Kid
China, 2008
Namja bermata panda itu kini tengah menatap appanya dengan tatapan memohon.
"Appa tidak akan mengijinkanmu bekerja Tao. Kau masih terlalu kecil."
"Aku hanya ingin membantu keadaan keuangan keluarga kita appa. Aku yakin bisa melakukan sesuatu untuk paling tidak meringankan bebanmu."
"Appa tidak akan mengijinkanmu Tao. Appa akan berusaha agar perusahaan kita kembali seperti semula dalam waktu dekat. Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri."
"Tapi sampai kapan appa? Eomma tengah terbaring di rumah sakit sekarang. Siapa yang akan membayar administrasinya? Tidakkah appa memikirkan eomma juga?"
"Tapi tao.."
"Aku akan mencari pekerjaan secepat mungkin. Jangan halangi aku lagi appa. Ini demi eomma." Dan sesaat kemudian, namja bernama Tao itu berjalan meninggalkan sang appa yang hanya bisa memandangi punggungnya dengan tatapan bersalah.
"Maafkan appa Tao."
.
Sekarang namja bermata panda itu tengah berjalan sendirian menembus dinginnya udara musim dingin. Dia merapatkan mantel yang melekat ditubuhnya saat merasakan angin berhembus menyentuh kulit wajahnya.
"Hah.. kemana lagi aku harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan umurku?" Tao –namja bermata panda- menggembungkan kedua pipinya sambil terus menatap etalase toko yang berjejer rapi di samping kanannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah cafe yang terlihat cukup ramai. Terlihat beberapa pelayannya sedikit kualahan dengan banyaknya pengunjung siang itu.
Kling..
Tao memutuskan masuk kedalam cafe itu. siapa tahu pemiliknya sedang mencari tambahan pekerja.
"Em.. permisi bolehkan aku bertanya?" Tao berdiri bertanya pada seorang yeoja yang berdiri dibelakang meja kasir.
"Tentu saja adik kecil. Ada apa?" tanya yeoja itu.
"Apakah disini masih membutuhkan tambahan pekerja? Aku lihat beberapa hari yang lalu cafe ini membuka lowongan untuk pelayan baru."
"Ah kami masih membuka lowongan itu. musim dingin seperti ini pengunjung kafe pasti bertambah banyak. Maka dari itu kami mencari tambahan tenaga. Memang keluargamu ada yang mau berkerja disini?"
"Em.. sebenarnya aku yang ingin bekerja disini. bolehkah?" tanya Tao dengan tatapan penuh harap.
"Mwo?!" yeoja itu memekik kecil lalu memandangi tubuh Tao dari sepatu sampai ujung rambut Tao. Ia terlihat sedikit berfikir.
"Baiklah kau diterima bekerja disini. kau bisa mulai bekerja hari ini juga. Dan ini seragammu." Yeoja itu langsung memberikan pakaian pelayan pada Tao.
"Eh? Apa aku tidak perlu bertemu dengan pemilik cafenya dulu?" tanya Tao.
"Tidak perlu. Karna akulah pemilik cafe ini. Namaku Sunny. Ah iya, siapa namamu dan berapa usiamu?"
"Namaku Tao umurku 11 tahun."
"Baiklah panda kecil mulai sekarang panggil aku Sunny jiejie ya. Dan cepat ganti bajumu dan ini kunci lokermu. Kita benar-benar membutuhkan tenagamu sekarang. Ppali!" Tao tersenyum senang. Ia membungkukkan tubuhnya ke arah Sunny beberapa saat sebelum dia melesat kedalam ruang ganti yang ditunjukkan oleh Sunny.
.
Cklek..
Tao membuka pintu ruang ganti, masuk kedalamnya lalu menutup pintu itu seperti semula.
"Hei siapa kau?" Tao langsung mematung saat mendengar suara dingin dari arah belakang tubuhnya. Dengan perlahan, Tao membalikkan tubuhnya menatap seorang namja yang tadi berkata padanya dengan nada dingin itu.
"Halo, Aku Tao. Pelayan baru disini." Tao melambaikan tangannya pada namja itu. namja berambut pirang dengan tubuh setinggi sutet(?) yang sepertinya juga pelayan di cafe itu.
"Kau pelayan baru? Hah.. bagaimana bisa yeoja kecil itu menerima seorang bocah sepertimu?" Namja itu memandang remeh Tao.
"Memangnya kenapa kalau aku masih kecil? Kau mau protes? Kecil-kecil begini tenagaku besar tau!" kini Tao yang memandang namja itu dengan tatapan menantang.
