This is Our School

Seoul 2013

SM Senior High School. sekolah yang tergolong elit di Korea. Sekolah yang hanya menerima anak-anak dengan IQ tinggi dari kalangan orang-orang berada. Sekolah ini bukan hanya terkenal karena prestasi akademiknya tetapi juga kerena kehidupan di dalamnya yang penuh misteri.

.

Kyungsoo Pov.

Drap.. Drap.. Drap..

Suara langkah kaki menggema di koridor sekolah akibat gesekan sepatuku dengan lantai. Koridor ini masih sepi sehingga aku bisa dengan jelas mendengarkan derap langkahku sendiri.

"Hah.. kenapa mereka tidak pernah berangkat pagi sih? Tidak tahukah mereka aku kesepian disini." aku bergumam tak jelas sambil terus mengedarkan pandanganku pada kelas-kelas yang masih kosong. Yah sebenarnya siapa yang salah disini? ini masih jam 6 pagi dan aku sudah ada di sekolah padahal jam pelajaran dimulai pukul 8. Eh baiklah sepertinya aku yang salah karena berangkat terlalu pagi.

Aku kembali berjalan dan kini menuruni tangga yang menghubungkan lantai 2 dengan lantai 1. Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar sembari menunggu kawanan(?) gengku datang.

Taman sekolah mungkin adalah tujuan yang tepat untukku kali ini. Tempat yang menurutku paling damai -setelah atap sekolah- di sekolah ini.

"Hah." Aku mendudukkan diriku ke sebuah kursi panjang yang memang disediakan di taman itu.

Drrt.. Drrt..

Baru beberapa detik aku duduk, sebuah pesan masuk ke penselku. Ah, Kibummie atau lebih tepatnya Eommaku hehehe.

From: Kibummie

To : Kyungie

Subject: Miss u

Chagi bagaimana kabarmu disana? Kenapa tidak mengabari kami disini beberapa hari ini. Tidakkah kau rindu pada keluarga kecilmu ini? Kau tidak tahukan ayahmu selalu bertanya bagaimana kabarmu padaku, padahal akupun tak tahu bagaimana kabarmu. Kapan kau akan pulang chagi?

Ah iya aku punya berita yang entah ini berita buruk atau baik untukmu. AKU HAMIL LAGI! Sialan si kuda itu. sejak kau pergi, dia selalu menyerangku setiap malam. Dia selalu merengek meminta anak lagi karena kesepian tidak ada kau disini. Haish.. tidak tahukah kau, aku sudah tua dan sekarang sedang. INI SEMUA KARENA KAU YANG TIDAK PERNAH PULANG KYUNGSOO! TANGGUNG JAWAB!

WHAT Bummie hamil? Berarti aku akan dapat adik kan? Haha.. Good Job for you Appa!

Oh iya kalau dipikir lagi aku memang jarang mengirimi mereka tentang kabarku akhir-akhir ini. Salahkan para songsaengnim yang seakan ingin membunuhku dengan tugas-tugas mereka.

Dengan segera aku mengetik balasan pesan Bummie. Jika kalian penasaran kenapa aku memanggil Eommaku dengan namanya maka salahkan appaku yang terlalu sering memanggil eomma dengan nama 'bummie' didepanku saat aku kecil dulu.

"Kyungsoo!" Aku menoleh kearah kanan. Disana sudah berdiri Zhang Yixing tau lebih akrab dipanggil Lay. Dia salah satu teman terbaikku disini. dia 1 tahun lebih tua dariku. Ya dia kelas 2 sementara aku kelas 1. Dia 17 tahun sementara aku 16 tahun. Kami bisa akrab karena sebenarnya kami tinggal di apartement yang sama. Kapi karena satu dan dua hal yang tidak bisa kau sebutkan sekarang, kami tidak pernah bisa berangkat bersama.

"Lay Gege. Tumben pagi-pagi sudah datang."

