pegunungan yang masih terlihat hijau.

Itulah alasan Naruto mengambil keputusan tinggal disini, juga warga disini ramah-ramah. Lagipula perjalanan dari sini ke Tokyo membutuhkan lima jam perjalannan, lumayan jauh dan tersembunyi, sesuai keinginannnya.

.

Fajar mulai menyingsing, menembus kisi-kisi jendela yang tadi dibuka oleh Naruto, gerakan tirai yang tersapu angin menimbulkan kesan sejuk didalam dapur sederhana milik keluarga Uzumaki.

Bunyi uwabaki yang bergesekan dengan dinginnya lantai tak membuat Naruto menghentikan acara memasaknya. Dirinya dengan telaten meletakkan roll egg dalam kotak bekal berwarna biru cerah.

Hingga sepasang tangan kekar melingkari perutnya.

'' Ohayo.''

'' Ohayo. Sudah bangun?'' tanya Naruto.

'' Hem, aku mencium bau makanan yang enak,'' dengan perlahan Kakashi menumpukan dagunya dipundak mungil milik gadis tersebut, mengamati tangan Naruto yang cekatan mengisi kotak bento milik Shina dengan sayuran. '' Sejak kapan kamu pandai memasak?''

'' Kenapa? Masakanku enakkan?''

Kakashi mendengus pelan, tangannya semakin memenjara Naruto dalam dekapannya.

'' Jangan mengendusku seperti itu, aku belum mandi,'' dengan cepat Naruto menyikut perut Kakashi saat pria bermasker itu mulai mengendus lehernya. '' Hei, hentikan kelakuanmu itu, awas saja kalau nanti Shina-chan melihatnya, kuusir kau dari sini,'' ancam Naruto.

'' Iya-iya. Terimakasih sudah mengizinkannku tidur disini tadi malam, walaupun harus tidur disofa.''

Kakashi melepas pelukannya, dirinya berjalan menuju meja berkaki pendek ditengah ruangan lalu meraih remot tv dan menyalakannya. Dagunya menumpu pada salah satu telapak tangan sedangkan pandangannya menerawang jauh. Entah kenapa Kakashi jadi teringat pembicaraannya dengan Naruto tadi malam.

'' Apa yang kau harapkan, hah?'' Naruto berbalik dengan berkacak pinggang, gaun tidur sutra yang dipakainya melambai pelan mengikuti gerakannya yang tiba-tiba-membuat Kakashi nyengir mesum-.

'' Kau yang paling tau Naru,'' gumannya, pandangannya tak lepas dari Naruto yang tengah mengerutkan keningnya. Berusaha mencerna perkataan sosok lelaki berumur 31 tahun itu. '' Tentang... yang kau bicarakan semalam...''

Jeda terasa menggantung berat diudara, membuat Naruto tanpa sadar berbalik memunggungi Kakashi,

Sebuah pertahanan yang refleks dia bangun.

Detik jam terdengar begitu nyaring bagi telinga Naruto, tak ada yang berniat memulai percakapan, pun juga dengan Kakashi, dirinya lebih memilih menatap langit-langit apartemen yang terlihat pucat.

'' Paman masih disini?'' suara parau khas anak kecil baru bangun tidur memutuskan ketegangan yang ada. Tanpa sadar membuat Naruto menghembuskan nafas lega.

Shina berjalan menyeret boneka Teddy Bear berwarna coklat madu miliknya, satu jarinya sibuk mengusap matanya yang terasa lengket. '' Ohayo mama, ohayo paman,'' sapanya.

'' Ohayo, Shina-chan sudah bangun?''

'' Hemm.''

'' Ohayo,'' balas Naruto, dirinya membungkuk memudahkan Shina yang mengecup kedua pipinya, dirinya tak bisa menahan senyum saat melihat Shina yang berjalan terhuyung menuju meja berkaki pendek dan merebahkan kepalanya disana, sesekali menguap lebar.

'' Ayo, cuci muka dulu Shina-chan,'' kata Naruto, setelah meletakkan secangkir kopi panas didepan Kakashi.

Shina merengek pelan. '' Aku ngantuk mama.''

'' Hei, ayo cuci muka, ajak sekalian paman Kakashi cuci muka. Dasar tidak yang besar tidak yang kecil sama saja,'' gerutu Naruto.

Desah malas terdengar, tapi langsung bangun saat Naruto mendelik kearah mereka berdua.

