ONE MISTAKE COZ ONE NIGHT STAND
CHAPTER ENAM
.
.
Naruto
Masashi Kishimoto
Ageha Haruna
Sasufemnaru, sasukarin, Kakafemnaru.
Terdapat satu oc saya Uzumaki Kushina.
Drama, romance, family.
T+
Ooc, au, oc, typos, bahasa berulang, femnaru, no bashing chara.
Tanda (XXX) adalah tanda kilas balik alias flashback dan end flash
back
Tanpa mengharapkan keuntungan materil
Cover bukan punyaku
Happy reading
ii
*::::*
*:::::::*
*:::::::::*
I========I
Sebuah mobil dengan aksen strip biru berpendar terbias cahaya pagi, membuat kilau menakjubkan dibanding dengan mobil-mobil yang lainnya. Perlahan Kakashi memarkir mobilnya disamping mobil mewah yang terlebih dulu ada disana. Sesaat rasa heran berdentang dikepala tentang pemilik mobil mewah berwarna hitam metalik tersebut. Apakah pemilik mobil itu sama sepertinya menjemput seseorang yang berharga dan kebetulan tinggal diapartermen yang sama dengan Naruto.
Kakashi mengakui jika dia menikmati kegiatannya kali ini. Menjemput Naruto dan Shina untuk berangkat bersama, mengantar Shina sampai kesekolah lalu jika tidak ada pekerjaan yang menumpuk maka dia akan menemani Naruto menjemput putrinya ditempat penitipan anak saat sore hari.
Heeee, lihatlah! Bukankah mereka terlihat seperti keluarga lengkap yang bahagia? Ayah, ibu dan anak. Yah, jika saja Shina lebih mirip dengannya atau lebih mirip dengan Naruto maka sebuah kata 'keluarga' bukanlah hal yang terdengar mustahil bagi telinga Kakashi.
Tapi, saat melihat Shina kenangan itu muncul bagai mimpi buruk baginya. Penghianatan yang dilakukan Naruto dan Sasuke selalu membuatnya hilang kendali, dia tau jika itu bukan sepenuhnya kesalahan Naruto, nasib baik tidak berpihak padanya saat itu.
Tapi tetap saja Kakashi belum bisa menerima semua ini apalagi dengan kehadiran bocah manis berambut pirang itu. Dan lebih menyakitkan lagi Shina begitu mirip dengan Sasuke.
Dia tau, tidak seharusnya dia mempunyai perasaan seperti ini, perasaan benci yang kian lama makin membesar didadanya. Dan lebih jahatnya lagi perasaan itu tertuju pada bocah mungil yang keberadaannya seperti tirai penghalang antara dirinya dan Naruto.
Tapi dia tau, rasa itu muncul karena iri. Ya, Kakashi merasa iri, karena sejak dulu Sasukelah yang lebih sering bersama dengan Naruto, tentu saja bagi keduanya mereka adalah sahabat pertama, sahabat yang menerima segala kekurangan mereka. Tapi tidak taukah jika kebersamaan mereka menimbulkan api cemburu yang selama ini terus ditekan oleh Kakashi semakin membesar.
Dan kini gara-gara lelaki itu Naruto pergi meninggalkannya, gara-gara lelaki itu hubungannya terdapat banyak celah, dan gara-gara lelaki itu... Shina hadir.
Pernah Kakashi berfikir jahat tentang kenapa tidak digugurkan saja kandungan Naruto sejak dulu atau paling tidak kenapa Naruto tidak membicarakan ini dengannya, siapa tau Kakashi akan menerima kehadiran bayi mungil itu dan mereka menjadi keluarga yang sebenarnya.
Kakashi mengakui jika dia egois. Ya, egois adalah sifat manusia.
Marah sifat manusia.
Iri sifat manusia.
Dan cemburu juga sifat manusia.
Kakashi mengeram layaknya macan kumbang, dengan mata yang memerah kerena marah.
Itukah sosok keluarga yang sebenarnya.
Kakashi berdecih pelan, tangannya mencengkram kemudi dengan erat. Mencoba meredam amarahnya yang seakan menembus ubun-ubun.
Helaan nafas berat terdengar. Kakashi memutuskan untuk keluar dari mobil. Tubuh yang terbalut jas formal berwarna hitam dengan dasi berwarna biru muda bersender nyaman dimobil, memandang datar tiga orang yang kini berjalan kearahnya. Kakashi dengan setia memakai poker face andalannya.
Dia tau jika Naruto merasa risih dan itu cukup untuk membuat segaris tipis seringai diwajah Kakashi.
''Selamat pagi, Naru,'' dengan tiba-tiba Kakashi menarik lengan Naruto, mencium pipi gadis itu tanpa menghiraukan jika ada dua orang yang kini memandangnya. Kakashi merasa dirinya HARUS memberikan peringatan nyata pada Sasuke, bukan hanya perkataaan tapi juga tindakan. Walaupun dia tau jika itu tidaklah perlu, mereka bersahabat, tentu saja. Tapi taukah kalian jika Kakashi merasa takut dengan keberadaan Sasuke, walaupun pemuda didepannya itu tidak mempunyai hak apa-apa. Tidak Naruto, tidak Kushina. Sasuke tidak berhak atas mereka.