"Hehe.. aku hanya ingin menemanimu pagi ini. Ayo kita masuk." Dan Lay gege menarik tanganku masuk ke dalam gedung sekolah.

Kyungsoo Pov end.

Author pov.

Bel masuk berbunyi tepat setelah Kyungsoo memasuki ruang kelasnya. Ia baru saja menemani Lay yang rupanya lupa mengerjakan tugas rumahnya.

Kriet.. (Ini bunyi kertas yang dibuka ya^^)

'Pagi Kyungsoo~' Kyungsoo membaca tulisan disebuah buku sketsa temannya.

"Bagi juga Baekkie hyung." Sapa Kyungsoo dan langsung mendudukkan dirinya di kursi.

Kriet..

'kenapa lemas begitu?' Kyungsoo kembali membaca tulisan temannya.

"Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja hyung. Dan entah mengapa aku punya firasat buruk akhir-akhir ini dan berimbas pada moodku yang tiba-tiba jadi jelek."

Kriet...

'Mungkin kau harus ke Dokter kejiwaan.' Kyungsoo membulatkan matanya saat membaca tulisan Baekhyun.

Kriet..

'Jangan tersinggung! Aku tidak mengatakan kau gila, tapi ada kemungkinan keadaan kejiwaanmu kurang baik.'

"Satu-satunya yang membuat kejiwaanku kurang baik adalah dirimu hyung."

Kriet..

' Kau menyebalkan ('3')!'

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Mereka hanya duduk diam menunggu kedatangan Seongsaengnim yang mungkin akan sedikit terlambat hari ini.

"Maaf aku terlambat." Songsangnim bersuara lumba-lumba itu akhirnya masuk kedalam kelas dengan membawa seorang panda dibelakangnya(?). sekejap, ruangan yang tadinya ramai menjadi tenang.

"Hari ini kita mendapatkan teman baru. Dia pindahan dari China jadi bahasa Koreanya kurang bagus. Ayo Tao beri salam pada teman-temanmu." Ucap songsaengnim ber tag name 'Junsu' itu.

"A-annyeong haseo. Tao Imnida. Bangapta." Suasana kelas itu masih tenang seperti beberapa saat yang lalu. Sepertinya tidak ada yang perduli dengan kehadiran Tao disana. Terbukti dengan adanya beberapa siswa yang memilih untuk tidur sesaat setelah Tao memperkenalkan diri.

"Baiklah. Kau bisa duduk disana, Tao." Junsu seongsaengnim menunjuk sebuah bangku kosong di meja paling depan. Tao mengagguk pelan lalu berjalan kearah bangkunya sambil berusaha menghindar dari tatapan mengintimidasi dari teman-teman barunya.

"kita mulai pelajarannya sekarang."

.

Teng.. Teng..

Bel istirahat berbunyi nyaring hingga ke seluruh sudut sekolah.

Para siswa langsung menghambur keluar dan memenuhi koridor beberapa saat setelah bel istirahat itu berbunyi.

Tak terkecuali dengan Kyungsoo. namja manis itu keluar dari kelasnya bersama Baekhyun dengan sekotak besar bekal ditangannya. Mereka berdua berjalan dalam diam berlawanan arah dengan siswa lainnya yang memilih kantin sebegai tempat menghabiskan jam istirahat. Tujuan mereka adalah taman belakang sekolah. Tempat yang sering mereka berdua gunakan saat waktu istirahat mereka.

Kyungsoo membuka pintu belakang dan langsung mendapati dua orang siswa telah duduk berhadapan di bawah pohon maple yang sengaja ditanam di halaman itu.

"Ah kalian sudah datang. Ayo cepat duduk. Aku sudah sangat lapar." Ucap salah seorang dari kedua siswa itu.

"Apa yang kau bawa hari ini Kyungsoo?" tanya orang lainnya.

"Hanya bento biasa Lay gege. Tidak apa-apa kan?"

Kriet..

'Apa ada telur gulung?' Baekhyun menuliskan kata itu di buku sketsanya lalu menunjukkanya pada teman-temannya.