"Oh iya? Lihat, tanganmu saja kecil begini. Bagaimana mungkin kau bisa mengangkat nampan yang berisi 5 cangkir kopi?"
"Berhenti mengejekku tiang sutet! Akan kubuktikan padamu bahwa aku lebih hebat darimu!" Tao memalingkan wajahnya lalu berjalan kearah loker bernomor 3 sesuai dengan nomor di kunci yang tadi Sunny berikan padanya.
Tao mengambil baju yang ada diloker itu lalu dengan segera memakainya. Dia tidak sadar bahwa sedari tadi namja sutet alias bernama Kris itu tengah memperhatikan lekuk tubuhnya dengan tatapan pervert.
"Selasai. Ya walaupun agak kebesaran tapi lumayan lah." Tao membalikkan tubuhnya dan bermaksud memulai pekerjaannya. Tapi sesaat setelah dia berbalik tubuhnya langsung menegang saat melihat wajah Kris yang hanya berjarak beberapa centi darinya. "Ya! Kenapa kau masih disini?"
"Kenapa? Aku hanya ingin memberikan sedikit hadiah panyambutan untuk teman baruku."
Chup..
Tao membelalakkan matanya saat merasakan benda lembut dan basah menyentuh bibirnya. Ia bisa melihat dengan jelas mata indah Kris yang menatapnya dalam. Beberapa saat kemudian, Kris melepaskan ciuman mereka. dengan sedikit jilatan pada bibir Tao di akhir ciumannya.
"Bibirmu manis juga. Kalau begitu, selamat datang di neraka duniamu. Panda." Dan setelah mengucapkan kata-kata itu, Kris berjalan keluar. Meninggalkan Tao yang masih mematung.
Ckleek..
"Tao kau didalam?" lamunan Tao langsung hancur saat mendengar suara Sunny dari luar.
"Iya jiejie."
"Kalau sudah selesai ganti, cepatlah keluar. Pengunjung sedang sangat ramai sekarang." Suara Sunny kembali terdengar.
"Iya jiejie. Tao akan segera keluar."
Cklek..
Tao keluar dari ruang ganti itu dan langsung melihat Sunny yang berdiri didepan pintu.
"wah kebesaran ya? Sudahlah tidak apa-apa. Kau terlihat manis. Ayo." Dan dari sinilah kehidupan Tao yang baru, dimulai.
.
Sudah 2 bulan Tao bekerja di cafe itu. dan selama itu pula Tao merasakan yang namanya populer. Ya, dia memang populer di kalangan pelanggan wanita karena ke imutan dan kepolosannya.
"Tao bisakah kau lakukan bbuing-bbuing untuk kami?" tanya seorang yeoja saat Tao telah meletakkan kopi pesanan mereka diatas meja.
"Tentu saja jiejie. Bbuing-bbuing." Tao melakukan bbuing-bbuing yang merupakan jurus utamanya untuk memikat pelanggan.
"Kyaa! Imutnya!" yeoja-yeoja itu berteriak histeris melihat keimutan Tao.
"Sudah dulu ya. Tao banyak pekerjaan. Pay-pay." Tao berjalan kearah dapur. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak setelah seharian ini melayani pelanggan.
Cklek..
"Hai Tao!"
"Hwa!" Tao mundur beberapa langkah saat melihat wajah Kris yang lagi-lagi hanya beberapa centi dari wajahnya.
"Gege bisakah kau tidak mengagetkanku untuk sehari saja? itu menakutiku."
"Tidak bisa! Karena melihatmu ketakutan adalah kebahagiaan tersendiri bagiku." Kris menegakkan kembali tubuhnya. "Hey kulihat fansmu bertambah banyak."
"Tentu saja! kau sudah lihatkan betapa hebatnya aku menarik perhatian para pelanggan dan sudah mendapatkan banyak fans hanya dalam waktu 2 bulan. Dan sepertinya fansku lebih banyak darimu. Berarti aku menang darimu kan?"
"Benarkah?" Kris menatap Tao dengan tatapan meremehkannya. Dan Tao sangat benci itu.
"Iya! Aku selalu menang darimu!" Tao menunjukkan wajah angkuhnya yang tetap terlihat imut.
"Lihat saja nanti siapa yang lebih pantas jadi pemenang disini. Kau atau Aku."
.
Matahari telah tenggelam di sebelah barat. Menandakan hari tak lagi siang.
Malam ini, malam yang cukup dingin dibandingkan malam-malam beberapa hari yang lalu. Terbukti dengan tubuh kecil Tao yang menggigil kedinginan padahal sudah menggunakan 3 lapis baju. Kini namja panda itu tengah merapikan kursi-kursi cafe yang sudah tidak beraturan akibat para pelanggan.