''Kakashi!'' sungut Naruto, wajahnya memerah sempurna gara-gara tingkah abnormal dari mantan pacarnya, dirinya malu juga gugup saat melihat Sasuke yang mengernyit terganggu. Dan ditambah lagi dengan adanya Shina yang memandangnya heran, mungkin lain kali Naruto akan membicarakan tentang 'serangan-menyerang' yang sering dilakukan Kakashi ditempat umum ditambah lagi dengan kehadiran Shina disini. Demi Tuhan, Shina itu masih polos.
''Ohayou, Paman Kakashi,'' Shina dengan riang menyapa Kakashi, alih-alih mendekati Kakashi seperti biasanya, Shina lebih memilih berdiri disamping Sasuke.
''Ohayou, Shina-chan,'' Kakashi tersenyum dibalik maskernya, memandang Shina yang kini menggenggam jemari Sasuke. Shina tidak pernah memandangnya tanpa pertahanan khas Uchiha. Batin Kakashi kesal.
''Hari ini aku diantar paman Sasuke kesekolah,'' aku ingin pamer. Lanjut Shina dalam hati.
''A-ano, sebaiknya kita berangkat nanti bisa terlambat,'' Naruto berkata gugup, sedikit takut dengan emosi yang mulai dikeluarkan oleh Kakashi, Naruto paham, jika ini dibiarkan berlanjut bisa dipastikan akan terjadi perkelahian.
Kakashi bisa sangat jahat jika dia mau, dan Naruto tidak ingin itu terjadi. Naruto mengutuk sikap Sasuke yang seolah menantang balik Kakashi, dengan sikap angkuh, dagu yang sedikit terangkat dan roman datar. Tak taukan jika Kakashi bisa menjadi banteng pemarah jika sudah seperti ini.
Naruto meremas jemarinya yang kini mendingin, atmosfir ini membuat nafasnya sesak. ''Shina, cepat naik kemobil.''
Shina memandang balik Mamanya, tersenyum lalu mencium kedua pipi Naruto sayang. ''Aku berangkat.''
''Hati-hati.''
''Kau ikut denganku,'' desisan suara berat membuat aliran darah Naruto serasa menguap. Kakashi, dengan bahasa tubuhnya mengorbarkan peperangan.
Mau tak mau Naruto mengangguk meng-iya-kan, dirinya memilih menuruti perintah Kakashi dibanding jika harus melihat wajah penuh amarah lelaki tersebut. Sekilas Naruto memandang Sasuke dari ekor matanya. Pandangan sasuke tidak berubah, menyorot tajam Kakashi dengan tangan berada disaku celana.
Rasa cemas tak urung berhenti saat Naruto memasuki mobil malah semakin membesar disaat dirinya melihat ketegangan diantara dua orang lelaki berbeda usia di luar mobil. Terlihat membicarakan sesuatu dengan serius.
Apa? Apa yang mereka bicarakan?
''Berhentilah bersikap plin-plan, kau hanya akan menyakiti Naruto.''
Kakashi berhenti berjalan lalu kembali berbalik, tersenyum dengan sikap arogan yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun. ''Tau apa kau?'' dirinya paham jika Sasuke lebih memilih berbicara saat Naruto tidak ada disekitar mereka.
Sasuke memandang datar tak terlihat emosi sama sekali. ''Bukankan putri angkat keluarga Senju lebih membutuhkanmu?''
Onix Kakashi membulat begitu mendengarnya tapi kemudian wajahnya kembali seperti semula. ''Dari mana kau tau?''
''Ck, apa yang kau harapkan dari putra tunggal keluarga Hatake dan Senju, heh?'' cibir Sasuke, dirinya segera berbalik saat mendengar bunyi pintu mobil terbuka diikuti dua kaki mungil yang terbalut sepatu hitam hendak turun. ''Berhentilah menyakiti Naruto, Kakashi.''
Genggaman tangan Kakashi mengerat, geraman pelan terdengar dan mata memerah menyorot pungggung tegap Sasuke. ''Kaulah yang menyakiti Naruto selama ini,'' dan setelahnya Kakashi berlalu cepat, memasuki mobil dan mengendarainya dengan suara keras.
Sasuke tersentak kaget. Sedikit rasa bingung tumbuh dikepalanya. Apa maksud dari ucapan Kakashi sebenarnya. Siapa yang menyakiti siapa? Tidak mungkin dirinya yang baru bertemu bisa menyakiti hati Naruto, yang ada adalah Kakashi yang pernah meningalkan Naruto selama ini. Batin Sasuke.
~o~
Raungan mesin mobil terdengar menakutkan, membelah keramaian jalanan Konoha yang disesaki oleh orang-orang yang memulai aktifitasnya.