"Maaf hyung. Tapi persedian telur dirumahku sudah habis. Jadi aku tidak membuat telur gulung." Baekhyun mempoutkan bibirnya sambil menatap nanar bekal yang dibuat Kyungsoo. tapi tatapan nanar itu langsung berubah saat ia melihat ada udang goreng didalam kotak bekal Kyungsoo.

"Baekhyun jangan tatap udang gorengnya seperti itu. lihat dia ketakutan." Ucap seseorang yang memakai seragam wanita diantara mereka berempat.

Kriet..

'Bagaimana bisa makanan ketakutan Luhan ge? -_-' dan tanpa banyak basa-basi lagi, Baekhyun langsung memakan udang goreng itu dengan rakus. Luhan dan Lay hanya bisa memandang Baekhyun dengan senyuman yang terpampang nyata di wajah mereka. mereka sudah sangat maklum dengan tingkah Baekhyun yang seperti orang kelaparan saat ia makan. Baekhyun berhenti sebentar lalu mengacungkan ibu jarinya pada Kyungsoo.

"Syukurlah jika hyung senang dengan masakanku."

Cklek..

Keempat namja itu menoleh kearah pintu belakang sekolah yang terbuka dan menampakkan seorang tinggi bermata panda disana.

"Ah maaf aku mengganggu." Namja itu hendak menutup pintu sebelum pintu itu ditahan oleh Lay. Namja panda itu menatap Lay bingung.

"Mau makan dengan kami?"

.

"Jadi namamu Tao?" Tao mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Luhan, sambil memakan apel yang telah dikupas oleh Kyungsoo sebelumnya.

"Jadi kau orang China?" Tao kembali mengangguk atas pertanyaan Lay.

"Jadi kau di Korea dengan siapa?" tanya Kyungsoo kali ini.

"Sendirian."

Kriet...

'Kau tidak punya saudara disini?' Tao menggeleng setelah membaca tulisan Baekhyun di buku sketsanya.

"Lalu kenapa kau ke Korea?" Tanya Lay untuk yang kesekian kalinya.

"Tentu saja untuk sekolah. Dan beberapa alasan pribadi."

Kriet..

'Kau sok misterius.' Tao hanya terkekeh pelan setelah membaca tulisan Baekhyun.

"Oh iya. namaku Do Kyungsoo. kau bisa memanggilku Kyungsoo."

"Namaku Zhang Yixing. Aku orang china jadi mungkin kau akan lebih nyaman menggunakan bahasa China denganku. Ah, dan yang itu, yang menggunakan pakaian wanita, dia Luhan. Jangan salah dia namja." Yixing sedikit memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir. Tao menatap Luhan tak percaya.

Kriet...

'Jangan kaget begitu.
Namaku Byun Baekhyun. Kau bisa memanggilku Baekhyun^^'

"Baekhyun hyung kenapa berbicara lewat buku itu? apa hyung-"

Plak..

Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya. Baekhyun sudah menghadiahinya dengan jitakan keras.

Kriet...

'Aku tidak bisu! Aku hanya ada alasan pribadi aku seperti ini.'

"Kau sok Misterius hyung." Ucap Tao sambil mengerucutkan bibirnya.

Kriet...

'Kau juga begitu!'

"Sudahlah. Kalian ini baru bertemu tapi langsung bertengkar. Ah! Sepertinya kita telat untuk jam ke 7. Ppali!" Teriak Luhan yang berlari masuk kedalam gedung terlebih dulu.

.

Grak..

Pintu kelas itu terbuka dan memperlihatkan Yixing yang menundukkan kepalanya.

"Dari mana saja kau Zhang Yixing?" tanya songsaengnim yang tengah mengajar saat itu. Namja dengan tag name Kim Joonmyeon itu menatap Yixing penuh selidik.