'' Ada sikat gigi baru di laci, berikan pada paman Kakashi, Shina-chan dan setelah sarapan pulang keapartemenmu, Kaka-Sensei.''

'' Hem,'' guman Kakashi acuh. Beranjak mendekati Naruto lalu mengecup pipi kanan gadis itu-meniru apa yang dilakukan Shina- cepat sebelum melangkah tanpa beban menuju kamar mandi

'' Apa yang kau lakukan, hah?'' maki Naruto.

(/(/)

[ Sasukeee~ kau sudah bangun? aku rindu sekaliiii, ughh, kenapa sih Kaasanmu menyuruhmu bekerja disana, kan kita jadi berjauhan, lagian disana terpencil, aku tak suka, cepat pulang Sasuke! Aku kangen Sasuke~. Sasuke, kau sudah bangun belum sih? Sasuke? Ck, kau membuatku sebal. Nanti aku telfon lagi ya, aku dipanggil kaasan turun. Bey, Sasuke. emmuahh]

Sasuke mengerang dalam tidurnya, suara keras milik Karin mengalahkan dering alarm digitalnya.

'' Haaahh,'' desah Sasuke pelan, setelah mematikan handphone miliknya.

'' Uzumaki Shina.''

Sasuke berdecih, entah kenapa dirinya masih terbayang-bayang pertemuannya seminggu yang lalu dengan bocah-sok tau -yang salah mengucapkan nama marganya, bocah-sok-serius yang mengancamnya, bocah yang memanggilnya ' Paman Ayam', dan bocah yang bernama Uzumaki Kushina.

Rasanya dia pernah mendengar nama itu, terasa familiar ditelinganya. Siapa?

Walaupun marganya sama dengan marga milik Naruto, tapi bukan berarti anak itu punya hubungan darah dengan Naruto, gambaran tentang Naruto yang mempunyai anak sebesar itu membuatnya meriding tanpa sadar.

'' Tidak mungkin.'' gumannya segera menghapus imajinasi liarnya.

Sebenarnya tanpa diketahui oleh orang lain Sasuke merasa kehilangan atas kepergian Naruto, merasa dirinya tak berarti bagi Naruto, dirinya merasa ditipu, padahal bagi Sasuke, Naruto adalah wanita yang melihatnya sebagai Sasuke, bukan seorang Uchiha yang berlimpah kekayaan dunia.

Naruto melihat dirinya sebagaimana dia melihat Naruto tanpa status sosial.

Tapi benarkah Naruto mempercayainya? Jika pada akhirnya dia meninggalkan Sasuke sendirian tanpa teman. Apa artinya pertemanan selama dua tahun jika pada akhirnya Naruto pergi tanpa berkata padanya. Apakah waktu selama itu tak bisa membentuk ikatan sahabat yang-diam-diam- diyakini oleh Sasuke.

Dirinya mendesah berat. Merindukan sosok sahabatnya dulu.

Perlahan pandangan Sasuke terpusat pada permen lolipop rasa jeruk diatas nakas, dirinya mengernyit tanpa sadar.

Tak taukah bocah itu kalau dia tak suka makanan manis. Lebih tak habis pikir kenapa dia masih menyimpan lolipop itu, bukankah lebih baik dibuang saja.

Dan ibu mana yang lebih memilih memberikan permen dari pada tomat pada anaknya. Yang lebih jelas kalau tomat sangat bermanfaat dari pada makanan manis sumber masalah itu. Pikir Sasuke.

Perlahan Sasuke menyandarkan punggung telanjangnya diheadbed, tak memperdulikan selimutnya melorot hingga memperlihatkan abs yang terpahat sempurna, memangnya siapa yang akan peduli bahkan jika Sasuke telanjang dan berkeliaran dirumah ini bila tak ada satupun penghuni kecuali dirinya.

Ucapkan terimakasih kepada ibunya yang bersikeukeuh memaksanya pindah di Konoha- yang Sasuke akui sangatlah indah dan alami- mengurusi salah satu cabang perusahaan Uchiha yang bergerak dibidang pariwisata, karena Uchiha Shisui yang awalnya menangani cabang ini harus pindah gara-gara terlalu sibuk pacaran dengan sekertaris wanitanya, hingga membuat Shisui ditransfer kepusat dibawah bimbingan langsung dari Big Boss 2 aka Uchiha Itachi sekalian menjauhkannya dari sekertaris muda bermuka dua.

