-Mirror-
by Creativeactive
-;-
Vocaloid © Yamaha Corporatin etc
Hatsune Mikuo x IA-Aria on the Planetes
Rate: 13+
.
.
.
Two
.
.
.
Pernah mendengar Vocaloid?
Pasti pernah. Kalau tidak, silahkan kalian cari tahu sendiri lewat mesin pencari Google. Karena maaf, aku tidak berniat menjelaskannya di sini.
Right now, biar kujelaskan posisiku sekarang. Pada siang hari membosankan yang cerah ini, aku duduk di pelataran taman belakang sekolah bagian pojok. Tidak, tidak, aku bukanlah anak anti-sosial—Oke, mungkin sedikit. Aku hanya tidak suka tempat ramai, kafetaria, misalnya. Aku juga tak suka berada di tengah-tengah, menjadi pusat perhatian atau semacamnya. Malahan, aku anti dengan hal seperti itu. Terserah kalian mau menghinaku maupun mencercaku, aku tidak peduli. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku, that's all.
Dan kalian jujur saja, makanan di kafetaria itu tidak seenak makanan dari rumah bukan? Itulah alasan kenapa aku selalu membawa bekal. Aku tidak peduli jika para anak cowok suka mengataiku 'banci' dan 'anak Mama'. Itu hanya omongan bodoh, aku tidak mau membuang tenaga untuk sekedar peduli.
Waktu itu… kalau dipikir-pikir, untuk apa aku makan di kafetaria? Kenapa aku tidak makan di rooftop sekolah saja? Tapi, ah, aku lupa, tempat itu sudah di booking oleh banyak orang karena mereka keseringan nonton anime dan akhirnya ingin mencoba makan di rooftop. As you see, karena itu aku jadi terpaksa mencari tempat lain untuk jadi tempat 'keramat'ku. Tempatnya harus sunyi, tidak banyak‒atau lebih baik, tidak ada‒manusia, dan tempat itu sebaiknya mendamaikan.
Maka, kukerahkan seluruh tenagaku untuk menjelajah sekolah, lebih banyak menggunakan otak untuk mengingat-ingat peta sekolah ini. Dan kau wajib tahu, mencari sesuatu yang kau inginkan itu tidak mudah. Cukup sulit sih, menurutku. Tapi ketahuilah, mempertahankan itu lebih sulit dari pada mencari.
Taman belakang sekolah adalah tujuan terakhirku. Kenapa? Karena kupikir tempat itu kotor, tidak terawat, terabaikan dan sangat tidak cocok dijadikan tempat kesendirianku. Tapi kawan, hidup memang selalu penuh dengan kejutan. Saat kupertama menancapkan pandangan, sekitarku seolah meneriakkan kata "Voila!", karena tanpa kuduga, ternyata tempat itu justru terlihat terawat, lumayan indah, menenangkan dan yang paling penting… tidak ada manusia.
And now, here I am. Tengah menyantap omelet isi daun bawang buatanku sendiri sembari mendengakkan kepala untuk memandang langit.
Pada hari itu, semua pasti akan jadi hari penuh rutinitas seperti biasa. Namun di hari itu, kurasa Tuhan ingin aku melihat sisi lain. Mungkin saat itu, Tuhan ingin menghukumku karena menjadi lelaki yang terlalu anti-sosial. Atau mungkin, Tuhan sedang murka kepadaku yang tidak pernah memedulikan sekitar. Yah, entah yang manapun itu aku tak peduli.
Satu kata yang muncul di kepalaku ketika melihat mahkluk itu adalah; membosankan.
Mahkluk itu berpigmen macam-macam, dasarnya putih, tutulnya coklat serta hitam bersih. Matanya berkedip-kedip kepadaku. Aku lalu mengalihkan pandangan. Hal-hal menggemaskan bukanlah seleraku.
"Jasper, kemari."
Oh, siapa manusia yang berani menganggu ketenanganku?
"Ayo, kemari, jangan ganggu senior." Suara itu berbisik. And yeah, aku tidak melihat siapa pemilik suaranya. Agak penasaran sih, tapi kalau aku beranjak dari duduk nyamanku hanya untuk melihat sang pemilik suara sepertinya, sayang, ya. So, kuputuskan untuk tetap diam, menikmati bekalku sambil bertenang-tenang diri lewat suasana.
"Hei, Jasper, kemarilah." Suara bisikannya lebih meninggi. Aku lalu dibuat mengerinyit. Kadang, aku heran dengan manusia yang suka berbicara dengan hewan. Memangnya hewan bisa mengerti bahasa manusia? Janganlah kalian mencetuskan tokoh Snoopy ataupun Dr. Doolittle padaku, itu hanyalah tokoh fiksi, aku berbicara realita di sini.
"Jaspeerrr…" suara itu semakin meninggi. Dan si mahkluk di sampingku ini tidak beranjak sama sekali.
Sesaat kemudian, sosok itu keluar. Dan jujur, aku langsung terpana melihatnya. Bukan, bukan karena ia cantik, melainkan karena dia… terlihat biasa saja.
"Kemarilah." Ujarnya seraya mengambil Gesper—atau apalah namanya aku tak peduli.
Makananku terus mendapatkan konsentrasi dari pemiliknya. Maksudku, untuk apa aku menggubris manusia yang hanya ingin mengambil kucing?