"Jeongsohamnida." Yixing membungkukkan tubuhnya didepan Kim songsaengnim lalu berjalan kearah kursinya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Siapa yang menyuruhmu duduk Tuan Zhang?" Yixing menghentikan jalannya lalu berbalik menghadap songsaengnimnya. Dengan sebuah deathglare samar, Yixing mampu membuat Suho tersenyum penuh kemenangan.

"Jadi aku harus apa songsaengnim?" tanya Yixing dengan penuh kesabaran. Jika ia berteriak padanya sekarang, maka dia akan dapat masalah besar.

"Berdiri koridor hingga pelajaran selesai. Lalu setelah jam terakhir berakhir, temui aku di ruanganku. Arraseo?" tanpa menjawab pertanyaan Suho, Yixing langsung berjalan keluar kelas dan menutup pintu kelas dengan kasar.

"Cih. Dia pikir dia siapa?"

.

"Tao!" Tao menoleh ke arah datangnya suara. Disana ada Yixing dan Kyungsoo yang tengah berlari kearahnya.

"Kau juga pulang lewat sini?" tanya Yixing sambil mengatur deru nafasnya.

"Ne. mau pulang bersama?"

"Harusnya kami yang bilang begitu!" mereka bertiga berjalan perlahan sambil saling mengakrabkan diri kearah rumah mereka.

"Saat di China kau tinggal didaerah mana?" tanya Yixing.

"Aku tinggal di Beijing bagaimana dengan gege?"

"Changsa. Apa kau pernah kesana? Disana ada banyak hutan yang masih asri. Harusnya orang-orang kota sepertimu sering-sering ke kotaku." Tao terkekeh pelan.

"Aku sangat sibuk saat di Beijing."

"Ya! kalian berbicara seperti melupakanku!" tatapan Yixing dan Tao kini beralih pada Kyungsoo yang menunjukkan wajah kesalnya.

"Mianhae Kyungsoo. kami lupa kau masih disini." ucap Yixing yang membuat Kyungsoo memasang wajah malas.

"Oh iya Tao, kau tinggal dimana sekarang?" Tanya Kyungsoo pada Tao.

"Em..apartement Hyunsang."

"Jinjja? Kami juga tinggal disana." Ucap Kyungsoo.

"Kau tinggal di kamar nomor berapa dan lantai berapa?" tanya Kyungsoo dengan berapi-api (?)

"Kamar nomor 7 lantai 11."

"GYA! Kenapa kita semua tidak ada yang satu lantai?"

"Memang Kyungsoo hyung dan Yixing gege lantai nomor berapa?"

"Aku lantai 14 nomor 13 kalau Yixing gege lantai 9 nomor 1."

"Jika kau ada masalah, kau bisa menemui kami." Yixing menunjukkan dimple smilenya yang membuat Tao sedikit terpesona.

"Kau mirip anakku."

"Apa?" tanya Kyungsoo dan Yixing bebarengan setelah mendengar perkataan lirih Tao barusan.

"Ah aniyo!" Tubuh Tao sedikit menegang saat menyadari satu kesalahan fatalnya. "Ah! Aku ada urusan lain. Jadi hyungdeul pulang saja duluan ne." Tao langsung berlari pergi setelah mengucapkan kalimat itu.

"Tadi dia bilang 'anak' kan?" tanya Kyungsoo pada Yixing.

"Sudahlah jangan dipikirkan. Ayo kita jalan-jalan dulu sebelum pulang." Yixing menarik tangan Kyungsoo menuju pemberhentian bus terdekat. Sepertinya Mall lumayan cocok untuk jalan-jalan kali ini.

.

Bangunan itu terlihat kecil tetapi menyenangkan. Ada beberapa buah permainan kecil di halaman bangunan itu. dengan tembok yang diberi warna krem bergambar bunga, bangunan itu cukup membuat murid-murid kecilnya merasa senang.

Seorang namja berambut pirang tengah duduk sendirian di sebuah ruangan dalam bangunan itu. ia menunggu seseorang yang seharusnya 'menghuni' ruangan kepala sekolah itu saat ini.