'' Ck,'' Sasuke berdecih keras, sebenarnya dirinya tau hal terselebung dalam pemindahannya ini adalah salah satu cara menjauhkannya dari Karin, mengingat hampir semua keluarga Uchiha yang tersisa tak terlalu menyukai kekasihnya itu.

'' Apa yang kurang dari Karin, Hah?'' tanya Sasuke entah pada siapa.

Dirinya beranjak menuju kamar mandi, tanpa pembantu membuatnya harus mandiri.

.

Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dia merasa santai karena tak terburu waktu mengingat betapa lancarnya jalanan disini. Berbanding terbalik dengan keadaan pagi di Tokyo yang sudah macet saat jam kerja.

Dari jauh Sasuke melihat mobil BMW putih dengan aksen biru cerah-sebuah mobil yang mencolok untuk kota Konoha sama seperti mobil miliknya- berhenti didepan sekolah dasar, terlihat tangan tan yang melambai dari kaca mobil yang terbuka sebelum mobil itu perlahan bergerak menjauh.

Sasuke tak sempat melirik siapa mereka. Bukan apa, hanya sebuah rasa penasaran, siapa yang memiliki mobil mewah selain dirinya.

Sasuke memakirkan lamborghini hitam terbaru miliknya tepat didepan supermarket 24 jam. Mengabaikan tatapan kagum orang-orang. Apalagi para wanita yang kini mengelilingi Sasuke dan pria-pria yang mengerubungi mobil mewahnya.

Sasuke sudah terbiasa dengan hal ini sejak dulu, jadi dia tak ambil pusing.

Dengan langkah percaya diri, Sasuke berjalan angkuh, layaknya seorang Uchiha sejati. Dagu yang terangkat, menunjukan wibawa dan pesonanya, tak heran jika banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pacarnya.

Hingga...

'' Pamaaaann Ayaaaaam.''

Hingga panggilan tak elit meruntuhkan segalanya.

Dahi Sasuke menekuk tajam.

Bisik-bisik mulai terdengar.

Berani sekali orang yang membuat moodnya buruk pagi-pagi begini.

'' Paman, pamaaaan...!''

Sasuke menoleh hanya untuk mendapati gadis cilik yang ditemuinya seminggu yang lalu melambai riang kearahnya. Sasuke baru menyadari kalau supermarket ini dibangun tepat disamping sekolah dasar Konoha.

Shina berlari mendekat, surai pirangnya berkibar dibelakangnya. Dengan seragam khas anak SD baju putih dengan rompi berwarna biru muda dan rok pendek yang juga biru muda, terlihat imut, apalagi dengan pita lucu yang menghiasi surai blonde itu.

'' Ahh, ternyata benar paman,'' Shina tersenyum gembira, '' aku ingat mobil hitam paman.''

'' Hey, bocah. Kenapa kau disini, cepat sekolah sana,'' tanpa dosa Sasuke mendeadglare Shina, saat bocah itu berjalan mendekat kearahnya.

'' Uhh, paman, jangan menatapku seperti itu. Uhh, tak baik,'' Jemari kecil itu menarik celana hitam Sasuke. Sebuah isyarat agar Sasuke melihatnya.

'' Hn.''

'' Paman mau beli apa?'' Shina menatap penuh dengan Onix miliknya, wajahnya mendongak saat melihat Sasuke yang berdiri menjulang tanpa perasaan.

'' Rokok,'' jawab Sasuke, dirinya mencoba melepaskan tarikan dicelananya tapi sayang Shina tak melepaskannya.

'' Siapa nama paman?'' tangan mungil itu terulur yang disambut ogah-ogahan oleh Sasuke.

'' Uchiha Sasuke.''

'' Ukey, paman Sasuke, sekarang paman jadi pamanku,'' ringisan lima jari membuat Sasuke terhenyak.

Naruto, Naruto.

Dada Sasuke terasa berdetak cepat mengirimkan rasa nyeri yang menjalar ketubuhnya. Tangan putih itu terulur hendak meraih pundak Shina saat tiba-tiba gadis itu berbalik.

'' Naru-''

Shina menoleh cepat, dahinya mengernyit bingung.

'' Shina! Ayo sudah bel masuk!'' teriak Natsu, memanggil Shina didepan gerbang.

