New Story
.
"Kyung..." tubuh Kyungsoo menegang saat mendengar suara itu. Dengan langkah perlahan, Kyungsoo berusaha pergi dari tempat itu. Ingin sekali ia berlari masuk kedalam apartemennya. Tapi apa daya, tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan secara bebas. Keringat dingin dan deru nafas yang tak teratur mengiringi jalannya menuju apartementnya yang terasa sangat jauh.
Bahkan saat merasakan tangan kekar itu melingkar di perutnya, Kyungsoo hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong.
"Kau mengenalku 'kan? Aku Jongin hyungmu, kau mengingatku?" bisik orang itu tepat di telinga Kyungsoo.
Mata Kyungsoo melebar. Ia tahu itu Jongin, tapi saat mendengarkan kata 'Jongin' dari namja berkulit tan itu, tubuhnya merespon dengan gerakan tak beraturan.
"Lepaskan aku! Jangan lagi! Aku tidak mau!" teriakan Kyungsoo yang sangat keras beserta rontaan yang kuat membuat namja yang memeluknya kaget. Dengan segera, namja itu langsung menarik Kyungsoo masuk ke dalam apartementnya. Dia tidak ingin ambil masalah dengan tetangga lainnya karena teriakan Kyungsoo tentu saja mengganggu tidur mereka.
Kai mendorong tubuh Kyungsoo keranjangnya lalu menindih tubuh kecil yang masih mencoba meronta itu.
"Kumohon hentikan... aku tidak mau lagi.. hiks.." Kai menatap nanar wajah Kyungsoo yang memerah dan basah akibat air matanya sendiri.
"Ssst.. tenanglah." Kai mengusap air mata Kyungsoo yang masih setia mengalir. Hatinya sakit saat melihat namja yang dicintainya menangis karna dirinya. Kyungsoo bukan lagi seorang adik baginya, Kyungsoo adalah belahan jiwanya. Sejak awal.
"ARGH!" Kyungsoo berteriak keras. Dia tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Seluruh anggota tubuhnya serasa ingin berontak tanpa tahu alasannya.
Jangan tanyakan tentang para tetangga yang terganggu dengan teriakan Kyungsoo. namja Tan itu sepertinya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Apartementnya sudah dilengkapi dengan alat peredam suara.
"Kumohon tenanglah." Kai kembali berusaha dengan mengusap dari Kyungsoo yang penuh peluh walau udara sedang sangat dingin. Tapi tanpa sadar, Kyungsoo malah menepis tangan itu dengan keras.
Karena merasa tidak ada cara lain, Kai langsung membekap bibir Kyungsoo. tidak bukan dengan lakban atau kain. Itu terlalu jahat. Ia membekap bibir kissable Kyungsoo dengan bibirnya. Melumatnya lembut sebelum akhirnya melepaskannya karena tidak merasakan rontaan lagi dari Kyungsoo.
Namja kecil itu telah menutup matanya yang indah. Pingsan.
Kai menghela nafas pelan saat mendapati Kyungsoo yang tak sadarkan diri di bawahnya. Tanpa berfikir untuk membuatnya siuman, namja tampan itu menggendong Kyungsoo menuju apartementnya sendiri. Menidurkannya lalu pergi begitu saja. bukan tanpa alasan. Dia hanya berfikir mungkin ini bukanlah waktu yang tepat.
.
Cahaya matahari menembus tirai putih di kamar Kyungsoo. menandakan pagi hari yang cerah telah menunggunya.
Kyungsoo menggeliat kecil sebelum akhirnya membuka mata. Dia menoleh keseluruh sudut kamarnya. Mencoba untuk mengingat lagi apa yang telah dilalukannya tadi malam. Tapi sepertinya, otak Kyungsoo sedang tidak jalan pagi ini. Dia tidak bisa mengingat apapun selain sekolah yang telah menunggu kedatangannya.
SEKOLAH!
Dengan cepat matanya memandang jam meja yang terpasang rapi di meja nakasnya. 06.30.
Huft.. masih cukup pagi. Karna sekolah Kyungsoo masuk jam delapan, ia bisa sedikit santai pagi ini. Dengan langkah perlahan ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. YA! Cukup sampai disini atau akan ada adegan hentai yang kalian baca.
.