Jangan tanyakan dimana teman-temannya yang lain. Mereka sudah pulang sejak 2 jam yang lalu. Hari ini memang jadwal Tao untuk membersihkan cafe. Dan beginilah akibatnya. Ia bekerja sendirian di dalam cafe yang sepi dan dingin.
Kling..
Bunyi lonceng kecil itu menandakan bahwa ada seseorang yang masuk. Tao mengalihkan pandangannya pada pintu masuk. Terlihat seorang namja sutet.. Ok jangan pakai kata 'sutet' lagi. Terlihat namja tinggi berambut pirang masuk kedalam cafe. Dan sudah bisa dipastikan siapa yang datang kali ini.
"Gege. Kenapa kau kemari?" Tao menatap Kris yang terlihat sangat berantakan.
"Aku kedinginan. Bisakah kau buatkan aku sesuatu, Tao?" Tao mengangguk lalu melesat kedalam dapur untuk membuatkan secangkir coklat panas untuk Kris. Sementara namja pirang itu kini telah duduk disalah satu sofa cafe. Sesekali ia memijik pelipisnya yang terasa sakit.
"Gege minumlah." Kris mendongakkan kepalanya dan mendapati Tao yang menyodorkan secangkir coklat panas ditangannya.
"Xie xie." Kris menerima coklat panas dari Tao lalu meminumnya sedikit.
"Kenapa kau kesini ge? Apa ada barangmu yang tertinggal?" tanya Tao.
"Aku hanya kebetulan lewat lalu melihatmu sedang bersih-bersih sendirian. Jadi kuputuskan untuk menemanimu. Lagi pula diluar sedang badai salju. Jadi aku sangat kedinginan sekarang. Huft.." Kris meletakkan cangkir coklatnya di meja lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya guna mengusir rasa dingin yang mendera tubuhnya.
"Eh? Gege kedinginan? Sini biar Tao yang hangatkan." Tao meraih kedua tangan Kris lalu mengosok tangan besar itu. "Apa sudah cukup hangat?" Tao menatap Kris dengan polos. Kris menggeleng pelan.
"Benarkah?" Tao lalu menggosokkan tangannya lagi pada tangan Kris lalu menempelkan tangan Kris pada lehernya. "Apa ini sudah cukup hangat? Kata ibuku dulu, leher adalah tempat yang paling hangat yang ada ditubuh kita." (Yang ini author ngawur!)
"Masih kurang hangat." Ucap Kris yang langsung membuat Tao cemberut seketika.
"Lalu bagaimana caranya agar kris gege merasa hangat?" Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Tao. Ah tidak lebih tepatnya telinga Tao.
"Ada bagian tubuhmu yang aku yakin lebih hangat dari lehermu. Bahkan saking hangatnya mungkin bisa membuat tubuhku memanas atau bahkan meleleh sekalipun." Tao meneguk salivanya kasar. Tubuhnya membeku seketika saat merasakan hembusan nafas Kris yang menyapa lehernya.
"Benarkah? Kalau begitu tunjukkan dimana tempatnya. Biar aku bisa menghangatkan gege dengan bagian tubuhku itu." Oh.. tidak tahukah kau anak kecil, kata-katamu barusan sudah membangkitkan seorang evil di hadapanmu?
"Kalau begitu ijinkan aku..."
.
NC Skip...
*Digebukin readers*
.
"Nnnggg.. geee...aaakkhhh.. hard! Faster!" Tubuh kecil Tao tersentak-sentak seirama dengan tusukan Kris yang semakin kuat. Kedua tangannya mengalung indah pada leher Kris yang berkeringat. Entah sudah berapa ronde yang mereka lewati malam ini. Yang mereka tahu hanyalah kenikmatan yang menyelimuti mereka sekarang.
"Ooohhh.. So akh.. Tight.. Baby.. hhh..."
"Gege hhhh aku aaahkkk dekat!" Tao meremas surai blode Kris saat merasakan klimaksnya mulai dekat.
"Wait.. hhhahhh together. OK." Kris mempercepat sodokannya hingga membuat hole Tao semakin memerah.
"Gege AAAHHH!"
"Panda OHH!"
Tubuh Kris ambruk menindih tubuh Tao yang jauh lebih kecil darinya. Kedua nafas namja itu saling beradu.
Kris mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Tao saat merasakan namja kecil dibawahnya itu tengah kesulitan bernafas.