'' Ah, aku sekolah dulu paman. Jangan beli rokok, nanti batuk-batuk, mama bisa marah. Dahh Paman Sasukee.''

Shina berlari menjauhi Sasuke, sekali Shina berbalik dan melambai riang. Natsu yang berdiri didepan gerbang tetap berteriak memintanya berlari lebih cepat, saat Shina sampai dengan nafas ngos-ngosan, Natsu segera meraih tangan gadis mungil itu dan menariknya memasuki gerbang sekolah, detik berikutnya bunyi gesekan gerbang terdengar.

Untuk kedua kalinya Sasuke terpaku tanpa bisa bergerak.

Dirinya yakin sekali itu senyuman Naruto.

Bagaimana bisa. Pikir Sasuke.

.

'' Apa persiapannya sudah selesai?'' tanya Sasuke pada Yakumo, sekertaris sementara merangkap bendahara '' Pastikan aku mendapatkan sekertaris yang kompeten besok siang,'' kata Sasuke datar tapi mengandung perintah yang tidak dapat diindahkan bagi Yakumo.

'' Ba-baik pak, mereka sudah menunggu diruang rapat,'' tergagap Yakumo mengikuti Sasuke yang kini berjalan terlebih dahulu, hari pertama Sasuke bekerja disini hanya diisi dengan tiga hal, perkenalan -singkat- diri, memecat sekertaris bermuka dua dan perombakan mengenai kepemimpinan Shisui yang dulu.

Cukup menyita waktu, tapi Sasuke sedikit puas dengan perubahan anak buahnya.

'' Apa Shikamaru sudah disana?''

'' Iya bos.''

Koridor mewah terlewati begitu saja oleh Sasuke, dirinya begitu tenang tapi terlihat dingin bagi orang-orang yang melihatnya dengan takut-takut.

Walaupun hampir semua wanita menatapnya dengan pandangan kagum.

Yakumo tergesa-gesa membuka pintu ruang rapat untuk Sasuke, mempersilahkannya masuk terlebih dahulu ketimbang dirinya.

Hingga tubuh didepannya menegang kaku.

'' Naruto?''

Sasuke tak bisa menghentikan rasa terkejutnya saat melihat sosok yang begitu dikenalnya duduk didalam ruangan rapat. Sama sekali tak menyangka.

Terlihat bias ketakutan terpancar dari Sappire yang ditatapnya tajam.

Ya tanpa sadar Sasuke melakukan intimidasi bagi sosok disana, perasaan khawatirnya kalah dengan amarah yang begitu besar membelundak keluar dari pori-porinya.

Sasuke berjalan angkuh tanpa melepaskan pandangannya dari Naruto yang kini tertuduk takut.

'' Kita mulai rapatnya,'' desis Sasuke berbahaya.

Kini Tenten dan Naruto menyiapkan presentasi, dihadapan mereka duduk Sasuke, Yakumo, Shikamaru dan Amaru secara berurutan.

Tak sedetikpun Sasuke melepaskan pandangannya, sesekali dia membaca berkas yang ada ditangannya untuk mendapati Onix miliknya kembali melirik tajam gadis pirang disana.

Sasuke tak merasa salah orang, enam tahun memang bukan waktu yang singkat tapi bukan berarti dia melupakan sahabatnya-dulu-jika Sasuke boleh menambahi.

Surai Blonde yang kini tertata rapi terlihat lebih panjang dari yang dia ingat dulu, tiga garis dimasing-masing pipi masih ada, dan juga Sappire yang tak mungkin dilupakan oleh Sasuke, seberapa lamapun mereka tak bertemu.

'' Jadi begitulah, kami berharap Uchiha Inc mau bekerja sama dengan ' Semangat Masa Muda','' Tenten mengakhiri presentasinya, menatap heran pada Sasuke yang kini bertopang dagu seolah tak mendengarkan perkataannya.

Tenten mengernyit saat mendapati Naruto tak seaktif biasanya. Lebih banyak menunduk atau menutupi wajahnya dengan lembaran berkas didepannya. Sesekali menggigit bibir seolah dirinya merasa terancam oleh kehadiran seseorang.

'' Baiklah,'' suara bariton memupuskan trans Naruto dan Tenten-menetap penuh pada Sasuke, '' kami akan mempelajari proyek ini.''

