ONE MISTAKE COZ ONE NIGHT STAND

CHAPTER LIMA

.

.

Naruto

Masashi Kishimoto

Ageha Haruna

Sasufemnaru, sasukarin, Kakafemnaru.

Drama, romance

T+

Ooc, au, oc, typo, bahasa berulang, membingungkan, femnaru, no bashing chara.

Tanpa mengharapkan keuntungan materil

Cover bukan punyaku

Happy reading

.

.

(o.o)

Sebuah jemari terketuk seirama, berulang kali tanpa pelakunya jenuh untuk melakukannya, kerutan terlihat tanpa lelaki itu sadari, membuat satu ekspresi yang jarang dia gunakan bila berada diluar teritorialnya bahkan bila dia hanya sendiri tanpa satu orangpun disekitarnya.

'' Paman tidak suka es krim ya?''

Getar suara menyambangi pendengaran lelaki berambut raven, onixnya memandang sosok didepannya tanpa ekspresi, dirinya bertanya-tanya kenapa sosok kecil ini tidak pernah sekalipun berhenti merecoki kehidupannya.

Dirinya masih merasa marah atas kenyataan yang ada tentang kepergian Naruto, hamil diluar nikah karena gurunya dan tanpa perlu ditambahi lagi dengan kemunculan sosok cerewet didepannya.

Menemukan gadis cilik itu ditaman saat ingin makan siang dengan beberapa anak lelaki dan perempuan mengelilinginya-bukanlah hal yang dia inginkan, hidupnya harus sesuai-monoton.

Anak itu tak menangis layaknya anak kecil yang sedang diancam, malah Shina dengan berani menatap dingin tanpa ekspresi kumpulan bocah-bocah yang bergidik ketakutan, membuat Sasuke bertanya-tanya tak mungkin keturunan Kakashi mempunyai wajah datar tanpa ekspresi apalagi bila menurun dari Naruto, mustahil.

Tapi Sasuke kagum, sosok kecil itu-Kushina- berani menghadapi gerombolan anak yang berniat menindasnya, sempat dia lihat kalau Shina melemparkan tendangan dengan sedikit jurus karate -mungkin Naruto mengajarinya karate dasar-kearah bocah bersurai hitam legam.

Dan Sasuke tak bisa tak acuh saat bocah gendut dengan kaus merah hendak memukul Kushina dari belakang dengan kayu kecil, dia tanpa sadar berlari mendekat lalu mengangkat bocah gendut dan melemparnya menjauh, tidak keras tapi mampu membuat bocah gendut itu mengaduh kesakitan.

'' Apa yang kalian lakukan?'' Sasuke memang tak suka anak kecil tapi bukan berarti dia suka menggunakan nada dingin seperti ini.

'' Ka-kami...'' lima bocah bergidik mundur teratur, sedangkan dua bocah perempuan sudah menangis ketakutan.

'' Di-dia pembohong, i-ibunya pe-penggo-goda, dia anak haram tak punya-'' bocah gendut itu ketakutan saat melihat sosok dewasa didepannya menatapnya tajam apalagi Shina dengan seluruh kekuatannya mendorong Genta-nama bocah gendut-hingga terjatuh ketanah sedangkan teman-temannya hanya melihat saja, takut mendekat.

'' Jangan menghina Mamakuuuu,'' Jerit Shina, dirinya sekuat tenaga menendang Genta. '' Mamaku bukan seperti itu,'' Wajah Shina memerah menahan marah juga tangis. ''-aku punya ayaaahh,'' sekali lagi Shina menendang kaki Genta, membuatnya meringis kesakitan, tapi sebuah gendongan membuat Shina terkejut.

Sasuke membawanya kedalam gendongan yang hangat, memeluknya dalam perlindungan, membuat Shina tanpa sadar melingkarkan lengannya disekeliling leher Sasuke- menangis tanpa suara. Sasuke lalu berjongkok sejajar dengan Genta. '' Jangan bicara macam-macam dengan Shina, dia punya ayah dan aku ayahnya. Jadi jangan menghinanya lagi-'' kata Sasuke tanpa pikir panjang, desis mirip ular meluncur tanpa peringatan. ''-jika kalian-'' Sasuke menatap tajam-bocah-bocah yang mengkerut ketakutan ''-tetap menghinanya aku pastikan kalian akan menerima akibatnya.''

Bocah-bocah itu serentak menggangguk cepat lalu berlari menjauh.

Sasuke berdecak. '' Tak apa? '' tanyanya, mengusap surai blonde Shina perlahan membuat gadis cilik dalam gendongannya itu terdiam, mengerutkan dahinya seolah sedang berfikir keras.

'' Apa anak-anak itu sering melakukannya?'' tanya Sasuke, entah kenapa dirinya merasa kesal dan penasaran tanpa bisa dibendung.

'' Tidak,'' Shina mengalihkan pandangannya, tanpa menatap lelaki didepannya, dirinya perlahan memberotak turun.

'' Kenapa tidak memberitahu Mamamu, hah?'' kejar Sasuke saat melihat Shina berjalan menjauh, dirinya merasa tak puas dengan jawaban Shina.

'' Bukan urusan paman,'' kata Shina ketus. Dirinya berbalik menjauhi Sasuke, bagian belakang seragamnya kotor. Sasuke mengernyit tak suka saat mendapati kedua sikut Shina memerah karena luka, darah segar yang bercampur dengan debu.