Kakashi semakin memacu kecepatan mobil yang dikendarainya. Tangannya mengepal erat dikemudi sedangkan mata tajamnya menyorot jalanan.
Kakashi merasa akan meledak sekarang juga. Dirinya merasa ditipu, merasa dipermainkan oleh Naruto. Cintanya... Hatinya...
Kakashi mengeram layaknya seekor macan kumbang, gambaran keluarga bahagia tanpa dirinya mendesak logikanya. Hatinya bergemuruh iri.
Shina tidak pernah memandangnya seperti dia memandang Sasuke. Kekaguman bukan tatapan curiga.
Kecepatan mobil bertambah semakin cepat. Mengabaikan seorang perempuan yang kini mencengkram sabuk pengaman dengan erat. Seolah hanya barang itu yang menjadi penyelamatnya. ''Kaka-'' cicit Naruto.
Tubuh Naruto tersentak kedepan dan dengan cepat tertarik kebelakang lagi akibat sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya.
Hening menyapa. Hanya terdengar nafas berat milik Kakashi juga suara kendaraan yang berlalu-lalang. Naruto perlahan membuka mata dan pepohonan tak bergerak juga tembok tinggi menjadi hal pertama yang dilihatnya. Kakashi memarkir mobilnya disamping lapangan Konoha.
Jantung Naruto terasa berdetak kencang, berdetum seolah ingin meloncat ketenggorokannya saat melihat Kakashi yang kini terpuruk, meletakkan dahinya dijendela mobil dengan punggung yang naik turun.
''Kaka-'' jemari Naruto terulur menyentuh pundak Kakashi, dirasanya tubuh tegap itu tersentak pelan. ''Maaf kan aku.''
Ketahuilah, sejak dulu, sejak mereka masih bersama dan menjalin kasih. Narutolah orang pertama yang selalu meminta maaf, selalu Naruto yang mengalah dan menekan sisi egoisnya, selalu Naruto yang mengimbangi sisi buruk Kakashi. Dan sekarang juga seperti itu. Naruto kembali menjadi orang pertama yang meminta maaf.
''Kau menyakitiku Naru, sikapmu itu membuatku sakit,'' bisik Kakashi.
Naruto tersentak kaget saat mendengar tuduhan tersirat dari Kakashi. Teganya Kakashi berkata seperti itu. Kekehan frustasi terdengar. ''Lalu aku harus bagaimana? Mereka bertemu tanpa kutau. Mereka dekat tanpa kuminta. Dan sekarang kau menyalahkanku. Kau pikir aku tak takut? Kebohongan ini, semua ini, membuatku sakit,'' lirih Naruto.
''Tapi gara-gara laki-laki itu kau meninggalkanku dan gara-gara itu juga Shina lahir!'' teriak Kakashi, nafasnya tersegal-segal. Masker yang biasa dipakainya tertumpuk dilehernya, matanya memerah. Kini apa yang sekian lama tersembunyi didadanya terucap sudah. Dengan kasar dia mengusap wajahnya.
''Lalu-'' bisik Naruto, ''-jika dulu aku mengatakan padamu, aku yakin kau akan memintaku menggugurkannya. Jadi apa bedanya aku memberitahumu atau Sasuke kalian mungkin akan memintaku membunuh anakku sendiri. Jadi sama saja,'' Naruto memandang lurus kedepan, dia tidak ingin melihat wajah Kakashi saat butiran air mata mengancam jatuh. Dirinya tak mau terlihat lemah didepan laki-laki. Dia harus kuat.
Kakashi mencengkaram lengan Naruto agar wanita itu memandangnya kembali. ''Tapi bukan berarti kau bisa melarikan diri seperti ini,'' Kakashi mengeram. Sisi egoisnya merasa terpukul mendengar perkataan Naruto.
''Lalu apa yang bisa aku dapatkan dari kalian berdua? Kecuali sikap egois yang selalu kalian banggakan. Apa itu yang bisa membuatku lebih baik. Kau tau Kakashi, tak mungkin aku membunuh anakku sendiri, darah dagingku sendiri walaupun itu hasil kecelakaan. Tapi aku tak peduli, bagiku Shina adalah hadiah yang terbaik. Jadi aku tak mungkin membiarkan kalian berdua memisahkan kami. Kau tidak tau perjuanganku mengandungnya, melahirkannya lalu membesarkannya seorang diri. Tidak Kakashi, jika kau tidak mengiginkan salah satu diantara kami,'' Naruto mengambil nafas saat hatinya bergemuruh hebat, dia- ''pergilah menjauh,'' -berujar mantap.
Kepala Kakashi bagai dipukul palu godam saat mendengarnya, berdenging dan terasa berat. Tidak mungkin, tidak mungkin dia akan melepaskan Naruto setelah sekian lama dia mencarinya. Tidak, dia tidak akan melepaskan Naruto, tidak untuk Sasuke ataupun lelaki yang lainnya.
