-Mirror-
by Creativeactive
-;-;-;-;-
Vocaloid © Yamaha Corporation etc
Hatsune Mikuo x IA-Aria on the Planetes
Rate: 13+
.
.
.
Five
.
.
.
"APAH?"
Kalian mungkin lebih sering mendengar kata ini di opera sabun-opera sabun ber-genre drama. Tapi tidak, kali ini, orang yang mengatakannya ada di dunia nyata. Tepat di hadapanku.
"Kau, mengundang IA? IA yang itu?!"
Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela, bosan. "Ya, dan tak usah sehisteris itu."
Wajah Miku menyiratkan ketidak-terimaan. "Bagaimana bisa?! Maksudku, kau, dengan IA…"
"Kami hanya teman, Miku. Jangan berlebihan dan jangan teriak-teriak."
"Tapi itu IA!"
"Lantas?" Aku bertanya, seolah itu adalah pertanyaan retoris. "Aku tidak peduli dia IA yang ini ataupun IA yang itu. Di mataku, dia adalah Aria. Tidak berlebihan dan tidak berkekurangan. Pas. Impresif. Sempurna."
Rahang Miku terbuka, matanya membelalak tak percaya. "Ni-nii-san…, barusan kau bilang apa? T-tadi kau… Se-sebentar, kau-kau—kau sedang jatuh cinta?"
Kalau saja aku sedang minum, saat ini aku pasti sudah tersedak.
"Jangan konyol, Miku."
Wajah Miku seakan tengah menahan histerianya, kemudian, ia menyeringai. "Hee, tapi aku tahu nada itu! Itu nada yang kau pakai saat sedang tertarik dengan seseorang!"
Aku mendengus. "Sok tahu."
"Tapi aku benar kan?"
Aku hanya diam, menarik sudut bibirku keatas sebagai balasannya.
"Oh Tuhan! Akhirnyaaa, kau jatuh cinta juga…"
Kupicingkan mataku padanya. "Apa maksudmu?"
Miku hanya tersenyu‒ralat, menyeringai jahil. "Habisnyaaa, selama ini kan Nii-san tidak pernah berhubungan dengan wanita. Paling hanya kepada bawahan ataupun rekan kerja. Kupikir, Nii-san mempunyai hubungan gelap dengan seseorang. Bahkan aku juga sempat khawatir, kalau Nii-san akan mengalami disorientasi seksual dan menjadi gay. Padahal, wajah Nii-san kan di atas rata-rata."
Sialan.
Mataku menusuk ke arah Miku, tajam. "Aku tidak akan menjadi gay. Simpan imajinasi liarmu itu jauh-jauh."
Bibir Miku mengerucut. "Ih, Nii-san menakutkan."
Kuputar bola mataku. "Whatever."
Sejenak kemudian, deringan telepon seluler berbunyi. Kuraih handphoneku, tersenyum samar saat melihat namanya tertera di layar.
"Pasti dari IA."
Kulemparkan pandangan sinisku pada Miku. Segera memojok di ruang tamu agar dia tidak menguping.
"Halo?"
Oh Tuhan, suaranya…
"Hatsune-san?"
"Eh, iya?"
"Sebelumnya, maaf sudah menganggu waktumu."
"Tidak masalah. Ada apa?"
Suara diseberang berdeham. "Hatsune-san, untuk acara nanti malam, apakah acaranya formal? Karena aku bingung harus mengenakan baju apa."
Apapun yang kamu kenakan kamu tetap cantik kok~, itu adalah perkataan yang akan dilontarkan oleh temanku, Kamui Gakupo, di saat-saat seperti ini. Tapi sayangnya, aku sudah tahu bahwa aku adalah pria yang tidak romantis dan aku bukanlah tipe lelaki pesolek semacam itu. Jadi, aku pun mengatakan, "Agak formal. Tapi jangan bebankan dirimu untuk memakai gaun-gaun merepotkan. Aku akan mengenakan baju hitam, kau juga pakai dress warna hitam saja. Karena pestanya semacam, ehm… berpasangan." Aku mengatakannya seolah tanpa beban. Dalam benakku aku bertanya-tanya sendiri, memang sejak kapan aku seagresif ini?
Selang beberapa detik, ia membalas, "Ehm, Hatsune-san, bolehkah aku memakai yang warna putih?"
"Memang kenapa dengan warna hitam?"
"Aku tidak memilikinya."
Aku berpikir sejenak. "Ya, baiklah, tidak masalah. Aksesori apa yang akan kau pakai?"
Ia menghela nafas pendek. "Aku tidak biasa memakai aksesori. Apakah itu harus ada?"
Kugelengkan kepalaku. Kemudian baru sadar bahwa ia tak bisa melihatnya "Tidak harus. Tapi, aku ingin kau memakai aksesori. Aksesori apapun, asalkan itu juga cocok dipakai untuk laki-laki."