'' Terimakasih atas kerjasamanya, dua hari lagi kami akan berikan keputusannya,'' Yakumo menyambung perkataan Bosnya.

'' Terimakasih,'' lirih Naruto '' Kami pergi dulu.''

Sasuke mengamati Naruto yang membereskan barang-barang miliknya dengan terburu-buru. Dirinya tak sadar jika kini berdiri menjulang menghalangi pintu keluar.

Beberapa orang menatapnya bingung.

'' Ma-maaf.''

Tangan putih itu mencengkram lengan Naruto keras, menariknya menjahui pintu. '' Pergi semua dan tutup pintunya.''

Empat orang termasuk Tenten yang masih diruangan terburu-buru keluar.

Pandangan Tenten menyorot khawatir Naruto yang meringis kesakitan saat mencoba melepaskan diri juga pandangan agar Tenten menolongnya.

Tenten menelan ludah gugup. '' A-ayo, Naru-''

'' Pergi,'' desis penuh amarah terlontar membuat Tenten tersentak kaget, dengan cepat Tenten berlari keluar setelah mengucapkan permintaan maaf kepada Naruto.

BRAK

Pintu tertutup rapat.

Menyisakan Sasuke yang menatap puncak kepala Naruto.

Hening terjadi, membuat Naruto semakin terasa sesak. Tangannya bergetar tanpa kendali. Perasaan takut semakin membuatnya pucat dan lemas, tak pernah dia harapkan ini terjadi, tak pernah.

Deru nafas berat terdengar, Sasuke melepaskan lengan Naruto sebelum mengusap wajahnya.

Tatapannya meminta penjelasan pada Naruto yang kini lebih memilih menunduk memandangi ujung sepatunya.

Kriett

Sebuah kursi ditarik mendekat, dengan kasar Sasuke mendudukinya.

Naruto semakin jengah, tangannya mulai memilin ujung kamejanya. Perlahan dirinya bersandar pada tembok lalu merambat menuju pintu, berusaha untuk kabur.

'' Bergerak selangkah. Mati.''

'' Ugh,'' Naruto membeku mendengar ancaman Sasuke yang kini duduk pongah dikursi.

'' Jelaskan!''

'' Tidak ada yang dijelaskan,'' Naruto menggigit bibirnya pelan.

Wajah Sasuke memerah mendengarnya, baru pertama kali dia merasa semarah ini. '' ku bilang jalaskan, Dobe!'' geraman terdengar.

Naruto mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat wajah Sasuke yang penuhi emosi, jemarinya saling bertaut erat.

Hingga rasa sakit membuatnya sadar jika Sasuke sudah berada didepannya, marah, sangat.

Cengkraman Sasuke pada lengannya semakin menguat, tak memperdulikan Naruto yang kini merintih kesakitan. '' Uch-Uchiha-sa-arghh,'' Naruto bereriak kesakitan saat Sasuke mendorong tubuhnya hingga kepalanya terantuk dinding.

'' Cih, berani sekali kau memanggilku seperti itu.'' geraham Sasuke beradu, menimbukkan bunyi gemelutuk yang menyakitkan telinga Naruto.

'' Sakit.''

'' Kau tau,'' tangan Sasuke mencengkram dagu Naruto erat, membuatnya mendongak menatapnya, '' aku muak melihatmu.''

Dengan kasar Sasuke mendorong Naruto lalu meninggalkannya tanpa perasaan.

BRAK

Sunyi yang ada.

Naruto tetap berdiri dengan pandangan kosong.

'' Ba-bagaimana ini Sasuke menemukanku,'' gumannya, '' Kakashi, bagaimana ini? Kakashi?'' tak terasa air mata Naruto meleleh membasahi pipinya.

Dirinya takut, Perlukah dia melarikan diri lagi?

TBC

AN/: ada ralat di chapter satu, seharusnya Shina bersurai pirang dan bermata onix, tapi aku salah menulis bersurai hitam dichapter satu, maaf karena keteledoran saya. Dan tidak bisa saya edit, hpq tak bisa buat edit soalnya, kewarnet jauh, jadi males.

Makasih yang sudah review, fav, follow. Kalian inspirasiku. Aku sedikit ngeh dan kurang puas dichapter ini. Semoga tak mengecewakan kalian.

Maaf, aku tak bisa bales satu-satu review kalian

Terakhir jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.

Ageha Haruna.