Sasuke berdecak sebal, dengan cepat dirinya melangkah dan menarik kerah seragam Shina, membuat gadis itu tercekik.

'' Uhhh.. Sakit. Paman Sasuke,'' ronta Shina.

'' Hei bocah tak tau terimakasih,'' Sasuke menatap tajam Shina yang merengut sebal, bibirnya mengerucut tapi Sasuke bisa melihat onix itu memerah.

Sasuke yang pada dasarnya tak terlalu suka pada anak kecil begitu terkejut saat mendapati dirinya berjongkok sejajar dengan tangan yang mengusap surai blonde lembut.

'' A-aku tak su-suka mereka menghina mama, aku ma-marah waktu mereka bilang mama menggoda orang-orang-'' Shina mengusap airmatanya yang mengalir deras, dirinya sesenggukan, onixnya tak berani memandang Sasuke. ''-mereka bilang aku pembohong karena aku tak punya papa, mama sedih saat aku tanya tentang papa jadi aku tak tanya lagi, aku bilang kalau papaku jadi super hero tapi aku lebih percaya kalau papaku petani ketimbang Super hero, ta-tapi mereka tak percaya, hiks, hiks, hiks...''

'' Aku-'' suara Sasuke terhenti ditenggorokan, ''-aku percaya. Kau pasti punya papa, nanti kau akan bertemu dengannya.''

Mata onix itu terlihat bersinar penuh harap kepada sosok dewasa didepannya. '' Benarkah?'' tanya Shina antusias, matanya memerah dengan ingus yang keluar dari hidung.

'' Hn,'' Sasuke melemparkan saputangan tepat dimuka Shina, membuat gadis cilik itu merengut, tapi tetap membersihkan mukanya. Shina memandang dari balik saputangan saat melihat lelaki yang ditemuinya tempo hari baru saja jadi penyelamatnya, apa kata mamanya jika dia tau tentang pertemuan tak sengaja ini. Mengingat mamanya mewanti-wanti agar jauh-jauh dari paman Sasukenya. Eh? Sasukenya? Sejak kapan?

'' Sudah?''

Shina mengangguk. '' Biar nanti aku cuci,'' katanya, memasukan saputangan biru tua ditas ranselnya.

Sasuke menepuk puncak kepala Shina pelan lalu berdiri, tangannya meraih jemari Shina tapi tarikan pelan membuatnya berhenti.

Shina menyuruhnya menunduk.

Mengernyit heran, tapi tetap saja Sasuke menunduk mendekati Shina, hingga kecupan lembut terasa dipipinya.

Sasuke membatu. Nafasnya tertahan diparu-paru.

Ohh, ooh...

'' Paman Sasuke jelek,'' teriak Shina sambil berlari menjauh, pipinya memerah sampai ketelinganya.

Sasuke tak menyangka hanya dengan satu kecupan singkat yang malu-malu bisa membuat hatinya hangat, dirinya tak bisa menahan senyum yang sangat jarang dia lakukan.

Hanya sebuah kecupan.

Dalam hati dirinya menyadari, ada sedikit sifatnya dalam diri Shina.

.

.

'' Jadi, kenapa kau ikut denganku?'' tanya Sasuke tajam.

Shina terdiam, tangannya berhenti menyendoki es krim dan menatap Sasuke datar tapi bibirnya mengerucut. '' Aku ingin ikut, ya ingin ikut,'' jawab Shina seenaknya sendiri.

'' Aku harus bekerja,'' kata Sasuke lagi, dirinya memandang Shina dari kursi kerjanya, berdecih pelan saat melihat dimeja kantornya berserakan beberapa jenis permen, coklat dan satu cup ramen yang membuat matanya berkedut.

'' Kalau bekerja ya bekerja, aku tak akan mengganggu.''

'' Mamamu akan mencarimu,'' kata Sasuke, berusaha agar sosok didepannya mau pulang.

Shina, duduk tak nyaman saat Sasuke menatapnya tajam. '' A-aku mau disini ya disini,'' putus Shina sedikit terbata. Cepat-cepat dirinya mengambil mangkuk es krimnya dan semua makanan dimeja, berjalan kesofa pojok ruangan lalu duduk tak acuh sambil menikmati semangkuk besar es krim yang dibelikan Sasuke setelah sesi adu pelototan beberapa menit didepan counter ice cream diminimarket.

'' Aku akan menelfon mamamu,'' putusnya, Sasuke meraih ganggang telepon hendak menelfon sekertarisnya untuk mencari tau nomer telepon Naruto tapi teriakan nyaring membuatnya berhenti.

'' JANGAAAANNN!'' Shina sudah berdiri disamping Sasuke, menggenggam lengannya. '' Jangan telepon mama,'' rengek Shina tanpa sadar.

Sasuke tak menjawab, hanya menatap datar gadis cilik yang kini memilin ujung seragamnya. Tangan Sasuke tetap menekan tombol telepon. '' Halo-''

Shina merebut telepon Sasuke lalu meletakannya dengan cepat dan panik. '' Ugh, ba-baiklah, A-aku kabur dari rumah, a-ku marah sama mama,'' tak sekalipun Shina berusaha menatap mata Sasuke, dia merasa tatapan Sasuke seperti tau segalanya, Shina tambah panik saat Sasuke tetap mendiamkannya, rasanya seperti mencuri-curi makan es krim sebelum makan malam dan ketahuan oleh ayahnya saja. Bukannya Shina pernah merasakannya sih, tapi anehkah dia kalau dia merasakannya saat ini.