Namja manis itu tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Dengan cekatan tangannya yang menggenggam pisau roti, mengoleskan selai coklat ke atas selembar roti tawar. Walau sikap Yixing dingin pada Suho, tapi bukan berarti dia melalaikan tugasnya untuk melayani sang suami di pagi hari.
"Yixing bisakah kau bantu aku?" pandangan Yixing beralih pada Suho yang tengah kesulitan membenarkan dasi di pintu dapur. Dengan segera, Yixing berjalan kearah Suho lalu memasangkan dasinya. Pemandangan yang benar-benar biasa jika kau melihat mereka sebagai sepasang suami istri. Tapi kenyataannya mereka tidak begitu kan? Mereka hanya akan bertingkah 'sedikit' mesra saat pagi.
"Harusnya kau sudah bisa mengikat dasimu sendiri hyung." Ucap Yixing setelah berhasil memakaikan dasi Suho dengan rapi.
"Aku punya istri, jadi itu tugas istriku." Deg. Perkataan Suho membuat jantung Yixing seperti berhenti.
'Sebentar lagi bukan aku yang akan mengikatkan dasimu hyung.'
"Kau mau berangkat bersamaku?" Yixing menggeleng sekilas lalu mengambilkan setangkup roti untuk Suho. Ia tahu, Suho tidak akan makan itu di meja makan. Dia selalu memakannya sambil menyetir kesekolah nanti.
"Gomawo. Aku berangkat dulu." Suho berjalan pergi. Yixing tidak tahu apa yang dilakukan oleh Suho di sekolah saat berangkat sepagi ini. Sudah bisa dipastikan belum ada seorangpun yang datang kesekolah selain Suho setiap harinya.
"Mungkin dia kencan dulu." Gumam Yixing yang berusaha untuk tidak perduli. Jujur, dia penasaran. Tapi dia merasa itu bukan urusannya. Hey, kau istrinya, Yixing! Harusnya itu urusanmu juga!
.
Tao pov.
Aku berjalan pelan menyusuri jalanan yang mulai padat bersama Yingzu, anakku. Kami saling diam saat ini. sesekali, kulirik wajahnya yang muram.
"Kau kenapa?" sontak, dia langsung memandangku.
"Ying takut cekolah, eomma." Ucapnya lirih. Hampir saja aku tidak bisa mendengar suara itu jika pendengaranku tidak tajam.
"Ada apa? Bukankah kemarin kau merengek untuk segera masuk sekolah?" kami berhenti saat sadar sudah ada di depan sekolah Yingzu. Ku sejajarkan tubuhku dengan tubuhnya yang masih saja kecil. Apa gen tinggiku dan Kris ge tidak mengalir padanya? Aish bodoh! jangan ingat dia lagi.
Yingzu menggeleng pelan. "Ying takut dikeljain lagi cama yang lain. Ying takut eomma."
Kutarik dia kedalam dekapanku. Mengusap punggungnya pelan untuk menenangkannya. Aku tahu perasaanmu, Yingzu.
"Tidak apa-apa. Asal Ying baik sama teman-teman, mereka pasti tidak akan nakalin Ying lagi. Sudah sana. Kau sudah terlambat." Ucapku sambil melepaskan pelukan kami.
Dia berjalan perlahan kearah kelasnya. Bisa kulihat ada sedikit keraguan darinya. Tapi aku yakin Yingzu bukan orang yang lemah untuk menghadapi hal ini.
"Hah.. waktunya sekolah!"
Tao pov end.
.
Kyungsoo pov.
Pelajaran pertama terasa sangat membosankan. Di depan, Lee songsaengnim hanya duduk tanpa menjelaskan apapun. Entah apa yang sedang dia lakukan hingga membuat murid-muridnya ini mati bosan.
Di depan sana. Tepat di depan meja guru, Tao tengah sibuk dengan bukunya. Sementara Baekhyun, dia hanya diam sambil menatap buku sketsanya.
'bosan.' Kuletakkan kepalaku di atas meja. Lalu menatap keluar kelas.
Tadi malam. Pikiranku melayang pada saat itu. Pada seorang namja tampan berkulit gelap serta mata yang kelam seakan menenggelamkan semuanya disana. Disaat dia menangkapku, membawanya masuk lalu..
Aku seperti mengenalnya. Atau memang aku mengenalnya?