"Eung.." Tao mendesah kecil saat Kris melepaskan juniornya dari cengkraman hole Tao. Namja sutet*Lagi-lagi -_-* itu turun dari sofa yang menjadi saksi bisu keganasannya pada Tao beberapa saat yang lalu. Ia memakai kembali pakaiannya lalu berbalik kearah Tao.
"Terima kasih. Ini bayaranmu." Kris meletakkan sebuah cek diatas meja lalu berjalan pelan kearah pintu keluar. Tao mengambil cek itu lalu membaca nilai nominal uang yang akan dia dapatkan bila mencairkan cek itu. tertulis seratus juta dolar disana. Mata Tao terbelalak kaget. Dari mana Kris punya uang sebanyak ini?
"Gege tunggu! Apa maksudnya ini?!" Kris menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Tao
"itu bayaranmu." Ucap Kris dengan poker facenya.
"Ak aku tidak bisa menerimanya." Tao mendekati Kris sambil menyerahkan cek itu kembali.
"Kenapa? Apa masih kurang? Aku akan tambahkan besok."
"Maaf ge. Tapi jangan samakan aku dengan pelacur!"
"hah! Bagaimana mungkin kau bicara seperti itu setelah melakukan hal yang tidak ada bedanya dengan pelacur, kid. Menyerahkan dirimu secara cuma-Cuma tanpa melihat siapa lawan mainmu."
"AKU-"
Drrrtt.. drrrt..
Belum sempat Tao melanjutkan ucapannya, ponselnya sudah berdering menandakan ada telfon yang masuk.
"Halo, Appa."
"..."
"Apa?!" Kris memperhatikan gelagat Tao. Tetapi ia tidak peduli. Ia berjalan keluar dari cafe itu tanpa disadari oleh Tao.
"..."
"Baik aku mengerti."
Tao mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut cafe. Tapi tidak ada tanda-tanda Kris disana. Akhirnya dia memutuskan memakai kembali bajunya. Lalu membersihkan sisa-sisa cairan akibat aktifitas mereka secemat mungkin karna ada hal yang harus segera dia selesaikan.
.
Drap.. Drap... Drap..
Suara langkah kaki itu menggema di koridor rumah sakit yang sepi karena memang ini sudah tengah malam. Namja bermata panda itu berjalan secepat mungkin kearah ruang ICU walaupun harus menahan sakit dibagian selatan tubuhnya. Langkah kakinya semakin cepat saat melihat sang appa yang tengah duduk sendiri didepan ruangan ICU dengan wajah gelisahnya.
"Appa!" sang appa menoleh kearah Tao yang berusaha mengatur nafasnya.
"Tao kau dari mana saja, nak?" Appa Tao berdiri sambil memandang tubuh kecil anaknya.
"Maaf appa. Bagaimana keadaan umma?" Appa Tao hanya bisa mentap Tao dengan tatapan yang Tao tak bisa artikan sama sekali.
"Dokter sudah menyerah menangani ummamu. Mereka bilang hanya tinggal keajaiban dan donor sumsum tulang belakang saja yang dapat menyelamatkan ummamu." Tao berkaca-kaca mendengar penjelasan appanya.
"Kalau begitu lakukan donor itu!"
"Tidak bisa Tao. Kita kekurangan..."
"Aku punya uang! Kita pakai uangku."
.
Tao menatap tubuh kurus ummanya. Tangan kecilnya menggenggam tangan sang umma yang semakin hari semakin kurus. Tapi walaupun begitu, senyuman tak henti-hentinya ia pasang di wajah pandanya. Operasi yang dijalani ummanya telah berhasil dua hari yang lalu. Hanya tinggal menunggu ummanya sadar saja.
"Umma. Cepat bangun. Aku sudah rindu denganmu umma. Apa kau tidak merindukanku?" Tao memainkan jari-jari ummanya berharap jari itu bergerak.
"Tao." Tao menoleh kebelakang. Dia melihat sang appa berjalan pelan kearahnya.
"Ye appa?"
"Appa mau tanya satu hal padamu." Wajah appa Tao tampak serius sekarang. "Dari mana kau dapatkan uang itu?"
Tubuh Tao membatu seketika saat mendengar pertanyaan appanya. Sungguh ia sangat bingung mau menjawab apa sekarang. Ia tidak mungkin berterus terang tentang uang itu.
"Appa tidak perlu tahu aku dapat dari mana uang itu. yang pasti aku tidak mencuri."
"Appa berhak tau Tao! Cepat jawab!"
"Yunho." Tatapan Tao dan appanya langsung beralih pada sang umma Tao yang rupanya mulai sadar.
"UMMA!"
"Changmin!"
