-Mirror-

by Creativeactive

-;-;-;-

Vocaloid © Yamaha Corporation etc

Hatsune Mikuo x IA-Aria on the Planetes

Rate: 13+


.

.

.


Four


.

.

.

Aku lulus, saudara-saudara, dengan gelar summa cum laude di tanganku. Predikat yang cukup membanggakan. Adikku, sang tokoh utama, masih menjalani masa kuliah jurusan tarik suaranya di semester tiga. Di kelulusanku, aku tidak menemukan gadis itu. Belakangan ini kami tak pernah bertemu. Padahal dulu kami hampir setiap hari duduk-duduk di beranda pondok kecil belakang kampus Crypton. Dan tidak, kami sama sekali tidak pacaran. Paling kami hanya duduk, berdiam diri, lalu pulang kembali ke asrama masing-masing jika sudah larut. Membosankan? Ya, seharusnya begitu. Namun gilanya bagiku, itu tidak membosankan sama sekali. Walau aku tahu kami melakukannya lebih dari tiga tahun, aku tetap tidak bosan. Sesekali kami berbicara, tapi tidak banyak.

Hingga suatu ketika, seluruh mahasiswa satu kampus heboh mendengar gosip kedekatanku dengan gadis itu. Sampai-sampai majalah bulanan kampusku memuat fotoku dan fotonya terpampang di sampul majalah dengan Headnews-nya waktu itu, "Ketika Sang Pangeran Kegelapan Mencairkan Hati Sang Putri Es". Kala mendapatkannya, aku hanya memandang majalah itu, datar. Kemudian, tanpa membacanya lebih lanjut, langsung kuraih pemantik dari ranselku, dan membakar benda terkutuk itu di tong sampah halaman depan muka kampus.

Semua mata melihat dan memelototi perbuatanku. Tapi tak ada yang berani menghentikan. Kupandangi mereka semua, bosan. Lalu kembali ke rutinitasku tanpa ada yang menganggu.

Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi yang berani mengungkit-ungkit masalah aku dan gadis itu.

Lima tahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa gadis itu bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit ternama di Tokyo. Saat itu aku bekerja sebagai pencipta software. Lama-kelamaan, usahaku membuat diriku menjadi seorang Techno-preneur. Kami bekerja di bidang yang berbeda, ia kedokteran sementara aku I.T., seharusnya kami tidak pernah bertemu. Tapi, bukankah aku sudah pernah bilang bahwa hidup ini selalu penuh dengan kejutan?

Adikku terkena penyakit Bulimia. Itu karena obsesinya untuk menjadi kurus akibat penasaran dengan dunia modelling dan ingin memasukinya. Aku tidak pernah mengizinkan. Namun seorang Hatsune Miku, semakin dikekang semakin memberontak. Tiga kali aku menasehatinya, ia tetap tidak mau mengalah. Jadi, aku mengabaikannya. Lebih baik dia kena batunya baru sadar.

Tak lama, adikku masuk rumah sakit karena jatuh pingsan akibat overdosis mengkonsumsi obat-obatan pengeluar makanan. Tentu saja, sebagai kakak yang baik, aku menyarankannya untuk dirawat di rumah sakit ternama. Aku masih ingat, pada saat itu, Miku mengigau mau makan daun bawang mentah-mentah di ranjang rumah sakit. Bosan mendengar kicauannya, aku pun keluar kamar VVIP Miku, untuk sekedar mencari suasana baru.

Dan di saat itulah aku berjumpa lagi dengannya.

Aria.

Memakai jas dokternya, ia membuka mulutnya, yang kemudian ia tutup kembali. Matanya yang indah menatapku, seolah membaca alam pikirku.

Sebut aku gila, aku tidak akan protes kali ini, karena saat menatap kembali matanya, aku merasa dunia serasa berhenti.

Dunia dalam benakku yang berhenti, tapi bumi terus berputar.

Manusia-manusia di sekitar kami seolah berjalan dalam gerakan slow-motion. Warna-warna seakan meredup, menyisakan aku dan dia yang saling bersipandang.

Gadis itu memiringkan kepalanya sembari tersenyum. Senyum yang entah kenapa sangat begitu mengenang, membangkitkan sesuatu yang tertidur begitu lama, senyuman yang teramat kusuka.

Eh, sebentar.

Apa tadi kataku?

"Apa kabar?" ia mendekat, suaranya memecah lamunanku. Lalu mendadak, lidahku kelu, perutku mulas. Entah kapan terakhir kalinya aku merasa gugup ketika berhadapan dengan seorang… wanita.

Aku menggaruk leherku. "Ehm, baik. Kau?"