"Maaf menganggu, senpai."
Aku menatapnya sekilas. "Pergilah."
Kukira semuanya akan kembali normal, bertegur sapa kembali dengan rutinitas sempurnaku, namun sialnya, kejadian kemarin terulang lagi.
Dan lagi.
Setelah lebih dari tiga kali, aku muak.
"Apa maumu?" tanyaku ketika ia menggendong kucing Gesper (aku sudah bilang kan, aku tidak peduli siapa namanya) yang dari tadi berada di sampingku.
"Eh, ngga ada. Kenapa senpai berpikir seperti itu?"
Aku mengangkat bahuku. "Kejadian yang sama diulang lebih dari tiga kali. Kenapa kucing itu terus ke sini?"
Ia menatapku, alis berkedut. "Aku… juga ngga tahu. Jasper dari kemarin selalu lari ketika aku mengambilkannya makanan. Dan anehnya, dia selalu lari ke tempat ini."
Mataku memindai matanya, mendeteksi adanya kebohongan dalam getaran suaranya ataupun kilatan bola matanya. Tapi tak ada, nihil. Ia berkata jujur.
Saat kukira esoknya akan ada kejadian itu lagi, ternyata aku salah.
Gadis itu tak ada, tapi kucingnya ada. Aku mencari ke tempat di mana ia biasa menyembunyikan sosoknya dulu. Namun orang yang dicari tak ditemukan. Jangan tanya padaku kenapa aku mencarinya, karena aku sendiri juga tidak tahu alasannya.
Yang gila adalah, ketika beberapa tahun kemudian aku kuliah, kami bertemu dengan struktur kejadian yang sama. Karena seekor mahkluk sok menggemaskan bernama kucing.
Konyol.
Kami berdua berpandangan lama ketika melihat satu sama lain setelah sekian lama tak bertemu. Mulutnyalah yang pertama berinisiatif. "Senpai baik-baik?"
Aku mengangguk. Ia lalu duduk di sampingku. Dan kami tetap seperti itu sampai bermenit-menit lamanya. Tak ada yang bicara, hanya suara kucing sebagai perantara. Namun juga tak ada yang mengeluh, walau suasana terlalu bisu.
"Kau kuliah di sini?" Aku bertanya.
Ia menatapku, berkedip-kedip bagaikan kucing, bukan cewek genit. "Ya. Senpai juga kuliah di sini?"
Kuanggukkan kepala sebagai jawaban. "Siapa namamu?"
Ia menoleh lagi. "IA."
Aku menatapnya, datar. "Namamu terdengar konyol."
Sontak, ia tertawa lepas. Suara tawanya bagai dentingan lonceng-lonceng kecil. Merdu, halus, sederhana dan jujur. Biasanya, aku pasti akan langsung marah jika ditertawakan orang. Tapi bukannya marah, aku justru mematung, terpana sekaligus heran menyaksikan mahkluk Tuhan satu ini.
"Kau tahu, senpai? Kau adalah orang pertama yang berani mengejek namaku seperti itu." gadis itu kembali tertawa. "Ehm, tapi, kau boleh memanggilku dengan nama kecilku, Aria."
Aria. Nama asing yang… entah mengapa seperti sudah kukenal berabad-abad lamanya.
Hening kembali melanda, tidak ada yang memedulikannya, ia pasti kesal karena di-ignore terus.
"Senpai siapa?"
Dahiku mengerinyit. 'Senpai siapa?'. Kenapa dari semua pertanyaan, ia justru memilih bertanya 'Senpai siapa?'? Kenapa bukannya bertanya, 'Nama senpai siapa?'? Setidaknya itu kan pertanyaan yang lebih masuk akal.
"Atas dasar apa kau bertanya seperti itu?"
Tangannya bertopang dagu. "Penasaran."
"Kalau aku tidak berniat memberi tahunya?"
Matanya menatapku, lama. Seperti ada yang ingin ia sampaikan lewat mata. Kubalas tatapannya lama juga. Dan mendadak, aku seperti merasakan getaran magis menjalari kami berdua.
Kurasa, aku harus mempertanyakan kewarasanku.
"Tidak masalah," bibirnya menyunggingkan senyum sederhana, yang gilanya nyaris membuatku lupa bernafas. "Aku akan memberikan senpai nama panggilan."
Aku diam, ia pasti akan melanjutkan tanpa disuruh.
"Senpai Judes."
Enak saja.
"Atau Senpai RamRut."
"Apa tadi kau bilang?"
"RamRut."
"Apa-apaan itu?!"
"Singkatan. RamRut kepanjangan dari Rambut Rumput."
Kurang ajar.
"Bocah, ini peringatan, jangan pernah memanggilku dengan nama itu." ancamku.
"Bagaimana kalau Senpai Galak?"
"Hah?"
"Atau Senpai Tsundere."
"Kau…"
"Eh, tapi lebih bagus yang pertama. Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggil Senpai dengan nickname, Senpai Judes. Selamat tinggal, Senpai." Gadis itu lalu berdiri, meninggalkanku dengan satu kenangan yang anehnya takkan pernah kulupa.
Ya, bahkan sampai lima puluh tahun kedepan pun, aku yakin aku tetap akan mengingatnya.