"Umma akhirnya kau sadar juga. Aku lelah menunggumu umma!" Tao memeluk tubuh kurus ummanya.
"Maafkan umma. Umma tidak bisa menjagamu." Umma Tao mengelus surai lembut sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Minnie aku sangat merindukanmu." Appa Tao ikut memeluk sang istri.
"Aku juga merindukanmu hyung."
"Ah lebih baik aku panggil dokter dulu. Tao jaga ummamu ne." dan beberapa saat terdengar suara debaman pintu yang berarti appa Tao telah keluar dari ruangan itu.
"Umma apa yang umma mimpikan saat tidur selama 3 bulan? Kenapa umma tidak bangun-bangun? Apa mimpi umma sangat bagus?" Tao tetap tidak melepaskan pelukannya dari sang umma.
"Yah lumayan. Mimpi umma sangat indah. Tapi hanya diawalnya saja. diakhir umma bermimpi sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan karena itulah umma langsung terbangun. Umma harap mimpi itu tidak jadi kenyataan sayang." Tao hanya tersenyum. Ya hanya bisa tersenyum.
.
(Alur cepet mode on)
Sudah sebulan lamanya keadaan Changmin –umma Tao- mulai membaik. Namun ia harus tetap di rumah sakit untuk menjalani terapi. Termasuk terapi untuk melemaskan otot-ototnya yang tegang akibat tidak pernah dipakai selama 4 bulan lamanya. Dan selama itu pula, Tao selalu menemani sang umma. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja karena kondisi perusahaan appanya yang mulai membaik.
Sinar matahari masuk kedalam kamar Changmin hingga membuat seorang namja panda menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Ia tengah tidur di atas tempat tidur ummanya sekarang.
"Hoam.." Tao megusak matanya sambil melihat kesekeliling. Ia bisa melihat sang appa tengah tidur disofa dan sang umma yang duduk di kursi yang biasanya Tao pakai untuk menemani sang umma.
"Tao sudah bangun ya? Selamat pagi Tao." Changmin mengusak rambutnya pelan.
"Umma kenapa duduk disitu? Kenapa malah Tao yang seperti orang sakit?"
"Sudahlah. Lagipula Tao juga terlihat kurang sehat akhir-akhir ini."
"Tapi um- Mph.." Tao menutup mulutnya saat tiba-tiba merasakan perutnya bergejolak. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur lalu berlari menuju kamar mandi.
"Hoek.. Hoek.." Tao berusaha mengeluarkan isi perutnya tapi nihil. Hanya ada cairan bening yang keluar.
"Sayang kau tidak apa-apa?" Changmin memijat tengkuk sang anak.
"Aku tidak apa-apa umma. Jangan khawatir." Ucap Tao sambil berjalan keluar kamar mandi dengan menahan sakit di kepalanya.
"Tapi kau sudah berkali-kali muntah dipagi hari Tao."
"Aku tidak apa-apa umma." Tao berusaha meyakinkan ummanya.
"Ada apa Minnie?" tiba-tiba Yunho memeluk Changmin dari belakang.
"Apa yang kau lakukan pada anakmu saat aku tidak ada huh? Kau meracuninya?"
"Mwo?! Itu tidak mungkin. Memang Tao muntah muntah lagi?" tanya appa Tao sambil meraba kening Tao. "Tidak panas."
"Tao bagaimana kalau kita periksakan saja? lagi pula kita juga ada di rumah sakit." Tawar Changmin.
"Tidak umma! Aku tidak mau. Dan Aku baik-baik saja!"
"Baiklah terserah kau saja. tapi jika kau merasa badanmu benar-benar tidak enak katakan pada umma. Arraseo?" Tao mengangguk pelan.
.
"Apa kau datang sendiri?" pria berjas putih itu menatap Tao khawatir.
"Iya dokter. Bagaimana hasilnya? Aku mengalami sakit yang seriuskan?" Tao menatap dokter muda itu dengan penuh harap.
"Tidak. Hanya saja kau bisa lihat benda ini kan?" dokter itu menunjukkan sebuah foto berwarna hitam dengan benda yang mirip cacing berwarna putih disana.
"Itu apa?" Tao menunjuk cacing aneh itu.
"Dia janin. Dan janin itu ada didalam perutmu sekarang." Mata panda itu membulat sempurna.
"Jadi maksud dokter aku.."
"Kau hamil. Umurmu masih duabelas tahun Tao. Kau masih punya masa depan yang panjang. Kini kau harus putuskan. Mau menggugurkan bayi itu atau mempertahankannya. Jika kau memilih aborsi, aku akan melakukannya. Tapi jika kau memilih mempertahankannya, aku siap untuk jadi dokter pribadimu."