Sasuke memandang Shina dalam diam membuat gadis Blonde itu meremas jemarinya gugup, tapi sedetik kemudian roman Shina berubah memelas, berusaha membujuk Sasuke dengan mata blink-blinknya. '' Sebenarnya seminggu lagi ada festival anak dan keluarga, semuanya membawa keluarganya, tapi aku tak pernah membawa 'ayah' jadi aku meminta mama tapi mama bilang papa belum bisa pulang,'' adu Shina.

'' Mungkin papamu sedang bekerja mencari uang.''

Shina merengut, tangannya terulur meminta Sasuke mengangkatnya dan Sasuke-yang anehnya-menurutinya, mendudukan Shina dipangkuannya.

'' Uhh, aku iri sama Natsu yang kadang-kadang dijemput oleh papanya atau waktu teman-teman lomba lari sama ayahnya-'' Shina terdiam seketika,''- ahhh, tapi jangan bilang-bilang sama mama ya, nanti mama sedih, ya~ paman Sasuke,'' kata Shina panik, dirinya mendongak menatap Sasuke yang juga menatapnya datar.

'' Hn.''

'' Apa itu artinya iya.''

'' Hn,'' jawab Sasuke acuh.

'' Asik! Paman Sasuke yang terhebat, jadi aku tetap disinikan?'' Shina berlonjak senang dipangkuan Sasuke, membuat lelaki itu sedikit kerepotan saat menahan Shina yang seperti bayi kuda, tubuh mungilnya melorot turun menuju makanan yang terlupakan, tanpa memperhatikan Sasuke yang kini mengetik sesuatu diponselnya. Menit berlalu.

Cring

Satu pesan diterima.

Kembali Sasuke mengetik pesan.

[ Shina sedang bersamaku biar nanti aku antar pulang. Sasuke]

Yah, bisa dipastikan seorang wanita yang mungkin saja sedang panik mencari anaknya melotot tak percaya dan hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca pesan dari seseorang yang sangat dia hindari dan sama sekali tak dia harapkan.

Well yeah.

.

'' Snowflake, snowflake, little snowflake.

Little snowflake falling from the sky.

Snowflake, snowflake, little snowflake.

Falling, falling, falling, falling, falling,

falling, falling, falling, falling...

falling in my hand, '' suara merdu Shina seperti sihir bagi Sasuke yang tengah menyetir mobil, walaupun tanpa iringan musik tapi suara jernih itu membuat Sasuke tenang, dirinya tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya, mungkin karena sejak kecil Sasuke tidak pandai menyanyi-tapi sangat jago dalam memainkan alat musik- membuatnya jarang mendengarkan lagu anak-anak.

''-snowflake, snowflake, little snowflake.

Little snowflake falling from the sky.

Snowflake, snowflake, little snowflake.

Falling, falling, falling, falling, falling,

falling, falling, falling, falling...

falling on my nose,'' Shina dengan riang menyanyikan lagu kesukaannya, kaki dan tangannya bergerak seirama tanpa menghiraukan jika tubuh mungilnya tertahan oleh seat belt, menoleh kekanan-menoleh kekiri, membuat gerakan dengan tangan seolah kepingan salju jatuh turun.

'' Siapa yang mengajarimu?'' Tanya Sasuke, setelah Shina kelelahan menyanyikan lagu berulang kali.

Sudut jari Shina mengusap onixnya yang berair. '' Mama, setelah perempatan belok kekiri lalu lurus sampai ada apartemen dua lantai Mizuki's apartemen nomer 8 paling ujung-hoaheem- aku ngantuk,'' Shina merengek pelan, kepalanya beberapa kali terantuk kedepan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan Sasuke menepuk pelan kepala Shina, sebuah isyarat agar dirinya tidur. Sasuke tau sejak tadi siang Shina tak pernah berhenti bergerak, bahkan saat berada didalam kantornya, ada saja yang dia lakukan, entah itu menyanyi atau bermain dengan laptop milik Sasuke, Shina juga menyusuri kantor Sasuke seorang diri setelahnya menceritakan apa saja hal yang menarik perhatiannya dengan mata berbinar, berteman dengan Shikamaru Si Jenius-Pemalas dan beberapa orang memanggilnya Ojou-chan, entah apa itu maksudnya. Yang tidak dimengerti Sasuke kenapa dia membiarkan Shina melakukannya.

Akhirnya setelah menyelesaikan beberapa dokumen Sasuke mengajak Shina membeli baju baru, dirinya terlalu kesal bila harus melihat seragam kotor milik Shina-dia cinta kebersihan, ingat-.

Tapi saat memilih baju dahinya tak bisa menahan kerutan stress, dibanding memilih baju lucu atau yang sejenisnya Shina lebih memilih kaus oblong bergambar 'cars', tapi menciut saat Sasuke melotot kearahnya-dalam hati Sasuke berdecak, pasti ini gen dari Naruto- jadi dengan takut-takut Shina meraih baju disampingnya tanpa melihat. Dan Sasuke mengangguk puas dengan pilihan Shina.

Sasuke memandang Shina yang tertidur saat lampu lalulintas berubah merah, tangannya tanpa sadar mengelus kepala Shina yang entah sudah berapa kali dia lakukan dalam sehari ini, dirinya merasakan suatu yang aneh saat bersama Shina, dirinya sadar jika dia tidak terlalu menyukai anak-anak, tapi kenapa dengan bocah blonde ini Sasuke merasakan hal lain, padahal mereka baru bertemu beberapa kali, seperti hal itu adalah hal biasa, seperti memang seharusnya rasa 'aneh' itu muncul atau marah saat bocah itu tersakiti. Bahkan dengan keponakan pertamanya Tora- putra Uchiha Itachi- Sasuke tak merasakannya.