Tangan Kakashi menarik Naruto reflek, lengan kokohnya segera melingkar penuh rasa kepemilikan atas tubuh dalam pelukannya. Bibirnya segera mengecup puncak kepala Naruto berkali-kali, berbisik lembut meminta maaf. ''Kumohon jangan menyuruhku pergi. Aku minta maaf kalau selama ini membuatmu berjuang sendiri, maafkan aku Naruto.''
Kakashi tidak hentinya berbisik dikepala Naruto, dirinya merasa takut bila harus kehilangan Mataharinya lagi. Hari-hari suram kembali membayang diingatannya. Hidup tanpa Naruto lagi. Dia tak yakin mampu.
Kali ini dengan semua kekuatan yang dimilikinya, dia akan menjaga Naruto. Kali ini bertiga. Ya, dirinya, Naruto dan Shina.
''Benar, Shina-chan tidak mau ikut. Mama pulangnya malam lho.''
''Na-na.''
''Tapi nanti Shina-chan dirumah sendiri,'' untuk kesekian kalinya Naruto mencoba meluluhkan hati Shina agar ikut makan malam dengannya dan Kakashi. Tapi apa daya gadis mungil itu tetap keukeuh menolak permintaan Sang Mama.
''Mama pergi saja, aku berani sendiri dirumah,'' kata Shina yang kini memilih menonton video musik klasik yang diputar lewat DVD.
Entah kenapa Naruto begitu yakin jika anaknya menyembunyikan sesuatu, tentu saja sebagai orang tua Naruto bisa mengetahui sifat anaknya yang tidak mau memandang matanya saat ini. Apalagi saat pertama dia menyakannya Shina terlihat berfikir keras lalu membuat tanda silang 'X' dengan tangannya dan berkata, ''tidak, aku tidak mau ikut,'' dengan yakin.
Naruto menghela nafas pelan, entah apapun yang disembunyikan Shina semoga tidak membahayakan nyawanya. ''Baiklah, mama akan menyiapkan makan malam dulu ya.''
''Ya, terimakasih.''
Beberapa menit berlalu dengan cepat saat bunyi bel pintu memecahkan suara.
''Shina buka pintunya!'' kata Naruto sambil menoleh hanya untuk mendapati anaknya telah menghilang. ''Tumben dia secepat itu,'' Naruto hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah anaknya.
Tawa renyah diikuti cekikikan membuat Naruto mengernyit heran, tidak biasanya Shina terdengar begitu gembira seperti ini. Setelah mematikan kompor, Naruto segera berjalan menuju kamarnya, mengambil dompet dan ponselnya juga memastikan penampilannya tidak berantakan.
Gaun biru muda selutut dengan obi hitam yang membalut tubuh Naruto bergemerisik pelan saat dirinya melangkah, surai pirangnya dia kepang longgar dengan beberapa anak rambut membingkai wajahnya juga polesan make-up sedehana yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya, Naruto terlihat menawan.
Tapi kejutan kecil menantinya.
''Sa-suke?'' ucapnya heran. ''Kenapa disini?''
Tentu saja, ini menjadi kejutan kecil yang membuat hatinya berdesir. Alih-alih Kakashi yang menjemputnya melainkan Sasuke yang kini terlihat begitu akrab dengan Shina yang berada dipunggungnya
''Mamaaa...'' Shina berteriak senang saat melihat mamanya kebingungan, tubuh Shina berlonjak-lonjak layaknya kuda pony dipunggung Sasuke.
Naruto berjalan mendekat saat melihat Sasuke yang kesusahan menahan tingkah liar gadis cilik tersebut apalagi Shina semakin riang menggapai tangan Naruto. ''Shina hati-hati, kau bisa jatuh. Ayo turun.''
Shina merengut. ''Aku tidak mau,'' dan semakin memeluk erat leher Sasuke.
Naruto menghela nafas. ''Sasuke kenapa ada disini?''
''Bukannya kamu yang memintaku kesini?'' Sasuke balik tanya membuat Naruto mengernyit heran. Kapan dia meminta Sasuke datang?
Sekelebat ingatan membuatnya memandang sosok kecil dibalik punggung Sasuke, berusaha membuat tubuh mungilnya tidak terlihat dari Naruto.
''Shina?''
Gadis itu semakin menyembunyikan dirinya.
''Apa benar Shina-chan yang meminta Paman Sasuke kesini?''
Suara gerundelan kecil menjawab semuanya. Bibir Shina semakin mengerucut kesal saat Sasuke menoleh kearahnya dengan pandangan datar ditambah pandangan mamanya yang membuatnya terlihat seperti anak nakal.
Dengan isyarat tubuhnya yang mendorong-dorong kecil, Shina meminta Sasuke untuk menjahui mamanya, tapi sayang sosok dewasa tersebut tidak beranjak secentipun. ''Uhh.. Iya, aku mengaku. Aku yang mengirim E-mail kepaman Sasuke saat mama mandi dan aku yang meminta paman Sasuke kemari. Habis mama-kan mau pergi jadi aku meminta paman Sasuke menemaniku, jadi aku tidak sendiri dirumah. Lagian paman Sasuke tidak keberatan''
Ucapan Shina berhasil membuat Sasuke melotot. Setan kecil ini berusaha mengelabui orang-orang disekitarnya. Pantas saja jika Naruto langsung memijat dahinya yang terasa berdenyut. Shina benar-benar nakal.