.
"Aku pulang." Tao memasuki rumahnya dengan senyum palsu.
"Tao sudah pulang? ayo kita makan bersama." Ucap sang umma dari arah dapur.
"Ne umma. Tao ganti baju dahulu."
Beberapa saat kemudian seluruh anggota keluarga Huang telah duduk rapi di meja makan.
"Tao kenapa wajahmu pucat begitu?" ucap Yunho saat melihat wajah sang anak yang pucat pasi.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
"Saat kau bilang 'jangan khawatir' pada saat itu pula kau selalu dalam keadaan yang menghawatirkan, Tao." Tao hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan ummanya.
"Sungguh aku baik-baik saja."
.
Kamar itu telah kehilangan cahayanya. Menandakan sang pemilik sudah berselancar di dunia mimpi.
Seorang namja dewasa masuk kedalam kamar sang anak. Dengan langkah pelan, namja itu mendudukkan dirinya disamping anaknya yang tengah terlelap.
"Kau semakin kurus semenjak ummamu sakit. Tapi sampai ummamu sembuhpun kau malah semakin kurus. Maaf appa tidak bisa menjagamu dengan baik. Sungguh, appa merasa seperti seorang yang tidak pantas dipanggil 'appa' olehmu, Tao." Namja dewasa yang ternyata Yunho itu mengecup dahi Tao lalu beranjak dari duduknya.
Tanpa sengaja, Yunho melihat sebuah kertas putih dengan kop rumah sakit diatasnya. Ia mengambil kertas itu lalu membacanya.
"T-Tao."
.
Tao menuruni anak tangga dengan lemas. Sebenarnya dia tidak ingin sekolah hari ini, tapi ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
"Pagi appa." Tao mengecup pipi Yunho. "Pagi umma." Lalu ummanya.
"Tao duduklah." Suara Yunho terdengar dingin saat mengucapkannya. Tao mendudukkan dirinya di kursi yang biasanya ia tempati di meja makan itu.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua diam dari tadi?" Tao menatap kedua orang tuanya heran sambil mengoleskan selai coklat ke roti tawarnya.
"Ini apa Tao?" Tao mendongakkan wajahnya saat mendengar perkataan Yunho. Sebuah amplop coklat besar tengah berasa didalam pegangan Yunho. Benda itu cukup membuat Tao membulatkan matanya.
Dengan cepat namja panda itu langsung merebut amplop coklat yang ada di tangan Yunho tadi.
"Appa dapat ini dari mana?" menunduk adalah satu-satunya cara untuk menghindari kontak mata antara Tao dan Yunho. Ia tahu, appanya pasti sangat kecewa dengan kenyataan ini.
"Di mejamu. Jadi kau mau menggugurkannya?" tanya Yunho tanpa memandang Tao sama sekali. ia malah sibuk menyesap kopi yang dibuat sang istri untuknya.
Tao tak menjawab, ia hanya menatap eommanya sekilas yang sepertinya mulai terisak. Entahlah apa yang dipikirkan oleh namja tinggi itu. yang pasti, rasa kecewa pasti ada karna telah lalai menjaga anaknya.
"Pilihan yang tepat. Secepatnya, gugurkan anak itu." ucapan Yunho sungguh diluar dugaan Tao. Namja panda itu menatap appanya yang memberikan tatapan tegas padanya.
"YUN!"
"Apa? Ini pilihannya. Dia yang mengawali, dia yang akhiri." Changmin menatap suaminya penuh amarah. Tapi, tatapan amarah itu perlahan-lahan mereda kala Yunho memberikan sebuah senyuman penuh arti.
"Jadi kapan kau mau menggugurkannya? Nanti sore? Besok? Lusa, atau kapan?" Tao mencoba menahan air matanya yang hendak jatuh. Entahlah, dia hanya merasa sangat malu pada kedua orang tuanya. Didalam hati kecilnya, ia menginginkan sang appa mengucapkan 'jangan gugurkan. Dia anakmu' tapi bukan itu kenyataannya.
Seperti yang kita tahu. Anak kecil itu plin plan kan?
"Apakah aku punya pilihan lain?" bisik Tao pelan. Membuat kedua orang tuanya harus menajamkan pendengaran mereka.
"Bukankah kau sendiri yang membuat pilihannya? Jika kau memutuskan untuk membuat pilihan baru, maka akan ada pilihan lain."