Cklek..

Akhirnya satu-satunya pintu di ruangan itu terbuka. Menampakkan seorang yeoja manis yang berjalan masuk kedalam.

"Maaf sudah membuatmu menunggu Kris." Yeoja itu duduk di kursinya yang berhadapan dengan namja bernama Kris itu.

"Kau memang selalu membuatku menunggu Noona." Kris menunjukkan wajah kesalnya pada seseorang yang dipanggil Noona.

"Baeklah-baiklah Noona salah. Jadi apa yang kau inginkan sekarang Wu?" Seketika wajah namja tampan itu berubah menampakkan raut wajah imut-gagal-

"Noona~ kau tahukan sekarang tanggal berapa?" Yeoja itu memutar bola matanya malas saat namja yang berstatus namjadongsaengnya itu bersikap imut.

"Ini masih tanggal 17 Kris. Jangan bilang kau mau meminta uang lagi." Kris memperlihatkan senyuman lima jarinya.

"Noona ayolah. Uangku benar-benar habis sekarang." Kris mendekati Noonanya. Berusaha membuajuk yeoja itu untuk memberinya uang.

"Memang pekerjaan apa yang appa berikan padamu kali ini hingga tidak bisa memenuhi kebutuhanmu?"

"Guru Bahasa Inggris di Seoul High School." Yeoja itu membulatkan matanya saat mendengar perkataan Kris. Seketika gelak tawa memenuhi ruangan itu.

"YA! Noona berhentilah tertawa. Apa lucunya."

"Bwahaha.. kau? Jadi guru? Ya Tuhan apa yang appa pikirkan hingga memberikan pekerjaan itu untukmu?"

Keluarga Wu memang seperti itu. pemilik perusahaan otomotif di Jerman itu memiliki 2 orang anak. Wu Zhe Han dan Wu Yi Fan. Kedua orang tua mereka memperlakukan kedua anaknya dengan sedikit 'istimewa'. Sebelum mereka dapat menggantikan posisi appa mereka di perusahaan, mereka akan menjalani beberapa tahapan tes. Tes-tes tersebut berupa sebuah pekerjaan yang akan mereka tekuni untuk beberapa saat sebelum melakukan pekerjaan yang lain. Mengajarkan disiplin, mandiri, bekerja keras, dan jujur adalah beberapa hal yang orang tua Wu harapkan dari tes ini.

"NOONA!"

"Yifan jaga intonasi bicaramu! Kalau anak-anak didikku terkejut bagaimana?" Kris akhirnya diam.

"Jadi berapa yang kau mau?" mata Kris berbinar saat mendengar perkataan Noonanya.

"5 juta dolar."

"MWO?! Kau mau apakan uang sebanyak itu?"

"Ayolah noona." Zhe Han hanya bisa menghela nafas menghadapi sikap adiknya yang terkadang manja padahal umurnya sudah tak muda lagi. 27 tahun.

"Baiklah. Nanti noona trasfer. Sekarang keluar dari kantorku."

"Gomawo Noona." Kris menyempatkan diri mencium pipi Noonanya sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

.

Kris berjalan pelan melewati lapangan kecil di taman kanak-kanan itu. bibirnya tak henti-hentinya mengembangkan senyum.

"Hiks.. hiks.." Kris menghentikan langkahnya saat mendengar suara isakan dari salah satu lubang di bawah perosotan. (ada yang tau?)

"Eom..hiks..ma.." Kris mendekat kearah asal suara itu. saat sudah sampai di perosotan itu, dengan perlahan ia merendahkan tubuhnya. Seorang namja kecil tengah meringkuk didalam sana sambil menangis.

"Hei kau kenapa?" tanya Kris dengan lembut sambil mengusap surai hitam namja kecil itu. namja kecil itu sedikit kaget dengan kedatangan Kris hingga memundurkan tubuhnya. "Jangan takut. Ajusshi tidak akan menyakitimu." Fine. Akhirnya kau mengakui bahwa dirimu sudah tua Kris.