''Shina itu tidak boleh, siapa tau paman Sasuke sibuk?''
Saat Sasuke hendak menjawab pertanyaan Naruto Shina lebih dahulu menyela.
''Buktinya, paman Sasuke menemaniku disini, jadi paman Sasuke tidak sibuk.''
''Tapi tetap saja itu tidak boleh,'' ucap Naruto putus asa. ''Maaf ya, Sasuke?''
''Hn.''
''Ayo, Naruto,'' suara Kakashi tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka. Membuat Naruto terlonjak kaget apalagi Kakashi dengan santainya bersandar pada pintu seolah tak terjadi dan tak melihat apapun yang bisa memancing emosinya meledak.
''Selamat malam, Paman,'' seru Shina dari balik punggung Sasuke.
''Selamat malam, sayang. Kau tidak ikut dengan kami?'' tanya Kakashi saat melihat Shina yang hanya memakai pakaian rumah, celana pendek dan kaos merah tua.
Shina menggeleng pelan. ''Aku ada janji dengan paman Sasuke, hehehe,'' gelaknya saat Kakashi mengusap surai Shina lembut.
Sedikit rasa heran melanda Sasuke, kenapa Kakashi menjadi seperti ini, bila mengingat dua hari yang lalu Kakashi seolah akan menelan tubuh Sasuke bulat-bulat.
''Kami pergi dulu, tolong jaga Shina ya, Sasuke,'' pinta Kakashi seolah dirinya adalah ayah sebenarnya bagi Shina.
''Hn,'' Sasuke menatap tajam Kakashi, setitik rasa yang tidak diketahui apa namanya mulai tumbuh dihatinya.
Panas. Dan sesak.
''Kami pergi dulu ya. Kalau mau makan sudah aku siapkan. Dan kami tidak akan pulang terlalu malam. Kami akan membawakan oleh-oleh juga ''
''Hn/Ya.''
Pintu tertutup pelan, hanya untuk kembali terbuka didetik kemudian. Naruto berdiri berkacak pinggang. ''Shina jangan menyusahkan Paman Sasuke ya. Dan Sasuke tolong jaga Shina.''
''Hn/Ya.''
''Baiklah, aku berangkat.''
''Hati-hati.''
Kali ini pintu tertutup kembali, menyisakan Sasuke dan Shina yang masih berdiri ditempat semula. ''Jadi apa yang akan kita lakukan heem, Anak Nakal?''
Tawa riang Shina terdengar kembali saat Sasuke dengan sengaja menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri seolah akan menjatuhkan Shina dari punggungnya. Bukannya takut Shina malah semakin keras tertawa dan berteriak heboh.
''Main game, nonton musik, bermain piano tapi MAKAN DULUUU...'' teriak Shina yang diikuti kekehan pelan Sasuke. Benar-benar, setan kecil ini adalah copy paste dari Naruto.
Kaki Shina mengayun pelan dengan tangan yang terbentang menggapai sisi tembok koridor.
''Apa yang kita dapatkan disini?'' tanya Sasuke setelah menurunkan Shina disamping wastafel. Mereka berebut sabun cair bahkan berebut air saat membilas tangan dengan kekanakan. Shina tertawa gembira karenanya, apalagi Sasuke dengan kekuatan supernya kembali menggendong Shina dipunggungnya.
''Jadi? Apa menu kita?'' tanya Sasuke sambil bertolak pinggang.
''Hihihi, sup tomat dengan bola-bola daging, tempura goreng dilemari makanan-'' Sasuke beranjak mengambil tempura dilemari, ''-dan jus tomat dilemari es-'' dengan cekatan Sasuke mengambil dua gelas kosong, membuka lemari es lalu menuangkannya dimasing-masing gelas yang kini dibawa Shina.
''Hei, gadis muda. Kenapa enak-enakan saja, seharusnya kau membantuku,'' suara datar Sasuke kembali memecahkan kantong tertawa Shina, gadis cilik itu terkikik mendengarnya.
''Aku sudah membantu, ini,'' Shina menunjukan dua gelas berisi jus tomat ditangannya.
''Kau suka tomat?'' tanya Sasuke saat lelaki itu menurunkan Shina lalu kembali untuk mengambil sup tomat diatas kompor.
Shina mengangguk walaupun dia tau Sasuke mungkin tidak melihatnya. ''Tentu, tomat itu enak. Paman juga suka tomat?''
''Hn.''
''Sudah?''
''Iyaa... Saatnya berpesta.''