Sasuke kembali mengemudikan mobil mewahnya, menembus jalanan yang sedikit ramai saat jam pulang kerja. Setengah hari penuh dia bersama Shina dan Sasuke mengernyit saat didalam hatinya ada perasaan seperti enggan memulangkan Shina, jika Itachi mengetahuinya bisa dipastikan hidupnya dalam bahaya.

Sejak dulu Sasuke mengamati gaya berpacaran Naruto dan Kakashi memang sedikit lebih cepat bila dibanding dengannya, mereka dengan hubungan tidak biasa yang penuh resiko dan pertentangan dari salah satu pihak. Tapi bukan berarti Kakashi bisa melakukan hal seperti itu pada sahabat pertamanya. Pantas saja jika Naruto kabur karena Kakashi tidak mau bertanggung jawab dan sekarang setelah sekian lama berlalu dengan seenaknya Kakashi datang dan bilang ingin menikah dengan Naruto. Sebagai mantan sahabat, Sasuke merasa tak terima, walaupun dia menyadari itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dia hanya mengiginkan sahabatnya bahagia.

Bukannya Sasuke masih perjaka sampai sekarang. Tapi setidaknya Sasuke selalu membuat dirinya 'aman' hingga tak menyebabkan Karin hamil diluar nikah. Batin Sasuke.

Sasuke memarkir mobilnya tepat dibawah pohon mapple, dirinya keluar dan menghampiri pintu penumpang-mengambil barang-barang milik Shina- lalu beralih pada pintu tepat disampingnya.

Sesaat dirinya terpana melihat Shina yang tidur dengan nyenyak, surai pirang yang diwariskan oleh Naruto terasa lembut ditangannya, wajah yang damai dan sedikit air liur disudut bibirnya. Shina-dalam pandangan Sasuke- terlihat begitu polos seperti peri-peri bunga.

Tersadar dari transnya Sasuke lalu menggendong Shina hati-hati, dia tak ingin Shina terbagun.

Beberapa orang merasa tertarik dengan adanya mobil mewah disekitar apartemen kelas menengah kebawah, apalagi ini kali kedua orang-orang seperti dipaksa menelan ludah saat mobil putih dengan strip biru yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan orang-orang terparkir didepan apartemen bobrok lalu kini dibuat melotot dan meneteskan air liur saat Lamborghini terbaru terparkir sombong seperti salah tempat.

Apalagi saat sang pemilik keluar dengan seorang bocah yang begitu mereka kenal dalam gendongannya.

Mereka-empat orang ibu-ibu- berbisik-bisik lirih saat Sasuke melintas didepannya, sedikit terdengar kata sinis dari mereka juga para lelaki yang tak sengaja berpapasan, mereka berdecih tepat didepannya. Sasuke mengabaikan begitu saja, tak ada urusan dengan mereka.

Sasuke tetap berjalan menapaki tangga beton dengan Shina yang mengeces dipundaknya.

Hingga beberapa menit berlalu dengan sia-sia, Sasuke bergeming tepat didepan pintu apartemen nomer '8' dengan tangan terjulur tanpa sedikitkun menyentuh bel pintu.

Sasuke membeku.

Dia tidak gugup, sial. Uchiha tidak pernah gugup karena hal sepele seperti ini. Dulu, setidaknya dia pernah beberapa bulan sekali bertamu diapartemen Naruto, lalu apa bedanya sekarang dengan dulu.

Oh. Tentu saja berbeda. Dulu Naruto-dobe adalah sahabatnya dan sekarang Naruto-dobe adalah MANTAN sahabatnya. Batin Sasuke sinis.

Dirinya berbalik tanpa pikir panjang. Berjalan dalam langkah yang lebar hingga kesadaran menghantam kepalanya.

Memangnya anak siapa yang kau bawa itu, hah?

Sasuke berdecih.

Gara-gara bocah tengil ini dia harus repot seperti ini. Sasuke mendeathglare Shina yang tertidur dipundaknya.

Kembali Sasuke terdiam didepan pintu.

Kembali tangannya terjulur.

'' Cih, aku akan membuat bocah ini membayarnya,'' geram Sasuke menekan bel pintu dengan kekesalan penuh.

Ting-tong.

Cekrek

Pintu terbuka didetik awal bel berbunyi, memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian rumah dan apron hitam-orange juga bau sedap dari dalam rumah.

Sasuke sedikit kaget, tapi tersamar dengan muka datarnya. Dia mengamati saat wajah Naruto yang memucat seperti melihat hantu, mungkin melihat mantan sahabatnya menggendong anaknya dengan tas ransel warna biru muda dipundak juga satu kantong tas ditangan Sasuke. Apa Naruto kaget karena Sasuke terlihat seperti papa muda ketimbang seorang esekutif muda yang terkenal karena kesempurnaannya?

'' Eh-eh, Sasuke?''

'' Hn.''

'' Eh-eh,'' Naruto masih membeku didepan pintu.

'' Kau tetap berdiri seperti orang bodoh atau aku pergi?'' kata Sasuke datar, sial pundakku pegal.

'' Eh-eh. Mak-maksudku ayo masuk,'' jawab Naruto terbata, dirinya memberi jalan Sasuke lalu menutup pintu pelan.