Namja kecil itu tetap diam sambil menatap Kris dengan lucu. Sesekali namja itu mengerjapkan mata pandanya.

"Ajucci.. apa kau malaikat?" Kris menatap namja kecil itu dengan senyumannya. Ia menggendong namja itu hingga keluar dari lubang sempit yang tadi.

"Kenapa kau berfikir begitu?" tanya Kris sambil mencubit hidung namja kecil itu.

"Kalna ajucci tampan. Hehehe..." Kris sedikit tersentak saat namja kecil itu tertawa. Mengingatkannya pada seseorang.

"Jadi katakan pada ajucci, apa yang membuatmu menangis?" Kini mereka berdua sudah duduk di sebuah ayunan dengan namja kecil itu dipangkuan Kris.

"Ini hali peltama Ying macuk cekolah. Caat aku macuk ke kelas, cemua orang menertawaiku. Katanya aku milip panda. Lalu saat aku bilang bahwa aku namja, meleka tertawa lagi. Katanya aku terlalu cantik jadi namja. Hiks.. hiks.." Namja kecil itu kembali terisak kecil saat mengingat kejadian-kejadian hari ini.

"Lalu, caat istilahat tadi, aku dikeljain. Ada olang yang macukin kecoa kedalem tas Ying. Ying tidak takut kecoa, tapi kalna telkejut Ying melempalkannya kearah anak-anak yeoja dan meleka belteliak-teliak. Ying jadi dibenci cama temen-temen."

"uuu.. Tidak apa-apa. Mereka hanya iri pada Ying. Ying lucu kok mirip panda seperti itu. jangan pedulikan mereka. karna ada Ajussi disini." Kris mengusap air mata Namja kecil itu.

"Jinjja? Ajucci mau jadi teman Ying?" Kris mengangguk dan menarik namja kecil itu kedalam pelukannya. 'Bahkan wangi tubuhnya sama'

.

Namja mirip panda itu berlari cepat. Sesekali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. Menunjukkan bahwa ia terlambat.

Lari namja itu semakin cepat kala melihat sebuah gedung taman kanak-kanak yang tinggal beberapa meter lagi dia capai.

"Hosh.. Hosh.. Hosh.." Tao-Namja panda- mengatur nafasnya sebentar sebelum akhirnya mencari seseorang di halaman seolah yang sudah sangat sepi itu.

"Eomma." Namja manis itu menoleh dan mendapati seorang namja kecil berlari kearahnya.

"Yingzu." Tao menangkap tubuh kecil itu saat tiba-tiba limbung jatuh kearahnya. "Hati-hati." Yingzu hanya tersenyum saat melihat wajah khawatir eommanya.

"Gwenchana eomma. Kenapa eomma lama cekali?" Yingzu mempoutkan bibirnya yang membuat Tao gemas sendiri.

"Maaf. Sekolah eomma memang pulang jam segini. Jadi mungkin eomma akan sering terlambat menjemputmu."

"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita pulang eomma." Tao mengangguk lalu menggandeng tangan kecil Yingzu.

Namja kecil itu menoleh kearah ayunan yang tadi dinaikinya. Ia melambai pada senang pada namja yang telah menemaninya hari ini. Kris.

'Namanya Ying kan? Mirip sekali dengan Tao.'

.

"Aku pulang." yeoja ah tidak. Namja manis itu masuk kedalam apartement keluarganya. Meletakkan sepatunya dirak sebelum berjalan masuk kedalam.

"Kau sudah pulang Luhan?" tanya seorang yeoja yang tengah membaca majalah di ruang keluarga.

"Ne eomma." Jawab Luhan singkat dan hendak naik kelantai atas. Dimana kamarnya berada.