Suasana mendadak senyap.
"Ha-hatsune-san… apa maksud perkataanmu tadi?"
Aku mengerinyit. "Ehm, aku ingin kita memakai aksesori yang sama. Itu saja. Apa itu salah?"
Hening.
Dan heningnya terlalu lama.
Aku lalu menghentak-hentakkan kakiku terhadap lantai. Tak sabar mendengar jawabannya.
"Kau… ingin kita berpasangan?"
Mataku membelalak. Baru tersadar terhadap apa yang barusan kukatakan. Konyol, entah dari mana keberanian sinting itu bermula. Tapi aku sudah terlanjur basah, mau diapakan lagi?
"Iya. Aku ingin kita berpasangan."
Senyap lagi.
"O…ke, jika nanti sudah ketemu aksesori yang pas, aku akan mengabarimu. Baiklah, jadi, selamat tinggal, untuk berjumpa kembali."
Aku tersenyum. Tidak akan sadar bahwa dari tadi ada yang menguping pembicaraanku jika tidak ada suara sol sepatu berdecit di belakangku. Seperti sekarang ini.
"Apa yang kau lakukan?"
Adikku menoleh, canggung, kemudian perlahan, ia tersenyum penuh arti. Aku tahu apa maksudnya. "Ah… sepertinya IA harus berhati-hati. Bisa-bisa dia 'dimakan' oleh Nii-san malam ini."
Aku mengerinyit. "Apa maksudmu?"
"Hemmm, tanda-tanda keagresifan Nii-san sudah mulai terlihat."
Kukibaskan tanganku seolah tak peduli. Lagipula aku yakin, IA bukanlah tipe wanita rendahan yang bisa dengan mudahnya menyerahkan 'itu'nya kepadaku. Toh juga aku tidak pernah mau melakukannya dengan wanita yang tidak memiliki ikatan pernikahan denganku.
Kutolehkan kepalaku pada Miku. Mengobservasi dirinya singkat.
"Kau kenapa?"
Mata Miku membalasku, menyembunyikan keterkejutannya. "Tidak kenapa-kenapa."
Hem, dia sudah mulai pintar berbohong.
"Masalah Kaito dan Meiko—lagi?"
Aku yakin aku berhasil memancingnya. Terlihat dari perubahan air mukanya, walau hanya sekilas.
"Bukan urusanmu, Nii-san."
Aku menghela nafas panjang. "Memang bukan. Tapi, jatuh cinta pada sahabatmu, yang sayangnya, sudah berpacaran dengan wanita lain yang seumuran dengannya memang bukanlah sesuatu yang menyenangkan, bukan? Itulah sebabnya kau mau menambah jam kerjamu, untuk menghilangkan pikiranmu tentang Kaito dengan merambah menjadi model."
Adikku membelalakkan matanya, lalu memicing curiga kepadaku. "Kau ini pembaca pikiran atau apa sih?" sinisnya.
Kakiku mengambil ancang-ancang untuk kembali ke kamarku. "Bukan. Aku hanya seorang cameo observator tidak penting yang kajiannya adalah para tokoh utama. Itu saja."
Miku memandangiku heran. Bisa kurasakan matanya tetap mengikutiku hingga aku hilang dari pandangannya.
Kembali ke kamar, aku menghempaskan diri di ranjang, menatap langit-langit, memikirkan apa yang sudah kulakukan hari ini. Hingga akhirnya blower AC membiusku untuk tertidur. Terlelap dinaungi malam. Dengan kenangan tentang Aria terbawa dalam mimpiku,
.
.
.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Halo, readers-san
Pertama, saya ingin berterima kasih pada Allah SWT, dengan segala ciptaan-Nya yang tidak terbatas dan patut saya syukuri.
Kedua saya ingin berterima kasih bagi orang-orang yang udah mau nge-review fanfict ini. Seneng banget rasanya~ Kritik dan saran diterima lapang dada. Misalnya kalian menemukan typo(s) atau ada suatu bagian yang membuat kalian bingung, tolong laporkan ke saya ya.
Ketiga, saya mau minta maaf.
Untuk chapter kedepan, sepertinya saya akan hibernasi panjang. Kenapa? Karena bentar lagi ujian, nilai saya sudah cukup menurun di pertengahan semester dua tahun pertama saya di SMA. Makanya saya mau berusaha untuk meningkatkan nilai saya itu.
Hiatus saya mungkin sekitar beberapa minggu (lama banget, ya?). Tapi kisah ini pun ngga saya rencanakan untuk dibuat panjang-panjang. Mungkin cuma sekitar 10 chapter aja, atau mungkin juga bisa kurang dari itu.
Well, itu aja. Mohon sabar untuk update-annya ya~
Mind to Review?