Pikiranku hilang saat sebuah kertas sketsa mendarat di atas mejaku.
'wajahmu membuatku takut!'
Kulemparkan sebuah tatapan tajam pada Baekhyun –pelempar sketsa-
Kriet..
'Kau tahu tidak? Luhan hyung tidak datang ke sekolah hari ini.'
Kyungsoo hanya memutar matanya bosan. Permasalah pertama adalah karna Luhan memang sering tak masuk sekolah. ya, apa lagi jika bukan untuk sesi pemotretan yang sering kali mengambil seting di luar negeri.
Kriet…
'Tadi aku ingin berangkat bersama dengannya. Tapi dia tidak ada dirumah, ibunya juga sedang bingung mencarinya.'
Kyungsoo membulatkan matanya. Ia menatap Baekhyun penuh rasa ingin tahu sementara yang ditatap hanya mengangkat bahunya.
Semua teman-temannya tau, Luhan adalah orang yang tenang. Ia sudah dewasa dan tentu saja tidak pernah mengambil keputusan kekanakan seperti itu. Ya, mereka juga tak memungkiri kemungkinan bahwa Luhan mungkin tertekan dengan pekerjaan dan topeng 'Wanita'nya.
*School*
Taman di pinggir kota itu terlihat sangat lengang. Hari masih siang, semua anak-anak harusnya masih sekolah sekarang. Tapi seseorang berpakaian seragam wanita itu hanya duduk gelisah di bangku panjang taman. Ia tak mempedulikan beberapa ahjumma atau ahjusshi yang menatapnya aneh karena mereka pikir ia membolos. Yah, walau itu kenyataan. Luhan pergi dari rumah sejak semalam dan disinilah ia sejak saat itu. Tidur dan duduk sendiri di bangku taman yang mulai rapuh.
Kedua tangannya memeluk tas ranselnya dengan erat. Ransel yang selalu dibawanya ke sekolah.
Ah, mengingat kata sekolah membuat Luhan merasa kesal sekaligus senang dalam satu waktu. Mengapa harus ada tempat bernama sekolah di dunia ini. Kenapa harus ada tempat yang menerima Luhan apa adanya di dunia ini. Seandainya sekolah itu tidak ada, seandainya ia tidak punya teman seperti teman-temannya sekarang di sana. Mungkin Luhan sudah hidup tenang di akhirat karena bunuh diri. Putus asa dengan hidup ini.
"Aduh!"
Tiba-tiba sebuah kaleng cola mengenai kepalanya yang memakai wig. Luhan mengambil kaleng itu dengan cepat lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah. Mencari pelaku yang berani-beraninya melemparkan benda macam itu kearah model papan atas sepertinya.
"Ah Mianhae! Aku tidak sengaja. Tadi aku mau membuang kaleng itu ke tempat sampah di sebelahmu. Tapi meleset. Maaf ya," Seorang namja berambut coklat muda berjalan menghampiri Luhan dengan wajah bersalahnya. Namja itu menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal melihat tatapan Luhan yang mematikan terhadapnya.
"Apa susahnya jalan kesini lalu membuangnya? Kau kan punya kaki, tidak perlu kan lempar-melempar segala!" Luhan melempar kaleng cola itu ke wajah namja dihadapannya dengan kesal lalu berjalan pergi. Tak mempedulikan namja bersurai coklat dibelakangnya yang tersenyum ngeri.
"Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi." Gumam namja itu.
Drrr…
Ponsel sang namja berbunyi. Ia meraih benda persegi itu dari kantong celananya.
"Yeoboseo,"
"Sehun! Kau membolos lagi huh?! Dimana kau!" Namja itu sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Di seberang sana sudah dapat dipastikan bahwa managernya tengah marah-marah.
"Mianhae Donghae hyung. Aku sedang malas sekolah jadi kupikir bagus jika cari objek baru untuk diabadikan."
"Tapi bukan begitu caranya! Kau ini masih muda, dan walau aku tahu kau fotografer handal, sekolah itu nomor satu! Jika dalam sejam kau tidak disini, gajimu kupotong!"
Tiiit…
Panggilan itu terputus secara sepihak. Sehun yang mendengar gertakan dari sang manager hanya bisa menghela nafas panjang lalu berjalan ke trotoar dimana sepeda motornya terparkir.