"Luhan. Kemari sebentar." Luhan menatap eommanya sebentar sebelum akhirnya mendekat. Ia duduk disebelah eommanya yang masih belum melepaskan pandangan dari majalah. "Kau lihat dia? Dia rivalmu mulai sekarang." Luhan menatap malas kearah majalah fasion itu. majalah yang paling ia benci.

"Lalu eomma mau apa?" tanya Luhan malas. Sebenarnya ia tahu apa yang mau dikatakan ibunya setelah ini.

"Besok kita akan ke Paris. Melakukan beberapa pemotretan dengan majalah ternama di sana."

"T-Tapi besok aku sekolah eomma." Nyonya Xi menatap Luhan dengan tatapan tajam.

"Sekolah itu tempat yang tidak penting. Apa yang kau dapatkan dari sana? Uang? Kau bahkan menghamburkan uang disana. Tidak ada penolakan Xi Luhan!"

"Eom-"

"Aku bilang tidak ada penolakan! Ini penting untumu Luhan." Luhan berdiri sari duduknya. Berusaha menahan amarah yang sedari tadi hampir keluar.

"Penting untukku atau untuk eomma?!"

Brak..

Luhan menutup pintu apartement dengan keras. Ia berlari tak tahu arah. Yang ia inginkan sekarang hanya ketenangan.

.

"Aku pulang!" Teriak namja manis itu sambil meletakkan sepatunya asal-asalan. Ia meraba-raba tembok untuk menemukan saklar lampu. Keadaan apartement itu sarat gelap saat ini.

Tek..

Saklar lampu sudah dia temukan dan kini ruangan itu telah terang.

"Dari mana saja?"

"Ya Tuhan. Suho hyung bisakah kau tidak mengagetkanku?" namja manis itu mengusap dadanya sembari berjalan kearah dapur untuk mengambil minum. Tak menghiraukan Suho yang sebenarnya ada didepan pintu sedari tadi.

"Aku tanya dari mana saja kau Zhang Yixing?!" Suara Suho mulai meninggi.

"Bukan urusanmu hyung. Ahh.. aku lelah sekali."

Bruuk..

Tubuh Yixing terhempas bebas di sofa panjang berwarna putih gading di ruang tengah.

"Kenapa kau tidak menemuiku tadi? Aku menunggumu." Suho mendudukkan dirinya di sofa yang lebih kecil dari sofa yang ditempati Yixing.

"Harusnya kau tahu bagaimana aku. Sampai kapanpun, aku tidak mau berurusan denganmu disekolah." Ucap Yixing tanpa membuka matanya.

"Baiklah. Tapi setidaknya kau bisa ijin padaku jika mau pergi. Lihat kau pulang jam 9 malam. Kau pergi dengan siapa? Bahkan aku melihat Kyungsoo sudah pulang sejak jam 6." Tangan Suho terulur untuk menyikap poni Yixing yang menutupi pandangannya pada wajah cantik istrinya itu. ingat. ISTRI!

Plak..

Yixing menampik keras tangan Suho yang menyentuh rambutnya.

"Jangan sentuh aku." Yixing berjalan kearah kamarnya dengan wajah murung. Meninggalkan Suho yang hanya bisa menghela nafas panjang.

"Sabar Joonmyeon. Tinggal beberapa bulan lagi kau akan lepas darinya dan mendapatkan Tiffanymu kembali. Fighting!"

Tanpa Suho sadari, Yixing sedari tadi mendengar semua yang dikatakan Suho. Sebenarnya ia tahu persyaratan yang Suho ajukan saat itu. Suho akan menceraikannya saat umurnya 17 tahun. Dan hal itu benar-benar membuat Yixing membenci dirinya sendiri.

Sudah 4 tahun mereka menikah. Yixing berharap Suho akan mencintainya secara perlahan selama 4 tahun itu. Dan membatalkan persyaratan itu dan bisa hidup bersama hingga hanya maut yang memisahkan mereka. tapi semua itu hanya mimpi belaka.