'' Ah, biar aku yang membawanya kekamar,'' kata Naruto mencoba mengambil Shina dari gendongan Sasuke tapi tak berhasil karena Shina merangkul leher Sasuke erat.

'' Eh-eh Shina-chan, ayo sama mama,'' bujuk Naruto saat melihat Shina mengerang dan mengerutkan dahi tanda terganggu.

'' Dimana kamarnya?'' suara Sasuke membuat Naruto memandang lurus kedepan, pandangan mereka bertemu, mereka terdiam.

Saat Sappire Naruto tanpa sadar memandang onix kelam milik Sasuke. Dia menyadari kalau dia merindukannya. Sasuke. Sahabatnya.

'' Dimana?'' tanya Sasuke, suaranya terdengar serak. Dia memberikan kantong dan tas yang dibawanya kepada Naruto yang masih berusaha menekan rasa takutnya.

Naruto meremas tali tas tanpa sadar, dia butuh pegangan kali ini. '' Ah, ikuti aku.'' kata Naruto, dirinya mengambil satu uwabaki untuk Sasuke setelah lelaki itu melepas sepatunya lalu berjalan terlebih dahulu dibelakangnya Sasuke mengikuti. Tak banyak perabotan dalam apartemen ini hanya meja kayu berkaki pendek yang diletakkan ditengah ruangan, dua lemari kecil diletakkan menempel didinding, diatasnya terdapat pigora yang tersusun rapi, nyaman dan rapi. Kesan Sasuke walaupun ruang tamu ini bahkan lebih kecil dari kamar mandinya.

Sasuke mengamati sekilas saat melihat tumpukan mainan berada disudut disamping televisi. Hingga Naruto berhenti ragu-ragu didepan pintu, tapi kemudian tetap membukanya perlahan.

Harum Citrus menyambut indra penciuman Sasuke, warna kamar yang biru muda dengan beberapa mainan yang bisa menyala dalam gelap tertempel didinding dan langit-langit kamar, lemari baju dan meja rias disudut ruangan, boneka yang terjejer rapi dikepala ranjang beberapa pernik-pernik kecil diatas nakas dan lampu tidur yang berdampingan. Kamar yang sungguh sederhana bila dibanding dengan kamar miliknya. Tapi, sekali lagi dia merasa hangat dan nyaman. Aneh kah?

Atau mungkin karena ini kamar Naruto. Naruto yang dulunya terkenal dengan kehangatan bagai matahari, yang senyumnya terasa menyejukkan, yang tetap bertahan walau orang-orang terus mencacinya. Lalu sekarang apakah dia masih sama dengan Naruto yang dikenal Sasuke dulu?

Sasuke membaringkan Shina hati-hati diranjang dan Naruto segera meletakan boneka Teddy kesayangan Shina, gadis cilik itu langsung memeluknya erat. Naruto tersenyum, menyelimutinya dan mencium keningnya. '' Oyasumi.''

'' Apa dia berbuat nakal saat denganmu?'' tanya Naruto, jemarinya masih setia mengelus surai blonde yang diwariskannya. Memandang penuh sayang pada Shina.

'' Hn,'' Sasuke berdiri kaku dan tak mengalihkan pandanggannya dari sosok didepannya. Naruto, dari dulu sangat menyukai anak kecil. dia terlihat berbeda, terlihat dewasa, bukan hanya fisik saja yang berubah tapi sifat keibuannya tak bisa dipungkiri dapat Sasuke rasakan.

Naruto terkekeh pelan. '' Apa beberapa tahun ini tidak mengubah kebiasaanmu dengan berguman seperti itu, Sasuke,'' tanya Naruto.

Sasuke sedikit kaget dengan dirinya yang merasa senang saat Naruto memanggilnya lagi dengan namanya. '' Hn,'' gumannya menyembunyikan gerak bibirnya yang ingin tersenyum.

'' Gaaahhh, kau ini.''

Mereka berpandangan. Hanya memandang, tanpa suara. Detik berlalu hingga Naruto tersunyum tulus diikuti Sasuke yang mendengus keras.

Naruto terkekeh, dia tau mereka berteman lagi saat ini, dulu-sekarang setidaknya Sasuke tetap sama seperti yang dikenalnya.

'' Kau merindukanku, iya kan?'' goda Naruto.

'' Dalam mimpimu,'' Ketus Sasuke, dia berbalik, diikuti oleh Naruto yang berjalan dibelakangnya perlahan dia menutup pintunya.

'' Mengaku sajalah, Teme. Ah, terimakasih sudah menemani Shina-chan, Sasuke. Dan.. Terimakasih sudah membelikan baju baru.''

'' Hn.''

'' Ah, Sasuke bagaimana Shina-chan mau memakai baju lucu itu. Waktu aku membelikannya dia tidak mau memakainya,'' Naruto merengut, mengingat tiga bulan yang lalu Shina menolak memakai gaun biru muda untuk perayaan ulang tahun teman sekelasnya, dia lebih memilih memakai celana panjang dengan kameja persis dengan milik Natsu. '' Kenapa denganku Shina-chan tidak mau memakai gaun lucu sedangkan denganmu dia mau. Apa yang kau katakan pada Shina-chan, hah?''

Mendengar ocehan Naruto membuat diri Sasuke bangga, dia tak bisa menahan seringaiannya saat melihat Shina memakai gaun berwarna peach yang membuatnya terlihat manis. Dan seringai bangga saat melihat Naruto yang kini tengah merana menatapnya dengan tatapan agar dia mau berbagi rahasia.