"Aku tidak akan buat pilihan baru." Tao mengambil tasnya lalu berjalan kearah pintu. Sudah sangat terlambat untuk ke sekolah, tapi itu lebih baik dari pada harus berlama-lama bersama kedua orang tuanya sekarang.
"Sebenarnya tidak perlu membuat pilihan baru, karna tanpa sadar pilihan itu sudah ada sejak awal Tao." Changmin mendekati Tao yang terus berjalan. Dengan merendahkan tubuhnya, Changmin memeluk sang anak dari belakang. Tangan namja tinggi itu kini mengusap perut rata Tao yang 'mungkin' akan segera membesar.
"Dia hidup. Tapi hidupnya kali ini bergantung padamu." Changmin membalikkan tubuh Tao. Menatap mata pandanya dengan intens lalu tersenyum manis. "Karna kau ibunya."
Entah apa yang terjadi. Tapi akhirnya cairan bening itu keluar juga dari mata panda Tao. Dia tidak tahu kenapa perkataan terakhir ibunya bisa langsung membuatnya menangis.
"Seperti kau dan aku. Kau anaknya, dan aku ibunya. Bagaimana perasaanmu pada eomma detik ini?" tanpa diduga, Yunho kini sudah mendekati kedua orang yang sangat berharga baginya. Ia kini berdiri di belakang Changmin yang mengusap kepala Tao sayang.
"Aku menyayangi ibu." Tao memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Bagitu pula perasaan anakmu Tao. Dia sangat menyayangimu walau belum melihat wajahmu. Coba pikirkan betapa sedihnya dia saat tahu ibunya sendiri tidak menginginkannya."
"Maaf. Maafkan Tao Eomma. Tao mengecewakan eomma."
"Kau lebih mengecewakan anakmu Tao." Yunho kini ikut kedalam pelukan ibu dan anak itu.
"Maaf appa. Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri."
"Paling tidak kau harus menjaga bayimu sejak sekarang."
.
7 bulan kemudian..
Tubuh Tao semakin gemuk dengan benjolan besar pada perutnya. Umur kandungannya sudah 9 bulan dan itu membuat Tao semakin resah.
"Umma aku takut." Ucap Tao pada ummanya saat mereka berdua tengah menonton acara TV di ruang tengah.
"Kau takut kenapa baby?"
"Aku takut sakitnya melahirkan. Di buku-buku yang aku baca, melahirkan itu menyakitkan. Aku takut."
"Tidak apa-apa. Memang sedikit sakit. Tapi pada saat itu kau dapat merasakan susahnya jadi umma." Changmin menyentil hidung Tao. "Ya Tuhan kenapa waktu berjalan dengan sangat cepat? Umurku baru 32 tahun tetapi hampir punya cucu. Aku tidak sabar dipanggil nenek oleh anakmu Tao." Changmin mengusap perut besar Tao.
"Akh!" Changmin terkejut saat mendengarkan rintihan dari Tao.
"Ada apa baby?"
"Bayinya menendang. Ya ampun sakit sekali."
"Hahaha... cucuku aktif juga rupanya."
"Umma."
"Hemm?"
"Tapi kenapa rasanya bertambah sakit?"
.
"Aaargghh! Sakit! Umma Sakit!" Tao menggenggam tangan ummanya dengan kencang. Ia merasakan sakit luar biasa pada perut bagian bawahnya.
"Yunnie! Tidak bisakah kau percepat mobilnya?!" Changmin semakin panik sementara Yunho makin frustasi.
"Ini sudah cepat sayang! Ya Tuhan kenapa kau menciptakan para uke secerewet ini sih?!"
"Siapa yang kau sebut cerewet hah?!"
.
Tao mengerjapkan matanya saat merasakan cahaya masuk ke dalam pupil matanya.
"Eung.."
"Baby kau sudah sadar?" Changmin langsung mendekati Tao yang sudah mulai sadar sepenuhnya.
"Mana anakku umma?" Tao mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Namun nihil. Dia hanya menemukan sang appa yang tertidur lelap di sofa.
"Dia ada di ruang bayi. Kau tahu? Dia namja dan sangat manis sepertimu."
"Benarkah? Aku ingin melihatnya."
"Baiklah. Tunggu sebentar umma akan hubungi dokternya."
Beberapa saat kemudian pintu kamar Tao terbuka dan menampakkan dokter Kwon bersama seorang perawat yang menggendong bayi. Dokter yang menjadi dokter pribadinya selama ia hamil.
"Selamat tao kau melahirkan bayi yang sangat sehat." Dokter Kwon menyalami Tao.
"Terima kasih. Tapi dokter Kwon, apa bayi itu anakku?" Tao menunjuk bayi yang digendong sang perawat itu.