"Baik juga." Ia meremas roknya, kepalanya tertunduk perlahan. "Senpai judes… sedang menjenguk wanita itu, yang terkena penyakit Bulimia?" matanya tertuju pada sosok Miku, yang tengah terbaring lemah akibat kebanyakan mengkonsumsi obat-obatan pengeluar makanan.

Dahiku mengerinyit. Aneh rasanya jika ia masih memanggilku dengan embel-embel 'Senpai'. "Iya. Dan tidak usah panggil Senpai, kita bukan anak sekolahan lagi."

Ia menyunggingkan senyuman manis. Dan aku mati-matian menahan diriku untuk membalas senyumannya. "Baik, jika itu mau Senpa‒ehm, maksudnya, maumu."

Mengantisipasi rasa canggungku, aku pun mengajaknya duduk. "Kau yang akan menanganinya?"

Ia mengangguk. "Ya, memang kenapa?"

"Tidak apa-apa. Dia anak yang bebal, kau harus mempersiapkan kesabaranmu."

Ia terdiam, matanya teralih ke arah lain. "Ah, sepertinya kau sangat mengenal wanita ini." kemudian matanya seolah mengintipku dari balik poninya. "Apa dia pacarmu?"

Seketika, mataku terbelalak dan rahangku membuka. "Apa kau bercanda? Dia adikku."

Alisnya terangkat. "Adikmu… Hatsune Miku? Sang Diva muda itu?"

Aku mengangguk.

"Berarti kau, Hatsune…"

"Mikuo, kakak Miku."

Ia menepuk telapak tangannya dengan kepalan kirinya. "Ah, kau sudah mau memberitahukan namamu."

Aku mengerutkan dahi. "Memang kau tidak tahu namaku?"

"Tentu saja tahu. Memang siapa yang tidak tahu Hatsune Mikuo, sang Techno-preneur paling muda yang masuk ke jajaran sepuluh orang paling berpengaruh di Jepang?" Ia mengerling jenaka. "Tapi, waktu itu, aku ingin kau memberitahu namamu sendiri lewat mulutmu. Saat kita SMA dulu kan kau tidak mau memberitahuku."

Aku menganggkat bahu. "Nama bukanlah sesuatu yang penting."

Ia tersenyum kembali. Kepalaku menoleh ke sembarang arah agar tidak terinfeksi senyumannya.

"Aku harus kembali bekerja." Ujarnya. "Selamat tinggal… untuk berjumpa kembali." Samar, tapi penekanan pada kalimat terakhirnya sangat kentara di telingaku. Kutautkan alisku, berpikir. Sementara ia berdiri, mau melesat pergi. Tanganku refleks mengapit tangannya.

"Aria." Entahlah, aku tidak mengerti. Memanggil namanya serasa seperti memanggil namaku sendiri. Padahal nama itu jarang sekali kuucap, tapi ada makna tersendiri dari nama tersebut. Rasanya seperti sudah memanggil nama itu jutaan kali, setiap hari, sepanjang hidupku.

"Iya?"

Aku mengalihkan mata, terlalu gugup untuk membalas tatapannya. Tapi jiwa pria dalam diriku mengatakan: APA YANG KAU LAKUKAN MIKUO BODOOHH?! SIAPA YANG MENGAJARIMU MENJADI PENGECUT?! CEPAT KAU TATAP MATANYA!. Nafas panjang pun kuhela. Aku lalu menelan ludah, berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menatap matanya. "Err, Aria, Maukah kau… datang ke rumahku? Untuk sekedar reuni SMA saja. T-tapi, kalau tidak mau, ya… tak masalah."

And there it is, people! I've said it to her!

Rasanya lama sekali untuk mendengar ia menjawab tawaranku. Kegugupanku jadi muncul ke permukaan lagi.

"Oh, ya, tentu." Akhirnya ia membalas, diiring dengan senyuman. Beberapa saat kemudian, barulah aku sadar kalau dari tadi aku masih menggenggam tangannya. Lekas aku langsung melepaskannya.

"Maaf, tidak bermaksud..."

"Ya, aku mengerti. Jadi, hari dan jam berapa?"

"Ah, itu… mungkin lebih baik aku memberimu kabar. Boleh kuminta nomor teleponmu?"

Modus mulus!

Tangannya merogoh-rogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan handphonenya. "Missed call saja."

Kuturuti kemauannya. Setelah itu, kami berpamitan. Merencanakan waktu di mana kita akan bertemu kembali.

Dan jangan kalian tanyakan kepadaku seberapa besarnya semangatku menunggu hari itu tiba.