Sasuke bingung. Kenapa dia bangga karena hal sepele seperti ini?

'' Hn.''

'' Uhh, Temeee~''

'' Hn.''

Kini mereka sudah sampai pada pintu depan.

'' Mama, aku lapar tak bisa tidur~''

Dua orang otomatis berbalik dan mendapati Shina terbangun dengan menyeret boneka teddy bear miliknya.

'' Eh, Shina-chan? Kenapa bangun?'' tanya Naruto, dia berjalan mendekat lalu berjongkok tepat didepan Shina.

'' Aku lapar, mama biar paman Sasuke makan malam sama kita ya?'' pinta Shina. '' Tadi paman membelikanku banyak makanan dan baju baru.''

Naruto menoleh kearah Sasuke yang berdiri ditengah pintu. '' Boleh saja, kalau pamanmu tak keberatan.''

Shina tersenyum senang, dia dengan segera menarik pamannya itu, mengabaikan kalau Sasuke bahkan belum menjawab undangan makan malam mereka.

'' Paman ayo kita kedapur. Mamaku pintar sekali memasak, masakannya saaangggaaatt enak,'' tangan Shina terbentang seolah menegaskan perkataannya. '' Mama masak apa?''

'' Hahaha, mama masak enak. Tapi sebelumnya cuci muka dulu ya!'' kata Naruto yang kini mulai melanjutkan memasaknya yang tadi sempat terhenti karena kedatangan Sasuke.

Sedangkan Sasuke masih berdiri bagai patung es ditengah ruangan, menatap datar Naruto dari belakang. Tidak. Sasuke tidak berfikir apa-apa hanya berdiri dan melihat saja, tapi kenapa tercipta kerutan didahi mulusnya, hingga Shina datang dan menariknya duduk dimeja berkaki pendek. Mereka duduk berdampingan.

'' Ne, paman Saskey. Masakan mama adalah yang paling enak. Apalagi ramennya nomer satu dijepang,'' puji Shina, kedua tangan mungilnya menangkup pipi Chubby yang penuh lemak.

'' Kenapa aku tidak kaget saat Shina jadi freak ramen sepertimu, Naruto?'' tanya Sasuke saat Naruto mendekat dengan dua piring berisi makanan dan secangkir kopi hitam tanpa gula.

'' Hei, ramen itu enak tau,'' ucap Naruto berapi-api membuat Sasuke yang mendengarnya mendengus. '' Walaupun begitu aku tidak memberi Shina-chan makan ramen tiap hari tau-''

'' Ya, jika kau ingin anakmu dobe sepertimu,'' potong Sasuke.

'' Heiiii...''

'' Apa mama dan paman Sasuke seakrab ini dulu?'' tanya Shina, onixnya membulat penuh rasa penasaran saat melihat dua orang dewasa didepannya bercengkrama dengan gaya tak biasa.

'' Tidak/Hn,'' jawab mereka bersamaan.

'' ...''

'' ...''

'' Ah, apa kalian pacaran dulu?''

'' Hah?''

Dua orang berpandangan dengan diam tapi sedetik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak khususnya Naruto sedangkan Sasuke tersenyum tipis, tangannya menepuk pucak kepala Shina yang merengut karena merasa diabaikan.

'' Hahaha, sudah. Ah perutku sakit,'' Kata Naruto tangannya mengelus perutnya.

'' Huh?'' Sungut Shina, bibirnya maju beberapa senti sebelum berbalik memunggungi dua orang dewasa didepannya.

Melihat putri semata wayangnya merajuk Naruto berubah panik, bisa dipastikan kalau tidak ditenangkan dengan segera 'rubah kecil' itu bisa mendiamkannya seharian penuh- hah, ini gen dari Sasuke, batin Naruto kesal-.

'' Shina~ sayang~'' bujuk Naruto mendekati sosok mungil yang masih terdiam, mengacuhkan panggilannya. '' Shina-chan~ mama minta maaf oke?''

Shina terdiam.

'' Shina~''

Dengan pandangan memohon Naruto meminta bantuan Sasuke yang tentu saja diabaikan oleh bungsu Uchiha, bahkan dengan teganya dia mengejek Naruto '' Dobe'' tanpa suara dan Naruto semakin melotot tajam.

'' Nanti mama belikan gitar kecil ya?''

Giliran Sasuke yang melotot. '' Jangan belikan dia gitar, dia perempuan!'' desis Sasuke dan semakin kesal saat melihat Sang Mama malah mencebik.

'' Kalau dia suka boneka barbie akan kubelikan sejak dulu.''

'' Huh, itu pasti karena genmu Naruto. Kaukan laki-laki,'' Ucap Sasuke kejam plus meremehkan.

'' Hei, aku ini perempuan, lihat rambutku panjang,'' teriak Naruto tak mau kalah.

'' A-aku ingin besok diantar paman Sasuke kesekolah.'' suara jernih membuat pertengkaran terhenti.

Singgg...

'' Eh, Shina-chan, apa yang kau katakan?''

Shina tersenyum senang. '' Besok mau diantar paman Saskey kesekolah.'' aku mau pamer, lanjut Shina dalam hati.

'' Aaa...'' bibir Sasuke terbuka hendak menolak.

'' Tapi Shina-chan janji tidak ngambek lagi kan?'' potong Naruto saat melihat gelagat penolakan dari Sasuke, membuat lelaki itu mendeathglare tajam dirinya.