"Iya." Perawat itu menyerahkan bayi Tao. "Bukankah dia sangat cantik?" ucap dokter Kwon.
"Bukankah dia namja?" tanya Tao.
"Iya. Namja cantik. Ah! Aku punya pasien lain. Aku harus pergi. Beristirahatlah dengan cukup Tao."
"Kau mau menamainya siapa?" tanya Changmin.
"Huang Yingzu. Menurut umma bagaimana?"
"Nama yang bagus."
Hening..
"Tao, selama kau hamil umma tidak pernah menanyakan ini tapi kali ini aku akan tanyakan sebuah pertanyaan untukmu... siapa ayah dari bayimu ini?" Tao menatap sang umma lalu sedetik kemudian dia tersenyum masam.
"Cinta pertamaku yang menganggapku sebagai seorang pelacur. Bukankah itu menyedihkan?" ucap Tao sambil menggesekkan hidungnya dengan hidung bayi kecilnya.
Changmin diam. dia menatap sang anak dengan iba.
"Ini. Paling tidak, beri tahu dia bahwa kau melahirkan anaknya." Changmin menyerahkan ponsel Tao.
"Tidak usah. Dia tidak akan menjawab teleponku. Sudah berkali-kali kucoba."
"Cobalah sekali lagi." Tao akhirnya mengalah. Ia mangembil ponselnya dari tangan Changmin.
Tao mencari kontak nomor Kris di ponselnya. Sebenarnya dia agak ragu tapi ini demi Yingzu.
Tuut.. tuut.. tuut.. (Emang lu kira kereta api?)
Nada sambung sudah terdengar. Butuh beberapa saat sampai telepon di seberang sana mengangkatnya.
"..." orang diseberang mengangkat tetapi tak berkata sepatah katapun.
"Ppagi. Apa ini Kris gege?"
"..." Kembali diam.
"Kalau memang benar, aku hanya mau bilang. Aku punya anak lo ge. Hebat kan?"
"..."
"Di usiaku yang baru 12 belas tahun aku sudah punya bayi sendiri. Bagaimana menurut gege?"
"..."
"Oh iya. Anakku laki-laki. Walaupun begitu dia punya wajah yang sangat manis dan tampan seperti ayahnya."
"..."
"Emm.. gege..." Panggil Tao.
"Apa?" Tao membulatkan matanya saat mendengar suara Kris dari seberang sana. Walaupun dengan nada dingin, tapi Tao bersyukur karna Kris mendengarkan ucapannya dari tadi.
"Bolehkah aku menamainya Huang Yingzu?" Hening.. tapi Tao tetap berusaha menunggu.
"Terserah kau saja!" Piip.. dan telepon itu terputus secara sepihak.
"Sudah kuduga dia tidak akan perduli." Tao meneteskan air matanya lagi hingga mengenai wajah merah Yingzu. "Ya ampun! Maaf Yingzu, umma malah memperlihatkan sisi lemah umma padamu. Maaf aku bukan umma yang baik."
"Tao." Tao menoleh menatap Appa dan Ummanya. "Apapun yang terjadi kami disini. jangan bersedih. OK?" Yunho mencium puncak kepala Tao dnegan penuh perasaan.
"Yeah.. I'm Okay appa. I'm okay without him." Walau semua itu bohong, paling tidak Tao hanya ingin menyemangati dirinya sendiri.
.
"Huang Yingzu. Seleranya jelek sekali." namja itu terkekeh pelan sambil menatap ponselnya dengan remeh.
"Tuan muda. Tuan Wu sudah menunggu di bawah." Tiba-tiba seorang maid masuk kedalam kamar namja itu.
"Iya aku mengerti. Terimakasih telah memberitahuku." Ucap namja itu tanpa menoleh pada sang maid yang akhirnya berjalan pergi.
"Huang Yingzu, Huang Yingzu, Huang, Huang, Huang! Kenapa bukan Wu?"
.
.
TBC
.
A/N: makin GJ. JANGAN BUNUH SAYA! Tao punya anak? Tao punya anak... terkadang author merasa bersalah sama para uke yang udah author nistain. Mian Tao *bow*
Ini pedo pake banget lah ya... waktu Tao ngalamin 'itu' umurnya 11 tahun sementara Kris 22. Pedo? Kan udah aku bilang main cast pedo semua #plak..
Terus kalo ada yang tanya kenapa Yingzu lahir waktu umurnya Tao 12, itu karna sama tahun tapi udah kelewat bulan Mei yang artinya Tao udah ulang tahun...
Last
Mind To Review? ^^