Sikap Yixing semakin hari malah semakin buruk pada Suho dan tentu saja itu membuat Suho semakin jengah padanya. Beberapa kali Yixing berusaha untuk merubahnya, tapi yang terjadi malah semakin buruk.

Yixing menatap kalender meja dengan takut. April. Tidak genap satu tahun lagi mereka akan berpisah. Dan itu yang Yixing takutkan.

.

Keluarga byun adalah keluarga yang cukup terkenal di seluruh dunia. Tuan Byun adalah seorang pemimpin orkestra di Australia, sedangkan nyonya Byun adalah pemain harpa profesional. Sedangkan anak mereka, Byun Baekhyun. Seorang namja manis yang tidak pernah bicara. Tidak terlalu menonjol dalam bidang akademik maupun non akademik. Hal itu sangat membuat kedua orang tuanya kecewa karna tidak ada bakat mereka yang mengalir di darah Baekhyun.

Pintu rumah itu terbuka dengan perlahan hingga tak menyebabkan bunyi sedikitpun. Dengan perlahan ia menaiki tangga menuju kamarnya.

"Bagus. Kau pulang sangat larut Byun Baekhyun." Namja itu terdiam. Tak berbalik kearah suara itu maupun berjalan kembali.

"Kau harusnya memandang orang yang sedang bicara padamu. kau tidak tahu tata krama huh?" seorang yeoja paruh baya membalikkan tubuh Baekhyun dengan kasar. Baekhyun hanya bisa menunduk saat lagi-lagi mendapatkan perlakuan kasar dari ibunya. Ya ibunya.

"Kenapa baru kau pulang?" Baekhyun tidak menjawab. Sudahkah aku bilang bahwa dia tidak pernah bicara pada siapapun selama ini?

"Ah iya aku lupa. Kau kan bisu ya? kenapa aku bertanya padamu?" nyonya Byun memandang remeh baekhyun.

"Kenapa kau tidak pulang cepat untuk les piano hari ini? Kau pikir les itu tidak membayar?"

Plak..

Sebuah tamparan keras dari nyonya Byun membuat pipi Baekhyun sedikit memerah. Setetes air matanya mengalir di pipi merahnya itu. sungguh, sesering apapun dia dipukul, tapi tetap saja terasa menyakitkan. Terlebih disaat orang yang memukulmu itu adalah seseorang yang kau sayangi.

"Appa dan Eomma membesarkanmu untuk menjadi pianis. Itu impian kami dari dulu. Jadi Baekhyun, tolong wujudkan impian kami itu." suara nyonya Byun sedikit menghalus.

'Aku sayang eomma.' Baekhyun menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Dia berharap ibunya dapat membaca gerakan bibir itu. 'Tapi aku benci eomma'

.

Kyungsoo berbaring tak nyaman di atas ranjangnya. Suara gaduh dari apartement sebelah memperburuk insomnianya. Sesekali namja mungil itu mengumpat tak jelas pada penghuni apartement sebelah yang baru saja pindah beberapa jam lalu.

"Argh! Tidak bisakah dia beres-beres esok hari saja!" Kyungsoo menyikap selimutnya lalu memakai sendal rumah pororonya. Dia berencana untuk memarahi tetangga baru yang sudah dengan sangat sopan mengganggu tidurnya.

Tingtongtingtongtingtong

Kyungsoo memencet bel apartement itu dengan tidak berperike'bel'an

"YA! Keluar kau!" Kyungsoo berusaha memendam amarahnya saat sipemilik apartement tidak kunjung membuka pintu.

Cklek..

Dan akhirnya..

"Hei! Tid.." perkataan Kyungsoo terputus saat ia menatap namja didepannya. Mata bulatnya melebar. Seluruh tubuhnya terasa panas sekaligus dingin dalam satu waktu.

"Kyung..."

My trauma is back

.

TBC

.

A/N: Ano…. Kelamaan nunggu ya? ._.

Mianhae~

Terima kasih untuk semua yang mau menunggu dan mau membaca~

Mind to Review? ^^