Shina menggangguk-ngangguk senang dan langsung duduk disamping Sasuke.

Ta-tak ma-masalah, walaupun Sasuke = iblis saat marah, tapi bagi Naruto, Shina yang tak bicara dengannya selama sehari sama saja dengan membunuhnya hidup-hidup. Soal Shina adalah anak kandung Sasuke, dia tak akan tau jika Naruto tak bicara langsung padanya kan. Jadi masih aman kan. Batin Naruto.

'' Nah, bantu mama menyiapkan makan malam ya.''

Shina mengangguk semangat, beranjak mengikuti Naruto.

Sasuke mengeram kesal. Kenapa dia yang sebesar dan senyata ini tidak dianggap keberadaanya sama sekali. Ini pertama kalinya sejak kepergian Naruto dulu dan sekarang tambah satu bocah yang seenaknya saja memerintah dirinya. Mereka anggap aku apa.

Sasuke memandang Naruto saat wanita itu meletakkan panci kecil berisi sup hangat dimeja.

'' Aku-''

'' Tidak Sasuke, kumohon, Shina-chan bisa ngambek seharian kalau permintaannya tidak dituruti,'' potong Naruto, suaranya berbisik kecil.

'' Tapi-''

'' Please~'' Naruto menangkupkan kedua tangannya didepan dada menatap Sasuke penuh permohonan.

Menghela nafas berat Sasuke mengiyakan.

Memang susah melawan Naruto. Dulu-sekarang dia memang tak pernah bisa menolak.

*/o/*

Tepat pukul sepuluh malam Sasuke pulang dari kediaman Naruto, bukan apa, hanya karena Shina tak mau melihatnya pulang jadi yang ada Naruto harus menidurkan Shina terlebih dahulu dan sialnya Shina betah sekali menempel pada Sasuke sebelum akhirnya Sasuke dengan gaya maling mencuri pakaian dalam-berjingkat-jingkat- keluar dari apartemen Naruto.

Dia tak habis pikir.

Kenapa dia bisa betah dengan semua itu.

Teriakan dua orang perempuan, yang besar dengan gaya 'dobe' dan yang kecil dengan sikap ' bossy' benar-benar perpaduan unik sekaligus melelahkan.

Naruto menyelesaikan tugas kantornya didepan televisi, menemani Shina yang duduk dipangkuan Sasuke saat asyik menonton acara documenter tentang singa di Afrika, juga setoples besar cookis dengan selai tomat didalamnya yang Naruto buat sore tadi menjadi rebutan bagi dua orang beda usia tersebut, tapi Shina dengan senang hati memberikan Sasuke setoples kecil untuk dibawa pulang.

Ring, riiiiingggg

Handphone Sasuke berbunyi.

'' Hallo... Hn, aku juga merindukanmu... Kau mau kesini... Hn... Ya...''

*/o/*

Gerakan gorden yang melambai tertiup angin tak membuat perhatian lelaki berparas tampan teralihkan, dia dengan konsentrasi penuh memandangi sebuah kertas digenggamannya.

Ruangan itu hanya tersinari rembulan yang merambat dari kisi-kisi jendela tak membuatnya peduli, dirinya seperti mati rasa saat udara dingin menyentuh dada telanjangnya.

Perlukah dia peduli, jika apa yang dia inginkan tak pernah dipedulikan.

Perlahan sosok itu melangkah, meraih korek api yang tergeletak dinakas.

Wuss

Bayangan api dengan cepat tercetak dionix kelam miliknya, menangkap deretan huruf yang kini tertelan kemarahan api.

Sedikit demi sedikit perlahan api itu membuat kertas mewah yang berisikan rangkaian kata menjadi tumpukan abu diasbak.

Shizune

Invenite you

Wedding

Tak ada yang tersisa.

Laki-laki itu menghela nafas. Pandangannya tercuri tepat disamping asbak, sebuah kotak yang terlapisi beludru merah. Tangannya terulur hingga kemilau dari cincin dijari manisnya berpendar terkena sinar bulan.

Hah... Siapa yang dipilihnya nanti.

*o*

Naruto terpekur menatap bulan dari balkon sempit miliknya, ditemani segelas susu hangat disampingnya. Dia merapatkan selimut yang dipakainya saat angin malam berhembus membawa hawa dingin.

Meresapi keheningan malam. Dirinya tidak bisa tidur malam ini.

Kedatangan Sasuke dan kedekatan Shina membuatnya was-was. Kini dia hidup dalam ketakutannya lagi yang beberapa tahun lalu sempat membaik.

Disaat bersamaan masa lalunya datang.

Mungkin akan lebih baik jika dia menikah dengan seorang laki-laki, tak masalah jika dia tidak tampan, tak masalah jika dia bukan pemilik beberapa perusahaan berskala besar. Hanya seseorang yang menerima dirinya dan Shina tanpa mempermasalahkan masa lalu.

Mungkin seorang petani tak masalah baginya.

Tapi apa mau dikata, hatinya milik Kakashi, tak bertambah atau berkurang masih sama seperti terakhir kali dia bertemu kecuali tentang rasa bersalahnya. Dan...

Huuuh, Naruto menghela nafas.

Entah kenapa dia yakin Kakashi bukan untuknya.

Naruto menatap keangkasa, gelap tapi kenapa langit berwarna biru.

Kenapa langit malam tak berteman dengan merah.