"Wanita itu cukup cantik juga. Huh, sejak kapan kau jadi normal Sehun?"
*School*
Rumah besar di kawasan elit itu terlihat sangat mencolok. Ornamen khas Eropa terlihat jelas dengan banyak patung dewa-dewi Yunani disana-sini.
Pagi hari di rumah itu, suara manusia adalah hal yang paling jarang ada. Sang ayah terlalu sibuk dengan tablet di ruang tamu, ibunya sibuk bermain piano sembari menunggu sarapan masak oleh maid. Sementara sang anak, adalah seorang yang berbicara lewat tulisan.
Grak…
Bunyi deritan keras memenuhi ruang makan yang merangkap sebagai dapur. Namja berpakaian seragam sekolah itu duduk manis di meja makan sambil mengutak-atik ponselnya.
"Ini sarapan anda tuan muda." Seorang dengan suara bergetar membuat Baekhyun mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia tersenyum pada seorang wanita tua yang menghidangkan sepiring waffle dengan saus coklat untuknya.
Kriet…
"Terima kasih bibi Jung. Bagaimana pagimu?"
Wanita tua itu tersenyum cerah pada tuan mudanya. Kerutan di wajahnya yang semakin banyak sama sekali tak membuat Baekhyun bosan atau risih untuk menatapnya.
"Harusnya saya yang bertanya begitu Tuan Muda. Cepatlah makan sarapan anda. Sudah hampir siang."
Baekhyun mengangguk cepat sambil mengunyah wafflenya dengan semangat.
Jika banyak orang didunia ini yang dibesarkan dengan kasih sayang orang tua, mungkin Baekhyun adalah seorang yang kurang beruntung. Hidupnya yang bergelimang harta bukanlah membuatnya bahagia malah menenggelamkan kebahagiaannya.
Bibi Jung, wanita tua itu yang mengurusnya sejak kecil. Mengajarinya membaca, menulis, makan, dan bernyanyi. Walau entah sejak kapan suaranya tak pernah dikeluarkan lagi.
"Hari ini ada les piano jam 7 malam."
Baekhyun menghentikan aktifitas mengunyahnya saat menyadari sang ayah telah duduk di depannya. Dengan wajah tegas, pria paruh baya itu menatap Baekhyun tajam seakan-akan ingin mengulitinya.
Kriet…
'Aku tidak janji.'
"Kalau kau tetap menolak, akan kukirim kau ke Paris."
Baekhyun membulatkan matanya saat mendengar ancaman Tuan Byun. Membayangkan ancaman itu terjadi saja berhasil membuatnya bergidik ngeri. Sampai-sampai tubuhnya terasa bergetar karenanya.
Bibi Jung yang mendengarnya 'pun hanya bisa menghela nafas panjang dengan perlakuan majikannya itu. Walau kadang ia ingin menyela atau membela Tuan Muda Byun, tetap saja status sosial menghentikan langkahnya.
Baekhyun mengangguk lemah. Senyum cerah yang tadi terpatri diwajahnya kini telah tertutup dengan awan kesedihan.
"Mobil sudah siap tuan muda." Seorang pelayan berjas hitam tiba-tiba datang ke ruang makan dan mempersilahkan Baekhyun untuk bersiap pergi sekolah.
Tangan kecilnya menyambar tas yang tergeletak manis di tempat duduk disampingnya lalu berjalan mendahului pelayan berjas hitam itu ke pintu masuk utama.
Blam…
Pintu mobil itu tertutup rapat setelah Baekhyun masuk kedalamnya. Namja itu hanya duduk diam sembari menunggu kendaraannya itu sampai di sekolah. Pikirannya melayang-layang pada namja paruh baya yang beberapa menit lalu berbicara padanya.
Sosok bergelar ayah itu bukanlah orang yang hangat. Dia hanya akan berbicara disaat-saat yang mendesak saja. Keadaan mendesak itu adalah keadaan dimana rasa marahnya sudah sampai di ubun-ubun. Baekhyun kecil, dulu malah selalu berfikir ayahnya itu hanya bisa menggunakan mulutnya untuk marah-marah. Dia bahkan tidak ingat kapan Tuan Byun itu memujinya, menanyainya atau sekedar memanggil namanya. Atau mungkin orang itu sudah lupa apa nama anaknya sendiri.
Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Baekhyun turun dari mobilnya dengan wajah menunduk. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara bisikan dan sindiran memekakan telinganya. Dan akhirnya ia berlari secepat mungkin menghindari keramaian itu.
Byun Baekhyun adalah anak dari orang tua berpendidikan, kaya, bertalenta, dan masih banyak kelebihan lainnya. Tapi dia, tidaklah lebih dari buah rusak yang menggelinding menuruni bukit hingga menjauhi pohonnya.
Terkadang, rasa menyesal itu datang bukan dari perbuatan diri. Tapi keadaan yang terasa tidak adil.
Yixing menepuk pundak adik kelasnya itu dengan lembut, tapi Baekhyun mengacuhkannya dan terus berlari. Membuat namja berdimple itu bingung.
"Yixing-sshi, bisa tolong bawakan buku ini ke kantorku? Aku harus kekamar mandi sebentar."
Yixing mengangguk dengan permintaan salah satu guru kelas 11 itu. Setelah menerima tumpukan buku itu, sang guru langsung berjalan cepat ke kamar kecil.
"Ah, menyusahkan saja." Dengan sedikit kesulitan, Yixing membawa sekitar 30 buku pelajaran Fisika bertebal 200 lembar itu ke ruang guru. Ruangan di sekolah itu yang sangat dia hindari. Kenapa lagi jika bukan karena 'dia'.
"Yixing-sshi, kau mau kemana?"
Shit!
Yixing mengumpat dalam hati saat mendengar suara bak malaikat itu. Tanpa berniat untuk berbalik dan melihat seseorang yang telah menyapa, Yixing malah mempercepat langkah kakinya.
"Hey!"
Pluk…
Langkah kaki Yixing terhenti dengan sebuah tepukan keras di bahu. Ia melirik kesamping dan mendapati Joonmyeon yang terlihat baru saja sampai.
Dia baru sampai rupanya.
Joonmyeon mengalihkan pandangan dari mata Yixing yang terlihat menakutkan pada buku-buku di tangan muridnya itu. Dengan pandangan tidak mengenakkan dari murid lain yang berjalan melewati lorong itu, Joonmyeon akhirnya mengambil setengah dari buku yang dibawa Yixing lalu berjalan lebih dulu ke ruang guru.
"Whoa setengah saja sudah berat apa lagi semuanya. Hei, kau bisa saja meminta teman untuk membawa ini. Kau tidak sayang pada tanganmu ya?"
Yixing masih mendiamkan perkataan Joonmyeon. Dia malah menatap lurus kedepan seperti tak menganggap orang yang ada disampingnya.
"Selamat pagi semua!" Sapa Joonmyeon menyapa setiap guru di ruangan besar itu.
"Joonmyeon-sshi, tumben sekali kau membantu muridmu?" tanya seorang guru olahraga yang Yixing tak kenal. Mungkin guru kelas 12.
"Kau sedang PDKT dengannya huh?"
Aku bunuh kau wanita reot!
Hampir saja Yixing mengeluarkan kalimat itu jika saja ia tak sadar sedang berhadapan dengan guru. Ia hanya bisa melemparkan tatapan tak suka pada guru bermake-up menor yang gosipnya jadi perawan tua.
"Apa aku bisa dibilang selangkah lebih maju darimu, Dana-sshi?"
Dan Yixing bersumpah akan menghajar Joonmyeon saat dirumah nanti. Bagaimana bisa dia menanggapi ucapan gadis –ehem- tua itu dengan candaan?
"Songsaengnim, buku ini bisa kita letakkan di meja guru Dee?" Ucap Yixing yang akhirnya menyadarkan Joonmyeon.
Yixing meletakkan tumpukan buku itu diatas meja guru Dee yang diikuti Joonmyeon.
"Aku tidak suka cara bercandamu."
Joonmyeon hanya terkekeh lirih dengan bisikan Yixing. Matanya menyorotkan keremehan kuat untuk murid 'kesayangannya' itu.
"Aku hanya bermain-main. Santai 'lah sedikit."
"Perhatian semua."
Saling tatap Yixing dan Joonmyeon terhenti dengan kedatangan kepala sekolah yang membawa dua orang pria di belakangnya. Yixing mengernyit pelan melihat pria-pria yang terlihat masih muda itu. Mungkin seumuran dengan Joonmyeon.