Sasuke hanya tersenyum mendengar celotehan Shina, memang telinganya bisa berdenging saat mendengar teriakan Shina tapi dia tidak bisa memungkiri jika ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Rasa hangat yang membuat dadanya terasa mengembang. Sama seperti yang selalu dia rasakan bila bersama dengan Naruto. Tidak, ini lebih menyenangkan.
Dia menepuk pelan puncak kepala Shina, melihat gadis cilik itu meletakan lauk-tempura goreng- dimangkuk nasinya. Entahlah dia juga bingung mengatakannya. Dia merasa bangga. Anehkah?
''Selamat makan.''
.
Hidup Sasuke itu datar-datar saja, lurus tanpa ada kesulitan yang berarti, juga tidak ada turunan atau tanjakan yang membuat dirinya kesusahan. Coba katakan kehidupan Sasuke yang sempurna alias monoton itu saat ini, pasti lelaki tampan itu akan memberikan delikan maut padamu.
Sekarang ini kehidupan Sasuke tak ubahnya seperti wahana jet coster, naik secara perlahan lalu turun dari ketinggian beberapa meter diatas laut tanpa peringatan dengan sangat cepat. Bahkan dia yakin ini belum seberapa.
Jika saja dapat memutar waktu maka Sasuke lebih memilih mengantarkan Shina ketempat dimana Naruto dan Kakashi berada dimanapun, dimanapun itu dia akan mengantarkan Shina. Jika saja waktu dapat diulang dia lebih memilih mengabaikan Email yang masuk keponselnya yang ternyata dari Shina. Jika waktu dapat diputar maka dia tak akan terjebak dalam situasi ini.
XXX
Setelah menyelesaikan makan malam, Sasuke memilih bersantai dengan mendengarkan berita ditelevisi sedangkan Shina mengerjakan pekerjaan rumahnya dikamar.
Sebenarnya bukan sifat Sasuke yang suka melihat-lihat barang milik orang lain tanpa izin. Tapi salahkan rasa penasaran yang tercuri saat melihat ruangan milik Naruto. Dia belum sempat melihatnya dengan seksama selama ini.
Sasuke berjalan mengintari setiap sudut, walaupun tempat ini tergolong sempit, tapi sepertinya Naruto berhasil mensiasatinya. Hingga pandangannya terpusat pada colorful piano disalah satu dinding kosong.
Lukisan piano dengan keyboard sewarna pelangi, not-not balok, juga gambar anime tomat membuat dirinya tersenyum tipis.
Oh Tuhan... Berapa kali dalam dua jam terakhir dia tersenyum seperti ini. Hanya beberapa saat dia bersama dengan Setan Cilik itu wajah datar khas Uchiha miliknya hampir runtuh.
Tapi ingatan dimana Shina menyanyikan lagu anak-anak diiringi suara piano imajinasi selalu sukses membuatnya tersenyum. Gadis cilik itu terlihat begitu menikmati bermain piano seolah itu adalah piano sungguhan bukannya lukisan yang bahkan terasa datar. Sasuke dan Naruto hanya bisa menggeleng tak percaya mendengar Shina begitu antusias memperlihatkan kemampuannya pada Sasuke. Jadi malam itu-pertama kali datang- Sasuke duduk disofa dengan Naruto disampingnya. Mendengarkan suara jernih Shina.
Sasuke tidak menyadari jika saat itu juga hatinya berjanji akan membelikan piano sungguhan pada Shina.
''Paman bisa tolong aku,'' teriakan Shina menyadarkan lamunan Sasuke.
Decihan samar terdengar saat Sasuke merasa dirinya terlalu melankolis hari-hari ini.
''Pamaaaan.''
''Hn.''
Sasuke membuka pintu kamar Naruto pelan. Dia merasa malu saat melakukannya. Dia lelaki dewasa tapi bukan berarti dia bisa memasuki kamar seorang wanita semaunya sendiri.
''Ada apa Shina?''
Shina menoleh mendengar suara paman kesayangannya. ''Bisa ambilkan buku itu paman,'' tunjuk Shina kesalah-satu buku yang berada rak paling atas.
''Ini?''
''Bukan, yang orange.''
''ini?'' sasuke mungulurkan album tebal yang diterima Shina dengan senang hati.
''Makasih paman,'' Seru Shina.
''Hn,'' Sasuke mengernyit memandang map biru muda, usang dan familiar berada ditumpukan paling atas meja kerja Naruto. Perlahan Sasuke membuka halaman pertama. Sebuah gambar mengantarnya kemasa lalu. Ini gambar Naruto yang pertama kali diperlihatkan pada Sasuke. Gambar kedua, gambar ketiga-
''Paman~''
Sasuke segera mengalihkan pandangannya pada pada Shina.
''Paman... Aku panggil kok diam saja. Jangan pegang-pegang itu, mama bisa marah,'' rengut Shina.
''Hn,'' guman Sasuke, sedikit tak rela saat dirinya meletakan map biru muda pemberiannya ketempat semula. Ya benar, benda itu adalah pemberiannya saat Naruto berumur enam belas tahun.
''Ayo paman. Aku kasih lihat foto-fotoku.''
