-Mirror-
By Creativeactive
-;-;-
Vocaloid Yamaha Corporation etc.
Pairing: Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes
.
.
.
Three
.
.
.
"Berangkat pagi sekali, tumben."
Kuhentikan kegiatanku sejenak. Tanpa menoleh juga aku sudah tahu siapa yang bersuara. Yang membuatku bergidik, dari mana bocah ini tiba-tiba muncul?
"Butuh bantuan? Sepertinya Senpai Judes keberatan membawa barang."
"Tidak berat. Dan aku tak butuh bantuan. Terima kasih." Aku langsung melenggang pergi. Menatap ke arah fakultas kampusku tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Ini semester terakhirku. Aku harus menyelesaikannya sebaik dan selekas mungkin.
Ketika kelas usai, aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Sisanya yang tak muat aku genggam di tangan. Aku meraih buku-buku favoritku untuk digenggam, menyisakan yang lain untuk mendekap di dalam ranselku.
Kucari buku hijau dengan stempel 'Jangan Buka' di sampulnya. Buku itu harus kupegang, itu jurnalku. Aku bisa gila bila tak ada benda itu. Kumuntahkan kembali isi ranselku, tapi tak ada buku hijau itu. Hei, di mana benda-benda yang kubutuhkan ketika aku sedang membutuhkannya?!
"Mencari sesuatu?"
Kulihat sosok itu dari sudut mataku. Pandanganku menurun kepada tangannya yang tengah memegang buku hij—Oh, Itu dia!
Hem, pantas saja.
"Senpai judes menjatuhkannya tadi."
Tanganku meraih buku hijau itu. Kemudian mengelus permukaannya yang sudah usang.
"Kau membacanya?" tanyaku santai.
Ia terlihat ragu sesaat. "I…ya. Maaf, Senpai." Kepalanya tertunduk, minta maaf.
Aku memandanginya datar. "Berdiri, dan pergilah."
Setelah mengucap salam, gadis itu pun pergi.
Tak lama, mulai terdengar bisik-bisik di lorong depan kelasku. Sepanjang perjalanan menuju lokerku, suara bisik-bisik itu tetap saja terdengar. Ini sudah biasa dan tidak masalah untukku, karena apa yang mereka bicarakan bukanlah urusanku. Tapi hari ini, semua orang berbisik sambil menatapku seolah aku ini alien. Catat itu. Dan yang membuatku jengah, mereka melakukannya di depan mataku. Tidakkah mereka sadar bahwa suara mereka itu sangat menganggu?
"H-hei, Hatsune-san, kau kenal dengan IA?" salah seorang mahasiswa bertanya. Saat itu aku sedang mencari buku di perpustakaan. Untuk referensi skripsiku.
"Siapa itu, IA?" aku justru bertanya balik. Menghafal nama orang yang tidak penting memang bukan keahlianku.
"E-eh, kau tidak mengenalnya?" mulut mahasiswa itu membentuk huruf 'O'. Kenapa dia kaget? Memang yang namanya IA itu artis papan atas atau semacamnya? Oh, ayolah, aku tidak mungkin mau merepotkan diri untuk menghafal nama artis, itu bukan urusanku.
"IA itu adalah gadis yang waktu itu mengembalikan bukumu. Dia… mahasiswi tercerdas dari fakultas kedokteran."
Oh, gadis itu. Aku mengenalinya sebagai Aria, bukan IA.
"Dan IA… sudah menangani berbagai penyakit yang nyaris merenggut nyawa banyak orang. Singkatnya, dia jenius."
Memang yang jenius hanya dia? Kan banyak di dunia ini.
"Saat IA di kampusnya dulu, rektornya membuat keputusan yang dimata orang-orang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Banyak anak yang tidak setuju dengan keputusannya, tapi tak ada yang berani menentang. Di saat itu, IA satu-satunya orang yang berani mengemukakan pendapatnya di depan umum. IA di keluarkan dari kampusnya dan pindah ke sini. Beritanya dimuat di koran-koran. Dan ternyata, dia sudah sering melakukan itu. Sense of Justice-nya tinggi. Kami semua mengaguminya."
Oh.
"Yah, kami kaget saat ia berbicara padamu. Karena IA dikenal sebagai anak yang tidak terlalu suka berbicara kepada orang lain, kecuali jika orang itu penting baginya."
Kunaikkan setengah alisku. Mereka kaget? Sebegitunya?
"Eh, kau kenal dengan IA?" timpal yang lain.
"Apa? Kau kenal dengan IA? IA yang itu?"
"Benar kan! Dia memang kenal dengan IA!"
"Wah, hebat! Kau kenal dengan IA ya?"
Adakah seseorang yang berkenan menggantikan posisiku sekarang ini? Karena sungguh, ini sangat membosankan.
"Aku tidak mengenalnya." Balasku singkat.
"Tapi, waktu itu ia berbicara denganmu, bukan?"
Aku membenarkan posisi ranselku. "Ya, membicarakan sesuatu yang tidak penting untuk kalian bahas." Kakiku pun langsung melesat keluar perpustakaan. Tanpa menoleh, aku masih bisa merasakan para mahasiswa itu memandangi kepergianku, dengan rahang terbuka menghias wajah mereka.