"Akan ada dua orang guru baru di sini. Silahkan kalian memperkenalkan diri."
Seorang dari mereka yang berambut pirang maju kedepan terlebih dahulu. Ia membungkuk sesaat sebelum memulai perkenalannya.
"Annyeong haseo, Wu Yi Fan imnida. Anda bisa memanggilku Kris. Aku guru sementara menggantikan Joon Seongsaengnim mengajar Bahasa Inggris di kelas 11."
"Kau sangat tampan Kris-sshi. Umurmu berapa?" tanya Dana yang tadi sempat menggoda Joonmyeon juga.
"27 Tahun."
"Whoa~ kau cukup muda juga ya. Tapi sayang si pendek itu lebih muda setahun darimu." Ucap Dana lagi sambil menunjuk-nunjuk Joonmyeon yang masih terdiam di samping Yixing. Ah! Entah mengapa para guru disana seakan tidak mempedulikan Yixing yang masih berdiam di ruang guru.
"Kau perkenalkan dirimu." Tuntun Kepala Sekolah pada seorang lainnya.
"Annyeong haseo, Kim Jong In imnida. Panggil aku Kai. Aku mengajar Sastra Jepang."
"Kau punya kelainan pigmen kulit?"
Entah dari mana pertanyaan itu terlontar, tapi Kai hanya bisa tersenyum tanpa menjawab.
"Baiklah, saya harap kita semua bisa menjadi rekan kerja yang baik." Tutup Kepala sekolah pada kedua guru muda baru di sekolah itu.
"Kamsahamnida."
Yixing masih ditempatnya. Menatap tajam kedua guru baru yang asing di matanya. Tentu saja asing. Mereka belum pernah bertemu bukan?
"Jangan menatap mereka begitu. Aku cemburu."
"Omong kosong!"
*School*
Luhan pulang kerumahnya setelah puas mencari angin selama hampir 2 hari. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan nyonya Xi saat mendapati 'Calon uangnya' pergi terbawa angin karena ulahnya. Siapa peduli!
"Kau sudah pulang? Persiapkan dirimu. Kita berangkat hari ini."
Luhan baru saja membuka pintu rumahnya dan langsung mendapati sang ibu telah bersiap diri di ruang tamu. Dua buah koper besar telah tergeletak manis di dekat kaki Nyonya Xi yang sibuk dengan ponselnya.
"M-Mau kemana?"
"Yah! Kau sedang beruntung Lu, pemotretan sehari yang lalu diundur menjadi besok. Jadi kita masih sempat untuk kesana."
Luhan berfikir berkali-kali untuk kembali kabur dari ibunya. Tapi cara itu ia yakini tak akan berhasil untuk yang kedua kalinya.
"Jangan coba-coba kabur, Lu. Lagi pula akan ada Chanyeol yang akan jadi partner pemotretanmu."
Mata rusa Luhan membulat senang saat mendengar nama Chanyeol dari bibir ibunya. Suasana hatinya langsung berubah cerah mengingat teman kecil yang sudah lama tak ditemuinya itu. Chanyeol adalah anak dari teman ibunya. Seseorang yang membuat Nyonya Xi memutuskan untuk menjadikan Luhan sebagai model.
Chanyeol yang masih berusia 7 tahun saat itu sudah masuk kedalam dunia entertaiment. Ia bisa sedikit bernyanyi, melawak, dan melakukan rap dengan baik. Membuat ibunya menjadikan Chanyeol sebagai 'penghasil uang' tambahan keluarga. Terdengar kejam memang. Tapi mungkin begitulah kenyataannya.
"Kita berangkat sekarang. Pesawat akan take off satu jam lagi."
*School*
Ruangan besar berisi penuh dengan meja itu hampir kosong ditinggal pemiliknya. Sebagian besar dari mereka telah menuju ke ruang kelas masing-masing yang akan mereka ajar. Sebagian lagi pergi entah kemana.
Namun namja berkulit gelap itu masih duduk di bangkunya sambil mencorat-coret bukunya tidak jelas. Terlihat sekali aura kebosanan yang menguar dari seluruh pori-pori tubuhnya.
Trek…
Sampai pensil yang digunakannyapun patas menjadi dua.