''Ah, sebentar Shina.''
Getaran disaku celananya membuat Sasuke urung untuk mengikuti Shina. Laki-laki itu memilih mengangkat telefonnya. Perbincangan singkat terjadi.
''Shina, paman harus pergi,'' kata Sasuke, dirinya dengan terburu-buru keluar dari kamar sedangkan Shina langsung mengikuti dibelakangnya.
''Kemana paman?''
''Paman harus menjemput pacar paman-''
''Aku ikuut.''
Sasuke memandang Shina seolah gadis cilik itu baru saja berkata aneh. ''Tidak boleh, aku akan mengantarmu ketempat Naruto,'' larang Sasuke.
''Tidak. Mau,'' Shina dengan keras kepala meminta ikut. Tangannya mencengkram jaket kulit Sasuke. Tidak dia masih ingin bersama Pamannya.
Sasuke mendesah keras. Demi Tuhan, bocah iniii...
''Aku mau ikut pamaaann~''
Sasuke berusaha tidak memandang Shina. Dia tau dan sangat tau jika saat ini Shina tengah mengiba padanya.
Cih, turunan Naruto benar-benar menyusahkan.
''Okey. Kau ikut,'' erang Sasuke.
Tuhann... Dirinya itu Uchiha tapi kenapa bisa kalah dengan Uzumaki.
''Ahhh... Aku suka paman,'' jerit Shina, dirinya segera berlari kedalam kamar untuk mengambil jaketnya. ''Paman tunggu aku ya.''
''Hn.''
Sasuke menghela nafas pelan. Dia tidak tau ekspresi apa yang akan diperlihatkan Karin. Apa wanita itu akan marah lalu mengutuknya atau lebih parahnya lagi malah memutuskannya. Sasuke sama sekali tidak tau.
''Aku siap, aku siap, aku siap.''
Sasuke menoleh.
Untuk beberapa kali malam ini Sasuke merasa dadanya berpacu cepat. Selalu ada hal yang diperbuat Shina berefek tak normal pada sistem kerja tubuhnya.
''Shina i-ini milik siapa?'' tangan Sasuke menyentuh hair-pin yang dikenakan Shina ragu. Jantungnya berdetum menggila.
''Ini?'' Shina melepas hair-pinnya lalu memperlihatkannya pada Sasuke. ''Milik mamaku, tapi asalnya dari nenekku, lalu diberikannya pada mama. Sebenarnya itu sepasang, tapi mama lupa menaruhnya dimana. Baguskan.''
Sasuke tidak terlalu mendengarkan perkataan Shina, kepalanya terasa penuh. Apakah kebetulan itu ada. Sasuke meneliti hair-pin tersebut dan saat membaliknya Sasuke jadi semakin yakin jika dia mempunyai benda yang begitu mirip dengan hair-pin ini. Terlindungi berudu hitam dan tersembunyi disudut terdalam lemari bajunya.
Hair-pin perak dengan kelopak bunga berwarna biru dan putik berwarna merah. Juga inisian 'UK' dibelakangnya.
XXX
''Bisa jelaskan ini?'' seorang wanita bersurai hitam dengan bola mata hijau melotot garang. Suara gemerincing dari gelang perak terdengar saat wanita itu dengan anggun mengibaskan rambutnya. Berdiri berkacak pinggang dengan mata yang tidak hentinya melotot pada gadis kecil manis dan terlihat tanpa dosa didepannya.
Mengerjab imut, Shina memiringkan kepala. ''Selamat malam?''
''Ka-kau... Arrghh hentikan tatapanmu itu bocah, aku tidak akan tertipu,'' desis Karin.
Mengabaikan satu sosok lelaki tampan yang hanya bisa mengurut pelipisnya yang terasa pening. Tuhan... Batin Sasuke.
''Bisa kalian diam?'' Sasuke menatap tajam Karin -Kekasihnya- sedikit rasa tak suka Sasuke muncul tiba-tiba saat kekasihnya itu membentak Shina.
Dan Shina bukanlah anak kecil bodoh, cengeng, dan tak peka terhadap sekitar. Jangan heran Shina adalah turunan dari Uchiha, jadi dia tau jika ada
orang yang lagi-lagi tidak menyukainya.
''Dan sebenarnya kau disini untuk bekerja atau menjadi baby sister sih?''
''Terserah kalian saja. Shina ini Karin, pacar paman. Dan Karin ini Shina, putri Naruto.''
.
.
.
TBC
.
.
.
Side story:
''Mama, kenapa paman Sasuke belum datang juga? Jangan-jangan paman Sasuke lupa kalau hari ini mau mengantarku kesekolah.''
Shina duduk cemberut didepan televisi, wajahnya sama sekali tidak bersemangat. Tangannya memainkan tali rambut dimeja dengan bosan.
''Paman Sasuke mana, Ma?''