Naruto meniup kaca balkon dari uap mulutnya, membuat dua emoticon 'smile' lalu menulis nama Shina dan Naruto tepat dibawahnya.

Naruto tersenyum senang dan saat menggambar 'smile' lagi tangan Naruto terhenti...

Siapa?

Jejak basah tercipta saat Naruto tak kuasa menahan air mata, tubuhnya terguncang pelan. '' Tuhan... salahkah aku jika menjauhkan Shina dari papanya, salahkah aku membohongi Shina, salahkah aku jika aku merasa takut.''

.

.

.

TBC

.

.

An/. Judul lagu diatas adalah little snowflake liriknya aku ambil dari simple song dan bila ingin tahu bisa dilihat di you tube, keyword sama.

Mungkin lirik sama lagunya tidak sama tapi aku mengikuti versi youtube.

Ucapan trima kasih buat semua orang-tak mungkin disebut satu-satu) yang membantuku.

Juga buat teman-teman yang setia mengingatkan agar aku cepat update. Buat yang follow, review, fav. Trimakasih bangeeet, tanpa kalian aku tidak ada apa-apanya*nangis lebay.

Balesan review ya.

Guest.

Nich udah lanjut, semoga suka dengan chap ini.

Hyull.

Sasuke akan tau yang sebenarnya ya? Mungkin chapter berikutnya, lagi proses sasunaru nih. Hei, kakashi itu suka sama Naruto jadi dia cembokur dan berusaha menjauhkan Naruto dari Sasuke*ditendangkakashi.

Kyuu Bigdevil 1324.

Eh, nooo.. kalau begitu aku bilang kakashi biar minta restu dlu sama Kyuu-san ya. Hahaha. Yap akan dilanjut tunggu saja.

Axa Alisson Ganger.

Huh, iya nih sasu-teme nggak sadar sama sekali, payaaahh*sasuke:kan kau sendiri yang buat critanya. Heheh. Udah update nich. Semoga berkenan.

za hime.

Udah lanjut nich.

Yamashita runa.

Semoga tambah greget chapter ini, walaupun kakashi nongol sekilas. Naruto itu terlalu baik dan penakut, jadi dia was-was, lagian sasuke pacaran sama karin, dia juga nggak cinta sasuke.

amour-chan. Uh-uh. Udah lanjut nich.

aiska hime-chan. karin nya selingkuh ngak? Hahah, tunggu saja dichapter selanjutnya.

Yamashita Kumiko.

Yap bener diambil dari Kushina*maklum autorkan selalu galau kalau soal nama.

Hanako-chan45.

Wahhh,, akhirnya ada yang muji kakashi juga*pelukako-san. Yap kakashi kereeeen dengan semua tingkah abnormalnya. Shina hanya kurang percaya sama kakashi, jadi kelihatan dingin, tapi aslinya baik kok..

Rey.

Wew. Tenang saja yang penting tidak sampai tawuran kok*peace

Qnantazefanya.

Udah lanjut. Main pair lihat diatas aja, ketahuan kok.

BlackXX.

Apa chapter ini juga menegangkan, kakashi muncul dikit sih.*deepbow*

Sunniest stars sky.

haiii sunny*kisstoo. Sasuke belum sadar, dia masih amnesia,hahaha*bercanda deng.

Inez Arimasen.

Hai juga inez-san. Aku nggak anggap reviewnya flame kok tenang saja. Dan saya sudah balas lewat PM, malu kalau ditulis disini, hehehe. Jangan lupa review lagi ya.

DheKyu.

Sudah aku ganti ratenya, trima kasih sarannya. Yups kakashi cemburuu.. Rencananya mau aku bikin cemburu buta malahan*ketawaseta.

Luca Marvell.

Insyaalloh beberapa chapter kedepan.

hanazawa kay.

Ayo tebak naruto sama siapa? Semoga happy ending ya.

haruna aoi.

Bener banget, tapi entah kenapa ingin saya buat rumit. Heehehe.

.

Heheh, tungguin aja terus ntar kakashi sama siapa. Ada chara baru kok.

.

Lemon lagi,, ide bagus*kumatmesum. Tapi sayang ratenya ganti T. Yah, Tungguin aja ntar tau kok.

minyak tanah.

Senangnya, semoga yang ini puas juga, ada sasunarushina diatas. Nah itu masalahnya, naruto galau ayo tebak ntar sama siapa naruto*plak.

Nasumichan Uharu.

Karena author sableng yang buat jadi ruet kayak benang kusut, hahah, udah update nih, semoga suka.

Kawaihana.

Ini udah lanjut.

Guest. Ouhhh yeeeehhh aku sudah semangat dapat suntikan vitamin dari kalian semua*ciumsatu-satu. Udah udah nih, semoga suka ya.

gothiclolita89.

sasuke gendheng. Bener banget, dia kan ciiinnntttaaaa muati sama karin jadi mohon dimaklumi*ketawangakak. Sasuke sama sekali nggak kepikiran, ah, jadi penasaran klu dia tau siapa Shina. Hohohoho*ayoketawaberjamaah.

Kalau ada penulisan nama yang salah mohon dimaafkan, juga yang keliwatan tidak dijawab mohon maaf yaaaa...

Juga buat yang langsung fav atau follow trima kasih,

Semoga karya ini masih berkenan dihati teman-teman sekalian. Saya masih banyak kekurangan dan berusaha untuk memperbaikinya.

Terakhir jangan lupa review ya.

Ageha Haruna.

11/01/2014