"Kau tidak mengajar, Kai-sshi?" Namja itu menoleh ke samping. Ke teman baru yang memiliki rambut berwarna pirang. Wajahnya sangat tampan dengan rahang yang tegas juga mata tajam bak tokoh manga.
"Aniya. Jadwalku kosong hari ini. Kau akan mengajar, Kris-sshi?"
Namja yang dipanggil Kris itu mengangguk kecil sambil menenteng beberapa buku panduan di tangannya.
"Aku duluan ya."
"Semoga hari pertamamu berhasil!" Ucap Kai sedikit berteriak. Sebenarnya kata semangat itu bukan hanya untuk Kris tapi untuknya juga.
Di sisi lain, Kris berjalan tenang di lorong yang sesekali terdengar berisik dari kelas yang mendapat jam kosong. Nafasnya terlihat teratur meski terkadang memberat.
Ini pertama kalinya ia mendapat percobaan menjadi guru dari ayahnya yang suka bermain-main. Dalam waktu 10 tahun terakhir, Ia telah merasakan berbagai macam pekerjaan yang dilimpahkan sang ayah padanya. Mulai dari penjaga kasir, bodyguard, anak band, dan yang paling terkenang, pelayan kaf̀e.
"Anggap saja ini sebagai pemanasan sebelum kau memegang kekuasaan penuh dari perusahaan."
Begitulah kata Tuan Wu yang hampir saja membuatnya muntah. Ia lelah berpura-pura sebagai seseorang tak berpunya.
Grak!
Pintu kelas itu terbuka dengan kasar hingga menimbulkan suara keras. Kelas yang ramai itu mendadak tenang sekaligus kaget dengan kedatangan seorang pria asing berambut pirang masuk kedalam kelas mereka.
Namja itu berdiri dibelakang meja guru sambil menatap kesekeliling kelas yang akan diajarnya hari ini. Kelas pertama yang akan menjadi saksi bisu pengalaman Kris dalam mendidik orang lain.
"A-"
Perkataannya mengggantung begitu saja. Bibirnya sedikit terbuka karena kalimat yang digantungkannya. Tiba-tiba, suhu di ruangan itu terasa seperti hawa musim panas yang berganti menjadi musim gugur bagi Kris. Matanya terlihat bergetar menatap satu objek yang duduk manis di belakang sana.
Seorang namja bermata panda yang juga menatapnya dengan tatapan tak dimengerti. Tapi kemudian, namja itu malah tersenyum manis padanya. Memberikan sedikit sengatan kecil pada perutnya yang sensitif. Terasa seperti membangunkan ribuan kupu-kupu yang siap terbang kapan saja.
.
.
TBC
.
A/N : nanana~ nonono~
Halo~ ingat dengan Fanfic ini? Enggak? Ya udah aku malah bersyukur #lho
Ehm… aku kembali mengangkat FF ini kepermukaan karena banyak yang meminta. Bahkan dari tahun lalu. #sombong
Maaf kalo alurnya Gak jelas ya. Agak lupa alur yang dulu soalnya. Yah, ada beberapa alasan sih kenapa aku gak ngelanjutin FF ini dari dulu. Salah satunya karena saya merasa jadi korban pedo. Itu jijik banget ._.
Tapi sekarang udah semangat lagi buat lanjut. Tapi tapi lagi, FF ini mungkin akan beda sama FF aku yang lain yang kebanyakan panjang-panjang. Mungkin ini Cuma berkisar 2k – 4k word aja. Gak papa kan ya?
Disini juga gak ada Chenmin. Maaf ya Chenmin shipper, bukannya aku gak suka couple itu. Cuma aku bingung mau dikasih konflik apa…
Chapter sebelum-sebelumnya, aku sadar BANGET banyak kejanggalan dan typo tak termaafkan. Ada Changmin jadi guru lah, Krystal dipanggil eonnie sama Kyungsoo lah, dan masih BUANYAK lagi. sungguh maafkan aku. Tapi sekarang Changminnya udah aku ganti jadi Junsu…
Dan kalo ada yang tanya kenapa orang tuanya Tao Homin, jawabannya, karena aku Homin shipper… udah itu aja.
Maaf kesalahan ketik. Maaf tidak sempurna. Maaf alur gak jelas. Karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. *cieh
Last,
Mind To Review? ^^