''Tunggu sebentar Shina. Mungkin paman Sasuke masih dijalan,'' naruto memutar mata bosan, sejak Shina bangun pagi hal pertama yang ditanyakan putrinya adalah ''Apa Paman Sasuke sudah datang?'' bahkan saat itu SHina belum sepenuhnya bangun.
Tuhan... Kedekatan mereka benar-benar membuat jantungan Naruto. Mungkin tanpa mereka sadiri ada ikatan batin yang membuat Shina tidak mau berjauhan dengan Sasuke. Tapi bagaimana dengan Sasuke sendiri, apa lelaki itu juga merasakan ikatan batin yang sama dengan Shina.
Naruto kembali merenung, apa yang akan dilakukan Sasuke jika tau Shina adalah darah dagingnya. Membuangnya, mencaci-maki Naruto. Badan Naruto merinding membayangkannya. Dia tidak sanggup bila itu menjadi kenyataan.
''Paman-paman...''
Naruto menoleh mendengar teriakan Shina. Sepertinya dia terlalu sibuk melamun hingga tidak menyadari jika Sasuke sudah tiba dan duduk nyaman disofa.
Huufft.
''Sasuke, selamat pagi.''
''Hn, pagi,'' jawab Sasuke datar.
''Paman, sarapan disini saja nanti berangkat sama-sama,'' kata Shina. ''Bisa bantu aku mengikat ini paman?''
Sasuke memandang Shina datar.
''Ah, biar mama saja, Shina. Setelah ini selesai,'' sahut Naruto dari dapur.
''Paman bisa tidak?'' Shina menyeringai kearah Sasuke sambil memperlihatkan tali rambut ditangan kiri dan sisir ditangan kanan. ''Tentu tidak bisa,'' dengan nada mencemooh.
Dalam hati Sasuke menggerutu. Bocah ini pintar sekali menyentuh ego Uchiha.
''Siapa bilang,'' desis Sasuke.
''Ooo.. Tentu saja kenyataan.''
Sasuke segera merebut sisir juga ikat rambut Shina yang menuai kikik geli dari Si Empunya. ''Sini.''
Shina segera berbalik membelakangi Sasuke. ''Sisir dulu yang rapi dibagi dua lalu diikat. Selesai. Simple dan mudah,'' celoteh Shina mengabaikan Sasuke yang kini menatap tajam ubun-ubun kepalanya seakan ingin melubanginya.
Okey, Sasuke mengaku bingung saat ini. Bagian mana yang harus dibagi. Mengerjakan soal olimpiade matematika terasa lebih mudah ketimbang apa yang dilakukannya saat ini. Ketahuilah Uchiha itu miskin perempuan jadi tidak ada salahnya jika saat ini Sasuke tengah melotot dengan kening berkerut tajam.
Naruto menepuk dahinya dengan dramatis. Demi apa hingga Sasuke-Ice Prince, Prodigy Uchiha dan julukan yang lainnya-bisa tertipu dan termakan dengan kejahilan anaknya.
.
.
.
AN:: terimakasih buat teman-teman yang menunggu fic ini update. Pasti kesel ya karena fic buatanku selalu ngaret.. Maaf ya teman-teman.
Aku harap kalian puas dengan chapter ini, sedikit takut kalau chap ini akan bertele-tele khas sinetron.
Insyaalloh OMCONS nggak sampai belasan chapter, mungkin tinggal beberapa chapter. Kalau ada yang protes kenapa sasunaru nggak dapet porsi, gantianlah, kemarin kan naruto, sekarang kakashi dan sasuke. Rencananya chapter selanjutnya full sasunarushina*ups.
Mumpung disini*jiah. Silahkan pilih mana ficku yang diupdate dulu.
1. The bride for my doctor
2. The story of uchiha: sugar daddy
3. My baby, your baby and his baby
4. Hinata aku ingin kamu
Balasan review yg nggak login.
Guest: maaf telat update, semoga chapter ini tidak membosankan. Aiska hime-chan: ditunggu aja, akan jadi sama siapa pairnya. Hehehe :). Sely-chan:ini udah update, maaf terlambat. Ikutin aja ceritanya. Naruko uchiha: jadi aku berhasil dong buat cerita dengan ide umum jadi tidak umum*bingung.. Tapi makasih sudah baca fic ini. Guest: ah, terimakasih*melayang. Mereka belum punya perasaan apapun. Iya itu kakashi, maklum doi lagi galau maxsimum. Rey: yap, kecuali rasa persahabatan. Cara nyatuinnya. Ikutin aja terus. :). Guest: udah update ini. misa: ahh, seneng deh ada yang suka fic ku. Sudah update ini. rey ai3rien: salam kenal juga, jangan rambut sasuke itu mahhall*plak. 123: udah aku update. princessblue: benarkah? Semoga chapter ini bisa membuatmu semakin penasaran. Salam kenal juga.
Yg login aku bales lewat PM.
Terima kasih buat silent reader, fav, follow. Review. Bagiku kalian yang terbaik...
Salam kenal buat teman-teman baru.
Review dan concritnya saya tunggu ya.
.
.ageha haruna.
